← Daftar isi Keluaran (5) · bab 11/16

MALAIKAT TUHAN MEMIMPIN UMAT-NYA UNTUK MEMPEROLEH TANAH PERJANJIAN SEBAGAI WARISAN (2)

Pembacaan Alkitab: Kel. 23:20-33

Dalam berita sebelumnya, dari Keluaran 23:20-33, kita mulai memperhatikan masalah mengenai Malaikat TUHAN memimpin umat-Nya untuk memperoleh tanah perjanjian sebagai warisan. Kita melihat bahwa Malaikat TUHAN diutus oleh TUHAN (ayat 20), nama TUHAN ada di dalam Dia (ayat 21), dan bahwa Dia sebenarnya adalah TUHAN sendiri (3:2, 4, 6, 14, 16). Selain itu, kita juga menunjukkan bahwa perkataan-Nya adalah perkataan TUHAN, dan Dia berjalan di depan orang-orang Israel untuk melindungi mereka di jalan serta memimpin mereka memasuki tanah permai (Kel. 23:20, 23). Kita juga memperhatikan batas-batas tanah perjanjian: Dari Laut Teberau sampai Laut Filistin, yaitu Laut Tengah, dan dari padang gurun sampai Sungai Efrat. Kita juga melihat bahwa di negeri itu terdapat penghalang, yaitu bangsa-bangsa kafir dengan berhala mereka. Akhirnya, secara umum kita telah menerima perkataan mengenai jalan untuk memperoleh tanah itu. Dalam berita ini dan berita selanjutnya, kita perlu memperhatikan bagian yang rinci mengenai jalan untuk memperoleh tanah itu. Tidak peduli berapa banyak yang kita ketahui tentang Malaikat TUHAN dan tanah permai, pengetahuan ini akan sia-sia jika kita tidak melihat jalan untuk memperoleh tanah tersebut.

Memperoleh tanah permai sebagai warisan adalah cara pembicaraan yang terdapat dalam perlambangan Perjanjian Lama. Dalam Perjanjian Baru, Paulus membicarakan tentang mendapatkan Kristus, memperoleh Kristus, memegang erat Kristus (Flp. 3:8). Pernyataan-pernyataan dari Filipi 3 ini merupakan penggenapan lambang mengenai memperoleh tanah perjanjian sebagai warisan dalam Perjanjian Lama. Hari ini kita perlu mengalami Kristus yang almuhit, yang dilambangkan oleh tanah permai. Beban saya dalam berita ini ialah berhubungan dengan jalan untuk memperoleh Kristus, yaitu berhubungan dengan jalan untuk mengalami Kristus, memenangkan Kristus, mendapatkan Kristus, meraih Kristus, memegang erat Kristus, mencengkeram Kristus. Jika kita mau mendapatkan bantuan dalam perkara ini, kita perlu secara rinci memperhatikan Keluaran 23:20-33, yaitu dengan meneropong ayat-ayat ini untuk melihat kekayaan yang terkandung dalam ayat-ayat ini.

Pada butir ini saya hendak mengatakan bahwa saya tidak bermaksud untuk mengiaskan Perjanjian Lama berdasarkan interpretasi (tafsiran) tertentu. Sebaliknya, apa yang kita lakukan adalah menyusun bermacam-macam bagian dari firman, sehingga terlihat suatu gambaran yang lengkap. Ini bukan berarti melambangkan atau menafsirkan makna dari perkara-perkara tertentu, melainkan menyusun menjadi satu bagian-bagian yang berbeda dari firman, sehingga terlihat gambaran mengenai perkara-perkara rohani yang tadinya tidak kelihatan. Hal-hal yang berhubungan dengan pengalaman rohani adalah riil, tetapi hal-hal tersebut misterius dan tidak kelihatan. Karena alasan inilah, maka Allah memberikan kepada kita lambang-lambang dalam Perjanjian Lama, dan pemberitahuan fakta dalam Perjanjian Baru. Lambang Perjanjian Lama adalah gambaran dari realitas rohani yang diwahyukan dalam Perjanjian Baru. Sebagaimana anak-anak kecil menyusun potongan-potongan gambar mainan, demikian pula kita harus menyusun berbagai bagian dari Alkitab, sehingga terlihat suatu gambaran.

