KEHIDUPAN MANUSIA ALLAH PERTAMA SEORANG PENDOA (7)
Pembacaan Alkitab:
Mat. 21:18-22; Mrk. 11:20-24; Mat. 24:15-22; 26:20-30, 36-46
GARIS BESAR
II. Fakta-fakta ilahi dalam kehidupan insani yang mistikal dari manusia Allah pertama dalam Injil Sinoptis mengenai manusia Allah pertama sebagai Raja Penyelamat dalam kerajaan surga, Budak Penyelamat dalam pelayanan Injil Allah, dan Manusia Penyelamat dalam keselamatan Allah:
J. Dalam mengutuk pohon ara sehingga pohon tersebut langsung kering, manusia Allah pertama mengajar murid-murid-Nya bagaimana berdoa dengan iman -- Mat. 21:18-22; Mrk. 11:20-24:
1. Ajaran manusia Allah pertama di sini adalah menurut kehendak Allah untuk dirampungkan demi penggenapan ekonomi-Nya:
a. Pohon ara adalah simbol dari bangsa Israel (Yer. 24:2, 5, 8).
b. Bangsa Israel kehilangan kapasitas mereka dalam menggenapkan ekonomi Allah karena kebobrokan mereka.
c. Karena keadaan mereka yang tidak berbuah tetapi hanya memiliki daun itu masih tetap bertahan setelah ministri manusia Allah pertama di tengah-tengah mereka, Allah bermaksud melepaskan mereka -- Mat. 21:33-43.
d. Pada saat itu, manusia Allah pertama mengutuknya supaya menjadi kering, sesuai dengan kehendak Allah dalam menggenapkan ekonomi-Nya -- Mat. 21:19.
2. Berdasar pada latar belakang ini, manusia Allah pertama mengajar murid-murid-Nya untuk berdoa bagi pelaksanaan kehendak Allah menurut ekonomi-Nya dengan iman -- Mat. 21:21-22.
3. Jadi, orang yang berdoa dapat memiliki iman dalam Allah tanpa ragu-ragu, percaya bahwa ia telah menerima apa yang dimintanya, maka ia akan memilikinya -- Mrk. 11:24.
K. Dalam nubuat bahwa bangsa Israel yang kembali di masa yang akan datang akan menderita malapetaka besar, di sini, manusia Allah pertama mengajar mereka bagaimana melarikan diri dengan doa -- Mat. 24:15-22:
1. Mereka harus meminta kepada Tuhan supaya waktu melarikan diri itu tidak jatuh pada musim dingin atau pada hari Sabat -- ayat 20.
2. Mereka harus percaya bahwa Allah adalah Dia yang mengendalikan musim dan keadaan di sekeliling kita.
L. Dalam doa-Nya di taman Getsemani sebelum Ia ditangkap, dihakimi, dan divonis untuk disalibkan, Ia berdoa dan mengajar murid-murid-Nya untuk belajar dari Dia bagaimana berdoa -- Mat. 26:20-30, 36-46:
1. Setelah hari Raya Paskah, Ia mengajar murid-murid-Nya bagaimana mengenang Dia melalui memecahkan roti dan minum dari cawan -- ayat 20, 26-29.
2. Ia berbeban untuk pergi ke Getsemani, tempat yang sunyi di malam larut bersama dengan murid-murid-Nya, untuk berdoa -- ayat 30, 36.
3. Ia membawa Petrus, Yohanes, dan Yakobus serta-Nya. Maka mulailah Ia merasa sedih dan gentar, berkata kepada mereka, "Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya," dan menyuruh mereka untuk tinggal di sana dan berjaga-jaga dengan Dia -- ayat 37-38.
a. Ia maju sedikit, lalu sujud, dan berdoa, kata-Nya "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki" -- ayat 39.
b. Lalu Ia pergi untuk kedua kalinya dan berdoa, kata-Nya, "Ya Bapa-Ku, jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu" -- ayat 42.
c. Ia membiarkan mereka di situ lalu pergi dan berdoa untuk ketiga kalinya, dan mengucapkan doa yang itu juga -- ayat 44.
