← Daftar isi Kehidupan Manusia Allah · bab 6/17

SEBUAH DEFINISI (2)

GARIS BESAR

III. Muslihat pertama si iblis dalam mencobai manusia Allah pertama untuk mengabaikan status insani-Nya sebagai seorang manusia -- Mat. 4:3-4:

A. Saat mengurapi manusia Allah pertama, Allah mendeklarasikan bahwa Ia adalah Putra kesayangan-Nya -- Mat. 3:17.

B. Berdasarkan deklarasi Allah bahwa manusia Allah pertama adalah Putra kesayangan-Nya, si iblis melaksanakan muslihatnya yang pertama, mencobai manusia Allah pertama untuk mengabaikan bahwa Ia adalah seorang manusia.

C. Tetapi manusia Allah pertama mengalahkan pencobanya dengan berdiri teguh pada kedudukannya sebagai seorang manusia dan menjawabnya dengan berkata, "Manusia hidup bukan dari roti saja," bersikeras menunjukkan bahwa Ia adalah seorang manusia -- Mat. 4:4.

IV. Muslihat iblis yang kedua dalam mencobai manusia Allah pertama untuk mengukuhkan keilahian-Nya sebagai Putra Allah -- Mat. 4:5-7:

A. Sekali lagi, hal ini berdasar pada apa yang diproklamirkan Allah mengenai manusia Allah pertama.

B. Si iblis melaksanakan muslihatnya yang kedua, mencobai manusia Allah pertama untuk mengukuhkan keilahian-Nya dengan mengadakan mujizat mengenai perlindungan dari malaikat-malaikat.

C. Tetapi manusia Allah pertama menang atas pencoba-Nya yang licik dengan mengatakan, "Janganlah engkau mencobai Tuhan Allahmu," hal ini dengan kuat menunjukkan bahwa Ia adalah seorang manusia di hadapan Allah dan tidak seharusnya menguji Tuhan Allah-Nya.

D. Allah dalam ekonomi kekal-Nya ingin memiliki manusia sebagai salah satu dari mahkluk ciptaan-Nya untuk membereskan musuh-Nya, Satan, mahkluk ciptaan yang lain, tetapi si musuh mencobai manusia Allah pertama untuk mengukuhkan keilahian-Nya sebagai sang Pencipta segala sesuatu. Dengan cara yang licik ini, Satan mencampuradukkan kedudukan Allah sebagai sang Pencipta dengan diri Satan sendiri sebagai mahkluk ciptaan.

V. Muslihat iblis yang ketiga dalam membujuk manusia Allah pertama untuk mengasihi kemuliaan kerajaan dunia, menyembah dia sebagai Allah dan melayani dia sebagai bawahannya -- Mat. 4:8-11; Luk. 4:5-8:

A. Pastilah dalam zaman sebelum Adam, Allah menunjuk penghulu malaikat ini untuk menjadi kepala zaman sebelum Adam (Yeh. 28:13-14), dan otoritas serta kemuliaan kerajaan dunia pasti telah diberikan kepadanya. Setelah Ia memberontak melawan Allah dan menjadi musuh Allah, Satan, Ia divonis oleh Allah (Yes. 14:12-15), tetapi pelaksanaan sepenuhnya dari hukuman mati itu belum lengkap sampai akhir masa milenium (Why. 20:7-10). Karena itu, sampai saat itu, ia memiliki otoritas atas kerajaan dunia.

B. Dalam pencobaannya yang licik terhadap Tuhan, ia menawarkan kerajaan dunia beserta kemuliaanya kepada manusia Allah pertama sebagai umpan untuk mendapatkan-Nya sehingga Ia menyembahnya sebagai Allah dan melayaninya sebagai bawahannya.

C. Tetapi manusia Allah pertama mengetahui sarana setani pencoba yang jahat dan menaklukkan dia dengan mengusirnya pergi dan memberi tahu dia dengan cara yang mempermalukan iblis bahwa sebagai seorang manusia di hadapan Allah, Ia seharusnya menyembah Allah dan hanya melayani Allah.

