PERATURAN PERTAMA HUKUM TAURAT MENGENAI HUBUNGAN ANTAR SESAMA MANUSIA
Pembacaan Alkitab:
Kel. 21:1-6; Flp. 2:7-8; Yes. 50:4-5; Mzm. 40:6-8; Mat. 20:28
Keluaran 21—23 mencakup banyak peraturan. Dalam berita ini, kita akan memperhatikan peraturan pertama mengenai hubungan antar sesama manusia (Kel. 21:1-6).
Dalam Perjanjian Lama, peraturan-peraturan merupakan tambahan dan uraian terperinci dari Sepuluh Perintah. Hampir semua peraturan yang ada dalam Keluaran 21—23 berhubungan dengan manusia. Tetapi sebagaimana telah kita tunjukkan, dalam Keluaran 20:22-26, terdapat peraturan mengenai cara beribadah kepada Allah. Peraturan ini merupakan peraturan khusus, yaitu peraturan yang luar biasa, sebab peraturan ini bukan berkenaan dengan hubungan antar manusia, melainkan hubungan antara manusia dengan Allah. Tidak diragukan lagi bahwa Keluaran 20:22-26 merupakan tambahan bagi perintah kedua dan ketiga, juga merupakan uraian rinci mengenai perintah-perintah ini. Perintah kedua dan ketiga tidak memberi tahu kita bagaimana harus beribadah kepada Allah. Tetapi dalam Keluaran 20:22-26 kita melihat bahwa kita harus beribadah kepada Allah melalui mezbah dan dengan kurban. Mezbah melambangkan salib, dan kurban melambangkan Kristus. Jadi, kita harus beribadah kepada Allah melalui salib dan dengan Kristus.
Urutan peraturan-peraturan mengenai hubungan antar sesama manusia tersebut tidaklah lazim, sebab peraturan yang pertama adalah berkenaan dengan hubungan antara tuan dengan hamba. Seandainya kita yang menulis bagian Alkitab ini, mungkin pertama-tama kita akan menaruh peraturan lainnya; terlebih dulu menulis peraturan yang berkenaan dengan anak dan orang tua. Mungkin kita akan mengikuti urutan Paulus dalam Kitab Efesus dan Kolose, yang membicarakan tentang istri, suami, anak-anak, dan orang tua, sebelum membicarakan tentang hamba dan tuan. Di sini merupakan hal yang sangat aneh dan sangat berarti, sebab di antara semua peraturan dalam tiga pasal ini, peraturan yang disebutkan lebih dulu adalah peraturan yang berhubungan dengan perhambaan. Kita perlu mengetahui penyebabnya.
I. ROH PERATURAN YANG PERTAMA
Salah satu cara terbaik untuk memahami Alkitab ialah berusaha untuk menjamah roh dalam bagian firman tersebut. Mungkin kita akan bertanya, apa yang dimaksud dengan roh peraturan dalam Keluaran 21:1-6 itu? Memang tidak salah jika kita mengatakan bahwa roh peraturan itu ialah kasih dan taat. Namun, roh di sini masih mencakup hal-hal lain, yaitu prasyarat kasih dan taat.
Bagaimana kita dapat mengasihi dan taat? Filipi 2:7 dan 8 bisa membantu kita untuk menjawab pertanyaan ini. Menurut perkataan Paulus dalam ayat-ayat ini, Tuhan Yesus “telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.” Pertama-tama Tuhan Yesus mengosongkan diri-Nya sendiri, kemudian Ia merendahkan diri-Nya. Dalam Filipi 2, Kristus ditaruh di depan kita sebagai teladan kita. Sebagai teladan bagi kaum beriman, Ia merupakan model kehidupan manusiawi yang tepat. Teladan ini bukanlah orang yang mempunyai kedudukan tinggi dalam masyarakat; melainkan seorang hamba. Meskipun Kristus setara dengan Allah dan memiliki kedudukan tertinggi dalam alam semesta ini, tetapi Ia menjadi orang yang berada pada tingkat terendah dalam masyarakat. Dia yang setara dengan Allah tidak hanya menjadi seorang manusia, bahkan menjadi seorang hamba. Ia mengosongkan dan merendahkan diri-Nya sendiri. Karena itu, siapa saja yang ingin mengikuti teladan ini harus mengosongkan dan merendahkan dirinya sendiri.
