← Daftar isi Keluaran (5) · bab 3/16

PERATURAN-PERATURAN HUKUM TAURAT MENGENAI BERIBADAH KEPADA ALLAH

Pembacaan Alkitab: Kel. 20:22-26

Kitab Kejadian dapat disingkat dengan dua kosakata: penciptaan Allah dan kejatuhan manusia. Kejadian 1:1 mengatakan, “Pada mulanya Allah menciptakan . . .” Kitab Kejadian berakhir dengan, “Kemudian matilah Yusuf . . . ditaruh dalam peti mati di Mesir” (Kej. 50:26). Jadi Kitab Kejadian dimulai dengan penciptaan Allah, dan berakhir dengan Yusuf ditaruh dalam peti mati di Mesir. Memang, penciptaan Allah bersifat sangat positif, tetapi kejatuhan manusia bersifat negatif. Karena itu, ringkasan dari Kitab Kejadian meliputi perkara positif, yaitu penciptaan Allah, dan perkara negatif, yaitu kejatuhan manusia.

Kita boleh mengatakan bahwa Kitab Keluaran memiliki satu hal yang penting: Penebusan dan penyelamatan Allah. Karena manusia telah jatuh, maka Allah datang untuk menebus dan menyelamatkannya. Manusia yang telah jatuh memerlukan penebusan dan penyelamatan Allah. Kitab Keluaran mewahyukan penyelamatan Allah yang almuhit, yaitu penyelamatan yang mencakup penebusan Allah. Menurut Kitab Keluaran, pertama-tama Allah menebus umat-Nya, dan kemudian menyelamatkan mereka.

Orang-orang Kristen mungkin tidak menyadari bahwa keseluruhan Kitab Keluaran berkaitan dengan penyelamatan Allah. Menurut kebanyakan orang, enam belas pasal terakhir dari Kitab Keluaran, yaitu pasal 25-40, tidak berkaitan dengan penyelamatan Allah, melainkan berkaitan dengan visi dan pembangunan Kemah Pertemuan. Akan tetapi, pembangunan Kemah Pertemuan sebagai tempat kediaman Allah itu sebenarnya juga merupakan bagian dari penyelamatan Allah yang almuhit. Ini berarti penyelamatan yang diwahyukan dalam Kitab Keluaran dimulai dengan penebusan, dan berjalan terus sampai kepada pembangunan tempat kediaman Allah, yaitu Kemah Pertemuan. Jika kita telah ditebus dan mengalami penyelamatan Allah pada suatu tingkat, tetapi tidak berada di dalam bangunan Allah, yaitu tempat kediaman Allah, berarti kita belum berpartisipasi dalam penyelamatan Allah secara sempurna. Penyelamatan Allah yang sempurna meliputi pembangunan umat tebusan-Nya, menjadi tempat kediaman-Nya di bumi.

Di antara berjuta-juta orang Kristen hari ini, yaitu orang-orang yang dengan sungguh-sungguh telah ditebus dan diselamatkan, tidak banyak yang mengalami menjadi tempat kediaman Allah. Dalam pengalaman sejumlah orang, Kitab Keluaran seolah-olah hanya memiliki dua belas atau empat belas pasal saja. Mereka telah mengalami penebusan anak domba Paskah, dan mungkin juga telah dibebaskan dari Mesir, tetapi mereka tidak mengalami pembangunan tempat kediaman Allah. Sebenarnya, banyak orang Kristen hari ini yang masih berada di Mesir, yaitu dunia. Meskipun mereka telah mengalami penebusan Allah, tetapi mereka belum menyeberangi Laut Merah. Ini berarti mereka belum diselamatkan dari dunia dan perbudakan Firaun. Ada lagi sejumlah orang Kristen yang telah menyeberangi Laut Merah dan diselamatkan dari dunia, tetapi dalam pengalaman mereka, mereka belum bergerak ke arah gunung Allah, dan mereka belum menjadi Kemah Allah.

