KEHIDUPAN MANUSIA ALLAH PERTAMA DARI PALUNGAN KE SALIB (4)
Pembacaan Alkitab:
Flp. 2:8; Mat. 11:28-29; 12:16, 19-20; 9:36; 11:5;
Luk. 4:18-22; Yoh. 11:35; Luk. 9:58, 53-56; Yes. 53:3, 7;
1 Ptr. 4:1; 2:21-23; Luk. 23:34a, 42-43; Ibr. 2:18; 4:15;
Yoh. 5:19, 30; 8:28; 14:10; 6:38; Mat. 26:39, 42; Yoh. 7:6, 8; 1 Tim. 3:16a
GARIS BESAR
IV. Dalam ministri-Nya:
C. Kehidupan-Nya untuk ministri-Nya:
1. Berdasarkan makna pembaptisan air:
a. Menyadari bahwa seorang manusia dalam daging tidak baik untuk apa pun kecuali untuk mati dan dikubur.
b. Menyangkal diri-Nya (ego-Nya) dan manusia alamiah-Nya.
c. Meletakkan diri-Nya di atas salib dan hidup di bawah bayang-bayang salib sepanjang waktu.
d. Menempuh hidup yang rendah dengan merendahkan diri-Nya -- Flp. 2:8.
e. Memikul kuk Allah, lemah-lembut dan rendah hati -- Mat. 11:28-29.
f. Melarang orang-orang untuk memberitahukan siapa Dia -- Mat. 12:16.
g. Tidak berbantah dan tidak berteriak dan orang tidak mendengar suara-Nya di jalan-jalan; buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya sampai Ia menjadikan hukum itu menang -- Mat. 12:19-20.
h. Memperhatikan kawanan domba Allah -- Mat. 9:36:
1) Melakukan mujizat-mujizat untuk orang-orang yang memerlukannya: "Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta sembuh, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik" -- Mat. 11:5.
2) Memberitakan Injil kepada orang-orang miskin dengan perkataan-perkataan anugerah yang keluar dari mulut-Nya -- Luk. 4:18-22.
3) Bersimpati terhadap murid-murid yang menderita dan bodoh (lamban), bahkan sampai menangis -- Yoh. 11:35.
i. Tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala-Nya, meskipun serigala mempunyai liangnya dan burung mempunyai sarangnya -- Luk. 9:58.
j. Mengoreksi murid-murid-Nya untuk memiliki roh yang tepat terhadap orang-orang yang menolak -- Luk. 9:53-56.
k. Menderita aniaya tanpa membalas, memberi kita satu model sehingga kita dapat mengikuti langkah-langkah-Nya -- Yes. 53:3, 7; 1 Ptr. 4:1; 2:21-23.
l. Dalam ketersaliban-Nya, Ia berdoa untuk orang-orang yang menyalibkan-Nya, supaya Bapa mengampuni dosa-dosa yang disebabkan oleh ketidaktahuan mereka -- Luk. 23:34a.
m. Bahkan dalam penderitaan dan kematian-Nya, Ia menyalurkan keselamatan-Nya kepada salah satu penjahat yang disalibkan bersama-sama Dia -- Luk. 23:42-43.
n. Dicobai tetapi tidak berbuat dosa -- Ibr. 2:18; 4:15; 1 Ptr. 2:22.
o. Tidak melakukan apa pun dari diri-Nya sendiri -- Yoh. 5:19, 30a; 8:28.
p. Tidak berkata-kata dari diri-Nya sendiri -- Yoh. 14:10a.
q. Tidak mencari kehendak-Nya sendiri tetapi kehendak Allah -- Yoh. 5:30b; 6:38; Mat. 26:39, 42:
"Ya, Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari hadapan-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melain-kan seperti yang Engkau kehendaki." "Ya Bapa-Ku, jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu."
r. Taat kepada Allah sampai mati, bahkan mati di atas salib -- Flp. 2:8.
2. Tidak memiliki kebebasan untuk hidup menurut diri-Nya sendiri:
a. Ia berkata kepada saudara-saudara-Nya, "Waktu-Ku belum tiba, tetapi bagi kamu selalu ada waktu" -- Yoh. 7:6.
b. "Pergilah kamu ke pesta itu. Aku belum pergi ke situ, karena waktu-Ku belum genap." -- ayat8.
