← Daftar isi Keluaran (5) · bab 16/16

DARAH PERJANJIAN (2)

Pembacaan Alkitab:

Kel. 24:3-7; Ibr. 9:18-20, 22, 12-15; 8:8-12; Im. 16:11-16;

Yeh. 36:26-27; Mat. 26:27-28; Ibr. 13:20-21; 10:19-20;

1Ptr. 1:18-19; Why. 22:14; 7:14-17

Dalam berita ini kita akan membahas sejumlah butir penting yang berhubungan dengan darah perjanjian.

I. DARAH MENUNJUKKAN BAHWA PIHAK YANG SATU BERDOSA,

SEDANGKAN PIHAK YANG LAIN MAU MENGAMPUNI

Keluaran 24:6 mengatakan bahwa “sebagian lagi dari darah itu disiramkannya pada mezbah itu.” Menurut Ibrani 9:19, Musa “memerciki kitab itu sendiri dan seluruh umat.” Mengapa Musa harus memerciki kitab itu? Memang kitab hukum itu bersih, tetapi ketika kitab itu dibawa turun kepada bangsa itu, kitab itu menjadi kotor. Sangat sedikit kita menyadari betapa kotor dan cemarnya kita, dan betapa menularnya sifat jahat yang ada di dalam diri kita. Apa saja yang kita sentuh, segera menjadi kotor. Inilah alasannya mengapa bahkan kitab hukum itu pun perlu diperciki darah.

Bangsa itu bertindak bodoh dengan berjanji bahwa mereka akan melakukan apa saja yang Tuhan kehendaki atas mereka. Tetapi Musa tidak bodoh. Ia tidak mengindahkan janji yang dibuat oleh orang-orang Israel itu. Sebaliknya, ia memercikkan darah itu pada orang-orang bodoh tersebut. Ia tahu bahwa mereka perlu disucikan oleh darah, dan ia memerciki mereka dengan darah itu. Pemercikan darah tersebut menunjukkan bahwa salah satu aspek dari peserta perjanjian itu adalah berdosa dan memerlukan pengampunan. Hal ini juga menunjukkan bahwa Allah mau mengampuni bangsa itu. Ibrani 8:12 mewahyukan kerelaan Allah untuk mengampuni umat-Nya: “Sebab Aku akan menaruh belas kasihan terhadap kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa-dosa mereka.”

II. TANPA PENUMPAHAN DARAH TIDAK ADA PENGAMPUNAN

Ibrani 9:22 mengatakan, “Tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan.” Dalam Keluaran 24, darah ditumpahkan karena diperlukan bagi pengampunan dosa bangsa itu. Fakta disebutkannya darah di sini menunjukkan bahwa orang-orang Israel memerlukan pengampunan, dan Allah siap mengampuni mereka. Jika Allah tidak bersedia mengampuni bangsa itu, maka Ia pasti telah mengesampingkan kurban-kurban tersebut dan menghukum mati mereka. Tetapi, darah telah ditumpahkan bagi keperluan pengampunan dosa.

III. DARAH BAGI PENGAMPUNAN DOSA,

MEMBAWA PIHAK YANG BERDOSA DARI PERJANJIAN TERSEBUT

KEPADA HAL-HAL YANG LEBIH BAIK

Darah bagi pengampunan dosa, membawa pihak yang berdosa dari perjanjian itu, yaitu orang-orang Israel, kepada hal-hal yang lebih baik. Kita mengetahui hal ini dari fakta bahwa setelah umat Allah gagal melaksanakan hukum Taurat, Ia datang mengadakan perjanjian yang lain dengan mereka.

A. HATI YANG BARU

Dalam perjanjian yang baru ini, Allah berjanji akan memberikan hati yang baru kepada umat-Nya. Yehezkiel 36:26 mengatakan, “Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat.” Allah memberikan hati yang baru kepada bangsa itu, berarti Ia akan mengubah sifat mereka. Di kaki Gunung Sinai, orang-orang Israel bertindak bodoh dengan berjanji bahwa mereka akan melakukan apa yang TUHAN perintahkan. Allah tidak menghendaki umat-Nya berbicara dalam cara yang demikian. Tujuan-Nya ialah mengubah hati mereka.

