← Daftar isi Keluaran (5) · bab 1/16

MENINGGALKAN ALLAH YANG HIDUP, HUKUM TAURAT MENJADI HURUF-HURUF YANG MEMATIKAN

Pembacaan Alkitab:

2Kor. 3:6; Rm. 7:8-14; 10:5; Im. 18:5;

Gal. 3:21; Yoh. 5:39-40; Yeh. 36:26-27;

Gal. 3:2-5; 5:2, 4, 6; 6:15

Kehendak kekal Allah ialah menggarapkan diri-Nya sendiri ke dalam kita sebagai hayat kita, sehingga kita boleh menerima Dia sebagai persona kita, dan kita boleh memperhidupkan serta mengekspresikan Dia. Inilah kehendak hati Allah, juga hal yang utama dari Alkitab. Untuk menggenapkan kehendak ini, Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya. Dalam menciptakan manusia, Allah berkeinginan supaya manusia menerima Allah ke dalamnya, menerima Dia sebagai hayat dan segala sesuatu baginya. Karena alasan inilah, maka setelah menciptakan manusia, Allah menempatkan manusia di depan pohon hayat. Ini menunjukkan bahwa Allah menghendaki manusia makan dari pohon ini, yang merupakan lambang Allah sendiri sebagai hayat. Makan dari pohon hayat berarti menerima Allah ke dalam kita sebagai hayat dan suplai hayat.

Pohon hayat dapat kita lihat baik dalam Kejadian 2 maupun dalam Wahyu 22. Dari kekekalan sampai kekekalan, keinginan Allah ialah supaya manusia makan dari pohon hayat ini. Nasib kita dalam kekekalan yang akan datang ialah makan buah pohon hayat, dan dengan demikian memperhidupkan Allah serta mengekspresikan Dia. Inilah keinginan kekal Allah.

Dalam Kejadian 3, ular membujuk manusia agar makan buah pohon pengetahuan baik dan jahat. Akibat makan buah ini, manusia jatuh. Sebagai pengganti dari makan buah pohon hayat, manusia malah makan buah pohon pengetahuan.

Prinsip hayat adalah bersandar, sedangkan prinsip pengetahuan adalah merdeka. Sebagai contoh, setelah seorang murid belajar matematika dan menguasai semua pelajaran matematika yang telah diajarkan oleh gurunya, ia dapat merdeka, tidak bersandar kepada gurunya lagi. Karena murid itu telah menguasai pelajaran matematika, maka ia tidak perlu lagi bersandar kepada gurunya. Pengetahuan menuju kepada kemerdekaan, sedangkan hayat memerlukan ketergantungan atau sandaran yang terus-menerus. Kita tidak dapat berusaha menjadi merdeka dalam hal jalan hayat. Sebenarnya, semakin banyak hayat yang kita peroleh, kita semakin tergantung kepada Allah. Untuk mempertahankan hayat jasmaniah kita, kita harus bernafas, minum, dan makan. Jika kita ingin hidup, kita tidak dapat berhenti dari bernafas, minum, dan makan.

Seandainya manusia tidak jatuh, kehidupan manusia tidak akan merdeka terhadap Allah, melainkan secara terus-menerus menerima Allah ke dalamnya dan hidup oleh Dia. Manusia bisa bersandar kepada Allah, dan tidak ada sekatan antara Allah dengan manusia. Manusia akan secara langsung dapat menerima Allah sebagai hayat, hidup oleh Dia, dan bahkan memperhidupkan Dia. Alangkah indahnya situasi ini! Pada saat kejatuhan manusia, timbullah sekatan antara Allah dengan manusia, yaitu sekatan yang menyebabkan pemisahan di antara mereka. Pengetahuan baik dan jahat membuat manusia merdeka terhadap Allah.

Akibat lain dari makan buah pohon pengetahuan baik dan jahat, ialah manusia berusaha melakukan sendiri perkara-perkara bagi Allah. Dalam arti tertentu, manusia tahu bahwa dirinya telah tidak menyenangkan Allah. Karena mengetahui hal ini, maka manusia bertekad melakukan sesuatu untuk mencari perkenan Allah. Oleh karena itu, pada kejatuhan manusia terdapat dua sifat yang mencolok: merdeka dan berusaha sendiri untuk mencari perkenan Allah.

