← Daftar isi Kejadian dan Keluaran · bab 4/10

TIANG PENOPANG UTAMA PERTAMA DALAM PEMULIHAN TUHAN — KEBENARAN

Pembacaan Alkitab:

1 Tim. 2:4, 7; 3:15; 2 Tim. 3:7, 15-16

PEMULIHAN TUHAN

ADALAH PEMULIHAN KEBENARAN

Hari ini seluruh bumi memerlukan kebenaran Tuhan, sedangkan kebenaran Tuhan justru ada di dalam firman-Nya. Namun, sayang sekali, Alkitab, firman ilahi, belum terbuka sepenuhnya kepada dunia. Karena itu, tidak mungkin orang-orang mengenal kebenaran Tuhan dengan sepenuhnya. Orang Kristen paling-paling hanya bisa bermegah bahwa firman kudus Allah telah diterbitkan dalam banyak bahasa dan disebarkan ke seluruh bumi. Namun, mereka tidak bisa mengatakan bahwa setelah membaca Alkitab, tidak peduli bahasa apa, mereka bisa benar-benar memahami misteri-misteri yang ada di kedalamannya. Mereka hanya bisa memahami makna-makna yang dangkal dari hal-hal yang diwahyukan dalam Alkitab menurut kebudayaan, filsafat, tradisi, adat istiadat, etika, kehidupan, dan moralitas mereka sendiri, tetapi tidak memiliki jalan untuk memahami misteri-misteri dari kebenaran-kebenaran di dalamnya.

Misteri-misteri dari kebenaran-kebenaran dalam Alkitab itu sangat dalam dan rahasia. Kita memerlukan penerangan rohani dari Roh Allah untuk memahaminya dan kita juga perlu meluangkan waktu untuk menggalinya (cf. 1 Kor. 2:10-14).

Kebenaran-kebenaran dalam firman kudus Tuhan telah rampung ditulis sekitar dua ribu tahun yang lalu, tetapi, selama lebih dari seribu tahun, kebenaran-kebenaran itu kelihatannya lambat laun menghilang. Hingga beberapa abad yang lalu, kebenaran-kebenaran ini telah dilepaskan lagi sedikit demi sedikit melalui kegairahan dan pengkajian yang teliti dari banyak orang yang mengasihi Tuhan. Inilah yang kita sebut pemulihan Tuhan. Pemulihan Tuhan adalah pemulihan semua kebenaran dalam Alkitab yang telah hilang. Jadi, pemulihan kebenaran adalah salah satu dari tiang penopang utama dalam pemulihan Tuhan. Pemulihan Tuhan terletak pada pemulihan pengenalan akan kebenaran.

PENGENALAN YANG PENUH AKAN KEBENARAN BAGI PENYEBARAN PEMULIHAN TUHAN

Perjanjian Baru berulang-ulang mengatakan bahwa kita harus mengerti kebenaran, sepenuhnya mengenal kebenaran. Selain itu, ketika menyinggung hal ini, Paulus berulang-ulang mengatakan bahwa kita harus memiliki pengenalan yang penuh akan kebenaran (1 Tim. 2:4). Ini berarti kita harus mengenal bukan hanya sebagian kecil atau satu aspek dari kebenaran, melainkan mengenal kebenaran secara keseluruhan dan dalam semua aspeknya. Paulus juga mengatakan bahwa gereja adalah tiang penopang dan dasar kebenaran (1 Tim. 3:15). Ini menunjukkan bahwa dalam Alkitab, kebenaran sepertilah satu bangunan besar bukan dengan satu sisi melainkan lengkap pada semua sisi dengan satu pondasi dan satu atap. Hari ini jika kita ingin menyebarkan pemulihan Tuhan, kita harus mengenal kebenaran dan mampu menjelaskan kebenaran. Karena itu, kita harus mengenal setiap aspek dari kebenaran tanpa menyimpang sedikit pun.

