KEHIDUPAN MANUSIA ALLAH PERTAMA DARI PALUNGAN KE SALIB (3)
Pembacaan Alkitab: Mat. 22:15-46; 26:57-68
GARIS BESAR
IV. Dalam ministri-Nya:
B. Pencobaan-pencobaan-Nya:
2. Selama ministri-Nya -- Mat. 22:15-46:
a. Maksud si pencoba-untuk menjerat Dia dalam perkataan-perkataan-Nya -- ayat 15.
b. Melalui orang-orang Farisi dan orang-orang Herodian -- ayat 16-22:
1) Orang-orang Farisi adalah fundamentalis Yudaisme.
2) Orang-orang Herodian adalah partai politik di bawah Raja Herodes untuk imperialisme Romawi yang diperalat oleh orang-orang Farisi untuk mencobai manusia Allah pertama.
3) Mereka mencobai-Nya dengan bertanya apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar, penguasa Roma, berusaha untuk menangkap-Nya sebagai orang yang menentang imperialistis Romawi-ayat 17.
4) Ia menyuruh mereka untuk menunjukkan kepada-Nya mata uang untuk pajak itu. Ketika mereka menunjukkan kepada-Nya, Ia bertanya kepada mereka gambar dan tulisan siapakah yang ada pada dinar itu; mereka menjawab, "Gambar dan tulisan Kaisar." Ia menjawab, "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah." Ia mengalahkan persekongkolan mereka -- ayat 18-22.
c. Melalui orang-orang Saduki -- ayat 23-34:
1) Orang-orang Saduki adalah kaum modernis pada zaman itu dalam agama Yahudi, tidak mempercayai kebangkitan.
2) Mereka mencobai manusia Allah pertama dengan memberitahu-Nya bahwa di tengah-tengah mereka ada tujuh bersaudara yang telah menikah dengan satu orang perempuan secara berturut-turut. Kemudian mereka bertanya kepada-Nya istri siapakah perempuan ini nanti dalam kebangkitan. Ia berkata bahwa mereka sesat dan tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah, karena dalam kebangkitan mereka tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di surga. Ia mengajar mereka bahwa Allah sebagai Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup. Dengan demikian Ia membungkam mulut mereka -- ayat 23-34.
d. Melalui ahli Taurat orang Farisi -- ayat 34-40:
1) Ahli Taurat orang Farisi mengetahui bahwa manusia Allah pertama telah membungkam mulut orang-orang Saduki, menguji-Nya dengan bertanya kepada-Nya apakah hukum yang terutama dalam hukum Taurat -- ayat 34-36.
2) Ia menjawab, "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah perintah yang terutama dan yang pertama. Dan perintah yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua perintah inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi." Dengan demikian, Ia menaklukkan mereka juga -- ayat 37-40.
e. Manusia Allah pertama balik menguji mereka-ayat 41-46:
1) Ia menguji mereka dengan bertanya, "Apakah pendapatmu tentang Mesias? Anak siapakah Dia?" Kata mereka kepada-Nya, " Anak Daud." Kata-Nya kepada mereka, "Jika demikian, bagaimanakah Daud oleh pimpinan Roh dapat menyebut Dia Tuannya [Mzm. 110:1]? Jadi jika Daud menyebut Dia 'Tuan', bagaimana mungkin Ia anaknya pula?" --ayat 41-45.
2) Tidak seorang pun yang dapat menjawab-Nya, dan sejak hari itu tidak ada seorang pun juga yang berani menanyakan sesuatu kepada-Nya -- ayat 46.
3) Orang-orang Farisi, orang-orang Herodian, orang-orang Saduki, dan ahli Taurat orang Farisi mencobai manusia Allah pertama den-gan bertanya mengenai imperialisme Romawi, kepercayaan agama Yahudi, dan kredo mereka, mengira bahwa mereka dapat menjerat-Nya, tetapi Ia mengalahkan mereka semua dengan jawaban-jawaban-Nya yang bijaksana dan tidak dapat dibantah, yang mengarahkan mereka untuk menyadari persona Kristus sebagai kebutuhan sejati mereka dan bukan perkara-perkara politik dan agama.
4) Ketika Ia menguji mereka dengan persona Kristus, mereka tidak mempunyai pengetahuan yang memadai, hanya mengenal Kristus dalam keinsanian-Nya sebagai benih Daud tetapi tidak dalam keilahian-Nya sebagai Tuhan Daud yang akan duduk di sebelah kanan Allah (Mzm. 110:1). Pada akhirnya, Ia membungkam mulut mereka semua dan meraih kemenangan dalam saling uji tersebut.