Allah tidak ingin melepaskan kehendak-Nya yang semula terhadap manusia. Untuk menanggulangi manusia dalam situasinya yang telah jatuh, Allah memberikan perintah-perintah kepadanya. Dengan memberikan perintah-perintah kepada manusia seolah-olah Allah berkata, “Kamu ingin melakukan sesuatu untuk mencari perkenan-Ku, tetapi kamu tidak menyadari betapa kamu telah jatuh, betapa kamu tidak mampu, dan betapa jauhnya kamu dari-Ku. Fakta bahwa kamu berusaha untuk mencari perkenan-Ku, membuktikan bahwa kamu tidak tahu di mana kamu berada. Sekarang biarlah Aku memberikan beberapa perintah untuk menguji kamu, untuk membuktikan apakah kamu dapat memenuhi perintah-perintah itu atau tidak.”

Hukum Taurat yang dititahkan oleh Allah setidak-tidaknya memiliki tiga fungsi. Pertama, hukum Taurat menggambarkan dan mendefinisikan Allah. Sebagai kesaksian Allah, hukum Taurat benar-benar merupakan gambar Allah; dan menunjukkan kepada kita macam apa Allah itu. Semua perintah yang diberikan oleh Allah, baik dalam Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru, mewahyukan apa dan siapa Allah itu. Imamat 19:2 memberikan perintah demikian, “Kuduslah kamu, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, kudus.” Tuhan Yesus bahkan memberikan perintah yang lebih tinggi: “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapa-Mu yang di surga sempurna” (Mat. 5:48). Prinsip keduanya adalah sama: hukum Taurat memberikan gambaran mengenai Allah. Menurut hukum Taurat yang telah Allah berikan, Allah adalah sempurna, kudus, dan benar; Ia adalah Allah kasih dan Allah terang. Hukum Taurat-Nya memberikan gambaran mengenai apa adanya Dia.

Fungsi kedua dari hukum Taurat ialah menyingkapkan kita. Fungsi ini dikatakan secara sempurna dalam Roma 7. Dalam Roma 7:7, Paulus menyatakan, “Sebaliknya, justru melalui hukum Taurat aku telah mengenal dosa. Karena aku juga tidak tahu apa itu keinginan, kalau hukum Taurat tidak mengatakan, ‘Jangan mengingini.’” Sebelum hukum Taurat datang, dosa tidak aktif. Dalam Roma 7:8, Paulus mengatakan, “Tanpa hukum Taurat dosa mati.” Kemudian dalam ayat berikutnya ia mengatakan, “sesudah datang perintah itu, dosa mulai hidup, sebaliknya aku mati.” Dengan menggunakan hukum Taurat sebagai pisau, dosa menghukum mati Paulus. Dalam ayat 11, Paulus memberi tahu kita bahwa dosa membunuh dia dengan mengambil kesempatan melalui perintah itu. Jadi dalam pengalamannya, Paulus menemukan bahwa perintah itu membawa kematian terhadap dirinya. Allah menggunakan hukum Taurat untuk menyingkapkan dia. Fungsi ketiga dari hukum Taurat ialah menaklukkan kita. Setelah kita disingkapkan, kita perlu ditaklukkan. Segera setelah kita ditaklukkan oleh hukum Taurat, kita dibawanya kepada Allah. Pemuda kaya dalam Matius 19 itu telah dikalahkan ketika ia berkontak dengan Tuhan; namun, ia tidak ditaklukkan. Inilah alasannya mengapa ia pergi dengan sedih. Seandainya ia mau takluk dan berkata, “Tuhan Yesus, aku tidak dapat memenuhi permintaan-Mu untuk menjual semua milikku dan memberikan semuanya itu kepada orang-orang miskin.” Tuhan akan menjawab, “Karena kamu tidak dapat melakukannya, maka biarlah Aku yang memenuhi permintaan ini untukmu.” Tuhan ingin masuk ke dalam kita, menjadi hayat kita, dan memenuhi setiap tuntutan Allah bagi kita.

Dalam Filipi 2:12 Paulus berkata, “Saudara-saudaraku yang terkasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih lagi sekarang waktu aku tidak hadir.” Kita perlu ditaklukkan oleh perkataan Paulus, dan mengakui bahwa kita tidak dapat mengerjakan keselamatan kita. Kemudian kita harus menghargai perkataan Paulus dalam ayat berikutnya, “Karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.” Meskipun kita tidak dapat mengerjakan keselamatan kita, tetapi Allahlah yang akan mengerjakan di dalam kita baik kemauan maupun pekerjaan. Ini akan memungkinkan kita mengerjakan keselamatan kita sesuai dengan pekerjaan Allah di dalam kita.