Untuk menyusun ratusan potongan gambar mainan ini memerlukan waktu dan kesabaran. Mula-mula Anda harus mencoba satu per satu. Akhirnya, sedikit demi sedikit akan terlihat suatu gambar. Apakah Anda ingin melihat suatu gambar mengenai hal-hal yang indah, ajaib, surgawi, rohani, dan ilahi dalam firman Allah? Jika Anda ingin, maka Anda harus dengan sabar dan giat menyusun potongan-potongan “gambar mainan” dari Alkitab. Saya ulangi, mengiaskan Perjanjian Lama dalam cara tertentu bukanlah cara saya. Cara saya ialah menyusun potongan-potongan tersebut sampai terlihat suatu gambar. Dalam berita ini, saya hendak menyajikan gambar lain yang telah saya lihat melalui mempelajari dan mendoakan firman.

Kita telah melihat bahwa peraturan-peraturan dalam Keluaran 21—23 sangat kaya dengan petunjuk, penjelasan, dan makna. Tiga pasal tersebut berakhir dengan perkataan mengenai Malaikat TUHAN membawa umat Allah memasuki tanah perjanjian, hal ini sungguh sangat berarti. Kristus sebagai Utusan Allah melindungi kita dalam perjalanan kita dan membawa kita memasuki diri-Nya sendiri sebagai tanah permai yang almuhit. Selain itu, Keluaran 23:20-33 tidak hanya secara rinci menerangkan kepada kita bagaimana cara untuk memasuki tanah itu, tetapi juga cara untuk memperoleh tanah itu sebagai kenikmatan kita. Sebenarnya, dalam ayat-ayat ini tidak banyak dikatakan tentang Malaikat TUHAN dan tanah permai itu sendiri. Tetapi perhatian yang besar lebih diberikan kepada para penghalang, yaitu bangsa-bangsa kafir yang hendak menghalangi umat Allah dalam memiliki tanah perjanjian sebagai warisan. Namun, penjelasan mengenai cara untuk memperoleh tanah tersebut sebagai warisan lebih rinci daripada penjelasan mengenai para penghalang. Ini menunjukkan bahwa jika kita ingin mengalami Kristus, di satu pihak, kita harus mengenal para penghalang; di pihak lain, kita juga harus mengetahui jalan yang rinci untuk memperoleh Kristus dan mendapatkan Kristus secara pengalaman. Sebagaimana kita memerlukan peta yang rinci untuk menemukan jalan di sekitar sebuah kota, demikian pula kita memerlukan bagian yang rinci dari Keluaran 23:20-33, agar kita memahami jalan untuk memperoleh tanah permai sebagai kenikmatan kita. Sketsa umum memang berguna, tetapi tidak cukup. Seorang pengendara mobil tidak hanya memerlukan penglihatan selayang pandang mengenai sebuah kota, tetapi juga memerlukan pengertian yang rinci tentang jalan-jalan di kota itu. Dengan demikian barulah ia dapat menemukan jalan yang ia cari. Dalam keempat belas ayat ini, kita memiliki “peta” yang rinci bagi “perjalanan” rohani kita dalam memasuki tanah perjanjian, yaitu Kristus yang almuhit.

A. DENGAN MEMATUHI MALAIKAT TUHAN

Jika kita ingin memperoleh tanah perjanjian sebagai warisan, kita harus belajar mematuhi Malaikat TUHAN, yaitu Utusan dari Allah itu. Malaikat ini, yaitu Utusan, ialah Yesus Kristus. Allah mengutus Kristus kepada kita melalui banyak sekali langkah: Berinkarnasi, hidup sebagai manusia, disalibkan, dikubur, bangkit, naik ke surga, dimuliakan, dan dinobatkan. Melalui semua langkah ini, Allah telah mengutus Kristus, yaitu Malaikat-Nya, kepada kita. Sekarang karena Dia beserta kita, maka kita harus mematuhi Dia.