Dalam Kitab Keluaran, Gunung Sinai disebut gunung Allah. Di sini umat Allah dibawa ke dalam persekutuan langsung dengan Allah. Ini merupakan perkara yang sangat besar. Dua puluh lima abad setelah penciptaan manusia, orang-orang Israel dibawa ke dalam persekutuan langsung dengan Allah. Sebelumnya, tidak ada orang di bumi ini yang memiliki persekutuan berhadapan muka dengan Allah. Di satu pihak, di Gunung Sinai orang-orang Israel dibawa ke dalam persekutuan dengan Allah; di pihak lain, Allah datang untuk berbicara kepada mereka. Dalam Kejadian 11, Allah datang bukan untuk bersekutu dengan bangsa itu, tetapi Allah datang untuk menghakimi bangsa itu. Namun dalam Kitab Keluaran, Allah datang bukan untuk menghakimi, melainkan untuk bersekutu dengan umat-Nya. Di Gunung Sinai orang-orang Israel mengadakan perayaan bersama Allah. Ini juga tercakup dalam penyelamatan Allah yang almuhit, yang diwahyukan dalam Kitab Keluaran.

Di Gunung Sinai, Allah mengadakan pertemuan dengan umat-Nya tidak hanya dalam waktu satu hari. Sebaliknya, bangsa itu tinggal bersama Dia selama berbulanbulan (Kel. 19:1; 40:2, 17; Bil. 10:11-13). Allah menganggap umat tebusan-Nya sebagai “harta kesayangan-Nya” (Kel. 19:5), yaitu benda mustika-Nya. Karena bagi-Nya umat-Nya itu demikian berharga, maka Dia datang untuk melawat mereka. Menurut Perjanjian Lama, pertemuan Allah dengan umat-Nya bertahan lebih dari 1000 tahun. Pertemuan ini berakhir ketika kemuliaan Tuhan pergi dari Bait Suci (Yeh. 10:18).

Dalam berita ini kita akan melihat peraturan-peraturan hukum Taurat. Hukum Taurat dalam Perjanjian Lama tidak hanya meliputi Sepuluh Perintah, tetapi juga meliputi banyak sekali peraturan-peraturan. Peraturan-peraturan ini terdapat dalam beberapa pasal terakhir dari Kitab Keluaran, seluruh Kitab Imamat, dan sebagian dari Kitab Bilangan dan Ulangan. Banyak orang Kristen mengira bahwa hukum Taurat hanyalah meliputi Sepuluh Perintah. Ini juga merupakan konsepsi saya ketika saya masih muda. Tetapi saya di-bingungkan oleh fakta bahwa dalam Alkitab; Kitab Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan, dianggap sebagai bagian dari hukum Taurat. Lagi pula menurut Mazmur 119, hukum Taurat meliputi peraturan-peraturan dan juga perintah-perintah. Ini menunjukkan bahwa hukum Taurat mempunyai dua bagian: Sepuluh Perintah dan peraturan-peraturan. Jadi, pandangan yang menganggap hukum Taurat hanya meliputi Sepuluh Perintah adalah anggapan yang keliru. Tidak! Hukum Taurat meliputi jauh lebih banyak daripada Sepuluh Perintah. Jika kita melihat bahwa hukum Taurat meliputi peraturan-peraturan dan juga perintah-perintah, maka kita dapat dengan mudah memahami Mazmur 119. Peraturan-peraturan merupakan bagian tambahan dari hukum Taurat, dan menguraikan tentang Sepuluh Perintah. Maka tidaklah keliru kalau kita menganggap Sepuluh Perintah sebagai bagian yang pokok dari hukum Taurat. Tetapi bagian yang pokok ini perlu ditambah dan diuraikan secara rinci. Dalam bagian kedua dari Kitab Keluaran dan dalam Kitab Imamat, Bilangan, serta Ulangan, kita memiliki peraturan-peraturan tambahan bagi hukum Taurat, dan uraian-uraian mengenai hukum Taurat. Dalam berita ini, yaitu berita mengenai peraturan hukum Taurat, yang pertama, kita akan memperhatikan peraturan mengenai beribadah kepada Allah. Dalam berita-berita lainnya, kita akan memperhatikan peraturan-peraturan mengenai hubungan antara manusia dengan manusia.

