← Daftar isi Keluaran (5) · bab 8/16

PETUNJUK, PENJELASAN, DAN MAKNA PERATURAN-PERATURAN HUKUM TAURAT (2)

Pembacaan Alkitab: Kel. 22:29-31; 23:12, 14-19

Jika hanya berdasarkan tulisan hitam di atas kertas putih, memang mudah bagi kita untuk memahami peraturan-peraturan dalam Keluaran 21—23. Akan tetapi, sukar bagi kita untuk memasuki kedalaman bagian firman ini dan menggali kekayaan petunjuk, penjelasan, dan makna peraturan-peraturan hukum Taurat. Untuk menggali kekayaan yang tersembunyi di bawah permukaan pasal-pasal ini, kita harus mengambil kata-kata tertentu yang penting, dan kemudian menemukan petunjuknya. Sebagai contoh, Keluaran 22:18 mengatakan, “seorang ahli sihir perempuan janganlah engkau biarkan hidup.” Kata-kata kunci dalam ayat ini ialah “ahli sihir perempuan”. Jika kita melihat arti dari kata-kata ini dan memperhatikan petunjuknya, kita akan melihat bahwa kata-kata ini berkaitan dengan sihir, dan sihir berhubungan dengan Iblis. Karena itu, istilah “ahli sihir perempuan” ini menunjukkan adanya sihir dan setan. Dengan memeriksa dan mempelajari petunjuk dari kata-kata tersebut, kita akan dapat memasuki kedalaman Alkitab dan menggali barang-barang berharga yang tersembunyi di bawah permukaannya.

Kata-kata penting lainnya dalam pasal-pasal ini ialah “pembunuhan” dan “keinginan”. Kita dapat menelusuri pembunuhan sampai ke Iblis, yaitu pemulai dan sumber pembunuhan, “pembunuh manusia sejak semula” (Yoh. 8:44). Dalam prinsip yang sama, kata “keinginan” menggiring kita ke masalah dosa yang di dalam, yaitu yang dijelaskan oleh Paulus dalam Roma 7. Dalam Roma 7, kita melihat bahwa dosa yang di dalam terutama menunjukkan nafsu keinginan. Selain itu, jika secara teliti kita memperhatikan kata-kata “menyebarkan kabar bohong” dalam Keluaran 23:1, kita akan melihat bahwa kata-kata ini berkaitan dengan dusta, dan berdusta dapat kita telusuri sampai ke Iblis, bapa segala dusta.

Pada aspek positif, kita perlu memperhatikan petunjuk, penjelasan, dan makna kata “mezbah” dan “kurban” dalam Keluaran 20:24-25. Mezbah mengacu kepada salib, dan kurban mengacu kepada Kristus. Dalam cara yang sama, roti tidak beragi dan hari-hari raya juga melambangkan kekayaan Kristus. Sebenarnya, menelusuri petunjuk, penjelasan, dan makna dari kata-kata penting dalam Keluaran 21—23 bukanlah merupakan masalah perlambangan Alkitab. Sebaliknya, semua ini untuk membuka jalan bagi kita dalam menggali firman, dan melihat kekayaan apa yang terdapat di bawah permukaannya.

Banyak guru Alkitab telah menunjukkan bahwa mezbah melambangkan salib dan kurban melambangkan Kristus. Tetapi tidak banyak guru Alkitab yang telah menemukan betapa Kristus dilambangkan oleh hal-hal lain dalam Keluaran 21—23. Jika mezbah melambangkan salib dan kurban melambangkan Kristus, logislah jika hari Sabat, tahun Sabat, hari raya Roti Tidak Beragi, hari raya Menuai, dan hari raya Pemungutan Hasil juga melambangkan Kristus. Kita juga perlu melihat apa yang dilambangkan oleh kepenuhan tuaian dan benda cair hasil perasan. Kita perlu memperhatikan petunjuk, penjelasan, dan makna dari peraturan-peraturan hukum Taurat, terutama karena semua itu mengacu kepada Kristus dan pengalaman kita atas Kristus.

Pada prinsipnya, setiap bentuk hukum memiliki semangat tertentu dan memberikan gambaran mengenai sesuatu, biasanya mengenai orang yang membuat hukum itu. Sebagai contoh, Konstitusi Amerika Serikat memiliki semangat demokrasi dan kemerdekaan. Konstitusi ini juga menggambarkan orang-orang di Amerika Serikat dan menyatakan bahwa mereka begitu memperhatikan kemerdekaan dan persamaan. Karena itu, hukum Amerika Serikat merupakan gambaran mengenai warga negara Amerika Serikat. Hukum Allah juga memiliki semangatnya, dan memberikan suatu gambaran. Kita perlu mengetahui roh hukum Allah dan gambaran yang dipaparkan oleh hukum Allah beserta peraturan-peraturannya. Kita telah menunjukkan bahwa hukum Allah memiliki Allah sendiri sebagai hakikinya. Suatu hukum selalu merupakan pernyataan konkret kehendak sesungguhnya dari pembuatnya. Karena hukum Allah dibuat oleh Allah, maka hukum ini memiliki hakiki ilahi. Tidak perlu diragukan lagi, Allah Roh merupakan jiwa dari hukum yang dititahkan oleh Allah.

