PETUNJUK, PENJELASAN, DAN MAKNA PERATURAN-PERATURAN HUKUM TAURAT (1)
Pembacaan Alkitab:
Kel. 20:24-26; 21:2, 13-14; 22:21-23, 25-27, 28
Karena Alkitab adalah wahyu ilahi, maka kita tidak boleh membacanya dengan cara yang dangkal. Kita harus memasuki kedalaman firman untuk menggali kekayaannya. Banyak perkara berharga yang dapat kita temukan di bawah permukaan firman. Karena kekayaan yang maha besar sedemikian ini terdapat di bawah permukaan firman, maka tidaklah cukup sekadar mengetahui huruf-huruf hitam di atas kertas putih dari Alkitab. Kita harus memasuki kedalaman firman Allah, dan menggali keluar benda-benda berharga yang ada di bawah permukaan tersebut.
Saya datang dari sebuah negara yang menghasilkan batu kristal bermutu tinggi. Suatu hari, seorang teman saya memperlihatkan kepada saya sebuah bola batu yang besar dan jelek. Ia mengatakan kepada saya bahwa yang tersembunyi di dalam bola batu tersebut ialah sebuah kristal yang sangat indah. Kemudian dia membelah bola batu tersebut, dan menunjukkan kristal yang tersembunyi di dalamnya. Kita boleh mengibaratkan Alkitab dengan bola batu yang berisi benda berharga itu. Dalam setiap pasal dari Alkitab dapat kita temukan hal-hal yang sangat berharga. Khususnya, banyak “berlian” yang tersembunyi di bawah permukaan Keluaran 21—23. Beban saya dalam berita ini dan berita selanjutnya ialah menggali “berlian-berlian” ini, dan menyajikan “berlian-berlian” ini kepada umat Tuhan.
Judul berita ini menggunakan tiga patah kata yang penting: Petunjuk, penjelasan, dan makna. Kata-kata ini menunjukkan tiga aspek kekayaan yang terdapat pada kedalaman Keluaran 21—23. Pada ayat-ayat tertentu kita menemukan petunjuk; pada ayat-ayat lainnya kita menemukan penjelasan; dan pada ayat-ayat lainnya lagi kita menemukan makna yang dalam dan limpah. Jika kita hendak menggali kekayaan yang ada dalam pasal-pasal ini, kita harus memperhatikan petunjuk, penjelasan, dan makna peraturan-peraturan hukum Taurat yang disinggung di sini.
I. PENITAHAN HUKUM TAURAT
DENGAN SELURUH PERATURANNYA MENYATAKAN
KEJATUHAN MANUSIA DAN KEHIDUPAN MANUSIA DALAM KEJATUHAN
Penitahan hukum Taurat dengan seluruh peraturan dengan jelas menyatakan bahwa manusia telah jatuh dan hidup dalam kejatuhan. Kata “jatuh” atau “hidup dalam kejatuhan” memang tidak kita temukan. Tetapi, kata-kata seperti pencemaran, ketelanjangan, perhambaan, pembunuhan, pencurian, keinginan untuk memiliki barang orang lain, dan sihir, benar-benar menunjukkan kejatuhan manusia dan kehidupannya yang jatuh. Peraturan-peraturan yang berhubungan dengan hal-hal ini menerangkan keadaan manusia yang telah jatuh. Seandainya manusia tidak jatuh atau tidak hidup dalam suatu keadaan yang jatuh, maka Allah tidak perlu memberikan peraturan-peraturan yang sedemikian ini. Jika kita memperhatikan kata-kata seperti pencemaran, pembunuhan, dusta, berhala, dan lain-lain sejenisnya, kita akan diterangi sehingga melihat bahwa hal-hal ini menyatakan manusia terus-menerus hidup dalam kejatuhan. Dalam cara inilah kita akan memasuki kedalaman Alkitab.
Hukum Taurat dengan seluruh peraturannya tidak diberikan kepada orang-orang yang tanpa dosa dan yang suci. Sebaliknya, hukum Taurat diberikan kepada manusia yang telah jatuh, yaitu orang yang hidup dalam keadaan yang jatuh. Karena manusia telah jatuh dan hidup dalam kejatuhan, maka Allah perlu datang untuk menitahkan hukum Taurat dengan peraturan-peraturannya.