Dalam berita sebelumnya, kita melihat definisi dari jalan kebenaran serta dasar yang tepat dan benar dari pembaptisan Yesus. Yesus dibaptis oleh Yohanes Pembaptis, berdiri di atas dasar pengenalan bahwa Ia adalah seorang manusia di dalam daging. Tentu saja, Yesus tidak mempunyai dosa. Roma 8:3 mengatakan bahwa Ia hanya serupa dengan daging dosa, walaupun demikian, Ia tetap di dalam daging, yang dalam pandangan Allah mutlak dihukum, ditolak, dan hanya pantas untuk mati dan dikubur. Yesus berdiri di atas dasar ini untuk menerima baptisan dari Yohanes.

Sebelum Tuhan Yesus mulai melakukan sesuatu untuk ministri-Nya, hal pertama yang dilakukan-Nya adalah datang kepada Yohanes untuk menerima baptisan semacam itu demi mendeklarasikan ke seluruh alam semesta bahwa untuk ministri Allah, Ia sama sekali tidak tergantung pada daging. Kita semua harus melihat hal ini. Tidak seorang pun dapat membawa sesuatu dari hayat alamiahnya, sesuatu dari dagingnya, ke dalam ministri Allah. Khususnya para sekerja dan para penatua perlu menyadari bahwa sebagai manusia alamiah di dalam daging, kita tidak baik untuk apa pun kecuali mati dan dikubur. Diri kita mutlak perlu diakhiri dalam air baptisan. Inilah makna intrinsik dari dasar pembaptisan Yesus. Berbicara secara rohani, saya juga berharap semua peserta pelatihan sepenuh waktu telah menerima baptisan yang demikian. Dalam kehidupan dan pekerjaan kita, kita semua seharusnya mendeklarasikan, "Saya adalah seorang persona di dalam daging, tidak pantas untuk apa pun dalam pandangan Allah kecuali mati dan dikubur; karena itu saya ingin diri saya diakhiri, disalibkan dan dikubur."

Dalam berita ini, kita ingin melanjutkan untuk melihat tiga definisi yang mencakup tiga bagian dari satu pencobaan musuh terhadap manusia Allah pertama.

III. MUSLIHAT PERTAMA SI IBLIS

DALAM MENCOBAI MANUSIA ALLAH PERTAMA

UNTUK MENGABAIKAN STATUS INSANI-NYA SEBAGAI SEORANG MANUSIA

Yesus dipimpin untuk berpuasa selama empat puluh hari. Setelah empat puluh hari, Dia lapar. Kemudian, si pencoba, Satan, berkata kepada-Nya, "Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti" (Mat. 4:3). Seolah-olah Satan berkata kepada Yesus, "Allah menunjuk Engkau dan medeklarasikan bahwa Engkau adalah Putra kesayangan-Nya, Putra Allah, ketika Engkau berdiri di atas air baptisan. Jika Engkau memang adalah Putra Allah yang seperti itu, berkatalah kepada batu-batu ini supaya menjadi roti."

Saya yakin, kita akan gagal menghadapi ujian yang semacam itu. Kita akan mengadakan mujizat untuk memamerkan kepada setiap orang bahwa kita adalah anak-anak Allah. Tetapi, jika Tuhan melakukannya, hal itu akan bertentangan dengan dasar pembaptisan-Nya. Ia datang ke padang gurun untuk dicobai sebagai seorang manusia, bukan sebagai Putra Allah. Putra Allah tidak lain adalah Allah itu sendiri. Siapa yang dapat mencobai Allah? Yesus adalah seorang manusia di padang gurun. Sebagai Allah, dapatkah Ia merasa lapar? Pada Allah tidak ada rasa lapar, tetapi sebagai seorang manusia, Yesus merasa lapar. Muslihat Satan adalah untuk mencobai Yesus agar mengabaikan status-Nya sebagai seorang manusia dan mengukuhkan kedudukan-Nya sebagai Putra Allah. Karena itu, Tuhan menjawab dengan mengatakan, "Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah." (ayat 4). Ia mengalahkan musuh dengan tetap berdiri di atas kedudukan sebagai seorang manusia.

