← Daftar isi Keluaran (5) · bab 10/16

MALAIKAT TUHAN MEMIMPIN UMAT-NYA UNTUK MEMPEROLEH TANAH PERJANJIAN SEBAGAI WARISAN (1)

Pembacaan Alkitab:

Kel. 23:20-33; 3:2, 4, 6, 14, 16; 14:19-20; Hak. 13:17-19; Za. 2:8-9

Keluaran 20—23 merupakan bagian yang berisi peni-tahan hukum Taurat yang diberikan kepada Musa. Dalam pasal-pasal ini, terlebih dulu kita memiliki penitahan Sepuluh Perintah dan peraturan-peraturan hukum Taurat. Dalam berita-berita sebelumnya, kita telah menunjukkan bahwa jika kita memasuki kedalaman peraturan-peraturan dalam Keluaran 21—23, kita akan melihat bahwa peraturan-peraturan tersebut menggambarkan ekonomi Allah dan penebusan Kristus.

Keluaran 23 berakhir dengan perkataan tentang malaikat Tuhan (ayat 20-33). Ayat 20 mengatakan, “Sesungguhnya Aku mengutus seorang malaikat berjalan di depanmu, untuk melindungi engkau di jalan dan untuk membawa engkau ke tempat yang telah Kusediakan.” Malaikat ini akan membawa bangsa itu memasuki tanah perjanjian. Dalam ayat-ayat ini ada dua butir penting mengenai tanah itu: Satu adalah penghalang umat; lainnya adalah batas daerah. Ada orang-orang yang mendiami tanah itu dan menghalangi orang-orang Israel menerima tanah itu sebagai warisan. Ayat 23 mengatakan, “Sebab malaikat-Ku akan berjalan di depanmu dan membawa engkau kepada orang Amori, orang Het, orang Feris, orang Kanaan, orang Hewi dan orang Yebus, dan Aku akan melenyapkan mereka.” Dalam ayat 31 kita memiliki perkataan mengenai batas daerah: “Aku akan menentukan batas daerahmu dari Laut Teberau sampai Laut Filistin dan dari padang gurun sampai Sungai Efrat.” Jika kita mau menerima tanah perjanjian sebagai warisan, kita harus menanggulangi orang-orang yang menghalangi kita, juga harus memperhatikan batas daerah itu. Karena malaikat Tuhan memegang peranan yang sangat penting dalam memimpin umat itu memasuki tanah perjanjian, maka berita ini berjudul: “Malaikat Tuhan Memimpin Umat-Nya untuk Memperoleh Tanah Perjanjian sebagai Warisan”. Kata-kata penutupan mengenai penitahan hukum Taurat dan peraturan-peraturannya berakhir pada malaikat Tuhan dan tanah perjanjian.

Baik malaikat Tuhan maupun tanah perjanjian melambangkan Kristus. Malaikat melambangkan Kristus sebagai Utusan yang diutus oleh Allah untuk melindungi kita dalam perjalanan dan membawa kita memasuki tanah permai. Kristus adalah Utusan, yaitu Utusan dari Allah. Tanah permai melambangkan Kristus dalam kealmuhitan-Nya. Jadi, Kristus sebagai Utusan membawa kita memasuki diri-Nya sendiri sebagai tanah permai. Tanah permai inilah yang merupakan tujuan dan sasaran kehendak Allah. Karena tanah permai melambangkan Kristus, berarti Kristus adalah sasaran. Siapa yang akan membawa kita ke sasaran ini? Tak lain adalah Kristus sendiri. Di satu pihak, Kristus adalah tanah permai; di pihak lain, Ia adalah Yang membawa kita memasuki tanah permai.