Dalam pasal-pasal ini kita memiliki gambaran tentang keadaan manusia yang telah jatuh. Betapa gelapnya pemandangan itu! Di sini kita memiliki pencemaran, ketelanjangan, sihir, penyembahan berhala, perzinaan, persundalan, dan ketamakan. Yang ada di belakang semua perkara negatif ini ialah Iblis (Satan). Meskipun Iblis tidak disebutkan dalam pasal-pasal ini, tetapi petunjuk adanya Iblis di belakang perkara-perkara negatif tersebut sudahlah jelas. Setan juga tersirat di sini. Sihir berhubungan dengan setan. Jika tidak ada setan, tidak akan ada sihir. Jadi, istilah “perempuan sihir” telah menunjukkan (menyiratkan) adanya sihir dan setan.
Peraturan-peraturan dalam pasal ini juga menunjukkan fakta tentang dosa yang di dalam. Dalam Roma 7, Paulus berbicara tentang ketamakan, yaitu mengingini berbagai hal. Meskipun Paulus membenci dosa ketamakan, tetapi ia tidak berdaya mengatasinya. Semakin kita membencinya, dosa itu semakin aktif di dalam kita. Paulus bahkan dapat mengatakan, “Kalau demikian bukan aku lagi yang melakukannya, tetapi dosa yang ada di dalam aku” (Rm. 7:17). Adanya ketamakan (LAI: mengingini) menunjukkan dosa yang di dalam. Lagi pula, dosa yang di dalam itu sebenarnya adalah Iblis beserta nafsunya. Kita mengakui bahwa tidak ada kata-kata yang tegas tentang Iblis dalam Keluaran 21—23. Tetapi, dalam terang wahyu Kitab Suci, kita bisa dari kata “ketamakan” ini menelusuri hingga ke dosa yang di dalam, dan dari dosa yang di dalam menelusuri hingga ke Iblis. Jadi, apa yang tersembunyi di bawah ketamakan ialah dosa yang di dalam, dan apa yang tersembunyi di bawah dosa yang di dalam ialah Iblis, yaitu si jahat, beserta nafsu-nafsunya.
Pasal-pasal ini tidak hanya menunjukkan fakta tentang dosa yang di dalam, tetapi juga membicarakan dosa yang di luar. Membunuh, berdusta, dan mencuri, adalah dosa yang di luar. Jadi, seperti halnya Kitab Roma, ada petunjuk akan adanya dosa yang di dalam, juga ada kata-kata yang jelas tentang dosa yang di luar. Dalam Roma 1—3, Paulus menanggulangi dosa yang di luar, sedangkan dalam pasal 5—8, ia menanggulangi dosa yang di dalam. Pada segi negatifnya, peraturan-peraturan dalam Keluaran 20—23 menunjukkan Iblis, setan, dosa yang di dalam, dan dosa yang di luar.
Gambaran pada aspek negatif dalam pasal-pasal ini adalah gelap dan suram. Tetapi gambaran pada aspek po-sitif sangatlah terang dan mulia. Pertama-tama, pasal-pasal ini mewahyukan bahwa Allah itu ramah, penuh perhatian terhadap kita. Sebagai Sang ramah, Ia memperhatikan para janda, anak-anak yatim, dan orang-orang asing. Dengan menyediakan kota-kota perlindungan agar orang dapat melarikan diri ke dalamnya, Dia bahkan memperhatikan orang yang membunuh karena tidak sengaja. Lagi pula, Allah juga memperhatikan orang yang menjual dirinya untuk menjadi hamba (budak), yaitu dengan membebaskan mereka setelah selama enam tahun menjadi hamba. Semua peraturan ini menunjukkan kepada kita bahwa Allah itu ramah, kasih, dan memperhatikan umat manusia.
Dalam pasal-pasal ini kita juga memiliki gambaran tentang Kristus. Kristus dilambangkan oleh berbagai macam kurban (Kel. 20:24-26). Dengan Kristus, melalui Kristus, dan berdasarkan Kristus, kita dapat beribadah kepada Allah. Kristus bukanlah untuk malaikat; tetapi Kristus adalah untuk manusia yang telah jatuh. Peraturan mengenai beribadah kepada Allah melalui mezbah dan dengan kurban adalah untuk manusia yang telah jatuh, bukan untuk malaikat. Kristus juga dilambangkan dengan kota perlindungan dan hari Sabat. Selain itu, tahun istirahat pun merupakan gambaran tentang Kristus. Salib Kristus dilambangkan dengan mezbah dalam Keluaran 20. Mezbah ini bukan untuk para malaikat, melainkan untuk manusia yang telah jatuh. Malaikat adalah penonton yang hanya memandang Kristus dan salib, sedangkan kita adalah orang-orang yang ikut mengambil bagian dalam menikmati Kristus dan salib.
