PENETAPAN PERJANJIAN (2)
Pembacaan Alkitab:
Kel. 24:1-8; Ibr. 9:18-20, 22; Yer. 31:33-34; Yeh. 36:25-29a
Berita ini merupakan lanjutan dari berita sebelumnya mengenai penetapan perjanjian. Kita telah melihat bahwa ketika Musa menetapkan perjanjian, ia mendirikan mezbah dan dua belas tugu (tiang). Mezbah menunjukkan bahwa kita perlu ditebus, diakhiri, dan digantikan, sedangkan dua belas tugu menunjukkan bahwa kita harus menjadi kesaksian Allah yang hidup, dan mencerminkan apa adanya Allah.
III. DENGAN KURBAN BAKARAN DAN KURBAN KESELAMATAN
Keluaran 24:5 mengatakan, “Kemudian disuruhnyalah orang-orang muda dari bangsa Israel, maka mereka mempersembahkan kurban bakaran dan menyembelih lembu-lembu jantan sebagai kurban keselamatan kepada TUHAN.” Tidaklah sulit bagi kita untuk memahami makna kurban-kurban ini. Kurban bakaran adalah untuk kepuasan Allah. Kita diciptakan oleh Allah untuk kepuasan-Nya. Tetapi, oleh karena manusia yang telah jatuh gagal dalam memuaskan Allah, maka Kristus datang sebagai manusia kedua, dan sepenuhnya memuaskan Allah.
Setelah Allah dipuaskan melalui kurban bakaran, barulah mungkin ada perdamaian antara Allah dengan manusia. Perdamaian ini tergantung pada kurban keselamatan. Ketika manusia dan Allah bersama-sama menikmati Kristus, maka terdapatlah kepuasan yang timbal balik, juga ada perdamaian timbal balik. Pertama-tama Kristus menjadi kurban bakaran yang dipersembahkan kepada Allah bagi kepuasan-Nya, kemudian Ia menjadi kurban keselamatan untuk mengadakan perdamaian antara manusia dengan Allah. Akhirnya, Kristus menjadi perjamuan bagi Allah dan manusia untuk kenikmatan bersama. Inilah Kristus yang telah menebus kita, mengakhiri kita, dan sekarang menggantikan kita. Semakin kita digantikan oleh Kristus di dalam pengalaman kita, kita akan semakin menjadi kurban bakaran dan kurban keselamatan. Hari demi hari kita memuaskan Allah dan menikmati perdamaian dengan Dia, sebagaimana kita mengenyangkan diri kita dengan Kristus bersama Allah dan menikmati Dia bersama Allah.
Berdasarkan usaha kita sendiri untuk memelihara hukum Taurat tidak mungkin dapat memuaskan Allah, tidak mungkin ada perdamaian dengan Dia, juga tidak dapat menikmati Kristus bersama Allah. Sekali lagi saya katakan, Allah memberikan hukum Taurat kepada umat-Nya bukan dengan tujuan agar mereka memeliharanya. Maksud hati Allah ialah agar bangsa itu digantikan oleh Kristus, menjadi cerminan Allah. Inilah ekonomi Allah. Syukur kepada Tuhan bahwa dalam pemulihan, hal ini telah jelas bagi kita.