Setelah kita ditaklukkan oleh hukum Taurat, dan mengatakan kepada Tuhan bahwa kita tidak dapat memenuhi permintaan-Nya, yaitu menjadi kudus seperti Allah atau sempurna seperti Bapa, Tuhan akan berkata, “Bukalah dirimu dan terimalah Aku. Biarkanlah Aku masuk ke dalammu dan memenuhi permintaan-permintaan ini untukmu. Aku akan menjadi kekudusan dan kesempurnaanmu.” Kita tidak dapat menjadi kudus, tetapi kita dapat dikuduskan. Demikian pula, kita tidak dapat sempurna, tetapi kita dapat disempurnakan. Kehendak Allah ialah masuk ke dalam kita untuk menjadi hayat dan persona kita. Dengan cara demikian, Ia menjadi satu dengan kita, dan kita menjadi satu dengan Dia. Kemudian karena Ia hidup di dalam kita, maka kita akan memperhidupkan Dia. Inilah prinsip utama wahyu ilahi dalam Alkitab.

Dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, Allah memerintahkan umat-Nya untuk melakukan banyak perkara. Di samping Sepuluh Perintah Allah, masih terdapat banyak sekali perintah-perintah dan peraturan-peraturan. Keluaran 21—23 penuh dengan perintah-perintah, dan peraturan-peraturan yang sedemikian ini. Semua itu digunakan oleh Allah untuk menyingkapkan dan menaklukkan orang-orang Israel. Tujuan-Nya ialah menggunakan hukum Taurat untuk menggambarkan diri-Nya sendiri, menyingkapkan kita, dan menaklukkan kita, sehingga kita dapat terbuka kepada Dia dan membiarkan Dia masuk ke dalam kita, untuk menjadi hayat dan segala sesuatu bagi kita. Kemudian Ia akan hidup di dalam kita, dan kita akan memperhidupkan Dia.

Kita telah melihat bahwa pada pemberian hukum Taurat terdapat dua aspek, yaitu aspek “siang” dan aspek “malam”. Jika kita mengira bahwa kita dapat memenuhi permintaan-permintaan hukum Taurat dan berusaha melakukannya, kita akan mendapati diri kita berada di dalam “malam”. Kita akan membuat perintah-perintah hukum Taurat itu terpisah dari Allah, yang merupakan sumber hayat. Alhasil, perintah-perintah itu akan menjadi huruf-huruf yang mematikan bagi kita. Tetapi jika kita membiarkan hukum Taurat melakukan pekerjaannya dalam menggambarkan Allah, menyingkapkan kita, dan menundukkan kita, dan jika kita mengatakan kepada Tuhan bahwa kita tidak bisa memenuhi permintaan-permintaan-Nya, tetapi kita mutlak percaya dan bersandar kepada Dia, kita akan berada di dalam “siang”. Kemudian Sang pemberi hukum, sumber hayat, akan masuk ke dalam kita untuk menjadi hayat kita, hidup di dalam kita, dan melakukan segala sesuatu bagi kita. Akhirnya, hasilnya akan lebih baik dan lebih tinggi daripada yang dituntut oleh hukum Taurat.

Ketika hukum Taurat diberikan, Musa berada di puncak gunung sedang diinfus oleh Allah. Hukum Taurat hanya dapat memberikan gambaran tentang Allah, tetapi infus yang Musa terima di puncak gunung itu secara riil membuat dia bersatu dengan Allah. Allah adalah kudus, dan akibat dari infus itu, Musa juga menjadi kudus. Allah adalah sempurna, dan melalui infus ilahi itu, Musa juga disempurnakan. Ketika ia turun dari gunung, wajahnya bercahaya. Sorotan wajah Musa menggambarkan jauh lebih banyak daripada yang digambarkan oleh hukum Taurat. Musa tidak berusaha atau bekerja memenuhi permintaan-permintaan hukum Taurat. Ia diinfus oleh Allah dan mencerminkan Allah. Wajahnya yang bercahaya benar-benar merupakan pencerminan apa adanya Allah. Manakah yang lebih Anda sukai? Sepuluh Perintah ataukah cahaya pada wajah Musa? Tentu saja saya lebih suka cahaya pada wajah Musa itu. Perintah adalah huruf-huruf, tetapi wajah Musa yang bercahaya merupakan gambaran yang hidup. Allah ti-dak menginginkan suatu bangsa yang berusaha memelihara hukum Taurat; Ia menginginkan suatu bangsa yang bercahaya untuk mengekspresikan kemuliaan-Nya.