Peraturan-peraturan dalam Keluaran 21—23, sedikitnya menggambarkan 19 aspek yang berbeda mengenai Kristus. Kristus adalah kurban, hamba, hari Sabat, Orang yang diserahkan kepada kita yaitu orang-orang berdosa yang telah menghukum mati Dia, kota perlindungan, Orang yang membawa perkara-perkara hayat kepada musuh-Nya dan membebaskan orang-orang yang membenci Dia dari pikulan mereka yang berat. Selain itu, dalam pasal-pasal ini terdapat dua cara untuk menandakan salib. Pertama, mezbah dalam Keluaran 20:24-25 menandakan salib. Ibrani 13:10 mengatakan, “Kita mempunyai suatu mezbah dan orang-orang yang melayani kemah tidak boleh makan dari apa yang di dalamnya.” Mezbah ini mengacu kepada salib, di mana Tuhan Yesus mempersembahkan diri-Nya sendiri sebagai kurban untuk dosa-dosa kita. Orang-orang Israel memiliki mezbah, tetapi mezbah itu hanyalah lambang saja. Kita memiliki penggenapan lambang ini, yaitu salib sebagai mezbah yang sejati. Kedua, salib dilambangkan dengan anggur dan minyak perasan yang menghasilkan “tetesan”. Benda cair ini melambangkan pengaliran pengalaman atas Kristus melalui penderitaan atas salib. Keluaran 22:29 membicarakan tentang kelimpahan tuaian dan tetesan. Kelimpahan di sini menandakan kelimpahan hasil tuaian tanah permai, sedangkan tetesan menandakan anggur dan minyak perasan yang meluap dan mengalir keluar.

Di satu pihak, gereja merupakan tempat yang menyenangkan, dan hidup gereja sangatlah indah. Di pihak lain, hidup gereja merupakan pemerasan anggur dan minyak. Kehidupan keluarga kita juga merupakan suatu pemerasan. Kita diperas oleh suami atau istri kita, dan anak-anak kita. Jika kita tidak memiliki pengalaman atas pemerasan dalam hidup gereja dan kehidupan keluarga kita, tidak akan ada tetesan, yaitu pengaliran anggur dan minyak.

Setelah sedikitnya memberikan 19 aspek tentang Kristus dan dua lambang mengenai salib, pasal-pasal ini berakhir dengan perkataan tentang malaikat Tuhan yang membawa bangsa itu memasuki tanah perjanjian. Bahkan King James Version pun memulai dengan huruf besar dalam menuliskan kata “malaikat” dalam Keluaran 23:20. Ini menunjukkan bahwa penerjemahnya mengetahui bahwa malaikat di sini unik dan luar biasa. Malaikat ini melambangkan Kristus sendiri.

Fakta bahwa penitahan hukum Taurat berakhir dengan bagian yang berkenaan dengan Malaikat dan tanah permai menunjukkan bahwa penitahan hukum Taurat tersebut bertujuan agar mereka yang menerima hukum Taurat, dapat masuk ke dalam tanah permai. Tujuan Allah bukan sekadar memberikan hukum Taurat kepada umat-Nya. Tujuan-Nya ialah membawa orang-orang Israel memasuki tanah permai. Keluaran 23:20 mengatakan, “Sesungguhnya Aku mengutus seorang malaikat berjalan di depanmu, . . . dan untuk membawa engkau ke tempat yang telah Kusediakan.” Di sini seolah-olah Tuhan berkata kepada umat-Nya, “Aku telah memberikan hukum Taurat dan peraturan-peraturan kepadamu. Tetapi itu bukanlah sasaran-Ku. Aku membawa engkau keluar dari Mesir bukan hanya untuk memberikan peraturan-peraturan kepadamu. Tujuan-Ku ialah melatih, mendidik, dan membenahi engkau, supaya engkau menjadi bangsa yang cocok untuk Kubawa masuk ke dalam tanah permai. Lihatlah, Aku mengutus seorang Malaikat berjalan di depanmu untuk melindungi engkau dan membawa engkau memasuki tanah perjanjian. Inilah sasaran-Ku.” Karena alasan inilah, maka segera setelah penitahan hukum Taurat dan peraturan-peraturan-Nya, Allah berbicara mengenai Malaikat yang akan membawa bangsa itu memasuki tanah permai.

I. MALAIKAT TUHAN (YEHOVA)

A. DIUTUS OLEH TUHAN (YEHOVA)

Menurut Keluaran 23:20, Malaikat TUHAN diutus oleh TUHAN. Di sini kita memiliki Pengutus dan Utusan. Zakharia 2:8-9 menunjukkan bahwa Pengutus dan Utusan adalah satu. Ayat 8 mengatakan, “Sebab beginilah firman TUHAN semesta alam, yang dalam kemuliaan-Nya telah mengutus aku, mengenai bangsa-bangsa yang telah menjarah kamu.” Ayat 9 berakhir dengan perkataan, “Kamu akan mengetahui bahwa TUHAN semesta alam yang mengutus aku.” Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa TUHAN semesta alam mengutus TUHAN semesta alam. Dalam ayat 8, TUHAN semesta alam berkata, “Yang dalam kemuliaan-Nya telah mengutus aku.” Di sini kita melihat bahwa Pengutus dan Utusan sebenarnya adalah satu.