Kebenaran ini bukan hanya memiliki banyak aspek, tetapi juga mencakup banyak butir yang penting. Misalnya, Alkitab membicarakan tentang Allah, Kristus, Roh Kudus, orang beriman, gereja, kerajaan, dan Yerusalem Baru. Alkitab dimulai dengan Allah, kemudian dilanjutkan dengan penciptaan Allah, kejatuhan manusia, penebusan Allah, Allah masuk ke dalam manusia untuk menjadi hayat manusia supaya manusia bisa dilahirkan kembali, dikuduskan, diperbarui, diubah, diserupakan dengan gambar-Nya, dan akhirnya dibawa masuk sepenuhnya ke dalam kemuliaan. Di tengahtengah semua perkara ini, Alkitab juga menunjukkan orang beriman dan gereja yang korporat. Gereja yang korporat ini mendatangkan kerajaan, dan rampung sempurna dalam Yerusalem Baru di langit baru dan bumi baru. Semua aspek ini tercakup dalam kebenaran Alkitab.

Perhatikanlah kebenaran-kebenaran yang lebih dalam dan lebih rinci, Alkitab membicarakan dua aspek dari keselamatan lengkap Allah kepada kita: penebusan dan keselamatan. Aspek penebusan meliputi pengampunan, pembasuhan, pembenaran, pendamaian, dan penerimaan; aspek keselamatan meliputi kedatangan-Nya untuk melahirkan kembali, menguduskan, memperbarui, dan mengubah kita, kemudian menyerupakan kita dengan gambar-Nya, dan akhirnya membawa kita masuk ke dalam kemuliaan-Nya. Inilah keselamatan lengkap Allah. Kita harus dengan baik-baik mempelajari semua ini, mengenal, dan bisa membicarakannya dengan jelas kepada orang lain.

BELAJAR MENGENAL

MISTERI (RAHASIA) KEBENARAN

Yang dibicarakan di atas hanyalah menunjukkan aspek-aspek yang berbeda dari kebenaran, bukan misteri (rahasia) kebenaran secara keseluruhan. Apakah rahasia kebenaran dalam Alkitab? Apakah rahasia inti dari Alkitab? Singkatnya, dalam firman kudus Allah ada satu rahasia inti. Rahasia inti ini adalah Allah Tritunggal ingin menyalurkan diri-Nya ke dalam manusia. Allah kita adalah Allah Tritunggal, dan Dia ingin menyalurkan diri-Nya ke dalam umat pilihan-Nya untuk menjadi hayat dan segala sesuatu mereka. Inilah pusat, inti dari rahasia dalam Alkitab.

Allah Menciptakan Manusia Menurut Gambar-Nya

dengan Tujuan Menyalurkan Diri-Nya ke Dalam Manusia

Sayang sekali, banyak pembaca Alkitab tidak melihat dan tidak bisa melihat butir ini. Misalnya, ketika mereka membaca Kejadian 1, yang mereka lihat adalah Allah menciptakan langit dan bumi, kemudian Dia menciptakan segala makhluk hidup, dan akhirnya Dia menciptakan manusia. Namun, mereka tidak melihat bahwa tujuan dari penciptaan Allah terhadap manusia adalah untuk memungkinkan Dia menyalurkan diri-Nya ke dalam manusia. Mereka mungkin mengetahui dari pembacaan mereka bahwa Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya, tetapi mereka sama sekali tidak memahami mengapa Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya.

Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya, supaya Dia bisa menaruh diri-Nya ke dalam manusia. Roma 9 mengatakan Allah membuat manusia menjadi suatu bejana (ay. 23). Suatu bejana adalah suatu wadah yang dibuat untuk menampung sesuatu. Misalnya, untuk menampung suatu benda bulat, maka suatu bejana yang berbentuk bulat harus dibuat; untuk menampung benda berbentuk persegi, maka suatu bejana yang berbentuk persegi harus dibuat. Suatu bejana yang dibuat menurut bentuk benda itu adalah untuk menampungnya. Tangan memiliki lima jari tangan. Ketika sebuah sarung tangan dibuat, maka sarung tangan itu dibuat dengan lima jari tangan supaya pada satu hari tangan bisa dimasukkan ke dalam sarung tangan itu. Demikian juga, kita adalah “sarung-sarung tangan” yang dibuat untuk menampung Allah. Kita diciptakan menurut gambar dan rupa Allah adalah supaya pada satu hari Allah bisa ditaruh ke dalam kita.