Banyak mahasiswa dan guru Alkitab yang sangat menaruh perhatian pada Sepuluh Perintah. Beberapa orang Kristen bahkan dapat mengucapkan perintah-perintah ini semudah mengucapkan doa Tuhan. Dengan tegas saya nyatakan bahwa saya tidak bermaksud meremehkan Sepuluh Perintah dan memisahkan diri dari perintah-perintah tersebut. Namun demikian, sudahlah merupakan suatu fakta bahwa dalam perintah-perintah tersebut, kita sulit melihat Kristus atau salib. Selain itu, dalam Sepuluh Perintah, kita tidak melihat penebusan Kristus, perkara-perkara yang Ia lakukan untuk kepentingan kita, dan apa saja yang berhubungan dengan kenikmatan atas Kristus. Perintah pertama melarang kita memiliki allah lain selain TUHAN Allah (Kel. 20:3). Tuhan adalah satu-satunya Suami kita, dan kita tidak boleh memiliki suami lain selain Dia. Perintah kedua melarang kita membuat patung yang menyerupai apa pun dan menyembahnya (Kel. 20:4-5). Perintah ketiga menyatakan, “Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan” (Kel. 20:7). Perintah keempat dan kelima masing-masing berkenaan dengan memperingati hari Sabat serta menghormati ayah dan ibu (Kel. 20:8-12). Lima perintah selanjutnya adalah melarang kita membunuh, berzina, mencuri, memberikan kesaksian dusta, dan mengingini milik orang lain (Kel. 20:13-17). Apakah Anda nampak sesuatu tentang Kristus dalam ayat-ayat ini? Apakah Anda melihat sesuatu tentang salib dan penebusan Kristus? Apakah Anda menemukan sesuatu tentang pengalaman dan kenikmatan atas Kristus? Tidak. Dalam Sepuluh Perintah, kita tidak melihat Kristus. Tetapi peraturan-peraturan dalam Keluaran 21—23 menggambarkan Kristus. Di sini, Ia dilambangkan baik secara langsung maupun tidak langsung.

Peraturan dalam Kitab Keluaran sebenarnya tidak dimulai dari Keluaran 21, melainkan dari Keluaran 20:22-26. Ayat-ayat ini boleh dianggap sebagai kata pendahuluan berkenaan dengan peraturan-peraturan tersebut. Ayat-ayat ini merupakan pintu masuk ke peraturan-peraturan dalam pasal-pasal berikutnya. Pintu ini memberikan jalan bagi manusia yang telah jatuh untuk berkontak dengan Allah dan beribadah kepada Dia. Satu-satunya jalan bagi manusia yang telah jatuh untuk berkontak dengan Allah dalam beribadah kepada Dia ialah melalui mezbah dan kurban. Ini menunjukkan bahwa hanya melalui salib dan Kristuslah manusia dapat beribadah kepada Allah. Sangatlah berarti bahwa Allah memberikan peraturan pendahuluan yang membuka jalan bagi peraturan-peraturan lainnya. Dalam peraturan pendahuluan ini, kita melihat gambaran yang jelas mengenai Kristus dan penebusan-Nya yang sesuai dengan ekonomi Allah. Dalam peraturan-peraturan tersebut kita dapat melihat Kristus dan penebusan-Nya yang dilakukan sepenuhnya sesuai dengan ekonomi Allah. Sebagaimana kita lihat, dalam Keluaran 21—23, kita memiliki Kristus, penebusan, dan ekonomi Allah. Jika kita, orang-orang yang berdosa mau masuk ke dalam ekonomi Allah, kita memerlukan sebuah pintu, sebuah jalan untuk berkontak dengan Allah. Kita perlu berulang-ulang menekankan bahwa satu-satunya jalan ialah mezbah dan kurban, yaitu salib dan Kristus. Jika kita jelas mengenai hal ini, kita pasti akan bersujud di hadapan Tuhan dan menyembah-Nya.

Baik pada aspek positif maupun pada aspek negatif, peraturan-peraturan hukum Taurat kaya akan petunjuk, penjelasan, dan makna. Dalam berita sebelumnya telah kita tunjukkan bahwa peraturan-peraturan tersebut memberikan gambaran yang gelap dan suram mengenai manusia yang telah jatuh. Manusia yang telah jatuh dan hidup dalam kejatuhan, penuh dengan dosa: Penyembahan berhala, persundalan, pembunuhan, pencurian, dusta, keinginan, dan sihir. Selain itu, manusia yang telah jatuh tidak hanya mempunyai tindakan dosa yang di luar, tetapi juga dosa yang di dalam, yaitu sifat Iblis yang penuh nafsu. Sebenarnya, dosa ketamakan yang tinggal di dalam kita adalah sifat Iblis. Selain itu, baik berdusta maupun membunuh, semua mengacu kepada Iblis, sumber pembunuhan dan bapa segala dusta, yang senantiasa bekerja di dalam manusia yang telah jatuh. Baik atas dosa yang di luar maupun dosa yang di dalam, manusia berhubungan dengan setan dan Iblis. Sihir melibatkan hubungan dengan Iblis. Betapa mengerikan situasi manusia yang telah jatuh itu! Ia tidak hanya berdosa terhadap Allah, tetapi juga berhubungan dengan Iblis, berhubungan dengan setan, telah menjadi hamba dosa.