4. Doa manusia Allah pertama di sini, seperti semua doa-Nya dalam Injil Sinoptis, diucapkan oleh-Nya dalam keinsanian-Nya; doa di sini dibuat oleh-Nya ketika Ia sangat sedih dan gentar, cocok dengan yang ada dalam tulisan Paulus di Ibrani 5:7, di sana Ia memper-sembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut.
5. Doa ini adalah setelah doa Kristus dalam Yohanes 17 sebagai kesimpulan dari ajaran ilahi-Nya dalam Yohanes 14-16 mengenai keesaan, perbauran, dan penggabungan Allah Tritunggal yang telah melalui proses dan rampung dengan umat pilihan dan tebusan-Nya, yang diucapkan dalam keilahian Kristus (Kami akan membahas doa ini dalam latihan musim panas mengenai pengkajian kristalisasi Injil Yohanes).
Kami telah bersekutu mengenai doa-doa manusia Allah pertama yang diucapkan oleh-Nya dalam keinsanian-Nya sebagai Raja Penyelamat dalam kerajaan surga. Semua doa yang dipersembahkan oleh Tuhan dalam Matius, Markus, dan Lukas-Injil Sinoptis-diucapkan oleh Kristus dalam keinsanian-Nya. Doa-doa itu ada pada kelompok yang berbeda dengan doa dalam Yohanes 17. Doa dalam Yohanes 17 dipersembahkan oleh Tuhan setelah ajaran-Nya dalam Yohanes 14 sampai 16 mengenai keesaan, perbauran, dan penggabungan Allah Tritunggal yang telah melalui proses dan rampung dengan umat pilihan dan tebusan-Nya. Doa itu dipersembahkan oleh Kristus kepada Allah bukan dalam keinsanian-Nya tetapi dalam keilahian-Nya.
Dalam berita ini, kita ingin melihat tiga kasus lain dari doa Kristus dalam Injil Matius. Kita perlu melihat bahwa doa-doa ini berhubungan dengan kehendak Allah bagi perampungan ekonomi Allah.
J. Dalam Mengutuk Pohon Ara,
Mengajar Murid-murid-Nya Bagaimana Berdoa dengan Iman
Dalam mengutuk pohon ara sehingga pohon tersebut langsung kering, manusia Allah pertama mengajar murid-murid-Nya bagaimana berdoa dengan iman (Mat. 21:18-22; Mrk. 11:20-24).
1. Ajaran-Nya Sesuai dengan Kehendak Allah
Ajaran manusia Allah pertama di sini adalah menurut kehendak Allah untuk dirampungkan demi penggenapan ekonomi-Nya. Tidak banyak orang melihat bahwa ajaran Tuhan mengenai doa adalah berhubungan dengan ekonomi Allah, yaitu dirampungkan oleh umat-Nya yang setia melakukan kehendak-Nya. Dia yang mengajar murid-murid berdoa dengan iman adalah manusia Allah, Kristus. Ia adalah satu-satunya yang mutlak benar di hadapan Allah. Untuk mengucapkan doa yang demikian, kita harus menjadi orang yang benar yang melakukan kehendak Allah. Ini adalah kehendak Allah, bukan dalam perkara-perkara kecil, seperti ke mana kita harus pergi, tetapi kehendak-Nya yang besar untuk perampungan ekonomi Allah. Banyak orang Kristen hari ini menggunakan istilah kehendak Allah secara dangkal dan enteng. Kita harus menjadi orang-orang yang melaksanakan kehendak Allah untuk merampungkan ekonomi Allah. Ekonomi Allah adalah untuk menghasilkan suatu organisme demi perkenan-Nya. Israel mengecewakan Allah dalam hal ini, karena itu Allah datang kepada gereja, berharap bahwa gereja akan menjadi organisme-Nya. Akhirnya, secara umum, gereja juga gagal. Apakah kehendak Allah yang sejati yang harus kita laksanakan? Yaitu memperhatikan perihal memproduksi dan membangun organisme Allah yang adalah Tubuh Kristus yang akan merampungkan Yerusalem Baru.
