BERBAGAI PERATURAN HUKUM TAURAT
Pembacaan Alkitab: Kel. 22:28-31; 23:14-19
Alkitab adalah kitab yang sangat manis. Kita akan memiliki perasaan yang manis bila kita membaca bagian-bagian dari firman. Mazmur 119:103 menyatakan, “Betapa manisnya janji-Mu itu bagi langit-langitku, lebih daripada madu bagi mulutku.” Tetapi ketika kita membaca Keluaran 21:7—23:19, mungkin tidak merasakan kemanisan apa pun. Apakah bagian Kitab Keluaran ini terasa manis bagi Anda ketika Anda membacanya akhir-akhir ini? Jika kita memasuki kedalaman pasal-pasal ini dan menjamah roh penulis pasal-pasal ini, kita akan menyadari bahwa bagian firman ini pun sangat manis.
Alkitab tidak hanya diilhamkan oleh Roh itu, tetapi juga ditulis dengan roh yang khusus. Demikian pula dengan hukum Taurat dan peraturan-peraturan dalam Perjanjian Lama. Bahkan berkenaan dengan hukum sekuler suatu negara pun, orang-orang berbicara tentang semangat undang-undang. Betapa jauh lebih besar roh yang khusus yang ada di dalam hukum Taurat dan peraturan-peraturan yang disampaikan oleh Allah! Jika kita menjamah kedalaman Keluaran 21:7—23:19, kita akan memiliki perasaan yang manis. Meskipun mudah bagi kita untuk menjamah kumpulan firman secara luaran, tetapi sukar bagi kita untuk menjamah roh Alkitab secara batiniah. Jika kita hanya menjamah tulisan hitam di atas kertas putih, berarti kita hanya menjamah kumpulan firman. Kita harus berlatih untuk melangkah lebih dalam, menjamah roh di dalam firman.
Keseluruhan Alkitab diwahyukan oleh Allah sesuai dengan ekonomi-Nya. Tetapi khususnya dalam Perjanjian Lama, wahyu ilahi diberikan berdasarkan situasi bangsa itu. Sebagai contoh, ketika membaca Kitab Keluaran semasa saya masih muda, saya dibingungkan oleh fakta bahwa dalam hukum Taurat-Nya, Allah tidak menghapuskan perbudakan. Saya juga heran, mengapa seorang hamba tidak memiliki hak-hak yang sama dengan orang merdeka, dan mengapa hukum Taurat serta peraturan-peraturan yang diberikan oleh Allah masih membiarkan ketidaksamaan yang sedemikian ini berlaku. Kita diberi tahu bahwa jika seekor lembu menanduk seorang budak laki-laki atau perempuan hingga mati, pemilik lembu itu harus membayar dalam jumlah yang lebih sedikit daripada jika lembu itu menanduk orang merdeka hingga mati (Kel. 21:28-32). Ini menunjukkan bahwa seorang hamba tidak memiliki hak yang sama dengan orang merdeka. Beberapa orang mungkin bahkan merasa sangsi bahwa peraturan-peraturan ini diwahyukan oleh Allah. Boleh jadi mereka menganggap peraturan-peraturan itu sebagai ide Musa saja. Tetapi Keluaran 21:1 dengan jelas mengatakan, “Inilah peraturan-peraturan yang harus kaubawa ke depan mereka.” Semua peraturan dalam Keluaran 21—23, ditulis oleh Musa berdasarkan apa yang didiktekan oleh Allah. Jadi, peraturan-peraturan itu tidak direncanakan berdasarkan konsepsi Musa. Karena alasan inilah, maka kita tidak dapat menolak peraturan-peraturan itu dengan mengatakan bahwa peraturan-peraturan itu tidak lebih daripada cara berpikir yang kuno saja. Tetapi karena peraturan-peraturan ini didiktekan oleh Allah, maka kita mungkin bertanya, mengapa hal-hal seperti perbudakan masih dibiarkan berlaku. Pertanyaan seperti ini memperingatkan kita bahwa Alkitab tidak mudah untuk dipahami. Untuk memahami firman Allah, kita harus memahami hati Allah, juga ekonomi, tujuan, dan rencana Allah.