Allah Menciptakan Roh untuk Manusia, Agar

Manusia Bisa Mengontak dan Menerima Allah

Selain itu, Kejadian 2 selanjutnya menunjukkan kepada kita bahwa ketika Allah menciptakan manusia, Dia mengembuskan nafas hayat ke dalam lubang hi-dung manusia. Nafas hayat ini menjadi roh manusia (Kej. 2:7; Ayb. 32:8). Setelah membaca ini, banyak orang tidak paham mengapa Allah menciptakan manusia sebagai makhluk yang memiliki roh. Namun, melalui kitabkitab dari Alkitab tersingkaplah bahwa roh manusia adalah untuk mengontak dan menampung Allah. Misalnya, kita semua memiliki perut. Perut adalah satu wadah untuk menampung makanan. Tubuh manusia memerlukan makanan agar terawat; namun, agar makanan bisa masuk ke dalam manusia, perlu ada satu wadah. Karena itu, Allah menciptakan manusia sebagai makhluk yang memiliki perut. Perut menampung makanan yang telah dimakan dan kemudian melalui satu proses metabolik, bahan-bahan yang bergizi diangkut melalui darah untuk menjadi unsur-unsur dalam diri manusia.

Tuhan Yesus mengatakan bahwa Dia adalah roti hayat dan siapa saja yang makan Dia akan hidup oleh Dia (Yoh. 6:48, 57). Seperti orang-orang Yahudi pada zaman itu, banyak orang Kristen dibingungkan ketika mereka membaca bagian firman ini, dan tidak mengerti apa yang Tuhan maksudkan. Ketika saya baru diselamatkan dan membaca bagian firman ini, saya juga membayangkan, “Setelah kita makan Tuhan sebagai roti hayat, di bagian manakah Dia berada dalam diri kita?” Tentunya Dia tidak mungkin berada di dalam perut kita.

Saya bertanya kepada banyak orang, tetapi tidak bisa mendapatkan satu penjelasan. Ada yang memberi tahu saya bahwa Tuhan menjadi roti hayat itu mengacu kepada firman-firman yang tertulis di dalam Alkitab dan makan Tuhan itu berarti membaca firman-firman tertulis-Nya. Karena itu, saya berusaha sedapat mungkin memasukkan firman-firman tertulis-Nya ke dalam otak saya. Namun, saya tidak merasa bahwa saya telah makan roti hayat itu. Sebaliknya, semakin membaca, saya semakin besar kepala. Sebelumnya, saya tidak tahu Alkitab itu membicarakan apa. Setelah membacanya dan memenuhi otak saya, saya memperoleh pengetahuan, tetapi sedikitpun tidak merasa batin saya tersuplai. Karena itu, bertahun-tahun saya tetap tidak tahu makna dari makan Tuhan.

Hingga suatu hari, saya membaca satu ayat di mana Paulus memberi tahu Timotius, “Tuhan menyertai rohmu” (2 Tim. 4:22). Pada awalnya saya sama sekali tidak mengerti apa arti Tuhan menyertai roh saya. Pertamatama, saya membayangkan bagaimana Tuhan bisa menyertai roh saya karena Dia itu ada di surga. Kedua, saya benar-benar tidak memahami apakah roh saya itu. Saya tahu bahwa di dalam tubuh saya ada sebuah perut dan usus besar dan bahwa di dalam kepala saya ada sebuah otak, tetapi saya tidak tahu apakah roh saya itu. Saya benar-benar tidak mengerti. Sesudah itu, saya membaca bahwa Tuhan mengatakan, “Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hayat” (Yoh. 6:63 Tl.). Sekali lagi saya tidak memahami bagaimana perkataan-perkataan itu bisa menjadi roh. Kemudian saya membaca Yohanes 3, di mana Tuhan memberi tahu Nikodemus, “Jika seseorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.” Nikodemus mengira dilahirkan kembali itu berarti masuk kembali ke rahim ibunya, karena itu ia mengatakan, “Bagaimana mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?”

