← Daftar isi Keluaran (5) · bab 4/16

PENCEMARAN YANG DISEBABKAN OLEH PEKERJAAN MANUSIA DAN PENYINGKAPAN YANG DISEBABKAN OLEH CARA MANUSIA

Pembacaan Alkitab:

Kel. 20:24-26; Flp. 3:2-3; 1Kor. 1:18-25

Dalam berita ini, saya berbeban untuk menyampaikan firman lebih lanjut mengenai beribadah kepada Allah dalam Keluaran 20:24-26. Ibadah merupakan masalah yang sangat penting dalam hubungan antara Allah dengan manusia. Sepanjang sejarah manusia, para pemikir telah memperhatikan masalah beribadah kepada Allah. Ketika mereka merenungkan alam semesta ini dengan matahari, bulan, bintang, dan bumi dengan semua tumbuh-tumbuhan, makhluk hidup, dan manusia, mereka menyadari bahwa Allah yang mahakuasa itu pasti ada. Kemudian mereka mulai memikirkan cara untuk menyembah Allah ini. Pemikiran-pemikiran yang sedemikian ini telah menimbulkan berbagai macam agama. Agama-agama yang diciptakan oleh manusia itu bersumber pada pemikiran-pemikiran para pemikir tersebut. Dengan mempelajari alam, manusia menemukan perkara-perkara tertentu. Selanjutnya, sebagai hasil dari penyelidikan, penelitian, dan penemuan tersebut, manusia membuat kesimpulan-kesimpulan. Agama merupakan hasil penyelidikan alam serta kesimpulan-kesimpulan filsafat manusia.

Tetapi menurut Alkitab, Allah tidak mengizinkan manusia merekareka sendiri cara untuk beribadah kepada-Nya. Allah tidak memberikan tempat bagi konsepsi atau pi-kiran alamiah manusia. Ia tidak mengizinkan manusia yang telah jatuh beribadah kepada Dia berdasarkan kesimpulan-kesimpulan yang diperoleh dari penyelidikan alam. Allah menolak kesimpulan-kesimpulan alamiah manusia dalam hal beribadah kepada-Nya. Sebaliknya, Allah mewahyukan bagaimana seharusnya manusia beribadah kepada-Nya dalam Alkitab.

Dalam Kitab Kejadian kita tidak memiliki wahyu yang jelas mengenai cara beribadah kepada Allah. Tetapi Kitab Keluaran berisi wahyu yang jauh lebih lengkap mengenai cara beribadah kepada Allah. Setelah Allah membawa umat tebusan dan pilihan-Nya itu ke gunung-Nya, Ia datang untuk bersekutu dengan mereka. Kita telah menunjukkan bahwa penitahan hukum Taurat di gunung itu diberikan dalam suasana peminangan. Ini berarti di Gunung Sinai, Allah sedang meminang umat-Nya. Setelah memberikan Sepuluh Perintah kepada mereka, yaitu prinsip utama dari keseluruhan hukum Allah, Allah memberikan sejumlah peraturan. Di tengah-tengah Sepuluh Perintah dan peraturan-peraturan itu, Allah berbicara kepada umat-Nya bagaimana seharusnya mereka beribadah kepada-Nya (Kel. 20:22-26). Dalam lima ayat yang pendek ini, telah tercakup hal-hal penting yang berhubungan dengan cara beribadah kepada Allah. Sebagaimana kita lihat, dalam Keluaran 20:24-26, baik pekerjaan maupun cara manusia benar-benar telah ditolak oleh Allah.

Ketika saya masih muda, saya menganggap ayat-ayat dalam Keluaran 20 ini sebagai ayat-ayat yang primitif dan tak berkebudayaan. Bagi saya, dalam ayat-ayat ini seolah-olah tidak diperlukan kepandaian atau keahlian untuk membuat mezbah dari tanah atau batu. Seorang anak kecil pun dapat mengerjakannya. Bahkan orang-orang yang paling primitif, tidak berkebudayaan, dan tidak berpendidikan pun dapat mendirikan mezbah yang sedemikian itu. Saya tidak mengerti mengapa Allah mau menerima mezbah primitif yang sedemikian itu. Jika menurut cara manusia, tidak mungkin akan didirikan mezbah semacam itu.