Dalam pasal-pasal ini, pada aspek negatifnya ada Iblis, setan, dosa yang di dalam, dan dosa yang di luar. Pada aspek positifnya ada Allah, Kristus, dan salib. Bersamaan dengan itu juga menunjukkan (menyiratkan) penebusan, pengampunan, pembenaran, dan pendamaian. Tentu saja, tidak ada hukum buatan manusia yang memiliki petunjuk, penjelasan, dan makna yang sedemikian ini. Sebagai orang-orang yang mempelajari firman Allah, kita harus memperhatikan seluruh petunjuk, penjelasan, dan makna yang terdapat dalam pasal-pasal ini.
II. MEZBAH DAN KURBAN UNTUK
BERIBADAH KEPADA ALLAH MENYATAKAN
BAHWA MANUSIA YANG TELAH JATUH
PERLU DITEBUS, DIAKHIRI, DAN
DIGANTIKAN OLEH KRISTUS DENGAN SALIB-NYA
Menurut Keluaran 20:24-26, mezbah dan kurban untuk beribadah kepada Allah menyatakan bahwa untuk beribadah kepada Allah, manusia yang telah jatuh harus terlebih dulu ditebus, diakhiri, dan digantikan. Allah menghendaki manusia beribadah kepada Dia melalui mezbah dan dengan kurban. Lagi pula, orang yang beribadah kepada Allah harus menumpangkan tangannya di atas kepala kurban, dan dengan demikian menyatukan dirinya dengan kurban tersebut. Kemudian kurban tersebut disembelih dan ditempatkan di atas mezbah. Semua ini menunjukkan bahwa manusia perlu ditebus, diakhiri, dan digantikan oleh Kristus dengan salib-Nya. Kita ditebus dan diakhiri oleh mezbah, tetapi kita digantikan oleh Kristus.
Sebelum kita menghargai perkara-perkara ini, kita harus menyadari bahwa kita adalah orang yang berdosa, keadaan kita adalah tidak berpengharapan. Seandainya kita bukan orang yang berdosa, Allah tidak perlu menebus kita. Jika keadaan kita berpengharapan, Allah tidak akan menghendaki kita untuk diakhiri dan digantikan. Fakta bahwa kita memerlukan penebusan, pengakhiran, dan penggantian, menyatakan bahwa kita penuh dosa dan tidak berpengharapan.
Sangatlah keliru jika seorang saudara berharap agar istrinya memperbaiki diri. Sebaliknya, ia perlu menyadari bahwa keperluan istrinya bukanlah perbaikan diri, melainkan pengakhiran. Keadaan kita semua adalah tidak berpengharapan, demikian pula dengan suami atau istri kita. Jadi, kita harus menerima fakta bahwa kita perlu diakhiri. Tetapi setelah kita diakhiri oleh salib, kita akan masuk ke dalam kebangkitan, dan di dalam kebangkitanlah kita dapat digantikan oleh Kristus. Seorang saudara harus melihat bahwa istrinya tidak dapat memperbaiki diri, tetapi dapat digantikan oleh Kristus. Demikian pula, seorang saudari jangan berdoa agar Tuhan mau memperbaiki suaminya. Doa semacam ini hanyalah bersifat doktrinal dan agamawi. Sebaliknya, ia harus berdoa, “Tuhan, aku bersyukur kepada-Mu, karena Engkau dapat menggantikan suamiku dengan diri-Mu sendiri. Tuhan, aku mohon Engkau menggantikan dia.”