3. Bekerja sama dengan Bapa yang berhuni dan bekerja di dalam Dia untuk perampungan ekonomi-Nya -- Yoh. 14:10b.
4. Menyatakan Allah untuk mengekspresikan atribut Allah dalam kebajikan insani-Nya -- 1 Tim. 3:16a.
C. Kehidupan-Nya untuk ministri-Nya:
Sejauh ini, kita telah melihat kehidupan manusia Allah pertama dalam masa kecil-Nya, dalam masa muda-Nya, dan dalam masa tanpa publikasi antara usia dua belas sampai usia tiga puluh. Kita juga telah melihat kehidupan-Nya pada awal ministri-Nya dan pencobaan-pencobaan-Nya. Dalam berita ini, kita akan melihat kehidupan manusia Allah pertama untuk ministri-Nya. Kita perlu mempertimbangkan kehidupan kita untuk ministri kita. Hari ini, banyak orang hidup di bumi tanpa tujuan. Saya datang ke Amerika Serikat untuk menempuh hidup bagi ministri saya. Jika bukan untuk ministri itu, saya tidak akan datang ke negara ini. Kita hidup untuk ministri Tuhan.
1. Berdasarkan Makna Pembaptisan Air
a. Menyadari bahwa Seorang Manusia Dalam Daging
Tidak Baik untuk Apa pun Kecuali untuk Mati dan Dikubur
Ketika Ia memulai ministri-Nya, sebelum melakukan apa pun, Ia datang kepada Yohanes untuk dibaptis. Baptisan air menandakan bahwa dalam pandangan Allah, seorang manusia di dalam daging tidak baik untuk apa pun kecuali untuk mati dan dikubur. Kehidupan Kristus untuk ministri-Nya berdasar pada makna baptisan air. Kita perlu memiliki dasar yang sama dalam kehidupan kita.
b. Menyangkal Diri-Nya (Ego-Nya) dan
Manusia Alamiah-Nya
Berdasar pada makna ini, Kristus menyangkal diri-Nya dan manusia alamiah-Nya. Kita tidak boleh melupakan apa makna baptisan air bagi kita. Itu berarti kita telah dikubur. Kita tidak boleh berurusan dengan pasangan kita seperti cara yang kita lakukan dahulu. Berdasar pada diri kita yang telah dikubur, kita seharusnya menyangkal diri kita dan manusia alamiah kita. Kita tidak boleh melakukan apa pun dengan hayat alamiah kita, karena kita telah dikubur.
c. Meletakkan Diri-Nya di atas Salib
Tuhan meletakkan diri-Nya di atas salib dan hidup di bawah bayang-bayang salib sepanjang waktu. Ia berkata, "Jika seseorang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku" (Mat. 16:24). Kita para pengikut Kristus harus menerapkan salib ke atas diri sendiri sepanjang waktu. Kita seharusnya terus-menerus hidup di bawah bayang-bayang salib. Sepanjang hidup kristiani saya, saya telah belajar pelajaran-pelajaran meletakkan diri di atas salib dan hidup di bawah bayang-bayang salib. Sejak dini ketika saya mengikuti Tuhan, saya diajar untuk mengikuti-Nya dengan memikul salib. Entah manusia alamiah kita itu baik atau buruk, kita harus menolak dan menyangkal manusia alamiah kita, bahkan jika manusia alamiah kita itu baik sekali pun. Kita tidak seharusnya berpikir bahwa kita harus hidup dengan hayat alamiah kita karena hayat alamiah kita itu lembut, halus, dan baik bagi orang-orang. Kita harus ingat bahwa hayat yang lembut dan halus itu telah dikubur ketika kita dibaptis. Hari ini, hayat kita adalah Kristus sebagai Roh itu, hayat ilahi.
d. Menempuh Hidup yang Rendah
Kristus juga menempuh hidup yang rendah dengan merendahkan diri-Nya (Flp. 2:8). Ini menunjukkan bahwa kita tidak seharusnya bangga terhadap apa pun. Kita tidak memiliki apa-apa yang patut dibanggakan. Paulus diberi duri dalam dagingnya karena Allah kuatir kalau ia bangga akan wahyu-wahyu yang telah ia lihat. Allah mengijinkan duri diletakkan di atas dirinya untuk menaklukkan kesombongannya.
e. Memikul Kuk Allah
Dalam ministri-Nya di bumi, Tuhan juga memikul kuk Allah, lemah-lembut dan rendah hati (Mat. 11:28-29). Demi ministri kita, kita harus menempuh kehidupan yang memikul kuk seperti itu. Seekor binatang yang memikul kuk pasti berjerih lelah menggarap tanah di bawah pimpinan majikannya. Jika kita memikul kuk Allah, kita tidak memiliki kebebasan, tidak ada pilihan, tidak ada kesukaan.