Menurut sejarah peradaban, manusia sedang mendirikan menara dan gedung pencakar langit. Mereka yang tinggal di New York, Paris, dan Tokyo, mungkin sering membanggakan Empire State Building, Eiffel Tower, dan Tokyo Tower. Pikiran manusia yang telah jatuh ingin mendirikan sesuatu yang tinggi. Peristiwa pertama yang terjadi ialah di Babel (Kej. 11), di mana anak-anak manusia tidak hanya berusaha mendirikan sebuah kota, tetapi juga sebuah menara yang dapat mereka banggakan. Ini menunjukkan bahwa bangunan-bangunan yang tinggi didirikan oleh manusia untuk menjadi kebanggaan mereka. Semakin berkebudayaan, semakin tinggi pula bangunan yang mereka di-rikan. Tetapi cara Allah ialah mendirikan mezbah tanpa tangga. Sedangkan cara manusia ialah mendirikan sesuatu dengan tangga sebanyak mungkin. Mengenai beribadah ke-pada Allah, Allah tidak memberikan tempat bagi kepandaian, kemampuan, keahlian, hikmat, tenaga, atau kekuatan manusia. Sebaliknya, mezbah yang Allah kehendaki pastilah sesuatu yang dalam pandangan manusia adalah primitif dan tak berkebudayaan.

Dalam hal beribadah kepada Allah, manusia alamiah selalu cenderung menggunakan hikmat mereka untuk membuat rencana-rencana, dan menggunakan kekuatan mereka, termasuk kepandaian dan kemampuan yang mereka miliki, untuk melaksanakan rencana-rencana mereka. Tetapi menurut Keluaran 20:24-26, Allah tidak mengakui hikmat dan kekuatan manusia. Meskipun Musa telah dididik di Mesir dan mengenal semua aspek kebudayaan Mesir, yaitu “dididik dalam segala hikmat orang Mesir” (Kis. 7:22), tetapi Allah tidak mengizinkan ia menggunakan hikmatnya untuk mendirikan mezbah bagi penyembahan terhadap Allah. Di antara umat Allah, tidak hanya Musa saja yang mengenal kebudayaan Mesir. Tetapi semua orang yang keluar dari Mesir bersama dia, dilahirkan di sana, dan mengetahui cara-cara orang Mesir melakukan perkara-perkara tertentu. Mereka semua telah menerima infus yang kuat dari kebudayaan Mesir. Dalam Keluaran 20:24-26, Allah memberikan firman yang jelas mengenai penyembahan, dengan jalan menyuruh mereka membuat sebuah mezbah dari tanah atau batu. Mereka tidak boleh menggunakan batu pahat, dan mereka tidak boleh mendirikan mezbah sedemikian tingginya sehingga diperlukan tangga untuk mencapainya. Allah seolah-olah berkata kepada bangsa itu, “Aku tidak memperhatikan pekerjaan atau ciptaan manusia, dan Aku tidak memperhatikan cara serta konsepsinya. Untuk mendirikan mezbah, kalian harus menggunakan bahan-bahan yang Kuciptakan. Aku hanya memperhatikan apa yang Kuciptakan, bukan pekerjaan atau cara manusia.”