Untuk memelihara peraturan-peraturan hukum Taurat, kita harus mengambil rupa seorang hamba. Tidak ada suatu bangsa pun yang semua rakyatnya mau memelihara hukum. Sebaliknya banyak yang berusaha menghindarkan diri dari hukum, bahkan banyak yang menyewa pengacara untuk membantu mereka melaksanakannya. Karena orang-orang Israel tidak mau memelihara hukum, maka ketika Allah memberikan Sepuluh Perintah, Dia membicarakan tentang orang-orang yang mengasihi-Nya dan mengatakan bahwa Ia akan menunjukkan kasih setia kepada mereka yang mengasihi Dia (Kel. 20:6). Ini menunjukkan bahwa kita tidak dapat memelihara perintah-perintah Allah jika kita tidak mengasihi Dia. Demikian juga, ada satu prasyarat untuk dapat memelihara semua peraturan hukum Taurat rela menjadi hamba. Hanya orang yang mau menjadi hamba yang dapat memenuhi semua peraturan hukum Taurat. Seorang hamba tidak menuntut hak-haknya sendiri; ia hanya tahu melayani dan berkorban, ia tidak memperhatikan kepentingannya sendiri. Seorang hamba harus selalu memperhatikan orang lain. Roh hamba ini ialah roh peraturan-peraturan dalam Keluaran 21—23. Mereka yang bermaksud memelihara peraturan-peraturan yang diterangkan dalam pasal-pasal ini, pertama-tama harus menjadi hamba.
Prinsip ini juga berlaku bagi kehidupan kita sebagai orang Kristen hari ini. Galatia 5:13 mengatakan bahwa kita dipanggil untuk merdeka, tetapi kita harus melayani seorang akan yang lain dengan kasih. Jika kita ingin menjadi seorang suami, istri, atau orang tua yang baik, kita harus menjadi seorang hamba. Ini berarti seorang ayah harus menjadi seorang hamba dalam hubungannya dengan anak-anaknya. Hanya dengan demikianlah ia baru bisa menjadi seorang ayah yang baik.
Untuk menjadi seorang hamba, kita harus memiliki roh yang mau berkorban. Seorang hamba adalah orang yang tidak menuntut hak-haknya sendiri; sebaliknya, selalu mau melayani orang lain dan mengorbankan dirinya sendiri untuk orang lain. Seandainya semua orang di Amerika Serikat ini memiliki roh yang sedemikian ini, maka kehidupan di negeri ini pasti akan menjadi surga di bumi. Di sini tidak akan diperlukan lagi pengacara, sebab tidak ada orang yang memperjuangkan hak-haknya. Alasan orang-orang bertengkar satu sama lain adalah karena mereka hanya memperhatikan kepentingan-kepentingan dan hak-hak mereka sendiri. Betapa akan berbedanya jika semua orang tidak memperhatikan kepentingan mereka sendiri dan menjadi hamba-hamba yang mengorbankan diri sendiri dan melayani orang lain!
Apakah Anda merasakan roh yang mendasari peraturan-peraturan dalam pasal-pasal ini? Roh yang memenuhi semua peraturan ini ialah roh pelayanan dan pengorbanan. Jika orang-orang Israel tidak memiliki roh semacam ini, tidak akan ada jalan bagi mereka untuk memelihara peraturan-peraturan tersebut. Tetapi jika mereka mau mengosongkan diri, merendahkan diri, mengorbankan hak-hak mereka dan melayani orang lain, mereka akan dapat memelihara peraturan-peraturan itu. Kemudian mereka akan hidup bagi orang lain, dan bukan bagi diri mereka sendiri.
Baik Tuhan Yesus maupun Rasul Paulus menekankan fakta bahwa pemeliharaan hukum Taurat ialah masalah kasih. Ketika Tuhan Yesus ditanyai hukum mana yang paling utama, Ia menjawab, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu” (Mrk. 12:30). Dalam Roma 13:8 dan 10 Paulus berkata, “Siapa saja yang mengasihi sesamanya manusia, ia sudah memenuhi hukum Taurat”, karena, “kasih adalah kegenapan hukum Taurat.” Dalam Galatia 5:14 Paulus menyatakan, “Sebab seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini, yaitu: ‘Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!’” Bagaimana kita dapat mengasihi orang lain jika kita mempertahankan kedudukan kita dan memperjuangkan hak-hak dan kepentingan kita? Kalau kita bertindak demikian, berarti kita hanya mengasihi diri kita sendiri. Kemudian sebagai pengganti dari memelihara peraturan-peraturan hukum Taurat, kita bahkan merusak semua peraturan tersebut. Untuk memelihara peraturan-peraturan tersebut, kita harus mengosongkan diri, mengambil posisi yang terendah, dan menganggap diri kita bukan apa-apa. Kita harus mau mengorbankan kedudukan, hak, dan kepentingan kita sendiri. Inilah yang dimaksud dengan menjadi seorang hamba, yaitu orang yang tidak mengetahui apa-apa selain melayani orang lain dan mengorbankan dirinya sendiri bagi mereka.