Menurut konsepsi alamiah, Allah yang mahakuasa, Sang pencipta, Sang kudus, telah memberikan hukum Taurat kepada kita untuk kita laksanakan dan pelihara. Meskipun konsepsi keagamaan ini telah umum di antara orang-orang Kristen hari ini, tetapi konsepsi ini mutlak bukan ekonomi Allah. Kita yang di dalam pemulihan Tuhan, mungkin secara tidak sadar masih berada di bawah pengaruh konsepsi ini. Setelah mendengarkan berita yang istimewa, mungkin kita berdoa, “Tuhan, aku bertekad untuk hidup menurut berita ini. Tolonglah aku dalam melaksanakan tekadku ini.” Doa semacam ini menyingkapkan fakta bahwa kita masih berada di bawah pengaruh konsepsi yang alamiah dan agamawi. Untuk membebaskan kita dari konsepsi ini perlu sejangka waktu yang lama. Bila kita membaca suatu permintaan dalam Alkitab, mudah sekali kita memutuskan dan bertekad untuk berdasarkan diri sendiri memenuhi permintaan itu. Sebagaimana orang-orang Israel di Gunung Sinai, demikian pula kita, berjanji kepada Tuhan bahwa kita akan melakukan apa saja yang Dia katakan. Tetapi jika kita diterangi oleh Tuhan, kita tidak akan bertekad lagi untuk melakukan apa yang Tuhan kehendaki. Sebaliknya, kita akan berdoa, “Tuhan, belas kasihanilah aku. Aku tidak dapat melakukan permintaan-Mu. Tuhan, aku bersyukur kepada-Mu! Engkau telah menebus aku, mengakhiri aku, dan Engkau sedang berada dalam proses menggantikan aku dengan diri-Mu sendiri, serta menjadikan aku sebagai cerminan-Mu.”
Puji Tuhan, kita memiliki salib untuk mengakhiri diri kita, dan Kristus untuk menggantikan kita! Kristus adalah kurban bakaran dan kurban keselamatan kita. Ketika kita mengalami Dia, maka Dia akan menjadikan kita kurban bakaran dan kurban keselamatan. Ini bukan berasal dari usaha kita untuk memelihara hukum Taurat, melainkan berasal dari pengalaman kita atas mezbah dan kurban, yaitu salib dan Kristus, untuk mengakhiri dan menggantikan kita, sehingga kita menjadi kesaksian Allah. Jika kita mengalami Kristus dan salib secara demikian, kita tidak hanya akan memiliki mezbah dan kurban, tetapi juga akan memiliki dua belas tiang. Haleluya atas penebusan dan penggantian Kristus yang hebat, yang dapat mengubah orang-orang berdosa yang telah jatuh dan bobrok menjadi tiang!
Jangan berusaha memelihara hukum Taurat Allah. Kristus telah menebus Anda, dan sekarang Dia sedang berada dalam proses menggantikan Anda dan menyusun kembali Anda, untuk membuat Anda menjadi kesaksian Allah yang hidup, yaitu cerminan-Nya. Jika Anda hidup menurut roh dan meletakkan pikiran Anda di atas roh, maka secara otomatis tuntutan hukum Taurat akan digenapi di dalam Anda, dan Anda akan menjadi kesaksian Allah.
IV. DENGAN DARAH
Keluaran 24:6 mengatakan, “Sesudah itu Musa mengambil sebagian dari darah itu, lalu ditaruhnya ke dalam pasu, sebagian lagi dari darah itu disiramkannya pada mezbah itu.” Darah di sini adalah untuk penebusan. Meskipun kita penuh dosa, jatuh, dan bobrok, tetapi kita memiliki darah bagi penebusan kita dan pengampunan dosa kita. Ibrani 9:22 menyatakan, “Dan hampir segala sesuatu disucikan menurut hukum Taurat dengan darah, dan tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan.”
Darah dalam Keluaran 24 tentunya mengingatkan bangsa itu kepada darah anak domba Paskah. Kurang dari satu tahun sebelum perjanjian itu ditetapkan di Gunung Sinai, orang-orang Israel menaruh darah domba pada pintu atau tiang pintu rumah mereka.
Musa memercikkan darah di atas “kitab itu sendiri dan seluruh umat” (Ibr. 9:19), sambil berkata, “Inilah darah perjanjian yang ditetapkan Allah bagi kamu,” yang menunjukkan bahwa orang-orang Israel penuh dengan dosa dan memerlukan penutupan darah. Darah ini berasal dari kurban, dan kurban melambangkan Kristus. Karena itu, 1Petrus 1:18-19 mengatakan bahwa kita ditebus dengan darah Kristus yang mahal.