Mezbah dan kurban menyiratkan penebusan, pengakhiran, dan penggantian. Tidak hanya demikian, sebagaimana telah kita tunjukkan, keperluan atas penebusan menunjukkan bahwa keadaan kita adalah tidak berpengharapan. Setiap kali saya membaca tentang mezbah dan kurban, saya melihat Kristus, pengganti saya, dengan salib-Nya. Sekarang saya dapat berkata, “Puji Tuhan, meskipun aku penuh dosa, tetapi aku telah ditebus, dan meskipun aku tidak berpengharapan, aku dapat diakhiri dan digantikan. Tuhan, aku bersyukur kepada-Mu karena proses penggantian oleh-Mu masih terus berlangsung, dan pada suatu hari akan menjadi sempurna. Saatnya akan tiba bahwa aku akan sepenuhnya digantikan oleh-Mu.”
III. KEBEBASAN HAMBA (BUDAK) PADA
TAHUN SABAT MENANDAKAN KEBEBASAN
MANUSIA YANG TELAH JATUH DI BAWAH
BELENGGU MELALUI PERHENTIAN ALLAH
Kebebasan hamba (budak) pada tahun sabat menandakan kebebasan manusia yang telah jatuh di bawah belenggu melalui perhentian Allah (Kel. 21:2), yaitu Kristus. Kita tahu dari Kitab Kejadian bahwa setelah bekerja selama enam hari, Allah beristirahat pada hari ketujuh. Jadi, hari Sabat menyatakan perhentian Allah. Pada tahun ketujuh, yaitu tahun Sabat, para hamba akan dibebaskan. Alangkah baiknya berita untuk para hamba! Seorang hamba tahu bahwa setelah bekerja selama enam tahun, ia akan dibebaskan pada tahun ketujuh. Melalui perhentian Allah, ia akan dibebaskan.
Dalam peraturan yang berkenaan dengan pembebasan hamba (budak) pada tahun Sabat, kita melihat berita Injil yang baik. Orang yang telah jatuh adalah hamba. Dalam Roma 7:14, Paulus melukiskan dirinya sendiri sebagai orang yang “terjual di bawah kuasa dosa”. Setiap orang yang berdosa, telah menjual dirinya sendiri di bawah perhambaan. Jangan mengira bahwa Anda telah diperhamba oleh orang lain. Tidak, Anda telah diperhamba oleh diri Anda sendiri. Anda telah menjual diri Anda kepada perhambaan. Tetapi Injil menyampaikan berita yang baik, yaitu ketika Kristus, perhentian Allah, menampakkan diri kepada kita, perhambaan kita akan berakhir, dan kita akan dibebaskan. Ini benar-benar berita yang baik!
IV. PEMBUNUHAN DAN DUSTA DI DALAM
MANUSIA MENANDAKAN IBLIS,
SUMBER PEMBUNUHAN DAN BAPA SEGALA DUSTA,
SEDANG BEKERJA DI DALAM MANUSIA
Pembunuhan dan dusta di dalam manusia menandakan bahwa Iblis, sumber pembunuhan dan bapa segala dusta, sedang bekerja di dalam manusia yang telah jatuh (Kel. 21:14; 23:1-2; Yoh. 8:44; 1Yoh. 3:12). Dari Yohanes 8:44, kita tahu bahwa Iblis adalah sumber pembunuhan dan bapa segala dusta. Ini menunjukkan bahwa jika di dalam batin kita ada pikiran untuk membunuh dan berdusta, berarti Iblis sedang bekerja di dalam kita. Karena Iblis bekerja di dalam orang-orang yang telah jatuh, sangat mudahlah mereka berdusta. Anak-anak tanpa diajar dapat secara spontan berdusta. Mungkin saja kita tidak hanya berdusta dengan perkataan, tetapi juga dengan gerak tangan dan ekspresi wajah. Berdusta menandakan bahwa Iblis sedang hidup dan bekerja di dalam kita. Manusia yang telah jatuh adalah pendusta, sebab menurut hayat alamiah, kita adalah anak-anak Iblis.
Sebenarnya, Keluaran 23:1 tidak menggunakan kata “dusta”. Sebaliknya, ayat ini membicarakan tentang pemberian kesaksian yang tidak benar. Menyiarkan kabar bohong dan memberikan kesaksian yang tidak benar lebih buruk daripada berdusta.
Asalkan seseorang telah bermaksud untuk membunuh dan berdusta, berarti Iblis, yaitu sumber pembunuhan dan bapa segala dusta sedang bekerja di dalamnya. Jika kita melacak pembunuhan dan dusta sampai pada sumbernya, kita akan mendapati Iblis.
