← Daftar isi Keluaran (5) · bab 9/16

PETUNJUK, PENJELASAN, DAN MAKNA PERATURAN-PERATURAN HUKUM TAURAT (3)

Pembacaan Alkitab: Kel. 22:29-31; 23:10-12, 14-19

Dalam berita sebelumnya, kita telah memperhatikan butir yang berhubungan dengan bagaimana cara hidup di dalam Kristus. Kita melihat bahwa kita perlu mempersembahkan kelimpahan tuaian kita atas Kristus dan keluapan pengalaman kita atas salib; kita sebagai orang-orang yang telah ditebus melalui Kristus sebagai pengganti kita harus dipisahkan bagi Allah; kita harus dijenuhi dengan Kristus sebagai kekudusan kita agar menjadi orang-orang kudus bagi Allah; dan kita tidak boleh makan apa pun yang berasal dari kematian, melainkan hanya menerima Kristus sebagai suplai hayat kita. Selanjutnya, kita melihat bahwa kita perlu memperhatikan orang lain dan menyuplai mereka dengan makanan melalui menerima Kristus sebagai perhentian kita. Akhirnya, kita melihat bahwa mengadakan perayaan-perayaan bagi Allah tiga kali setahun melambangkan kenikmatan yang penuh atas Allah Tritunggal di dalam Kristus. Sekarang, kita akan membahas beberapa masalah tambahan yang berhubungan dengan penyelenggaraan ketiga perayaan tersebut.

XIX. DARAH KURBAN SEMBELIHAN (KRISTUS)

UNTUK ALLAH TIDAK BOLEH DIPERSEMBAHKAN BESERTA ROTI YANG BERAGI,

MENYATAKAN PENEBUSAN KRISTUS HARUS DIPISAHKAN

DARI KEHIDUPAN KITA YANG BERDOSA

Keluaran 23:18-19, memberi kita peraturan-peraturan tambahan mengenai penyelenggaraan perayaan. Pertama, ayat 18 mengatakan, “Janganlah kaupersembahkan darah kurban sembelihan yang kepada-Ku beserta sesuatu yang beragi.” Ini merupakan peringatan agar jangan mencampurkan penebusan Kristus dengan kehidupan kita yang berdosa. Ketika bangsa itu mengadakan perayaan, mereka tidak diizinkan mencampurkan darah kurban sembelihan dengan roti yang beragi. Ini menunjukkan bahwa kita tidak boleh mencampurkan penebusan Kristus dengan kehidupan kita yang berdosa. Darah kurban persembahan menandakan penebusan Kristus, dan roti yang beragi menandakan kehidupan kita yang berdosa. Dua perkara ini tidak boleh ditaruh bersama-sama. Untuk menikmati penebusan Kristus, kita harus dipisahkan dari kehidupan kita yang berdosa.

XX. LEMAK KURBAN HARI RAYA ALLAH (KRISTUS)

TIDAK BOLEH TERSISA SAMPAI PAGI

MENYATAKAN KELIMPAHAN KRISTUS HARUS MENJADI KENIKMATAN KITA

BERSAMA ALLAH PADA HARI INI, BUKAN MENUNGGU HARI ESOK

Keluaran 23:18b juga mengatakan, “Dan janganlah lemak kurban hari raya-Ku bermalam sampai pagi.” Menurut ayat ini, lemak kurban hari raya Allah (Kristus) tidak boleh tersisa sampai pagi. Ini menyatakan kelimpahan Kristus harus menjadi kenikmatan kita bersama Allah pada hari ini, bukan menunggu hari esok. Sebagai orang Kristen, kita harus menikmati Kristus pada hari ini, dan tidak menangguhkan kenikmatan ini sampai besok.