Hukum Taurat dan peraturan-peraturan Allah dalam Alkitab, ditulis dalam cara yang sangat berbeda dengan hukum-hukum yang dibuat oleh manusia. Sering, manusia berusaha menulis sesuatu yang klasik ketika mereka menyusun suatu hukum. Seorang pengacara mungkin bahkan berusaha untuk menghasilkan tulisan klasik mengenai suatu kasus tertentu. Namun, Keluaran 21—23 tidak disusun dalam cara yang klasik.
Ketika kita membaca pasal-pasal ini, dalam pandangan kita, peraturan-peraturan tersebut disusun dalam urutan yang tidak lazim. Sebagai contoh, Keluaran 21:15 mengatakan bahwa siapa yang memukul ayahnya atau ibunya, pastilah dihukum mati. Kemudian ayat 16 mengatakan bahwa siapa yang menculik seorang manusia pasti dihukum mati. Tetapi, ayat 17 mengatakan bahwa seseorang yang mengutuk ayahnya atau ibunya pasti dihukum mati. Mengapa ayat 15 dan 17 tidak ditaruh berdampingan? Mengapa ada ayat 16 di antara ayat-ayat tersebut? Seandainya kita menyusun pasal ini, mungkin kita akan menaruh ayat 15 dan 17 itu berdampingan, dan selanjutnya diikuti dengan ayat 16. Tetapi di antara ayat-ayat yang secara berturut-turut membicarakan tentang pemukulan dan pengutukan terhadap orang tua tersebut, Allah menyisipkan sebuah ayat yang sama sekali tidak mempunyai hubungan dengan orang tua. Tentu saja, susunan ini menyajikan tujuan ilahi tertentu.
Kita percaya bahwa setiap firman Alkitab adalah embusan Allah. Jika kita mau dengan sepenuhnya menghargai Keluaran 21—23, kita pasti dapat menjamah kedalaman pasal-pasal ini, merasakan roh ditulisnya pasal-pasal ini. Kita akan melihat bahwa roh di sini sangat ajaib. Tidak ada satu pun peraturan dari suatu bangsa atau masyarakat yang ditulis dengan roh seperti yang kita temukan di sini. Betapa manisnya roh di mana peraturan-peraturan Allah disusun.
Kita telah melihat bahwa keenam ayat pertama dari Keluaran 21, yaitu peraturan pertama tentang hubungan antar manusia, berhubungan dengan perhambaan. Susunan ayat-ayat ini tidak bersifat klasik. Lagi pula, menurut konsepsi manusia, susunan ayat-ayat ini sama sekali tidak logis. Tetapi roh yang memenuhi ayat-ayat ini sangat manis. Saya telah menunjukkan bahwa ketika diberi kesempatan untuk merdeka, seorang hamba berkata, “Aku mengasihi tuanku, istriku, dan anak-anakku. Aku tidak ingin keluar sebagai orang merdeka.” Alangkah manisnya roh ini! Dalam firman-Nya, Allah tidak memperhatikan gaya tulisan yang klasik. Sebaliknya, Ia memperhatikan kemanisan roh.
Dalam Keluaran 21:1-6 kita dapat melihat roh seorang hamba, kasih seorang hamba, ketaatan seorang hamba, dan juga hayat seorang hamba. Betapa manisnya peraturan mengenai hamba ini! Saya tidak percaya bahwa kita dapat merasakan setiap kemanisan dalam hukum buatan manusia yang mungkin telah kita baca. Tetapi jika dengan teliti kita memperhatikan semua peraturan dalam Keluaran 21—23, kita akan menyadari bahwa peraturan-peraturan tersebut sangat manis. Sebagai contoh, Keluaran 23:4 mengatakan, “Apabila engkau melihat lembu musuhmu atau keledainya yang sesat, maka segeralah kaukembalikan binatang itu.” Boleh jadi kita tidak mau mengembalikan binatang milik musuh kita, malah mungkin kita tergoda untuk memuji Tuhan atas penghakiman terhadap musuh kita dan pembelaan terhadap kita. Tetapi menurut peraturan tersebut, orang Israel harus mengembalikan lembu atau keledai musuhnya. Lagi pula, menurut Keluaran 23:5, apabila seorang Israel melihat keledai musuhnya rebah karena berat bebannya, ia harus segera menolong keledai itu dengan membongkar muatannya. Ia tidak boleh membela dirinya sendiri dengan mengatakan bahwa ia terlalu repot. Ia harus mengesampingkan bebannya sendiri untuk menolong keledai musuhnya itu.