Jika kita bisa membedakan roh yang ada di balik semua peraturan dalam Keluaran 21—23, kita akan memahami mengapa pada permulaan pasal-pasal ini ditekankan perhambaan. Peraturan Allah benar-benar berbeda dengan peraturan manusia. Pada peraturan manusiawi tidak ada tempat bagi kerendahan hati dan kasih; tetapi prasyarat untuk memenuhi peraturan ilahi ialah mengosongkan diri, merendahkan diri, tidak menuntut apa pun untuk diri sendiri, dan mengorbankan diri untuk melayani orang lain.
II. LAMBANG KRISTUS
Banyak guru Alkitab yang menunjukkan bahwa hamba dalam Keluaran 21:1-6 merupakan lambang dari Tuhan Yesus. Saya setuju. Hamba dalam ayat-ayat ini memang melambangkan Kristus. Tuhan Yesus hidup di bumi ini sebagai hamba. Jadi sebagai standar kehidupan manusiawi yang tertinggi, dalam hidup-Nya Tuhan telah memenuhi permintaan peraturan pertama dari hukum Taurat yang berkenaan dengan hubungan antar manusia.
A. MEMILIKI TELINGA YANG TERBUKA
Menurut Keluaran 21, seorang hamba yang mengasihi tuannya dan mau tetap melayaninya, dibawa ke tiang pintu dan telinganya ditusuk dengan penusuk (ayat 5-6). Ini menunjukkan bahwa telinga seorang hamba harus terbuka untuk mendengar kata-kata tuannya. Dua bagian dalam Perjanjian Lama yang membicarakan tentang Kristus sebagai hamba, menyebutkan telinga Tuhan. Dalam Mazmur 40:7, kita memiliki perkataan Tuhan kepada Allah: “Engkau tidak berkenan kepada kurban sembelihan dan kurban sajian, tetapi Engkau telah membuka telingaku.” Di sini kita melihat bahwa apa yang Allah kehendaki bukanlah kurban atau persembahan, melainkan telinga yang terbuka kepada Dia. Allah membuka telinga Tuhan Yesus, sehingga Dia dapat melaksanakan kehendak Allah. Berbicara tentang Kristus, Yesaya 50:4-5 mengatakan, “Tuhan ALLAH telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu. Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid. Tuhan ALLAH telah membuka telingaku . . .” Sebagai hamba Allah, Tuhan Yesus bukan diberi lidah seorang guru, melainkan lidah seorang murid. Ia juga berkata bahwa Allah membuka telinga-Nya, sehingga Ia dapat mendengar seperti seorang murid dan mendengarkan firman Allah. Ini mewahyukan bahwa jika kita tidak menjadi murid, kita tidak dapat berbicara bagi Allah. Sebelum kita berbicara bagi Allah, kita harus terlebih dulu diajar oleh Dia.
B. TAAT SAMPAI MATI
Dalam Yohanes 14:31 Tuhan Yesus berkata, “Tetapi dunia harus tahu bahwa Aku mengasihi Bapa dan bahwa Aku melakukan segala sesuatu seperti yang diperintahkan Bapa kepada-Ku.” Karena Tuhan Yesus mengasihi Allah Bapa, maka Ia tidak hanya memelihara perkataan Bapa sebagai seorang putra, lebih-lebih sebagai seorang hamba. Allah menghendaki Tuhan Yesus mati di kayu salib untuk menebus umat pilihan Allah. Bapa memberikan perintah ini kepada Tuhan Yesus. Karena kasih-Nya kepada Bapa, Tuhan Yesus menaati-Nya. Kematian-Nya di kayu salib adalah tindakan karena taat. Paulus mengatakan bahwa Kristus “taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Flp. 2:8). Karena taat kepada Allah, Kristus mati dalam cara yang memalukan. Ia mati seperti seorang penjahat, yang dihukum melalui penyaliban sesuai dengan cara orang Romawi. Hanya seorang hambalah yang mau mati secara demikian.
