MEMPELAJARI DAN MENJELASKAN KEBENARAN
Hal yang paling membuat hati kita bersukacita melebihi semua perkara lainnya di dalam gereja ialah adanya begitu banyak orang muda yang dibangkitkan. Melihat orang-orang yang tua, kita bisa tersenyum lebar, karena mereka adalah bapa-bapa, adalah akar dari gereja. Tanpa orang-orang tua, tidak mungkin ada orang-orang muda. Namun, melihat orang-orang muda, hati kita melonjak bersukacita, karena mereka adalah masa depan gereja. Karena itu, bila orang-orang muda bang-kit untuk melayani, maka sukacita kita akan bertambah besar. Meskipun demikian, orang-orang yang melayani secara riil di dalam gereja-gereja di setiap tempat, terutama orang-orang muda, harus mempelajari beberapa keahlian dan rahasia (kunci). Karena Anda memiliki ha-ti untuk melayani, maka Anda harus belajar bagaimana memimpin kaum beriman. Jika Anda tidak tahu bagaimana memimpin orang lain, bagaimanakah Anda bisa melayani? Jika Anda tidak memiliki kemampuan apa pun, bagaimanakah Anda bisa memimpin? Karena itu, saya harap kita semua mau mempelajari beberapa pelajaran yang penting dalam hal pelayanan.
SELURUH BUMI
MEMERLUKAN INJIL DAN KEBENARAN
Paulus mengatakan bahwa ia bukan hanya diutus untuk memberitakan Injil, melainkan juga untuk mengajarkan kebenaran (1 Tim. 2:7; 2 Tim. 1:11). Ini menunjukkan bahwa tidaklah cukup hanya memberitakan Injil; juga harus mengajarkan kebenaran. Penekanan utama dari Alkitab adalah Injil dan kebenaran. Injil adalah Allah sendiri, dan kebenaran juga adalah Allah sendiri. Kita harus mempelajari Alkitab secara menyeluruh sampai kita bisa melihat bahwa Injil adalah Allah sendiri dan bahwa kebenaran juga adalah Allah sendiri. Injil bukan sekadar suatu berita, melainkan adalah Allah sendiri; kebenaran bukan sekadar suatu doktrin, melainkan Allah sendiri.
Kita harus paham dan sadar bahwa yang diperlukan oleh seluruh bumi pada hari ini adalah Injil dan kebenaran. Alkitab diselesaikan dua ribu tahun yang lalu dan telah diberikan kepada gereja. Sayang sekali, karena kemerosotan gereja, terang Injil menjadi pudar, terang kebenaran juga menjadi padam. Dari sejarah gereja kita melihat bahwa setelah para rasul meninggal, terang Injil dan terang kebenaran berangsur-angsur pudar sampai abad ketujuh, hilang sepenuhnya, terus berlangsung selama sepuluh abad. Sejarah dunia menyebut periode waktu ini sebagai “Zaman Kegelapan”. Kemudian datanglah zaman Reformasi di mana pekerjaan utama dari para pembaru adalah melepaskan kebenaran-kebenaran dalam Alkitab. Sejak itu dan seterusnya, terang kebenaran mulai bangkit seperti matahari terbit dari timur di pagi hari. Perlahan-lahan, malam panjang itu berlalu dan sinar matahari pagi mulai muncul. Meskipun terang pada waktu itu masih lemah, tetapi terang itu semakin memancar. Hari ini bisa dikatakan bahwa terang Injil dan kebenaran telah bersinar terang dan penuh seperti matahari di siang bolong.
Namun, kebanyakan dari terang Injil dan terang kebenaran ini hanya dilepaskan di dalam pemulihan Tuhan. Di luar terbitan-terbitan dari pemulihan Tuhan, terang yang bisa ditemukan itu paling-paling adalah terang yang dilepaskan di pertengahan abad kesembilan belas. Kita bisa mengatakan bahwa terang di dalam terbitan-terbitan kekristenan itu jarang ada selama satu setengah abad belakangan ini. Akibatnya, yang diajarkan teologi pada hari ini di setiap negara hanya mencakup terang kebenaran sampai seratus lima puluh tahun yang lalu. Namun, di dalam pemulihan Tuhan, terang kebenaran itu terus ada sampai hari ini.
Sekitar tahun 1600, Filipina berada di bawah penjajahan Spanyol. Spanyol adalah negara Katolik. Meskipun sekitar lima abad yang lalu, Reformasi menghasilkan terang kebenaran, tetapi tidak banyak pengaruhnya terhadap sifat dasar dari aliran Katolik. Karena itu, ketika orang-orang Spanyol datang ke Filipina, mereka bukannya membawa kebenaran-kebenaran yang dipulihkan melalui Reformasi, mereka malah membawa teologi Katolik yang usang dari Zaman Kegelapan. Melalui kekuatan politik mereka, mereka menyebarkan aliran Katolik itu ke seluruh Filipina.