Perjanjian Lama tidak hanya mewahyukan perjanjian yang ditetapkan dalam Keluaran 24:1-8, tetapi juga nubuat tentang suatu perjanjian yang baru. Yeremia 31:33 mengatakan, “Tetapi beginilah perjanjian yang Kuadakan dengan kaum Israel sesudah waktu itu, demikianlah firman TUHAN: Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka; maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku.” Dalam Yehezkiel 36:26-27 Tuhan berjanji demikian, “Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat. Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku dan melakukannya.” Nubuat-nubuat ini menunjukkan bahwa Allah akan mengadakan perjanjian yang lain dengan umat-Nya, yaitu perjanjian yang akan menambal kekurangan yang ada dalam perjanjian pertama. Dalam Yeremia 31:33, Allah berjanji akan menuliskan hukum-Nya dalam hati bangsa itu, dan dalam Yehezkiel 36, Ia berjanji akan mengubah sifat mereka dengan memberikan hati yang baru, serta melahirkan kembali mereka dengan memberikan roh yang baru dan juga Roh-Nya tinggal di dalam mereka. Karena hukum Taurat ditaruh di dalam batin kita, berarti kita telah dilahirkan kembali, menerima sifat yang baru, dan Roh Allah diam di dalam kita. Hasilnya, seperti yang ditunjukkan oleh penetapan perjanjian, kita digantikan oleh Kristus dan secara spontan hidup dalam cara yang sesuai dengan tuntutan kebenaran hukum Taurat Allah. Demikian, kita bukanlah orang-orang yang berusaha memelihara hukum Taurat, melainkan menjadi cerminan yang hidup dari hukum Taurat.
Kita telah melihat, jika umat Allah mau menjadi kesaksian dan cerminan-Nya yang hidup, mereka perlu ditebus, diakhiri, dan digantikan. Menurut Yehezkiel 36, semua ini disebabkan oleh perubahan yang di dalam, penerimaan hati yang baru, roh yang baru, dan Roh ilahi.
Semua hal ini setara dengan Perjanjian Baru. Perjanjian Baru mewahyukan salib Kristus, yang melaluinya kita ditebus, diakhiri dan digantikan. Perjanjian Baru juga mewahyukan bahwa sebagai orang-orang yang percaya kepada Kristus, kita memiliki sifat yang baru; kita telah dilahirkan kembali, telah menerima roh yang baru dan Roh ilahi, yaitu Allah sendiri, tinggal di dalam roh kita. Sekarang jika kita hidup menurut roh perbauran, yaitu Roh ilahi yang berbaur dengan roh kita, kita akan memiliki hidup yang mencerminkan Allah. Semua ini dapat terjadi karena kita memiliki darah Kristus yang mahal yang menyucikan kita dari dosa. Jadi, dosa-dosa kita disucikan, dan kita menjadi cerminan Allah.
V. KEBODOHAN ORANG-ORANG ISRAEL
Keluaran 24 menyingkapkan kebodohan orang-orang Israel. Ayat 3 mengatakan, “Lalu datanglah Musa dan memberitahukan kepada bangsa itu segala firman TUHAN dan segala peraturan itu, maka seluruh bangsa itu menjawab serentak: ‘Segala firman yang telah diucapkan TUHAN itu, akan kami lakukan.’” Bangsa itu tidak hanya sekali berkata dalam cara yang sedemikian bodoh, melainkan dua kali. Ayat 7 mengatakan bahwa oleh Musa “diambilnyalah kitab perjanjian itu, lalu dibacakannya dengan didengar oleh bangsa itu,” dan mereka berkata, “Segala firman TUHAN akan kami lakukan dan akan kami dengarkan.” Ini menunjukkan bahwa secara rohani mereka adalah buta. Di dalam keadaan mereka yang telah jatuh, mereka tidak melihat apa adanya Allah, dan mereka tidak mengenal diri mereka sendiri. Karena percaya kepada diri sendiri, dengan bodohnya mereka bersandar pada diri sendiri. Karena kekurangan wahyu dan visi, banyak orang Kristen hari ini yang sama dengan orang-orang Israel dalam hal ini. Kita mungkin juga masih berada di bawah pengaruh konsepsi keagamaan, dan mengira bahwa kita dapat mematuhi hukum Allah. Kita semua memerlukan mezbah, tiang, kurban, dan darah. Kita perlu menerapkan darah dan digantikan oleh Kristus untuk menjadi cerminan Allah.