C. MENJADIKAN KRISTUS SEBAGAI TELADAN KITA
Alkitab mewahyukan bahwa sebagai kaum beriman dalam Kristus, kita tidak hanya ciptaan Allah, tetapi juga putra-putra Allah. Dalam ciptaan lama, kita adalah ciptaan Allah; tetapi dalam ciptaan baru, kita telah menjadi putraputra Allah. Namun jika kita masih mengukuhi kedudukan kita sebagai makhluk ciptaan dan putra, kita tidak akan dapat memelihara firman Allah. Untuk memelihara firman-Nya, kita harus menghampakan dan merendahkan diri kita sendiri, serta mengesampingkan kedudukan kita sebagai makhluk ciptaan dan putra. Selanjutnya kita harus menjadi hamba dengan Allah sebagai Tuan kita. Menurut lambang dalam Keluaran 21, Kristus adalah hamba, dan Allah adalah Tuan. Jika kita mau menjadikan Kristus sebagai teladan kita, kita harus belajar menjadi seorang hamba, yaitu orang yang mengorbankan segala sesuatu untuk orang lain.
Rasul Paulus mengikuti Tuhan Yesus menjadi seorang hamba. Ia memulai Kitab Roma dengan kata-kata demikian: “Dari Paulus, hamba Kristus Yesus.” Dalam Titus 1:1, ia menyatakan dirinya sebagai “hamba Allah”. Sebagai hamba Kristus dan Allah, Paulus mau mengosongkan diri, merendahkan diri, dan mengorbankan kedudukan, serta haknya. Dalam hal ini ia berjalan mengikuti langkah Tuhan Yesus. Tuhan Yesus adalah hamba Allah, dan Paulus juga hamba yang sedemikian ini oleh hayat pelayanan dan pengorbanan Kristus.
Sekali lagi saya tekankan, peraturan mengenai hamba ini ditulis lebih dulu, karena jika kita tidak memiliki roh seorang hamba, kita tidak dapat memelihara peraturan-peraturan lainnya, untuk memiliki kehidupan insani yang tepat di hadapan Allah. Sebagai contoh, Keluaran 23:4 mengatakan, jika orang Israel melihat lembu musuhnya tersesat, ia harus segera mengembalikannya. Selanjutnya, jika orang Israel melihat keledai musuhnya rebah karena berat badannya, maka ia harus segera menolongnya (Kel. 23:5).
Jika orang Israel tersebut memiliki roh dan sikap seorang hamba, maka ia tentu mau berbuat demikian. Ia akan berkata kepada dirinya sendiri, “Aku adalah seorang hamba yang melayani Allah, Tuanku. Aku mengasihi Tuanku, dan aku mengasihi umat-Nya. Meskipun orang ini membenciku dan memusuhiku, tetapi ia adalah umat Allah. Aku harus memenuhi kewajibanku sebagai seorang hamba dan memperhatikan ternaknya.” Tetapi jika orang Israel tersebut tidak memiliki roh seorang hamba, mungkin ia akan merasa senang melihat bahaya yang dialami oleh ternak musuhnya. Mungkin ia akan menanggapi kejadian itu sebagai cara Allah untuk menghakimi dan menghukum musuhnya. Sikap yang sedemikian ini sangat jauh dari sikap seorang hamba.
Jika kita ingin memelihara peraturan-peraturan ilahi, kita harus menjadi hamba. Hukum Allah menghendaki demikian. Mereka yang tidak mau menjadi hamba, tidak dapat memelihara hukum Allah. Sebagai orang yang menjadikan diri-Nya hamba, Tuhan Yesus mengajar murid-murid-Nya yang berusaha untuk menjadi terkemuka agar mengambil kedudukan seorang hamba. Ia berkata kepada mereka, “Siapa saja yang ingin menjadi yang pertama di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Mat. 20:27-28).
