SELUBUNG PADA KEMULIAAN MINISTRI PENGHUKUMAN DAN KEMATIAN
Pembacaan Alkitab:
Kel. 34:29-35; 2Kor. 3:7, 9a, 13-18
Dalam berita ini kita akan merenungkan aspek “malam” hukum Taurat. Dalam 2Korintus 3:7 dan 9, Paulus menggunakan semua kata kunci yang ada dalam judul berita ini, yaitu “Selubung pada Kemuliaan Ministri (Pelayanan) Penghukuman dan Kematian”. Kata kemuliaan dan ministri bersifat positif; tetapi kata selubung, penghukuman, dan kematian, bersifat negatif. Dalam 2Korintus 3 pertama-tama Paulus membicarakan ministri (yang memimpin kepada) kematian (ayat 7), dan selanjutnya ia membicarakan ministri penghukuman (ayat 9). Kata-kata ini merupakan ungkapan-ungkapan yang luar biasa. Meskipun istilah-istilah ini ada di dalam Alkitab, tetapi tidak semua orang Kristen mengetahui istilah-istilah tersebut.
I. KEMULIAAN MINISTRI PENGHUKUMAN
DAN KEMATIAN
Menurut perkataan Paulus dalam 2Korintus 3, ministri (pelayanan) Musa adalah ministri penghukuman dan kematian. Tetapi ministri Paulus adalah ministri pembenaran dan Roh. Saya tidak tahu, apakah Musa merasa senang dengan cara Paulus yang membandingkan ministri pembenaran dan Roh dengan ministri penghukuman dan kematian itu. Dalam menulis 2Korintus 3, Paulus menggunakan “bertindak dengan penuh keberanian” (ayat 12). Ia dengan berani menunjukkan bahwa ministrinya lebih mulia daripada ministri Musa. Paulus mengatakan, “Sebab, jika pelayanan (ministri) yang memimpin kepada penghukuman itu mulia, betapa lebih mulianya lagi pelayanan yang memimpin kepada pembenaran” (ayat 9). Kita tahu dari Keluaran 34:29-35 bahwa wajah Musa bercahaya. Meskipun wajah Paulus tidak bercahaya dalam cara yang sedemikian ini, tetapi ia mengalami cahaya yang di dalam, yaitu cahaya yang keluar dari dalam rohnya. Antara Musa dengan Paulus terdapat dua macam cahaya yang berbeda: Cahaya yang di luar pada wajah, dan cahaya yang di dalam dari dalam roh. Hari ini, semua orang yang percaya kepada Kristus memiliki cahaya yang di dalam. Tetapi pada suatu hari, ketika Tuhan datang, kita akan diubah dan akan memiliki pula cahaya yang di luar. Pada saat itu, tidak hanya wajah kita yang bercahaya, bahkan seluruh tubuh kita akan bercahaya.
Beberapa ahli agama yang sistematis tidak menghargai nilai ministri Musa tersebut. Meskipun Paulus mengatakan bahwa ministri Musa adalah ministri penghukuman dan kematian, namun ia mengakui bahwa ministri itu disertai dengan kemuliaan. Lebih dari tiga ribu tahun yang lalu, ada seorang manusia di bumi ini yang wajahnya bercahaya karena kemuliaan Allah. Ini adalah perkara yang sangat bermakna, dan kita tidak boleh meremehkan perkara ini. Bersama-sama dengan Paulus kita harus mengakui bahwa ministri penghukuman dan kematian itu benar-benar mulia. Kemuliaan ini adalah satu fakta yang sangat menakjubkan, yang tidak bisa diperdebatkan. Kita mungkin secara ringan berkata bahwa kaum beriman Perjanjian Baru memiliki kemuliaan yang di dalam, sedangkan Musa hanya memiliki kemuliaan yang di luar. Tetapi sesungguhnya, ada orang Kristen yang hanya memiliki kemuliaan dalam doktrin, bukan dalam pengalaman mereka. Mereka boleh saja menyebut diri sendiri sebagai kaum beriman Perjanjian Baru yang memiliki kemuliaan yang di dalam, tetapi di manakah kemuliaan ini sebenarnya? Berdasarkan pengalaman dapat dikatakan bahwa mereka hanya memiliki sedikit sekali kemuliaan. Ya, memang kemuliaan Musa adalah kemuliaan di luar, tetapi kita tetap harus menghargainya.
