DARAH PERJANJIAN (1)
Pembacaan Alkitab:
Kel. 24:3-7; Ibr. 9:18-20, 22, 12-15; 8:8-12; Im. 16:11-16;
Yeh. 36:26-27; Mat. 26:27-28; Ibr. 13:20-21; 10:19-20;
1Ptr. 1:18-19; Why. 22:14; 7:14-17
Keluaran 24:8 mengatakan, “Kemudian Musa mengambil darah itu dan menyiramkannya pada bangsa itu serta berkata: ‘Inilah darah perjanjian yang diadakan TUHAN dengan kamu, berdasarkan segala firman ini.’” Banyak orang Kristen yang mungkin tidak mengenal dengan baik istilah “darah perjanjian” yang terdapat dalam ayat ini. Pernyataan ini diketengahkan oleh Tuhan dalam Matius 26:28. Bahkan para pembaca Alkitab yang telah mengenal istilah “darah perjanjian” ini pun barangkali tidak mengetahui makna yang sebenarnya. Darah perjanjian adalah berasal dari hati Allah, tetapi hal ini tidak mendapatkan tempat dalam hati manusia. Beberapa hal dalam Alkitab mungkin sesuai dengan apa yang ada dalam hati kita. Karena alasan inilah, maka ketika kita menjumpai hal-hal ini dalam firman, secara otomatis kita lalu memperhatikannya. Namun demikian, hal-hal lainnya berada di luar pengertian kita. Ketika kita membaca tentang hal-hal yang lain tersebut di dalam firman, mungkin kita tidak terkesan. Demikianlah darah perjanjian diabaikan.
Mengapa dalam Keluaran 24:8 Musa berbicara tentang darah perjanjian? Mengapa Tuhan Yesus pada malam Ia dikhianati berkata, “Inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa-dosa” (Mat. 26:28). Perkataan Tuhan di sini sedikitnya merupakan suatu referensi bagi Keluaran 24:8. Lukas 22:20 membicarakan tentang perjanjian yang baru. Ini menunjukkan bahwa dalam Keluaran 24:8 ada darah perjanjian yang lama, sedangkan dalam Matius 26:28 dan Lukas 22:20 ada darah perjanjian yang baru. Baik bagi Perjanjian Lama maupun bagi Perjanjian Baru, darah itu diperlukan.
Saya tidak percaya bahwa banyak di antara kita yang terkesan oleh fakta bahwa darah ini adalah darah perjanjian. Mungkin kita mengetahui bahwa darah ini adalah darah yang menebus, darah yang mencuci, darah yang menguduskan, dan darah yang menanggulangi musuh. Tetapi, pernahkan Anda memperhatikan fakta bahwa darah ini juga disebut darah perjanjian? Ini adalah satu perkara yang sangat bermakna.
I. PENETAPAN HUKUM TAURAT
Sebelum kita memperhatikan makna darah perjanjian ini, sekali lagi saya ingin menunjukkan bahwa dalam Keluaran 24, kita memiliki penetapan hukum Taurat. Sebelum ini, hukum Taurat dititahkan oleh Allah; dan hukum Taurat diterima oleh orang-orang Israel melalui Musa sebagai wakil mereka. Sebagaimana telah kita tunjukkan, Musa menetapkan hukum Taurat dengan cara yang sangat berbeda dengan apa yang kita pikirkan menurut konsepsi alamiah. Musa tidak memerintah bangsa itu untuk melaksanakan hukum Allah, sebaliknya, mendirikan sebuah mezbah. Tentu saja, sebuah mezbah adalah untuk mempersembahkan kurban. Tetapi, kurban apakah yang ada hubungannya dengan hukum Taurat? Jika kita mengkaji perkara ini, kita akan menyadari bahwa hukum Taurat tidak memerlukan kurban. Kalau begitu, mengapa dalam penetapan hukum Taurat, Musa mendirikan sebuah mezbah? Mezbah itu menunjukkan perlunya penebusan, pengakhiran, dan penggantian. Karena kita telah jatuh, penuh dosa, dan bobrok, kita memerlukan penebusan dan pengakhiran. Kita juga perlu digantikan oleh Kristus.
Musa juga mendirikan 12 tugu (tiang) yang mewakili kedua belas suku Israel. Tiang-tiang ini menunjukkan bahwa setelah umat Allah ditebus, diakhiri, dan digantikan di atas mezbah, mereka dapat menjadi kesaksian Allah yang mencerminkan apa adanya Dia.