f. Melarang orang-orang untuk memberitahukan siapa Dia
Matius 12:16 mengatakan bahwa Tuhan melarang orang-orang untuk memberitahukan siapa Dia. Ini berarti bahwa Ia tidak ingin menjadi terkenal. Semua sekerja menghadapi pencobaan semacam itu. Beberapa suka menjadi terkenal, dikenal oleh siapa saja, tetapi Tuhan Yesus berkebalikan. Menjadi terkenal adalah pencobaan. Jika kita ingin menjadi terkenal, kita habis. Beberapa pekerja Kristus tidak berani mengatakan sesuatu yang buruk mengenai orang-orang, karena mereka ingin menjadi terkenal. Mereka tidak akan mengatakan perkataan tertentu karena takut lain kali tidak diundang lagi. Pada tahun 1964, saya diundang untuk berbicara kepada satu kelompok orang beriman di Dallas. Saya disambut oleh mereka karena saya melayankan (ministered) Kristus kepada mereka. Pada akhirnya, saat terakhir saya bersama mereka, saya membicarakan gereja yang adalah Tubuh Kristus. Saya ditolak karena hal ini. Kita harus setia membicarakan kebenaran-kebenaran dari wahyu ilahi. Seorang mantan sekerja tidak berani mengatakan bahwa Kristus sebagai Adam yang akhir menjadi Roh pemberi hayat, karena ia mengatakan bahwa hal ini akan menyinggung perasaan orang lain. Hal ini berlawanan dengan kehidupan manusia Allah pertama. Ia tidak ingin diterima oleh setiap orang untuk membuat nama-Nya sendiri tenar.
g. Tidak Berbantah dan Tidak Berteriak
dan Orang Tidak Mendengar Suara-Nya di Jalan-jalan
Matius 12:19 dan 20 mengatakan, "Ia tidak akan berbantah dan tidak akan berteriak dan orang tidak akan mendengar suara-Nya di jalan-jalan. Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya sampai Ia menjadikan hukum itu menang." Di zaman dulu, orang Yahudi membuat seruling dari buluh. Ketika buluh itu terkulai, mereka mematahkannya. Mereka juga membuat obor dari sumbu yang menyala karena minyak. Ketika minyak habis, sumbu itu menjadi pudar nyalanya (berasap) dan mereka memadamkannya. Ada umat Tuhan yang seperti buluh terkulai, yang tidak dapat mengeluarkan suara musik; sedangkan yang lain seperti sumbu yang pudar nyalanya (berasap), yang tidak dapat menghasilkan sinar yang terang. Namun Tuhan tidak akan mematahkan yang terkulai atau memadamkan yang pudar nyalanya. Beberapa dari orang-orang yang adalah buluh yang terkulai dan sumbu yang pudar nyalanya akan digunakan oleh Kristus untuk membuat hukum itu menang. Jika kita mengira bahwa tidak ada seorang pun yang berguna kecuali kita, kita tidak dapat melaksanakan pekerjaan Tuhan. Ketika kita memilih para sekerja, kita mungkin hanya mempertimbangkan penampilan luaran mereka, tetapi mereka mungkin tidak begitu setia. Tuhan akan memilih beberapa buluh yang terkulai dan sumbu yang pudar nyalanya. Kemudian, Ia akan menyempurnakan mereka sehingga mereka dapat berguna di tangan-Nya untuk membuat hukum itu menang. Kita harus menggunakan apa yang telah Tuhan berikan kepada kita. Jika Ia memberi kita yang baik, kita harus menggunakan yang baik. Jika Ia memberi kita yang buruk, kita harus menggunakan yang buruk.
h. Memperhatikan Kawanan Domba Allah
Melihat orang banyak itu, "tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak mempunyai gembala" (Mat. 9:36). Ia melakukan mujizat-mujizat untuk merawat orang-orang yang memerlukannya: "Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta sembuh, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik" (11:5). Inilah belas kasih yang diberikan oleh Tuhan sebagai Gembala mereka untuk merawat mereka. Sebagai ministerTuhan, kita harus belajar bagaimana memperhatikan orang-orang yang memerlukannya. Tuhan juga memberitakan Injil kepada orang-orang miskin dengan perkataan-perkataan anugerah yang keluar dari mulut-Nya (Luk. 4:18-22). Kadang-kadang, kita mengucapkan perkataan-perkataan yang menghardik dan menghakimi dan bukannya perkataan-perkataan anugerah. Kita harus belajar menjadi satu dengan Tuhan untuk mengucapkan perkataan-perkataan anugerah. Tuhan juga bersimpati terhadap murid-murid yang menderita dan bodoh (lamban), bahkan sampai menangis (Yoh. 11:35). Marta dan Maria kehilangan saudara mereka Lazarus, tetapi mereka masih tetap bebal dan hal itu membuat Tuhan menangis. Istilah menangis di sini berarti "menangis tanpa suara". Tuhan memberi tahu mereka bahwa Lazarus akan dibangkitkan, tetapi Ia kecewa dengan opini-opini manusia. Marta menunda hari kebangkitan itu hingga ak-hir zaman (ayat 24). Itulah sebabnya, Tuhan menangis. Hari ini, banyak orang Kristen yang menderita, tanpa mengetahui mengapa dan apa yang harus mereka lakukan dalam penderitaan itu. Tuhan bersimpati terhadap situasi ini.