XXI. YANG PERTAMA DARI BUAH BUNGARAN

HARUS DIBAWA KE DALAM RUMAH ALLAH,

MENANDAKAN KRISTUS SEBAGAI BUAH SULUNG

DIBAWA KE TEMPAT KEDIAMAN ALLAH BAGI KEPUASAN ALLAH

Keluaran 23:19 mengatakan, “Yang terbaik (pertama) dari buah bungaran hasil tanahmu haruslah kaubawa ke dalam rumah TUHAN, Allahmu.” Menurut ayat ini, yang terbaik dari buah bungaran harus dibawa ke dalam rumah Allah; ini menandakan Kristus sebagai buah sulung (1Kor. 15:20, 23) dibawa ke tempat kediaman Allah bagi kepuasan Allah. Ayat ini tidak hanya berbicara tentang buah bungaran; lebih-lebih berbicara tentang “yang terbaik dari buah bungaran”. Sebagai contoh, mungkin ada buah bungaran dari buah persik dan buah badam. Namun, mungkin buah badam lebih dulu matang, demikianlah buah badam menjadi buah bungaran yang pertama. Buah bungaran yang pertama, yang harus dibawa ke dalam bait, yaitu rumah Allah, bagi kepuasan Allah. Ini menunjukkan bahwa dalam pengalaman dan kenikmatan kita atas Kristus, kita tidak seharusnya hanya memiliki pengalaman yang tinggi, tetapi juga harus memiliki pengalaman yang paling tinggi. Aspek pengalaman atas Kristus ini harus secara langsung dibawa kepada Allah, tidak seorang pun boleh menikmatinya. Ada kalanya sebelum kita membaginikmatkan pengalaman tertentu atas Kristus kepada orang lain, kita tidak terlebih dulu mempersembahkan pengalaman itu kepada Allah, kita membuat pengalaman kita menjadi biasa. Pada kesempatan lain, mungkin kita menganggap pengalaman tertentu atas Kristus merupakan pengalaman yang tertinggi, padahal pengalaman itu biasa. Setiap pengalaman atas Kristus yang benar-benar pengalaman tertinggi harus disimpan, kemudian dibawa ke bait Allah serta langsung dipersembahkan kepada Allah bagi kepuasan-Nya.

XXII. TIDAK BOLEH MEMASAK ANAK KAMBING DALAM SUSU INDUKNYA,

MENANDAKAN TIDAK BOLEH MEMAKAI FIRMAN ALLAH (SUPLAI HAYAT KRISTUS)

YANG MEMELIHARA KAUM BERIMAN BARU UNTUK MEMATIKAN MEREKA

Keluaran 23:19 juga mengatakan, “Janganlah kaumasak anak kambing dalam susu induknya.” Susu di sini menandakan susu firman Allah (suplai hayat Kristus) yang digunakan untuk memelihara kaum beriman baru (1Ptr. 2:2; Ibr. 5:12-13; 1Kor. 3:2). Tidak boleh memasak anak kambing dalam susu induknya menandakan susu firman Allah tidak boleh dipakai untuk mematikan kaum beriman baru di dalam Kristus. Pakailah susu firman, yaitu Kristus sebagai suplai hayat, untuk memelihara orang-orang Kristen yang baru lahir; jangan memakainya untuk mematikan mereka. Banyak guru agama Kristen yang “merebus” kaum beriman baru dengan ajaran-ajaran yang dangkal mengenai Kristus. Mereka menggunakan firman Allah untuk “memasak” orang lain, bukannya memberi makan. Firman Kristus yang menghasilkan susu harus selalu dipakai untuk memelihara bayi-bayi di dalam Kristus, bukan untuk mematikan mereka.

Ketika kita menikmati Allah Tritunggal di dalam Kristus seperti yang dilambangkan oleh hari raya, kita harus memegang keempat peraturan tambahan ini. Kita tidak boleh mencampur penebusan Kristus dengan kehidupan kita yang berdosa. Kita harus secara langsung mempersembahkan pengalaman yang tertinggi atas Kristus kepada Allah bagi kenikmatan-Nya, dan kita tidak boleh memakai firman Kristus untuk mematikan kaum beriman baru, melainkan memakainya untuk memelihara mereka.

Dalam Keluaran 21—23, kita melihat gambaran yang dilukiskan oleh peraturan-peraturan tentang bagaimana kita, orang-orang berdosa yang telah jatuh, telah ditebus oleh Kristus, dan bagaimana kita telah melarikan diri ke dalam-Nya untuk menikmati-Nya sebagai perhentian dan kemerdekaan kita. Gambaran ini juga menunjukkan kepada kita bagaimana cara hidup di dalam Kristus, dan bagaimana cara menyuplai orang lain dengan perhentian dan makanan. Lagi pula, perayaan tiga kali setahun melambangkan kenikmatan yang penuh atas Allah Tritunggal di dalam Kristus, beserta hari raya Pengumpulan Hasil, yaitu hari raya Pondok Daun, yang menunjukkan kenikmatan yang kekal atas Allah dalam langit baru dan bumi baru. Bukankah semua ini merupakan wahyu mengenai ekonomi Allah? Puji Dia atas gambaran yang dilukiskan dalam semua peraturan ini! Kita tidak hanya harus membaca peraturan-peraturan tersebut dalam tulisan hitam di atas kertas putih, tetapi juga harus mendoabacakan dan mempersekutukan ayat-ayat ini, sehingga kita dapat memahami gambaran yang menakjubkan yang diberikan oleh ayat-ayat tersebut.