Tuhan menjawab bahwa dilahirkan kembali berarti dilahirkan dari air dan Roh, karena yang dilahirkan dari Roh adalah roh (ayat 3-6). Semakin membacanya, saya semakin bingung. Ketika Roh Kudus masuk ke dalam roh saya, saya dilahirkan kembali; jika demikian di manakah roh saya? Apakah roh saya itu? Setelah membaca ayat-ayat itu, saya benar-benar bingung dan tanpa petunjuk yang menjelaskan ayat-ayat itu.

Rahasia Trinitas Ilahi

Setelah bertahun-tahun berlalu, perlahan-lahan, saya mulai melihat terang yang jelas dan bisa memahami wahyu ini, dan menyadari bahwa Allah itu sendiri adalah Roh (Yoh. 4:24). Allah kita itu tritunggal; Dia adalah Bapa, Putra, dan Roh. Namun, Bapa, Putra, dan Roh itu bukanlah tiga Allah yang berbeda, melainkan satu Allah. Pada suatu hari, Allah ini menjadi daging dan datang ke bumi sebagai seorang manusia. Bukan hanya Putra saja yang datang, melainkan Putra datang bersama Bapa dan Roh itu. Karena itu, di dalam inkarnasi, bukan hanya Putra saja yang datang, melainkan Bapa, Putra, dan Roh itu semuanya datang bersama-sama.

Banyak orang Kristen beranggapan, ketika Putra datang, Dia datang sendirian, dan meninggalkan Bapa di surga. Namun, Injil Yohanes dengan jelas mengatakan bahwa Putra datang bersama Bapa. Yohanes memberi tahu kita bahwa sewaktu Tuhan di bumi selama tiga puluh tahun lebih, Dia tidak pernah sendirian, karena Bapa selalu menyertai Dia (Yoh. 8:29; 16:32). Bukan hanya demikian, Yohanes juga mengatakan bahwa Putra ada di dalam Bapa dan Bapa ada di dalam Putra (Yoh. 14:10-11). Bapa beserta dengan Putra ini mudah dipahami dan mudah digambarkan. Misalnya, ketika Putra pergi ke Galilea, Bapa pergi bersama-Nya; ketika Putra pergi ke Yerusalem, Bapa pergi bersama-Nya; dan ketika Putra pergi ke salib, Bapa juga ada di sana beserta dengan-Nya. Ini sangat mudah untuk digambarkan. Namun, tidak mungkin untuk menggambarkan Putra di dalam Bapa dan Bapa di dalam Putra. Saling huni dari keduanya ini benar-benar satu rahasia.

Dalam Yohanes 14:8, Filipus datang dan mengatakan, “Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami.” Murid-murid telah bersama-sama dengan Tuhan, melihat Dia selama tiga setengah tahun. Mereka sering mendengar Dia berbicara tentang Bapa, namun belum pernah melihat Dia menunjukkan Bapa kepada mereka. Mereka mengira bahwa jika Tuhan bisa menunjukkan Bapa kepada mereka, mereka akan puas. Ini mirip dengan cara kita percaya Tuhan. Kita juga merasa bahwa jika Bapa datang kepada kita, kita akan bersukacita. Namun, dengan sangat heran Tuhan berkata, “Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Siapa saja yang telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami? Tidak percayakah engkau bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku?” (ayat 9-10). Pernyataan ini menunjukkan bahwa Putra dan Bapa adalah satu. Karena itu, bila seseorang melihat Putra, maka ia akan melihat Bapa. Bukan hanya demikian, Putra ada di dalam Bapa dan Bapa ada di dalam Putra.