Pada aspek positif, peraturan-peraturan tersebut memberikan gambaran yang ajaib mengenai Kristus. Kristus sendiri telah menjadi hamba, masuk ke dalam kondisi manusia yang telah jatuh dalam perhambaan. Selanjutnya, Dia diserahkan oleh Allah ke dalam tangan manusia yang telah jatuh untuk dibunuh. Dengan cara yang sedemikian inilah Dia menjadi kurban. Kristus tidak hanya merupakan kurban yang dipersembahkan kepada Allah, juga adalah kota perlindungan, tempat kita berlindung. Peraturan mengenai ternak milik musuh atau orang yang membenci kita, menunjukkan bahwa Kristus telah membawakan kembali semua perkara hayat yang telah hilang dari kita, yang adalah orang-orang dosa dan musuh-Nya, bahkan menolong kita, orang-orang yang membenci Dia, untuk membebaskan kita dari beban kita yang berat. Orang-orang berdosa yang telah jatuh dan melarikan diri ke dalam Kristus, menerima Dia sebagai Sabat mereka, yaitu perhentian mereka. Di dalam Kristus kita menikmati perhentian dan kemerdekaan. Alangkah hebatnya Injil ini!

Peraturan-peraturan dalam bagian Kitab Keluaran ini pertama-tama membukakan pintu bagi kita untuk berkontak dengan Allah dan masuk ke dalam ekonomi-Nya. Selanjutnya, peraturan-peraturan ini memberikan gambaran yang hidup mengenai manusia yang telah jatuh dan yang hidup dalam kejatuhan, penuh dengan dosa, berhubungan dengan setan dan Iblis, serta sepenuhnya menjadi hamba. Tetapi ada Seseorang yang datang kepada manusia yang sedang berada dalam keadaannya yang jatuh dan diperhamba itu, dan menjadikan diri-Nya sendiri sebagai seorang hamba. Setelah Dia diserahkan oleh Allah untuk menjadi kurban bagi manusia yang telah jatuh, Dia memulihkan perkara-perkara hayat, membebaskan kita dari beban kita, dan menjadi perlindungan kita. Sekarang kita, orang-orang berdosa yang telah jatuh, boleh melarikan diri ke dalam Dia dan menerima Dia sebagai perhentian serta kemerdekaan kita. Inilah ringkasan dari apa yang telah kita bahas berkenaan dengan petunjuk, penjelasan, dan makna peraturan-peraturan hukum Taurat. Dalam berita ini dan berita selanjutnya, kita akan memperhatikan apa yang ditunjukkan, dijelaskan, dan diartikan oleh peraturan-peraturan mengenai bagaimana hidup di dalam Kristus dan menikmati Dia.

Dalam Keluaran 22:29-31, terdapat empat peraturan yang berhubungan dengan bagaimana kita harus hidup di dalam Kristus. Peraturan yang pertama mengatakan, “Janganlah kamu menunda untuk mempersembahkan kelimpahan tuaianmu dan aliran perasan anggurmu” (ayat 29 Tl.). (LAI: “Janganlah lalai mempersembahkan hasil gandummu dan hasil anggurmu”). Ini berarti mempersembahkan kelimpahan tuaian dan keluapan anggur serta minyak perasan. “Kelimpahan” di sini menunjukkan kelimpahan tuaian dari hasil tanah permai, dan “aliran” di sini menunjukkan keluapan anggur dan minyak dari buah anggur dan zaitun yang telah diperas. Inilah jalan kehidupan di dalam Kristus. Setelah melarikan diri ke dalam Kristus dan datang untuk menikmati Dia sebagai perhentian dan kemerdekaan kita, kita perlu hidup di dalam Dia dengan jalan memiliki tuaian yang limpah dan aliran minyak serta anggur. Selain itu, kita perlu mempersembahkan anak sulung kepada-Nya, baik anak kita maupun anak ternak kita. Kita juga perlu menjadi orang-orang yang kudus dan orang-orang yang tidak makan daging ternak yang diterkam oleh binatang buas. Kita memerlukan penafsiran yang tepat mengenai peraturan-peraturan ini untuk mengetahui petunjuk, penjelasan, dan makna peraturan-peraturan tersebut. Kita telah melihat bahwa mezbah melambangkan salib, dan kurban melambangkan Kristus. Sekarang kita perlu bertanya, apa yang dilambangkan oleh kelimpahan tuaian dan keluapan anggur serta minyak perasan. Kita tidak boleh bersikap seolah-olah kita tidak perlu memahami perkara-perkara ini. Apa yang dimaksud dengan mempersembahkan kepada Tuhan anak laki-laki sulung dan anak sulung ternak? Apa yang dimaksud dengan menjadi orang yang kudus, dan apa arti dari makan daging ternak yang diterkam oleh binatang buas? Semua perkara ini berhubungan dengan masalah kehidupan di dalam Kristus, yang ke dalam-Nya kita telah melarikan diri sebagai perhentian dan kemerdekaan.