Dalam teologi, selalu terdapat perbedaan antara agama alamiah dengan agama yang memiliki wahyu. Banyak orang menganggap agama Kristen sebagai agama yang memiliki wahyu, yaitu agama yang bersumber pada wahyu Allah, dan menganggap agama-agama lain sebagai agama alamiah. Tetapi menyedihkan sekali, dalam agama Kristen hari ini pun terdapat perhatian yang besar terhadap pekerjaan dan cara manusia. Pada setiap kelompok kekristenan mudah sekali ditemukan pekerjaan dan cara manusia, sebaliknya sukar sekali ditemukan sesuatu yang semata-mata sesuai dengan wahyu Allah. Perhatikan situasi dunia kekristenan hari ini. Berapa banyak ciptaan, kepandaian, kemampuan, rencana, cara, kekuatan, dan hikmat manusia yang ada di dalamnya! Bahkan dalam khotbah-khotbah yang diberikan pun penuh dengan perkara-perkara yang sedemikian ini. Di manakah Anda dapat mendengarkan khotbah yang murni dan hanya terbatas pada wahyu Alkitab saja? Banyak unsur kebudayaan yang sering dicampurkan dengan kebenaran firman dalam khotbah-khotbah yang diberitakan. Beberapa tahun yang lalu, ada sebagian orang di antara kami mendengarkan khotbah yang diberikan oleh Paus. Berita itu merupakan suatu campuran antara kebenaran Alkitab dengan pikiran manusia. Pekerjaan, cara, kekuatan, dan hikmat manusia, benar-benar telah memenuhi agama Kristen hari ini. Akibatnya, terjadilah campuran antara wahyu Allah dengan agama alamiah.

Jika kita dengan teliti membaca Keluaran 20:24-26, kita akan melihat bahwa wahyu Allah tidak memberikan ruang bagi pekerjaan dan cara manusia. Bahkan Allah tidak memberikan tempat sedikit pun bagi kekuatan, kemampuan, tenaga, hikmat, dan rencana manusia. Dalam cara yang sama, dalam pemulihan Tuhan, kita tidak memberikan tempat bagi pekerjaan atau cara manusia. Saya jamin jika ada seseorang yang ingin mengadakan penyelidikan terhadap pemulihan, maka ia akan mendapati bahwa kita tidak memberikan tempat bagi pekerjaan dan cara manusia. Beberapa orang mungkin ingin tahu, apakah praktek mendoabacakan firman itu diciptakan oleh manusia atau bukan. Tetapi doa baca bukanlah ciptaan manusia; sebaliknya, doa-baca ini sesuai dengan Alkitab.

Dalam agama Kristen hari ini, kita dapat dengan mudah melihat pekerjaan dan cara manusia. Hal ini bahkan dapat dilihat dengan tanpa melakukan penyelidikan secara teliti. Di antara kebanyakan orang Kristen, pekerjaan dan cara manusia sangat nyata sekali. Beberapa orang yang benar-benar telah dipengaruhi oleh pekerjaan dan cara manusia, menganggap bahwa sidang-sidang gereja dalam pemulihan Tuhan adalah primitif dan tidak berkebudayaan. Mereka menganggap kita ini bodoh dan tidak memiliki pengetahuan atau pendidikan. Ketika beberapa tahun yang lalu seseorang mengunjungi saya, ia menanyakan berapa orang di antara kita yang memiliki gelar doktoral. Ia dengan bangga mengatakan bahwa di antara rekan-rekannya, terdapat lebih dari seratus orang yang memiliki gelar Ph.D. Ini merupakan salah satu gambaran dari fakta bahwa dalam agama Kristen hari ini, banyak sekali perhatian yang dibe-rikan kepada kekuatan, kemampuan, kepandaian, dan hikmat manusia. Sebagai akibatnya, Allah benar-benar telah dikesampingkan. Orang-orang mungkin menyatakan bahwa mereka beribadah kepada Allah, tetapi dalam ibadah mereka, pekerjaan dan cara manusia benar-benar telah menyebabkan mereka mengesampingkan Allah. Ketika Kekaisaran Romawi menerima agama Kristen, banyak unsur kebu-dayaan yang dibawa masuk ke dalam apa yang disebut “gereja” pada masa itu. Konstantinus Agunglah yang membuka jalan bagi masuknya penyembah-penyembah berhala. Ini menyebabkan kekristenan menjadi tempat bercampurnya unsur-unsur kebudayaan manusia yang berbeda-beda. Selanjutnya, gereja ini memasukkan banyak sekali perkara-perkara sedemikian ini ke dalam ibadah mereka. Karena alasan inilah, dalam penyembahan yang dipraktekkan dalam gereja ini, terdapat banyak sekali ciptaan-ciptaan manusia. Gereja ini penuh dengan cara, pekerjaan, kekuatan, dan hikmat manusia. Tetapi membawa barang-barang yang dibuat oleh manusia ke dalam penyembahan terhadap Allah merupakan suatu kekejian dalam pandangan Allah.