Sekitar tahun 1970, kali pertama saya datang ke Filipina, saya meluangkan waktu untuk mengamati situasi di dalam aliran Katolik. Saya melihat apa yang disebut “Cathedral of Jesus the Black Nazarene”. Ada sebuah patung dari apa yang disebut “Jesus the Black Nazarene”, jari-jari kakinya aus karena sering disentuh oleh orang-orang Katolik itu. Ketika saya melihat ini, saya tidak tahan, menggeleng-gelengkan kepala dan berkesah, sambil berpikir, “Orang-orang yang kasihan, bagaimana kalian sampai bisa tertipu sedemikian rupa?” Saya sungguh benci akan situasi yang takhayul itu. Pada satu hari saya melihat banyak orang menangis dan berteriak-teriak di jalan-jalan; saya bertanya kepada saudara-saudara apa yang sedang terjadi. Mereka memberi tahu saya, “Orang-orang ini bertobat karena telah merampok dan mencuri barang orang lain. Namun setelah hari ini bertobat, besok mereka akan merampok dan mencuri lagi.” Saya sungguh berduka atas situasi itu, itu mutlak bukan Injil, lebih-lebih bukan kebenaran.
Bukan hanya di Filipina yang seperti ini, aliran Katolik di Amerika Selatan juga berada dalam kondisi yang sama. Saya telah tinggal di Amerika Serikat selama lebih dari dua puluh tahun, dan melalui mengamati situasi di sana, saya menemukan bahwa orang-orang Amerika juga sama takhayulnya. Ini sepenuhnya membuktikan bahwa yang diperlukan oleh seluruh bumi pada hari ini adalah terang Injil dan terang kebenaran. Tidak peduli apa kebangsaan atau rasnya, orang-orang memerlukan Injil dan kebenaran yang murni dan tinggi.
PEMULIHAN TUHAN ADALAH MEMULIHKAN TERANG KEBENARAN
Pemulihan Tuhan adalah memulihkan terang kebenaran. Tahun 1930-an, hari demi hari Tuhan telah membukakan Alkitab kepada kita: pasal demi pasal, ayat de-mi ayat. Dia akan terus melakukannya sampai seluruh kebenaran dari Kitab Kejadian sampai Kitab Wahyu menjadi transparan, terbuka, dan tersingkap seluruhnya kepada kita. Kita bisa mengatakan bahwa sampai sekarang tidak ada kelompok Kristen lainnya yang telah membicarakan tentang Kejadian 2, dan terutama tentang pohon hayat sejelas yang dibicarakan di dalam pemulihan Tuhan. Demikian juga, hari ini tidak ada seorang pun di luar pemulihan Tuhan yang bisa membicarakan ten-tang kebenaran di dalam dua pasal yang terakhir dari Kitab Wahyu mengenai Yerusalem Baru begitu jelas seperti yang telah kita lihat dan bicarakan.
Pada tahun 1963, saya diundang untuk bekerja di Amerika Serikat di bagian timur Texas. Pada satu ma-lam, setelah saya pulang ke tempat tumpangan saya, saya melihat seorang muda, seorang beriman aliran Baptis Selatan, yang membaktikan dirinya untuk memberitakan Injil. Ia sedang duduk di ruang buku sambil menelepon, mengundang temannya untuk datang ke sidang kita. Ia memberi tahu temannya bahwa ia akan menghadiri satu sidang pemberitaan dengan satu berita yang sangat luar biasa dan bahwa ia berharap agar bagaimanapun temannya bisa terbang ke sana menghadirinya. Ketika saya mendengar hal ini, saya menggeleng-gelengkan kepala dan berpikir bahwa ia itu sungguh “gila”. Yang mengejutkan saya adalah bahwa pada keesokan malamnya temannya itu datang dari Texas Barat. Malam itu, saya membicarakan tentang hubungan di antara dua pasal terdepan dari Kitab Kejadian dan dua pasal terakhir dari Kitab Wahyu. Setelah mendengarkan berita ini, orang ini ditangkap oleh Tuhan dan mengakui bahwa ia belum pernah mendengar berita seperti ini sebelumnya, juga menyatakan bahwa ia mau dengan tegas menerima pengajaran ini dan menempuh jalan ini. Karena keesokan harinya adalah hari Tuhan, ia harus menyampaikan satu khotbah, maka ia kembali ke Texas Barat untuk memenuhi tugasnya. Senin pagi berikutnya, ia membawa istrinya. Setelah ia mendengarkan satu berita, ia juga mengekspresikan satu kedambaan untuk menempuh jalan ini.