XII. TIDAK MENUNDA MEMPERSEMBAHKAN

HASIL GANDUM DAN HASIL ANGGUR,

YAITU MEMPERSEMBAHKAN KELIMPAHAN TUAIAN

DAN KELUAPAN ANGGUR SERTA MINYAK PERASAN,

MENANDAKAN KITA HARUS MEMPERSEMBAHKAN

KEPENUHAN TUAIAN KITA ATAS KRISTUS

DAN ALIRAN PENGALAMAN KITA ATAS SALIB

KEPADA ALLAH TANPA MENUNDA

Kita yang percaya kepada Kristus dan menikmati-Nya sebagai perhentian dan kemerdekaan diibaratkan sebagai tanaman dalam Alkitab. Dalam 1Korintus 3:9, Paulus mengatakan, “Kamu adalah ladang Allah.” Bagi Allah, kita adalah “tanaman”. Tuaian tanah permai harus dipersembahkan kepada Allah, tidak boleh ditunda. Jika kita menempuh hidup di dalam Kristus, menikmati-Nya sebagai perhentian dan kemerdekaan kita, kita akan bertumbuh di dalam hayat. Dengan kata lain, ketika kita menempuh hidup di dalam Kristus, kita mengerjakan, mempertumbuhkan Kristus dengan jalan menggarap Dia sebagai tanah permai untuk menghasilkan tuaian, bahkan tuaian yang berkelimpahan. Kelimpahan ini harus dipersembahkan kepada Allah tanpa menunda.

Sebutan “kelimpahan” di sini menyiratkan bahwa kita menempuh hidup di tanah permai. Terlepas dari Kristus sebagai tanah permai, bagaimana kita dapat memiliki buah anggur dan zaitun yang diperas untuk menghasilkan aliran keluapan anggur dan minyak? Di sini disinggung tentang kelimpahan dan aliran anggur menyiratkan bahwa umat pilihan Allah berada di tanah permai. Menurut perlambangan, tanah ini adalah Kristus yang almuhit. Kita perlu melarikan diri ke dalam Kristus, menikmati Dia sebagai perhentian dan kemerdekaan kita, dan menempuh hidup di dalam Dia, yaitu Sang almuhit, sebagai tanah permai. Karena kita menempuh hidup di tanah yang permai, kita mengerjakan, menggarap, dan mempertumbuhkan suatu tuaian. Tanah permai maupun tuaian yang dihasilkan di tanah itu adalah Kristus. Karena itu, kelimpahan tuaian menunjukkan pengumpulan hasil pengalaman yang limpah atas Kristus.

Dalam pengalaman kita atas Kristus, kita tidak seharusnya hanya memiliki kelimpahan, tetapi juga harus memiliki minyak dan anggur perasan, yaitu aliran keluapan minyak dan anggur. Aliran perasan anggur dalam Keluaran 22:29, menandakan keluapan yang berasal dari pengalaman kita atas salib. Ada orang-orang beriman yang ketika membagi nikmat dalam sidang-sidang gereja, kesaksian mereka merupakan tuaian yang limpah, dan sebagian lainnya merupakan perasan anggur dan minyak, yaitu pengaliran dari pengalaman atas Kristus melalui salib. Perasan yang digunakan untuk membuat anggur dan minyak tersebut menandakan salib. Melalui perasan, yaitu melalui salib, anggur mengalir keluar untuk menyenangkan Allah dan manusia, bahkan anggur bisa digunakan sebagai kurban curahan; sedangkan minyak mengalir keluar untuk menyenangkan Allah. Kelimpahan dan perasan anggur menandakan pengalaman yang limpah terhadap Kristus, dan keluapan dari penderitaan atas salib. Kelimpahan dan perasan anggur tersebut harus dipersembahkan kepada Allah, tanpa ditunda. Apakah hari ini Anda telah mengalami Kristus? Jika sudah, Anda harus bersidang dan mempersembahkan kepenuhan tuaian Anda kepada Allah. Inilah yang dimaksud dengan mempersembahkan tuaian beserta kelimpahannya.