Pada butir ini saya ingin menyampaikan sepatah kata terutama kepada kaum muda. Kita tidak tahu berapa lama lagi Tuhan akan datang kembali. Pemulihan mungkin harus berlangsung terus selama bertahun-tahun. Bila beberapa orang di antara kalian mulai mengambil pimpinan dalam gereja, barangkali kalian akan berpikir bahwa pemulihan Tuhan dibawa ke daerah ini dalam cara yang sangat primitif. Kemudian kalian mungkin akan menggunakan “alat-alat” untuk memahat batu-batu tersebut, dengan tujuan memperindah pemulihan dan meninggikannya. Tentu saja dengan demikian, secara otomatis akan diperlukan tangga untuk mencapainya. Sebenarnya anjuran-anjuran atau saran-saran yang telah lewat adalah meninggikan pemulihan dalam cara-cara tertentu. Beberapa orang bahkan berusaha mendirikan piramida. Tetapi oleh karena rahmat dan belas kasihan Tuhan, piramida ini telah dirubuhkan. Setiap tangga yang menuju ke puncak piramida itu telah diruntuhkan. Sebaliknya, kita memberi kesempatan kepada setiap orang untuk melayani, asal mereka mau.

Hai kaum muda, janganlah kalian membawa pekerjaan atau cara manusia ke dalam ibadah kepada Allah. Membawa perkara-perkara yang berasal dari sumber manusiawi adalah menghina Allah yang kita sembah. Jika kita mempelajari sejarah agama dan situasi kekristenan pada masa kini, kita akan melihat banyak pekerjaan dan cara manusia. Tetapi saya ulangi, Allah tidak mengizinkan perkara-perkara itu memiliki tempat dalam penyembahan kita kepada Dia.

I. PENCEMARAN YANG DISEBABKAN OLEH PEKERJAAN MANUSIA

A. MANUSIA YANG TELAH JATUH ADALAH BERDOSA DALAM PANDANGAN ALLAH

Keluaran 20:25 mengatakan, “Tetapi jika engkau membuat bagi-Ku mezbah dari batu, maka jangan engkau mendirikannya dari batu pahat, sebab apabila engkau mengerjakannya dengan beliung, maka engkau melanggar kekudusannya.” Di sini kita melihat bahwa Allah tidak mengizinkan pekerjaan manusia mempunyai bagian dalam penyembahan terhadap Allah. Keseluruhan manusia yang telah jatuh adalah berdosa cemar dalam pandangan Allah. Baik kita berkebudayaan atau tidak berkebudayaan, berpendidikan atau tidak berpendidikan, kita adalah berdosa di hadapan Allah. Karena alasan inilah, maka tidak satu pun pekerjaan manusia yang Allah terima. Pekerjaan manusia hanyalah mencemari penyembahan terhadap Allah, karena manusia sendiri adalah cemar. Janganlah menambahkan apa pun yang berasal dari manusia kepada penyembahan terhadap Allah. Menambahkan pekerjaan manusia pada salib merupakan kekejian bagi Allah.