Perkataan Paulus dalam 2Korintus 3 boleh dianggap sebagai penjelasan yang rinci mengenai Keluaran 34:29-35. Dalam Keluaran 34 hanya dikatakan bahwa kulit muka Musa bercahaya, tetapi tidak dikatakan bahwa kemuliaan terpancar dari wajah Musa. Namun dalam 2Korintus 3, Paulus menafsirkan Keluaran 34 dengan mengatakan bahwa cahaya pada wajah Musa merupakan kemuliaan ministri penghukuman dan kematian. Tanpa penjelasan yang diberikan oleh Paulus, kita tidak akan memiliki hikmat untuk berbicara mengenai wajah Musa yang bercahaya itu sebagai kemuliaan ministri tersebut. Lagi pula, kita tidak akan memiliki keberanian untuk mengatakan bahwa ministri penghukuman dan kematian itu mulia. Tetapi karena Paulus telah diterangi oleh Tuhan, maka ia berani mengatakan perkara-perkara ini. Cahaya pada wajah Musa merupakan kemuliaan dari suatu ministri, yang telah diberikan oleh Allah dan ditetapkan oleh Allah. Musa mempunyai satu ministri, dan ministri itu mulia.
II. SELUBUNG YANG MENUTUPI
KEMULIAAN MINISTRI
Pada butir ini kita perlu bertanya, mengapa ministri Musa menjadi ministri penghukuman dan kematian. Sebenarnya ministri Musa sendiri bukanlah ministri penghukuman dan kematian. Ministri ini menjadi ministri yang demikian, karena orang-orang Israel berada di dalam kegelapan dan hati mereka menjadi keras. Setidak-tidaknya tiga belas kali Kitab Keluaran mengatakan bahwa hati Firaun dikeraskan, atau Firaun mengeraskan hatinya. Ketika orang-orang Israel berada di kaki gunung Allah, hati mereka sama seperti hati Firaun. Ini berarti hati bangsa itu telah menjadi keras.
Bagaimana diri Anda, ditentukan oleh bagaimana hati yang Anda miliki. Jika Anda memiliki hati yang jahat, Anda adalah orang yang jahat. Tetapi jika Anda memiliki hati yang baik, Anda adalah orang yang baik. Demikian pula, jika hati Anda penuh dengan kebencian, Anda akan menjadi orang yang penuh dengan rasa benci. Tetapi jika hati Anda penuh dengan kasih, Anda akan menjadi orang yang penuh kasih. Ketika orang-orang Israel berada di Gunung Sinai untuk menerima hukum Taurat, mereka memiliki hati yang keras. Akibatnya, bagi mereka ministri kemuliaan itu menjadi ministri penghukuman dan kematian. Tentu saja tujuan Allah bukanlah menghukum bangsa itu atau membawa mereka ke dalam kematian. Tetapi karena hati bangsa itu keras dan buta seperti Firaun di Mesir, maka ministri kemuliaan itu menjadi ministri penghukuman dan bahkan kematian.
Prinsip ini sama dengan ketika kita membaca Alkitab. Jangan mengira bahwa Alkitab tidak mungkin menghukum atau mematikan Anda. Jika hati Anda tegar ketika Anda membaca Alkitab, maka bagi Anda Alkitab akan menjadi kitab penghukuman dan kematian. Janganlah berpegang pada konsepsi takhayul, yang beranggapan bahwa orang selalu menerima berkat ketika membaca Alkitab. Ini sama sekali tidak benar. Apakah Alkitab merupakan ministri hayat atau maut (kematian), pembenaran atau penghukuman, tergantung pada hati kita. Jika hati kita lunak, Alkitab akan merupakan suatu berkat. Tetapi jika hati kita keras, Alkitab akan menjadi kitab penghukuman dan kematian, sebagaimana ministri Musa menjadi ministri penghukuman dan kematian bagi orang Israel.
Dalam berita sebelumnya telah saya tunjukkan aspek hukum Taurat sebagai huruf-huruf yang mematikan. Dalam berita ini, kita akan merenungkan masalah selubung pada kemuliaan ministri penghukuman dan kematian. Mengenai aspek “malam” dari hukum Taurat terdapat dua hal yang penting, yaitu “membunuh” dan “menyelubungi” orang. Huruf-huruf itu mematikan, dan selubung itu menutupi. Hukum Taurat telah diberikan, tetapi ada selubung yang menutupinya. Demikian pula, mungkin dalam pengalaman kita juga ada selubung yang menutupi Alkitab.