Mereka yang menganut teologi sistematis mungkin akan bertanya: Bagaimana bisa mengatakan bahwa Kristus Putra dan Bapa adalah satu? Mungkin mereka akan menunjukkan fakta bahwa Putra berdoa kepada Bapa, dan Bapa menjawab doa Putra (Luk. 3:21-22). Mereka bertanya: Jika Bapa dan Putra adalah satu, bagaimana Putra bisa berdoa kepada Bapa, dan bagaimana pula Bapa bisa menjawab doa Putra? Jawabannya dapat kita temukan dalam Zakharia 2. Siapa Utusan, dan siapakah Pengutus? Dalam Zakharia 2:8 dan 9, baik “ia”, yaitu Pengutus, dan “aku”, yaitu Utusan, mengacu kepada TUHAN semesta alam. Menurut ayat-ayat ini, TUHAN mengutus TUHAN, karena Ia adalah Pengutus dan Utusan. Hal ini sama dengan Keluaran 23:20, yang mengatakan bahwa Malaikat TUHAN diutus oleh TUHAN.

B. NAMA TUHAN (YEHOVA) ADA DI DALAM DIA

Mengenai Malaikat Tuhan, Keluaran 23:21 mengatakan, “Nama-Ku ada di dalam dia.” Nama TUHAN artinya ialah “AKU ADALAH AKU ADALAH” (Kel. 3:14 Tl.). Nama ini ada di dalam Malaikat TUHAN. Mengapa nama TUHAN ada di dalam Malaikat tersebut? Karena Malaikat tersebut adalah diri TUHAN sendiri. Jika Malaikat itu bukan TUHAN, bagaimana nama TUHAN dapat berada di dalam dia? Nama seseorang identik dengan orang itu sendiri. Kita tidak dapat memisahkan seseorang dari namanya, karena namanya menunjukkan orangnya. Karena alasan inilah, maka kita tidak hanya mengatakan diri kita sebagai orang, tetapi juga memakai nama untuk menyatakan diri kita. Nama TUHAN ada di dalam Malaikat tersebut, dan tidak dapat dipisahkan dari Dia.

C. TUHAN (YEHOVA) SENDIRI

Keluaran 3 dengan tegas menunjukkan bahwa Malaikat tersebut adalah TUHAN. Ayat 2 mengatakan, “Lalu Malaikat TUHAN menampakkan diri kepadanya di dalam nyala api yang keluar dari semak duri.” Jika kita membaca sampai pasal 23, kita akan melihat bahwa sebenarnya TUHAN-lah yang menampakkan diri kepada Musa dan berbicara kepada dia (ayat 4, 6, 14, 16). Lagi pula, TUHAN yang menampakkan diri kepada Musa adalah Allah Tritunggal, Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub. Malaikat TUHAN adalah TUHAN, TUHAN adalah Allah, dan Allah adalah tritunggal Bapa, Putra, dan Roh seperti yang dinyatakan oleh Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub. Karena itu, Malaikat TUHAN ini sebenarnya adalah Allah Tritunggal. Lagi pula, malaikat ini adalah Kristus, dan Kristus adalah Putra Allah. Ini berarti Putra Allah adalah TUHAN Allah, adalah Allah Tritunggal.

D. PERKATAAN-NYA

ADALAH PERKATAAN TUHAN (YEHOVA)

Keluaran 23:22 mengatakan, “Tetapi jika engkau sungguh-sungguh mendengarkan perkataannya, dan melakukan segala yang Kufirmankan, . . .” Ini menunjukkan bahwa perkataan Malaikat tersebut adalah perkataan Allah. Dalam Yohanes 14:10 Tuhan Yesus berkata, “Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang tinggal di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-pekerjaan-Nya.” Sebagaimana perkataan Malaikat itu adalah perkataan TUHAN, demikian pula perkataan Putra adalah perkataan Bapa. Fakta bahwa perkataan Malaikat itu adalah perkataan Tuhan, membuktikan bahwa Malaikat itu dan Tuhan adalah satu.