Syarat untuk beribadah kepada Allah ialah memiliki mezbah. Alkitab dengan jelas menunjukkan bahwa jika tidak ada mezbah, kita tidak dapat beribadah kepada Allah. Manusia yang telah jatuh tidak dapat menyembah Allah secara langsung. Untuk beribadah kepada Allah, kita harus melalui mezbah. Banyak orang Kristen tahu bahwa di mezbah, penebusan diberikan dengan memakai kurban. Tetapi mezbah melakukan lebih daripada itu. Mezbah juga mengakhiri kita. Setiap orang yang beribadah kepada Allah akan diakhiri di mezbah. Karena kita mutlak berdosa, kotor, maka ketika kita datang untuk beribadah kepada Allah, kita harus berkata, “Tuhan, basuhlah aku dengan darah adi-Mu, dan tutupilah aku dengan diri-Mu sendiri. Tuhan, di dalam diriku sendiri aku tidak berani melakukan apa-apa. Aku datang untuk beribadah kepada-Mu melalui salib-Mu. Basuhlah aku dengan darah penebusan-Mu, dan tutupilah aku dengan diri-Mu sendiri sebagai kebenaranku. Karena aku adalah orang yang telah jatuh, maka aku tidak berani melakukan, merencanakan, atau membawa apa-apa yang berasal dari diriku sendiri.” Kita semua perlu mempunyai pemahaman sedemikian ini ketika beribadah kepada Allah.

Meskipun saya berani memberitakan firman Alkitab, tetapi saya tidak berani memberikan saran-saran yang berkenaan dengan perkara-perkara dalam hidup gereja. Bila para saudara datang kepada saya dan memberi saran, saya akan mendorong mereka untuk berdoa, agar mereka tahu apakah saran itu berasal dari Allah atau bukan. Apa saja yang berasal dari kita adalah cemar. Karena itu, tidak satu perkara pun dari manusia yang telah jatuh dapat memiliki bagian dalam penyembahan terhadap Allah.

B. TIDAK ADA PEKERJAAN MANUSIA

YANG DITERIMA OLEH ALLAH

Karena dalam pandangan Allah manusia yang telah jatuh adalah cemar, maka tidak satu pun pekerjaan manusia yang diterima oleh Allah. Kain ditolak oleh Allah, sebab ia membawa pekerjaannya sendiri ke dalam penyembahan terhadap Allah. Kain mengira bahwa ia dapat membawa sesuatu dari apa yang ia peroleh melalui hasil kerjanya, tetapi ia tidak mengenal bahwa dalam pandangan Allah, ia adalah cemar, dan apa saja yang berasal dari dia pun cemar. Karena itu, apa yang ia persembahkan kepada Allah tidak diterima oleh Allah. Sebaliknya, persembahan itu merupakan kekejian bagi Allah. Apa saja yang berasal dari kita dan hasil kerja kita, merupakan kekejian bagi Allah dan tidak diterima oleh Allah.

C. MENAMBAHKAN PEKERJAAN MANUSIA PADA SALIB MERUPAKAN KEKEJIAN BAGI ALLAH

Menambahkan pekerjaan manusia pada salib merupakan suatu hal yang keji. Salib sepenuhnya adalah pekerjaan Allah, dan tidak satu pun pekerjaan manusia yang boleh ditambahkan kepadanya. Dalam 1Korintus 1:18 Paulus mengatakan, “Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah.” Mengapa salib merupakan kebodohan bagi mereka yang akan binasa? Karena salib adalah sesuatu yang kasar, primitif, dan sama sekali tanpa kebudayaan, keindahan, atau keahlian. Pada zaman Paulus, salib adalah alat untuk menghukum penjahat. Namun demikian, Allah menggunakan cara yang sedemikian ini untuk menyelamatkan kita. Karena itu, hal ini merupakan batu sandungan bagi orang Yahudi dan kebodohan bagi orang Yunani.