Contoh ini menunjukkan kepada kita bahwa negara Kristen yang demikian maju seperti Amerika Serikat pun kekurangan kebenaran yang alkitabiah. Karena itu, kebutuhan yang paling mendesak di bumi hari ini adalah kebenaran tentang zaman ini. Tuhan telah menaruh tanggung jawab menyebarkan kebenaran ini ke atas pundak kita. Meskipun kita tidak memiliki banyak orang yang melayani, tetapi kita masing-masing harus menerima beban ini untuk mempelajari kebenaran, memberitakannya ke mana-mana, setiap orang membawa sepuluh orang lainnya ke dalam pengenalan akan kebenaran dan menyempurnakan mereka untuk melakukan apa yang sedang kita lakukan. Jika kita berbuat demikian, maka dalam tiga atau lima tahun, akan ada satu perlipatgandaan dan pertambahan yang luar biasa di antara kita. Di Filipina, jika ada empat puluh ribu orang yang mengenal kebenaran dan juga bisa menjelaskannya kepada orang lain, maka mereka akan bisa menyebarkan kebenaran ke seluruh negara itu. Itu akan menjadi satu pemandangan yang mulia.
Sekitar tiga puluh tahun yang lalu, Filipina baru terlepas dari pemerintahan Amerika Serikat, bahasa Inggris masih belum umum. Sekarang situasinya tidak sama lagi; kita melihat bahasa Inggris telah diajarkan bahkan di sekolah-sekolah dasar di Mindanao. Saya sungguh percaya bahwa pada suatu hari, bukan hanya terang Injil, melainkan juga terang kebenaran di dalam pemulihan Tuhan akan menyebar ke seluruh Filipina, sama seperti bahasa Inggris. Bahkan orang-orang muda yang baru diselamatkan pun akan bisa dengan sigap mengungkapkan kebenaran-kebenaran.
Yang kita sebut dengan terang kebenaran sebenarnya adalah terang Injil. Hari ini, yang disebut Injil oleh orang-orang Kristen itu terlalu dangkal dan terlalu rendah. Sebenarnya, Injil mencakup seluruh kebenaran di dalam Alkitab. Hari ini Alkitab telah diterbitkan dan disebarkan secara luas ke seluruh dunia. Banyak orang yang memiliki Alkitab, tetapi bagi mereka, Alkitab ini tidak terbuka, tidak bisa dengan mudah dipahami. Ketika mereka membacanya, mereka memakai pikiran mereka untuk memahaminya, karena itu, tidak ada jalan bagi mereka untuk melihat misteri-misteri rohani. Misalnya, perhatikanlah Efesus 5. Ketika orang-orang — baik itu orang-orang Kristen atau orang-orang yang tidak percaya — membaca pasal ini, mereka semua merasa baik, karena mereka menganggap pasal ini adalah satu pasal tentang suami mengasihi istrinya dan istri taat kepada suaminya (Ef. 5:25, 22). Secara realitasnya, semua istri ingin suami-suami mereka mengasihi mereka dan juga ingin taat kepada suami-suami mereka. Para istri memiliki konsepsi ini di dalam mereka, tidak perlu membaca Alkitab untuk memiliki pengertian yang demikian. Demikian juga, para suami damba untuk mengasihi istriistri mereka, tetapi masalah terbesar mereka adalah bahwa istri-istri mereka itu tidak taat. Tanpa diajar oleh Alkitab, para suami telah memiliki konsepsi ini di dalam mereka.
Namun, Efesus 5 bukan hanya membicarakan ten-tang dua hal ini, melainkan juga mewahyukan satu kebenaran yang jauh lebih dalam, yaitu bahwa kita harus dipenuhi dengan Allah di dalam roh (Ef. 5:18). Tetapi, ketika orang-orang membaca ayat ini, hampir semua dari mereka matanya terselubung. Mereka tidak tahu apa itu berada di dalam roh dan apakah roh itu. Mereka juga tidak tahu siapa Allah itu dan bagaimana Allah bisa memenuhi mereka. Inilah pemahaman Alkitab yang dimiliki orang-orang pada umumnya pada hari ini, termasuk orang-orang Kristen. Mereka tahu firman yang dangkal dari Akitab, tetapi hampir tidak ada seorang pun yang memahami kebenaran-kebenaran dan misteri-misterinya yang tersembunyi.