Untuk mendapatkan Kristus, kita harus menyadari bahwa Dia adalah persona yang hidup yang beserta kita, bahkan ada di dalam kita. Ini berarti kita memiliki Kristus yang hidup, bukan suatu sistem doktrinal. Persona yang hidup ini sekarang tinggal di dalam kita (Kol. 1:27). Roma 8:9 mengatakan, “Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus.” Jika kita tidak memiliki Kristus di dalam kita, maka kita bukanlah milik-Nya. Sebaliknya, kita adalah milik Iblis, setan, dan dunia. Puji Tuhan, Yesus Kristus tinggal di dalam kita! Kita memiliki Dia sebagai Sang utusan, yaitu Malaikat TUHAN, yang telah datang kepada kita melalui proses inkarnasi, kehidupan insani, penyaliban, penguburan, kebangkitan, kenaikan ke surga, pemuliaan, dan penobatan. Alangkah menakjubkan bahwa Dia yang sedemikian ini telah diutus untuk menyertai kita!

Hari ini banyak orang Kristen yang tidak menyadari bahwa Kristus, persona yang hidup ini, menyertai mereka dan berada di dalam mereka. Mereka memperhatikan doktrin-doktrin Alkitab, tetapi tidak memperhatikan persona yang hidup itu. Dalam sebuah artikel yang berjudul “The Waning Authority of Christ in the Churches”, A.W. Tozer dengan tegas menunjukkan bahwa kaum beriman hari ini mengabaikan Kristus yang hidup dan kekuasaan-Nya. Orang-orang Kristen mungkin memperhatikan pekerjaan misi mereka, yaitu pemberitaan Injil, atau ajaran Alkitab dan teologi, tetapi mereka tidak memperhatikan Yesus Kristus, persona yang hidup ini.

Dalam Keluaran 23:21-22, Allah tidak mengatakan, “Aku telah memberikan kepadamu ajaran-ajaran yang harus kamu pelihara.” Tidak, di sini Tuhan mengatakan tentang Malaikat, “Jagalah dirimu di hadapannya dan dengarkanlah perkataannya, . . . mendengarkan perkataannya, dan melakukan segala yang Kufirmankan.” Dua kali dikatakan bahwa kita harus mendengarkan perkataan Malaikat, karena perkataan-Nya adalah perkataan Allah. Ini berarti, sebagai Malaikat, Sang utusan, Kristus berbicara bagi Allah. Betapa pentingnya kita mematuhi perkataan-Nya!

Hari ini Kristus berbicara bagi Allah dalam cara yang hidup di dalam kita. Dalam Yohanes 10, ditekankan mengenai mendengarkan perkataan Tuhan. Berbicara tentang diri-Nya sendiri sebagai gembala yang baik, Tuhan Yesus berkata, “Domba-domba mendengarkan suaranya” (ayat 3). Selanjutnya dalam ayat 16, Tuhan berkata, “Tetapi Aku juga mempunyai domba-domba lain yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku.” Dalam ayat 27 dengan jelas Ia bersaksi, “Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku.” Saya sangat yakin bahwa kita semua memiliki perkataan Tuhan di dalam kita. Bahkan kaum muda pun, yaitu mereka yang masih remaja, pernah mendengarkan perkataan Sang hidup yang diam di dalam mereka. Karena mereka mendengarkan perkataan Tuhan, maka sering kali orang tua atau orang lain tidak perlu memberi tahu mereka apa yang harus mereka lakukan. Para orang tua kaum muda tidak dapat pergi ke sekolah bersama anak-anak mereka, namun, Kristus yang berhuni di dalam tidak hanya menyertai mereka ke sekolah, bahkan selamanya tinggal di dalam mereka. Karena kita memiliki Kristus, yaitu Sang utusan Allah, di dalam kita, maka kita harus mematuhi-Nya. Khususnya, kita harus mematuhi perkataan-Nya.

1. Tidak Mendurhakai Dia

Keluaran 23:21 mengatakan, “Jagalah dirimu di hadapannya dan dengarkanlah perkataannya, janganlah engkau mendurhaka kepadanya, sebab pelanggaranmu tidak akan diampuninya.” Di sini kita memiliki empat bagian yang rinci mengenai hubungan kita dengan Kristus sebagai Malaikat TUHAN. Bagian yang rinci ini bertalian dengan menjaga diri di hadapan-Nya, mematuhi-Nya, tidak mendurhakai-Nya, dan pelanggaran kita tidak akan diampuni-Nya. Kita perlu mendengarkan perkataan Tuhan dan tidak mendurhakai Dia. Berdasarkan ayat ini, jika kita mendurhakai Tuhan, Dia tidak akan mengampuni pelanggaran kita. Jika dengan cermat kita perhatikan, kita akan melihat bahwa ayat ini sesuai dengan pengalaman kita.