Ketika Musa turun dari gunung, ia tidak tahu bahwa wajahnya bercahaya. Tetapi bangsa itulah yang melihat bahwa “wajah Musa bercahaya”. Akhirnya, barulah Musa sendiri mengetahui bahwa wajahnya bercahaya. Kemudian dikatakan bahwa Musa menyelubungi wajahnya. Namun anehnya, Musa baru menyelubungi wajahnya setelah ia selesai berbicara kepada bangsa itu (ayat 33). Sebelum turun dari gunung untuk berbicara kepada bangsa itu, Musa tidak memakai selubung. Bahkan ia tidak menyadari bahwa wajahnya bercahaya. Hanya setelah berbicara kepada bangsa itu, ia menyelubungi wajahnya. Ayat 34 mengatakan, “Tetapi apabila Musa masuk menghadap TUHAN untuk berbicara dengan Dia, ditanggalkannyalah selubung itu sampai ia keluar.” Selanjutnya dikatakan bahwa ketika Musa berbicara kepada orang-orang Israel, ia “menyelubungi mukanya kembali sampai ia masuk menghadap untuk berbicara dengan Tuhan” (ayat 35). Jadi ketika berbicara kepada bangsa itu, Musa menyelubungi wajahnya. Tetapi ketika ia berbicara dengan Allah, ia membuka selubung itu.
Wajah Musa bercahaya karena Allah berbicara dengan dia (ayat 29). Semakin Allah berbicara kepada Musa, wajah-nya semakin bercahaya. Musa tidak memakai selubung ke-tika berbicara dengan Tuhan, tetapi ia memakainya ketika berbicara dengan orang-orang Israel. Bangsa itu mungkin merasa tidak senang dan bahkan terhina karenanya. Boleh jadi mereka berkata kepada Musa, “Bila engkau berbicara dengan Tuhan, engkau tidak memakai selubung. Mengapa engkau harus mengenakan selubung ketika berbicara dengan kami?” Jawabannya adalah Musa menutupi wajahnya dengan sebuah selubung karena setelah berbicara kepada bangsa itu, ia menyadari bahwa hati mereka keras. Melalui keterangan dan penjelasan yang rinci dari Paulus dalam 2Korintus 3 mengenai Keluaran 34, kita tahu bahwa selubung itu adalah hati orang-orang Israel yang keras. Paulus mengatakan bahwa apabila hati seseorang berbalik kepada Tuhan, maka selubung itu diambil dari orang itu (ayat 16). Itulah sebabnya Keluaran 34 mengatakan bahwa selubung itu menutupi wajah Musa, sedangkan 2Korintus 3:15 mengatakan bahwa selubung itu menutupi hati bangsa itu. Selubung itu sebenarnya bukanlah kain yang digunakan oleh Musa untuk menutupi wajahnya, melainkan hati orang Israel yang telah menjadi keras, yaitu hati yang berpaling dari Tuhan.
Bila hati kita berbalik kepada Tuhan, maka tidak akan ada selubung. Tetapi jika hati kita berpaling dari Dia, hati yang demikian akan menjadi suatu selubung yang menghalangi kita dalam memandang wajah Tuhan. Jadi, hati yang berpaling dari Tuhan merupakan suatu selubung.
Musa menyelubungi wajahnya sebagai tanda bagi bangsa itu. Setelah berbicara kepada mereka, Musa menyadari bahwa mereka degil dan keras hati. Mereka tidak dapat mengerti kehendak Allah. Inilah alasan Musa menyelubungi wajahnya. Karena hati orang-orang Israel telah menjadi keras, maka ministri Musa yang mulia itu menjadi ministri penghukuman dan kematian. Namun seandainya hati orang-orang Israel itu telah menjadi lunak dan berbalik kepada Tuhan, maka ministri Musa itu tidak akan menjadi ministri penghukuman dan kematian. Tetapi karena hati mereka keras, maka mereka dihukum dan dimatikan oleh ministri Musa tersebut. Penghukuman dan kematian ini berlaku terus sampai kepada keturunan mereka, termasuk orang-orang Farisi dan orang-orang Yahudi. Mereka semua dihukum dan dimatikan oleh ministri Musa, sekalipun sebenarnya ministri itu adalah ministri yang mulia.
Demikian pula prinsip dalam Perjanjian Baru. Kita telah menunjukkan bahwa ministri dalam Perjanjian Baru adalah ministri pembenaran dan Roh, lebih mulia daripada ministri Musa. Tetapi jika hati kita keras dan berpaling dari Tuhan, maka dalam pengalaman kita, ministri Perjanjian Baru yang mulia itu bahkan akan menjadi ministri penghukuman dan kematian bagi kita.
Menurut Yohanes 12:48, Tuhan Yesus berkata kepada para agamawan, “Siapa saja yang menolak Aku, dan tidak menerima perkataan-Ku, ia sudah ada hakimnya, yaitu firman yang telah Kukatakan, itulah yang akan menghakiminya pada akhir zaman.” Ini menunjukkan bahwa mereka yang tidak percaya kepada Kristus, akan dihakimi dan dihukum oleh firman-Nya. Mereka yang akan binasa pada waktu yang akan datang bukannya dihukum oleh hukum Taurat, melainkan oleh Injil. Hari ini Injil adalah firman yang benar, rohani, dan hayat. Tetapi mereka yang keras hati akan dihukum mati oleh Injil ini. Bagi mereka, ministri Perjanjian Baru yang mulia itu akan menjadi ministri penghukuman dan kematian.