Banyak orang Kristen ketika mereka membaca Alkitab hanya melihat bahwa Alkitab mengajar orang untuk menjadi orang yang baik hati, sabar, ramah, adil, menguasai diri. Mereka menganggap pengajaran semacam ini, yaitu menjadi baik dan tepat, lebih kurang sama dengan pengajaran-pengajaran dari aliran Konghucu. Mereka sama sekali tidak mengerti wahyu yang ada dalam Alkitab mengenai ekonomi Allah dan misteri-misteri Allah. Bagi kebanyakan orang, termasuk orang-orang Kristen pada umumnya, Alkitab adalah sejilid kitab yang tertutup. Perhatikanlah Injil Matius. Hampir tidak ada seorang pun yang memahami mengapa Matius pasal 1 mencatat tentang silsilah Kristus atau mengapa silsilah itu disajikan secara demikian. Terima kasih kepada Tuhan bahwa hari ini dalam pemulihan Tuhan, Alkitab bukan menjadi satu kitab yang tertutup lagi. Jika kita membaca Alkitab dengan Pelajaran-Hayat, kita dapat melihat makna dari setiap nama. Semakin membaca, kita akan semakin jelas dan semakin memiliki perasaan bahwa seluruh kitab itu telah terbuka kepada kita. Alhasil, kita masuk ke kedalaman Kitab Matius dan memiliki pengenalan makna yang sesungguhnya dari wahyu ilahi ini.
Karena alasan ini, saya mendorong kaum beriman di Amerika Serikat dan di Taiwan untuk meluangkan waktu dua jam sehari guna mempelajari Alkitab Perjanjian Baru dengan bantuan Pelajaran-Hayat. Dengan cara demikian, seluruh Perjanjian Baru bisa selesai dibaca dalam waktu empat tahun. Saya harap semua orang muda mau meluangkan waktu itu. Demikian, dalam waktu empat tahun kalian akan menjadi pengajar Alkitab yang unggul, yang bisa menyajikan Perjanjian Baru dengan jelas, dan bisa memenuhi keperluan Tuhan yang besar di berbagai tempat.
MELUANGKAN WAKTU UNTUK MEMASUKI KEBENARAN-KEBENARAN DALAM PEMULIHAN TUHAN
Seorang muda yang kendur pada usia 15 tahun akan menjadi seorang yang sembarangan pada usia 18 tahun. Namun, jika ia mau belajar dengan sungguh-sungguh selama SMU, ia akan bisa mempelajari banyak hal. Jika ia melanjutkan empat tahun berikutnya di perguruan tinggi, maka menjelang usia 22 tahun, ia akan lebih diterangi secara batiniah dan akan bisa mengajar orang lain. Perbedaan antara mereka yang terpelajar dan yang tidak terpelajar itu sangat besar. Hari ini, orang-orang yang mengecap pendidikan di perguruan tinggi diperlakukan berbeda di masyarakat. Karena itu, kalaupun ada orang yang sudah tidak muda lagi, jika memungkinkan, akan baik bila ia kembali ke sekolah untuk mendapatkan pendidikan di perguruan tinggi. Jika tidak, akan sulit untuk meyakinkan orang lain.
Kita sungguh gembira melihat kaum beriman yang tua, tetapi sulit bagi kita untuk menuntut mereka mencurahkan lebih banyak tenaga guna menuntut kebenaran. Mereka mengasihi Tuhan dan juga mengasihi firman-Nya. Mereka mengenal Kejadian 1:26, melihat bahwa Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya sendiri. Mereka memahami Efesus 1:4, mengenal bahwa Allah memilih kita di dalam Kristus. Mereka jelas tentang Amsal 9:10, dan mengakui bahwa takut akan TUHAN adalah permulaan hikmat dan bahwa pengenalan terhadap yang Mahakudus itu adalah pengertian. Mereka bisa bersaksi kepada orang lain, dengan mengatakan, “Alkitab itu sangat baik; Alkitab memberi tahu kita bahwa Allah menciptakan kita menurut gambar-Nya, bahwa Dia memilih kita di dalam Kristus dan bahwa hari ini Dia telah menjadi hikmat kita.” Ini lebih dari cukup. Kita tidak bisa meminta lebih banyak lagi. Namun, jika orang-orang muda di antara kita mempelajari Alkitab hanya demikian saja, itu sangat mengecewakan. Mengapa orang yang berusia 18 tahun mempelajari fir-man seperti orang yang berusia 68 tahun? Cara belajar yang demikian itu memang tidak buruk, tetapi itu hanyalah untuk kaum beriman yang berumur. Orang yang berusia 18 tahun harus mempelajari Alkitab dengan menggunakan metode yang lebih dalam, seperti Salomo mengatakan bahwa kita harus mengingat Tuhan kita pada masa muda kita (Pkh. 12:1). Orang-orang muda harus mempelajari kebenaran-kebenaran yang tinggi sewaktu mereka masih muda.
