GEREJA ADALAH TAMAN ALLAH GEREJA ADALAH TAMAN YANG PENUH DENGAN FUNGSI ORGANIK
Gereja sepertilah sebuah taman. Seperti Paulus katakan, pekerjaan kita dalam gereja adalah menanam dan menyiram, sedangkan Allah sendiri yang memberi pertumbuhan (1 Kor. 3:6-7). Selain itu, gereja bukan organisasi, melainkan organisme yang hidup. Keadaan gereja yang lampau di tiap tempat tidak dapat dibandingkan dengan keadaan hari ini, karena gereja adalah organisme dengan fungsi organik dan mampu bertumbuh.
Apa arti fungsi organik itu? Misalnya, di sini ada meja dengan kursi di sampingnya dan cangkir di atasnya. Tiga barang ini tidak pernah dapat menghasilkan fungsi organik apa pun. Mereka akan tetap pada posisi yang sama setelah satu tahun, tiga tahun, atau bahkan sepuluh tahun. Tidak akan ada apa pun yang bertumbuh dari mereka; sebaliknya, mereka akan menjadi semakin kotor, usang, pudar, dan tidak segar. Karena meja, kursi, dan cangkir tidak memiliki fungsi organik. Namun, misalnya di sini ada kebun buah-buahan yang hanya ditanami dengan benih-benih pohon. Pada mulanya benih-benih ini kelihatannya sangat kecil dan tidak berbentuk, sepertinya sejangka waktu lagi akan mati; namun setelah disinari matahari dan dihujani, pohon buah yang tidak berbentuk ini mulai bertumbuh dan bahkan berbuah. Inilah fungsi organik yang ada di dalam pohon-pohon buah.
Secara umum, semua fungsi organik bisa bertambah, berkembang. Benih pohon tidak begitu jelas pada tahun-tahun pertama, tetapi akan ternyata setelah tiga tahun. Setelah sejangka waktu, benih pohon kecil yang tadinya belum berbentuk akan bertumbuh sangat besar dan mulai menghasilkan buah. Walaupun awalnya mung-kin gersang dan kelihatannya mau mati, tetapi akhirnya begitu hidup dan rimbun. Awalnya hanya memiliki sehelai daun, tetapi akhirnya penuh dengan daun-daun hijau. Orang yang melihatnya akan merasa senang, sukacita. Alasan sukacita adalah manifestasi fungsi organik membuat orang dipenuhi dengan pengharapan.
SEPOTONG SEJARAH PEMULIHAN TUHAN DI MANILA
Ketika saya datang ke Manila sekitar tahun 1950, keadaannya sangat berbeda dengan keadaan sekarang. Pada waktu itu hidup gereja sangat tidak bergairah. Saya tidak dapat melihat banyak buah yang dihasilkan, juga tidak dapat melihat fungsi-fungsi organik yang dinyatakan dalam pelayanan-pelayanan. Di bawah kedaulatan-Nya, Allah mengatur saya untuk datang ke sini dan ada tiga kelompok orang yang mengontak saya. Kelompok pertama delapan sampai sembilan penatua.
Seorang saudara yang memimpin memberi tahu saya bahwa gereja dan pekerjaan tidak pernah terbangun. Karena itu, mereka bersedia menyerahkan gereja sepenuhnya kepada saya, agar saya mengambil alih pimpinan.
Kelompok kedua adalah kelompok delapan sampai sembilan sekerja, yang diwakili oleh sekerja senior. Dia memberi tahu saya bahwa pekerjaan di sini tidak pernah terbangun dan mereka merasa malu atas hal ini. Karena itu, dia mewakili para sekerja, bersedia menyerahkan pekerjaan ini di bawah kepemimpinan saya. Pada malam yang sama, semua diaken dan diakonis bersama-sama berkumpul di rumah seorang saudari. Mereka mengutus seorang saudara sebagai wakil mereka untuk memberi tahu saya bahwa mereka tidak melayani dengan tepat dalam gereja dan mereka juga bersedia menyerahkan pelayanan gereja kepada saya untuk dipimpin. Tiga kelompok orang ini, dalam tiga tempat dan waktu yang berbeda, menyatakan pernyataan yang sama.