Jika kita mempelajari catatan dalam Perjanjian Lama mengenai perjalanan orang-orang Israel keluar dari Mesir, melalui padang gurun, hingga memasuki tanah permai, kita akan menemukan bahwa Malaikat TUHAN satu kali pun tidak pernah mengatakan sesuatu. Mengapa Allah membicarakan tentang perkataan Malaikat itu jika Malaikat itu tidak pernah mengatakan sesuatu? Alasannya ialah Allah lah Sang pembicara itu. Perkataan Allah adalah perkataan Malaikat itu. Allah mengutus diri-Nya sendiri untuk menyertai umat-Nya, melindungi mereka di jalan, dan membawa mereka memasuki tanah permai. Ini menunjukkan bahwa Malaikat itu dan Allah benar-benar satu. Jadi, perkataan Allah adalah perkataan Malaikat itu.

Jika kita memperhatikan fakta bahwa perkataan Allah adalah perkataan Malaikat itu, kita akan melihat bahwa hal ini berhubungan dengan Allah Tritunggal. Sifat trinitas Allah adalah agar diri-Nya dapat disalurkan kepada manusia. Bahkan pada diri orang-orang Israel dalam Perjanjian Lama pun, kita dapat melihat penyaluran Allah.

E. BERJALAN DI DEPAN ORANG-ORANG ISRAEL

Keluaran 23:23 mengatakan, “Sebab malaikat-Ku akan berjalan di depanmu.” Dalam Keluaran 14:19, kita memiliki petunjuk yang jelas bahwa Malaikat TUHAN sedang memimpin bangsa itu, “Kemudian bergeraklah Malaikat Allah, yang tadinya berjalan di depan tentara Israel, lalu berjalan di belakang mereka; dan tiang awan itu bergerak dari depan mereka, lalu berdiri di belakang mereka.” Malaikat ini mengacu kepada Kristus, sedangkan awan melambangkan Roh itu. Bapa juga hadir, tetapi seperti biasanya, Bapa selalu tersembunyi di belakang layar. Karena itu, dalam proses perkara yang tercatat dalam Keluaran 14, kita melihat Allah Tritunggal ada di sana. Putra adalah Malaikat pelindung; Roh itu adalah awan yang menjadikan kegelapan di pihak orang-orang Mesir, dan menjadikan terang di pihak orang-orang Israel; sedangkan Bapa berada di belakang Malaikat dan awan, yaitu di belakang Putra dan Roh itu. Di sini kita melihat Allah Tritunggal yang menerapkan diri-Nya sendiri ke dalam situasi umat. Karena itu, kita boleh mendefinisikan Trinitas demikian: Allah menerapkan diri-Nya sendiri ke atas umat-Nya. Jika Allah bukan tritunggal, Allah tidak akan dapat menerapkan diri-Nya ke atas umat pilihan-Nya ketika mereka berada dalam kesengsaraan sebagaimana tertulis dalam Keluaran 14.

Telah kita tunjukkan bahwa Trinitas menunjukkan penyaluran Allah Tritunggal dan penerapan Allah Tritunggal. Tentu saja, bagi kebanyakan orang Kristen, definisi yang sedemikian ini tidak pernah mereka dengar sebelumnya. Namun, berdasarkan firman Allah, ini benar-benar suatu fakta: Jika Allah bukan tritunggal, Allah tidak akan berdaya menerapkan diri-Nya ke atas umat-Nya. Ketika Allah berkata, “Lihatlah, Aku mengutus seorang malaikat berjalan di depanmu,” Ia sedang menerapkan diri-Nya sendiri ke atas diri orang-orang Israel. Ia tidak hanya memberikan hukum Taurat dan peraturan-peraturan kepada mereka, bahkan menerapkan diri-Nya sendiri ke atas diri mereka.

F. MELINDUNGI MEREKA DI JALAN

Menurut Keluaran 23:20, Malaikat TUHAN menjaga bangsa itu, melindungi mereka di jalan. Gambaran yang terbaik mengenai perlindungan Malaikat TUHAN dapat kita temukan dalam Keluaran 19, yaitu ketika orang-orang Mesir sedang mengejar orang-orang Israel kuning (ayat 19-20).

G. MEMBAWA MEREKA MEMASUKI TANAH PERMAI

Keluaran 23:20 mengatakan bahwa Malaikat Tuhan akan membawa bangsa itu ke tempat yang telah disediakan oleh Allah. Dari ayat 23, kita tahu bahwa tanah ini didiami oleh bangsa-bangsa kafir. Malaikat Tuhan akan membawa umat Allah memasuki tanah permai ini.