1. Penciptaan Allah
Pertama, Alkitab mewahyukan tentang penciptaan Allah (Kej. 1—2). Dalam penciptaan Allah, ada dua butir yang penting: yang pertama adalah penciptaan hayat, dan yang kedua adalah penciptaan manusia. Penciptaan hayat adalah butir yang paling khusus dari penciptaan Allah. Hari ini orang-orang mempromosikan keberhasilan negara-negara mereka, tetapi tidak peduli berapa banyak keberhasilan yang mereka capai, mereka tidak pernah bisa menghasilkan hayat. Paling-paling mereka hanya bisa membuat beberapa robot yang mirip dengan manusia, tetapi tidak memiliki hayat manusia di dalamnya. Tidak peduli seberapa maju teknologi dalam menghasilkan lebih banyak komputer yang pandai, tetap saja tidak bisa menciptakan satu otak yang hidup. Hanya Allah yang bisa menciptakan hayat. Kejadian 1 menunjukkan kepada kita bahwa Allah terlebih dahulu menciptakan benda-benda yang tidak bernyawa, kemudian menciptakan makhluk-makhluk hidup. Ketika Dia menciptakan makhluk-makhluk hidup, Allah memulainya dari bentuk hayat yang paling rendah dan kemudian maju ke bentuk-bentuk hayat yang lebih tinggi. Inilah proses penciptaan Allah terhadap hayat.
Bentuk yang paling tinggi dari hayat ciptaan adalah hayat manusia. Hayat manusia adalah hayat yang paling tinggi di antara makhluk-makhluk hidup yang diciptakan oleh Allah. Hayat ini adalah hayat yang mirip dengan hayat Allah; satu hayat yang diciptakan menurut gambar Allah. Gambar Allah adalah kasih, terang, kudus, dan benar. Karena hayat insani memiliki gambar Allah, maka hayat ini juga memiliki kasih, terang, kudus, dan benar, serta membuatnya menjadi hayat ciptaan yang paling tinggi. Tentunya di alam semesta ini masih ada satu hayat yang lebih tinggi — hayat Allah. Di alam semesta ini, hayat yang paling tinggi adalah hayat Allah. Karena itu, pohon hayat dalam Kejadian 2 itu menggambarkan hayat Allah. Manusia ditaruh di depan pohon hayat, menunjukkan bahwa Allah ingin manusia menerima Dia sebagai hayat yang paling tinggi, supaya manusia memperhidupkan hayat Allah dalam hayat insani. Inilah kebenaran mengenai penciptaan Allah.
2. Kejatuhan Manusia
Kedua, Alkitab membicarakan tentang kejatuhan manusia, yang tercatat dalam Kejadian 3. Ada dua butir penting mengenai kejatuhan manusia. Pertama, begitu manusia jatuh, segera timbul satu tuntutan (kasus) dosa terhadap manusia di hadapan Allah, dan manusia menjadi orang dosa yang dihakimi oleh Allah. Kedua, sekarang di dalam manusia ada sifat dosa sebagai akibat masuknya Iblis ke dalam daging manusia. Iblis memperdaya manusia untuk makan buah pohon pengetahuan baik dan jahat. Buah ini mengacu kepada Iblis, sedangkan buah pohon hayat mengacu kepada Allah. Jika manusia makan pohon hayat, ia akan mendapatkan Allah. Namun, manusia makan buah pohon pengetahuan baik dan jahat, menerima Iblis ke dalam dagingnya, dan menghasilkan sifat dosa yang ada di dalam daging manusia. Sifat dosa ini dalam Alkitab disebut dosa. Karena itu, begitu manusia jatuh, bukan hanya ada satu tuntutan dosa terhadap manusia di hadapan Allah, tetapi juga sifat dosa itu ada di dalam dagingnya.
3. Allah Menjadi Daging
Kebenaran besar yang ketiga di dalam Alkitab adalah Allah menjadi daging (inkarnasi Allah). Ada tiga butir utama mengenai inkarnasi Allah: membawa Allah ke dalam manusia, menggenapkan penebusan, dan mengakhiri ciptaan lama.
Pertama, Allah menjadi daging untuk membawa Allah ke dalam manusia. Meskipun Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya, tetapi pada waktu itu Dia belum menaruh diri-Nya sendiri ke dalam manusia. Saat berinkarnasi, Allah membawa diri-Nya sendiri ke dalam manusia. Karena itu, Yesus orang Nazaret, yang dikandung dan dilahirkan melalui Maria adalah seorang Manusia-Allah. Secara lahiriah, Dia adalah seorang manusia, tetapi secara batiniah, Dia adalah Allah. Secara lahiriah, sebagai seorang manusia, Dia memiliki sifat insani; secara batiniah, sebagai Allah, Dia memiliki sifat ilahi. Dia adalah seorang Manusia-Allah dengan sifat insani juga sifat ilahi. Sifat ilahi-Nya hidup di dalam sifat insani-Nya, dan sifat insani-Nya mengekspresikan sifat ilahi-Nya. Dalam sifat insani-Nya ada berbagai kebajikan insani, yang utama adalah kasih, terang, kudus, dan benar. Dalam catatan dari empat Injil dalam Perjanjian Baru, kita melihat Tuhan Yesus, yang adalah Allah juga manusia, penuh dengan kasih, terang, kudus, dan benar. Dalam kebajikan insani-Nya yaitu kasih, terang, kudus, dan benar, ada atribut-atribut ilahi. Dengan kata lain, atribut-atribut ilahi dalam keinsanian Tuhan Yesus itu menguatkan, memperkaya, dan meninggikan kebajikan-kebajikan insani-Nya sehingga kasih, terang, kudus dan benar yang Dia perhidupkan itu adalah kebajikan-kebajikan insani yang luar biasa, unggul, dan tinggi.