III. PERLU HATI YANG TEPAT
Prinsip ini berlaku bagi orang yang percaya maupun bagi orang yang tidak percaya. Paulus memberi tahu kita bahwa pada suatu hari, kita semua akan berdiri di hadapan takhta penghakiman Kristus. Hari ini, setiap firman dalam Perjanjian Baru merupakan firman berkat. Tetapi pada saat kita berdiri di hadapan takhta penghakiman Kristus, firman Perjanjian Baru itu bagi kita mungkin akan menjadi firman penghukuman. Inilah yang akan menjadi situasi kita, bila sebagai orang yang telah beroleh selamat dan dilahirkan kembali kita mengeraskan hati kita dan tidak berbalik kepada Tuhan. Sekali lagi kita melihat bahwa prinsip ministri Musa dalam Perjanjian Lama sama dengan ministri dalam Perjanjian Baru. Apakah ministri itu membenar-kan kita atau menghukum kita, rohani atau kematian, tergantung pada hati kita.
Kita semua perlu menerima anjuran yang demikian, yaitu harus memiliki hati yang tepat setiap kali kita mendengarkan firman Tuhan. Jika hati kita benar, kita akan menerima berkat yang besar. Tetapi jika hati kita keras, kita tidak akan menerima berkat. Jika kita bersikap acuh tak acuh, kita tidak akan memperoleh berkat melalui ministri firman Allah. Sebenarnya, ketidakacuhan kita itu menyebabkan hati kita menjadi keras. Jika Anda bersikap acuh tak acuh terhadap perkataan Tuhan, maka akhirnya Anda tidak akan memperhatikan firman-Nya lagi. Ketidak-acuhan itu akan menjadi suatu selubung antara Anda dengan Tuhan.
Ketika Musa berbicara kepada bangsa itu, mungkin banyak di antara mereka yang tidak menentangnya, hanya saja mereka tidak menerima perkataan Musa dengan hati yang terbuka. Mereka bersikap acuh tak acuh terhadap apa yang Musa katakan. Sikap acuh tak acuh ini menyebabkan Musa menyelubungi wajahnya, sebagai tanda bahwa bangsa itu tidak mau menerima firman Allah. Menurut Keluaran 34, ketika Musa, hamba Tuhan, berbicara dengan Tuhan, ia menanggalkan selubung yang menutupi wajahnya. Hati Musa tidak keras atau acuh tak acuh. Bukan saja ia tidak berpaling dari Tuhan, bahkan mutlak untuk Tuhan. Inilah alasannya mengapa Musa tidak memakai selubung ketika berbicara dengan Allah. Keluaran 34 menekankan fakta bahwa ketika berbicara kepada bangsa itu Musa menyelubungi wajahnya, namun ketika berbicara dengan Allah, dia menanggalkan selubung tersebut. Ini merupakan perkara yang sangat serius, karena banyak hamba Tuhan yang tidak berselubung ketika berbicara dengan Tuhan, tetapi berselubung ketika berbicara kepada umat Allah. Hal ini menandakan bahwa keadaan orang yang mendengarkan firman Allah itu tidak sehat.
Saya tidak percaya bahwa Musa merasa senang ketika mendapati bahwa ia harus menyelubungi wajahnya. Ia pasti akan merasa senang bila ia dapat menanggalkan selubungnya itu ketika ia berbicara dengan Tuhan. Pada saat-saat yang demikian, ia pasti memiliki pengalaman yang indah akan Allah. Tetapi ketika ia keluar untuk berbicara kepada bangsa itu dan harus mengenakan selubung pada wajahnya, hatinya pasti merasa sedih. Di satu pihak, ia berbeban untuk berbicara kepada bangsa itu atas nama Tuhan; tetapi di pihak lain, ia tidak dapat berbicara dengan gembira, melainkan dengan berat hati.
Mungkin saja ini juga merupakan pengalaman dari hamba-hamba Tuhan yang setia pada hari ini. Ketika mereka berbicara kepada umat Allah, kadang-kadang mereka berbicara tanpa sukacita. Tetapi ketika mereka menghadap kepada Tuhan untuk bersekutu dengan Dia, mereka penuh dengan sukacita. Meskipun terdapat suatu selubung ketika mereka berbicara kepada umat Allah, tetapi ketika berbicara dengan Tuhan, selubung itu tidak ada. Selubung itu bukan berada di pihak hamba-hamba Tuhan tersebut; tetapi berada di pihak orang-orang yang hatinya keras, acuh tak acuh, dan berpaling dari Tuhan.