Keluaran 24:6 mengatakan, “Sesudah itu Musa mengambil sebagian dari darah itu, lalu ditaruhnya ke dalam pasu, sebagian lagi dari darah itu disiramkannya pada mezbah itu.” Kita telah melihat, menurut ayat 8, Musa juga memercikkan darah itu pada bangsa itu dan berkata, “Inilah darah perjanjian.” Tentu saja, darah itu berasal dari kurban yang dipersembahkan di atas mezbah. Bukan mezbah atau tiang yang membuat penetapan hukum Taurat menjadi efektif, melainkan darah. Perjanjian itu disahkan oleh darah yang berasal dari kurban yang dipersembahkan di atas mezbah. Jadi, mezbah dengan kurban menghasilkan darah bagi penetapan hukum Taurat. Dalam penetapan hukum Taurat, darah merupakan fokusnya.
Kelihatannya mezbah, tiang, kurban, dan darah, tidak berhubungan dengan hukum Taurat. Mengapa Musa menggunakan semua benda ini ketika menetapkan hukum Taurat? Apa yang Musa lakukan dalam Keluaran 24 berhubungan dengan ekonomi Allah.
II. MAKSUD HATI ALLAH DALAM MENITAHKAN HUKUM TAURAT
Dalam berita sebelumnya, kita telah menekankan fakta bahwa Allah tidak bermaksud agar umat-Nya melaksanakan hukum yang Dia titahkan itu. Tidak mungkin bangsa yang telah jatuh, penuh dosa, dan bobrok itu dapat memelihara hukum Taurat. Mereka tidak memiliki kemampuan untuk melaksanakan hukum Allah. Meskipun Allah tidak bermaksud agar umat-Nya memelihara hukum Taurat, tetapi mereka berpikir, karena Allah memberikan hukum itu kepada mereka, maka mereka ingin memeliharanya. Keluaran 24:3 mengatakan, “Seluruh bangsa itu menjawab serentak: ‘Segala firman yang telah diucapkan TUHAN itu, akan kami lakukan.’” Menurut ayat 7, bangsa itu berjanji, “Segala firman TUHAN akan kami lakukan dan akan kami dengarkan.” Di sini kita melihat dua maksud yang berlainan. Maksud Allah dalam menitahkan hukum Taurat berbeda dengan maksud bangsa yang menerimanya. Maksud-maksud ini tidak sesuai satu dengan yang lain.
Jika Allah tidak bermaksud agar bangsa itu melaksanakan hukum Taurat yang telah Dia titahkan itu, lalu, apa maksud Allah memberikan hukum Taurat itu kepada mereka? Dalam menitahkan hukum Taurat, Allah bermaksud mewahyukan kepada umat pilihan dan tebusan-Nya, Allah macam apakah Dia. Inilah sebabnya hukum Taurat merupakan gambar atau lukisan Allah. Jadi, fungsi pertama hukum Taurat ialah mewahyukan Allah.
Fungsi kedua dari hukum Taurat Allah ialah membuat bangsa itu sadar bahwa mereka telah jatuh dan menjauhi Allah. Sebagai orang-orang yang penuh dosa dan bobrok, mereka tidak mungkin dapat menyenangkan Allah. Mereka memerlukan penebusan Tuhan. Hanya melalui darah penebusanlah baru mereka dapat berkontak dengan Allah. Jika melalui penebusan umat Allah dibawa kepada-Nya dan berkontak dengan-Nya, maka Allah akan diinfuskan ke dalam mereka. Semakin berkontak dengan Allah, mereka akan semakin menerima infus Allah.
III. DARAH PENEBUSAN DAN HADIRAT ALLAH
Sebagai wakil orang-orang Israel, Musa dibawa ke dalam hadirat Allah dan tinggal di sana selama sejangka waktu lamanya. Jika bukan karena Allah telah melihat darah penebusan, maka Allah tidak akan membiarkan seseorang yang telah jatuh, penuh dosa, dan bobrok tinggal dalam hadirat-Nya. Apakah Anda mengira bahwa Musa itu sempurna? Apakah Anda mengira bahwa ia tidak jatuh, tidak berdosa, dan tidak bobrok? Musa adalah orang yang telah jatuh, penuh dosa, dan bobrok, seperti orang-orang Israel lainnya. Kalau demikian, bagaimana orang yang berdosa ini dapat tinggal dalam hadirat Allah di puncak gunung selama 40 hari? Musa dapat tinggal dalam hadirat Allah karena Allah telah melihat darah penebusan. Darah merupakan dasar yang memungkinkan Allah mengizinkan Musa masuk ke dalam hadirat-Nya dan tinggal di sana. Ini berarti di bawah darah penebusanlah Musa dapat masuk ke dalam hadirat Allah.