Dalam Keluaran 20:22-26, Allah mewahyukan kepada umat tebusan-Nya bagaimana mereka harus beribadah kepada Dia. Hal ini belum pernah diwahyukan sebelumnya, bahkan kepada Abraham pun, yaitu orang yang disebut sebagai teman Allah. Hanya setelah umat-Nya dibawa ke dalam persekutuan berhadapan muka dengan Dia di gunung Allah, barulah Allah mewahyukan kepada mereka cara untuk beribadah kepada Dia. Jika kita telah memasuki ayat-ayat ini, kita akan melihat bahwa ayat-ayat ini memberi kita hal-hal yang penting mengenai bagaimana kita harus beribadah kepada Allah. Wahyu di sini tidak hanya sesuai dengan wahyu yang terdapat pada kitab-kitab lain dalam Perjanjian Lama, tetapi juga sesuai dengan wahyu dalam Perjanjian Baru. Di sini kita memiliki wahyu mengenai salib dan Kristus. Selanjutnya menurut ayat-ayat ini kita melihat bahwa pekerjaan manusia dan cara manusia disingkirkan. Ayat-ayat ini bahkan menyinggung tentang berhala-berhala emas dan perak.

Keluaran 20:22 mengatakan, “Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Musa: ‘Beginilah kaukatakan kepada orang Israel: Kamu sendiri telah menyaksikan bahwa Aku berbicara dengan kamu dari langit.’” Di sini kita melihat bahwa Allah berbicara kepada umat-Nya dari langit. Bahkan ayat ini pun berhubungan dengan penyembahan kepada Allah, sebab di sini menunjukkan bahwa Allah yang kita sembah adalah Allah yang hidup, Allah yang berbicara.

Selanjutnya ayat 23 mengatakan, “Janganlah kamu membuat di samping-Ku allah perak, juga allah emas janganlah kamu buat bagimu.” Di sini kita memiliki tambahan bagi dua perintah yang pertama dan uraian-uraian yang berkenaan dengan perintah-perintah ini. Dalam dua perintah yang pertama ini kita diberi tahu agar kita jangan memiliki allah lain selain Allah, dan agar kita jangan membuat berhala. Kosakata “di samping-Ku” dalam ayat 23 ini sangat berarti. Ini menunjukkan bahwa bangsa itu tidak boleh di satu pihak menyembah Allah, tetapi di pihak lain juga memiliki allah lain di samping Dia. Hal ini sama seperti seorang wanita yang memiliki seorang suami, tetapi juga memiliki laki-laki lain di samping suaminya itu. Sebagaimana seorang wanita seharusnya hanya memiliki seorang suami, demikian pula orang-orang Israel seharusnya hanya memiliki TUHAN sebagai satu-satunya Allah mereka.

Keluaran 20:23, khusus menjelaskan tentang berhala dari emas dan perak. Dalam ayat ini tidak dikatakan berhala yang dibuat dari kayu atau batu. Dari Kitab Yesaya kita tahu bahwa umat Allah kemudian memiliki berhala emas dan perak (Yes. 2:20; 30:22; 31:7). Mereka membuat berhala emas untuk kali pertama ketika Musa berada di Gunung Sinai bersama Allah. Ketika Musa sedang berada di puncak gunung dan bersekutu dengan Allah, orang-orang Israel yang berada di kaki gunung itu menyuruh Harun membuat anak lembu emas bagi mereka. Kemudian mereka berkata, “Hai, Israel, inilah Allahmu, yang telah menun-tun engkau keluar dari tanah Mesir!” (Kel. 32:4). Dengan membuat benda dari emas itu, orang-orang Israel memiliki allah lain di samping Allah yang sejati. Tetapi Allah melarang umat-Nya memiliki allah lain di samping Dia. Dalam ayat 23 seolah-olah Allah berkata, “Jika engkau ingin menolak Aku atau meninggalkan Aku, lakukanlah. Namun janganlah kamu memiliki Aku di satu pihak, tetapi juga membuat di samping-Ku berhala-berhala dari emas dan perak di pihak yang lainnya. Itu adalah perbuatan zina. Kamu harus menerima Aku sebagai satu-satunya Suamimu. Jangan memiliki allah-allah lain di samping-Ku.”