a. Simbol Pohon Ara
Pohon ara adalah simbol dari bangsa Israel (Yer. 24:2, 5, 8).
b. Bangsa Israel Kehilangan Kapasitas Mereka dalam Menggenapkan Ekonomi Allah
Bangsa Israel kehilangan kapasitas mereka dalam menggenapkan ekonomi Allah karena kebobrokan mereka. Dalam Wahyu 2, surat Tuhan yang pertama kepada gereja pertama, di Efesus, mengatakan bahwa karena gereja di sana kehilangan kapasitasnya untuk memancarkan kesaksian Yesus, Tuhan akan mengambil kaki diannya (ayat 5). Hal yang sama terjadi pada bangsa Israel di masa yang lampau. Sesungguhnya, bangsa Israel adalah kaki dian, ditegakkan oleh Allah untuk berdiri di seluruh bumi memancarkan kesaksian Allah (Za. 4:2), tetapi bangsa Israel kehilangan kapasitas ini karena kebobrokannya.
c. Keadaan yang Tidak Berbuah
Karena keadaan orang-orang Israel yang tidak berbuah tetapi hanya memiliki daun itu masih tetap bertahan setelah ministri manusia Allah pertama di tengah-tengah mereka, Allah bermaksud melepaskan mereka (Mat. 21:33-43). Tuhan melayani (ministered) di tengah-tengah mereka selama tiga setengah tahun. Tidak usah diragukan, Ia adalah Pelayan (Minister) yang top dan ministri-Nya adalah ministri yang top, tetapi semua itu tidak ada pengaruhnya bagi bangsa yang dipilih Allah, karena itu Allah bermaksud melepaskan mereka. Tuhan menggunakan perumpamaan dalam Matius 21:33-43 untuk memberi tahu mereka bahwa kerajaan Allah akan diambil dari mereka dan diberikan kepada suatu bangsa yang menghasilkan buahnya. Bangsa ini adalah gereja.
d. Mengutuk Pohon Ara sehingga Kering,
Menurut Kehendak Allah dalam Menggenapkan Ekonomi-Nya
Tuhan Yesus, Seorang yang benar dalam pandangan Allah, mengenal hati Allah, karena itu Ia mengutuk pohon ara adalah menurut pengenalan-Nya terhadap kehendak Allah dalam menggenapkan ekonomi Allah untuk melepaskan bangsa Israel yang bobrok (Mat. 21:19).
2. Mengajar Murid-murid-Nya untuk Berdoa
Berdasar pada latar belakang ini, manusia Allah pertama mengajar murid-murid-Nya untuk berdoa bagi pelaksanaan kehendak Allah menurut ekonomi-Nya dengan iman (Mat. 21:21-22).
3. Memiliki Iman dalam Allah Tanpa Ragu-ragu
Jadi, orang yang berdoa dapat memiliki iman dalam Allah tanpa ragu-ragu, percaya bahwa ia telah menerima apa yang dimintanya, maka ia akan memilikinya (Mrk. 11:24). Sekarang, orang yang berdoa itu satu dengan Allah, dalam keesaan dengan Allah. Dia berbaur dengan Allah, karena itu Allah menjadi imannya. Inilah yang disebut memiliki iman dalam Allah menurut perkataan Tuhan da-lam Markus 11:22. Orang yang berdoa itu mutlak satu dengan Allah, dan Allah menjadi imannya.