II. TANAH PERJANJIAN

A. BATAS-BATASNYA

Ayat 31 menjelaskan tentang batas-batas tanah perjanjian: “Aku akan menentukan batas daerahmu dari Laut Teberau sampai Laut Filistin dan dari padang gurun sampai sungai” (Tl.). “Laut Filistin” mengacu kepada Laut Tengah, dan “sungai” mengacu kepada Sungai Efrat. Meskipun tanah di antara Laut Tengah dengan Sungai Efrat sangat luas, lebih luas daripada bagian wilayah (teritorial) yang pernah didiami oleh orang-orang Israel, tetapi yang penting di sini bukanlah keluasan tanah tersebut. Sebaliknya, yang penting adalah batas-batas daerah dan makna rohani batas-batas tersebut. Batas-batas tersebut adalah dari “Laut Teberau sampai Laut Filistin”. Laut di sini melambangkan air kematian. Oleh karena itu, dari laut ke laut melambangkan dari kematian ke kematian. Ini berarti salah satu sisi dari batas-batas tanah perjanjian adalah kematian. Ayat 31 juga mengatakan bahwa batas yang lain adalah “dari padang gurun sampai sungai”. Sungai juga melambangkan air kematian, dan padang gurun melambangkan kekersangan. Jika kita mempelajari peta, kita akan melihat bahwa tanah perjanjian dikelilingi dengan kematian dan kekersangan. Tetapi, tanah itu sendiri merupakan daerah hidup yang penuh dengan kelimpahan buah.

Kita telah menunjukkan bahwa tanah perjanjian merupakan lambang Kristus. Sekarang karena kita melihat bahwa batas-batas tanah perjanjian adalah kematian dan kekersangan, maka kita dapat memahami bahwa di luar Kristus, yang ada hanyalah kematian dan kekersangan. Kematian dan kekersangan mengelilingi Kristus sebagai tanah kita, dan juga merupakan batas-batas Kristus. Alkitab menunjukkan bahwa tanah perjanjian adalah daerah yang tinggi. Ini menunjukkan Kristus itu tinggi, di dalam kebangkitan. Tetapi, tanah yang tinggi ini, yaitu Kristus yang tinggi, dikelilingi oleh kematian dan kekersangan.

Kita perlu menerapkan batas-batas tanah perjanjian tersebut pada pengalaman rohani kita, dan bertanya kepada diri kita sendiri: Di mana kita sekarang berada? Di manakah Anda berada? Anda berada di Laut Teberau, di Laut Tengah, ataukah di Sungai Efrat? Apakah Anda sedang mengembara di padang gurun yang kersang? Saya ulangi, tanah permai dibatasi oleh air kematian dan kekersangan padang gurun. Tetapi bagian wilayah tanah permai adalah daerah yang tinggi dan subur, penuh hayat dan hasil. Haleluya, tanah permai ini adalah bagian wilayah kita!

B. PENGHALANG-PENGHALANGNYA

Banyak orang Kristen yang tidak memiliki pengertian yang tepat mengenai tanah perjanjian. Sebagian orang mengira, tanah permai melambangkan surga. Bahkan sebuah kidung yang terkenal pun membicarakan tentang melewati ombak dingin di Sungai Yordan dan memasuki tanah surga perjanjian. Menurut konsepsi orang banyak, mati adalah melewati Sungai Yordan, dan memasuki tanah permai adalah naik ke surga. Tetapi bagaimana dengan bangsa kafir dan berhala-berhala mereka? Mungkinkah surga penuh dengan orang kafir dan berhala? Apakah kita perlu berperang melawan bangsa-bangsa kafir ini dan memusnahkan berhala mereka setelah kita masuk ke surga? Jika kita mempunyai pertanyaan yang sedemikian ini, dengan memperhatikan makna dari bangsa-bangsa kafir dan berhala-berhala mereka, maka kita akan memahami bahwa tanah perjanjian bukan mengacu kepada surga.

Menurut penafsiran lain, tanah permai melambangkan angkasa yang disebutkan dalam Efesus 6. Di angkasa terdapat roh-roh jahat yang harus kita lawan. Pengertian ini mendekati makna yang tepat. Tetapi berdasarkan Alkitab, tempat kediaman kaum beriman bukanlah di angkasa, bukan di langit. Apakah Anda berharap untuk mencapai langit dan tinggal di sana? Jadi, tidaklah memuaskan jika kita mengatakan bahwa tanah permai melambangkan angkasa yang disebutkan dalam Efesus 6.