Jangan beranggapan bahwa hukum Taurat memang berkemungkinan menjadi ministri penghukuman dan kematian, sedangkan Injil anugerah dalam Perjanjian Baru tidak akan dapat menjadi ministri yang demikian. Bagi orang-orang yang tidak percaya dan bahkan bagi kaum beriman yang bersikap acuh tak acuh, anugerah itu dapat menjadi ministri penghukuman dan kematian. Itulah sebabnya kita harus bersungguh-sungguh terhadap perkataan Tuhan. Allah berbicara kepada kita merupakan perkara yang sangat besar artinya. Alangkah menakutkan jika kita bersikap acuh tak acuh ketika Tuhan datang kepada kita untuk bersekutu atau berbicara dengan kita! Tidakkah Anda akan merasa terhina bila orang yang Anda ajak bicara tidak memperhatikan apa yang sedang Anda katakan? Kita akan benar-benar merasa terganggu oleh sikap yang demikian. Betapa kita harus jauh lebih serius terhadap perkataan Allah dalam anugerah-Nya! Allah yang mulia adalah Allah yang berbicara. Karena Ia demikian memperhatikan kita, maka Ia berbicara kepada kita. Jika kita acuh tak acuh terhadap perkataan-Nya, itu menandakan hati kita telah menjadi keras. Hal yang demikian akan menyebabkan Allah merasa tidak senang; demikian pula dengan hamba-hamba-Nya. Sebelum seorang hamba Tuhan berbicara kepada Anda, wajahnya bercahaya. Tetapi setelah beberapa saat berbicara kepada Anda, ia menjadi tidak senang karena ketidakacuhan Anda. Tidak lama kemudian, Anda akan terselubung dan tidak dapat melihat kemuliaan ministri Perjanjian Baru. Selubung itu merupakan tanda bahwa dalam hati Anda terdapat masalah tertentu terhadap Tuhan. Mungkin saja hati Anda keras, dingin, atau acuh tak acuh. Ini sangat serius.
IV. MEMANDANG KEMULIAAN TUHAN
DENGAN MUKA YANG TIDAK
BERSELUBUNG
Dalam 2Korintus 3, Paulus menjelaskan secara rinci mengenai Keluaran 34, tetapi penjelasan itu bukanlah untuk kepentingan orang-orang Israel, melainkan untuk kepentingan kita. Dalam ayat 18, akhirnya ia berbicara mengenai wajah yang terbuka, yaitu wajah yang tidak berselubung, yang memandang kemuliaan Tuhan. Wajah yang terbuka sebenarnya adalah hati yang telah berbalik kepada Tuhan. Ayat 16 menunjukkan bahwa bila hati seseorang berbalik kepada Tuhan, maka selubung itu akan diambil dari dia. Begitu selubung itu ditanggalkan, maka wajah seseorang akan terbuka. Dari konteks 2Korintus 3, kita melihat bahwa hati kita yang berbalik kepada Tuhan akan menyebabkan kita memiliki wajah yang terbuka, tidak berselubung. Memiliki wajah yang tidak berselubung berarti tidak terdapat ketidakacuhan dalam hati kita terhadap Tuhan atau firman-Nya. Selama hati kita acuh tak acuh, maka wajah kita akan berselubung. Tetapi jika hati kita berbalik kepada Tuhan, selubung itu akan diambil dari kita. Kemudian dengan wajah yang tidak berselubung, kita akan memandang dan mencerminkan kemuliaan Tuhan.
Ketika Anda memandang diri Anda sendiri pada sebuah cermin, maka cermin itu akan mencerminkan Anda. Tetapi jika cermin itu ditutupi dengan suatu benda, maka terdapatlah suatu pemisah antara Anda dengan cermin tersebut. Itu akan menyebabkan cermin tersebut tidak dapat mencerminkan gambar Anda. Tetapi begitu penutup itu dipindahkan dari cermin tersebut, maka cermin tersebut akan mencerminkan Anda lagi. Kita perlu menjadi cermin yang tidak berselubung dalam memandang dan mencerminkan Tuhan. Jika ini menjadi pengalaman kita, kita akan benar-benar diubah serupa dengan gambar-Nya dalam kemuliaan yang semakin besar.
Diubah berarti gambar Tuhan terukir ke dalam kita, dan kemudian terpantul keluar dari dalam kita. Sebagaimana sebuah cermin dapat dipenuhi gambar seseorang dan menjadi pencerminan gambar orang tersebut, demikian pula kita perlu diubah dari satu tingkat kemuliaan ke tingkat kemuliaan yang lain, sampai kita menjadi pencerminan Tuhan. Menurut perkataan Paulus dalam 2Korintus 3:18, kemuliaan ini datangnya dari Tuhan Roh.