Perjanjian Baru mengajarkan kepada kita agar kita mengasihi musuh kita (Mat. 5:44). Tetapi perintah ini tidak semanis roh peraturan dalam Keluaran 23:4-5. Menurut peraturan-peraturan ini, di satu pihak orang Israel harus mengembalikan lembu atau keledai musuhnya; di pihak lain, ia harus bekerja bersama orang yang membencinya untuk membebaskan keledai orang itu dari bebannya yang berat. Dalam hal ini, orang Israel harus menghadapi sendiri musuhnya. Saya tahu bahwa ada beberapa saudara yang memberi bantuan keuangan kepada orang-orang yang membenci mereka, namun mereka tidak mengunjungi orang-orang tersebut. Tetapi peraturan-peraturan di sini, orang Israel harus mengembalikan sendiri binatang musuhnya yang hilang. Semakin kita memperhatikan peraturan-peraturan ini, kita akan semakin memperoleh kemanisan roh di mana peraturan-peraturan ini ditulis. Siapa yang berani berkata bahwa peraturan-peraturan dari suatu bangsa disusun dalam roh yang sedemikian ini? Hukum-hukum Allah tidak ditulis berdasarkan hikmat manusia. Sebaliknya, hukum-hukum tersebut didiktekan oleh Allah dalam hikmat-Nya.
Sebagaimana telah kita tunjukkan, peraturan-peraturan dalam Keluaran 21—23 tersebut sama dengan peraturan mengenai penyembahan dalam Keluaran 20, yaitu memberikan uraian yang rinci mengenai Sepuluh Perintah. Uraian-uraian tertentu yang rinci ditambahkan pada setiap perintah. Peraturan mengenai penyembahan terhadap Allah dalam Keluaran 20, merupakan uraian yang rinci mengenai perintah kedua dan ketiga. Lagi pula, beberapa peraturan merupakan tambahan bagi perintah-perintah tersebut. Sekarang marilah kita memperhatikan berbagai peraturan hukum Taurat dalam Keluaran 21:7—23:19.
I. MENGENAI HUBUNGAN ANTAR MANUSIA
A. URAIAN YANG RINCI
MENGENAI SEPULUH PERINTAH
1. Perintah Keenam
Dalam Keluaran 21:12-14, 18-32, ada uraian yang rinci mengenai larangan untuk membunuh orang. Pada waktu membaca ayat-ayat ini, kita harus memegang satu prinsip, memperhatikan roh yang manis di mana ayat-ayat ini ditulis. Ayat 12 mengatakan, “Siapa yang memukul seseorang, sehingga mati, pastilah ia dihukum mati.” Tetapi menurut ayat 13, jika secara tidak sengaja seseorang membunuh orang lain, ia harus lari ke kota perlindungan: “Tetapi jika pembunuhan itu tidak disengaja, melainkan tangannya ditentukan Allah melakukan itu, maka Aku akan menunjukkan bagimu suatu tempat, ke mana ia dapat lari.” Ketentuan ini adalah untuk orang yang dengan tidak sengaja membunuh orang lain, yaitu orang yang tidak mempunyai tujuan untuk membunuh. Ayat 13 bahkan menunjukkan bahwa orang yang dibunuh, berarti telah diserahkan kepada orang lain oleh Allah. Orang itu dibunuh oleh karena tangan Allah, bukan karena orang Israel tersebut bermaksud untuk membunuhnya. Jadi, Allah tidak menyalahkan orang yang dengan tidak sengaja telah membunuh orang lain. Sebaliknya dari Bilangan 35 kita tahu bahwa terdapat kota-kota perlindungan pada tempat yang strategis di Tanah Kanaan, sehingga orang yang dengan tidak sengaja telah membunuh orang lain dapat melarikan diri ke sana. Dalam ketentuan yang dibuat untuk tempat perlindungan pada ayat 13, kita benar-benar melihat kemanisan hukum ilahi.
Selanjutnya ayat 14 mengatakan, “Tetapi apabila seseorang berlaku angkara terhadap sesamanya, hingga ia membunuhnya dengan tipu daya, maka engkau harus mengambil orang itu dari mezbah-Ku, supaya ia mati dibunuh.” Ini berarti, jika seorang Israel membunuh seseorang dengan tipu daya, maka ia tidak akan selamat, meskipun ia lari ke mezbah dan telah memegang tanduk mezbah. Orang yang sedemikian ini harus dijauhkan dari mezbah dan dihukum mati.