B. ROH YANG BARU

Dalam Yehezkiel 36:26, Allah juga berjanji akan memberikan roh yang baru kepada bangsa itu. Ini adalah untuk melahirkan dan menyusun kembali mereka.

C. ROH ALLAH

Dalam Yehezkiel 36:27, Tuhan berkata, “Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu.” Allah menaruh Roh-Nya dalam batin umat-Nya, berarti menaruh diri-Nya sendiri ke dalam mereka.

Banyak orang Kristen yang tidak memahami perbedaan antara hati yang baru, roh yang baru, dan Roh Allah. Bertahun-tahun yang lalu saya pernah mengunjungi suatu kota khusus untuk menyampaikan berita mengenai Yehezkiel 36:26 dan 27. Saya menekankan masalah hati yang baru, roh yang baru, dan Roh Allah. Seorang saudari dibingungkan oleh fakta bahwa saya membedakan hati dengan roh. Ia tidak memahami perbedaan itu. Menurut konsepsinya, hati sama dengan roh. Saya berusaha menjelaskan bahwa kita memiliki hati untuk mengasihi Tuhan, dan roh untuk berkontak dengan Dia dan menerima Dia. Dengan memegang sebuah Alkitab saya berkata kepadanya bahwa meskipun mungkin ia mengasihi Alkitab dengan hatinya, tetapi ia harus menggunakan tangannya untuk menerimanya. Akhirnya, ia memahami bahwa meskipun mungkin kita mengasihi Allah dengan hati kita, tetapi kita masih memerlukan organ lain, yaitu roh, untuk berkontak dengan Dia dan menerima Dia. Hati yang baru, roh yang baru, dan Roh Allah dapat menjadi milik kita karena darah Yesus telah ditumpahkan bagi pengampunan dosa.

D. HUKUM HAYAT YANG DI DALAM

Yeremia 31:33 mengatakan, “Tetapi beginilah perjanjian yang Kuadakan dengan kaum Israel sesudah waktu itu, demikianlah firman TUHAN: Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka; maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku.” Di sini Allah berjanji akan menaruh Taurat-Nya dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka. Perkataan ini dikutip dalam Ibrani 8:10. Hukum yang dituliskan dalam batin kita bukanlah hukum yang di luar, melainkan hukum hayat yang di dalam.

Allah akan memberikan kepada bangsa itu hati yang baru, roh yang baru, Roh-Nya, dan hukum hayat yang di dalam. Semua ini menunjukkan sifat Allah, hayat Allah, dan Allah sendiri. Sebagai kaum beriman, kita memiliki hati yang baru, roh yang baru, dan Allah sendiri sebagai Roh itu. Kita juga memiliki hukum hayat yang di dalam.

E. KEMAMPUAN HAYAT UNTUK MENGENAL ALLAH

Karena kita memiliki hati yang baru, roh yang baru, Roh Allah, dan hukum hayat yang di dalam, maka kita memiliki kemampuan untuk mengenal Allah. Yeremia 31:34 mengatakan, “Dan tidak usah lagi orang mengajar sesamanya atau mengajar saudaranya dengan mengatakan: Kenallah TUHAN! Sebab mereka semua, besar kecil, akan mengenal Aku, demikianlah firman TUHAN.” Ayat ini dikutip dalam Ibrani 8:11. Karena kita memiliki kemampuan hayat yang di dalam untuk mengenal Allah, maka kita tidak memerlukan siapa pun untuk mengajar kita. Allah sendiri telah datang kepada kita sebagai Roh itu untuk memberikan hayat dan sifat-Nya kepada kita. Hayat dan sifat Allah telah menjadi hukum hayat yang di dalam, yaitu unsur organik yang secara spontan mengatur kita. Hati yang baru, roh yang baru, Roh Allah, hukum hayat yang di dalam, kemampuan hayat untuk mengenal Allah kepada hal-hal yang lebih baik inilah kita dibawa oleh darah pengampunan dosa.