Saat mengurapi manusia Allah pertama, Allah mendeklarasikan bahwa Ia adalah Putra kesayangan-Nya (Mat. 3:17). Berdasarkan deklarasi Allah bahwa manusia Allah pertama adalah Putra kesayangan-Nya, si iblis melaksanakan muslihatnya yang pertama, mencobai manusia Allah pertama untuk mengabaikan statusnya sebagai seorang manusia. Tetapi manusia Allah pertama mengalahkan pencobanya dengan berdiri teguh pada kedudukannya sebagai seorang manusia dan menjawabnya dengan berkata, "Manusia hidup bukan dari roti saja," bersikeras menunjukkan bahwa Ia adalah seorang manusia.

Sekarang, kita perlu membahas penerapan muslihat pertama si iblis terhadap situasi kita. Ketika beberapa sekerja mengunjungi tempat lain, mereka mungkin mengharapkan bahwa penatua di sana akan menyambut mereka sebagai para sekerja top dalam pemulihan dan menyuruh mereka menyampaikan suatu berita. Apa yang akan kita lakukan dalam situasi seperti itu? Haruskah kita menerima undangan itu atau berdiri di atas dasar bahwa kita adalah manusia di dalam daging? Kita harus memiliki sikap bahwa kita tidak mempunyai apa-apa yang baik dan hanya pantas untuk mati dan dikubur. Seandainya kita menerima kesempatan untuk berbicara dan berbicara dengan sukses sehingga kita dapat mendeklarasikan, "Saya adalah Putra Allah yang sejati." Lalu apakah ini adalah kedudukan yang harus kita pegang? Kita seharusnya berdiri di atas dasar bahwa kita adalah manusia di dalam daging. Apa yang kita miliki tidak pantas untuk apa pun dalam pandangan Allah kecuali untuk mati dan dikubur.

Setelah melewati masa pelatihan selama dua tahun, para peserta pelatihan sepenuh waktu mungkin merasa bahwa mereka itu istimewa ketika mereka kembali ke lokal mereka. Mungkin mereka mengharapkan setiap orang berbaris untuk menyambut mereka pulang. Bahkan para penatua mungkin juga merasa demikian karena mereka begitu alamiah. Mereka akan mengumumkan kepada jemaat bahwa peserta pelatihan tertentu telah kembali, dan mereka akan menyuruhnya untuk menyampaikan berita. Peserta pelatihan yang kembali mungkin merasa bahwa ini adalah kesempatan emas untuk menunjukkan bahwa ia adalah putra Allah. Secara prinsip, hal ini sama dengan pencobaan Satan terhadap Tuhan untuk mengubah batu menjadi roti.

Sebaliknya, jika para peserta pelatihan kembali ke lokal mereka dan tidak seorang pun menaruh perhatian kepadanya, ia mungkin kecewa dan tidak tahu apa yang harus dilakukan dan ke mana harus pergi. Kemana seharusnya Anda pergi? Pergilah ke air untuk mati dan dikubur di sana. Cobaan yang demikian adalah satu ujian. Istilah Yunani untuk pencobaan dan ujian itu sama. Terhadap Allah, itu adalah ujian; terhadap musuh, itu adalah pencobaan. Ketika kita melewati pencobaan musuh, kita melewati ujian Allah untuk diakui oleh Allah. Muslihat musuh yang pertama adalah mengabaikan kedudukan kita yang tepat dan mendorong kita untuk mengukuhkan kedudukan yang lebih tinggi. Beberapa saudari mungkin iri dengan saudari lain yang menerima lebih banyak amin daripada mereka sebagai respon terhadap doa mereka. Hal ini menunjukkan bahwa mereka perlu penguburan yang lain. Kita semua perlu menyadari bahwa di dalam daging, kita tidak pantas untuk apa pun kecuali mati dan dikubur.