Peraturan-peraturan dalam pasal-pasal ini semuanya memiliki makna rohani. Sebagai contoh, kota perlindungan melambangkan Kristus. Dalam keinsanian-Nya, Kristus menjadi kota perlindungan bagi kita. Kita boleh melarikan diri ke dalam Dia sebagai kota perlindungan kita, karena dalam pandangan Allah, perkara-perkara yang kita lakukan mungkin dianggap salah. Sebab itu, kita mempunyai hak untuk melarikan diri ke dalam Kristus sebagai kota perlindungan kita.
2. Perintah Kelima
Dalam Keluaran 21:15 dan 17, kita memiliki uraian yang rinci mengenai perintah kelima, yaitu perintah untuk menghormati ayah dan ibu. Ayat 15 mengatakan, “Siapa yang memukul ayahnya atau ibunya, pastilah ia dihukum mati.” Mungkin kita tidak memukul atau mengutuki orang tua kita; tetapi ada sebagian orang yang dalam hati mengutuki orang tua mereka.
3. Perintah Kedelapan
Dalam Keluaran 22:1-6, terdapat banyak sekali uraian yang rinci mengenai perintah kedelapan, yaitu larangan untuk mencuri. Semua uraian yang rinci ini sangat manis. Ayat-ayat ini juga mewahyukan bahwa meskipun Allah itu agung, tetapi Ia sangat memperhatikan perkara-perkara yang rinci.
4. Perintah Kesepuluh
Uraian-uraian yang rinci mengenai perintah kesepuluh dalam Keluaran 22:7-15, yaitu larangan untuk mengingini barang milik orang lain, menunjukkan bahwa mengingini barang milik orang lain merupakan masalah ketamakan. Memang tidak mudah untuk bersikap bersih berkenaan dengan barang-barang berharga milik orang lain yang dititipkan kepada kita untuk sementara waktu. Saya tahu kasus tentang seseorang yang dititipi sebuah berlian. Orang itu menukar berlian yang asli tersebut dengan sebuah berlian tiruan ketika mengembalikan kepada pemiliknya. Motivasi dari penukaran yang sedemikian ini ialah ketamakan. Karena tamak, banyak anak kecil yang menukar buku pelajaran mereka dengan milik temannya di sekolah, atau menukar kue mereka di rumah. Mereka menginginkan buku yang lebih baru dan kue yang lebih besar. Inilah yang membuat mereka menukar barang-barang mereka tanpa sepengetahuan orang lain. Ini bukan hanya mengingini barang milik orang lain; tetapi juga mencuri. Pencurian ini disebabkan oleh ketamakan. Jika tidak ada keinginan untuk memiliki barang orang lain, tidak akan ada pencurian. Dalam ayat-ayat ini masalah mencuri dan mengingini barang milik orang lain disebutkan menjadi satu, karena kedua masalah tersebut sukar dipisahkan. Meskipun demikian, justru dalam peraturan yang berhubungan dengan pencurian dan keinginan untuk memiliki barang orang lain ini, roh dan rasanya pun sangat manis.
5. Perintah Ketujuh
Dalam Keluaran 22:16-17 dan 19, kita memiliki uraian yang rinci mengenai perintah ketujuh, yaitu larangan untuk berzina.
6. Perintah Kesembilan
Dalam Keluaran 23:1-3, 6-8, kita memiliki uraian yang rinci mengenai perintah kesembilan, yaitu perintah yang berkenaan dengan saksi dusta. Tanpa uraian-uraian tersebut, perintah ini mungkin kurang jelas bagi kita. Keluaran 23:1 dengan jelas mengatakan, “Janganlah engkau menyebarkan kabar bohong; janganlah engkau membantu orang yang bersalah dengan menjadi saksi yang tidak benar.”