Saya yakin, sangatlah berguna untuk memperhatikan seluruh gambaran yang diberikan oleh petunjuk, penjelasan, dan makna peraturan-peraturan dalam Keluaran 21—23. Peraturan-peraturan ini mewahyukan bahwa kita telah melarikan diri ke dalam Kristus, menerima Dia sebagai perlindungan kita, dan sekarang menikmati perlindungan dan kemerdekaan di dalam Dia. Sebagaimana mereka yang berada di dalam Kristus menerima Dia sebagai perhentian dan kemerdekaan mereka, begitu pula kita harus mempelajari cara hidup di dalam Kristus. Karena kita berada di dalam Kristus sebagai perlindungan kita, maka kita tidak lagi berada di dalam perhambaan, tidak lagi di dalam kejatuhan. Di dalam Kristus kita telah dibebaskan. Ini mengingatkan kita kepada perkataan Paulus dalam Roma 8:1: “Sekarang sama sekali tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus.” Di dalam Kristus, kita telah bebas dan menikmati perhentian. Di dalam Dia tidak ada lagi penghukuman.

Ada empat perkara penting yang berhubungan dengan hidup di dalam Kristus. Pertama, kita harus memiliki kelimpahan tuaian dan benda cair hasil perasan, yaitu keluapan anggur dan minyak, untuk dipersembahkan kepada Allah. Kelimpahan ini adalah kelimpahan hasil yang diperoleh dari mengelola Kristus sebagai tanah permai. Jadi, kelimpahan tuaian ini merupakan tuaian (hasil) pengalaman yang berlimpah atas Kristus. Sebagai orang yang hidup di dalam Kristus, kita perlu mengalami Dia. Mengalami Kristus adalah berjerih lelah atas Dia, menanam dan menumbuhkan Kristus, serta menuai Dia. Jika kita demikian berjerih lelah atas Kristus, kita akan memiliki kelimpahan tuaian untuk dipersembahkan kepada Allah.

Selain kelimpahan tuaian, kita juga harus memiliki benda cair hasil perasan, yaitu anggur dan minyak. Benda cair ini menandakan pengalaman atas Kristus melalui penderitaan atas salib. Salib merupakan perasan yang mengalirkan anggur dan minyak. Karena kita hidup di dalam Kristus, maka kita harus mempersembahkan kelimpahan tuaian dan benda cair hasil perasan tersebut kepada Allah. Dengan kata lain, kita harus memiliki pengalaman atas Kristus dan penderitaan atas salib. Pengalaman atas Kristus memberikan kelimpahan kepada kita, dan penderitaan atas salib memberikan benda cair kepada kita, yaitu keluapan anggur untuk menyenangkan Allah dan manusia, serta keluapan minyak untuk menyenangkan Allah. Hari demi hari, kita harus mempersembahkan kepada Allah apa yang kita alami atas Kristus dan salib. Kita tidak boleh menangguhkan persembahan kelimpahan tuaian dan benda cair tersebut kepada Allah.

Kedua, kita harus selalu memegang kedudukan sebagai orang yang telah ditebus melalui Kristus sebagai pengganti kita, dan sebagai orang yang telah dipisahkan bagi Allah. Kita harus menyatakan kepada orang lain, terutama kepada keluarga kita bahwa sebagai anak sulung di dalam Adam, nasib kita adalah “dibunuh” oleh Allah dalam keadilan-Nya. Tetapi kita telah ditebus melalui Kristus sebagai Anak Domba Paskah, dan sekarang kita bukan lagi milik kita sendiri. Kita telah dibeli dengan harga yang mahal, darah Yesus, dan sekarang kita adalah milik Pembeli kita. Kita harus selalu ingat akan hal ini, dan menyatakannya kepada orang lain. Khususnya, para orang tua harus bersaksi kepada anak-anak mereka bahwa mereka bukan lagi milik dunia, melainkan milik Allah. Seandainya seorang anak kecil bertanya kepada ayahnya, mengapa ia tidak “ngotot” mencari uang seperti orang lain di dunia ini, ia harus menjawab, “Anakku, aku telah dibeli dan ditebus. Sekarang aku harus dipisahkan bagi Allah. Aku sebenarnya patut dihukum mati, tetapi sebaliknya aku bahkan ditebus oleh Kristus. Karena sekarang aku bukan milikku sendiri, maka tidak ada pilihan lain bagiku selain dipisahkan bagi Allah.” Setiap orang yang hidup di dalam Kristus harus mempunyai kedudukan, peringatan, dan pernyataan yang sedemikian ini.