IV. MUSLIHAT IBLIS YANG KEDUA

DALAM MENCOBAI MANUSIA ALLAH PERTAMA

UNTUK MENINGGIKAN KEILAHIAN-NYA SEBAGAI PUTRA ALLAH

Setelah muslihat pertama si iblis, pencobaannya terhadap manusia Allah pertama agak berubah (Mat. 4:5-7). Ia membawa Yesus ke bubungan Bait Allah, suatu tempat yang sangat tinggi. Si pencoba berkata kepada Yesus, "Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menerima Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk pada batu." (ayat 6). Ini adalah pencobaan yang membujuk Yesus untuk menunjukkan bahwa sebagai Putra Allah, Ia dapat bertindak secara ajaib. Banyak yang disebut penyembuhan dalam Pentakosta tidak lain hanyalah bertujuan untuk membuat pertunjukkan dan tidak murni. Kita mungkin tertarik oleh Tuhan dan bereaksi terhadap tarikan-Nya dengan mengasihi dan mengikuti Dia, tetapi pada saat yang sama kita mungkin ingin memiliki nama seperti Putra Allah dan kedudukan seperti kedudukan Allah yang ilahi. Inilah masalah kita.

Sekali lagi, muslihat kedua si iblis berdasar pada apa yang dideklarasikan Allah mengenai manusia Allah pertama. Si iblis melaksanakan muslihatnya yang kedua. Yang pertama adalah untuk mencobai Tuhan agar mengabaikan kedudukan-Nya sebagai seorang manusia dan mengukuhkan kedudukan-Nya yang ilahi sebagai Putra Allah dengan mengadakan mujizat. Ketika hal ini tidak berhasil, iblis berusaha membuat Tuhan mengukuhkan kedudukan-Nya dalam keilahian dengan memamerkan kuasa-Nya dan otoritas-Nya melalui mengadakan mujizat mengenai perlindungan dari malaikat-malaikat. Tetapi manusia Allah pertama menang atas pencoba-Nya yang licik dengan mengatakan, "Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu" (ayat 7), hal ini dengan kuat menunjukkan bahwa Ia adalah seorang manusia di hadapan Allah dan tidak seharusnya menguji Tuhan Allah-Nya. Tidak menguji berarti tidak mencobai. Ia, manusia Allah pertama, berdiri di atas kedudukan sebagai mahkluk ciptaan, mengakui bahwa Allah adalah Tuhan-Nya. Ia mendeklarasikan, "Saya seharusnya tidak mencobai Tuhan saya. Ia adalah Tuhan saya." Saat dicobai, paling sedikit Tuhan memiliki tiga status: pertama, Ia adalah seorang manusia; kedua, mahkluk ciptaan; dan ketiga, Putra Allah. Sebagai seorang manusia, Ia tidak dapat menguji Tuhan-Nya.

Allah dalam ekonomi kekal-Nya ingin memiliki manusia sebagai salah satu dari mahkluk ciptaan-Nya untuk membereskan musuh-Nya, Satan, mahkluk ciptaan yang lain, tetapi si musuh mencobai manusia Allah pertama untuk mengukuhkan keilahian-Nya sebagai sang Pencipta segala sesuatu. Dengan cara yang licik ini, Satan mencampuradukkan kedudukan Allah sebagai sang Pencipta dengan diri Satan sendiri sebagai mahkluk ciptaan. Kita dapat melihat hal ini ketika Yesus menunjukkan bahwa sebagai seorang manusia, mahkluk ciptaan Allah, Ia tidak akan menguji Tuhan, Pencipta-Nya. Hari ini, pertama-tama kita harus menyadari bahwa kita adalah manusia daging yang tidak pantas untuk apa pun dan kedua kita adalah mahkluk ciptaan. Tuhan ingin menggunakan mahkluk ciptaan untuk membereskan Satan, mahkluk ciptaan yang lain. Di sini, kita dapat melihat hikmat Allah. Allah tidak akan pernah membasmi Satan secara langsung. Menurut Ibrani 2:14, Tuhan Yesus memusnahkan Satan melalui mengambil bagian dalam daging. Ia memusnahkan Satan dalam daging-Nya. Sebagai mahkluk ciptaan, bukan sebagai sang Pencipta, Kristus memusnahkan Satan. Ia memusnahkan Satan sebagai mahkluk ciptaan yang setingkat dengan Satan. Dengan demikian, Ia menghormati kedudukan Allah sebagai sang Pencipta yang unik. Cara Satan adalah meninggikan dirinya sendiri sampai setingkat dengan sang Pencipta.