7. Perintah Keempat
Mungkin kita mengira bahwa peraturan-peraturan dalam Keluaran 23:12 dan 13 berkenaan dengan hubungan antara manusia dengan Allah, bukan antara manusia dengan manusia lainnya. Tidak diragukan lagi, perintah keempat yang berhubungan dengan pemeliharaan hari Sabat, juga berhubungan dengan Allah. Tetapi uraian yang rinci mengenai perintah dalam Keluaran 23:12 dan 13 ini berhubungan dengan manusia. Ayat 12 mengatakan, “Enam harilah lamanya engkau melakukan pekerjaanmu, tetapi pada hari ketujuh haruslah engkau berhenti, supaya lembu dan keledaimu tidak bekerja dan supaya anak budakmu perempuan dan orang asing melepaskan lelah.” Di sini kita melihat bahwa pemeliharaan hari Sabat tidak hanya meliputi hubungan kita dengan Allah, tetapi juga meliputi hubungan kita dengan orang lain. Seorang Israel harus memperhatikan hari Sabat, sehingga anak budak perempuannya dan orang asing dapat beristirahat dan melepaskan lelah. Jadi, pemeliharaan hari Sabat berhubungan dengan Tuhan dan budak serta orang asing. Lagi pula, menurut ayat ini, Allah bahkan memperhatikan lembu dan keledai agar dapat beristirahat. Sekali lagi kita melihat kemanisan peraturan-peraturan Allah! Allah juga memperhatikan keledai dan lembu! Karena itu, pemeliharaan hari Sabat berhubungan dengan manusia dan binatang. Allah memperhatikan manusia dan binatang agar dapat beristirahat dan melepaskan lelah.
B. TAMBAHAN BAGI HUKUM TAURAT
1. Mengenai Budak Perempuan
Dalam Keluaran 21—23, kita juga memiliki tambahan bagi hukum Taurat. Dalam Keluaran 21:7-11, terdapat bagian tambahan mengenai budak perempuan.
2. Mengenai Menculik Orang
Keluaran 21:16 mengatakan, “Siapa yang menculik seorang manusia, baik ia telah menjualnya, baik orang itu masih terdapat padanya, ia pasti dihukum mati.” Saya telah menunjukkan bahwa peraturan ini tersisip di antara dua ayat yang berturut-turut membicarakan tentang memukul dan mengutuki orang tua. Apa alasan dari penyisipan ini? Pada zaman dahulu, seseorang menculik orang lain dengan maksud menjualnya untuk dijadikan budak. Mungkin saja mereka yang menculik dengan tujuan menjualnya adalah juga orang-orang yang tidak menghormati orang tua mereka sendiri. Ini berarti orang yang menculik orang lain adalah juga orang yang tidak menghormati orang tuanya. Memukul orang tua, mengutuki orang tua, dan menculik orang, semuanya adalah kejahatan yang patut mendapat hukuman mati. Perbuatan-perbuatannya berbeda, tetapi konsekuensinya sama.
Orang yang memukul atau mengutuki orang tuanya sendiri dan menculik orang berarti kekurangan cinta kasih insani. Mengapa seseorang sampai memukul atau mengutuki orang tuanya sendiri? Semua itu hanya karena ia tidak memiliki cinta kasih insani terhadap orang tuanya. Demikian pula, orang yang menculik orang lain tidak memiliki cinta kasih insani. Ini dapat dibuktikan bila kita memperhatikan fakta bahwa pada zaman dahulu terutama anak-anaklah yang diculik. Setiap orang yang melakukan perkara sedemikian ini adalah orang yang tanpa cinta kasih insani. Inilah alasannya, mengapa peraturan mengenai penculikan disisipkan di antara dua peraturan yang berhubungan dengan menghormati orang tua.
3. Mengenai Kerugian terhadap Binatang
atau Kerugian yang Disebabkan oleh Binatang
Dalam Keluaran 21:33-36, terdapat peraturan mengenai kerugian terhadap binatang atau kerugian yang disebabkan oleh binatang. Contohnya adalah peraturan yang berhubungan dengan lembu yang jatuh ke dalam sumur yang terbuka, dan lembu yang menanduk lembu lainnya.