Keluaran 24:1-8 merupakan gambaran tentang ekonomi Allah. Menurut gambaran ini, kita tidak seharusnya melaksanakan hukum Taurat. Sebaliknya, kita harus diakhiri dan digantikan, sehingga kita dapat menjadi tiang, kesaksian Allah yang hidup, menjadi cerminan Allah di dalam Kristus. Kita tidak lagi mengatakan kepada Allah hal-hal yang tidak mungkin, yaitu janji untuk melakukan apa yang Dia katakan. Bersumpah atau berjanji kepada Allah dalam cara yang sedemikian ini ialah berkata secara alamiah. Kita sungguh tidak berdaya memenuhi janji yang demikian. Kehidupan kita penuh dengan kegagalan dan kekurangan. Dengan dasar apa kita harus berjanji untuk memenuhi permintaan Allah? Kita memerlukan penebusan, pengakhiran, penggantian, dan penyusunan kembali. Kita tidak seharusnya mengucapkan janji-janji yang menggelikan lagi; sebaliknya, kita harus berdoa, “Tuhan, aku tidak memiliki apa-apa dan tidak dapat melakukan apa-apa. Tetapi bersama-Mu aku dapat beroleh penebusan, pengakhiran, dan penggantian-Mu, dengan menggarapkan diri-Mu sendiri ke dalamku. Engkau dapat menyusun kembali aku dan membuatku menjadi tiang yang hidup, menjadi kesaksian-Mu.” Semoga kita semua melihat bahwa kehendak hati Allah ialah menggarapkan diri-Nya sendiri ke dalam kita, menyusun ulang diri kita dengan diri-Nya, sehingga kita dapat menjadi kesaksian-Nya. Inilah makna dari mezbah, tiang, kurban, darah, dan perkataan orang-orang Israel yang bodoh dalam Keluaran 24.
Agama menyuruh kita menyembah Allah dan mematuhi perintah-perintah-Nya. Agama Yahudi, agama Kristen Katolik, dan agama Kristen Protestan, semua menekankan hal ini. Tetapi, penekanan yang demikian adalah berdasarkan konsepsi alamiah manusia. Di bawah pengaruh konsepsi inilah kita berusaha memelihara hukum Taurat agar diperkenan oleh Allah dan menyenangkan Dia. Mungkin kita mengira, Allah memberikan hukum Taurat kepada umat-Nya agar dengan memelihara hukum itu, mereka dapat memelihara hubungan baik dengan Dia. Konsepsi ini adalah konsepsi yang alamiah, agamawi, dan sepenuhnya bertentangan dengan tujuan kekal Allah di dalam ekonomi-Nya.
Kita telah menunjukkan bahwa cara Musa dalam menetapkan hukum Taurat adalah mutlak berbeda dengan cara manusiawi yang umum. Musa tidak memerintahkan bangsa itu untuk setia dan melaksanakan hukum Taurat, Musa menetapkan perjanjian melalui mezbah, tiang, kurban, dan darah. Dengan menetapkan perjanjian secara demikian seolah-olah Musa memberi tahu bangsa itu bahwa meskipun mereka penuh dosa dan bobrok, tidak berpengharapan, tetapi Allah dapat membuat mereka menjadi tiang-tiang untuk menjadi kesaksian-Nya. Sebagaimana telah berkali-kali kita tekankan, hal ini hanya dapat terjadi melalui salib Kristus, darah Kristus, dan Kristus sendiri. Oleh salib, kita ditebus dan diakhiri; oleh darah, kita disucikan dari dosa-dosa kita; dan oleh Kristus, kita digantikan serta disusun kembali. Dalam menempuh proses penggantian oleh Kristus ini, kita sering gagal. Tetapi kita memiliki darah untuk menyucikan kita.