Telah bertahun-tahun saya berusaha mempelajari makna tanah permai. Kira-kira empat puluh tahun yang lalu, saya mulai menyadari bahwa tanah permai merupakan lambang Kristus yang almuhit. Dalam sejarah orang Israel, Kristus digambarkan dengan lambang-lambang yang berbeda-beda: Anak domba Paskah, roti yang tidak beragi, sayur pahit, kurban, manna, batu karang yang dipukul beserta air hidup yang mengalir, dan Kemah Pertemuan dengan seluruh perabotnya. Tanah permai juga merupakan salah satu lambang Kristus. Tanpa tanah permai sebagai lambang, kita tidak akan memiliki lambang yang sempurna dan lengkap mengenai Kristus.

Allah menebus umat-Nya melalui Kristus sebagai Anak Domba Paskah, sehingga mereka dapat memasuki tanah permai. Tujuan Allah ialah menghendaki kita masuk ke dalam kenikmatan yang penuh atas Kristus sebagai Sang almuhit. Setelah ditebus melalui Kristus sebagai Anak Domba Paskah, di dalam perjalanan menuju tanah permai, kita menikmati Kristus sebagai manna dan batu karang. Di satu pihak, kita dipuaskan oleh Kristus sebagai Anak Domba Paskah dan manna. Di pihak lain, Kristus di dalam aspek-aspek ini membangkitkan selera kita lebih banyak terhadap Dia. Ketika kita menuntut aspek Kristus yang lebih limpah, lebih luas, lebih almuhit (yaitu Kristus sebagai tanah permai), kita mengalami Dia sebagai manna sehari-hari kita. Namun, sasaran kita adalah masuk ke dalam Kristus sebagai tanah yang almuhit.

Menurut Keluaran 23:23-24, 32-33, terdapat penghalang-penghalang yang menghalangi kita untuk memperoleh tanah itu. Penghalang-penghalang ini, yaitu berbagai bangsa kafir yang menduduki tanah permai, melambangkan berbagai aspek hayat alamiah kita. Sebagai contoh, salah satu dari bangsa itu ialah orang Kanaan. Kata “Kanaan” berarti “pedagang”. Dalam hayat alamiah kita ada orang Kanaan, menginginkan memperoleh banyak uang. Bangsa-bangsa lainnya melambangkan nafsu dari manusia alamiah dan ketamakan hayat alamiah. Pada dasarnya, semua bangsa kafir tersebut melambangkan aspek-aspek hayat alamiah. Sesungguhnya, bangsa-bangsa ini ada di dalam kita. Ini berarti dalam hayat alamiah kita terdapat banyak sekali penghalang yang menghalangi kita dalam memperoleh Kristus yang almuhit.

Keluaran 23:24 menunjukkan bahwa bangsa-bangsa kafir ini memiliki berhala, “Janganlah engkau sujud menyembah kepada allah mereka atau beribadah kepadanya, dan janganlah engkau meniru perbuatan mereka.” Selanjutnya, ayat 32 dan 33 mengatakan, “Janganlah mengadakan perjanjian dengan mereka ataupun dengan allah mereka. Mereka tidak akan tetap diam di negerimu, supaya mereka jangan membuat engkau berdosa kepada-Ku, dengan beribadah kepada allah mereka, sebab tentulah hal itu menjadi jerat bagimu.” Allah dari bangsa-bangsa kafir itu adalah berhala, dan berhala pasti berhubungan dengan setan. Di belakang semua berhala pasti terdapat setan. Berhala dengan setan di belakangnya menggambarkan roh-roh jahat di udara (Ef. 6:12).

Di belakang hayat alamiah kita terdapat roh-roh jahat. Sebagai contoh, apakah Anda suka marah-marah? Tentu saja tidak ada seorang pun di antara kita yang merasa senang ketika marah-marah. Dalam hayat alamiah kita terdapat perangai yang jahat, yang kita pandang rendah. Tetapi di belakang perangai yang jahat ini terdapat roh-roh jahat, yaitu setan. Sering roh-roh jahat ini menyebabkan kita marah-marah. Sebagai orang Kristen, kita pernah mengalami bahwa kita marah-marah bahkan pada saat kita tidak ingin marah-marah. Ada sesuatu, yaitu suatu kuasa yang menyebabkan kita marah-marah. Ini menunjukkan bahwa berbagai aspek hayat alamiah kita telah dipakai, diperalat, dan diarahkan oleh roh-roh jahat yang ada di belakang layar. Berbagai aspek hayat alamiah beserta roh-roh jahat di baliknya, menghalangi kita dalam menikmati kekayaan Kristus yang almuhit.