Semakin kita berusaha di dalam diri kita sendiri untuk memelihara hukum Taurat, keadaan kita akan semakin kasihan. Dari pengalaman saya, saya dapat bersaksi mengenai hal ini. Ketika saya masih muda, saya sering bertengkar dengan kakak-kakak saya. Setelah saya beroleh selamat dan mulai membaca Alkitab, saya menemukan perintah Tuhan yang baru, yaitu perintah untuk saling mengasihi. Saya menerima firman tersebut dan bertekad akan mengasihi tidak hanya saudara-saudara saya, tetapi juga semua orang. Namun, semakin saya berusaha mengasihi orang lain, saya semakin kekurangan kasih. Saya bahkan menjadi suka mencela daripada mengasihi. Pernahkah Anda memiliki pengalaman yang serupa ini? Dapatkah Anda memenuhi perintah Tuhan untuk saling mengasihi? Sekalipun di dalam diri sendiri kita tidak dapat memenuhi perintah Tuhan yang baru, tetapi perintah ini dapat melakukan pekerjaan yang ajaib untuk menggambarkan Tuhan dan menyingkapkan kita. Ini membuktikan kepada kita bahwa kita tidak dapat saling mengasihi. Selanjutnya, perintah ini akan menaklukkan kita. Jika kita mengasihi Tuhan dan telah ditaklukkan oleh firman ini, kita akan berkata, “Tuhan, aku mengasihi-Mu, tetapi aku tidak dapat memenuhi perintah-Mu untuk mengasihi orang lain. Tuhan, aku memerlukan Dikau, aku sepenuhnya bersandar kepada-Mu.” Inilah yang ingin Tuhan dengar dari kita. Jika kita berkata demikian kepada Dia, Dia akan menjawab, “Aku telah menunggumu untuk berkata demikian. Kamu tidak dapat memenuhi permintaan-Ku, tetapi Aku dapat melakukannya di dalammu dan untukmu. Bukalah dirimu kepada-Ku, dan biarkanlah Aku masuk ke dalammu untuk hidup di dalammu.” Kemudian Tuhan sendiri di dalam kita, akan memenuhi permintaan untuk mengasihi orang lain.

Musa di puncak gunung menerima infus dari luar, tetapi hari ini kita dapat menerima infus yang ajaib dari dalam. Jika hubungan kita dengan Tuhan tepat, kita akan secara terus-menerus berada di bawah infus-Nya. Semakin kita diinfus, kita akan semakin bercahaya. Karena Tuhan tinggal di dalam kita, bergerak, bekerja, dan beroperasi di dalam kita, mudahlah bagi kita untuk diinfus oleh Dia, dan bercahaya dengan unsur ilahi yang telah diinfuskan ke dalam kita. Karena kita diinfus oleh Tuhan, maka secara spontan kita akan bercahaya. Kita tidak akan berdaya upaya atau berusaha, kita hanya akan bercahaya.

I. HUKUM TAURAT SEBAGAI

FIRMAN ALLAH ADALAH ROHANI, KUDUS, BENAR, DAN BAIK

Dalam Roma 7:12 dan 14, Paulus menggunakan empat kata untuk menjelaskan hukum Taurat: Rohani, kudus, benar, dan baik. Kata “rohani” menunjukkan hakiki hukum Taurat. Hakiki hukum Taurat Allah adalah sama seperti Allah. Allah itu Roh (Yoh. 4:24); oleh karena itu, hukum Taurat Allah adalah rohani. Selain itu, sebagaimana Allah adalah kudus dalam ekspresi-Nya, demikian pula hukum Taurat juga kudus. Kata “benar” mengacu kepada hubungan. Dalam hubungannya terhadap semua orang dan segala sesuatu, Allah selalu benar. Demikian pula dengan hukum Taurat. Yang terakhir, hukum Taurat adalah baik. Sebagai gambar Allah, hukum Taurat adalah rohani, kudus, benar, dan baik.