Janji-janji dalam Yehezkiel 36:26-27 dan Yeremia 31:33-34, belum terpenuhi pada orang-orang Israel. Janji-janji ini akan dipenuhi di dalam mereka hanya setelah kedatangan Tuhan Yesus kembali. Orang-orang Israel masih terlibat dalam agama Yahudi, dan mereka belum menerima hati yang baru, roh yang baru, Roh Allah, dan hukum hayat yang di dalam. Mereka tidak memiliki kemampuan hayat untuk mengenal Allah. Tetapi pada suatu hari, pada saat yang telah dinubuatkan dalam Zakharia 12, mereka akan bertobat. Kemudian janji itu akan terpenuhi, karena Allah akan melahirkan kembali mereka, menaruh hati dan roh yang baru ke dalam mereka, menempatkan Roh-Nya di dalam mereka, juga memberikan hukum hayat kepada mereka. Haleluya, sebagai kaum beriman Perjanjian Baru, kita telah menerima hal-hal yang lebih baik ini!

IV. DARAH PENEBUSAN MENUNTUN UMAT TEBUSAN

KE DALAM TEMPAT MAHA KUDUS

Pada zaman Perjanjian Lama, Imam Besar dapat memasuki tempat maha kudus melalui darah penebusan yang dicurahkan pada mezbah. Harunlah orang pertama yang masuk ke dalam tempat maha kudus secara demikian, dan menyaksikan kemuliaan Allah serta berada di bawah transfusi Allah.

Imamat 16:11-16 adalah bagian penting yang menunjukkan bahwa darah yang dicurahkan pada mezbah, memungkinkan Imam Besar masuk ke dalam tempat maha kudus. Ayat 14 mengatakan, “Lalu ia harus mengambil sedikit dari darah lembu jantan itu dan memercikkannya dengan jarinya ke atas tutup pendamaian di bagian muka, dan ke depan tutup pendamaian itu ia harus memercikkan sedikit dari darah itu dengan jarinya tujuh kali.” Mula-mula kurban disembelih di atas mezbah. Kemudian darahnya dibawa ke tempat maha kudus oleh Imam Besar. Ayat 15 melanjutkan, “Lalu ia harus menyembelih domba jantan yang akan menjadi kurban penghapus dosa bagi bangsa itu dan membawa darahnya masuk ke belakang tabir, kemu-dian haruslah diperbuatnya dengan darah itu seperti yang diperbuatnya dengan darah lembu jantan, yakni ia harus memercikkannya ke atas tutup pendamaian dan ke depan tutup pendamaian itu.” Semua ini memungkinkan Imam Besar tinggal di dalam hadirat Allah dan menerima infus kemuliaan-Nya. Inilah kenikmatan atas Allah, berdasarkan darah yang ditumpahkan di atas mezbah dan yang dibawa ke dalam tempat maha kudus.

Darah tidak hanya menebus umat Allah, tetapi juga membawa mereka ke dalam kenikmatan atas Allah. Dalam Mazmur 27:4, Daud membicarakan kenikmatan ini: “Satu hal yang kuminta kepada TUHAN, itulah yang kuingini: diam di rumah TUHAN seumur hidupku, menyaksikan kemurahan (memandang keindahan) TUHAN dan menikmati bait-Nya.” Bagaimana mungkin kita dapat masuk ke dalam rumah Allah dan memandang keindahan wajah Tuhan? Hanya melalui darah penebusan dan penyucian. Hanya berdasarkan darahlah kita dapat memandang keindahan Tuhan dalam bait-Nya. Darah penebusan benar-benar membawa orang-orang yang berdosa dan bobrok ke dalam kenikmatan atas Allah.

V. DARAH PERJANJIAN BARU KRISTUS

Darah kurban dalam Perjanjian Lama melambangkan darah Kristus. Darah Kristus adalah darah perjanjian yang baru (Mat. 26:28). Darah ini telah melakukan banyak perkara ajaib bagi kita.

A. MENEBUS KAUM BERIMAN

Darah Kristus telah menebus kita. Satu Petrus 1:18-19 mengatakan bahwa kita telah ditebus dengan darah Kristus yang mahal.

B. MEMBAWA KAUM BERIMAN KEPADA POHON HAYAT

Setelah manusia jatuh, jalan menuju pohon hayat telah ditutup. Kejadian 3:24 mengatakan bahwa Allah menempatkan “beberapa kerub dengan pedang yang bernyala-nyala dan menyambar-nyambar, untuk menjaga jalan ke pohon kehidupan.” Haleluya, darah Kristus membawa kita kembali kepada pohon hayat! Wahyu 22:14 mengatakan, “Berbahagialah mereka yang membasuh jubahnya. Mereka akan memperoleh hak atas pohon kehidupan dan masuk melalui pintu-pintu gerbang ke dalam kota itu” (Tl.). Ini menunjukkan kenikmatan atas Kristus di dalam kekekalan. Namun, kita bahkan dapat berbagian dalam kenikmatan itu hari ini. Melalui darah Kristus, kita dapat menikmati pohon hayat, yaitu Allah sendiri sebagai hayat kita.