Hal mengalami Kristus dapat dikelompokkan ke dalam dua kategori: Pertama adalah mengalami kelimpahan tuaian; dan kedua ialah mengalami apa yang mengalir, anggur dan minyak perasan, yaitu pengalaman atas Kristus melalui salib. Jika tidak ada minyak perasan, anggur perasan, boleh jadi kita memiliki buah anggur atau zaitun, tetapi kita tidak memiliki aliran keluapan anggur dan minyak. Di satu pihak, Kristus dilambangkan oleh pohon zaitun. Karena itu, Kristus tidak hanya merupakan gandum dan jelai, juga merupakan buah anggur untuk menghasilkan air anggur dan buah zaitun untuk menghasilkan minyak. Ketika anggur mengalir keluar, hal itu akan menyenangkan Allah dan manusia, dan ketika minyak zaitun mengalir keluar, akan menyenangkan Allah. Baik anggur maupun minyak, keduanya perlu melewati tekanan perasan. Ini menunjukkan bahwa Kristus sebagai anggur dan zaitun memerlukan salib. Dalam suatu makna yang sangat riil dan positif, hidup gereja merupakan anggur dan minyak perasan. Kita perlu diperas, sehingga anggur dan minyak dapat meluap sebagai suatu aliran. Jika kita tidak mengalami pemerasan dalam hidup gereja, maka buah anggur dan zaitun itu tetap utuh. Kehidupan orang Kristen adalah kehidupan yang secara terus-menerus menerima pemerasan salib, agar kekayaan Kristus dapat mengalir keluar.

Jika kita mau menempuh hidup di dalam Kristus, kita harus memiliki kelimpahan tuaian dan aliran perasan, yaitu anggur dan minyak yang mengalir keluar dari anggur dan minyak perasan. Dalam perkara ini, jangan tertipu oleh konsepsi dangkal yang umum terdapat di antara orang-orang Kristen hari ini. Kita perlu mengikuti cara mempertumbuhkan Kristus dan menuai Kristus, agar memiliki tuaian Kristus dengan limpah. Kita juga perlu mengalami salib, sehingga kita dapat memiliki aliran keluapan anggur dan minyak. Kemudian tanpa menunda, kita akan membawa kelimpahan ini beserta aliran anggur dan minyak ke dalam sidang-sidang gereja, dan mempersembahkannya kepada Allah. Alasan mengapa kita tidak boleh menunda ialah karena hasil yang limpah dan aliran minyak dan anggur bukanlah bagi kita, tetapi bagi kenikmatan dan kepuasan Allah.

XIII. ANAK LAKI-LAKI SULUNG DAN TERNAK SULUNG

DIPERSEMBAHKAN KEPADA ALLAH MENANDAKAN ORANG

YANG DITEBUS OLEH KRISTUS SEBAGAI

PENGGANTI MEREKA HARUS DIPISAHKAN, DIKUDUSKAN, BAGI ALLAH

Keluaran 22:29b dan 30 mengatakan, “Yang sulung dari anak-anakmu lelaki haruslah kaupersembahkan kepada-Ku. Demikian juga harus kauperbuat dengan lembu sapimu dan dengan kambing dombamu: tujuh hari lamanya anak-anak binatang itu harus tinggal pada induknya, tetapi pada hari yang kedelapan haruslah kau persembahkan binatang-binatang itu kepada-Ku.” Di sini kita melihat bahwa baik anak sulung manusia maupun ternak harus dipersembahkan kepada Allah. Menurut Keluaran 13, alasan dari semua ini ialah karena anak-anak sulung di antara orang-orang Israel telah ditebus pada hari Paskah. Keluaran 13:2 mengatakan, “Kuduskanlah bagi-Ku semua anak sulung, semua yang lahir terdahulu dari kandungan pada orang Israel, baik pada manusia maupun pada hewan; Akulah yang empunya mereka.” Menurut ayat 15, orang Israel harus menjelaskan kepada anaknya laki-laki demikian, “Sebab ketika Firaun dengan tegar menolak untuk membiarkan kita pergi, maka TUHAN membunuh semua anak sulung di tanah Mesir, dari anak sulung manusia sampai anak sulung hewan. Itulah sebabnya maka aku biasa mempersembahkan kepada TUHAN segala binatang jantan yang lahir terdahulu dari kandungan, sedang semua anak sulung di antara anak-anakku lelaki kutebus.” Mempersembahkan anak sulung kepada Allah berhubungan dengan penebusan anak sulung pada waktu Paskah.

Semua keturunan Adam, manusia pertama, boleh dipandang sebagai anak sulung. Di dalam Adam, kita semua adalah anak sulung. Meskipun anak sulung ini patut dibunuh oleh Allah, tetapi anak-anak sulung orang Israel telah ditebus oleh anak domba Paskah. Karena mereka telah dibeli dengan suatu harga yang mahal, maka mereka bukan lagi milik mereka sendiri. Jadi, mereka harus memisahkan diri mereka dan menjadi kudus di hadapan Allah.