Saya telah menunjukkan bahwa hukum Taurat mem-punyai tiga fungsi: Memberi kesaksian tentang Allah, menyingkapkan kita, dan menaklukkan kita. Ketika Paulus masih sebagai Saulus dari Tarsus, ia disingkapkan oleh hukum Taurat. Paulus berkata, “Sebab kita tahu bahwa hukum Taurat bersifat rohani, tetapi aku bersifat daging, terjual di bawah kuasa dosa” (Rm. 7:14). Paulus melihat bahwa hukum Taurat itu kudus, sedangkan ia cemar; hukum Taurat itu benar; sedangkan ia tidak benar; hukum Taurat itu baik, sedangkan ia jahat. Ia bertentangan dengan semua yang digambarkan oleh hukum Taurat. Karena hukum Taurat demikian tinggi, maka hukum Taurat tidak hanya menyingkapkan kita, tetapi juga menaklukkan kita. Kita disingkapkan dan ditaklukkan oleh hukum Taurat sebagai firman Allah yang rohani, kudus, benar, dan baik.

II. HUKUM TAURAT MENGARAH KEPADA HAYAT,

TETAPI TIDAK DAPAT MEMBERIKAN HAYAT

Roma 7:10 mengatakan, “Perintah yang seharusnya membawa (mengarah) kepada hidup (hayat), ternyata bagiku justru membawa (mengarah) kepada kematian.” Ayat ini menunjukkan bahwa hukum Taurat mengarah kepada hayat. Kata “mengarah kepada” di sini menunjukkan suatu akibat atau hasil. Meskipun hukum Taurat mengarah untuk meng-hasilkan hayat, tetapi hukum Taurat sendiri tidak dapat memberikan hayat (Gal. 3:21). Jadi tidak terdapat pertentangan antara Roma 7:10, yang mengatakan bahwa hukum Taurat mengarah kepada hayat, dengan Galatia 3:21, yang menunjukkan bahwa hukum Taurat tidak dapat memberikan hayat. Hakiki dari hukum Taurat sendiri adalah tidak memiliki hayat, karena itu, hukum Taurat tidak dapat memberi kita hayat. Namun, demikian, maksud semula adanya hukum Taurat adalah untuk mendatangkan hayat. Perkataan Paulus dalam Roma 7:10 adalah berdasarkan Imamat 18:5, yang mengatakan bahwa orang yang melakukan perintah Allah akan hidup karenanya. Ini menunjukkan bahwa hukum Taurat dimaksudkan untuk mendatangkan hayat. Jika kita memeliharanya, kita akan memperoleh hayat.

Namun dalam Roma 7, Paulus dengan sangat jelas mengatakan bahwa meskipun hukum Taurat dimaksudkan untuk mendatangkan hayat, tetapi ia tidak dapat memenuhi permintaan-permintaan hukum Taurat. Karena itu, apa yang dianggap manusia bisa mendatangkan hayat, sebenarnya justru mendatangkan kematian. Karena kita tidak dapat memelihara hukum Taurat, maka dalam pengalaman kita, hukum Taurat mendatangkan kematian; padahal hukum Taurat diberikan dengan tujuan untuk mendatangkan hayat. Memberikan hayat adalah satu hal, sedangkan mendatangkan hayat adalah hal lain.

Kita harus ingat bahwa hukum Taurat adalah rohani, kudus, benar, dan baik, dan hukum Taurat diberikan dengan maksud untuk mendatangkan hayat, tetapi hukum Taurat itu sendiri tidak dapat memberikan hayat. Kalau begitu, bagaimana seharusnya sikap kita terhadap hukum Taurat? Kita sama sekali tidak boleh memandang rendah hukum Taurat. Sebaliknya, kita harus berterima kasih ke-pada hukum Taurat, karena hukum Taurat telah menying-kapkan kita, menaklukkan kita, dan membawa kita kepada Tuhan sebagai sumber hayat. Kita harus berkata, “Hukum Taurat, aku berterima kasih kepadamu karena engkau telah menyingkapkan aku, menaklukkan aku, dan membawa aku kepada Dia yang dapat memberikan hayat. Aku berte-rima kasih kepadamu, karena engkau telah memimpin aku kepada Sang pemberi-hayat.”