Kita telah menunjukkan bahwa dalam pengalaman kita, baik ministri Musa maupun ministri dalam Perjanjian Baru dapat menjadi ministri penghukuman dan kematian. Masalah yang utama di sini ialah selubung. Jika kita tertutup oleh suatu selubung, akibatnya ministri Perjanjian Lama dan ministri Perjanjian Baru akan menjadi penghukuman dan kematian. Bagi mereka yang hatinya keras dan berpaling dari Tuhan, bahkan Injil anugerah pun akan menjadi ministri penghukuman dan kematian. Bila hati kita berpaling dari Tuhan, hati kita akan menjadi selubung yang memisahkan kita dari Tuhan.
Mengenai hal ini, saya tidak hanya mengkhawatirkan orang-orang Kristen pada umumnya, tetapi terutama kita yang berada di dalam pemulihan Tuhan. Saya mengkhawatirkan mereka yang datang dalam sidang-sidang gereja, namun memiliki selubung yang memisahkan mereka dari Tuhan. Meskipun mereka duduk dalam sidang-sidang gereja, tetapi seperti orang-orang Israel yang berada di kaki Gunung Sinai, mereka tertutup oleh suatu selubung. Apa yang menjadi masalah di sini bukanlah jarak, melainkan penutup. Orang-orang Israel tidak berada di Mesir; mereka berada di kaki gunung Allah. Tetapi karena mereka berselubung, mereka terpisah dari Tuhan. Boleh jadi juga kita mendekati Tuhan, dan setidak-tidaknya menghadiri beberapa sidang, namun masalah yang menentukan di sini ialah di manakah hati kita? Jika hati kita acuh tak acuh dan berpaling dari Tuhan, hati kita yang acuh tak acuh itu akan menjadi selubung yang memisahkan kita dari Tuhan. Meskipun mungkin kita mendekati Tuhan, tetapi hati kita acuh tak acuh dan tidak berpaling kepada Dia. Oh, semoga kita semua merenungkan masalah ini dengan serius di hadapan Tuhan!
V. SUATU PERINGATAN YANG SERIUS
Setelah melihat terang mengenai selubung yang menutupi kemuliaan ministri penghukuman dan kematian ini, pertama-tama yang sangat saya khawatirkan adalah diri saya sendiri, kemudian mereka yang berada di dalam pemulihan Tuhan, dan setelah itu semua orang Kristen. Tuhan masih tetap berbicara, tetapi bagaimanakah keadaan hati kita? Di manakah hati kita? Hati kita berbalik kepada Tuhan, atau berpaling dari Dia? Kita memiliki hati yang damba terhadap Tuhan, atau hati yang dingin dan acuh tak acuh? Baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, faktor yang menentukan ialah hati kita.
Kita tidak seharusnya memperhatikan ajaran-ajaran yang obyektif dan doktrinal, yang mengatakan bahwa ministri hukum Taurat dalam Perjanjian Lama adalah ministri penghukuman, sedangkan ministri dalam Perjanjian Baru adalah ministri anugerah. Tentu saja kita sekarang hidup dalam zaman anugerah, tetapi kita mungkin menjadi seperti orang-orang Farisi, dan tidak menerima anugerah. Pada hari kedatangan-Nya, Tuhan akan berkata kepada banyak orang beriman, “Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyah-lah dari hadapan-Ku, kamu sekalian yang melakukan kejahatan!” (Mat. 7:23). Saya perlu berkali-kali menekankan fakta bahwa prinsip dalam Perjanjian Lama sama dengan prinsip dalam Perjanjian Baru. Apakah perkataan Allah merupakan hayat atau maut bagi kita, tergantung pada hati kita. Mendengarkan firman Allah adalah perkara yang sangat serius. Allah penuh rahmat, dan di dalam rahmat-Nya Ia datang untuk berbicara kepada kita. Tetapi jika kita bersikap tidak sopan terhadap Dia dan menghina Dia dengan bersikap acuh tak acuh, perkataan-Nya akan segera menjadi penghukuman dan kematian bagi kita. Demikian pula ketika kita membaca Alkitab. Ketika Allah berbicara kepada kita, kita perlu memalingkan hati kita kepada Dia, dan menanggapi Dia dengan cara yang tepat. Kalau tidak, bahkan ministri Perjanjian Baru pun, yaitu ministri pembenaran dan Roh, akan menjadi ministri penghukuman dan kematian. Kemudian sebagai pengganti dari memperoleh berkat, kita bahkan akan menderita kerugian.