i. Tidak Memiliki Tempat untuk Meletakkan Kepala-Nya
Tuhan tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala-Nya, meskipun serigala mempunyai liangnya dan burung mempunyai sarangnya (Luk. 9:58). Kita harus belajar menderita kemiskinan seperti ini.
j. Mengoreksi Murid-murid-Nya untuk Memiliki Roh yang Tepat
Tuhan mengoreksi murid-murid-Nya untuk memiliki roh yang tepat terhadap orang-orang yang menolak. Tuhan dan murid-murid-Nya melewati suatu desa yang tidak mau menerima mereka. Kedua anak guntur, Yakobus dan Yohanes bertanya, "Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?" Kemudian Tuhan berkata, "Engkau tidak tahu roh macam apakah engkau ini (Tl.)" (Luk. 9:53-56). Hal ini menunjukkan bahwa Tuhan selalu memperlakukan orang-orang dengan roh yang tepat. Saya sangat menyesal karena kadang-kadang saya memperlakukan orang-orang dengan roh yang salah. Kita harus belajar pelajaran untuk mengoreksi roh kita saat kita memperlakukan orang lain. Jika bereaksi dengan roh yang salah terhadap orang-orang yang tidak menerima kita, kita tidak bersyarat untuk melayani orang-orang. Kita tidak dapat melayankan (minister) firman Tuhan kepada orang-orang jika kita mempunyai roh yang salah.
Menurut Perjanjian Baru, gereja hanya mempunyai satu tumpuan lokal; hanya ada satu gereja untuk satu kota. Dengan mempraktekkan hal ini, kita menghapus semua kedudukan denominasi. Karena itu, mereka tidak menerima atau menyambut kita. Haruskah kita bereaksi dengan roh yang salah seperti yang dilakukan oleh Yakobus dan Yohanes dalam Lukas 9? Kita harus berlatih untuk memiliki roh yang tepat. Tuhan adalah model yang sejati dari kehidupan manusia Allah.
k. Menderita Aniaya Tanpa Membalas
Tuhan menderita aniaya tanpa membalas, memberi kita satu model sehingga kita dapat mengikuti langkah-langkah-Nya (Yes. 53:3, 7; 1 Ptr. 4:1; 2:21-23). Ia menderita diam-diam seperti seekor domba di depan para penggunting bulunya. Ketika dicaci maki, Ia tidak balik mencaci maki. Hari ini, kita para sekerja harus mempelajari model ini. Jika orang-orang mencaci maki kita, kita tidak seharusnya berpikir untuk membalas dengan balik mencaci maki mereka.
Istilah Yunani untuk model secara harfiah berarti "salinan, tindasan, cetakan huruf yang digunakan oleh siswa untuk menelusuri huruf dan belajar membentuk huruf tersebut." Tuhan telah mendirikan kehidupan yang menderita di hadapan kita sehingga kita dapat mencontohnya dengan menelusuri dan mengikuti langkah-langkah-Nya. Ini tidak hanya mengacu kepada meniru Dia dan kehidupan-Nya, tetapi mengacu kepada reproduksi-Nya yang berasal dari menikmati Dia sebagai anugerah dalam penderitaan kita, sehingga Dia sendiri sebagai Roh yang menghuni, dengan segala kekayaan hayat-Nya, mereproduksi diri-Nya sendiri di dalam kita. Kita menjadi reproduksi dari cetakan huruf yang asli, bukan hanya tiruan-Nya yang dihasilkan karena menerima Dia sebagai model luaran kita.
l. Berdoa untuk Orang-orang yang Menyalibkan-Nya
Dalam ketersaliban-Nya, Ia berdoa untuk orang-orang yang menyalibkan-Nya supaya Bapa mengampuni dosa-dosa yang disebabkan oleh ketidaktahuan mereka (Luk. 23:34a).