Hari ini banyak orang Kristen bukannya berterima kasih kepada hukum Taurat atas fungsinya, sebaliknya, malah berusaha untuk memeliharanya. Ada orang-orang yang ekstrem, menggunakan hukum Taurat secara tidak tepat; ada orang-orang ekstrem lainnya, mereka sangat memandang rendah hukum Taurat. Dalam menyajikan gambaran yang lengkap mengenai aspek “siang” dan aspek “malam” dari hukum Taurat ini, Paulus menggunakan beberapa istilah negatif untuk menerangkan hukum Taurat. Dalam Kitab Galatia, ia bahkan menganggap hukum Taurat sebagai Hagar, yaitu seorang gundik, dan mengatakan bahwa hukum Taurat melahirkan perhambaan (Gal. 4:21-25). Mereka yang membaca Surat-surat Kiriman Paulus tanpa pengertian yang mendalam, mungkin akan memandang rendah hukum Taurat, dan mengira bahwa hukum Taurat itu tidak baik. Kita tidak seharusnya bersikap demikian. Dalam Kitab Galatia, kitab di mana Paulus menganggap hukum Taurat sebagai seorang gundik yang melahirkan perhambaan, Paulus juga menggunakan istilah-istilah positif untuk menerangkan hukum Taurat. Sebagai contoh, ia mengatakan tentang hukum Taurat sebagai penuntun: “Jadi, hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan berdasarkan iman” (Gal. 3:24). Hukum Taurat mengawal kita, menjaga kita, dan akhirnya menuntun kita kepada Kristus. Di satu pihak, hukum Taurat adalah gundik; di pihak lain, hukum Taurat adalah pelindung dan penuntun kepada Kristus. Meskipun hukum Taurat membawa kita kepada Kristus, sehingga kita dibenarkan oleh iman dan memiliki hayat, tetapi hukum Taurat itu sendiri tidak dapat memberikan hayat kepada kita.

III. MENINGGALKAN ALLAH YANG HIDUP

YANG ADALAH SUMBER HAYAT,

HUKUM TAURAT MENJADI UNSUR

YANG MENGHUKUM DAN MEMATIKAN

BAGI ORANG YANG BERDOSA

Begitu meninggalkan Allah yang hidup yang adalah sumber hayat, hukum Taurat segera menjadi unsur yang menghukum dan mematikan bagi orang-orang yang berdosa (Rm. 7:13, 11). Memisahkan hukum Taurat dari Allah sendiri, berarti berada di dalam “kegelapan” hukum Taurat. Jika kita berusaha memelihara hukum Allah, secara otomatis kita akan memisahkan hukum Taurat dari Allah sendiri. Kemudian dalam usaha kita untuk memelihara hukum Taurat, kita sendiri akan terpisah dari Allah. Akibatnya, hukum Taurat akan menjadi huruf-huruf yang mematikan bagi kita. Kita akan seperti orang-orang Israel di kaki Gunung Sinai. Hanya dengan mengatakan bahwa mereka akan melakukan apa yang Allah kehendaki, mereka telah memisahkan diri mereka sendiri dari Allah, yang adalah sumber hayat. Selanjutnya dalam pengalaman mereka, hukum Taurat menjadi unsur yang mematikan.

IV. PERISTIWA ORANG-ORANG YAHUDI

Peristiwa penganut agama Yahudi menunjukkan bahwa begitu terpisah dari Allah yang hidup, hukum Taurat menjadilah huruf-huruf yang mematikan. Para penganut agama Yahudi mengasihi hukum Taurat dan bergairah memelihara hukum Taurat. Tetapi kasih dan gairah mereka itu di luar (terpisah dari) Allah. Dalam Yohanes 5:39-40, Tuhan Yesus berkata, “Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa di dalamnya kamu temukan hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab suci itu memberi kesaksian tentang Aku, namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu.” Para penganut agama Yahudi mengira bahwa di dalam huruf-huruf hitam di atas kertas putih dari Kitab Suci terdapat hayat. Akan tetapi, datang kepada Kitab Suci tanpa datang kepada Tuhan sendiri, akan bersifat takhayul.