C. MENUNTUN KAUM BERIMAN KEPADA AIR HAYAT

Darah Kristus juga menuntun kaum beriman kepada air hayat. Dalam Yohanes 7:37, Tuhan Yesus berkata bahwa siapa yang haus, boleh datang kepada-Nya dan minum. Akhirnya, dari dalam batin kita akan mengalir aliran air hidup. Kita semua mengalami minum air hayat ini melalui Kristus. Hari demi hari, oleh karena darah-Nya, kita dapat makan dari pohon hayat dan minum air hayat. Menurut Wahyu 7:14, mereka yang telah “mencuci jubah mereka dan membuatnya putih di dalam darah Anak Domba”, akan dituntun oleh Anak Domba ke “mata air kehidupan” (ayat 17). Ini menunjukkan bahwa di dalam kekekalan, kita akan menikmati air hayat melalui darah Kristus.

D. MEMBAWA KAUM BERIMAN KE DALAM TEMPAT MAHA KUDUS

Ibrani 10:19-20 mengatakan, “Jadi, Saudara-saudara, kita sekarang dengan penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat maha kudus, oleh darah Yesus, karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tirai, yaitu diri-Nya sendiri”. Perkataan ini merupakan penggenapan dari Imamat 16:11-16. Dalam Imamat 16 kita memiliki lambang, sedangkan dalam Ibrani 10 kita memiliki realitas, yaitu penggenapan lambang tersebut. Pada Ibrani 10:19-20 kita melihat bahwa darah Yesus telah membuka jalan bagi kita untuk masuk ke dalam tempat maha kudus. Karena Tuhan telah membuka jalan dan membawa kita masuk, maka kita dapat menikmati Allah di dalam tempat maha kudus dan setiap hari diinfus oleh Dia.

E. MEMUNGKINKAN KAUM BERIMAN BERIBADAH KEPADA ALLAH YANG HIDUP

Ibrani 9:14 mengatakan, “Terlebih lagi darah Kristus, yang melalui Roh yang kekal telah mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tidak bercacat, akan menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup.” Darah Kristus memungkinkan kita beribadah kepada Allah yang hidup. Bagaimana kita dapat beribadah kepada Allah jika kita masih tetap dalam keadaan mati? Orang yang mati tidak dapat beribadah kepada Allah. Puji Tuhan, melalui darah penebusan kita memiliki hayat dan dibawa ke dalam hadirat-Nya untuk melayani Dia!

F. MEMBAWA KAUM BERIMAN KE DALAM BAIT ALLAH

UNTUK MENIKMATI ALLAH SELAMA-LAMANYA

Terakhir, darah Kristus membawa kita masuk ke dalam bait Allah, di mana kita akan selama-lamanya menikmati Dia. Orang-orang yang dibawa ke dalam Bait Allah melalui darah penyucian Kristus digambarkan dalam Wahyu 7:15-16: “Karena itu, mereka berdiri di hadapan takhta Allah dan melayani Dia siang malam di Bait Suci-Nya. Ia yang duduk di atas takhta itu akan membentangkan kemah-Nya di atas mereka. Mereka tidak akan menderita lapar dan dahaga lagi, dan matahari atau panas terik tidak akan menimpa mereka lagi.” Inilah kenikmatan yang kekal atas Allah di dalam Bait-Nya oleh karena darah Kristus, yaitu darah perjanjian yang baru. Darah yang mahal ini membawa kita ke dalam kenikmatan atas Allah sendiri sebagai hayat dan suplai hayat kita selama-lamanya.

Saya dapat bersaksi bahwa saya sangat menghargai darah perjanjian. Alangkah besarnya rahmat yang kita terima melalui darah ini! Kita memiliki Allah sendiri, hayat ilahi, sifat ilahi, hukum hayat yang di dalam, dan kemampuan hayat untuk mengenal Allah. Darah perjanjian membawa kita ke dalam hadirat Allah, ke dalam infusi Allah, dan ke dalam kenikmatan yang kekal atas Allah. Apa yang kita alami hari ini adalah pencicipan akan kenikmatan penuh yang akan datang.