3. Pada akhir ministri-Nya -- Mat. 26:57-68:
a. Pada saat Ia dihakimi oleh Mahkamah Agama orang-orang Yahudi setelah ditangkap oleh penguasa Roma di malam hari -- ayat 57-58.
b. Mereka menguji-Nya mengenai beberapa perkara sehingga mereka dapat memberi-Nya hukuman mati, tetapi Ia tidak menjawab sedikit pun -- ayat 59-62.
c. Pada akhirnya, Imam Besar menguji-Nya dengan bertanya apakah Ia adalah Kristus, Anak Allah -- ayat 63.
d. Ia menjawab, "Engkau telah mengatakannya. Akan tetapi, Aku berkata kepadamu, mulai sekarang kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa [Mzm. 110:1] dan datang di atas awan-awan di langit" -- ayat 64.
e. Imam Besar mengoyakkan pakaian-Nya dan berkata bahwa Ia menghujat Allah, dan Mahkamah Agama menganggap bahwa Ia pantas untuk mati -- ayat 65-66.
f. Mereka meludahi muka-Nya dan meninju-Nya, dan orang-orang lain memukul-Nya -- ayat 67-68.
g. Pada akhir pencobaan terhadap manusia Allah pertama oleh Imam Besar yang digunakan oleh Satan, ujian Imam Besar pada prinsipnya sama dengan ujian iblis pada awal pencobaan, mencobai manusia Allah pertama untuk mengukuhkan kedudukan ilahi-Nya sebagai Putra Allah dan mengabaikan kedudukan insani-Nya sebagai seorang manusia -- Mat. 4:3-7.
h. Dalam jawaban-Nya, manusia Allah pertama mengetahui muslihat Satan, sekali lagi Ia tidak mengukuhkan kedudukan ilahi-Nya sebagai Putra Allah tetapi dengan tegas menandaskan kedudukan insani-Nya sebagai Anak Manusia untuk mempermalukan Satan dan mengalahkan dia melalui keinsanian-Nya.
4. Sebagai kesimpulan, semua pencobaan Satan dan orang-orang yang diperalatnya menunjukkan kepada kita gambaran yang jelas bahwa manusia Allah pertama bertingkah laku secara agung dalam batas kedudukan-Nya sesuai dengan status ganda-Nya, sebagai Allah pun manusia. Potret buruk musuh-Nya, Satan, si iblis menyatakan hikmat-Nya, kejujuran-Nya, kesetiaan-Nya kepada Allah, dan pikir-an-Nya yang jernih mengenai kedudukan dan status-Nya, dan kemampuan-Nya untuk menaklukkan dan menundukkan. Hasil sesungguhnya dari pencobaan-pencobaan oleh para penentangnya terhadap manusia Allah pertama memberikan kesempatan kepada-Nya untuk menyingkapkan persona Kristus dengan sepenuhnya kepada mereka, bahwa Ia adalah Allah sebagai Tuhan Daud, bapa yang mereka hormati; dan Ia juga adalah manusia, benih Daud, yang duduk di sebelah kanan Allah (Mzm. 110:1). Kristus yang almuhit sedemikian ini adalah kebutuhan sejati untuk kehidupan mereka, tetapi sungguh kasihan karena mereka dibutakan oleh Satan dan mengacuhkan kebutuhan mereka yang sesungguhnya sehingga mereka meremehkan-Nya, menolak-Nya, dan memberi-Nya hukuman mati dengan menyalibkan-Nya! (Mat. 26:66-67).
Dalam berita sebelumnya, kita melihat muslihat iblis dalam mencobai Tuhan di awal ministri-Nya. Dalam berita ini, kita ingin melihat pencobaan yang diderita oleh Tuhan selama ministri-Nya dan pada akhir ministri-Nya. Meskipun Tuhan melewati pencobaan-pencobaan yang lain, semua prinsipnya telah tercakup dalam tiga kelompok pencobaan itu. Saya harap kita akan sepenuhnya memperhatikan persekutuan dalam berita ini dan bahkan mempela-jarinya bersama yang lain.