Dalam 1Korintus 1:23, Paulus berkata, “Kami memberitakan Kristus yang disalibkan.” Ini menandakan bahwa di sini Paulus tidak memberitakan Kristus yang dibangkitkan, ditinggikan, dimuliakan, dan dinobatkan. Dulu saya sering merasa heran, mengapa Paulus tidak mengatakan kepada orang Yunani bahwa ia memberitakan Kristus yang ditinggikan dan dimuliakan. Sebaliknya, Paulus memberitakan Kristus yang disalibkan; yaitu Dia yang wafat di kayu salib, dihukum seolah-olah Dia adalah seorang penjahat. Bagi orang Yahudi pemberitaan mengenai Kristus yang disalib-kan itu merupakan batu sandungan, dan bagi orang Yunani merupakan kebodohan, tetapi bagi mereka yang dipanggil, baik orang Yahudi maupun orang Yunani, Kristus ini adalah “kekuatan Allah dan hikmat Allah” (ayat 24). Puji Tuhan, kita telah terpanggil untuk menerima Kristus yang disalibkan! Penentuan untuk menerima Kristus ini bukan berasal dari kita; kita menerima Dia karena Allah telah memanggil kita. Allah telah menakdirkan kita untuk menerima Kristus ini.

Namun, setelah menerima Kristus yang disalibkan, banyak orang Kristen kemudian berusaha untuk memperindahnya. Beberapa orang juga berusaha membuat gereja menjadi indah dalam pandangan manusia. Tetapi bagi kita, memperindah segala sesuatu dalam pemulihan Tuhan merupakan penghinaan terhadap Allah. Sebagai pengganti dari memperindah, kita bahkan harus tetap tinggal di dalam situasi yang dianggap primitif dan tidak berkebudayaan oleh manusia. Kita bukan memahat batu, tetapi kita memiliki mezbah dari batu atau tanah yang diciptakan oleh Allah. Mezbah yang sedemikian inilah yang diterima oleh Allah.

Karena kita tidak menambahkan pekerjaan manusia pada salib, melainkan hanya memiliki mezbah yang primitif, maka pembicaraan Tuhan ada beserta dengan kita. Kita tidak lebih mampu atau lebih pandai daripada orang lain. Tetapi karena kita tidak memberikan tempat bagi pekerjaan manusia, maka Tuhan akan terus membuka firman-Nya kepada kita dan mengirimkan terang-Nya.

II. AURAT TERSINGKAP KARENA CARA MANUSIA

A. AURAT MENUNJUKKAN AIB MANUSIA YANG TELAH JATUH

Keluaran 20:26 mengatakan, “Juga jangan engkau naik tangga ke atas ke mezbah-Ku, supaya auratmu jangan kelihatan di atasnya.” Ini menunjukkan bahwa aurat tersingkap karena cara manusia. Menurut Kejadian 3:7, aurat menunjukkan aib manusia yang telah jatuh. Sebelum kejatuhan, manusia tidak berpakaian. Tetapi meskipun ia tidak berpakaian, tidak terdapat ketelanjangan, sebab tidak ada rasa malu. Namun segera setelah kejatuhan, Adam dan Hawa mendapati bahwa mereka telanjang, dan mereka berusaha membuat suatu penutup bagi diri mereka sendiri. Oleh karena itu, dalam Alkitab, aurat menunjukkan aib manusia yang telah jatuh.

B. ALLAH TELAH MENYEDIAKAN KRISTUS SEBAGAI

KEBENARAN KITA UNTUK MENUTUPI

KETELANJANGAN KITA

Kejadian 3:21 mengatakan, “Dan TUHAN Allah membuat pakaian dari kulit binatang untuk manusia dan untuk istrinya itu, lalu mengenakannya kepada mereka.” Pakaian dari kulit ini melambangkan Kristus sebagai kebenaran kita untuk menutupi aib kita (1Kor. 1:30, 2Kor. 5:21; Flp. 3:9). Sekarang kita berada di bawah Kristus sebagai penutup kita yang sempurna. Menurut Galatia 3:27, kita mengenakan Kristus; kita menutupi diri kita dengan Kristus. Ini berarti Kristus ibarat sebuah jas atau jubah yang sering kita pakai. Puji Tuhan, kita dapat berbangga di hadapan Allah bahwa secara sepenuhnya kita telah ditutupi oleh Kristus! Keselamatan Allah dalam Kristus akan menutupi kita dengan Kristus, sehingga tidak ada ketelanjangan.