III. JALAN UNTUK MEMILIKI TANAH PERMAI

Keluaran 23:22 mengatakan, “Tetapi jika engkau sungguh-sungguh mendengarkan perkataannya, dan melakukan segala yang Kufirmankan, maka Aku akan memusuhi musuhmu, dan melawan lawanmu.” Di sini kita melihat bahwa jika orang Israel patuh kepada Malaikat TUHAN, TUHAN akan melenyapkan bangsa-bangsa kafir tersebut. Selanjutnya ayat 23 mengatakan, “Sebab malaikat-Ku akan berjalan di depanmu . . . dan Aku akan melenyapkan mereka.” Ia akan menghalau bangsa-bangsa kafir tersebut dari hadapan umat-Nya.

Ayat 29 dan 30 mengatakan, “Aku tidak akan menghalau mereka dari depanmu dalam satu tahun, supaya negeri itu jangan menjadi sepi, dan segala binatang hutan jangan bertambah banyak melebihi engkau. Sedikit demi sedikit Aku akan menghalau mereka dari depanmu, sampai engkau beranak cucu sedemikian, hingga engkau dapat memiliki negeri itu.” Di sini kita melihat bahwa Allah tidak sekaligus melenyapkan bangsa kafir dalam satu tahun, karena jika demikian, maka sebagaian besar tanah itu akan sepi, dan binatang hutan akan menjadi lebih banyak daripada orang Israel. Ini menunjukkan bahwa sebagai orang Kristen, kita tidak boleh berharap untuk menjadi rohani sepenuhnya dalam waktu semalam. Jika kita secara mendadak dikosongkan dari hayat alamiah kita, batin kita akan menjadi sepi. Kemudian setan akan memiliki kesempatan untuk merusak kita.

Setelah mendengarkan berita tentang hayat alamiah, mungkin kita ingin secara sekaligus melenyapkan hayat alamiah kita. Akan tetapi, bila ini dilakukan, maka akan terjadi kekosongan, ada bahaya diduduki oleh setan. Kita masih memerlukan hayat alamiah kita untuk sejangka waktu. Kemudian semakin kita bertumbuh di dalam Tuhan, Tuhan akan semakin melenyapkan hayat alamiah kita. Selama jumlah orang Israel masih sedikit, maka bangsa-bangsa kafir tersebut diperlukan untuk tinggal di negeri itu, sehingga binatang hutan tidak menjadi lebih banyak daripada orang Israel. Tetapi ketika umat Allah terus bertambah, maka Tuhan melenyapkan bangsa-bangsa kafir tersebut sesuai dengan tingkat pertumbuhan umat-Nya. Ini menandakan bahwa ketika kita bertumbuh di dalam Kristus, hayat alamiah kita sedikit demi sedikit akan dilenyapkan, sesuai dengan tingkat pertumbuhan kita di dalam hayat. Allah tidak akan sekaligus melenyapkan bangsa-bangsa kafir tersebut, tetapi Ia akan melakukan “sedikit demi sedikit” sesuai dengan pertumbuhan kita.

Ayat 25 mengatakan, “Tetapi kamu harus beribadah kepada TUHAN, Allahmu; maka Ia akan memberkati roti makananmu dan air minumanmu dan Aku akan menjauhkan penyakit dari tengah-tengahmu.” Di sini Allah berjanji akan memberkati roti dan air minum umat itu, dan akan menjauhkan penyakit dari tengah-tengah mereka. Ini menunjukkan bahwa secara rohani Allah akan memberi kita makanan untuk memelihara kita, dan minuman untuk memuaskan kita. Lagi pula, Ia akan melenyapkan kelemahan kita, sehingga kita dapat mencapai kematangan, kedewasaan, yaitu pertumbuhan yang sempurna di dalam hayat. Dengan jalan inilah kita akan memperoleh Kristus yang almuhit sebagai milik kita bagi kenikmatan kita.