Satu, dua minggu kemudian, pada tanggal 31 Desember, akhir tahun itu, saya mengadakan sidang dan mengumpulkan tiga kelompok ini bersama-sama. Dalam sidang itu saya berkata kepada mereka, “Saya telah berada di sini selama satu setengah bulan. Para penatua, sekerja, dan diaken semua telah berkata kepada saya bahwa mereka ingin menyerahkan gereja, pekerjaan, dan pelayanan di sini kepada saya untuk dipimpin. Ketika kami diutus oleh Tuhan untuk bekerja, ada dua cara untuk melaksanakan pekerjaan: Satu cara adalah membantu gereja setempat melaksanakan pekerjaannya.
Cara lainnya adalah mengambil penuh kepemimpinan dalam gereja yang ada di suatu tempat setelah gereja menyerahkannya kepada kami. Kita semua adalah orang-orang yang berada di hadapan Tuhan, kita harus sepenuhnya jujur untuk membicarakan keadaan kita. Sekarang kalian semua mempersilakan saya memimpin; saya ingin tahu, kepemimpinan apa yang kalian harapkan dari saya. Dengan kata lain, apakah kalian ingin saya datang ke sini hanya untuk membantu kalian, atau apakah kalian menginginkan saya mengambil penuh kepemimpinan?”
Saya ingat dengan jelas bahwa setelah saya berkata demikian, penatua yang memimpin berdiri berkata bahwa sebagai wakil dari para penatua, dia mau menyerahkan gereja sepenuhnya kepada saya untuk dipimpin. Setelah itu, sekerja senior juga berdiri berkata bahwa sebagai wakil dari para sekerja, dia mau menyerahkan pekerjaan dan meminta saya untuk memimpin sepenuhnya. Selanjutnya, para diaken, diwakili oleh satu saudara, juga mengatakan bahwa mereka mau meletakkan diri mereka sepenuhnya di bawah kepemimpinan saya. Karena itu, saya berkata, “Terima kasih kepada Tuhan, kalian semua, para sekerja, penatua, dan diaken telah menyatakan pernyataan yang sama. Karena itu, saya setuju.”
Pada saat itu saya memberi tahu mereka, “Pertama, saya harap tidak ada perubahan personil dalam pekerjaan ataupun pelayanan dalam gereja. Penatua tetap sebagai penatua, sekerja tetap sebagai sekerja, dan diaken tetap sebagai diaken. Namun, cara pelaksanaan yang lalu semuanya harus dihentikan malam itu dan tidak ada lagi. Mulai besok pagi, semua pelaksanaan harus baru. Hal pertama yang harus dikerjakan adalah menetapkan kantor diaken untuk para diaken melayani di sana. Segala sesuatu dilakukan dengan cara yang baru; cara yang lama tidak dipakai.” Kemudian saya meminta dua saudari bekerja di kantor diaken untuk mendirikan prinsip-prinsip bagi semua pelayanan. Dikarenakan keterbatasan waktu, saya akan perlahan-lahan mengatur ulang pelayanan para penatua dan diaken, demikian juga pekerjaan para sekerja.
Kemudian, dua hal terjadi. Pertama, sekerja senior yang telah mewakili semua sekerja menyerahkan diri mereka, sebenarnya tidak sungguh-sungguh menyerahkan dirinya. Tidak lama setelah itu, dua saudari yang telah saya tetapkan untuk menangani kantor diaken memberi tahu saya bahwa begitu saya kembali ke Taiwan, saudara itu segera datang dan memberi tahu mereka agar melakukan yang berbeda dengan apa yang telah saya aturkan. Saya memberi tahu mereka, “Tidak masalah. Ketika saya ada di sini, lakukan saja menurut apa yang telah saya aturkan. Ketika saya pergi, jika saudara itu tidak mau melakukannya, turuti saja.” Karena itu, kesulitan yang terjadi pada tahun 1961 di gereja Manila tidak terjadi dengan tiba-tiba, penyebabnya telah tersembunyi di sana sejak awal.
Kedua, ketika saya datang ke Filipina pada musim semi 1954, para penatua menemui saya. Pada waktu itu seorang dari saudara-saudara yang memimpin berkata bahwa dia menyadari bahwa di bawah kepemimpinan saya, para penatua tidak seharusnya hanya memiliki nama sebagai penatua, tetapi harus mengerahkan semua kekuatan dan waktunya. Dia merasa tidak menyerahkan diri sepenuhnya dan juga tidak memiliki waktu yang memadai. Karena itu, di hadapan setiap orang dia ingin berhenti dari jabatan penatuanya. Perkataannya sangat tulus dan sungguh-sungguh. Semua penatua lainnya mengikuti dia, ingin berhenti dari kepenatuaan. Saat itu, sekerja senior yang bermasalah berkata bahwa dia juga ingin berhenti dari kepenatuaan dan meminta saya mengatur ulang penatua-penatua baru. Maka saya merespons dengan berkata bahwa saya perlu berdoa dan mencari pimpinan Tuhan; dan sebelum ditetapkan para penatua baru, para penatua sebelumnya harus melanjutkan tanggung jawabnya.