Selanjutnya Tuhan berkata, “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain” (ayat 16). Kemudian Dia juga berkata bahwa Penolong atau Penghibur itu adalah “Roh Kebenaran (realitas), yang keluar dari Bapa” (15:26). Kata “dari” di sini dalam bahasa Yunani memiliki arti “dari dengan”. Dengan kata lain, Penolong itu tidak datang sendirian, melainkan datang bersama Bapa. Selain itu, karena Bapa ada di dalam Putra, maka Putra juga datang. Hasilnya adalah ketika Roh itu datang, Bapa, Putra, dan Roh itu semuanya datang. Inilah Allah Tritunggal.

Kebanyakan orang Kristen mengira Bapa ada di surga, setelah Putra bangkit dan terangkat, Putra pergi ke surga, duduk di sebelah kanan Bapa, dan kemudian mengutus Roh Kudus turun ke atas orang yang percaya, supaya mereka bisa bernubuat dan berbahasa lidah. Namun, Injil Yohanes dengan jelas mengatakan bahwa Putra bersatu dengan Bapa; Putra mengutus Roh itu dari Bapa; Roh itu tidak datang sendirian, melainkan datang dari Bapa dan dengan Bapa; dan karena Bapa bersatu dengan Putra, maka Roh itu juga datang bersama Putra. Ketika satu orang dosa di bumi ini bertobat dan berdoa kepada Tuhan, berseru kepada nama-Nya, Roh itu segera datang, membawa serta Bapa dengan Putra. Tidak mungkin kita dapat menjelaskan rahasia yang demikian secara menyeluruh.

Kisah tentang Allah Tritunggal Masuk ke Dalam Manusia

Ketika Allah berinkarnasi, Putra datang bersama Bapa dan Roh itu. Selain itu, Putra mati di atas salib dan bangkit pada hari ketiga. Ketika Dia bangkit, Paulus mengatakan bahwa Dia menjadi Roh pemberi-hayat (1 Kor. 15:45 Tl.). Sebagaimana kebangkitan-Nya adalah satu rahasia, demikian juga, Dia menjadi Roh pemberihayat itu juga adalah satu rahasia. Meskipun kita tidak bisa memahami ini, tetapi ini adalah satu fakta. Sebagai Roh pemberi-hayat, Dia itu mahahadir — Dia bisa pada saat yang sama berada di surga juga berada di bumi. Roh pemberi-hayat ini adalah Allah itu sendiri — Bapa, Putra, dan Roh itu. Ketika Roh ini datang kepada kita, Allah Tritunggal datang kepada kita. Ketika Roh ini masuk ke dalam kita, Allah Tritunggal masuk ke dalam roh kita. Ketika kita mengaku dosa-dosa kita, bertobat, dan berseru kepada nama Tuhan, kita merasa ada sesuatu dalam batin kita yang berubah. Perubahan ini adalah masuknya Roh itu. Begitu Roh itu masuk, kita merasa terang dan segar di dalam. Roh kita akan dibangunkan, dihidupkan, dan dikuatkan.

Itulah sebabnya, ketika kita bertobat, mengaku dosadosa kita, dan percaya Tuhan Yesus, kita segera merasakan sukacita dan merasa bahwa semuanya telah berubah.

Sebelumnya, batin kita gelap, tetapi begitu kita berseru kepada nama Tuhan Yesus, terang segera datang. Sebelumnya, batin kita merasa tertekan, tetapi begitu kita berseru kepada Tuhan, kita dibebaskan. Sebelumnya, kita rusak sampai pada puncaknya, penuh kebencian, dan penuh keluhan, bahkan melemparkan piring-mangkok, memukul-mukul meja, dan menendang kursi. Namun, begitu kita percaya Tuhan Yesus, berseru kepada nama-Nya, kita segera merasa bahwa orang-orang dan hal-hal sekeliling kita itu semuanya berubah dan menjadi sangat patut dikasihi. Kita juga menjadi orang-orang yang paling berbahagia. Mengapa demikian? Tidak ada alasan lain karena Roh itu telah masuk ke dalam kita. Roh ini adalah Allah, Tuhan Pencipta dan Penebus kita, yang mencucurkan darah-Nya dan mati di kayu salib bagi kita. Ketika kita berdoa dan berseru, “Abba Bapa,” kita merasa manis di dalam kita. Siapakah “Abba Bapa” ini? Dia adalah Roh itu. Siapakah Roh ini? Dia adalah Allah Tritunggal. Inilah misteri Allah Tritunggal di dalam kita.