Banyak orang Kristen yang menggunakan Alkitab secara takhayul, dengan beranggapan bahwa Allah dapat melindungi mereka. Karena merasa bahwa sesuatu yang jahat mungkin akan terjadi pada waktu malam, ada sebagian orang yang menaruh Alkitab di bawah bantal mereka. Itu adalah takhayul. Orang-orang lainnya lagi mengira bahwa jika seseorang menaruh tangannya di atas Alkitab pada waktu melakukan sumpah, ia tidak mungkin akan berbohong. Itu juga takhayul.

Dalam huruf-huruf hitam di atas kertas putih dari Alkitab tidak terdapat hayat. Kita tidak dapat menerima hayat dari huruf-huruf Alkitab, jika kita datang kepadanya tanpa datang kepada Tuhan. Untuk menerima hayat dari firman Alkitab pada waktu membacanya, kita harus berkontak dengan Tuhan. Sebenarnya hayat tidak ada di dalam Alkitab; tetapi ada di dalam Kristus. Karena alasan inilah, maka tidak seharusnya kita memisahkan Alkitab dari Tuhan sendiri. Alkitab dimaksudkan untuk menjadi pohon hayat. Tetapi jika kita memisahkannya dari Tuhan yang adalah sumber hayat, pohon hayat itu bagi kita akan menjadi pohon pengetahuan. Apakah bagi kita Alkitab merupakan pohon hayat atau pohon pengetahuan, itu tergantung pada keadaan dan kedudukan kita. Jika kita bersatu dengan Tuhan, Alkitab akan menjadi hayat bagi kita; tetapi jika kita memisahkan diri dari Tuhan, dan masih berusaha menerapkan Alkitab, maka Alkitab akan menjadi pohon pengetahuan bagi kita. Bila dalam menerapkan Alkitab kita terpisah dari Tuhan, maka Alkitab akan menjadi huruf-huruf yang mematikan. Jadi, jika kita berdiri bersama Tuhan dalam membaca Alkitab, kita akan berada di dalam “siang”. Tetapi jika kita berdiri terpisah dari Dia, kita akan berada di dalam “malam”.

V. PERLUNYA HATI YANG BARU,

ROH YANG BARU, DAN ROH ALLAH

Allah memberikan hukum Taurat dengan tujuan un-tuk mendatangkan hayat. Tetapi mayoritas orang Israel, tidak datang kepada Allah dan menerima Dia sebagai hayat. Sebaliknya, mereka berusaha berdasarkan diri mereka sendiri untuk memelihara hukum Taurat. Sebagaimana sejarah yang dicatat dalam Perjanjian Lama menunjukkan, akibatnya ialah kegagalan. Akhirnya, dalam Kitab Yeremia dan Yehezkiel, Allah datang untuk mengadakan perjanjian lain, yaitu perjanjian yang baru. Dalam perjanjian ini, Allah akan memberikan kepada bangsa itu hati yang baru dan roh yang baru. Tidak hanya demikian, Allah bahkan akan memberikan Roh-Nya kepada mereka. Hati yang baru, roh yang baru, dan Roh Allah, akan memungkinkan mereka memelihara semua perintah Allah. Inilah Perjanjian Baru.

Banyak orang yang ketika membaca Yehezkiel 36:26-27, merasa bahwa ayat-ayat ini mengajarkan perkara yang sama dengan Perjanjian Baru mengenai hati yang baru, roh yang baru, dan Roh Allah. Kita harus mengakui bahwa anggapan ini benar. Dalam ayat-ayat ini kita melihat penyusunan kembali insan batiniah kita. Memiliki hati yang baru dan roh yang baru meliputi kelahiran kembali, penyusunan kembali, dan pembentukan kembali diri kita. Tidak hanya demikian, Roh Allah akan masuk ke dalam kita untuk mengikatkan diri kita dengan Dia. Tentu saja ini sama dengan kata-kata Paulus dalam 1Korintus 6:17, “Tetapi siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia.” Jika kita tidak memisahkan diri kita dari Allah, melainkan tetap bersatu dengan Dia sesuai dengan perjanjian yang baru, secara otomatis kita akan memiliki kemampuan, tenaga, dan kekuatan untuk melaksanakan perintah-perintah Allah.