Pada umumnya, ketika kita memberitakan Injil, kita merasa sepertinya kita tidak memiliki banyak hal untuk dikatakan. Kita bisa mengatakan bahwa percaya Yesus itu baik, tetapi kita tidak bisa menjelaskannya mengapa demikian. Banyak orang Kristen hanya bisa memberi tahu orang lain bahwa percaya kepada Yesus itu adalah hal yang baik, karena menyelamatkan mereka dari neraka dan akan memberi mereka damai sejahtera dan kemakmuran. Ada beberapa orang yang tidak percaya setelah mendengar ini mungkin mengatakan, “Kalian orang-orang yang percaya takhayul. Kalian hanya membicarakan tentang neraka, kemakmuran, dan damai sejahtera. Apakah bedanya hal ini dengan agama lain?” Saya harap mulai sekarang dan seterusnya, ketika kita bertemu sanak famili atau teman-teman kita, kita bisa mengatakan kepada mereka, “Izinkan aku memberi tahu Anda siapa Yesus itu. Dia adalah seorang Manusia-Allah, yang memiliki sifat insani dan sifat ilahi. Sifat ilahi-Nya hidup di dalam sifat insani-Nya, dan sifat insani-Nya mengekspresikan sifat ilahi-Nya. Dalam sifat insani-Nya ada kebajikan-kebajikan insani — kasih, terang, kudus, dan benar — yang dikuatkan, diperkaya, dan dipertinggi oleh atribut-atribut ilahi-Nya. Karena itu, kebajikan-kebajikan seperti kasih, terang, kudus, dan benar yang Dia perhidupkan itu sangat unggul.”
Ada orang mungkin bertanya, bagaimana mereka yang belum pernah mendengarkan Injil bisa memahami semuanya ini. Bertanya demikian berarti meremehkan mereka. Jika kita bisa memahami, mereka juga bisa memahaminya. Mereka sama dengan kita; hampir tidak ada perbedaan apa pun di antara kita. Karena itu, yang bisa kita pahami, mereka juga pasti bisa memahaminya. Ada seorang saudara di Amerika Serikat yang bersaksi bahwa untuk sejangka waktu ia memakai diagram tiga lingkaran, yang menggambarkan roh, jiwa, dan tubuh, dan membicarakan tentang tiga bagian manusia sebagai topik uniknya dalam pemberitaan Injil. Hasilnya, setelah mengontak lebih dari lima ratus orang selama beberapa tahun, lebih dari tiga ratus orang yang diselamatkan. Hari ini, banyak orang Kristen, bahkan para pendeta dan pengkhotbah, yang tidak memahami kebenaran yang disampaikan dalam diagram dari tiga lingkaran itu. Meskipun demikian, kita harus memiliki iman bahwa asal kita membicarakannya, mereka yang mendengarkan pasti akan diselamatkan. Jangan takut orang-orang tidak bisa memahaminya.
Mulai sekarang dan seterusnya, kita harus berhenti memberitakan Injil yang dangkal, dan tidak lagi memberi tahu orang-orang bahwa percaya kepada Yesus itu baik, karena yang sakit akan disembuhkan, yang miskin akan menjadi kaya. Ini bukanlah Injil, ini dangkal, dan benar-benar menipu. Hari ini ada sejumlah orang yang mempraktekkan kesembuhan ilahi, tetapi pada akhirnya, mereka menipu orang-orang. Tegasnya, kesembuhan ilahi bukanlah kebenaran dalam Alkitab, itu adalah kuasa di zaman yang akan datang (Ibr. 6:5). Kita tidak seharusnya memberitakan ini; sebaliknya, kita harus memakai diagram tiga lingkaran itu untuk memberitakan tentang tiga bagian dari manusia. Ketika saya membicarakan tentang tiga lingkaran ini dua puluh tahun yang lalu, ada seorang pengkhotbah keliling dari Kaum Saudara dan yang mendirikan sidang-sidang Kaum Saudara di sepuluh tempat lebih, sangat terjamah, karena ia belum pernah mendengar pemberitaan semacam ini. Kemudian, ia bukan hanya mempelajari tentang tiga lingkaran itu, tetapi ke mana saja ia pergi, ia membicarakan kebenaran ini. Saya harap kita semua juga mau mempelajari kebenaran dengan rajin dan membicarakannya ke mana-mana.