Dipenuhi dan Diluapi oleh Roh Itu

Demikianlah Allah Tritunggal menyalurkan diri-Nya ke dalam kita dan hidup di dalam kita. Karena itu, setiap hari kita harus menghirup Dia, berdoa kepada-Nya. Doa kita sama seperti pernafasan kita. Setiap hari kita juga harus memakai roh kita untuk menerima Dia, makan Dia. Makan Dia berarti menerima Dia. Ketika kita berdoa dan membaca firman, kita menghirup udara rohani dan makan makanan rohani. Udara rohani dan makanan rohani ini adalah Roh itu. Jadi, hasilnya adalah kita dipenuhi dengan Roh itu. Bila kita dipenuhi sedemikian rupa hingga kita diluapi dengan sukacita, kita bisa mengatakan, “Bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus!” (Gal. 2:20).

Sungguh mengherankan bahwa di dalam kita dipenuhi oleh Roh itu, namun kita mengatakan bahwa Kristus yang hidup di dalam kita. Ini membuktikan bahwa Kristus adalah Roh itu di dalam kita. “Bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” Inilah yang telah dialami oleh kebanyakan dari antara kita. Alhasil, di dalam kita penuh dengan sukacita, kepuasan, terang, dan membara sedemikian rupa sehingga kita bahkan lupa diri dan menjadi “gila” dan memberi tahu siapa saja yang kita temui tentang Kristus di dalam kita. Melalui pembicaraan ini, Injil diberitakan. Ketika kita lupa diri, kita tidak akan peduli tentang Timur atau Barat, langit atau bumi, dan kita tidak akan malu atau takut. Ke mana saja kita pergi, kita akan berbicara kepada orang lain tentang Yesus, dan memberi tahu mereka bahwa Yesus adalah Yang paling ajaib. Mengapa demikian? Karena kita bukan hanya dipenuhi dengan Roh itu di dalam kita, melainkan juga memiliki peluapan Roh itu di atas kita. Karena itu, begitu kita membuka mulut kita, orang lain akan tergerak karena di dalam kita dipenuhi Roh, dan di luar kita juga diluapi oleh Roh.

Meskipun demikian, ini tidak berarti kita memiliki dua Roh, yang satu di dalam kita dan yang lain di luar kita. Kita hanya memiliki satu Roh. Roh yang ada di dalam adalah Roh esensial, sedangkan Roh yang ada di luar kita adalah Roh ekonomikal. Roh esensial di dalam kita membuat kita menjadi penuh dengan sukacita, “gila”, membara, dan tidak takut; Roh ekonomikal di luar kita menyuplai kita dengan otoritas ketika kita memberitakan Injil, dan menyebabkan orang-orang yang mendengarkan kita menjadi takluk sehingga mereka harus percaya. Karena kita dipenuhi dengan Roh esensial secara batiniah dan dengan Roh ekonomikal secara lahiriah, maka kita dibaurkan sepenuhnya dengan Allah Tritunggal di dalam roh. Allah itu Roh dan Roh ini adalah Bapa, Putra, dan Roh itu. Dengan kata lain, Roh ini adalah Allah Tritunggal — Bapa, Putra, dan Roh itu — memenuhi kita dan membungkus kita sepenuhnya. Roh yang memenuhi kita secara batiniah, Roh esensial, sepertilah air hidup untuk kita minum (Yoh. 7:37-39; 1 Kor. 12:13). Roh yang meluapi kita secara lahiriah, Roh ekonomikal, sepertilah jubah kuasa untuk kita kenakan (Luk. 24:29; 2 Raj. 2:9, 13-15).