V. ORANG YANG TIDAK SENGAJA MEMBUNUH ORANG LAIN
MENANDAKAN DALAM PANDANGAN ALLAH,
MANUSIA YANG TELAH JATUH ADALAH ORANG YANG BERDOSA KARENA KHILAF,
BOLEH MELARIKAN DIRI KE DALAM KRISTUS
Keluaran 21:13 mengatakan, “Tetapi jika pembunuhan itu tidak disengaja, melainkan tangannya ditentukan Allah melakukan itu, maka Aku akan menunjukkan bagimu suatu tempat, ke mana ia dapat lari.” Ini menunjukkan bahwa orang yang tidak sengaja membunuh orang lain, memiliki hak untuk melarikan diri dan berlindung ke tempat yang ditunjukkan oleh Allah. Ini berarti dalam pandangan Allah, manusia yang telah jatuh adalah orang yang berdosa karena khilaf, boleh melarikan diri ke dalam Kristus. Ketika Tuhan Yesus berada di kayu salib, Ia berdoa, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk. 23:34). Doa ini membuka jalan bagi Allah Bapa untuk datang dan mengampuni orang-orang yang berdosa karena khilaf. Semua orang yang dengan tidak sengaja berdosa, berhak melarikan diri ke dalam Kristus sebagai kota perlindungan. Betapa indahnya, karena Allah memandang kita sebagai orang yang berdosa karena khilaf dan menyediakan kota perlindungan bagi kita, yaitu Kristus!
Anda orang yang berdosa karena khilaf, atau orang yang dengan sengaja berdosa? Pertobatan Anda terhadap Allah menunjukkan bahwa Anda adalah orang yang dengan tidak sengaja berdosa. Jika Anda adalah orang yang dengan sengaja berdosa, mengapa Anda bertobat? Anda bertobat berarti Anda mengakui bahwa Anda bersalah dan memohon ampun karenanya. Setiap orang berdosa yang bertobat adalah orang yang dengan tidak sengaja berdosa, dan akan diampuni oleh Allah.
Menurut Keluaran 21:14, seseorang yang membunuh orang lain akan dihukum mati. Ayat ini mengatakan, “Tetapi apabila seseorang berlaku angkara terhadap sesamanya, hingga ia membunuhnya dengan tipu daya, maka engkau harus mengambil orang itu dari mezbah-Ku, supaya ia mati dibunuh.” Ini menunjukkan bahwa orang yang dengan sengaja berdosa harus dihukum mati. Mereka dihukum mati karena mereka tidak mau bertobat. Fakta bahwa seseorang tidak bertobat, menunjukkan bahwa ia bukan orang yang dengan tidak sengaja berdosa, melainkan orang yang dengan sengaja berdosa. Jika seseorang bertobat, maka Allah akan menganggap dia sebagai orang berdosa karena khilaf, dan mengampuninya. Orang yang sedemikian ini boleh melarikan diri ke dalam Kristus. Tetapi jika seseorang menolak Injil dan tidak bertobat, Allah akan menganggap dia sebagai orang yang dengan sengaja berdosa, yaitu orang yang harus dihukum mati. Apakah Anda adalah orang berdosa karena khilaf atau orang berdosa dengan sengaja, ditentukan oleh apakah Anda bertobat atau tidak.
Dalam Keluaran 21:13-14, kita melihat satu perkara berharga yang berhubungan dengan Kristus. Kristus ditunjukkan (disiratkan) dalam Keluaran 21:13. Ia diserahkan ke dalam tangan orang-orang yang berdosa dengan tidak sengaja. Jika Allah tidak menyerahkan Tuhan Yesus ke dalam tangan orang-orang Yahudi dan Romawi, Tuhan Yesus tidak akan disalibkan. Setelah Allah menyerahkan Dia ke dalam tangan orang-orang yang menyalibkan Dia, Tuhan Yesus berdoa bagi mereka. Dia mohon agar Bapa mengampuni mereka, karena mereka tidak tahu apa yang tengah mereka perbuat. Di sini seolah-olah Allah menjawab, “Ya, Akulah yang menyerahkan Kamu ke dalam tangan mereka. Sekarang Aku siap mengabulkan doa-Mu dengan mengampuni mereka.” Jadi, berdasarkan apa yang ditunjukkan dalam Keluaran 21:13, Kristus telah diserahkan ke dalam tangan orang-orang yang berdosa karena khilaf dan dibunuh oleh mereka. Kita telah membunuh Kristus, tetapi kita membunuh Dia dengan tidak sengaja. Allah menyerahkan Kristus kepada kita, dan kita dengan tidak sengaja menghukum mati Dia. Karena itu, Keluaran 21:13 tidak hanya menunjukkan Kristus, tetapi juga menunjukkan Anda dan saya. Berdasarkan ayat ini, kita yang dengan tidak sengaja telah membunuh Kristus, sekarang kita boleh melarikan diri ke dalam Dia sebagai kota perlindungan kita.