Setelah empat minggu berlalu, mereka mendesak saya lagi dan lagi untuk mengatur para penatua dengan segera. Namun, semakin mereka mendesak saya, semakin saya merasa bahwa saya perlu lebih lambat lagi. Se-lama masa mencari dan menanti, saya terus-menerus berkontak dengan kaum beriman tua, khususnya saudari-saudari yang melayani dan para sekerja, ingin tahu perasaan mereka. Mereka memberi tahu saya perasaannya agar para penatua tetap tinggal dalam kepenatuaan, tetapi perlu ada saudara-saudara yang ditambahkan sebagai penatua.
Suatu sore hari, sekerja senior yang bermasalah itu datang ke tempat tinggal saya, langsung masuk ke dalam ruangan saya dan mendesak saya agar menyelesaikan pengaturan kepenatuaan. Saat itu saya merasa bahwa dia tidak sungguh-sungguh mau menyerahkan kepenatuaannya, tetapi hanya mencoba dengan mundur untuk maju. Dia melakukan ini karena di masa lalu para penatua lainnya tidak selalu mendengarkan dia. Karena itu dia menginginkan saya kembali mengatur penatua dengan harapan bahwa saya akan menyatakan dia secara terbuka sebagai penatua nomor satu. Dengan demikian yang lain harus mendengarkan dia di masa yang akan datang. Karena saya memiliki perasaan ini dalam roh, saya segera memberi tahu dia dengan terus terang jangan mencoba memperalat saya. Kemudian saya kembali berdoa. Dalam batin saya merasa Tuhan memberi tahu saya jangan diperalat oleh orang lain, tetapi dengan baik-baik membuat pengaturan yang baru dan tepat menurut perasaan riil saya yang saya peroleh melalui persekutuan dengan kaum beriman.
Minggu berikutnya, para penatua mengundang saya bersama mereka, meminta saya mengatakan pengaturan yang saya ambil. Kemudian saya mempersekutukan perasaan saya kepada mereka, mengatakan, “Dari semua penatua, hanya dua yang tetap tinggal; empat orang baru lainnya akan ditambahkan.” Orang-orang yang tetap tinggal tidak termasuk sekerja senior itu; orang-orang yang ditambahkan juga tidak termasuk dia. Pada saat itu, apakah mereka setuju atau tidak, mereka harus patuh, karena mereka telah meminta saya membuat pengaturan baru.
Setelah “serah terima” kepenatuaan, sesuatu segera terjadi untuk menguji para penatua yang baru saja ditetapkan. Pada waktu itu Saudara Leland Wang hendak datang ke Manila. Dikarenakan persekutuannya dengan gereja di Manila di masa lalu, saudara-saudara tidak tahu apakah mereka perlu mengundang dia untuk memberitakan Injil. Dua penatua senior merasa tidak harus mengundang, tetapi karena mereka tidak ingin menyalahi dia, mereka bertindak dengan cara “diplomatik”. Empat penatua yang baru ditambahkan, serius dalam bekerja, dengan tegas tidak menyetujui. Tidak dapat menyelesaikan masalah di antara mereka sendiri, para penatua datang bertanya kepada saya. Saya memberi tahu mereka bahwa saya bukan penatua gereja di Manila. Gereja di Manila telah menyerahkan pelayanan kepada mereka berenam, maka mereka harus baik-baik berdoa, bagaimana hal ini seharusnya ditangani. Inilah urusan mereka; mereka harus bisa membuat keputusan di hadapan Tuhan.