Keluaran 20:24 sangat penting, “Kau buatlah bagi-Ku mezbah dari tanah dan persembahkanlah di atasnya kurban bakaranmu dan kurban keselamatanmu, kambing dombamu dan lembu sapimu. Pada setiap tempat yang Kuten-tukan menjadi tempat peringatan bagi nama-Ku, Aku akan datang kepadamu dan memberkati engkau.” Di sini kita membaca tentang mezbah, kurban, peringatan bagi nama Allah, dan Allah yang datang dan memberkati umat-Nya. Menurut ayat 24 dan 25, mezbah dapat dibuat dari tanah atau batu. Namun, bangsa itu dilarang mendirikan mezbah dari batu pahat. Mezbah hanya boleh didirikan dengan menggunakan bahan-bahan yang diciptakan oleh Allah. Umat tidak boleh menambahkan pekerjaan manusia pada pekerjaan Allah. Mereka boleh menggunakan tanah atau batu alam, tetapi tidak boleh menggunakan batu pahat. Selanjutnya dari Keluaran 20:26 kita melihat bahwa bangsa itu tidak diperbolehkan “naik tangga” untuk menuju ke mezbah Tuhan, agar aurat mereka tidak tersingkap.

Keluaran 20:24 menyebutkan dua dari lima kurban utama: Kurban bakaran dan kurban keselamatan. Dalam ayat ini tidak disebutkan kurban sajian, kurban penghapus dosa, atau kurban penebus salah. Alasannya ialah karena pengertian di sini bukanlah penebusan, melainkan persekutuan antara Allah dengan umat tebusan-Nya.

Ayat 24 juga membicarakan peringatan bagi nama Allah. Bila kita berkumpul untuk beribadah kepada Allah, kita harus memperingati nama Tuhan. Nama-Nya adalah satu-satunya nama yang harus kita peringati dalam pertemuan ibadah.

Jika kita memiliki mezbah dan kurban serta memperingati nama Tuhan, maka kita akan mengalami lawatan dan berkat Allah. Allah sendiri akan datang kepada kita dan memberkati kita.

I. TIDAK ADA BERHALA

Saya telah menunjukkan bahwa dalam ayat 23, bangsa itu diperingatkan agar jangan membuat allah-allah dari emas dan perak. Ayat ini hanya menyebutkan berhala-berhala dari emas dan perak, tetapi tidak menyebutkan bahan-bahan lain seperti kayu dan batu. Karena itu, ayat ini secara tidak langsung menyatakan bahwa kita tidak boleh menyembah perak atau emas. Menurut Kisah Para Rasul 3, seorang yang lumpuh meminta sedekah kepada Petrus dan Yohanes. Petrus berkata kepadanya, “Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Dalam nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, bangkit dan berjalanlah!” (Kis. 3:6). Petrus tidak memiliki emas dan perak, tetapi ia memiliki nama Yesus Kristus.

Dalam beribadah kepada Allah, kita tidak seharusnya memberi tempat bagi harta kekayaan, yaitu emas dan perak. Tuhan Yesus berkata kepada kita bahwa kita tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon (Mat. 6:24). Kita tidak dapat pada saat yang sama mengabdi kepada Allah dan kepada emas serta perak. Untuk hidup, kita memang memerlukan uang, tetapi jangan sampai membiarkan diri kita diduduki oleh uang. Diduduki oleh keinginan untuk menjadi kaya berarti membuat berhala dari emas dan perak. Satu Timotius 6:17 mengatakan, “Peringatkanlah orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati.” Mereka yang memiliki emas dan perak di dunia ini tidak seharusnya berharap pada sesuatu yang tak tentu, yaitu kekayaan. Sebaliknya, mereka harus berharap kepada Allah yang hidup.

Memang mudah seorang Kristen mengatakan bahwa ia tidak memiliki berhala. Tetapi tidak mudah seorang Kristen bersaksi bahwa ia tidak berharap kepada kekayaan. Memiliki kekayaan memang tidak salah, tetapi berharap kepada kekayaan dan tidak berharap kepada Allah yang hidup adalah menyembah berhala. Jika kita ingin beribadah dalam cara yang murni dan bersih, semua berhala harus disingkirkan, termasuk pemujaan berhala dengan menaruh harapan kepada kekayaan. Dari pengalaman, kita tahu bahwa jika kita berharap pada kekayaan, kita akan kehilangan penyembahan kita kepada Allah. Selama kita masih berharap kepada kekayaan, kita tidak akan dapat mempersembahkan penyembahan yang murni dan sejati kepada Allah. Jadi, perintah agar jangan membuat allah-allah dari emas dan perak secara tidak langsung menyatakan bahwa dalam penyembahan kita kepada Allah, kita tidak seharusnya memberikan tempat bagi harta kekayaan.