m. Memberikan Keselamatan-Nya Kepada Salah Satu Penjahat
Bahkan pada saat menderita dan sekarat, Ia menyalurkan keselamatan-Nya kepada salah satu penjahat yang disalibkan bersama-sama Dia (Luk. 23:42-43).
n. Dicobai tetapi Tidak Berbuat Dosa
Meskipun Kristus dicobai, Ia tidak berbuat dosa (Ibr. 2:18; 4:15; 1 Ptr. 2:22).
o. Tidak Melakukan Apa pun dari Diri-Nya Sendiri
Tuhan mengatakan bahwa Ia tidak melakukan apa pun dari diri-Nya sendiri (Yoh. 5:19, 30a; 8:28). Hal ini dikarenakan Ia menganggap diri-Nya orang yang terkubur.
p.Tidak Berkata-kata dari Diri-Nya Sendiri
Tuhan tidak mengucapkan perkataan-perkataan-Nya sendiri. Ia mengucapkan perkataan-perkataan Bapa (Yoh. 14:10a).
q. Tidak Mencari Kehendak-Nya Sendiri tetapi Kehendak Allah
Ia tidak mencari kehendak-Nya sendiri tetapi kehendak Allah (Yoh. 5:30b; 6:38). Dalam Matius 26:39 Ia berkata, "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari hadapan-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki." Kemudian dalam ayat 42 Ia berkata: "Ya Bapa-Ku, jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu."
r. Taat kepada Allah bahkan Sampai Mati
Filipi 2:8 mengatakan bahwa Tuhan taat sampai mati, bahkan mati di kayu salib.
2. Tidak memiliki kebebasan untuk hidup menurut diri-Nya sendiri
Tuhan tidak memiliki kebebasan untuk hidup menurut diri sendiri. Ia berkata kepada saudara-saudara-Nya, "Waktu-Ku belum tiba, tetapi bagi kamu selalu ada waktu" (Yoh. 7:6). Dalam ayat 8 Tuhan berkata, "Pergilah kamu ke pesta itu. Aku belum pergi ke situ, karena waktu-Ku belum genap." Tuhan hidup di bumi sebagai seorang manusia, dibatasi bahkan dalam hal waktu. Ini menunjukkan bahwa sebelum melakukan sesuatu, kita perlu menghubungi Tuhan. Kita mungkin berdoa, "Tuhan, saya mempunyai beban untuk pergi dan mengunjungi saudara tertentu. Tepatkah waktunya?" Seringkali ketika saya berdoa seperti ini, Tuhan memberi tahu saya bahwa saya harus menunggu. Saya mempunyai beban untuk membantu seorang saudara, tetapi Tuhan tidak mengijinkan saya untuk melakukannya. Kita harus belajar pelajaran waktu. Kita harus belajar untuk tidak bertindak tanduk menurut kesenangan kita.
Stanza 1 dari kidung nomor 225 mengatakan mengenai Kristus: "Asal Allah nan tak batas, jadi insan dalam waktu." Ia adalah Allah dalam kekekalan yang tidak memiliki pembatasan, tetapi Ia menjadi seorang manusia di bumi yang terbatas oleh waktu dan ruang. Ia dibatasi di desa Nasaret dalam kehidupan-Nya selama tiga puluh tahun. Dapatkah kita dibatasi sedemikian rupa? Kita mungkin mempunyai beban untuk mengunjungi banyak tempat, tetapi Tuhan mungkin tidak ingin kita melakukannya. Kita harus belajar pelajaran untuk dibatasi.
3. Bekerja Sama dengan Bapa
Segala sesuatu yang Tuhan Yesus lakukan adalah bekerja sama dengan Bapa yang berhuni dan bekerja di dalam Dia untuk perampungan ekonomi-Nya. Dalam Yohanes 14:10b Tuhan berkata, "Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang tinggal di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-pkerjaan-Nya." Inilah bekerja sama dengan Bapa yang hidup dan bekerja di dalam Dia.
4. Menyatakan Allah untuk Mengekspresikan Atribut Allah dalam Kebajikan Insani-Nya
Di bumi, Ia menempuh hidup yang sepenuhnya untuk menyatakan Allah guna mengekspresikan atribut Allah dalam kebajikan insani-Nya (1 Tim. 3:16a). Ketika orang-orang melihat kebajikan-Nya, mereka melihat atribut-atribut Allah, dan itu adalah pernyataan Allah. Kita perlu menerapkan semua butir ini dalam kehidupan sehari-hari kita dalam kontak kita dengan setiap orang.