Sayang sekali banyak orang Kristen yang hanya sedikit atau sama sekali tidak memberikan perhatian kepada darah perjanjian! Pada prinsipnya, orang-orang Kristen sama seperti orang-orang Israel di kaki Gunung Sinai: Mereka berjanji akan mematuhi Allah dan berusaha memelihara hukum-Nya. Mereka benar-benar tidak tahu mengenai ekonomi Allah dan darah perjanjian! Darah Kristus bukan hanya darah penyucian, yaitu darah yang membersihkan kita dari dosa-dosa kita. Darah Kristus juga adalah darah perjanjian yang membawa kita ke dalam Allah, ke dalam hayat dan sifat ilahi, ke dalam hukum hayat yang di dalam dan kemampuan hayat untuk mengenal Allah, serta ke dalam infusi, transfusi, dan kenikmatan atas Allah, mulai sekarang sampai selama-lamanya. Inilah fungsi darah perjanjian.

Ibrani 13:20 mengatakan, “Kiranya Allah damai sejahtera, yang dengan darah perjanjian yang kekal telah membawa kembali dari antara orang mati Gembala Agung segala domba, yaitu Yesus, Tuhan kita.” Ayat ini menunjukkan bahwa melalui darah perjanjian yang kekal, Allah membangkitkan Kristus dari antara orang mati. Semua yang Allah tentukan telah dijanjikan untuk menjadi bagian kita. Bagian ini sebenarnya adalah Allah sendiri dengan sifat, hayat, atribut, dan kebajikan-Nya.

Sukar sekali bagi pikiran alamiah kita untuk memahami bahwa melalui darah perjanjian, Allah menjadi bagian kita. Tidak terlalu sukar bagi pikiran manusia untuk memahami bahwa Tuhan telah mencurahkan darah-Nya bagi dosa-dosa kita. Sebagian besar dari kita memiliki pengertian yang sedemikian ini. Kita tahu bahwa kita adalah orang-orang yang berdosa, memerlukan sesuatu untuk membasuh dosa-dosa kita. Tetapi, bisa memikirkan bahwa darah telah membukakan jalan bagi kita untuk masuk ke dalam Allah, adalah jauh di luar pengertian kita.

Ketika saya masih sebagai seorang Kristen yang muda, saya pernah membaca artikel-artikel mengenai darah Kristus yang mahal. Artikel-artikel itu menunjukkan bahwa darah menebus kita, menyucikan kita, dan menanggulangi musuh. Artikel-artikel tertentu bahkan menyatakan, meskipun dalam cara yang dangkal, bahwa perjanjian yang baru disahkan oleh darah. Tetapi saya tidak pernah membaca sebuah artikel atau mendengar sebuah berita yang mengatakan bahwa darah Kristus membawa kita ke dalam Allah untuk menikmati-Nya sebagai bagian kita.

Banyak misionaris di China yang telah melakukan pekerjaan yang baik dalam membantu orang-orang China berpaling dari konsepsi etis mengenai berkelakuan baik kepada kesadaran bahwa dosa-dosa mereka perlu dibasuh oleh darah Kristus. Dalam tulisan klasiknya, beberapa kali Konghucu menyebut Allah, membicarakan Dia tidak dengan istilah-istilah Alkitabiah, melainkan dengan sebutan raja surgawi atau surga. Hal ini sama dengan perkataan dalam Lukas 15 mengenai anak yang berfoya-foya dan berdosa terhadap surga. Konghucu mengatakan bahwa jika kita melukai perasaan raja surgawi, atau surga, kita tidak akan diampuni. Menurut konsepsinya, sebagai pengganti dari memohon ampun, kita harus berusaha mengubah dan memperbaiki diri kita sendiri. Inilah pemikiran mendasar yang filosofis dan etis yang terdapat di antara murid-murid Konghucu: Melupakan hal-hal yang lampau dan berusaha sebaik mungkin untuk memperbaiki diri. Para misionaris juga menyetujui bahwa melupakan hal-hal yang lampau dan berusaha untuk memperbaiki diri adalah perkara yang baik, tetapi para misionaris tersebut melangkah lebih maju dan membuat banyak orang China paham bahwa mereka masih perlu membereskan kesalahan-kesalahan yang lampau, masih perlu diampuni. Mereka menunjukkan bahwa meskipun kita dapat memperbaiki diri, tetapi kita masih perlu membereskan masa lampau kita. Lagi pula, hanya Tuhan Yesuslah yang dapat melakukan hal ini. Boleh jadi Konghucu mengajarkan kepada kita agar kita memperbaiki diri, tetapi ia tidak dapat membereskan problem masa lampau kita. Untuk hal itu diperlukan darah penyucian Yesus.