Dalam Markus 11:24 Tuhan berkata, "Apa saja yang kamu doakan dan minta, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu." Saya akan menyampaikan dua kesaksian mengenai pengalaman terhadap ayat ini. Yang pertama adalah mengenai pergerakan Tuhan di Rusia. Segera setelah Amerika Serikat mengalahkan Iraq pada tahun 1991, suatu hari satu pemikiran datang kepada saya, "Mengapa engkau tidak pergi ke Rusia? Sekarang inilah waktunya." Ketika saya bersekutu mengenai hal ini dengan para sekerja yang memimpin, mereka semua setuju dengan saya, karena itu kami mengumumkan kepada orang-orang kudus bahwa kita akan mengikuti pimpinan Tuhan untuk pergi ke Rusia. Dengan segera ada reaksi dari Tubuh untuk pergerakan Tuhan ini. Inilah kesaksian bahwa saya mempunyai iman yang penuh sehingga kita memiliki kesuksesan. Pada saat kita memutuskan untuk pergi ke Rusia, sejumlah orang kudus telah dilatih dan dipersiapkan dengan menyelesaikan dua periode dari latihan sepenuh waktu di Anaheim. Mereka berkata bahwa mereka akan pergi, dan pada Nopember 1991 lebih dari tiga puluh orang pergi ke Rusia. Dengan segera dukungan keuangan datang dari gereja-gereja. Hari ini, di Rusia ada dua gereja besar: di Moskow dan di St. Petersburg. Akhir-akhir ini, tiga puluh lima gereja yang lain telah didirikan. Juga ada sejumlah tempat dengan kelompok-kelompok orang-orang Kristen yang menuntut yang telah meninggalkan denominasi dan sedang menunggu kita untuk mengunjungi mereka guna membantu menetapkan mereka sebagai gereja-gereja lokal. Saudara-saudara telah memperkirakan bahwa pada akhir tahun ini, akan ada lima puluh gereja-gereja didirikan di Rusia. Di samping Rusia, Tuhan telah bergerak di bagian Timur negara-negera Eropa. Seperti Polandia, Albania, Romania, dan Armenia. Inilah pekerjaan Tuhan. Kita hanya mengikuti pimpinan-Nya. Kepergian kita ke Rusia berasal dari kehendak Tuhan untuk perampungan ekonomi-Nya. Inilah pengalaman memiliki iman tanpa ragu-ragu dalam Allah, dan percaya bahwa kita telah menerima apa yang kita minta maka kita akan menerimanya. Kita harus berdoa menurut kehendak Allah bagi penggenapan ekonomi-Nya. Dengan demikian, kita satu dengan Allah dan adalah orang yang tepat dalam pandangan Allah. Kemudian, kita akan mempunyai jaminan bahwa kita telah menerima apa yang kita doakan.
Kesaksian kedua adalah mengenai pengalaman saya terhadap Tuhan pada tahun 1943, yang merupakan tahun genting peperangan antara Cina dan Jepang. Saya sangat tertekan dengan polisi Jepang yang menduduki kota saya. Suatu malam, saya bermimpi, dalam mimpi itu Tuhan meyakinkan saya bahwa saya tidak akan dilukai oleh mereka. Dalam mimpi itu saya sedang berjalan dan sampai pada lereng curam dengan empat anak tangga. Setelah saya menginjak tangga yang menurun, seekor anjing gembala Jerman melompat dan meletakkan cakarnya pada diri saya, tetapi anjing itu tidak menyakiti saya. Ketika semua itu berhenti mengganggu saya, saya melihat fajar menyingsing seperti fajar di pagi hari, dengan jalan raya yang besar, sangat cerah dan lurus. Setelah bangun, saya menyadari bahwa ini bukan mimpi biasa.
Pada saat saya sedang mempertimbangkan mimpi ini, saya menerima penafsirannya. Empat anak tangga itu adalah perang empat tahun yang lalu, suatu perang yang sangat menyedihkan di Cina. Peperangan antara Jepang dengan Cina itu berlangsung delapan tahun, dan empat tahun yang terakhir, setelah Amerika terlibat, perang menjadi lebih hebat. Polisi militer menangkap saya, tetapi sebelum mereka melakukannya saya telah bermimpi. Saya menyadari bahwa anjing gembala Jerman itu menandakan orang-orang Jepang yang mengganggu saya tetapi pada akhirnya tidak melakukan sesuatu yang buruk terhadap saya. Setelah semua masalah ini ada jalan lebar yang bersinar di bawah fajar yang menyingsing. Saya kemudian tahu bahwa setelah masalah dengan orang-orang Jepang, Tuhan akan membawa saya ke jalan besar yang demikian.