Kita dapat membuktikan bahwa melalui darah penebusanlah Musa dapat masuk ke dalam hadirat Allah, dengan memperhatikan berbagai aspek Kemah Pertemuan dan pelataran luar. Dalam tempat maha kudus terdapat tabut perjanjian dengan tutup pendamaiannya. Allah berada di atas tutup pendamaian itu, yang menutupi tabut perjanjian. Loh hukum berada dalam tabut perjanjian. Dalam tempat kudus terdapat meja roti sajian, kaki pelita, dan mezbah pembakaran ukupan; di pelataran luar terdapat mezbah tembaga serta bejana pembasuhan. Orang-orang Israel tidak diizinkan masuk ke dalam tempat kudus, apalagi melewati tabir dan masuk ke dalam tempat maha kudus, berdiri di depan tutup pendamaian. Tutup pendamaian tersebut sama dengan takhta anugerah yang dibicarakan dalam Ibrani 4:16: “Sebab itu, marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta anugerah, supaya kita menerima rahmat dan menemukan anugerah untuk mendapatkan pertolongan kita pada waktunya.” Meskipun kita boleh dengan penuh keberanian menghampiri takhta anugerah, tetapi orang-orang Israel tidak diizinkan menyentuh tutup pendamaian. Jika mereka menyentuhnya, hukumannya ialah kematian. Anak-anak Harun, Nadab dan Abihu, dihukum mati karena mereka “mempersembahkan ke hadapan TUHAN api yang asing” (Im. 10:1). Dalam membakar ukupan, mereka menggunakan api yang bukan berasal dari mezbah. Kalau begitu, siapakah yang memenuhi syarat untuk masuk ke dalam tempat maha kudus dan menjamah tutup pendamaian? Satu-satunya orang yang memenuhi syarat melakukan hal ini ialah orang yang membawa darah penebusan dari mezbah yang ada di pelataran luar. Mula-mula darah kurban penghapus dosa ditumpahkan ke atas mezbah. Kemudian darah ini dibawa masuk ke dalam tempat maha kudus dan dipercikkan ke atas tutup pendamaian. Darah ini, yaitu darah perjanjian, membawa umat Allah ke dalam hadirat-Nya.
Saya ulangi, dalam memberikan hukum Taurat kepada orang-orang Israel, Allah tidak bermaksud agar mereka memelihara atau melaksanakannya. Maksud-Nya ialah menunjukkan kepada mereka betapa ajaibnya Allah itu, mewahyukan kepada mereka bahwa Dia itu kudus, adil, serta penuh kasih dan terang. Dia juga bermaksud membuat bangsa itu sadar bahwa meskipun Dia itu kudus, adil, kasih, dan terang, namun mereka sama sekali tidak adil, tidak kudus, dan penuh dengan kebencian dan kepalsuan. Jika mereka telah menyadari keadaan mereka yang penuh dosa dan jatuh, mereka akan bertobat dan menerima penebusan Allah. Dengan pertolongan penebusan ini, sebagai orang-orang yang telah ditebus, mereka dibawa ke hadirat Allah dan tinggal di sana untuk diinfus oleh Allah.
Pengalaman Musa bersama Tuhan menggambarkan hal ini. Meskipun ia adalah orang yang telah jatuh, penuh do-sa, dan bobrok, tetapi melalui darah ia dibawa ke dalam hadirat Allah. Dengan tinggal di dalam hadirat Allah selama empat puluh hari, Musa diinfus oleh Allah dan bahkan menjadi cerminan-Nya. Inilah sebabnya kulit muka Musa bercahaya dengan unsur Allah yang terinfus ke dalamnya. Karena Musa telah diinfus oleh Allah, maka ia menjadi pencerminan Allah. Maksud Allah dalam memberikan hukum Taurat ialah untuk membuat orang-orang Israel menjadi pencerminan-Nya yang demikian.
PRINSIP DASAR EKONOMI ILAHI
Orang-orang Israel sama sekali tidak memahami maksud Allah. Tetapi Musa adalah orang yang mengetahui maksud hati Allah. Oleh karena itu, ia menetapkan hukum Taurat bukan menurut kehendak orang-orang Israel, melainkan menurut kehendak Allah. Tidak peduli bagaimana bodoh dan tidak tahunya orang-orang Israel, tetapi Musa menetapkan hukum Taurat menurut cara Allah. Cara Allah adalah menunjukkan kepada bangsa itu bahwa dalam pandangan-Nya, mereka telah jatuh, penuh dosa, dan bobrok, dan mereka memerlukan penebusan serta pengampunan Allah. Tentu saja, Allah mau menebus bangsa itu dan mengampuni dosa-dosa mereka. Setelah mereka menerima penebusan dan pengampunan, darah penebusan akan membawa mereka ke dalam hadirat Allah di mana mereka dapat berkontak dengan Dia, menerima Dia ke dalam mereka, dan disusun menjadi tiang-tiang sebagai kesaksian Allah yang hidup, yaitu pencerminan apa adanya Dia. Inilah prinsip dasar yang beroperasi dalam alam semesta sampai hari ini.