Ketiga, untuk hidup di dalam Kristus, kita harus menjadi bangsa yang kudus. Dengan berdiri di atas dasar telah tertebusnya kita oleh Kristus dan telah terpisahkannya kita bagi Allah, kita dijenuhi dengan Kristus hingga menjadi bangsa yang kudus. Dijenuhi dengan Kristus adalah menjadi manusia Kristus, yaitu orang yang benar-benar kudus.

Keempat, kita tidak boleh makan apa pun yang memiliki sifat yang berasal dari maut. Hal ini dilambangkan oleh peraturan yang berhubungan dengan tidak bolehnya makan daging binatang yang diterkam oleh binatang buas di padang. Jika kita tidak makan daging binatang yang diterkam, maka apa yang harus kita makan? Kita harus makan kurban yang dibunuh oleh Allah di atas mezbah, bukan daging yang diterkam oleh setan, Iblis, atau manusia-manusia jahat di padang. Kristus harus menjadi makanan kita satu-satunya. Kita harus makan Dia sesuai dengan cara Allah. Kita adalah orang yang telah dipisahkan bagi Allah dan dijenuhi dengan Kristus. Jadi, Kristus sajalah yang harus menjadi makanan dan suplai hayat kita.

Jika kita hidup di dalam Kristus sesuai dengan peraturan-peraturan ini, maka kita tidak ragu-ragu memelihara hari Sabat setiap minggu, dan juga tahun Sabat setiap tujuh tahun. Inilah yang dimaksud dengan menerima Kristus sebagai perhentian kita, untuk memberi faedah kepada orang lain berupa perhentian dan makanan. Hari Sabat tiap-tiap minggu menghasilkan perhentian dan penyegaran bagi faedah orang lain, dan tahun Sabat menghasilkan suplai makanan yang berlimpah bagi orang-orang miskin. Pada dasarnya, hari Sabat dan tahun Sabat menunjukkan bahwa kita harus menerima Kristus sebagai perhentian kita untuk suplai dan faedah orang lain.

Jika kita hidup di dalam Kristus dan menerima Dia sebagai perhentian bagi faedah orang lain, maka kita akan dibawa masuk ke dalam kenikmatan yang penuh atas Allah Tritunggal, seperti yang dilambangkan oleh hari-hari raya. Kita akan memiliki Kristus sebagai hari raya Roti Tidak Beragi kita, Roh pemberi hayat sebagai hari raya Tuaian kita, dan kepenuhan Bapa sebagai hari raya Pemungutan Hasil kita, yaitu hari raya Pondok Daun. Inilah kenikmatan yang penuh atas Allah Tritunggal di dalam Kristus.

Karena kita menikmati Allah Tritunggal di dalam Kristus, kita perlu memperhatikan keempat perkara tambahan tersebut. Meskipun peraturan-peraturan ini hanya merupakan tambahan, tetapi peraturan-peraturan ini sangat penting. Pertama-tama, kita tidak boleh mencampur darah penebusan dengan roti yang beragi. Ini berarti ketika kita menikmati Allah Tritunggal di dalam Kristus, kita tidak boleh menaruh penebusan Kristus bersama kehidupan kita yang berdosa. Jika kita hendak menerapkan penebusan Kristus, kita harus menghentikan kehidupan kita yang berdosa. Setiap orang yang tetap tinggal dalam kehidupan yang berdosa, tidak dapat menerapkan darah Kristus dan tidak dapat mengambil bagian dalam perayaan-perayaan tersebut. Kita tidak mungkin dapat menikmati Kristus jika terpisah dari darah penebusan Kristus. Jadi, setiap kali kita menerapkan darah, kita harus menghentikan kehidupan kita yang berdosa.