Penatua senior berkata bahwa Saudara Leland Wang adalah penginjil terkenal dan gereja di Manila perlu memberitakan Injil, jadi tidak masalah mengundang dia melakukan pekerjaan pemberitaan Injil. Para penatua yang baru berkata bahwa karena Saudara Wang tidak mengambil jalan yang sama seperti kita, dia adalah penginjil keliling, maka tidaklah tepat mengundang dia melaksanakan ministrinya. Mereka juga berkata bahwa meskipun gereja perlu memberitakan Injil, gereja lebih perlu terbangun. Bagi pembangunan gereja, tidaklah harus mengundang saudara ini untuk memberitakan Injil. Selain itu, mereka merasa bahwa gereja di Manila telah menyerahkan kepada saya untuk dibangun di bawah kepemimpinan saya, mereka seharusnya mengesampingkan perkara ini untuk sementara waktu. Karena penatua senior merasa bahwa mereka tidak memiliki keyakinan dan alasan yang kuat, mereka akhirnya tidak mengundang saudara ini.
KITA BERTANGGUNG JAWAB UNTUK MENANAM DAN MENYIRAM, TETAPI ALLAH YANG MENUMBUHKAN
Tujuan membicarakan sejarah ini adalah kita harus mengetahui bahwa kekacauan gereja di Manila pada tahun 1961, bukan dimulai pada tahun 1961. Benihnya sudah tertanam di sana sebelumnya. Saya mengunjungi Filipina setiap tahun selama sebelas tahun. Selain Manila, saya tidak pergi ke tempat lainnya; saya bekerja hanya di Manila. Dalam batin, saya tahu di sana ada unsur penolakan, tetapi saya tidak menyingkapkannya. Sikap saya adalah selama gereja di Manila tidak secara terbuka menolak saya, saya hanya akan melakukan pekerjaan menabur, menanam, dan menyiram. Saya tidak mempedulikan apa yang ada di sini, saya hanya menabur, menanam, dan menyiram. Setiap kali saya datang, saya tidak mau menjamah segala hal yang negatif, melainkan menabur, menanam, dan menyiram dengan cara yang positif. Dalam batin saya sangat jelas bahwa satu hari tempat ini akan menolak saya, tetapi sebelum harinya datang, saya harus mengambil kesempatan untuk menabur, menanam, dan menyiram. Bila penolakan sungguh-sungguh datang secara terbuka, saya baru tidak datang ke Manila. Namun, saya masih menunggu untuk melihat apa yang saya tabur, tanam, dan siram dapat menghasilkan banyak buah.
Pada tahun 1961, huru-hara muncul, dan gereja di Manila benar-benar menolak saya. Orang-orang yang menentang menulis pada spanduk di balai sidang lama: “Turunkan empat penatua; usir Witness Lee.” Ketika kabar itu sampai kepada saya, saya berpikir, “Adakah hasil dari menabur, menanam, dan menyiram selama sebelas tahun di sini?” Pagi berikutnya, seorang penatua seperti biasa menghadiri munajad pagi di balai sidang lama. Ia melihat empat penjaga menjaga balai sidang dan menempelkan pengumuman di pintu bahwa tidak seorang pun boleh keluar masuk balai sidang tanpa seizin Dewan Pengurus. Hari itu juga para penatua menelegram saya untuk memberi tahu saya tentang keadaan sebenarnya dan bertanya apa yang harus dilakukan karena balai sidang telah diduduki. Saya tidak tahu bagaimana menjawabnya. Setelah menengadah kepada Tuhan seharian itu, saya membalas telegram mengatakan bahwa mereka harus berunding dengan dua tokoh penentang. Namun, sesudah itu, saudara-saudara mencari balai sidang yang lain untuk bersidang.
Hari ini saya sangat gembira dan lega karena saya dapat melihat bahwa pekerjaan menabur, menanam, dan menyiram selama sebelas tahun telah menghasilkan buah. Pada saat itu, banyak saudara masih seperti “benih pohon” yang kecil — hanya tunas dan belum begitu bertumbuh. Hari ini saudara-saudara ini telah menjadi penatua. Banyak yang dulu tidak menarik sekarang telah menjadi sangat indah. Ada seorang saudara yang sekarang menjadi penatua, saat itu sulit untuk membedakan apakah dia itu “tanaman kecil” atau “sebongkah batu”. Sekarang dia telah bertumbuh menjadi “pohon” yang sangat kokoh, penuh dengan fungsi organik. Ketika saya mendengar doanya atau memperhatikan pembagian-nikmatnya, saya merasa bahwa dia memiliki terang dan wahyu yang jelas. Langit di atas dia cerah. Syukur dan puji Tuhan. Pekerjaan ini bukan dari manusia, tetapi dari Allah; Allahlah yang mempertumbuhkan orang.