Saulus dari Tarsus adalah orang yang telah membunuh Kristus dengan tidak sengaja. Ketika dia sedang menganiaya kaum beriman, Tuhan Yesus menampakkan diri kepadanya dan berkata, “Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku?” (Kis. 9:4). Dalam pengertian Saulus, dia sedang menganiaya Stefanus dan kaum beriman lainnya, bukan Tuhan Yesus. Fakta bahwa Saulus bertanya kepada Tuhan siapakah Dia, menunjukkan bahwa ia secara tidak sengaja sedang menganiaya Tuhan. Dia tidak menyadari apa yang dia lakukan. Karena alasan inilah, maka dalam 1Timotius 1:13, dia dapat mengatakan tentang dirinya demikian, “Aku yang tadinya seorang penghujat dan seorang penganiaya dan seorang yang ganas tetapi telah dikasihani-Nya, karena semuanya itu telah kulakukan tanpa pengetahuan yaitu di luar iman.” Karena kurang tahu dan tidak sengaja, Saulus telah menganiaya kaum beriman dan menghujat Allah. Tetapi Allah mengampuni dia dan membuka Kristus sebagai pintu kota perlindungan baginya. Inilah Injil. Alangkah baiknya berita tentang orang yang berdosa dengan tidak sengaja dapat melarikan diri ke dalam Kristus ini!
Keluaran 21:13 adalah satu-satunya ayat dalam Alkitab yang menunjukkan bahwa Allah telah menyerahkan Tuhan Yesus ke dalam tangan orang-orang berdosa yang membunuh-Nya dengan tidak sengaja. Dalam Kisah Para Rasul 2:23 dikatakan bahwa Kristus telah diserahkan menurut maksud dan rencana Allah, dan dalam Roma 4:25 dikatakan bahwa Ia telah diserahkan karena pelanggaran kita. Hanya dalam Keluaran 21:13 itulah kita melihat bahwa Allah menyerahkan Tuhan Yesus ke dalam tangan kita untuk dibunuh secara tidak sengaja.
VI. MENCURI MENANDAKAN MANUSIA YANG TELAH JATUH
TIDAK PUAS DENGAN PENGATURAN KEDAULATAN ALLAH,
DAN BERUSAHA MEMPEROLEH KEUNTUNGAN
SECARA RENDAH DENGAN MELANGGAR KETETAPAN ALLAH
Mencuri menandakan bahwa manusia yang telah jatuh sama seperti setan, tidak puas dengan pengaturan kedaulatan Allah dan berusaha memperoleh keuntungan secara rendah dengan melanggar ketetapan Allah (Kel. 22:1-5). Mungkin dalam pengaturan-Nya, Allah tidak memberikan kekayaan yang banyak kepada Anda. Sebaliknya, Ia mengatur Anda berada dalam kemiskinan. Apakah Anda puas dengan keadaan yang telah Allah atur bagi Anda? Jika Anda tidak puas, mungkin Anda akan mencuri, yaitu melanggar ketetapan Allah untuk memperoleh keuntungan secara rendah. Menurut Alkitab, mencuri adalah tindakan yang sepenuhnya dihakimi oleh Allah. Namun, tindakan mencuri itu sendiri sebenarnya tidaklah serius. Mencuri itu menjadi serius karena terkait dengan pelanggaran ketetapan Allah.