Kedua, hari demi hari kita harus menikmati lemak, yaitu bagian yang terindah dari Kristus, dan tidak boleh menangguhkan sampai besok. Kita tidak boleh menyimpan kelimpahan Kristus untuk dinikmati besok. Hal ini dilarang oleh Allah. Ia menghendaki kita menikmati bagian yang terindah dari Kristus pada hari ini. Dalam pengalaman kita, besok bukan hanya berarti esok hari, bahkan satu jam dan satu menit kemudian. Nikmatilah Kristus sekarang jangan menunggu sampai nanti. Di mana saja Anda berada, nikmatilah Kristus sekarang.

Ketiga, kita harus selalu memelihara pengalaman kita yang tertinggi atas Kristus untuk kepuasan Allah. Kita harus membawa pengalaman-pengalaman ini, yaitu yang pertama dari buah sulung, ke dalam rumah Allah. Bila kita menikmati Allah Tritunggal di dalam Kristus, kita harus memelihara pengalaman yang tertinggi untuk kepuasan Allah.

Terakhir, kita harus memperhatikan peraturan tentang tidak boleh memasak (atau merebus) anak kambing dalam susu induknya. Ini berarti kita tidak boleh mematikan kaum beriman yang muda di dalam Kristus dengan pengetahuan firman atau pengalaman kita atas firman. Mematikan orang lain secara demikian berarti memasak anak kambing dalam susu induknya. Sebagai pengganti dari “merebus” orang-orang baru dan orang-orang muda, kita harus memakai pengalaman kita atas Kristus dan pengetahuan kita atas firman untuk memberi mereka makan.

Susu berasal dari makanan bergizi yang dicerna oleh seorang ibu. Secara rohani, kita semua harus menjadi ibu dalam kenikmatan atas Kristus. Kekayaan Kristus yang kita cerna harus menghasilkan susu untuk memberi makan kaum muda. Tetapi, berbahaya sekali jika kita memakai susu ini bukan untuk memberi makan orang lain, melainkan untuk “merebus” mereka dengan jalan menghukum atau mencela mereka. Janganlah memakai susu yang dihasilkan dari kenikmatan Anda atas Allah Tritunggal untuk menghukum kaum muda atau orang baru.

Kaum beriman yang berpengalaman di dalam Kristus menghasilkan banyak sekali susu. Tetapi, banyak di antara kaum beriman ini yang memiliki kelemahan, yaitu memakai susu ini untuk “memasak” kaum muda. Meskipun kaum beriman yang berpengalaman ini merupakan “ibu”, tetapi mereka tidak memberi makan kaum muda dengan susu mereka. Karena saudara saudari yang berpengalaman memiliki kecenderungan untuk “merebus” orang lain, maka kaum muda sering menjauhi mereka. Kaum muda menganggap kaum beriman itu terlalu “kudus”. Karena tidak sanggup mengatasi “pemasakan” para senior, kaum muda boleh jadi lebih senang berkumpul bersama sebaya mereka. Kita semua harus memperhatikan peringatan yang melarang kita memakai susu kita, yaitu suplai Kristus, untuk merebus orang lain, melainkan memakainya untuk memberi orang lain makan.

Karena hukum Allah diberikan oleh Allah, maka hukum ini mengarahkan kita kepada Allah sendiri. Jadi, hukum Allah dengan seluruh peraturannya menunjukkan hal-hal rohani. Peraturan-peraturan tertentu menyinggung tentang kehidupan kita yang jatuh, perbuatan dosa, sifat dosa, Iblis, dan setan. Peraturan-peraturan lainnya menunjukkan Kristus, penebusan Kristus, dan kenikmatan kita atas Kristus. Dalam pasal-pasal ini kita melihat ekonomi Allah. Saya bahkan mengatakan bahwa Keluaran 21—23 merupakan sari pati dari keseluruhan Alkitab. Pada aspek negatif, kita melihat kejatuhan manusia, Iblis, setan, sifat dosa, dan perbuatan dosa. Pada aspek positif, kita melihat Allah, Kristus, salib, penebusan, kenikmatan atas Kristus, dan bahkan kenikmatan yang penuh atas Allah Tritunggal sampai selama-lamanya. Inilah ekonomi Allah.