4. Mengenai Orang Asing, Janda, Anak Yatim Piatu,
dan Orang Miskin
Keluaran 22:21 mengatakan, “Janganlah kautindas atau kautekan seorang orang asing, sebab kamu pun dahulu adalah orang asing di tanah Mesir.” Dalam ayat 22-24, terdapat peraturan tentang janda dan anak yatim piatu. Ayat 22 mengatakan, “Seorang janda atau anak yatim janganlah kamu tindas.” Menurut Keluaran 22:25-26, seorang Israel tidak boleh berlaku sebagai penagih hutang (lintah darat) terhadap orang miskin. Ayat 25 mengatakan, “Jika engkau meminjamkan uang kepada salah seorang dari umat-Ku, orang yang miskin di antaramu, maka janganlah engkau berlaku sebagai seorang penagih hutang terhadap dia: janganlah kamu bebankan bunga uang kepadanya.” Semua peraturan ini penuh dengan kemanisan. Roh dalam hukum Allah adalah lembut dan menjamah perasaan, penuh perhatian terhadap orang asing, janda, anak yatim piatu, dan orang-orang miskin. Keluaran 23:9 mengatakan tentang orang asing, “Orang asing janganlah kamu tekan, karena kamu sendiri telah mengenal keadaan jiwa orang asing, sebab kamu pun dahulu adalah orang asing di tanah Mesir.” Seandainya saya menjadi orang asing di antara orang-orang Israel, saya pasti akan benar-benar terjamah oleh peraturan yang sedemikian ini. Mungkin saya akan mencucurkan air mata karena merasakan kemanisan dan kelembutan hukum Allah. Orang asing akan berkata, “Meskipun aku jauh dari tanah airku dan menjadi orang asing di antara umat ini, tetapi ada suatu peraturan yang memperhatikan aku. Alangkah manisnya!” Peraturan-peraturan mengenai janda, anak yatim piatu, dan orang miskin tersebut, juga benar-benar menjamah perasaan.
5. Mengenai Menolong Musuh
Sebagaimana telah saya tunjukkan, dalam Keluaran 23:4-5 terdapat peraturan mengenai menolong musuh. Ini merupakan contoh yang sangat baik tentang kemanisan hukum Allah.
6. Mengenai Pemeliharaan Tahun Sabat untuk Kepentingan Orang Miskin
Keluaran 23:10-11 mengatakan, “Enam tahunlah lamanya engkau menabur di tanahmu dan mengumpulkan hasilnya, tetapi pada tahun ketujuh haruslah engkau membiarkannya dan meninggalkannya begitu saja, supaya orang miskin di antara bangsamu dapat makan, dan apa yang ditinggalkan mereka haruslah dibiarkan dimakan binatang hutan. Demikian juga kaulakukan dengan kebun anggurmu dan kebun zaitunmu.” Di sini kita membaca bahwa harus ada tahun Sabat (istirahat) untuk kepentingan orang miskin. Pada tahun ketujuh, orang-orang Israel tidak menggarap tanah mereka. Mereka tidak boleh menggarap tanah mereka. Mereka tidak boleh membajak, menabur, atau memungut hasil. Meskipun demikian, tanah mereka tetap menghasilkan buah. Tetapi hasil tersebut adalah untuk orang miskin. Tidak diragukan, orang-orang miskin di antara umat Allah pasti benar-benar terjamah oleh peraturan ini, bahkan sampai mencucurkan air mata karena terjamah oleh kelembutan dan kemanisan hukum Allah tersebut.
Peraturan mengenai tahun Sabat ini merupakan suatu ujian bagi orang-orang Israel. Pertama-tama, peraturan ini merupakan ujian bagi mereka yang biasanya mengggarap tanah. Lagi pula, peraturan ini juga merupakan ujian bagi orang-orang yang menjadi tetangga. Jika seseorang membiarkan tanahnya dan meninggalkannya begitu saja, tetangganya mungkin akan mengambil hasil tanah itu. Dalam ketamakannya, orang yang menjadi tetangga tersebut mungkin tidak membiarkan hasil tanah itu diambil orang yang benar-benar miskin.
Dalam Kitab Rut, kita melihat bahwa menurut peraturan hukum Taurat, orang-orang miskin diizinkan memungut bulir-bulir jelai pada waktu penuaian. Allah memerintahkan umat-Nya agar pada waktu menuai, mereka meninggalkan bulir-bulir jelai di ladang untuk faedah orang-orang miskin. Prinsip penuaian ini sama dengan remah-remah di bawah meja dalam Matius 15, dan hasil ladang pada tahun ketujuh dalam Keluaran 23. Remah-remah dan hasil ladang pada tahun ketujuh tersebut melambangkan Kristus yang adalah untuk orang-orang dosa yang miskin.