Saya mempunyai mimpi ini lima puluh tiga tahun yang lalu, ketika saya baru berumur tiga puluh sembilan tahun, di tahun 1943. Setelah tahun 1943, karena di penjara oleh orang-orang Jepang, saya sakit TBC. Dokter menyuruh saya untuk istirahat total di ranjang selama enam bulan. Pada Oktober 1944, saya meninggalkan Chefoo dan pergi ke Tsingtao untuk beristirahat lagi selama satu setengah tahun sampai tahun 1945 saat tentara Jepang menyerah. Setelah perang, saudara-saudara di Shanghai dan Nanking menyuruh saya untuk mengunjungi gereja-gereja. Pada tahun 1948 situasi politik di Cina berubah dan saudara Nee membuat keputusan untuk mengirim saya keluar. Saya pergi ke Taiwan pada tahun 1949 untuk melayankan (minister) Kristus bagi pendirian dan pembangunan gereja-gereja di sana. Pada akhirnya, saya datang ke Amerika Serikat dan mulai menunaikan ministri saya di sini bagi pemulihan Tuhan di tahun 1962. Saya tidak pernah bermimpi bahwa saya akan ada di sini. Hari ini, seluruh bumi terbuka bagi pemulihan. Sepanjang hidup saya dalam kehidupan gereja, saya tidak pernah melihat keharmonisan yang demikian di antara gereja-gereja, di antara para penatua, dan di antara para sekerja seperti hari ini. Oleh rahmat dan anugerah-Nya, kita dapat memegahkan diri karena hari ini di seluruh bumi, semua gereja, para sekerja, dan para penatua ada dalam keharmonisan. Setiap tanda adalah suatu dorongan. Setiap laporan begitu indah. Tuhan sedang bekerja di mana-mana. Pintu yang terbuka bagi pemulihan Tuhan adalah pekerjaan-Nya. Untuk pergerakan ini, saya telah berdoa dalam perhentian, percaya bahwa saya memiliki apa yang saya minta.
Jika kita minta kepada Tuhan perkara-perkara yang memuaskan keinginan kita, kita tidak akan menerima apa-apa. Ini dikarenakan doa kita tidak menurut kehendak Allah bagi penggenapan ekonomi Allah, dan kita bukan persona yang tepat. Pertama, kita haruslah seorang yang benar, mutlak satu dengan Allah. Suatu malam, saat saya dipenjarakan oleh orang-orang Jepang selama tiga puluh hari, saya menengadah kepada Tuhan dan berkata, "Tuhan, Engkau tahu mengapa saya ada di sini." Pada saat itu, kelihatannya seolah-olah Tuhan berada tepat di depan saya. Saya memiliki keyakinan penuh untuk berkata kepada Tuhan, "Tuhan, saya di penjara demi Engkau." Pertama-tama, kita harus menjadi orang yang benar di hadapan Allah, orang-orang yang bersatu dengan Allah. Kemudian, kita dapat memiliki Allah sebagai iman kita dan berdoa menurut pengenalan kita terhadap kehendak Allah bagi penggenapan ekonomi-Nya. Jika kita berdoa untuk sesuatu menurut keinginan kita, bukan menurut kehendak Allah, melainkan untuk menggenapkan tujuan kita, dan bukan untuk meng-genapkan ekonomi Allah, kita tidak akan pernah memiliki iman dalam Allah untuk percaya bahwa kita telah menerima apa yang kita minta.