Kita semua harus merasa puas dengan pengaturan kedaulatan Allah mengenai keadaan kita. Karena Allah adalah pencipta kita dan kita adalah ciptaan-Nya, maka kita harus puas dengan keadaan yang telah Dia berikan kepada kita. Jika kita puas, kita tidak akan melanggar ketetapan Allah. Mencuri berarti tidak puas dengan pengaturan ilahi dan melanggar ketetapan ilahi. Dulu saya tahu ada beberapa orang wanita yang mencuri jarum-jarum mesin jahit milik anggota keluarga lainnya pada masa kekurangan jarum jahit. Pada prinsipnya, mereka tidak lebih baik daripada perampok bank. Baik mereka yang mencuri jarum mesin jahit maupun yang merampok bank, semuanya tidak puas dengan pengaturan kedaulatan Allah dan melanggar ketetapan Allah.
VII. TAMAK MENANDAKAN SIFAT NAFSU TAMAK IBLIS
TELAH MENJADI DOSA DI DALAM MANUSIA YANG TELAH JATUH
UNTUK MEMBINASAKAN TUBUHNYA
Peraturan mengenai ketamakan (Kel. 22:7-15) menandakan sifat nafsu tamak Iblis telah menjadi dosa di dalam manusia yang telah jatuh untuk membinasakan tubuhnya (Rm. 7:8, 17, 24). Dalam Roma 7, Paulus memberi tahu kita bahwa ia tidak dapat menanggulangi dosa ketamakan yang ada di dalam dirinya. Akhirnya dia melukiskan ketamakan sebagai dosa yang di dalam. Ia tidak hanya menganggapnya sebagai suatu benda atau suatu perkara, melainkan sebagai satu persona, bahkan sebagai Iblis yang menjelma sebagai manusia. Dosa ketamakan sebenarnya adalah sifat nafsu tamak Iblis. Karena kita semua adalah orang berdosa yang telah jatuh, maka kita diserahkan kepada ketamakan. Mencuri berasal dari ketamakan. Jika seseorang tidak menginginkan apa pun, dia tidak akan pernah mencuri. Ketamakan ialah sifat nafsu tamak Iblis yang diam di dalam kita. Jadi, setiap kali kita bersifat serakah dan tamak, kita harus menyadari bahwa semua itu berasal dari Iblis yang sedang beroperasi di dalam kita sebagai dosa yang di dalam.
VIII. PERZINAAN MENANDAKAAN SIFAT DOSA IBLIS
SEDANG BEKERJA DI DALAM MANUSIA,
MELALUI PERZINAAN MERUSAK MANUSIA
AGAR MELANGGAR KETETAPAN ALLAH
Peraturan mengenai perzinaan (Kel. 22:16-17, 19) menandakan sifat dosa Iblis sedang bekerja di dalam manusia, melalui perzinaan merusak manusia agar melanggar ketetapan Allah berkenaan dengan hubungan antara manusia dengan Allah, dengan manusia lainnya, dan dengan hal-hal lainnya.
Menurut Yakobus 4:4, mengasihi dunia membuat seseorang menjadi orang yang berzina, karena hal itu mengacaukan hubungan antara manusia dengan Allah. Sebagaimana seorang istri tidak boleh mengasihi pria lain selain suaminya, demikian pula kita tidak boleh mengasihi apa pun selain Allah. Menurut Wahyu 17, gereja yang merosot disebut perempuan sundal. Gereja harus mengasihi Kristus semata; tetapi, gereja yang merosot mengasihi banyak sekali benda lain selain Kristus. Karena alasan inilah, gereja yang telah jatuh tidak hanya menjadi istri yang berzina, tetapi juga menjadi perempuan sundal. Jika seorang istri berhubungan dengan laki-laki lain di samping suaminya, berarti dia telah melakukan perzinaan. Tetapi jika dia berhubungan dengan banyak laki-laki, berarti dia melakukan persundalan. Karena itu, persundalan lebih serius daripada perzinaan. Gereja yang telah jatuh tidak hanya berzina, bahkan bersundal, dan karena itulah dalam Wahyu 17 gereja yang telah jatuh disebut perempuan sundal.
Dalam pandangan Allah, bumi hari ini penuh dengan persundalan dan kekacauan. Hubungan antar manusia dan hubungan dengan hal-hal lainnya telah kacau. Menurut Alkitab, persundalan menunjukkan kekeliruan dan kekacauan dalam hubungan kita. Sebagai contoh, kegagalan dalam memelihara hubungan yang benar dengan pemerintah merupakan persundalan.