B. Pencobaan-pencobaan-Nya
2. Selama ministri-Nya
Matius 22:15-46 menunjukkan pencobaan-pencobaan yang dilewati Tuhan selama ministri-Nya.
a. Maksud Si Pencoba
Maksud si pencoba adalah untuk menjerat Dia dalam perkataan-perkataan-Nya (ayat 15).
b. Melalui orang-orang Farisi dan orang-orang Herodian
Orang-orang Farisi adalah fundamentalis Yudaisme. Orang-orang Herodian adalah partai politik di bawah Raja Herodes untuk imperialisme Romawi, yang diperalat oleh orang-orang Farisi untuk mencobai manusia Allah pertama. Mereka mencobai-Nya dengan bertanya apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar, penguasa Roma. Dengan pertanyaan itu, mereka berusaha untuk menangkap-Nya sebagai orang yang menentang imperialistis Romawi (ayat 16-17). Orang-orang Farisi ada di pihak orang-orang Yahudi, sedangkan orang-orang Herodian ada di pihak orang-orang Roma. Pertanyaan yang demikian, yaitu mengenai apakah mereka diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak sangat sulit dijawab. Jika Tuhan mengatakan ya, Ia akan menyinggung orang-orang Yahudi. Jika Tuhan men-gatakan tidak, Ia akan menyinggung orang-orang Roma. Ini benar-benar suatu pertanyaan yang menjebak. Tetapi kapasitas Tuhan begitu tinggi, hikmat-Nya begitu dalam, dan jawaban-Nya begitu menaklukkan (tidak dapat dibantah).
Ia menyuruh mereka untuk menunjukkan kepada-Nya mata uang untuk pajak itu. Hal ini berarti Ia tidak mempunyai satu mata uang pun dari Kaisar dan menyuruh mereka memberikan mata uang itu kepada-Nya. Mereka memiliki mata uang Roma di dalam kantong mereka menunjukkan bahwa mereka sudah kalah. Tuhan Yesus tidak menunjukkan mata uang Roma tetapi menyuruh mereka untuk menunjukkan mata uang itu kepada-Nya. Karena mereka memiliki satu mata uang Roma, mereka telah terjebak. Ketika mereka menunjukkan kepada-Nya, Ia bertanya kepada mereka gambar dan tulisan siapakah yang ada pada dinar itu; mereka menjawab, "Gambar dan tulisan Kaisar." Ia menjawab, "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah." Ia mengalahkan persekongkolan mereka (ayat 18-22).
c. Melalui orang-orang Saduki
Orang-orang Saduki adalah kaum modernis pada zaman itu dalam agama Yahudi, tidak mempercayai kebangkitan. Hari ini, di antara orang-orang Kristen ada aliran modernisme. Mereka tidak percaya kepada Alkitab atau kepada kelahiran Kristus oleh seorang anak dara. Mereka tidak percaya bahwa Kristus mati di atas salib untuk dosa-dosa kita, tetapi mereka percaya bahwa Ia mati di atas salib hanya sebagai martir. Mereka tidak percaya kebangkitan atau mujizat-mujizat. Aliran modernisme menghilangkan semua mujizat dalam Alkitab dengan berbagai alasan. Orang-orang Saduki di zaman dulu adalah aliran modernisme di zaman kuno.
Mereka mencobai manusia Allah pertama dengan memberitahu-Nya bahwa di tengah-tengah mereka ada tujuh bersaudara yang telah menikah dengan satu orang perempuan secara berturut-turut. Kemudian mereka bertanya kepada-Nya istri siapakah perempuan ini nanti dalam kebangkitan. Ia berkata bahwa mereka sesat dan tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah, karena dalam kebangkitan mereka tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di surga. Ia mengajar mereka bahwa Allah sebagai Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup.
Allah adalah Allah orang-orang yang hidup, tetapi Abraham, Ishak, dan Yakub sudah mati. Bagaimana mungkin Allah menjadi Allah mereka? Karena Allah disebut sebagai Allah ketiga orang mati ini, hal ini menunjukkan bahwa mereka akan dibangkitkan. Tanpa penafsiran Tuhan Yesus, kita tidak dapat melihat terang bahwa sebutan ilahi ini mengindikasikan kebangkitan. Itulah sebabnya mengapa Tuhan memberi tahu orang-orang Saduki bahwa mereka tidak mengerti Kitab Suci. Mereka mengetahuinya secara harfiah, tetapi mereka tidak mengetahui makna intrinsik-nya. Dengan demikian, Ia membungkam mulut mereka (ayat 23-34).