Peringatan-peringatan yang sedemikian ini telah diberitakan di seluruh Perjanjian Baru, yaitu dalam kitab-kitab Injil, Surat-surat Kiriman, dan Kitab Wahyu. Pada akhir Kitab Wahyu, Tuhan Yesus berkata, “Sesungguhnya Aku datang segera dan Aku membawa upah-Ku untuk membalaskan kepada setiap orang menurut perbuatannya” (Why. 22:12). Upah yang kita terima pada hari itu ditentukan oleh sikap kita hari ini. Apakah ministri Tuhan membawakan pembenaran atau penghukuman, hayat atau maut, tergantung pada hati kita. Kita semua perlu mempelajari pelajaran yang sangat penting ini.
VI. SELUBUNG YANG MENUTUPI
HATI UMAT ALLAH
Baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, menekankan pentingnya hati kita. Perjanjian Lama memerintahkan kita agar kita mengasihi Tuhan Allah kita dengan segenap hati kita. Dalam Kitab Wahyu, kita melihat bahwa kemerosotan gereja dimulai dengan hilangnya kasih yang semula terhadap Tuhan. Ini berhubungan dengan hati. Sebagaimana telah kita tunjukkan, dalam 2Korintus 3, Paulus mengatakan bahwa selubung itu bukan menutupi wajah Musa, melainkan menutupi hati bangsa itu. “Bahkan sampai pada hari ini”, Paulus mengatakan, “setiap kali mereka membaca kitab Musa, ada selubung yang menutupi hati mereka” (ayat 15). Selubung yang menutupi wajah Musa sebenarnya adalah lambang dari selubung yang menutupi hati bangsa itu.
Dalam 2Korintus 3, Paulus mengatakan bahwa selubung ini telah disingkirkan di dalam Kristus. Namun, kita masih perlu memalingkan hati kita kepada Tuhan. Apabila hati seseorang berbalik kepada Tuhan, maka selubung itu akan diambil dari orang itu. Di satu pihak, selubung itu telah disingkirkan oleh penebusan Kristus. Tetapi di pihak lain, selubung itu akan disingkirkan bila kita memalingkan hati kita kepada Tuhan. Semua orang Kristen yang sejati berada di dalam Kristus, dan di dalam Kristus selubung itu telah disingkirkan. Tetapi kebanyakan orang Kristen hari ini masih memiliki selubung yang menutupi hati mereka. Pada dasarnya, mereka sama seperti orang-orang Israel yang telah ditebus, dibebaskan dari Mesir, dan dibawa ke Gunung Sinai. Karena bangsa itu mempunyai masalah dalam hati mereka, maka hati mereka menjadi selubung yang memisahkan mereka dari Tuhan. Demikian pula dengan kaum beriman hari ini. Kita telah diselamatkan, dibawa ke luar dari Mesir, yaitu dunia, dan kita sekarang berada di dalam Kristus. Meskipun selubung itu telah disingkirkan di dalam Kristus, tetapi dalam pengalaman kita, selubung itu masih ada, dikarenakan adanya masalah di dalam hati kita.
Telah berkali-kali para nabi dalam Perjanjian Lama berbicara mengenai hati bangsa itu, dan mengatakan kepada mereka bahwa mereka harus menanggulangi hati mereka, atau hati mereka perlu disunat (Yl. 2:13; Yer. 4:4). Akhirnya, melalui Yehezkiel, Tuhan berjanji akan memberikan hati yang baru kepada bangsa itu (Yeh. 36:26). Mengutip nubuat Yesaya, Tuhan Yesus berkata kepada para agamawan, “Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari Aku” (Mat. 15:8). Bahkan sewaktu mereka menyembah Allah pun, hati mereka jauh dari Allah.
Demikian pula situasi hari ini, bahkan setiap hari Minggu pagi. Berjuta-juta orang pergi ke tempat-tempat ibadah untuk beribadah kepada Allah. Tetapi bagaimanakah keadaan hati mereka? Bagaimanakah keadaan hati Anda sendiri sewaktu Anda mengikuti sidang-sidang gereja? Ya, mungkin kita telah datang ke gunung Allah hari ini, tetapi boleh jadi hati kita tidak bersama Tuhan. Menurut ketujuh surat dalam Wahyu 2 dan 3, kita berkemungkinan kehilangan kasih kita yang semula atau menjadi suam-suam kuku. Kehilangan kasih yang semula dan keadaan yang suam-suam kuku itu merupakan masalah di dalam hati kita.