Dengan mempersembahkan anak sulung kepada Allah, orang-orang Israel ingat akan apa yang telah Allah lakukan pada waktu Paskah. Dalam pengalaman kita dengan Tuhan, kita juga harus memiliki ingatan semacam ini. Kita harus ingat bahwa sebagai anak sulung di dalam Adam, kita seharusnya dihukum oleh Allah. Tetapi, kita telah ditebus oleh Kristus, yang menjadi pengganti kita. Sekarang kita bukanlah milik kita sendiri, kita adalah milik Allah. Dalam 1Korintus 6:19, Paulus mengatakan, “Atau tidak tahukah kamu . . . bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?” Jika kita mau hidup di dalam Kristus, kita harus selalu ingat bahwa karena Kristus telah menebus kita, maka kita bukan milik kita sendiri, melainkan milik Allah. Ketika kita bersidang, kita harus berkata kepada diri kita, “Dulu aku di dalam Adam, orang berdosa yang telah jatuh. Berdasarkan penghakiman Allah yang adil, seharusnya aku dihukum mati. Tetapi aku telah ditebus melalui Kristus sebagai anak domba Paskah. Sekarang aku bukan milikku sendiri. Aku adalah milik-Nya, dan aku harus dipisahkan bagi-Nya.” Setiap hari, bahkan setiap saat, kita harus memiliki ingatan yang sedemikian ini.

XIV. DI HADAPAN ALLAH SEBAGAI ORANG-ORANG KUDUS,

MENUNJUKKAN KITA, UMAT PILIHAN ALLAH,

HARUS DI HADAPAN ALLAH DIJENUHI

DENGAN KRISTUS SEBAGAI KEKUDUSAN KITA

Keluaran 22:31 mengatakan, “Haruslah kamu menjadi orang-orang kudus bagi-Ku.” Dipandang dari keseluruhan Alkitab, terutama dipandang dari Perjanjian Baru, menjadi kudus berarti dijenuhi oleh Kristus dan menjadikan Kristus sendiri sebagai kekudusan kita di hadapan Allah. Satu Korintus 1:30 mengatakan bahwa Kristus telah menguduskan kita. Arti Kristus menjadi kekudusan kita ialah kita dijenuhi dengan Kristus sebagai kekudusan. Untuk hidup di dalam Kristus sebagai umat pilihan Allah, kita harus memiliki suatu kehidupan yang kudus, yaitu hidup yang dijenuhi dengan Kristus sebagai kekudusan.

XV. TIDAK MAKAN DAGING TERNAK YANG DITERKAM OLEH BINATANG BUAS,

TETAPI MELEMPARKANNYA KEPADA ANJING,

MENANDAKAN KITA HANYA HARUS MENERIMA KRISTUS

SEBAGAI SUPLAI HAYAT KITA,

TIDAK MEMAKAN BARANG YANG TERCEMAR OLEH KEMATIAN,

BARANG ITU MERUPAKAN MAKANAN MANUSIA YANG TIDAK KUDUS

Keluaran 22:31 juga mengatakan, “Daging ternak yang diterkam di padang oleh binatang buas, janganlah kamu makan, tetapi haruslah kamu lemparkan kepada anjing.” Tidak makan daging ternak yang diterkam oleh binatang buas, melainkan melemparkannya kepada anjing, menandakan kita hanya harus menerima Kristus sebagai suplai hayat kita, dan tidak seharusnya menerima barang-barang milik kematian. Barang-barang yang berhubungan dengan kematian adalah makanan yang hanya untuk manusia yang tidak kudus. Anjing dalam Keluaran 22:31, menandakan orang yang tidak kudus (Flp. 3:2). Makna dari peraturan ini ialah kita hanya harus makan Kristus. Khususnya, kita harus makan Kristus sebagai kurban dan persembahan. Kita tidak boleh makan daging binatang yang diterkam oleh binatang buas. Daging itu harus dilemparkan kepada anjing. Jika kita mau hidup di dalam Kristus, kita harus makan Kristus dan tidak makan apa pun yang membawa sifat maut. Barang-barang itu harus dianggap sebagai sampah dan dibuang.

XVI. MEMELIHARA HARI SABAT AGAR TERNAK DAPAT BERISTIRAHAT,

ANAK BUDAK PEREMPUAN DAN ORANG ASING DAPAT MELEPASKAN LELAH,

MELAMBANGKAN MENERIMA KRISTUS SEBAGAI PERHENTIAN KITA,

AGAR ORANG LAIN JUGA DAPAT MEMPEROLEH FAEDAH

Keluaran 23:12 mengatakan, “Enam harilah lamanya engkau melakukan pekerjaanmu, tetapi pada hari ketujuh haruslah engkau berhenti, supaya lembu dan keledaimu tidak bekerja dan supaya anak budakmu perempuan dan orang asing melepaskan lelah.” Kristus adalah hari Sabat yang sejati (Kol. 2:16-17). Memelihara Sabat agar ternak dapat beristirahat, anak budak perempuan dan orang asing dapat melepaskan lelah, melambangkan menerima Kristus sebagai perhentian kita, agar orang lain juga dapat memperoleh faedah.