Tuhan sedang bekerja untuk mengakhiri kita dan menggantikan kita, sehingga kita dapat menjadi tiang, yaitu cerminan Allah di dalam Kristus. Menjadi tiang yang sedemikian ini berarti memperbesar Kristus dalam hidup kita sehari-hari. Inilah ekonomi Allah. Jika kita melihat betapa penetapan perjanjian itu menggambarkan ekonomi Allah, kita akan beralih dari konsepsi alamiah dan keagamaan kepada konsepsi Allah dan tujuan kekal-Nya di dalam ekonomi-Nya.
Dalam Sepuluh Perintah sendiri, kita tidak melihat penebusan, pengakhiran, dan penggantian. Kita juga tidak melihat darah penebusan, mezbah, maupun kurban. Memang, mezbah dan kurban disebutkan kemudian. Meskipun hukum Taurat sendiri tidak menggambarkan ekonomi Allah, tetapi penetapan hukum Taurat menggambarkan ekonomi Allah. Selanjutnya, dalam Yeremia 31 dan Yehezkiel 36, kita membaca tentang perjanjian yang lain. Menurut ayat-ayat ini, Allah akan menuliskan hukum-Nya di dalam batin kita, mengubah hati kita, melahirkan kembali roh kita, dan menaruh Roh-Nya di dalam kita untuk menggantikan kita, serta mengampuni dan menyucikan kita. Yeremia 31:34 mengatakan, “Aku akan mengampuni kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa mereka.” Yehezkiel 36:25 menyatakan, “Aku akan mencurahkan kepadamu air jernih, yang akan mentahirkan kamu; dari segala kenajisanmu dan dari semua berhala-berhalamu Aku akan mentahirkan kamu.” Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa Allah akan membasuh kita, menyucikan kita, dan mengampuni kita. Jadi, kita tidak perlu disusahkan oleh kegagalan, dosa, dan ketidaksucian kita.
Akan tetapi, hal yang penting mengenai penetapan perjanjian itu bukanlah diampuni atau disucikannya kita. Hal yang penting di sini ialah ditaruh-Nya kodrat (sifat) Allah ke dalam kita sebagai hukum hayat. Sebagaimana hukum dosa adalah sifat Iblis, demikian pula hukum hayat adalah sifat Allah. Dengan menaruh sifat-Nya ke dalam kita sebagai hukum hayat, Allah mengubah hati kita, melahirkan kembali roh kita, dan memberikan diri-Nya sendiri ke dalam kita sebagai Roh itu. Dengan demikian, sedikit demi sedikit kita digantikan dan disusun kembali, agar menjadi kesaksian yang hidup, yaitu gambaran yang hidup mengenai apa adanya Allah. Inilah cara untuk menjadi cerminan Allah.
Melalui ministri Paulus dalam Perjanjian Baru, kita melihat bahwa kehendak Allah ialah menyusun kembali kita dengan Kristus, dan dengan demikian membuat kita menjadi kesaksian-Nya. Petrus mengatakan bahwa kita adalah orang-orang yang mengambil bagian dalam kodrat (sifat) ilahi (2Ptr. 1:4) pernyataan ini adalah puncak ministri Petrus tetapi Petrus tidak menyatakan dengan jelas bahwa Kristus ada di dalam kita dan tergarap ke dalam kita. Paulus adalah satu-satunya orang yang memberikan penjelasan rinci mengenai bagaimana kita diakhiri oleh salib dan digantikan oleh Kristus, agar kita menjadi kesaksian Allah yang hidup. Semoga kita, kaum beriman, melihat wahyu ini, dan mengalami perubahan besar dalam kehidupan kristiani kita.