Butir utama kedua dari inkarnasi Allah adalah Ma-nusia-Allah ini pergi ke salib mengalami kematian untuk menggenapkan penebusan kekal. Butir utama ketiga adalah Dia mengakhiri segala hal dari ciptaan lama di atas salib.
4. Penyaluran Allah
Kebenaran besar keempat dalam Alkitab adalah penyaluran Allah. Kata “penyaluran” ini dalam bahasa Inggrisnya adalah “dispensing”; kata bendanya adalah “dispensation”. Sayangnya, kata ini telah dirusak oleh pengajaran teologi dalam kekristenan. Kapan saja kata ini disinggung, para ahli teologi memahaminya sebagai berbagai cara yang Allah pakai untuk menanggulangi orang; setiap “dispensation” adalah satu cara yang Allah pakai untuk menanggulangi umat-Nya. Ketika para ahli teologi China menerjemahkan istilah ini, mereka menghadapi kesulitan dan hanya bisa menerjemahkannya sebagai “zaman”, yang menunjukkan bahwa Allah menanggulangi orang-orang dengan cara yang berbeda di berbagai zaman. Pada kenyataannya, istilah ini dalam bahasa Latin dan bahasa Inggris menekankan pengaturan Allah, yaitu administrasi ilahi. Namun, ketika kita memakai istilah ini pada hari ini, kita bukan mengacukannya kepada pengaturan atau administrasi Allah, melainkan kepada penyaluran Allah. Karena itu, untuk membedakan hal ini, kita tidak memakai istilah “dispensation” melainkan “dispensing” (penyaluran).
Dalam rencana-Nya, Allah bukan hanya menjadi daging, tetapi juga menyalurkan diri-Nya ke dalam umat pilihan-Nya. Bagaimana Allah menyalurkan diri-Nya ke dalam manusia? Pertama, kita harus melihat bahwa kematian Tuhan Yesus itu bukan hanya satu pengakhiran. Tuhan mati, tetapi kemudian dibangkitkan. Kebangkitan-Nya adalah satu permulaan yang baru. Kematian-Nya adalah pengakhiran dari segala sesuatu dalam ciptaan lama, tetapi Dia tidak berhenti sampai di sana. Setelah se-gala sesuatu diakhiri, ada satu permulaan yang baru, yaitu kebangkitan. Petrus mengatakan bahwa melalui kebangkitan Kristus, kita semua telah dilahirkan kembali (1 Ptr. 1:3). Paulus mengatakan bahwa melalui kebangkitan-Nya, Tuhan Yesus sebagai Adam yang akhir menjadi Roh pemberi-hayat (1 Kor. 15:45). Ini berarti dalam kebangkitan-Nya, Kristus menjadi Roh pemberihayat untuk masuk ke dalam semua orang yang percaya kepada-Nya.
Roh pemberi-hayat masuk ke dalam kita, pertamatama untuk melahirkan kita kembali. Kelahiran kembali adalah Allah menyalurkan diri-Nya ke dalam kita. Dilahirkan kembali berarti lahir dari Allah. Begitu kita dilahirkan dari Allah, maka kita memiliki hayat Allah di dalam kita, yang adalah Allah itu sendiri. Ini bisa disamakan dengan fakta bahwa ketika seorang ayah memperanakkan seorang putra, sang ayah menyalurkan dirinya ke dalam putranya, sehingga hayat dan sifat ayahnya ada di dalam putranya itu. Karena ayahnya adalah manusia, maka putranya juga adalah manusia. Demikian juga, ketika Allah menyalurkan diri-Nya ke dalam kita, kita dilahirkan kembali dengan hayat dan sifat Allah untuk menjadi anak-anak Allah (Yoh. 1:12-13; 1 Yoh. 5:1).
Kedua, Roh pemberi-hayat masuk ke dalam kita untuk menguduskan kita, dan ketiga, mengubah kita. Pengudusan adalah memisahkan kita bagi Allah dan pengubahan adalah mengubah sifat kita. Keempat, Allah menyerupakan kita dengan gambar Kristus, dan kelima, Dia memuliakan kita sehingga kita bisa masuk ke dalam kemuliaan. Kelahiran kembali, pengudusan, pengubahan, penyerupaan, dan pemuliaan adalah lima langkah dari pekerjaan Allah dalam menyalurkan diri-Nya ke dalam kita. Hari ini, gereja harus setiap hari membiarkan Tuhan melakukan pekerjaan pengudusan, pengubahan, dan penyerupaan. Pada akhir zaman ini, ketika Tuhan Yesus datang kembali, Dia akan memuliakan kita, yaitu, Dia akan ternyata dari kita sebagai kemuliaan (Flp. 3:21). Kemudian kita akan masuk ke dalam kemuliaan-Nya. Itu akan menjadi zaman kerajaan, yang akan berlangsung selama seribu tahun. Setelah itu, Yerusalem Baru akan datang sebagai ekspresi akhir dari penyaluran Allah. Ekspresi ini adalah Allah dan manusia menjadi satu kesatuan — Allah sebagai hayat dan sifat batiniah manusia, dan manusia sebagai ekspresi lahiriah Allah. Ekspresi ini adalah kemuliaan, dan kemuliaan ini adalah hasil dari perbauran antara Allah dan manusia — Yerusalem Baru sebagai ekspresi yang akhir.