XVII. MEMELIHARA TAHUN SABAT AGAR ORANG MISKIN

DAN TERNAK MENDAPATKAN MAKANAN,

MELAMBANGKAN MENERIMA KRISTUS

SEBAGAI PERHENTIAN KITA YANG PENUH,

AGAR ORANG LAIN MENDAPATKAN MAKANAN

Prinsipnya sama dengan peraturan yang berhubungan dengan tahun Sabat untuk tanah: “Enam tahunlah lamanya engkau menabur di tanahmu dan mengumpulkan hasilnya, tetapi pada tahun ketujuh haruslah engkau membiarkannya dan meninggalkannya begitu saja, supaya orang miskin di antara bangsamu dapat makan” (Kel. 23:10-11). Sebenarnya, hasil dari memelihara hari Sabat tidaklah begitu berarti seperti memelihara tahun Sabat. Memelihara hari Sabat memungkinkan orang lain beristirahat dan melepaskan lelah, sedangkan memelihara tahun Sabat menyuplai orang lain dengan makanan. Ada orang Kristen yang dapat menyebabkan orang beristirahat dan melepaskan lelah, tetapi tidak banyak di antara mereka yang dapat menyuplai orang lain dengan makanan rohani. Dengan memelihara hari Sabat kita menerima Kristus sebagai perhentian kita pada tingkat tertentu, tetapi dengan memperhatikan tahun Sabat kita menerima Kristus sebagai perhentian kita pada tingkat yang lebih limpah. Namun, hanya pada masa yang akan datanglah Kristus baru bisa secara sempurna menjadi perhentian kita.

Di satu pihak, kita perlu dari peraturan-peraturan dalam Kitab Keluaran belajar bagaimana hidup di dalam Kristus; di pihak lain, kita perlu belajar bagaimana di dalam Kristus membuat orang lain mendapatkan faedah. Kita tidak seharusnya hanya sendirian menuntut hidup di dalam Kristus, tetapi kita juga harus berusaha membawa kenikmatan atas Kristus kepada orang lain. Kita seharusnya terlebih dulu membuat orang lain mendapatkan perhentian dan penyegaran, kemudian dengan makanan rohani, yaitu hasil ladang, hasil kebun anggur, dan hasil kebun buah-buahan menyuplai orang lain. Menyuplai orang lain dengan hasil ini berarti menyuplai mereka dengan makanan yang berlimpah.

XVIII. MENGADAKAN PERAYAAN BAGI ALLAH TIGA KALI SETAHUN

MELAMBANGKAN KENIKMATAN YANG PENUH

ATAS ALLAH TRITUNGGAL DI DALAM KRISTUS

Keluaran 23:14 mengatakan, “Tiga kali setahun haruslah engkau mengadakan perayaan bagi-Ku.” Hari-hari raya tahunan ini ialah hari raya Roti Tidak Beragi, hari raya Menuai, dan hari raya Pengumpulan Hasil (ayat 15-16). Mengadakan perayaan-perayaan bagi Allah tiga kali setahun melambangkan kenikmatan yang penuh atas Allah Tritunggal di dalam Kristus.

A. HARI RAYA ROTI TIDAK BERAGI

Dalam Alkitab terdapat dasar yang kuat yang mengatakan bahwa tiga perayaan ini melambangkan kenikmatan atas Allah Tritunggal. Merayakan hari raya Roti Tidak Beragi melambangkan menikmati Kristus sebagai suplai hayat yang tanpa dosa (1Kor. 5:7-8). Hari raya ini adalah lanjutan dari hari raya Paskah. Sebenarnya, hari raya Paskah dan hari raya Roti Tidak Beragi adalah satu. Dalam 1Korintus 5:7 dan 8 dengan jelas kita melihat bahwa hari raya Roti Tidak Beragi mengacu kepada Kristus.

B. HARI RAYA MENUAI

Hari raya kedua adalah hari raya Menuai. Merayakan hari raya Menuai, yaitu hari raya kedua, melambangkan kenikmatan atas buah sulung dari Roh Kristus yang telah bangkit (Kis. 2:1-4, 17; 1Kor. 15:45b; Rm. 8:23). Hari raya Menuai juga dikenal sebagai Pentakosta. Pada hari Pentakosta, Roh itu dicurahkan ke atas gereja. Namun, dalam Perjanjian Lama, hari raya Menuai tidak berhubungan dengan minyak, yaitu lambang Roh itu, melainkan berhubungan dengan yang sulung, yaitu yang melambangkan Kristus. Kristus yang telah bangkit adalah yang sulung (1Kor. 15:20). Sebenarnya, menurut 1Korintus 15:45, Kristus yang telah bangkit adalah Roh pemberi hayat. Dalam lambang Perjanjian Lama kita melihat Kristus sebagai yang sulung, tetapi dalam penggenapan lambang ini pada hari Pentakosta dalam Perjanjian Baru, kita memiliki Roh itu. Bagaimana kita dapat menyesuaikan lambang tersebut dengan penggenapannya? Cara yang terdapat dalam perkataan Paulus ialah, “Adam yang akhir, menjadi Roh pemberi-hayat” (Tl.). Kristus, Adam yang akhir, yang bangkit sebagai Anak sulung, menjadi Roh pemberi-hayat. Jadi, dalam penggenapannya, hari raya kedua tersebut merupakan hari raya yang berhubungan dengan Roh itu.