Paulus mengatakan bahwa ketika orang-orang Yahudi membaca hukum Taurat, ada selubung yang menutupi hati mereka. Itulah sebabnya mereka membaca Perjanjian Lama tanpa menerima terang sedikit pun. Karena itu, tidak hanya orang-orang kafir saja yang berada di dalam kegelapan, tetapi orang-orang Yahudi pun berada di dalam kegelapan. Mereka mempunyai Alkitab, tetapi karena ada suatu selubung yang menutupi hati mereka, maka mereka tidak diterangi. Demikian pula dengan kebanyakan orang Kristen hari ini. Meskipun mereka membaca Alkitab, tetapi mereka tidak memperoleh terang. Namun sekalipun Musa berada di bawah zaman Perjanjian Lama, ia berada dalam kemuliaan. Orang-orang Kristen hari ini berada di bawah zaman Perjanjian Baru, tetapi banyak di antara mereka yang berada dalam selubung. Dalam pengalaman mereka, mereka tidak berada di dalam kemuliaan.
VII. MAKNA PENGALAMAN
DI BAWAH PERJANJIAN LAMA
DAN DI BAWAH PERJANJIAN BARU
Tahukah Anda makna pengalaman di bawah Perjanjian Lama? Maknanya ialah menerima firman Allah dalam keadaan berselubung. Dari sudut pengalaman, sebenarnya semua orang Kristen masih berada di bawah Perjanjian Lama. Memang, mereka menerima firman Allah, tetapi mereka berselubung. Berada di bawah Perjanjian Baru ialah menerima firman Allah tanpa suatu penutup apa pun, tanpa selubung. Kemudian firman Allah tidak hanya akan bercahaya pada hati kita, tetapi juga dari dalam hati kita. Pendek kata, berselubung ialah berada di bawah Perjanjian Lama, sedangkan tidak berselubung adalah berada di bawah Perjanjian Baru. Menurut penjelasan Paulus mengenai Keluaran 34 yang disajikan dalam 2Korintus 3, selama ada selubung yang menutupi kita, kita berada di bawah Perjanjian Lama.
Meskipun orang-orang Yahudi hari ini secara urutan zaman hidup pada zaman Perjanjian Baru, tetapi berdasarkan keadaan rohani mereka, mereka masih berada dalam Perjanjian Lama. Demikian pula kebanyakan orang Kristen hari ini. Sebagaimana orang-orang Yahudi berselubung, orang-orang Kristen ini pun berselubung. Jika kita jujur, kita akan mengakui bahwa keadaan kita pun demikian. Apakah kita berada dalam Perjanjian Lama atau Perjanjian Baru, ditentukan oleh hati kita. Meskipun secara urutan zaman, Musa hidup pada zaman Perjanjian Lama, tetapi berdasarkan keadaan rohaninya, ia berada dalam Perjanjian Baru. Ini dikarenakan hati Musa sepenuhnya untuk Tuhan. Banyak orang Kristen pada hari ini yang berselubung dan tidak mencerminkan kemuliaan Allah, tetapi Musa dapat bercahaya dengan kemuliaan Allah. Karena ia tidak berada di bawah selubung, maka sebenarnya ia tidak berada di bawah Perjanjian Lama.
Lagi pula, Musa berada di puncak gunung, di atas awan. Tetapi orang-orang Israel berada di bawah awan. Awan ini sama dengan selubung yang menutupi wajah Musa. Di antara Allah yang berada di puncak gunung dengan orang-orang Israel yang berada di kaki gunung, terdapat awan. Selubung yang menutupi wajah Musa merupakan lambang dari awan ini, dan juga lambang dari hubungan yang berkabut antara orang-orang Israel dengan Allah. Mereka tidak memiliki langit yang cerah. Tetapi bagi Musa yang berada di puncak gunung, langit sangat cerah. Demikian pula, banyak orang Kristen hari ini berada di bawah awan; hanya sedikit sekali yang berada di atas awan dan menikmati langit yang cerah bersama Tuhan. Karena itu, berdasarkan keadaan rohani mereka, banyak orang Kristen yang sebenarnya berada di bawah Perjanjian Lama. Karena menyadari hal ini, maka Paulus menulis Surat 2Korintus untuk membantu kaum beriman meninggalkan taraf Perjanjian Lama, dan berdasarkan pengalaman masuk ke dalam taraf Perjanjian Baru. Inilah alasannya mengapa Paulus berbicara mengenai memandang dan mencerminkan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Banyak orang Kristen hari ini yang berada di bawah awan dan selubung. Sedikit sekali di antara mereka yang benar-benar berada di bawah Perjanjian Baru, dengan muka yang tidak berselubung memandang dan mencerminkan Tuhan. Tetapi jika kita memiliki muka yang tidak berselubung untuk memandang dan mencerminkan Tuhan, maka dalam pengalaman rohani kita, kita akan berada di bawah Perjanjian Baru.