Ketika Musa di puncak gunung mengalami infus ilahi, apakah ia mendapatkan hati yang baru dan roh yang baru? Saya yakin Musa pasti mendapatkan hati yang baru dan roh yang baru, dan saya yakin Roh Allah diberikan kepada dia. Kalau begitu, apakah ini berarti Musa telah dilahirkan kembali? Sangat sukar bagi kita untuk menjawab pertanyaan ini. Yang penting di sini ialah prinsip dalam Perjanjian Lama sama dengan prinsip dalam Perjanjian Baru. Setelah kejatuhan manusia, tujuan Allah ialah mengubah hati dan roh kita, lalu memberikan diri-Nya sendiri sebagai Roh pemberi hayat yang mampu memenuhi permintaan-permintaan Allah, dan kita akan dapat hidup dalam cara yang sesuai dengan apa adanya Allah. Saya tidak mengatakan apakah Musa dilahirkan kembali atau tidak. Tetapi dari Alkitab saya tahu bahwa ekonomi Allah ialah Allah ingin menggarapkan diri-Nya sendiri ke dalam kita, menyusun kembali kita dengan jalan mengubah hati dan roh kita, dan masuk ke dalam kita sebagai Roh pemberi-hayat, sehingga kita dapat memperhidupkan Dia.

VI. PERISTIWA ORANG-ORANG GALATIA

Pada butir ini, kita perlu melihat peristiwa orang-orang Galatia. Peristiwa mereka berbeda dengan peristiwa orang-orang Yahudi. Berbeda dengan orang-orang Yahudi, orangorang Galatia telah menerima Tuhan dan masuk ke dalam lingkungan anugerah. Tetapi, mereka kemudian beralih dari Kristus kepada hukum Taurat. Mereka menerima suatu konsepsi bahwa karena hukum Taurat itu baik, maka mereka harus berusaha untuk memelihara hukum Taurat itu, mereka memisahkan diri dari Kristus dan hidup di luar anugerah. Inilah alasannya mengapa Paulus mengatakan kepada mereka, “Jikalau kamu menyunatkan dirimu, Kristus sama sekali tidak akan berguna bagimu” (Gal. 5:2). Selanjutnya ia berkata, “kamu lepas dari Kristus, jikalau kamu mengharapkan pembenaran melalui hukum Taurat; kamu hidup di luar anugerah” (Gal. 5:4). Dengan beralih kepada hukum Taurat, kaum beriman Galatia telah memutus diri dari kenikmatan atas Kristus dan keuntungan berada di dalam Kristus. Peristiwa orang-orang Galatia ini menunjukkan bahwa ketika kaum beriman mengabaikan perbauran mereka dengan Kristus, dan beralih kepada hukum Taurat serta berusaha untuk memeliharanya, mereka telah memisahkan diri mereka sendiri dari Kristus dan anugerah.

VII. PERLU ADA PEMBAURAN YANG

ORGANIK ANTARA IMAN DENGAN ALLAH

YANG HIDUP, AGAR KITA MENJADI

CIPTAAN BARU

Dalam menanggulangi situasi di antara kaum beriman di Galatia, Paulus merasa perlu menunjukkan bahwa apa yang kita perlukan ialah adanya pembauran yang organik antara iman dengan Allah yang hidup, Sang sumber hayat, agar kita menjadi ciptaan baru. Galatia 5:6 mengatakan, “Sebab bagi orang-orang yang ada di dalam Kristus Yesus hal bersunat atau tidak bersunat tidak mempunyai arti, hanya iman yang bekerja oleh kasih.” Di sini seolah-olah Paulus berkata, “Janganlah kembali kepada hukum Taurat dan memisahkan dirimu dari Allah. Sebaliknya, latihlah imanmu untuk memelihara perbauran yang organik dengan Kristus. Jika kamu memelihara perbauran ini, kamu akan menikmati hayat.” Selanjutnya dalam Galatia 6:15, Paulus berkata, “Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya, tetapi menjadi ciptaan baru, itulah yang ada artinya.” Ciptaan baru terdiri atas manusia yang telah tersusun dari Allah Tritunggal, untuk memperhidupkan Dia. Berada di dalam ciptaan baru berarti berada di dalam susunan ini. Jika kita melatih iman kita untuk menikmati pembauran yang organik dengan Allah yang hidup sehingga kita dapat memperhidupkan ciptaan baru, kita tidak perlu lagi memelihara hukum Taurat. Secara spontan kita akan memperhidupkan hayat yang memenuhi permintaan hukum Taurat, bahkan melampauinya.