III. KASIH ADALAH DASAR PELAYANAN
Menurut Keluaran 21:2, seorang budak Ibrani harus dibebaskan setelah melayani tuannya selama enam tahun. Jika ia memperoleh seorang istri atau anak selama ia masih sebagai budak, maka istri dan anak-anaknya tetap menjadi kepunyaan tuannya, dan budak itu harus “keluar seorang diri” (ayat 4). Tetapi jika budak itu dengan sungguh-sungguh berkata, “Aku cinta kepada tuanku, kepada istriku dan kepada anak-anakku, aku tidak mau keluar sebagai orang merdeka” (ayat 5). Di sini kita melihat bahwa terus menjadi hamba bukan merupakan permintaan yang sah; melainkan masalah kasih. Karena hamba itu mengasihi tuannya, istrinya, dan anak-anaknya, ia tidak mau keluar sebagai orang merdeka. Sebaliknya, ia mau melayani tuannya untuk selama-lamanya. Kasih merupakan dasar pelayanan budak itu untuk seterusnya.
Sering orang mengatakan bahwa kasih itu membutakan orang. Sesungguhnya, jika kita mau mengasihi orang lain, kita harus membutakan diri terhadap mereka. Tetapi diri kita sendiri harus berkorban. Kasih memerlukan pengorbanan; tanpa pengorbanan, tidak akan ada kasih. Tuhan Yesus mengasihi kita dengan jalan menjadi kurban bagi kita. Efesus 5:2 mengatakan, “hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan kurban yang harum bagi Allah.” Kristus memberikan diri-Nya bagi kita, mati seperti seorang penjahat di kayu salib. Ini membuktikan bahwa kasih memerlukan pengorbanan.
Jika seorang saudara tidak mau mengorbankan dirinya sendiri, ia tidak akan dapat mengasihi istrinya. Demikian pula, para orang tua harus mau berkorban bagi anak-anak mereka jika mereka mengasihi anak-anak mereka. Tidak ada kasih tanpa pengorbanan.
Menurut Keluaran 21:5, seorang hamba mungkin saja tidak mau keluar sebagai orang merdeka. Karena kasihnya terhadap tuan, istri, dan anak-anaknya, ia lebih senang tinggal di bawah perhambaan. Ini bukan masalah permintaan hukum Taurat, melainkan timbul dari kasih yang spontan.
Tuhan Yesus mengasihi Allah, gereja, dan seluruh umat-Nya. Allah adalah Tuan-Nya, gereja adalah istri-Nya, dan umat-Nya adalah anak-anak-Nya. Perjanjian Baru mewahyukan ketiga kasih Tuhan Yesus kepada Bapa, gereja, dan kaum beriman ini. Menurut Yohanes 14:31 Tuhan mengasihi Bapa; menurut Efesus 5:25 Kristus mengasihi gereja; dan menurut Galatia 2:20 dan Efesus 5:2, Kristus mengasihi semua orang beriman. Oleh dorongan kasih yang sedemikian inilah Ia mau menjadi seorang hamba. Kasihlah yang merupakan motivasi dan prasyarat untuk menjadi seorang hamba.
IV. KEDUDUKAN HAMBA
Keluaran 21:6 membicarakan tentang hamba yang dibawa ke pintu atau tiang pintu. Pada zaman dulu, para hamba harus siap di tiang pintu untuk menunggu perintah tuannya. Mereka tidak berdasarkan diri sendiri mengerjakan sesuatu, mereka hanya bertindak menurut perkataan tuannya. Hari ini, sebagai hamba Kristus, kita juga harus berada di tiang pintu. Selanjutnya, dalam Keluaran 21:6 dikatakan bahwa tuan dari hamba itu harus menusuk telinga hamba tersebut dengan sebuah penusuk. Ini menunjukkan bahwa telinga hamba itu dibuka untuk mendengarkan tuannya.
Banyak orang Kristen yang melayani Allah, tetapi mereka tidak berdiri di tiang pintu, dan telinga mereka belum ditusuk dengan penusuk. Mereka bertindak menurut kemauan mereka sendiri, bukan menurut apa yang mereka dengar dari Majikan. Mereka melakukan banyak perkara menurut konsepsi, kemauan, dan tujuan mereka sendiri.
V. HAMBA KRISTUS DALAM HIDUP GEREJA
Sebagai orang-orang yang percaya kepada Kristus, kita harus menjadi para hamba-Nya. Kita harus berkata, “Ya Tuhan, aku mengasihi-Mu. Meskipun aku memiliki kebebasan untuk merdeka, tetapi aku tidak mau pergi. Aku mengasihi-Mu, aku mengasihi gereja-Mu, dan aku mengasihi anak-anak-Mu.” Di satu pihak, kita boleh bersaksi betapa menyenangkan dan mulianya hidup gereja (church life) itu. Di pihak lain, dalam hidup gereja, kita semua harus menjadi hamba. Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama menunjukkan bahwa umat Allah memerlukan roh seorang hamba.