Berdasarkan prinsip dasar dari ekonomi ilahi ini, pertama-tama Alkitab mewahyukan kepada kita apa adanya Allah. Kedua, Alkitab memungkinkan kita mengetahui bahwa kita adalah orang-orang yang telah jatuh, penuh dosa, bobrok, dan sama sekali tidak berpengharapan. Tetapi, Tuhan telah melakukan penebusan bagi kita, dan darah-Nya menyucikan kita serta membawa kita ke dalam hadirat-Nya. Sekarang Ia sedang menunggu kita bertobat, berbalik kepada Dia, dan menerima penebusan serta pengampunan-Nya. Menurut wahyu dalam Perjanjian Baru, kita tidak hanya dibawa ke dalam hadirat Allah kita bahkan dibawa ke dalam diri Allah sendiri. O, darah penebusan dan penyucian membawa kita ke dalam Allah! Hal ini memberikan dasar dan kedudukan kepada kita untuk menerima Allah, menikmati Allah, serta makan dan minum Allah. Akhirnya, dengan makan Allah secara demikian, kita akan menjadi tiang, menjadi kesaksian-Nya yang hidup.
JALAN UNTUK MENJADI TIANG
Apakah Anda memiliki keyakinan untuk mengatakan bahwa Anda adalah tiang Allah? Kita semua harus dapat mengumumkan: “Ya, aku adalah orang yang telah jatuh, penuh dosa, dan bobrok. Haleluya! darah adi telah menebus dan membawa aku ke dalam Allah. Sekarang, aku penuh dengan Allah dan telah menjadi sebuah tiang.” Jika sekarang Anda tidak memiliki keyakinan untuk mengumumkan demikian, saya yakin di dalam kekekalan, Anda akan memiliki keberanian untuk menyatakan bahwa Anda adalah sebuah tiang, yang memberikan kesaksian tentang apa adanya Allah dan mencerminkan Dia.
Jalan untuk menjadi tiang yang demikian adalah jalan yang menikmati, yaitu dengan makan Dia sebagai suplai hayat dan minum Dia sebagai air hidup. Dengan makan dan minum Dia, kita menikmati Dia dan tersusun oleh Dia. Inilah ekonomi Allah yang sesuai dengan wahyu dalam firman Allah.
Penetapan hukum Taurat dalam Keluaran 24 sepenuhnya menurut ekonomi Allah. Prinsip ini sama dengan Alkitab. Sebagaimana orang-orang Israel bertindak bodoh dengan berjanji akan mematuhi apa yang Tuhan katakan, demikian pula banyak orang Kristen hari ini yang dengan bodoh mengira bahwa mereka dapat mematuhi apa yang dikatakan dalam Alkitab. Ketika membaca Alkitab, banyak orang beriman yang mengira bahwa perintah yang terdapat dalam firman adalah untuk mereka pelihara. Sebagai contoh, dalam Efesus 5:22 dan 25, Paulus memerintahkan para istri agar taat kepada suami mereka, dan para suami agar mengasihi istri mereka. Tetapi tidak ada suami yang benar-benar dapat mengasihi istrinya, dan tidak ada istri yang benar-benar dapat taat kepada suaminya. Selama hidup saya, saya tidak pernah melihat seorang suami yang benar-benar mengasihi istrinya, dan seorang istri yang benar-benar taat kepada suaminya. Sebaliknya, setiap istri bersifat tegar tengkuk dan pemberontak; dan setiap suami mengasihi dirinya sendiri. Jadi, kita sesungguhnya tidak dapat melaksanakan perintah-perintah yang terdapat dalam Alkitab. Jangan berusaha untuk melaksanakan perintah-perintah ini, dalam terang wahyu Alkitab kita sebaiknya mengakui bahwa kita adalah orang-orang yang telah jatuh, penuh dosa, dan bobrok. Kita harus mengakui, yakin, tunduk, bertobat, dan menerima keselamatan Allah. Demikian, darah penebusan Kristus akan membawa kita ke dalam Allah Tritunggal, dan kita akan diinfus oleh Dia, sehingga menjadi tiang. Hanya tiang-tiang yang demikian yang dapat mengasihi istri atau taat kepada suami.
Dalam berita ini kita telah melihat konsepsi dasar ekonomi Allah. Konsepsi ini bukanlah bahwa umat Allah harus memelihara hukum Taurat. Hukum Taurat dititahkan oleh Allah bukan untuk dilaksanakan oleh umat-Nya, melainkan supaya melalui hukum itu, mereka dapat mengenal Allah secara positif, dan mengenal diri mereka sendiri secara negatif. Dengan memiliki pengetahuan yang tepat tentang Allah dan diri mereka sendiri, mereka akan bertobat dan menerima penebusan Allah. Melalui darah penebusan, mereka akan dibawa ke dalam hadirat Allah untuk menerima infus Allah, sehingga menjadi tiang-tiang yang merupakan kesaksian yang hidup dan pencerminan apa adanya Allah.