K. Mengajar Mereka Bagaimana Melarikan Diri dengan Doa
Dalam nubuat bahwa bangsa Israel yang kembali di masa yang akan datang akan menderita malapetaka besar, manusia Allah pertama mengajar mereka bagaimana melarikan diri dengan doa (Mat. 24:15-22). Menurut ekonomi Allah, Ia menolak bangsa Israel, tetapi Ia tidak akan menolak mereka untuk selama-lamanya. Ini hanyalah perkara sementara. Tuhan Yesus memberi tahu para pemimpin Israel dalam Matius 21 bahwa Allah akan menolak mereka. Kemudian dalam Matius 24 Tuhan bernubuat bahwa bangsa Israel yang terpencar, pada akhirnya akan kembali ke tanah kudus mereka. Tetapi pada akhir zaman ini, karena Antikristus, malapetaka yang besar (Mat. 24:21) akan terjadi di tanah kudus sehingga bangsa Israel akan menderita. Tuhan menyuruh mereka untuk berdoa, meminta Allah untuk menyelamatkan mereka.
1. Supaya Saat Mereka Melarikan Diri Itu
Tidak Jatuh Pada Musim Dingin atau Hari Sabat
Tuhan menyuruh mereka untuk minta kepada Tuhan supaya waktu melarikan diri itu tidak jatuh pada musim dingin atau pada hari Sabat (Mat. 24:20). Musim dingin itu membuat saat melarikan diri menjadi sulit. Demikian juga, pada hari Sabat seseorang hanya diijinkan menempuh jarak pendek (Lihat Kis. 1:12, catatan 2), jarak yang tidak bisa digunakan untuk melarikan diri.
2. Percaya bahwa Allah adalah Yang Mengendalikan
Mereka harus percaya bahwa Allah adalah yang mengendalikan musim dan keadaan sekeliling. Berdoa agar saat mereka melarikan diri itu tidak terjadi pada musim dingin dan pada hari Sabat berarti meminta kepada Allah untuk mengatur keadaan sekeliling mereka. Ketika kita meminta Allah untuk melakukan sesuatu, kita harus menjadi orang-orang yang tepat, orang-orang bagi ekonomi Allah di bumi. Kita juga harus menjadi satu dengan Allah sehingga kita dapat percaya bahwa Allah yang kepada-Nya kita berdoa mengendalikan musim dan peraturan-peraturan dalam situasi dunia.
L. Doa-Nya di Taman Getsemani
Dalam doa-Nya di taman Getsemani sebelum Ia ditangkap, dihakimi, dan divonis untuk disalibkan, Ia berdoa dan mengajar murid-murid-Nya untuk belajar dari-Nya bagaimana berdoa (Mat. 26:20-30, 36-46).
1. Mengajar Murid-murid-Nya Bagaimana Mengenang-Nya
Setelah hari Raya Paskah, Ia mengajar murid-murid-Nya bagaimana mengenang-Nya melalui memecahkan roti dan minum dari cawan (ayat 20, 26-29). Pertama-tama, Ia makan domba paskah menurut Perjanjian Lama. Kemudian, pada akhir perayaan, Ia mendirikan meja Tuhan untuk mengenang-Nya melalui memecahkan roti dan minum dari cawan.
2. Berbeban untuk Pergi Ke Taman Getsemani
Ia berbeban untuk pergi ke Getsemani, tempat yang sunyi, di malam larut bersama dengan murid-murid-Nya, untuk berdoa (ayat 30, 36).
3. Sangat Sedih dan Gentar
Ia membawa Petrus, Yohanes, dan Yakobus serta-Nya. Maka mulailah Ia merasa benar-benar sedih dan gentar, berkata kepada mereka, "Hati-ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya," dan menyuruh mereka untuk tinggal di sana dan berjaga-jaga dengan-Nya (ayat 37-38). Ia sedih bahkan peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang menetes ke tanah (Luk. 22:44), karena Ia menyadari makna sesungguhnya dari amanat besar yang diemban-Nya untuk mati demi perampungan penebusan Allah bagi umat Allah yang jatuh. Beban ini terlalu besar. Kita tidak boleh lupa bahwa Ia adalah seorang manusia. Disalibkan di atas salib adalah penderitaan yang sejati. Ia juga tahu bahwa Yudas, si pengkhianat, akan membawa orang-orang untuk menangkap-Nya. Dalam keinsanian-Nya, Ia sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Ia membawa murid-murid ke Taman Getsemani untuk berdoa. Ketika mereka tiba, Ia membawa Petrus, Yohanes, dan Yakobus, ketiga orang yang akrab ini serta-Nya. Hal ini menunjukkan seberapa jauh kita dapat mengikuti Tuhan tergantung pada hubungan kita dengan-Nya. Kemudian, Tuhan bahkan meninggalkan ketiganya untuk berdoa.