V. MUSLIHAT IBLIS YANG KETIGA

DALAM MEMBUJUK MANUSIA ALLAH PERTAMA

UNTUK MENGASIHI KEMULIAAN KERAJAAN DUNIA,

MENYEMBAH DIA SEBAGAI ALLAH

DAN MELAYANI DIA SEBAGAI BAWAHANNYA

Setelah kedua muslihatnya yang pertama gagal, Satan berusaha untuk ketiga kalinya mencobai Tuhan. Kali ini ia mencobai Tuhan agar mengasihi kemuliaan kerajaan dunia, menyembah dia sebagai Allah dan melayani dia sebagai bawahannya (Mat. 4:8-11; Luk. 4:5-8).

Musuh juga akan mencobai kita untuk mengasihi dunia dengan menyuruh kita untuk mempertimbangkan betapa suksesnya orang-orang dunia ini, sedangkan kita bukan apa-apa. Saya mulai melayani Tuhan sepenuh waktu pada tahun 1933. Sepuluh tahun kemudian, saya dipenjara oleh tentara Jepang dan setelah itu saya mengidap penyakit TBC. Suatu hari ketika saya masih dalam proses penyembuhan, saya berjalan dengan tongkat di atas jembatan dan tiba-tiba satu pikiran terlintas di benak saya mengatakan, "Anda telah berjerih lelah untuk Tuhan Anda selama sepu-luh tahun. Apakah yang telah Anda peroleh? Semua yang Anda miliki tak lain adalah tongkat di tangan Anda dan tidak ada yang lain. Tetapi lihatlah betapa suksesnya teman-teman sekelas Anda dan orang-orang lain." Inilah pencobaan. Banyak orang tidak dapat menang menghadapi muslihat musuh yang ketiga, yaitu menggunakan dunia sebagai umpan untuk menjerat kita. Saya telah melihat banyak orang yang terjerat oleh umpan ini.

Pastilah dalam zaman sebelum Adam, Allah menunjuk penghulu malaikat ini untuk menjadi kepala zaman sebelum Adam (Yeh. 28:13-14), dan otoritas serta kemuliaan kerajaan dunia pasti telah diberikan kepadanya. Setelah Ia memberontak melawan Allah dan menjadi musuh Allah, Satan, Ia dihakimi oleh Allah (Yes. 14:12-15), tetapi pelaksanaan sepenuhnya dari hukuman mati itu belum lengkap sampai akhir masa milenium (Why. 20:7-10). Karena itu, sampai saat itu, ia memiliki otoritas atas kerajaan dunia. Dalam pencobaannya yang licik terhadap Tuhan, ia menawarkan kerajaan dunia beserta kemuliaanya kepada manusia Allah pertama sebagai umpan untuk menjerat-Nya sehingga Ia menyembahnya sebagai Allah dan melayaninya sebagai bawahannya. Tetapi manusia Allah pertama mengetahui sarana setani pencoba yang jahat dan menaklukkan dia dengan mengusirnya pergi dan memberi tahu dia dengan cara yang mempermalukan iblis bahwa sebagai seorang manusia di hadapan Allah, Ia seharusnya menyembah Allah dan hanya melayani Allah.

Saya harap definisi ini akan membantu kita untuk melihat muslihat-muslihat Satan. Kita semua berada di bawah bahaya ini. Setiap hari musuh kita sibuk, dan ia sangat rajin.