Situasi di antara kebanyakan orang Kristen hari ini merosot karena mereka memberikan tempat bagi uang, dan berambisi untuk mengumpulkan uang. Sebagian besar dari kekristenan telah menjadi agama yang bercirikan menyembah anak lembu emas. Sering orang yang memberikan derma dalam jumlah yang besar mendapat penghormatan dari masyarakat. Ini berarti mereka membuat allah-allah dari emas dan perak, dan ini juga berarti mereka menyembah anak lembu emas.

II. MELALUI MEZBAH — SALIB

Ibrani 13:10 mengatakan, “Kita mempunyai suatu mezbah.” Mezbah menyatakan salib. Mezbah dalam Perjanjian Lama hanyalah bayangan, sedangkan realitasnya ialah salib dalam Perjanjian Baru. Tanpa mezbah, manusia yang jatuh tidak dapat beribadah kepada Allah secara langsung. Mezbah menunjukkan proses kematian dan kebangkitan. Dalam proses yang sedemikian ini ada penebusan, dan semua perkara negatif juga telah dibereskan. Jadi, kata “mezbah” ini limpah sekali artinya. Yang berkaitan dengan mezbah ialah kematian, pembakaran, dan kebangkitan. Ini meliputi penebusan, kesudahan perkara-perkara negatif, dan bangkitnya perkara-perkara positif. Terlepas dari mezbah, yaitu salib, proses yang sedemikian ini tidak mungkin akan terjadi. Karena itu, tanpa sebuah mezbah, orang-orang yang telah jatuh tidak mempunyai jalan untuk secara langsung beribadah kepada Allah.

Sebagaimana kita telah melihat, mezbah didirikan dengan bahan yang diciptakan oleh Allah, yaitu tanah atau batu. Ini menunjukkan bahwa salib telah disediakan seluruhnya oleh pekerjaan Allah. Fakta bahwa batu pahat, yaitu bahan yang dikerjakan oleh manusia, tidak digunakan dalam mendirikan mezbah, menunjukkan bahwa salib tidak disediakan oleh pekerjaan manusia. Bukan manusia, melainkan Allahlah yang menyediakan salib. Jika Allah tidak bekerja untuk menyediakan salib bagi kita, maka tidak ada satu perkara pun yang dapat kita lakukan.

Dalam ayat-ayat ini, mendirikan mezbah berarti menerima apa yang telah Allah sediakan. Allah telah menyediakan salib bagi kita untuk beribadah kepada Dia, dan kita hanya menerimanya serta mengucapkan “Amin” dengan rasa syukur kepada Allah atas penyediaan-Nya. Kita harus berkata, “Ya Allah, syukur atas salib yang telah Engkau sediakan, sehingga aku dapat beribadah kepada-Mu. Aku tidak perlu bekerja. Aku hanya menerima salib yang telah Engkau sediakan.”

Fakta bahwa orang-orang Israel dapat mendirikan mezbah dari batu atau tanah, menunjukkan bahwa salib dapat diperoleh dengan mudah. Jika Allah memerintah bangsa itu agar mendirikan mezbah dengan hanya menggunakan batu, maka boleh jadi orang-orang Israel akan mengalami kesulitan dalam memperoleh bahan-bahan tersebut. Tetapi tanah selalu mudah didapat. Karena itu, mezbah yang dibuat dari tanah, menunjukkan betapa mudahnya kita mendapatkan salib.