Dalam 1Korintus 2:9, Paulus mengatakan bahwa bagi mereka yang mengasihi Allah, Dia menyediakan apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia. Siapakah yang pernah membayangkan bahwa orang berdosa dapat masuk ke dalam Allah dan mewarisi Dia? Kenikmatan ini adalah menurut hikmat Allah.

Ketika perjanjian ditetapkan dalam Keluaran 24, darah digunakan untuk dipercikkan pada bangsa itu. Ini menunjukkan bahwa bangsa itu harus melupakan konsepsi mereka mengenai berusaha melaksanakan hukum Taurat, dan mengetahui bahwa tujuan Allah ialah membuat mereka menjadi tiang, dengan jalan membawa mereka ke dalam diri-Nya sendiri serta menempatkan diri-Nya sendiri ke dalam mereka. Menurut Yeremia 31, Allah bahkan akan memberikan hukum-Nya yang menunjukkan hayat dan sifat-Nya ke dalam umat-Nya.

Setiap macam hayat berfungsi menurut hukum alamnya. Sebagai contoh, pohon apel menghasilkan buah apel; tidak pernah menghasilkan pisang. Tidak ada gunanya kita menitahkan sebuah hukum kepada pohon apel dengan berkata, “Kamu harus ingat bahwa sebagai pohon apel, kamu tidak boleh menghasilkan pisang. Kamu harus menghasilkan apel.” Pohon apel memiliki hayat dan sifatnya. Asalkan pohon itu bertumbuh dengan normal, dengan sendirinya pohon itu akan menghasilkan buah apel, karena pohon itu telah diatur oleh hukum yang sesuai dengan hayat dan sifatnya.

Dengan berjanji akan mengadakan perjanjian yang baru dengan umat-Nya dan menuliskan hukum-Nya dalam hati mereka, seolah-olah Allah berkata, “Aku telah memberikan kepadamu hukum yang di luar untuk menunjukkan apa dan siapa Aku. Tetapi, kamu tidak memahami maksud-Ku. Kamu mengira bahwa Aku memberikan hukum itu untuk kamu laksanakan. Namun kamu tidak akan dapat melaksanakan hukum-Ku jika Aku tidak masuk ke dalammu dan menjadi hayat serta sifatmu. Dengan demikian, secara spontan kamu akan memiliki kehidupan yang sesuai dengan hukum-Ku.” Sebagaimana pohon apel secara otomatis menghasilkan buah apel sesuai dengan hukum hayat dan hukum alam dari pohon apel, demikian pula secara otomatis kita menggenapi tuntutan hukum Allah melalui hayat dan sifat-Nya yang diberikan kepada kita. Itulah sebabnya dalam Roma 8:4, Paulus berkata bahwa tuntutan hukum Taurat digenapi bukan oleh orang-orang yang memelihara hukum Taurat, melainkan di dalam orang-orang yang hidup menurut roh. Roh ini bukan berada di dalam surga; roh ini adalah roh perbauran, yaitu Roh ilahi yang berbaur dengan roh insani yang telah dilahirkan kembali. Sekarang roh ini menjadi hayat kita yang di dalam.

Menurut Yeremia 31 dan Yehezkiel 36, Allah berjanji akan memberikan hukum-Nya ke dalam kita untuk mengubah hati kita, melahirkan kembali roh kita, dan menaruh Roh-Nya di dalam kita. Alhasil, kita memiliki hukum yang di dalam, yang sebenarnya adalah Allah sendiri, di dalam kita tidak hanya menghasilkan apa yang Allah minta, tetapi juga apakah Allah itu. Inilah alasannya mengapa Tuhan Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Karena itu, haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga sempurna” (Mat. 5:48). Bila hayat ilahi di dalam kita bertumbuh kepada kesempurnaan, kita akan menjadi sempurna seperti Bapa kita yang adalah sempurna. Perhatikanlah, di sini Tuhan tidak memerintah kita untuk melaksanakan semua tuntutan tersebut, melainkan Ia memberi tahu kita untuk menjadi sempurna seperti Bapa yang adalah sempurna.