Persekutuan terbuka ini khusus bertujuan agar orang beriman muda melihat bahwa kita seharusnya tidak melakukan pekerjaan organisasi. Kita seharusnya hanya melakukan pekerjaan organik dari organisme yang hidup. Alasan kita bergembira adalah karena kita dapat melihat pernyataan fungsi organik dalam organisme ini. Karena rahmat dan anugerah Allah, selama sebelas tahun itu saya tidak melakukan pekerjaan organisasi; sebaliknya, sedikit demi sedikit saya di sana melakukan pekerjaan organik. Hari ini setiap orang dapat melihat fungsi organisme ini. Gereja adalah taman Allah. Di sana banyak pohon besar, juga banyak yang kecil sedang bertumbuh. Mereka akan bertumbuh dan berbuah, menyatakan fungsi organik.
Lebih dari seratus gereja di kepulauan selatan Filipina telah dibangunkan melalui enam puluh pelajaran Pokok-pokok Penting dalam Alkitab. Ini bukan bersandarkan organisasi atau pengaturan manusia. Ini seluruhnya karena pengembangan fungsi organik Tuhan di dalam kaum beriman. Mereka juga bersaksi bahwa Pelajaran-Hayat telah memberi mereka bantuan yang sangat besar, tidak hanya memberi mereka banyak suplai di luar atau pemahaman doktrin yang obyektif, tetapi juga menyebabkan mereka bertumbuh dalam hayat dan memiliki pengalaman yang subyektif dan riil. Tahun 1980-an ketika saya pergi ke Mindanao, apa yang saya lihat waktu itu telah mendatangkan banyak sukacita. Hari ini, melihat begitu banyak orang beriman di Mindanao dengan semangat mencari Tuhan melalui membaca buku-buku rohani, dalam batin saya dipenuhi dengan sukacita yang lebih besar. Melalui persekutuan, saya menemukan bahwa mereka memiliki penglihatan yang jelas. Inilah bukti bahwa gereja-gereja di Mindanao tidak mengerjakan organisasi, tetapi seluruhnya hasil suplai hayat dalam Tubuh Kristus dan hasil dari ternyatanya fungsi organik. Hal ini sangat menjamah batin saya.
MENYEBARKAN KEBENARAN PEMULIHAN TUHAN MELALUI MENGEMBANGKAN FUNGSI ORGANIK
Jadi, di sini kita melihat pemandangan jarak jauh, merasakan bahwa Tuhan telah memberikan seluruh Filipina kepada pemulihan-Nya. Karena Injil Tuhan yang murni dan kebenaran-Nya yang lengkap ada di dalam pemulihan-Nya. Orang Spanyol membawa pengajaran Katolik kepada orang Filipina, dan kemudian misionaris dari Amerika Serikat datang bekerja di sini. Akibatnya, Filipina secara umum menjadilah negara Kristen. Meskipun demikian, banyak orang Filipina hanya tahu sedikit tentang Allah dan mendengar sedikit Injil, bahkan itu bukan Injil yang murni, apalagi mengenal kebenaran. Orang di sini tahu keberadaan Allah dan juga takut akan Allah, tetapi tidak banyak memberitakan Injil yang murni dan bahkan kurang membicarakan kebenaran yang lengkap. Syukur kepada Tuhan, dalam sebelas tahun, Dia membukakan seluruh Perjanjian Baru kepada kita, pasal demi pasal dan ayat demi ayat. Selama sebelas tahun ini kita mempelajari secara mendalam, dan apa yang Tuhan singkapkan kepada kita sekarang telah dicetak menjadi buku untuk kita miliki di tangan kita. Ada banyak kekayaan kebenaran yang perlu disingkapkan kepada anak-anak Allah.