Roh esensial adalah bagi kehidupan dan kenikmatan kita. Ketika kita berseru kepada nama Tuhan, dan menikmati Dia, Dia akan memenuhi kita sebagai Roh esensial. Kemudian kita akan menjadi luar biasa gembira, membara, dan berani serta merasa bahwa Yesuslah yang terbaik. Kita tidak mendambakan hal lainnya lagi selain Tuhan Yesus. Kemudian ketika kita berbicara dengan berani, memproklamirkan nama Tuhan, maka Roh ekonomikal akan meluapi kita, menudungi kita untuk menjadi kekuasaan dan kekuatan kita bagi ministri dan pekerjaan kita.

Kita bisa melihat bahwa ada orang yang ketika berbicara penuh dengan kuasa. Sebenarnya, rahasianya ada di dalam Roh itu. Sebelum berbicara, orang-orang ini terbiasa melatih roh mereka melalui berseru kepada Tuhan, agar mereka dikenyangkan di dalam batin mereka. Kemudian ketika datang ke sidang, mereka membebaskan roh mereka. Semakin berbicara, mereka menjadi semakin “gila”. Akhirnya, Roh ekonomikal meluapi mereka sehingga orang-orang bisa menerima apa saja yang mereka katakan. Ini karena mereka dipenuhi dengan Roh itu dan dibaurkan dengan Allah. Mereka memiliki Allah secara batiniah dan secara lahiriah, di dalam setiap bagian dari diri mereka.

Orang Kristen yang sejati adalah orang yang bersatu dan berbaur dengan Allah. Dua puluh sampai tiga puluh tahun yang lalu, kita telah menerbitkan banyak buku yang membicarakan perkara ini. Saya harap kita semua bisa baik-baik mempelajari kebenaran, kemudian pergi kepada kenalan-kenalan dan teman-teman kita untuk membicarakan kebenaran. Kita harus membicarakan Kristus kepada orang, harus menjadi “gila”, memberi tahu mereka bahwa segala sesuatu yang lain itu “tidak baik” dan bahwa Yesuslah yang “terbaik”. Kita semua harus menjadi orang-orang Kristen yang “gila” seperti ini, yang penuh dengan Yesus, penuh dengan Roh itu.

PERAMPUNGAN SEMPURNA PENYALURAN ILAHI

Hari ini kita menikmati Tuhan sebagai Roh itu di dalam roh kita. Satu hari kelak, Tuhan akan datang kembali untuk mengubah, dan mentransfigurasi tubuh kita. Ini akan menjadi penebusan tubuh kita. Pada waktu itu, Dia akan ternyata dari kita sebagai kemuliaan, dan kita juga akan masuk ke dalam kemuliaan (Flp. 3:20-21). Kemudian kita akan beserta dengan Dia di dalam Kerajaan Seribu Tahun, menikmati sukacita-Nya, kehadiran-Nya, kemuliaan-Nya, dan otoritas-Nya, selama seribu tahun (Mat. 25:21, 23; Why. 20:4, 6). Setelah seribu tahun kita “gila”, akan ada satu kondisi yang akan penuh dengan kemuliaan, kita bersama Tuhan akan sampai kepada manifestasi akhir — Yerusalem Baru. Yerusalem Baru adalah ekspresi akhir dari perbauran Allah dan manusia — Allah hidup di dalam manusia, dan manusia memperhidupkan kemuliaan Allah.

Inilah rahasia yang paling inti dalam Alkitab. Rahasia inti ini adalah Allah Tritunggal menggarapkan diri-Nya ke dalam manusia tripartit, sehingga Allah dan manusia bisa dibaurkan dan menjadi satu — Allah di dalam manusia dan manusia di dalam Allah. Ini adalah satu rahasia yang tidak bisa digambarkan dengan katakata manusia. Kita benar-benar percaya bahwa pada hari itu, ketika kita berada di Yerusalem Baru, kita semua akan menjadi “gila” dan lupa diri, karena kita semua akan bersorak riang tanpa akhir.

Meskipun hari ini Kerajaan Seribu Tahun dan Yerusalem Baru itu belum datang, tetapi di dalam hidup gereja, yaitu di dalam miniaturnya, kita bisa mencicipi hal ini. Ketika kita berseru kepada Tuhan, membicarakan Tuhan, dan menikmati Tuhan, kita menjadi lupa diri dan dipenuhi dengan Allah Tritunggal secara batiniah dan secara lahiriah.