IX. ORANG ASING, JANDA, ANAK YATIM, DAN ORANG MISKIN,
MENANDAKAN MANUSIA YANG TELAH JATUH
MENJADI ORANG ASING ATAS BERKAT ALLAH,
MENJADI JANDA YANG TIDAK MEMPUNYAI KRISTUS SEBAGAI SUAMI,
ANAK YATIM YANG TIDAK MEMPUNYAI ALLAH SEBAGAI BAPA,
DAN ORANG MISKIN YANG TIDAK MEMILIKI KEKAYAAN ALLAH
Peraturan mengenai orang asing, janda, anak yatim, dan orang miskin, menandakan bahwa manusia yang telah jatuh menjadi orang asing atas berkat Allah, menjadi janda yang tidak memiliki Kristus sebagai suami, anak yatim yang tidak memiliki Allah sebagai Bapa, dan orang miskin yang tidak memiliki kekayaan Allah (Kel. 22:21-27; 23:9). Efesus 2:12 dan 19 menunjukkan bahwa dulu kita adalah orang asing dan pendatang. Bukankah Anda adalah orang asing bagi Allah sebelum Anda beroleh selamat? Bukankah Anda adalah seorang janda, anak yatim, dan orang miskin? Inilah situasi orang-orang yang belum beroleh selamat hari ini. Tetapi Allah adalah Allah yang memperhatikan orang asing, janda, anak yatim, dan orang miskin.
X. TAAT KEPADA ALLAH DAN KEKUASAANNYA
MENANDAKAN TERTAKLUKNYA SIFAT IBLIS
YANG MEMBERONTAK DI DALAM MANUSIA
Peraturan yang menghendaki kita taat kepada Allah dan kekuasaan-Nya menandakan tertakluknya sifat Iblis yang memberontak di dalam manusia (Kel. 22:28). Karena kita bersifat memberontak, maka kita perlu ditaklukkan, dan kita perlu taat kepada wakil kekuasaan Allah. Pemberontakan merupakan aktivitas sifat Iblis yang memberontak. Unsur yang memberontak di dalam kita ini harus ditaklukkan.
XI. MENGEMBALIKAN BINATANG YANG TERSESAT KEPADA MUSUH,
MENOLONG ORANG YANG MEMBENCI KITA
DENGAN MEMBONGKAR MUATAN BINATANGNYA YANG TERLALU BERAT,
MENANDAKAN KRISTUS MENYERAHKAN PERKARA-PERKARA HAYAT (TERNAK)
YANG HILANG KEPADA MANUSIA YANG TELAH JATUH,
DAN MENOLONG MANUSIA DALAM MELEPASKAN BEBANNYA
Peraturan dalam Keluaran 23:4-5, menandakan Kristus menyerahkan perkara-perkara hayat yang hilang kepada manusia yang telah jatuh, dan menolong manusia dalam melepaskan bebannya. Peraturan-peraturan ini juga menunjukkan bahwa dengan hayat Kristus yang sedemikian ini, kita harus mendamaikan diri kita dengan musuh kita dan orang-orang yang membenci kita. Sebagai orang yang berdosa, kita telah kehilangan segala sesuatu yang berhubungan dengan hayat. Tetapi Kristus datang untuk mengembalikan semua perkara hayat yang telah hilang tersebut. Dia juga telah datang untuk membebaskan kita dari beban kita. Sudahkah Kristus melakukan perkara-perkara ini bagi Anda? Sudahkah Dia mengembalikan kepada Anda perkara-perkara hayat dan melepaskan Anda dari beban Anda yang berat? Puji Tuhan, karena Dia telah melakukan semua ini bagi kita!
Peraturan-peraturan ini juga menunjukkan bahwa oleh hayat Kristus, kita harus berdamai dengan musuh kita dan orang-orang yang membenci kita. Jika seorang Israel melihat binatang milik orang yang membencinya rebah karena terlalu berat bebannya, maka ia harus menghentikan pekerjaannya dan bersama musuhnya itu membongkar muatan binatang tersebut. Mungkin saja hari ini Anda melihat seorang musuh Anda sedang mengalami kerusakan mobil. Maukah Anda menghentikan mobil Anda dan menolongnya? Pada prinsipnya, Kristus telah melakukan semua ini bagi kita. Sekarang, kita harus melakukan perkara yang sama bagi orang lain oleh hayat-Nya.