Perjanjian Baru sudah lengkap selama zaman rasul. Namun, selama dua ribu tahun ini pemahaman manusia atas Perjanjian Baru belum lengkap. Alkitab yang sekarang ada di tangan orang Kristen belum terbuka. Hari ini ada banyak penjelasan Alkitab di kalangan kekristenan. Di antara penjelasan-penjelasan ini juga ada banyak penafsiran-penafsiran kebenaran. Namun, banyak penafsiran berhenti pada terang dan wahyu seratus lima puluh tahun yang lalu, sedangkan terang dan wahyu dalam Pelajaran-Hayat itu mutakhir, juga lengkap dan kaya. Sebagai contoh, penyaluran hayat Allah Tritunggal dan ekonomi Perjanjian Baru Allah, benarbenar adalah wahyu yang baru. Istilah dan pembicaraan ini tidak dapat ditemukan di kalangan kekristenan. Namun, dalam pemulihan Tuhan ada banyak berita ini. Semua ini adalah wahyu terakhir yang secara berangsur-angsur diperlihatkan kepada kita oleh Allah selama sepuluh sampai dua puluh tahun berselang. Mengenai Yerusalem Baru, misalnya, Anda tidak dapat menemukan satu buku di kalangan kekristenan yang menjelaskan dan mengembangkan butir-butir hayat yang berhubungan dengan Yerusalem Baru secara menyeluruh seperti yang dapat Anda baca dalam terbitan di pemulihan Tuhan.
Injil yang kita beritakan dalam pemulihan Tuhan adalah Injil yang murni, tinggi, dan sangat lengkap. Sebagai contoh, mengenai kematian Tuhan di kayu salib, dapatkah Anda temukan di buku yang lain bahwa Tuhan memiliki tujuh status ketika Dia mati di kayu salib? Ini membuktikan bahwa terang yang Tuhan berikan kepada kita jelas dan lengkap. Kekristenan di Filipina memiliki sejarah hampir tiga ratus tahun. Mungkin hampir ada lima puluh juta orang Kristen di Filipina, tetapi mereka semua berada dalam keadaan tidak jelas, mereka berada dalam kabut. Orang tahu ada Allah dan telah mendengar sedikit Injil, tetapi langit di atas mereka tidak cerah, melainkan berkabut. Mereka kelihatannya mengenal Allah, tetapi sebenarnya mereka tidak mengenal Allah; mereka tidak mengenal apa adanya Allah, apa yang Dia kerjakan, dan apa yang ingin Dia capai hari ini. Karena itu, kita harus menerima beban memberitakan kepada mereka kebenaran-kebenaran ilahi dalam pemulihan Tuhan.
Tidak seorang pun dapat memusnahkan atau meruntuhkan pemulihan Tuhan di bumi ini, karena pemulihan memiliki dasar (fondasi) yang sangat kokoh. Pemulihan Tuhan, sebagai taman Allah maju dengan limpah, dengan kuat berakar. Baru-baru ini ada beberapa ratus orang muda masuk ke dalam hidup gereja. Kita tahu bahwa hal ini hanya permulaan; selanjutnya ribuan orang akan datang ke dalam pemulihan Tuhan untuk memasuki kebenaran-kebenaran ilahi. Hingga suatu hari mereka semua akan berdiri di hadapan ribuan orang untuk memberitakan Injil yang murni dan membicarakan kebenaran-kebenaran ilahi. Saya memiliki keberanian untuk bernubuat demikian dan juga beriman bahwa perkataan ini akan segera menjadi kenyataan.
Sebab itu, kita harus memperhatikan perlengkapan diri sendiri, supaya kita layak dipakai Tuhan. Demikian, melalui kita Tuhan akan mendapatkan tempat di mana kita tinggal, bahkan seluruh bumi, dengan Injil yang murni, kebenaran yang lengkap, dan hidup gereja yang normal dan tepat.
Pertama kita harus jelas bahwa pergerakan kita bukan organisasi, melainkan organik. Kita telah melihat sejarah sejak tahun 1950, ketika Tuhan memulai pekerjaan-Nya di Manila, sampai hari ini, kita tidak melakukan pekerjaan organisasi, melainkan menabur, menanam, dan menyiram, supaya gereja dari Allah yang hidup dapat mengembangkan fungsi organiknya. Hari ini di Filipina, semua buah dihasilkan bukan melalui organisasi, melainkan melalui pertumbuhan organik gereja, yang hidup, yang adalah hayat, menjadi Tubuh yang organik. Dalam pemulihan Tuhan kita tidak menekankan organisasi, juga tidak memperhatikan posisi atau reputasi. Anugerah yang kita terima adalah anugerah hayat; hayat ini adalah Kristus sendiri, yang hari ini adalah Roh yang almuhit, Allah Tritunggal yang kita alami. Dia bertumbuh di dalam kita dan di dalam gereja. Semakin bertumbuh, Dia semakin dilipatgandakan, dan semakin subur. Melalui gereja sebagai Tubuh yang organik dan taman Allah, Tuhan akan menggenapkan tujuan-Nya dan merampungkan ekonomi-Nya.