Meskipun penyelamatan Allah menutupi kita dengan Kristus, tetapi cara manusia justru menyingkapkan sifatnya yang telah jatuh. Menaiki tangga ke mezbah menyebabkan tersingkapnya aurat seseorang. Ini menunjukkan, hikmat manusia dalam mendirikan mezbah untuk beribadah kepada Allah menyebabkan aurat menusia tersingkap. Prinsip di sini ialah hikmat manusia dalam mendirikan tangga telah mengesampingkan Kristus. Dari pengalaman kita, kita tahu bahwa bila kita menggunakan hikmat kita untuk merencanakan sesuatu yang berhubungan dengan penyembahan terhadap Allah, maka kita mengesampingkan Kristus. Tidak hanya demikian, jika para penatua dalam gereja menggunakan hikmat mereka untuk membuat rencana-rencana atau mendirikan sesuatu yang ditinggikan dengan tangga, Kristus akan dikesampingkan. Sebagai pengganti dari menggunakan hikmat kita untuk membuat rencana-rencana kita, kita harus secara sepenuhnya percaya kepada Kristus. Kemudian kita akan tinggal di bawah Kristus sebagai penutup kita.

Selama dalam pemulihan Tuhan, saya belajar bahwa bila saya memerlukan sesuatu, saya berlutut di hadapan Tuhan dan berdoa, “Tuhan, tutupilah aku. Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan kepada para saudara. Tuhan, Engkaulah segala sesuatu dalam situasi ini.” Berdoa dalam cara yang sedemikian ini berarti memelihara diri kita sendiri di bawah Kristus sebagai penutup kita. Tetapi jika kita memberi saran kepada orang lain dan mengatakan kepada mereka apa yang harus mereka lakukan, maka kita akan menyingkapkan aurat kita, yaitu aib sifat kita yang telah jatuh.

Jika kita tetap tinggal di bawah Kristus sebagai penutup kita ketika bermacam-macam situasi dan masalah timbul, dan tanpa menggunakan hikmat kita untuk menanggulangi, maka kita akan ditutupi dan tidak ada seorang pun yang dapat melihat aib sifat kita yang telah jatuh. Tetapi semakin kita menggunakan hikmat kita untuk membuat rencana dan mendirikan “tangga”, kita akan semakin tersingkap. Penyingkapan ini memalukan dan dihakimi oleh Allah. Allah tidak pernah membiarkan orang-orang yang telanjang menyembah Dia. Para imam dalam Perjanjian Lama harus mengenakan jubah yang panjang, sehingga Allah hanya dapat melihat jubah yang menutupi mereka saja. Jubah yang panjang itu melambangkan Tuhan Yesus Kristus. Ia adalah jubah kita yang panjang. Bila kita beribadah kepada Allah, kita harus tinggal di dalam Kristus, dan juga berada di bawah-Nya sebagai penutup kita. Untuk ini, kita perlu menahan diri dari membawa masuk hikmat atau rencana kita untuk mendirikan suatu mezbah yang tinggi dan bertangga.

Cara manusia tidak hanya menyingkapkan ketelanjangan sifatnya yang telah jatuh, tetapi juga meninggikan prestasi melalui kemampuan alamiah dan menciptakan tingkatan hasil kerja yang berbeda-beda. Dalam kekristenan tertentu terdapat suatu sistem hierarki dengan banyak sekali “tangga”, yaitu tingkatan hasil kerja manusia. Sudah jelas, cara manusia adalah meninggikan prestasinya sendiri melalui kemampuan alamiah, dan menciptakan tingkatan hasil kerja. Tetapi sebagaimana menambahkan pekerjaan manusia pada salib merupakan kekejian bagi Allah, demikian pula cara manusia dalam beribadah kepada Allah merupakan kekejian bagi Dia.