Sesungguhnya, Kristus yang berhuni di dalam ini adalah persona yang menyenangkan dan lemah lembut. Tetapi, kita sangat mudah membuat-Nya “marah” terhadap kita. Bahkan jika kita tidak taat dalam hal yang kecil pun, kita telah menjengkelkan Dia. Akibatnya, kita merasa bahwa Dia tidak lagi tersenyum kepada kita. Dalam batin kita tahu bahwa Dia merasa tidak senang terhadap kita. Karena Tuhan yang di dalam kita merasa tidak senang, maka kita juga tidak dapat merasa senang. Mungkin ketika kita bersama Tuhan di dalam firman saat munajat pagi, kita merasa gembira di dalam Tuhan. Kita bersukacita dan penuh dengan pujian. Tetapi, beberapa saat setelah itu, kita menjengkelkan Dia karena ketidakpatuhan kita. Tiba-tiba, kita merasa bahwa sukacita kita hilang. Fakta bahwa kita tidak lagi bersukacita menunjukkan bahwa kita telah menjengkelkan Tuhan, membuat-Nya tidak berkenan. Mungkin ia tidak marah kepada kita, tetapi Dia benar-benar tidak senang. Kristus yang berhuni di dalam ini sangat peka, dan kita harus berhati-hati agar tidak mendurhakai Dia.

2. Tidak Mengampuni Pelanggaran Kita

Setelah memerintahkan kita untuk tidak mendurhakai Malaikat TUHAN, ayat 21 mengatakan, “Pelanggaranmu tidak akan diampuninya.” Berdasarkan pengalaman kita, kita tahu bahwa sekali kita mendurhakai Tuhan, Ia tidak akan mengampuni kita sampai kita mengakui kesalahan kita. Dia keras dan terganggu bahkan oleh sedikit tindakan yang tidak patuh pun. Kita harus mematuhi Dia dan tidak membantah Dia. Boleh jadi karena berbantah dengan Dia, kita telah menjengkelkan Dia. Kemudian wajah-Nya tidak lagi tersenyum kepada kita, dan kita tidak lagi memiliki roh yang bersukacita. Meskipun kita telah mengakui kesalahan kita dan memohon ampun kepada Dia, tetapi mungkin Dia tidak segera mengampuni kita. Boleh jadi setelah beberapa hari barulah kita merasakan bahwa Tuhan telah merasa senang kembali dan tersenyum kepada kita.

Saya merasa senang karena ayat 21 tidak mengatakan bahwa Malaikat TUHAN tidak akan mengampuni pelanggaran kita untuk selama-lamanya. Di sini tidak secara rinci disebutkan waktu yang tertentu. Mungkin hanya beberapa menit, Dia sudah mengampuni kita; mungkin beberapa hari, satu minggu, atau bahkan lebih lama lagi. Dari pengalaman kita terhadap Kristus, kita tahu bahwa adakalanya Dia tidak dengan segera mengampuni kita. Ini menyebabkan kita sedih. Pada saat-saat yang demikian mungkin kita berseru, “Haleluya, Kristus adalah Pemenang!” Meskipun mungkin kita berseru dan mencoba untuk bergembira, namun Tuhan berdiam diri, masih merasa tidak senang terhadap kita dan tidak memberikan ampunan-Nya. Akhirnya, setelah sejangka waktu, tiba-tiba kita menyadari bahwa di dalam batin kita terasa gembira sekali. Kita bahkan merasa ingin menyanyi, “Yesus Tuhanku, Dia hidup di dalamku; sekarang aku bersukacita tak tara.” Kita benar-benar merasa gembira, karena Tuhan yang tinggal di dalam kita telah bergembira.