II. MENGENAI HUBUNGAN MANUSIA DENGAN ALLAH
A. URAIAN YANG RINCI MENGENAI
SEPULUH PERINTAH
Menurut perintah pertama dan kedua, manusia tidak boleh memiliki Allah lain dan beribadah kepada berhala. Dalam Keluaran 22:18, 20 dan 23:13 pada perintah-perintah ini ditambahkan uraian-uraian yang rinci. Menurut Keluaran 22:18, “Seorang ahli sihir perempuan janganlah engkau biarkan hidup.” Tidak boleh ada praktek sihir untuk berkontak dengan setan. Selanjutnya ayat 20 mengatakan, “Siapa yang mempersembahkan kurban kepada allah kecuali kepada TUHAN sendiri, haruslah ia ditumpas.” Mempersembahkan kurban kepada berhala benar-benar tidak diperbolehkan. Lagi pula, menurut Keluaran 23:13, kita bahkan tidak boleh menyebutkan nama Allah lain: “Dalam segala hal yang Kufirmankan kepadamu haruslah kamu berawas-awas; nama allah lain janganlah kamu panggil, janganlah nama itu kedengaran dari mulutmu.”
B. TAMBAHAN BAGI HUKUM TAURAT
1. Mengenai Taat kepada Allah dan Kekuasaan Allah
Tambahan pertama bagi hukum Taurat mengenai hubungan antara manusia dengan Allah, ialah manusia harus taat kepada Allah dan kekuasaan Allah. Umat Allah harus taat kepada wakil kekuasaan-Nya, yaitu pemerintah. Keluaran 22:28 mengatakan, “Janganlah engkau mengutuki Allah, dan janganlah engkau menyumpahi seorang pemuka di tengah-tengah bangsamu.”
2. Mengenai Mempersembahkan Kurban kepada Allah
Menurut Keluaran 22:29-30, semua hasil ladang yang pertama dan anak sulung adalah milik Tuhan: “Janganlah lalai mempersembahkan hasil gandummu dan hasil anggur-mu. Yang sulung dari anak-anakmu lelaki haruslah kau persembahkan kepada-Ku. Demikian juga harus kauperbuat dengan lembu sapimu dan dengan kambing dombamu.”
Keluaran 23:18 mengatakan, “Janganlah kaupersembahkan darah kurban sembelihan yang kepada-Ku beserta sesuatu yang beragi, dan janganlah lemak kurban hari raya-Ku bermalam sampai pagi.” Darah di sini melambangkan penebusan. Ini menunjukkan bahwa sebagai orang-orang yang telah ditebus, kita harus tidak beragi. Kita tidak boleh mencampurkan penebusan Kristus dengan ragi, yaitu dengan sesuatu yang penuh dosa.
Selanjutnya, lemak kurban tidak boleh tersisa sampai pagi. Ini menunjukkan bahwa kita tidak boleh berusaha menyimpan lama kenikmatan rohani hari ini. Kenikmatan itu tidak dapat disimpan sampai esok hari.
Dalam Keluaran 23:19, kita membaca perintah demikian, “Janganlah kaumasak anak kambing dalam susu induknya.” Peraturan ini menunjukkan bahwa sebagai Pemberi hukum Taurat, Allah adalah lembut, ramah, dan penuh kasih.
3. Mengenai Menjadi Orang-orang Kudus di Hadapan Allah
Keluaran 22:31 mengatakan, “Haruslah kamu menjadi orang-orang kudus bagi-Ku.” Orang yang kudus adalah orang yang seperti Allah. Allah itu kudus, dan kita sebagai umat-Nya juga harus kudus.
4. Mengenai Mengadakan Perayaan bagi Allah
Dalam Keluaran 23:14-17, terdapat peraturan mengenai mengadakan perayaan bagi Allah. Hubungan yang terbesar dan tertinggi yang dapat diperoleh oleh manusia dengan Allah ialah mengadakan perayaan bagi Allah dan bersama Allah.
III. RINGKASAN
Sekarang saya hendak memberikan ringkasan dari berbagai peraturan hukum Taurat. Peraturan-peraturan ini menghendaki kita melindungi hayat manusia, menghormati orang tua, memelihara kekudusan pernikahan, tulus, adil, jujur, setia, dapat dipercaya dan ramah, memperhatikan orang miskin, tidak tamak, suka memberi, menjadi orang yang kudus di hadapan Allah, taat kepada Allah dan kekuasaan Allah, serta melayani Allah melalui mempersembahkan kurban, sehingga kita dapat merayakan hari raya Roti Tidak Beragi bersama Dia secara teratur.