Ia maju sedikit, lalu sujud, dan berdoa, kata-Nya "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari hadapan-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki" (Mat. 26:39). Cawan ini mengacu kepada kematian-Nya di atas salib. Dalam keinsanian-Nya, Ia begitu taat dalam penderitaan-Nya. Dalam keinsanian-Nya, penderitaan yang seperti itu hampir tidak dapat ditanggungnya, namun Ia berdoa untuk kehendak Bapa, bukan kehendak-Nya, agar kehendak Bapa terlaksana. Lalu Ia pergi untuk kedua kalinya dan berdoa, kata-Nya, "Ya Bapa-Ku, jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu" (ayat 42). Ia membiarkan mereka di situ lalu pergi dan berdoa untuk ketiga kalinya, dan mengucapkan doa yang itu juga (ayat 44). Filipi 2 mengatakan bahwa Ia taat bahkan sampai mati, dan kematian itu adalah kematian di atas salib (ayat 8).
4. Meminta Allah untuk Menyelamatkan-Nya dari Maut
Di sini doa manusia Allah pertama, seperti semua doa-Nya dalam Injil Sinoptis, diucapkan oleh-Nya dalam keinsanian-Nya; doa di sini dibuat oleh-Nya ketika Ia sangat sedih dan gentar, cocok dengan yang ada dalam tulisan Paulus di Ibrani 5:7, di sana Ia mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut. Ia berdoa dalam keadaan semacam ini, tetapi Ia masih patuh dan taat kepada Bapa. Kita perlu melihat bahwa Tuhan berdoa secara demikian dalam keinsanian-Nya. Dalam keinsanian itu, Ia terganggu. Dalam Yohanes 10, Ia adalah Gembala yang baik yang menyerahkan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya. Ia bersedia melakukan hal itu dalam keilahian-Nya. Tetapi dalam keinsanian-Nya, Ia sangat menderita.
5. Doa dalam Taman Getsemani Terjadi Setelah Doa-Nya dalam Yohanes 17
Doa Tuhan dalam taman Getsemani terjadi setelah doa Kristus dalam Yohanes 17 sebagai kesimpulan dari ajaran ilahi-Nya dalam Yohanes 14-16 mengenai keesaan, perbauran, dan penggabungan Allah Tritunggal yang melalui proses dan rampung dengan umat pilihan dan tebusan-Nya, doa ini diucapkan dalam keilahian Kristus. Kita harus membedakan antara doa Tuhan dalam keinsanian-Nya dengan doa-Nya dalam keilahian-Nya. Semua doa dalam ketiga kitab Injil yang pertama diucapkan oleh Kristus dalam keinsanian-Nya. Hanya doa dalam Injil Yohanes yang diucapkan oleh Kristus dalam keilahian-Nya. Ini dikarenakan ketiga kitab Injil yang pertama berkaitan dengan keinsanian Kristus sebagai Raja, Budak, dan Manusia, tetapi kitab Yohanes adalah mengenai Kristus sebagai Allah. Jadi, apa pun yang dilakukan-Nya dalam kitab Yohanes dilakukan oleh-Nya dalam keilahian-Nya. Dalam Injil Yohanes Tuhan berkata, "Aku dan Bapa adalah satu" (10:30). Perkataan yang demikian tidak tercatat dalam ketiga kitab Injil yang pertama. Kemudian, Ia berkata bahwa sebagai Yang diutus, Ia tidak sendirian, karena sang Pengutus, Bapa-Nya menyertai-Nya sepanjang waktu dalam keilahian-Nya (16:32; 8:16, 29). Kami akan membahas doa Tuhan dalam Yohanes 17 dalam pengkajian kristalisasi Injil Yohanes, dalam latihan musim panas mendatang.