Para penatua dalam gereja perlu menyadari bahwa jika mereka tidak mau menjadi hamba, mereka tidak akan dapat menjadi penatua yang baik. Setiap penatua harus menjadi seorang hamba. Inilah alasannya mengapa Tuhan Yesus mengajar murid-murid-Nya agar mereka jangan meninggikan diri, tetapi sebaliknya merendahkan diri dan menjadi hamba. Dalam hidup gereja tidak ada kedudukan. Kita semua adalah saudara, dan kita harus melayani sebagai hamba.
Dulu saya telah menyampaikan ratusan berita mengenai hayat, Roh itu, Kristus, dan gereja. Tetapi jika kita hendak menerapkan berita-berita itu, kita harus menjadi hamba. Mereka yang tidak mau memiliki roh hamba, tidak akan bisa secara riil memasuki berita-berita ini. Dulu orang-orang tertentu bersaksi bahwa mereka mengasihi gereja dan mau mempersembahkan diri mereka kepada gereja. Tetapi akhirnya orang-orang ini meninggalkan hidup gereja, dan beberapa orang di antara mereka bahkan menentang gereja. Dalam batin mereka, mereka memiliki ambisi untuk memperoleh kedudukan. Karena ambisi itu tidak dapat terpenuhi dalam hidup gereja, mereka lalu meninggalkan gereja. Hanya mereka yang mau menjadi hambalah yang dapat secara permanen tinggal dalam hidup gereja. Tidak peduli bagaimana saya diperlakukan oleh kaum beriman, saya tidak mempunyai pilihan lain, kecuali tetap tinggal dalam hidup gereja. Gereja adalah rumah Bapa dan semua anak-Nya. Saya hanyalah satu di antara hamba-hamba-Nya, mengasihi Dia, mengasihi gereja, dan mengasihi anak-anak-Nya. Setelah saya menyampaikan sedemikian banyaknya berita mengenai hayat, Roh itu, Kristus, dan gereja, saya hendak menyampaikan berita mengenai menjadi hamba ini. Firman ini adalah untuk kita semua.
VI. KASIH DAN TAAT
Jika kita memiliki roh hamba dan kasih hamba, mudahlah bagi kita untuk taat. Kasih selalu diikuti dengan ketaatan. Ini dapat digambarkan dengan hubungan antara orang tua dengan anak-anak mereka. Dalam beberapa hal, orang tua yang baik adakalanya harus menaati anak-anaknya. Sering kali orang tua yang baik menaati anak-anak mereka lebih dulu daripada anak-anak mereka menaati mereka. Butir utama di sini ialah kasih menghasilkan ketaatan. Hanya hambalah yang dapat taat. Orang tua yang baik adalah orang yang memiliki kasih dan ketaatan seorang hamba. Seorang ibu yang mengasihi anak-anaknya, tentu mau menjadi seorang hamba dan melakukan segala sesuatu untuk mereka. Mengapa orang tua kadang-kadang menaati anak-anak mereka? Mereka taat karena kasih. Kasih adalah prasyarat ketaatan.
Beban saya dalam berita ini ialah menekankan tiga perkara: Roh hamba, kasih hamba, dan ketaatan hamba. Jika kita memiliki roh hamba, kasih hamba, dan ketaatan hamba, kita akan dapat memelihara perintah-perintah tersebut. Pada mulanya mungkin perkataan ini kedengaran aneh. Tetapi jika Anda dengan sungguh-sungguh memeriksanya, Anda akan melihat bahwa dalam pengalaman kita yang riil, hal ini benar. Hanya orang yang memiliki roh, kasih, dan ketaatan hambalah yang dapat memelihara peraturan-peraturan Allah. Dalam ekonomi Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama, diperlukan roh, kasih, dan ketaatan yang sedemikian ini.
Sekarang kita dapat melihat, mengapa Allah lebih dulu menaruh peraturan mengenai hamba, dan mengapa hamba di sini merupakan lambang Kristus, yaitu hamba yang benar. Sebagai orang yang percaya kepada Kristus, milik Kristus, dan memiliki hayat pengorbanan-Nya, kita juga harus menjadi hamba yang mengasihi Allah, mengasihi gereja, mengasihi umat Allah. Dengan kasih yang sedemikian ini sebagai motivasi kita, kita bisa menjadi hamba yang melayani dan berkorban.