MEMBERITAKAN KEBENARAN-KEBENARAN DALAM PEMULIHAN TUHAN SEBAGAI INJIL
Keempat butir besar ini — penciptaan Allah, kejatuhan manusia, Allah menjadi daging, dan penyaluran Allah — adalah kebenaran-kebenaran utama dalam Alkitab, dari penciptaan Allah sampai Yerusalem Baru, dari Kitab Kejadian sampai Kitab Wahyu. Meskipun ini adalah kebenaran-kebenaran utama, tetapi kebenaran-kebenaran ini tidak sulit untuk dipahami. Kebenaran-kebenaran ini bisa dengan mudah dipahami oleh orang-orang muda juga oleh orang-orang tua. Kita harus memberitakan kebenaran-kebenaran ini sebagai Injil kepada orang lain. Ketika kita pergi memberitakan, apakah orang lain memahami atau tidak, itu tergantung pada bagaimana kita membicarakannya. Jika kita membicarakannya dengan jelas, dengan terang, dan dengan logis, setiap orang akan bisa memahaminya, Jika kita membicarakannya dengan canggung dan ngambang, tidak ada seorang pun yang bisa memahaminya. Karena itu, jika dalam batin kita benar-benar ada beban, ingin pemulihan Tuhan menyebar ke setiap tempat, maka tidak cukup hanya memberitakan Injil kekristenan yang dangkal. Kita harus memberitakan kebenaran-kebenaran utama dalam Alkitab sebagai Injil kepada orang. Karena itu, kita harus baik-baik mempelajarinya.
Ketika kita berbicara kepada sanak famili dan teman-teman kita, kita tidak perlu memberitakan semuanya sekaligus, boleh membagi pembicaraan kita menjadi beberapa kesempatan, membicarakannya dengan jelas, sedikit demi sedikit, seminggu sekali. Pada umumnya, tingkatan pendidikan di antara orang-orang pada hari ini lebih tinggi, pemikiran dan logika orang-orang telah lebih maju dan lebih kaya daripada dahulu. Selain itu, banyak orang yang memiliki ide-ide filosofis dan mampu mempertimbangkan segala jenis pertanyaan yang berhubungan dengan kehidupan manusia, yaitu pertanyaan-pertanyaan yang memerlukan tingkat pemikiran yang tinggi. Jika kita hanya membicarakan tentang damai sejahtera dan kemakmuran, orang-orang belum tentu senang, karena tidak bisa memuaskan mereka. Namun, jika kita memberitakan empat kebenaran yang besar ini, orang-orang akan mengapresiasi, karena kebenaran-kebenaran ini akan sesuai dengan kondisi batin mereka, membangkitkan minat mereka, menggugah pemikiran mereka mengenai hidup manusia, juga memberikan jawaban yang tertinggi kepada makna hidup manusia yang sebenarnya. Jika seseorang diselamatkan karena hal ini, maka keselamatannya akan menjadi satu keselamatan yang menakjubkan.
Kita percaya bahwa inilah jalan yang bisa membawa Tuhan datang kembali, juga memenuhi kebutuhan masyarakat dalam kondisi kesia-siaan hari ini. Hasil dari peradaban dan kemajuan masyarakat itu adalah satu kesia-siaan yang tidak terleraikan di dalam manusia. Hanya kebenaran-kebenaran yang tinggi dalam pemulihan Tuhanlah yang bisa memenuhi kesia-siaan ini. Karena itu, kita harus memikul beban ini untuk dengan baikbaik mempelajari kebenaran sedemikian rupa sehingga kita bisa menjelaskan kebenaran, memberitakan kebenaran. Inilah memberitakan Injil yang sesungguhnya.
Inilah pemberitaan Injil yang tinggi. Paulus mengatakan bahwa Allah telah memberi amanat ini kepadanya untuk memberitakan Injil dan mengajarkan kebenaran (1 Tim. 2:7). Demikian juga, amanat ini telah diberikan kepada kita pada hari ini. Saya harap kita semua mau menerima amanat ini, dengan aktif memberitakan Injil dan mengajarkan kebenaran.