MEMBERITAKAN RAHASIA INTI SEBAGAI INJIL

Karena itu, kita harus membicarakan kebenaran tentang rahasia inti dalam Alkitab di mana-mana. Kita tidak boleh membicarakan Injil damai sejahtera dan Injil kemakmuran yang dangkal lagi. Jangan memberi tahu orang lain bahwa jika mereka menderita, gelisah, mereka harus percaya Yesus supaya mereka memiliki damai sejahtera, atau bahwa jika bisnis mereka rugi, kalau mereka percaya kepada Yesus dan berdoa kepada-Nya, mereka akan menjadi kaya. Itu bukanlah Injil. Injil yang tepat adalah memberi tahu orang lain bahwa satusatunya Allah, yaitu Allah Tritunggal — Bapa, Putra, dan Roh — menjadi daging, mati di kayu salib untuk menggenapkan penebusan dan kebangkitan untuk menjadi Roh pemberi-hayat. Roh pemberi-hayat ini adalah Allah Tritunggal yang telah melalui proses. Dia melalui inkarnasi, kematian, dan kebangkitan telah menjadi Roh yang almuhit. Ketika manusia bertobat dan percaya kepada-Nya, maka Dia segera masuk ke dalam manusia untuk menjadi hayat manusia dan suplai hayat manusia. Dia ada di dalam manusia sebagai Roh esensial dan di atas manusia sebagai Roh ekonomikal. Dengan cara demikian, Dia menjadi satu roh dengan manusia dan manusia juga menjadi satu roh dengan Dia. Hasilnya, manusia memiliki sukacita, kepuasan yang sejati dan makna kehidupan manusia yang sesungguhnya. Inilah Injil yang tinggi yang harus kita beritakan di mana-mana.

Bila kita memberitakan dan berbicara dengan cara demikian, Roh esensial akan memenuhi kita secara batiniah, dan Roh ekonomikal akan meluapi kita secara lahiriah. Dengan kata lain, kita akan memiliki Roh itu di dalam kita dan di luar kita; alhasil, kita akan menjadi satu roh dengan Allah dan akan dipenuhi dengan Allah. Pada saat ini, kehidupan yang kita tempuh akan menjadi kehidupan kasih, terang, kudus dan benar, dan kita akan dengan spontan memperhidupkan gambar Allah. Inilah kerohanian yang sejati, kekudusan yang sejati, dan kemenangan yang sejati. Akhirnya ini adalah kemuliaan, yang akan meluas menjadi kerajaan, yang rampung sempurna dalam Yerusalem Baru. Ini akan menjadi kelengkapan dari kebenaran rahasia inti Allah.

DOA

Tuhan, kami benar-benar menyembah-Mu untuk penyingkapan yang jelas akan semua rahasia ilahi ini kepada kami. Tuhan, Engkau adalah Allah, Allah Tritunggal — Bapa, Putra, dan Roh — namun Engkau telah menggarapkan diri-Mu sendiri ke dalam kami. Tuhan, kami memuji Engkau. Hari ini, Engkau bersatu dengan kami, dan kami juga menjadi satu roh dengan Engkau. Sebagai Roh pemberi-hayat yang almuhit, Engkau tinggal di dalam roh kami yang telah dilahirkan kembali, setiap hari menguduskan kami, memperbarui kami, mengubah kami, dan menyerupakan kami dengan gambar-Mu. Pada suatu hari, Engkau akan ternyata dari kami dalam kemuliaan, dan Engkau juga akan membawa kami ke dalam kemuliaan. Tuhan kami menyembah Engkau. Ini adalah berkat yang luar biasa! Ini adalah rahasia yang luar biasa! Ini adalah ekonomi yang mulia! Tuhan, berkati perkataan ini, dan bawalah seluruh orang beriman ke dalam rahasia dari kebenaran ini sehingga kami setiap hari bisa mempelajari kebenaran ini, membicarakan kebenaran ini, dan mengajar orang lain mengenai rahasia inti dalam Alkitab. Amin.