Ketika kita menerima salib, boleh jadi kita dalam keadaan lemah, seperti tanah, atau kuat, seperti batu. Dalam penerimaan salib pada orang-orang beriman mungkin ada yang lemah, tetapi ada juga yang kuat. Bagaimana kita menerima salib tersebut, kuat atau lemah, tergantung pada diri kita sendiri. Prinsipnya adalah sama dengan penggunaan hewan yang berbeda-beda ukuran besarnya pada kurban bakaran. Seseorang dapat mempersembahkan seekor lembu jantan atau anak domba, sedangkan orang lain mungkin hanya dapat mempersembahkan burung merpati. Kita boleh mendirikan mezbah dari tanah atau batu, demikian pula kita boleh menerima salib dalam cara yang kuat maupun lemah. Meskipun demikian salib tetap salib, yang disediakan oleh Allah dalam pekerjaan-Nya. Kita tidak mempunyai bagian dalam menyediakan bahan-bahan tersebut. Kita hanya menerima apa yang telah Allah sediakan.

Dalam hal menerima salib, tidak ada tempat bagi pekerjaan manusia. Bidah yang terbesar dalam suatu aliran kekristenan, ialah adanya ruang untuk ditambahkannya pekerjaan manusia dalam hal menerima salib Kristus. Tetapi menurut Alkitab, tanah atau batu diciptakan oleh Allah untuk digunakan sebagai bahan pembuatan mezbah. Jika ada seseorang yang menganggap bahwa mezbah yang sedemikian ini terlalu kasar dan polos, dan ia ingin memahatnya supaya menjadi lebih indah, maka perbuatan yang demikian ini akan menyebabkan pencemaran. Menambahkan pekerjaan manusia pada pekerjaan persediaan Allah akan menimbulkan pencemaran.

Sepanjang sejarah gereja, banyak orang yang telah mencoba memperindah penyediaan Allah dengan pekerjaan manusia. Mereka menganggap pekerjaan Allah kurang in-dah, dan memerlukan manusia untuk menambahkan sesuatu agar lebih indah. Bahkan hari ini beberapa pendeta pun tidak senang berbicara dengan kata-kata yang sederhana. Bagi mereka ini merupakan suatu kebodohan. Tetapi dalam 1Korintus 1:23-24, Paulus berkata, “Kami memberitakan Kristus yang disalibkan: Untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan, tetapi untuk mereka yang dipanggil, baik orang Yahudi, maupun orang bukan Yahudi, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah.” Dalam pemberitaan Paulus mengenai salib tidak terdapat keindahan sedikit pun, tetapi yang ada ialah kekuatan dan hikmat Allah. Namun, khotbah-khotbah yang dibubuhi gula hari ini terlihat sangat indah, tetapi tidak mempunyai kekuatan atau hikmat. Bila pekerjaan manusia untuk memperindah ini ditambahkan pada pekerjaan Allah, akibatnya ialah pencemaran. Oh, betapa banyaknya kekristenan hari ini yang telah mencemari pekerjaan Allah! Pencemaran ini terutama datang melalui pekerjaan manusia. Banyak orang Kristen yang lebih menyukai batu pahatan dan polesan daripada batu alam yang diciptakan oleh Allah. Jadi dengan demikian, mereka mengubah pekerjaan Allah dan mencemarinya.

Selanjutnya, berdasarkan Keluaran 20:26, bangsa itu tidak diperbolehkan naik tangga untuk mencapai mezbah Tuhan. Mereka tidak diperbolehkan membuat tangga yang menuju ke mezbah tersebut. Tangga menunjukkan jalan yang dibuat oleh manusia. Setiap denominasi, memiliki bentuk tangganya sendiri-sendiri. Tangga-tangga itu menyebabkan aurat manusia tersingkap. Mezbah yang disediakan Allah tidak ditaruh pada tempat yang tinggi. Sebaliknya, mezbah ini dekat dengan tanah. Jadi untuk mencapai mezbah itu tidak diperlukan tangga. Puji Tuhan, salib berada pada ketinggian yang sama dengan kita, dan demikian mudahnya diperoleh! Tidak ada tempat bagi kebanggaan dan kemuliaan manusia. Tangga memberikan tempat bagi tindakan manusia. Perhatikan, berapa tangga yang terdapat dalam susunan hierarki pada kekristenan tertentu? Tetapi salib Kristus tidak bertangga; salib Kristus berada pada ketinggian yang sama dengan ketinggian kita. Pada salib tidak ada tempat bagi tindakan atau prestasi manusia, tidak ada tempat bagi cara manusia. Kita harus menolak setiap cara yang dibuat oleh manusia untuk mencapai salib.