Kita harus sadar bahwa jika kita tidak mendengarkan perkataan-Nya dan mendurhakai Dia, Dia tidak akan mengampuni pelanggaran kita. Dalam perkara ini kita tidak boleh ceroboh, mengira bahwa setelah mendurhakai Tuhan, kita dapat berkata, “Tuhan Yesus, aku bersalah.

Ampunilah aku.” Mungkin Anda mengira bahwa setelah berdoa seperti ini segala sesuatunya akan beres, tetapi tidak demikian dengan perasaan Tuhan di dalam Anda. Dia tidak akan segera mengampuni Anda. Perkataan tentang mendurhakai Tuhan dan tidak menerima ampunan-Nya dengan segera ini bukan hanya merupakan doktrin, melainkan berdasarkan pengalaman rohani kita. Saya dapat bersaksi bahwa pengalaman saya bersama Tuhan sesuai dengan bagian yang rinci dalam ayat 21.

Menurut Perjanjian Lama, Malaikat TUHAN selalu menyertai umat Israel. Dari Perjanjian Baru kita tahu bahwa Kristus, Sang utusan Allah, senantiasa beserta dengan kita. Dalam Matius 28:20, Tuhan Yesus berkata, “Ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman.” Tetapi, fakta bahwa Tuhan selalu beserta kita bukanlah berarti bahwa segala sesuatu akan beres. Hubungan kita dengan Tuhan merupakan masalah dua pihak, yaitu pihak Tuhan dan pihak kita. Kita perlu bekerja sama dengan Dia. Bekerja sama dengan Tuhan boleh digambarkan dengan pertandingan lari “dua orang tiga kaki”. Pasangan dalam pertandingan ini memiliki satu kaki yang bebas, dan satu kaki yang diikat menjadi satu. Mereka harus berlomba lari dengan kerja sama yang baik. Kedua peserta itu harus bekerja sama. Pada dasarnya, demikian pula hubungan kita dengan Tuhan. Di pihak Tuhan, Ia selalu mengerjakan segala sesuatu dengan baik; tetapi kita kurang sekali bekerja sama dengan Dia. Karena kekurangan kita ini, maka kita perlu memperhatikan bagian yang rinci dalam Keluaran 23:20-33, yaitu bagian yang rinci mengenai tanah perjanjian.

B. TUHAN MELENYAPKAN BANGSA-BANGSA

PENYEMBAH BERHALA

Menurut ayat 23, Malaikat TUHAN akan berjalan di depan bangsa itu, dan membawa mereka memasuki negeri yang didiami oleh bangsa-bangsa penyembah berhala. Mengenai bangsa-bangsa ini, TUHAN berjanji, “Aku akan melenyapkan mereka” (ayat 23). Dalam ayat 27, TUHAN berkata, “Kengerian terhadap Aku akan Kukirimkan mendahului engkau: Aku akan mengacaukan semua orang yang kaudatangi, dan Aku akan membuat semua musuhmu lari membelakangi engkau.” Di sini kita melihat bahwa TUHAN berjanji akan melenyapkan semua bangsa penyembah berhala tersebut dari tanah perjanjian. Saya lebih senang menggunakan kata “penyembah berhala” daripada “kafir”. “Kafir” menunjukkan orang bukan Yahudi, sedangkan “penyembah berhala” menunjukkan sesuatu yang berhubungan dengan setan, Iblis, dan penyembahan berhala. Semua bangsa yang menjadi penghalang orang Israel tersebut adalah penyembah berhala.

1. Mengalahkan Mereka

Dalam ayat 23 dan 27-31, dengan jelas dikatakan bahwa Allah telah berjanji untuk mengalahkan bangsa-bangsa penyembah berhala itu. Ia bahkan berjanji akan melepaskan tabuhan mendahului umat-Nya untuk menghalau mereka (ayat 28). Selanjutnya TUHAN berjanji, “Aku akan menyerahkan penduduk negeri itu ke dalam tanganmu, sehingga engkau menghalau mereka dari depanmu” (ayat 31).