Peraturan-peraturan dalam pasal-pasal ini menghendaki kita melindungi hayat manusia. Hayat manusia ialah sesuatu yang sangat berharga dalam pandangan Allah. Kita tidak boleh merusak manusia. Allah bahkan tidak akan membiarkan seekor lembu pun pergi tanpa dihukum jika sampai membinasakan hayat seseorang. Hayat manusia diciptakan untuk menggenapkan tujuan kekal Allah. Karena alasan inilah, bagi Allah tidak ada sesuatu yang lebih berharga daripada hayat manusia. Karena itu, Allah menghendaki kita sedapat mungkin dalam segala aspek melindungi hayat manusia.
Peraturan-peraturan ilahi ini juga menghendaki kita menghormati orang tua kita, karena orang tua kita mewakili Allah sebagai sumber hayat manusia. Menghormati orang tua kita berarti menghormati sumber hayat manusia. Inilah alasannya, mengapa perintah kelima yang berkenaan dengan menghormati orang tua dikelompokkan dalam keempat perintah pertama, yaitu perintah-perintah yang berhubungan dengan Allah.
Selanjutnya, karena pernikahan adalah untuk kelanjutan hayat manusia dan pembiakannya, maka pernikahan harus dipelihara kekudusannya. Memelihara hayat manusia, menghormati orang tua, dan memelihara kekudusan pernikahan, adalah sesuai dengan rencana Allah.
Peraturan-peraturan dalam pasal-pasal ini meliputi kebajikan-kebajikan insani yaitu tulus, adil, jujur, setia, dapat dipercaya, ramah, dan memperhatikan orang miskin. Peraturan-peraturan ini juga menyatakan bahwa kita tidak seharusnya tamak; sebaliknya harus memiliki kemauan untuk memberi.
Jika kita melindungi hayat insani, menghormati orang tua, memelihara kekudusan pernikahan, dan memiliki kebajikan-kebajikan insani seperti yang tercantum dalam peraturan-peraturan tersebut, maka kita akan menjadi orang-orang kudus yang taat kepada Allah dan wakil kekuasaan-Nya, serta beribadah kepada Dia melalui kurban yang melambangkan Kristus. Hasil terakhir ialah kita mengadakan perayaan bersama Allah secara teratur.
Keluaran 23:14-17 membicarakan tentang hari raya tahunan: hari raya Roti Tidak Beragi, hari raya Menuai, dan hari raya Pengumpulan Hasil. Hari raya Roti Tidak Beragi merupakan kelanjutan dari hari raya Paskah. Hari raya Menuai dan hari raya Pengumpulan Hasil disebut hari raya Pentakosta dan Pondok Daun.
Untuk mengadakan perayaan bersama Allah, umat Allah harus tanpa ragi, dan harus menabur agar memperoleh tuaian. Jika kita memelihara peraturan-peraturan tersebut dan memiliki kebajikan-kebajikan insani, maka kita akan menjadi orang-orang kudus yang taat kepada Allah dan beribadah kepada Dia dengan Kristus, serta menikmati Kristus bersama Allah dalam hadirat Allah. Inilah yang dimaksud dengan mengadakan perayaan bersama Allah dengan menikmati Kristus. Kristus ialah hari raya Roti Tidak Beragi, hari raya Menuai, dan hari raya Pemungutan Hasil kita. Oleh karena itu, perlambangan peraturan-peraturan dalam pasal-pasal ini penuh dengan kenikmatan atas Kristus bersama Allah.
Sebagai orang yang percaya kepada Kristus, kehidupan sehari-hari kita harus tanpa ragi. Dalam 1Korintus 5, Paulus dengan jelas memberi tahu kita, agar kita mengadakan perayaan tanpa ragi, dan merayakannya dengan Kristus sebagai roti yang tidak beragi untuk menjadi hayat dan kehidupan kita sehari-hari. Kemudian kita akan dapat mempertumbuhkan sesuatu dari Kristus, dan memungut Kristus, sehingga kita dapat menikmati Kristus bersama Allah.
Aspek yang paling penting dari peraturan-peraturan dalam tiga pasal Kitab Keluaran ini ialah dalam peraturan-peraturan tersebut, Kristus dilambangkan secara tersembunyi. Dengan memelihara peraturan-peraturan tersebut, kita menjadi orang-orang kudus di hadapan Allah dan menikmati Kristus. Jadi, makna akhir dari peraturan-peraturan tersebut ialah kita dapat menikmati Kristus bersama Allah, di hadapan Allah bersama Allah makan minum Kristus.