d. Melalui ahli Taurat orang Farisi
Ahli Taurat orang Farisi mengetahui bahwa manusia Allah pertama telah membungkam mulut orang-orang Saduki, menguji-Nya dengan bertanya kepada-Nya apakah hukum yang terutama dalam hukum Taurat (ayat 34-36). Ia menjawab, "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah perintah yang terutama dan yang pertama. Dan perintah yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua perintah inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi." Dengan demikian, Ia menaklukkan mereka juga (ayat 37-40).
e. Manusia Allah Pertama Balik Menguji Mereka
Semua orang yang menguji Tuhan dikalahkan, dibungkam. Sesungguhnya Ia itulah satu-satunya yang bersyarat untuk menguji. Ia menguji mereka dengan bertanya, "Apakah pendapatmu tentang Mesias? Anak siapakah Dia?" Pertanyaan mereka menunjukkan bahwa mereka memperhatikan imperialisme Romawi, kepercayaan orang-orang Yahudi, dan kredo mereka (hukum Taurat). Tuhan menunjukkan bahwa perkara-perkara itu tidak berarti apa-apa. Yang berarti adalah Kristus. Ia itulah yang mereka perlukan. Ketika Ia bertanya kepada mereka anak siapakah Kristus itu, mereka menjawab, "Anak Daud." Kata-Nya kepada mereka, "Jika demikian, bagaimanakah Daud oleh pimpinan Roh dapat menyebut Dia Tuannya [Mzm. 110:1]? Jadi jika Daud menyebut Dia 'Tuan', bagaimana mungkin Ia anaknya pula?" (ayat 41-45). Tidak seorang pun yang dapat menjawab-Nya, dan sejak hari itu tidak ada seorang pun juga yang berani menanyakan sesuatu kepada-Nya (ayat 46).
Orang-orang Farisi, orang-orang Herodian, orang-orang Saduki, dan ahli Taurat orang Farisi mencobai manusia Allah pertama dengan bertanya mengenai imperialisme Romawi, kepercayaan agama Yahudi, dan kredo mereka, mengira bahwa mereka dapat menjerat-Nya, tetapi Ia mengalahkan mereka semua dengan jawaban-jawaban-Nya yang bijaksana dan tidak dapat dibantah, yang mengarahkan mereka untuk menyadari persona Kristus sebagai kebutuhan sejati mereka dan bukan perkara-perkara politik dan agama. Seolah-olah Tuhan berkata, "Kamu harus memperhatikan keperluanmu yang sejati. Keperluan sejati untuk kehidupanmu adalah Kristus. Tetapi menyesal sekali, kamu tidak mengenal Dia. Kamu mengenal imperialisme Romawi, kepercayaan orang-orang Yahudi, dan kredo orang-orang Yahudi. Kamu tahu semua perkara-perkara politik dan agama, tetapi kamu tidak mengenal Kristus yang adalah kebutuhanmu yang sejati."
Ketika Ia menguji mereka dengan persona Kristus, mereka tidak mempunyai pengetahuan yang memadai, mereka hanya mengenal Kris-tus dalam keinsanian-Nya sebagai benih Daud tetapi tidak dalam keilahian-Nya sebagai Tuan Daud, yang akan duduk di sebelah kanan Allah (Mzm. 110:1). Pada akhirnya, Ia membungkam mulut mereka semua dan meraih kemenangan dalam saling uji tersebut.
3. Pada akhir ministri-Nya
Sekarang kita perlu membahas pencobaan-pencobaan yang dilalui Tuhan pada akhir ministri-Nya (Mat. 26:57-68). Hal ini terjadi pada saat Ia dihakimi oleh Mahkamah Agama orang-orang Yahudi setelah ditangkap oleh penguasa Roma di malam hari (ayat 57-58). Mereka menguji-Nya mengenai beberapa perkara sehingga mereka dapat memberi-Nya hukuman mati, tetapi Ia tidak menjawab sedikit pun (ayat 59-62). Pada akhirnya, Imam Besar menguji-Nya dengan bertanya apakah Ia adalah Kristus, Anak Allah (ayat 63). Ia menjawab, "Engkau telah mengatakannya. Akan tetapi, Aku berkata kepadamu, mulai sekarang kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa [Mzm. 110:1] dan datang di atas awan-awan di langit" (ayat 64). Tuhan Yesus menunjukkan kepada mereka Mazmur 110:1 yang mengatakan, "Demikianlah firman Tuhan kepada tuanku: Duduklah di sebelah kanan-Ku sampai Kubuat musuh-musuhmu menjadi tumpuan kakimu." Meskipun Ia adalah seorang manusia, Ia dapat duduk di sebelah kanan Allah. Ia sedang mengatakan bahwa Ia sama dengan Allah, dan hal itu menyinggung perasaan orang Yahudi, tetapi itu dinubuatkan oleh Daud dalam Mazmur 110:1. Ia juga mengatakan bahwa Anak Manusia akan datang di awan-awan di langit. Perkataan ini masih belum digenapi. Kita percaya bahwa Tuhan Yesus sebagai Anak Manusia akan datang di awan-awan di langit untuk mengambil alih bumi dan memilikinya (Why. 10:1-2).