2. Menghalau Mereka Sedikit demi Sedikit

Meskipun Allah berjanji akan melenyapkan bangsa-bangsa penyembah berhala itu, namun Ia berkata, “Aku tidak akan menghalau mereka dari depanmu dalam satu tahun, supaya negeri itu jangan menjadi sepi, dan segala binatang hutan jangan bertambah banyak melebihi engkau. Sedikit demi sedikit Aku akan menghalau mereka dari depanmu, sampai engkau beranak cucu sedemikian, hingga engkau dapat memiliki negeri itu” (ayat 29-30). Di sini kita melihat bahwa Allah akan menghalau para penghalang itu berdasarkan perkembangan dan pertumbuhan orang-orang Israel. Ini menunjukkan bahwa tingkat penghalauan Allah atas penduduk negeri itu diukur dengan pertumbuhan umat-Nya. Jika pertumbuhan mereka lambat, maka Allah pun akan menghalau bangsa-bangsa penyembah berhala itu secara perlahan-lahan.

Dalam Filipi 2:13, kita menemukan perkataan yang sesuai dengan janji Allah dalam Perjanjian Lama, yaitu janji untuk menghalau bangsa-bangsa penyembah berhala tersebut sedikit demi sedikit. Dalam ayat ini Paulus berkata, “Karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.” Allah bekerja, beroperasi di dalam kita, untuk melenyapkan hayat alamiah kita. Hayat alamiah kita telah jatuh, penuh dosa, bobrok, mirip dengan Iblis dan setan. Baik atau buruk, apa yang alamiah itu memiliki keempat ciri-ciri negatif ini. Hayat alamiah menghalangi kita dalam mengalami dan menikmati Kristus. Jika kita meneliti pengalaman kita, kita akan melihat bahwa bukanlah orang lain, suami atau istri, atau anggota keluarga kita lainnya yang menghalangi kita dalam mengalami Kristus; melainkan hayat alamiah kita sendiri. Adakalanya kita merasa bahwa hayat alamiah kita telah jatuh, dan ada kalanya kita merasa bahwa hayat alamiah kita itu penuh dosa. Pada suatu saat kita menemukan bahwa hayat alamiah kita sangat bobrok, mirip dengan setan. Mungkin Anda tidak paham bagaimana saya bisa berkata bahwa hayat alamiah mirip dengan setan, sepertinya tingkah laku hayat alamiah mirip dengan setan. Saya bertanya kepada Anda, “Pernahkah Anda berkaca pada saat Anda sedang marah-marah?” Pada saat yang demikian ini ekspresi wajah Anda tidak seperti ksatria, tidak mirip dengan seorang anak Allah; melainkan ekspresi setan. Bertahun-tahun yang lalu, saya pernah melihat wajah-wajah dari orang-orang yang sedang berjudi. Betapa mirip setan wajah-wajah mereka itu!

Hayat alamiah memiliki berbagai aspek. Aspek-aspek tertentu mungkin kelihatannya sangat baik. Tetapi sebenarnya aspek-aspek itu merupakan kedok, tidak sejati. Bahkan meskipun aspek-aspek itu dianggap benar dalam pandangan manusia, tetapi tidak demikian dalam pandangan Allah.

Bangsa-bangsa penyembah berhala yang mendiami tanah perjanjian itu melambangkan berbagai aspek hayat alamiah. Menurut Alkitab, di negeri itu terdapat tujuh suku bangsa. Tetapi kita memiliki jauh lebih banyak “bangsa” di dalam kita. Hayat kita yang jatuh telah rusak dan cemar. Yang muda dan yang tua sama saja. Seorang saudari muda mungkin kelihatannya cantik dan baik hati. Meskipun demikian, di dalamnya terdapat unsur hayat alamiah yang telah jatuh, penuh dosa, bertalian dengan Iblis dan setan.

Sekali lagi saya katakan bahwa hayat alamiah dengan semua sifatnyalah yang menghalangi kita mengalami Kristus. Tetapi Allah telah berjanji untuk melenyapkan semua bangsa penyembah berhala itu, yaitu semua aspek hayat alamiah kita. Ia akan melenyapkan dan menghalau mereka.