III. DENGAN KURBAN — KRISTUS

Kita telah menunjukkan bahwa dari lima kurban yang utama, hanya dua kurbanlah yang disebutkan dalam Kitab Keluaran. Kurban bakaran adalah untuk kepuasan Allah, dan kurban keselamatan adalah untuk kenikmatan bangsa itu bersama Allah. Mempersembahkan kurban bakaran berarti mempersembahkan Kristus kepada Allah bagi kenikmatan dan kepuasan Allah. Mempersembahkan kurban keselamatan berarti mempersembahkan Kristus kepada Allah bagi kenikmatan dan kepuasan kita bersama Allah. Ibadah yang tepat kepada Allah harus meliputi kurban bakaran dan kurban keselamatan, yaitu Kristus yang dipersembahkan kepada Allah bagi kenikmatan dan kepuasan-Nya, dan yang kita nikmati bersama Allah. Ibadah yang sedemikian ini tidak ditemukan dalam agama-agama lain maupun kekristenan yang merosot.

Yohanes 4:24 adalah perkembangan dari Keluaran 20:22-26. Menurut Tuhan Yesus, kita harus menyembah Bapa dalam roh dan realitas (kebenaran). Realitas ini meliputi Kristus sebagai kurban bakaran dan kurban keselamatan. Sekali lagi kita melihat bahwa dengan disebutkannya kurban-kurban tersebut, maka prinsip utama dari penyembahan yang sejati dan tepat diwahyukan dalam Keluaran 20:22-26.

IV. PERINGATAN BAGI NAMA TUHAN

Keluaran 20:22-26 menunjukkan penyembahan kepada Allah sebelum orang-orang Israel memasuki tanah permai. Sewaktu mereka menempuh perjalanan ke tanah permai, mereka harus menyembah kepada Allah sesuai dengan prinsip yang ada dalam ayat-ayat ini. Tetapi setelah mereka memasuki tanah permai, mereka harus menyembah Dia di tempat yang telah ditentukan, yaitu tempat yang telah dipilih oleh Allah untuk menjadi tempat kediaman-Nya, dan juga nama-Nya. Namun prinsipnya tetap sama. Bila kita berkumpul untuk beribadah kepada Allah, maka kita harus memperingati nama-Nya, bukan nama-nama lain. Tetapi di antara kebanyakan orang Kristen hari ini, nama seperti Lutheran dan Wesleyan digunakan di samping nama Tuhan. Penggunaan nama-nama yang sedemikian ini merupakan sesuatu yang dibenci oleh Tuhan. Di satu pihak, dalam penyembahan kepada Allah yang tepat tidak boleh ada berhala; di pihak lain, tidak boleh ada nama lain selain nama Tuhan. Ketika kita berkumpul bersama-sama untuk beribadah kepada Allah, kita harus membuang nama-nama lain selain nama Tuhan (Ul. 12:11; Mat. 18:20). Hanya nama-Nya sajalah yang harus kita peringati dalam beribadah kepada Allah.

V. LAWATAN DAN BERKAT ALLAH

Jika kita beribadah kepada Allah dalam cara yang tepat, yang sesuai dengan ayat-ayat ini, Ia akan datang untuk memberkati kita. Ini berarti jika ibadah kita itu sungguh-sungguh, maka ibadah kita itu akan mengundang Allah untuk melawat kita dan memberkati kita. Untuk melakukan ini, Allah harus menjadi Allah yang hidup dan yang berbicara. Allah yang tidak berbicara, tidak dapat memberkati. Ingat, dalam ayat 22, Tuhan berkata bahwa Ia berbicara kepada bangsa itu dari langit. Karena itu, Ia adalah Allah yang hidup dan yang berbicara. Ibadah kita harus menjadi ibadah yang mengundang Allah yang hidup untuk melawat dan memberkati kita. Jika dalam suatu sidang tertentu terdapat ibadah yang tepat kepada Allah, maka kita pasti akan memperoleh jaminan bahwa Allah telah kita undang untuk melawat dan memberkati kita. Inilah hasil dari ibadah yang tepat kepada Allah. Puji Tuhan atas lawatan dan berkat-Nya! Ini membuktikan bahwa Allah yang kita sembah adalah Allah yang hidup dan Allah yang berbicara.