Darah perjanjian terutama bukan untuk pengampunan, tetapi agar Allah menjadi bagian kita. Allah telah menakdirkan dan menentukan kita untuk menikmati-Nya. Kenikmatan ini juga telah dijanjikan kepada kita. Dengan apa menetapkan perjanjian ini? Perjanjian ini ditetapkan melalui darah Kristus Yesus, darah yang membawa kita ke dalam semua berkat ilahi. Menurut Matius 26:28, Tuhan Yesus mengambil cawan dan berkata, “Inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa-dosa.” Menurut Lukas 22:20, Tuhan Yesus berkata, “Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darah-Ku.” Dalam 1Korintus 10:16, Paulus mengatakan cawan ini adalah “Cawan pengucapan syukur”. Cawan pengucapan syukur ini adalah perjanjian yang ditetapkan oleh darah. Darah perjanjian baru adalah darah yang menetapkan perjanjian berkat. Perjanjian ini adalah cawan ini dan juga adalah berkat bagian kita. Bagian ini ialah Allah sendiri untuk kenikmatan kita. Konsepsi mengenai darah semacam ini jauh melampaui pemahaman alamiah kita. Ya, darah telah menyucikan kita dari dosa-dosa kita. Tetapi yang lebih penting lagi ialah darah membawa kita ke dalam Allah yang menjadi bagian kita untuk kita nikmati.

Darah dibicarakan dalam Keluaran 12, Keluaran 24, dan Imamat 16. Dalam pasal-pasal ini kita memiliki darah anak domba Paskah untuk penebusan, darah kurban untuk penetapan hukum Taurat, dan darah perjanjian yang membawa manusia masuk ke dalam tempat maha kudus, berkontak dengan Allah, dan bersatu dengan Dia. Dalam Perjanjian Baru, kita melihat Tuhan Yesus menumpahkan darah-Nya di atas salib. Hal ini dilambangkan oleh darah anak domba Paskah dalam Keluaran 12. Dengan darah yang ditumpahkan di atas salib itulah Tuhan menetapkan perjanjian yang baru. Hal ini dilambangkan oleh darah dalam Keluaran 24. Akhirnya, darah Kristus membawa kita ke dalam kepenuhan Allah sebagai kenikmatan kita yang kekal. Aspek mengenai darah ini, yaitu darah perjanjian yang kekal, dilambangkan oleh darah dalam Imamat 16.

Darah membawa kita ke dalam tempat maha kudus, yaitu Allah. Ketika Imam Besar masuk ke dalam tempat maha kudus, tujuannya bukanlah hendak melaksanakan hukum Taurat. Sebaliknya, melalui darah yang dipercikkan dalam tempat maha kudus, ia dapat menikmati Allah, memandang keindahan-Nya, dan menerima infus-Nya. Menikmati Allah secara demikian ini akan menghasilkan manusia milik Allah.

Dalam Wahyu 7 dikatakan bahwa siapa yang telah “mencuci jubah mereka dan membuatnya putih di dalam darah Anak Domba” akan berdiri di hadapan takhta Allah, berada dalam bait Allah, dan dibawa kepada mata air kehidupan. Selanjutnya Wahyu 22:14 mengatakan, “Berbahagialah mereka yang membasuh jubahnya. Mereka akan memperoleh hak atas pohon-pohon kehidupan dan masuk melalui pintu-pintu gerbang ke dalam kota itu.” Di sini kita melihat bahwa melalui pencucian darah, kita memiliki hak atas pohon hayat dan masuk ke dalam kota itu, yaitu Yerusalem Baru. Pohon hayat dan kota itu merupakan dua aspek Allah yang ultima (akhir) sebagai bagian kita. Jika kita memperhatikan keseluruhan Alkitab, kita akan melihat bahwa darah perjanjian itu membawa kita ke dalam kenikmatan yang penuh atas Allah sebagai bagian kita, baik sekarang maupun untuk selama-lamanya.

?