Hari ini semua orang beriman, bahkan mereka yang tidak memiliki hati terhadap Tuhan pun tahu bahwa Pentakosta berhubungan dengan Roh itu. Pada hari Pentakosta, yaitu penggenapan Perjanjian Baru atas hari raya Menuai, Roh Kudus dicurahkan. Tetapi bersama hari raya Menuai dalam Perjanjian Lama, yaitu berhubungan dengan yang sulung dari tuaian, tidak terlihat sesuatu apa pun yang melambangkan Roh itu. Pentakosta artinya ialah lima puluh hari. Setelah yang sulung dipersembahkan kepada Allah pada hari kedelapan, bangsa itu menambahkan tujuh minggu. Kemudian pada hari kelima puluh, sampailah hari raya Menuai. Pentakosta berhubungan dengan persembahan buah sulung kepada Allah. Tetapi menurut penggenapannya, Pentakosta berhubungan dengan kedatangan Roh itu. Kelihatannya, buah sulung itu tidak mempunyai hubungan dengan Roh itu. Tetapi jika kita mencocokkan lambang dalam Perjanjian Lama dengan penggenapannya dalam Perjanjian Baru, kita akan melihat petunjuk yang kuat bahwa Kristus yang telah dibangkitkan, yang sulung, adalah Roh itu. Buah sulung yang dalam perlambangan, telah menjadi Roh itu dalam penggenapan.

Roma 8:23 membicarakan tentang buah sulung dari Roh itu. Buah sulung di sini pasti mengacu kepada Roh itu sendiri sebagai buah sulung bagi kenikmatan dan kepuasan kita. Namun, dari 1Korintus 15:23, kita tahu bahwa Kristus adalah buah sulung; kemudian ayat 45 mengatakan bahwa Kristus ini telah menjadi Roh pemberi-hayat di dalam kebangkitan. Karena itu, buah sulung dari Roh itu sebenarnya adalah Kristus. Lambang dalam Perjanjian Lama mengenai hari raya Menuai menunjukkan bahwa Kristus yang telah bangkit adalah Roh itu dalam penggenapan hari raya ini. Roh itu yang turun pada hari Pentakosta adalah Kristus sebagai buah sulung yang dipersembahkan kepada Allah. Tanpa buah sulung dalam Perjanjian Lama, tidak akan ada hari raya Menuai. Tanpa Roh itu dalam Perjanjian Baru, tidak akan ada Pentakosta. Roh yang turun pada hari Pentakosta itu adalah penggenapan buah sulung yang dipersembahkan kepada Allah dalam Perjanjian Lama. Buah sulung itu melambangkan Kristus dalam kebangkitan, dan Kristus yang telah bangkit ini adalah Roh itu.

C. HARI RAYA PENGUMPULAN HASIL

Hari raya ketiga adalah hari raya Pengumpulan Hasil. Merayakan hari raya Pengumpulan Hasil melambangkan menikmati kepenuhan Bapa di dalam Kristus (Kol. 2:9; Ef. 3:19). Hasil akhir, menikmati Allah Tritunggal di dalam Kristus, atau kepenuhan yang ultima (paling akhir) ialah menikmati kelimpahan Bapa, yaitu kepenuhan ke-Allahan, sampai kekekalan. Hari raya Pengumpulan Hasil ini juga disebut hari raya Pondok Daun. Hari raya ini menandakan kenikmatan atas kelimpahan Allah Tritunggal sampai kekekalan dalam langit baru dan bumi baru. Kita, orang yang percaya kepada Kristus, akan menikmati kelimpahan ke-Allahan, sampai selama-lamanya.

Kita perlu secara mendalam terkesan oleh fakta bahwa ketiga hari raya ini melambangkan kenikmatan yang penuh atas Allah Tritunggal di dalam Kristus. Kita boleh mengatakan bahwa pada hari raya yang pertama Kristus ditaburkan sebagai benih. Pada hari raya yang kedua kita memiliki tuaian, pemungutan atas Kristus sebagai Roh pemberi-hayat. Kenikmatan atas hari raya ini dimulai pada hari Pentakosta, dan akan terus berlangsung sampai pada hari raya ketiga, yaitu hari raya Pengumpulan Hasil. Sebagaimana hasil tuaian, pengumpulan hasil tersebut merupakan kenikmatan atas kelimpahan ke-Allahan, yaitu kelimpahan Bapa di dalam Kristus sampai selama-lamanya.

Dari peraturan-peraturan dalam Keluaran 21—23, kita melihat bahwa terlebih dulu kita perlu menempuh hidup di dalam Kristus, kemudian membawa orang lain masuk ke dalam kenikmatan atas Kristus sebagai perhentian, penyegaran, dan makanan. Akhirnya, kita akan masuk ke dalam kenikmatan yang penuh atas Allah Tritunggal di dalam Kristus. Pertama, kita akan memiliki kenikmatan atas Kristus Putra; kedua, kita akan memiliki kenikmatan atas Allah Roh; dan yang terakhir, kita akan memiliki kenikmatan atas Allah Bapa. Puji Tuhan! Hari ini kita sedang menikmati Allah Tritunggal yang dilambangkan dengan ketiga hari raya tersebut.