III. MEZBAH — SALIB — MENGAKHIRI MANUSIA YANG TELAH JATUH

BESERTA SELURUH PEKERJAAN DAN CARANYA

Setiap kali kita mau dengan tepat beribadah kepada Allah, kita harus datang ke mezbah. Mezbah akan mengakhiri kita beserta seluruh pekerjaan dan cara kita. Sebagai manusia yang telah jatuh, jika kita hendak beribadah kepada Allah, kita harus melalui mezbah, melalui salib. Seperti yang telah kita tunjukkan, salib tidak hanya memberi manusia penebusan Kristus, tetapi juga mengakhiri manusia yang telah jatuh beserta kemampuan dan hikmatnya. Manusia yang telah jatuh tidak dapat menyenangkan Allah dengan kemampuannya untuk bekerja dan dengan hikmatnya untuk merencanakan sesuatu. Oleh karena itu, kita harus bersatu dengan kurban yang ada di atas mezbah, dan juga diakhiri. Dalam Perjanjian Lama, seseorang yang mempersembahkan kurban kepada Allah meletakkan tangannya di atas kurban ketika kurban itu akan dibunuh. Ini menunjukkan bahwa orang yang mempersembahkan kurban itu menyatukan dirinya dengan kurban tersebut. Ketika kurban diakhiri, orang yang mempersembahkannya pun diakhiri di dalam kurban itu. Oleh karena itu, dalam beribadah kepada Allah, kita harus disatukan dengan Kristus sebagai kurban kita di kayu salib, dan kita pun harus diakhiri.

IV. DENGAN KEBAJIKAN KRISTUS

SEBAGAI KURBAN BAKARAN

DAN KURBAN KESELAMATAN DALAM BERIBADAH

KEPADA ALLAH

Keluaran 20:24 mengatakan, “Kaubuatlah bagi-Ku mezbah dari tanah dan persembahkanlah di atasnya kurban bakaranmu dan kurban keselamatanmu, kambing dombamu dan lembu sapimu.” Ayat ini menyebutkan kurban bakaran dan kurban keselamatan. Setelah kita diakhiri dengan jalan menyatukan diri kita dengan kurban di atas mezbah, kita akan beribadah kepada Allah dalam sifat Kristus sebagai kurban bakaran dan kurban keselamatan. Di satu pihak, seseorang yang diakhiri oleh salib beribadah kepada Allah dalam sifat Kristus sebagai kurban bakaran bagi kepuasan Allah. Di pihak lain, orang ini beribadah kepada Allah dalam sifat Kristus sebagai kurban keselamatan bagi kepuasannya bersama Allah dan penyembah-penyembah lainnya. Inilah ibadah yang dikehendaki Allah, yaitu ibadah yang telah Dia tetapkan, ibadah yang diterima oleh-Nya. Oleh karena itu, marilah kita belajar untuk tidak membawa pekerjaan dan cara kita, kekuatan dan hikmat kita, kemampuan dan rencana-rencana kita, ke dalam beribadah kepada Allah. Sebaliknya, kita harus menolak hal-hal itu. Orang yang benar-benar beribadah kepada Allah adalah orang yang diakhiri di atas salib bersama kekuatan dan hikmatnya, dan yang beribadah kepada Allah dalam kebajikan Kristus.

Dalam Keluaran 20:22-26, kita melihat bahwa ibadah yang Allah kehendaki ialah ibadah melalui salib dan dengan Kristus, yaitu ibadah melalui mezbah dan dengan kurban. Mezbah yang melambangkan salib akan mengakhiri semua orang yang beribadah kepada Dia, dan kurban yang melambangkan Kristus, akan memuaskan Allah dan memberi kita kepuasan bersama Allah dan penyembah-penyembah lainnya. Di sini kita melihat faktor yang penting dari ibadah yang diterima oleh Allah. Kita harus beribadah kepada Allah melalui salib yang akan mengakhiri kita, dan dengan Kristus yang akan membawa Allah serta semua penyembah ke dalam kepuasan bersama.