Ketika Imam Besar mendengar bahwa manusia ini, Yesus dari Nasaret mengatakan bahwa Ia akan duduk di sebelah kanan Allah, menjajarkan diri-Nya dengan Allah, Imam Besar mengoyakkan pakaian-Nya dan berkata bahwa Ia menghujat Allah, dan Mahkamah Agama menganggap bahwa Ia pantas untuk mati (Mat. 26:65-66). Mereka meludahi muka-Nya dan meninju-Nya, dan orang-orang lain memukul-Nya (ayat 67-68).
Pada akhir pencobaan terhadap manusia Allah pertama oleh Imam Besar yang diperalat oleh Satan, ujian Imam Besar pada prinsipnya sama dengan ujian iblis pada awal pencobaan, mencobai manusia Allah pertama untuk mengukuhkan kedudukan ilahi-Nya sebagai Putra Allah dan mengabaikan kedudukan insani-Nya sebagai seorang manusia (Mat. 4:3-7). Pada mulanya, Satan sendiri mencobai Tuhan. Pada akhirnya, Imam Besar mencobai Dia. Kedua pencobaan ini sesungguhnya sama karena Imam Besar diperalat oleh Satan. Pencobaan-Nya tidak lain adalah pengulangan dari pencobaan yang dilakukan oleh Satan. Mereka mencobai Tuhan untuk mengukuhkan kedudukan-Nya yang diberi oleh Allah, kedudukan keilahian-Nya, dan mengabaikan kedudukan-Nya yang ditetapkan oleh Allah, kedudukan keinsanian. Dalam jawaban-Nya, manusia Allah pertama mengetahui muslihat Satan, sekali lagi Ia tidak mengukuhkan kedudukan ilahi-Nya sebagai Putra Allah secara terus terang, tetapi dengan tegas menandaskan kedudukan insani-Nya sebagai Anak Manusia untuk mempermalukan Satan dan mengalahkan dia melalui keinsanian-Nya. Berdirinya Tuhan di atas kedudukan keinsanian adalah senjata yang kuat bagi-Nya untuk mengalahkan Satan dan orang-orang yang diperalat oleh Satan.
4. Gambaran yang Jelas Mengenai Manusia Allah pertama
Sebagai kesimpulan, semua pencobaan Satan dan orang-orang yang diperalatnya menunjukkan kepada kita gambaran yang jelas bahwa manusia Allah pertama bertingkah laku secara agung dalam batas kedudukan-Nya sesuai dengan status ganda-Nya, sebagai Allah pun manusia. Potret buruk musuh-Nya Satan, si iblis, menyatakan hikmat-Nya, kejujuran-Nya, kesetiaan-Nya kepada Allah, dan pikiran-Nya yang jernih mengenai kedudukan dan status-Nya, dan kemampuan-Nya untuk menaklukkan dan menundukkan. Hasil sesungguhnya dari pencobaan-pencobaan oleh para penentangnya terhadap manusia Allah pertama memberikan kesempatan kepada-Nya untuk menyingkapkan persona Kristus dengan sepenuhnya kepada mereka, bahwa Ia adalah Allah sebagai Tuhan Daud, bapa yang mereka hormati; dan Ia juga adalah manusia, benih Daud, yang duduk di sebelah kanan Allah (Mzm. 110:1). Kristus yang almuhit sedemikian ini adalah kebutuhan sejati untuk kehidupan mereka, tetapi sungguh kasihan karena mereka dibutakan oleh Satan dan mengacuhkan kebutuhan mereka yang sesungguhnya sehingga mereka meremehkan-Nya, menolak-Nya, dan memberi-Nya hukuman mati dengan menyalibkan-Nya! (Mat. 26:66-67).