Meskipun demikian, kita perlu menyadari bahwa penghalauan Allah atas hayat alamiah kita tergantung pada dua hal. Pertama, tergantung pada pertumbuhan, pertambahan, perkembangan, perlipatgandaan kita. Semakin kita bertumbuh, Allah akan semakin menghalau hayat alamiah kita. Kedua, penghalauan Allah atas bangsa-bangsa penyembah berhala juga tergantung pada pengambilan inisiatif kita untuk menghalau mereka. Dalam ayat 29, Allah menunjukkan bahwa Dia akan menghalau bangsa-bangsa itu, tetapi dalam ayat 31, Dia mengatakan, “Sehingga engkau menghalau mereka dari depanmu.” Ya, Allah berjanji akan menghalau mereka, tetapi kita juga harus mengambil inisiatif.

Dalam penuntutan kita terhadap Tuhan mungkin kita berkata, “Oh, Tuhan, aku membenci diriku sendiri. Aku membenci nafsu dan hayat alamiahku. Tuhan, aku mohon Engkau menghalau hal-hal ini dari diriku.” Tetapi semakin kita berdoa secara demikian, Tuhan semakin tidak memberikan jawaban. Kita berdoa agar Tuhan mau membereskan semua aspek hayat alamiah kita sehingga kita dapat menjadi orang yang rohani, tetapi Dia tidak menjawab doa kita.

Pada butir ini, lambang, gambaran, dalam ayat-ayat ini sangatlah jelas dan membantu. Berdasarkan lambang ini dikatakan bahwa Tuhan akan menghalau bangsa-bangsa penyembah berhala itu, yaitu hayat alamiah, tetapi banyaknya penghalauan itu tergantung pada kecepatan pertumbuhan kita. Jika kita tidak bertumbuh, Tuhan tidak akan menghalau bangsa-bangsa itu. Ada sebagian orang Kristen yang membenci hayat alamiah, dan berdoa agar dibebaskan dari kekangannya. Tetapi setelah itu mereka malah diserang oleh “binatang hutan”. Dalam ayat 29 dikatakan bahwa binatang hutan bertambah banyak melebihi orang-orang Israel. Binatang-binatang hutan ini bahkan lebih jahat daripada bangsa-bangsa penyembah berhala, karena binatang-binatang ini melambangkan setan. Hayat alamiah itu membencikan, tetapi setan, yaitu roh-roh jahat lebih menakutkan. Ini menunjukkan bahwa berbahaya sekali jika batin kita menjadi kosong. Pelenyapan hayat alamiah kita harus sesuai dengan pertumbuhan kita di dalam Kristus. Semakin kita bertumbuh di dalam Tuhan, makin bertambah di dalam Dia, Dia akan semakin menggantikan hayat alamiah kita. Inilah makna rohani dari penghalauan Allah atas bangsa-bangsa penyembah berhala itu berdasarkan pertumbuhan orang-orang Israel. Semakin umat Allah bertambah di negeri itu, semakin banyak pula penyembah-penyembah berhala yang akan dilenyapkan dan dihalau oleh Allah dari negeri itu. Ini menunjukkan bahwa semakin Kristus bertambah di dalam kita, Ia akan semakin menggantikan hayat alamiah kita. Tingkat pertumbuhan Kristus di dalam kita, tergantung pada ukuran berapa banyaknya hayat alamiah kita yang dapat dilenyapkan.

Tanpa pengalaman rohani, kita tidak mungkin dapat memahami bahwa penghalauan hayat alamiah kita adalah berpadanan dengan bertambahnya Kristus di dalam kita. Berdasarkan pengalaman, kita tahu bahwa dalam kehidupan kristiani kita, kita harus memiliki pertumbuhan Kristus. Pertumbuhan ini menggantikan hayat alamiah kita. Kita tidak seharusnya berharap bahwa Allah akan segera menghalau setiap unsur hayat alamiah kita. Penghalauan Allah atas bangsa-bangsa penyembah berhala dari dalam kita itu tergantung pada pertumbuhan kita di dalam hayat, yaitu bertambahnya Kristus di dalam kita. Jika Allah menghalau hayat alamiah kita tanpa disesuaikan dengan bertambahnya Kristus di dalam kita, maka di dalam kita akan menjadi sepi. Kemudian, binatang hutan yang lebih jahat, yaitu setan, akan masuk menduduki kita. Jadi, jalan Allah untuk mengakhiri hayat alamiah kita adalah berdasarkan bertambahnya Kristus di dalam kita.