← Daftar isi Kehidupan Manusia Allah · bab 17/17

KEHIDUPAN MANUSIA ALLAH PERTAMA SEORANG PENDOA (8)

Pembacaan Alkitab:

Mat. 26:20-30, 36-46; Luk. 23:33-34; Mat. 27:46; Luk. 23:46

GARIS BESAR

II. Fakta-fakta ilahi dalam kehidupan insani yang mistikal dari manusia Allah pertama dalam catatan Injil Sinoptis mengenai manusia Allah pertama sebagai Raja Penyelamat dalam kerajaan surga, Budak Penyelamat dalam pelayanan Injil Allah, dan manusia Penyelamat dalam keselamatan Allah:

L. Dalam doa-Nya di taman Getsemani sebelum Ia ditangkap, dihakimi, dan divonis untuk disalibkan, Ia berdoa dan mengajar murid-murid-Nya untuk belajar dari-Nya bagaimana berdoa -- Mat. 26:20-30, 36-46:

6. Ia mengajar murid-murid-Nya bagaimana berjaga-jaga dan berdoa:

a. Ia kembali kepada murid-murid-Nya dan mendapati mereka sedang tidur. Ia berkata kepada Petrus, "Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku? Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang berniat baik, tetapi tabiat manusia lemah" -- ayat 40-41.

b. Dan ketika Ia kembali pula, Ia mendapati mereka sedang tidur, sebab mata mereka sudah berat -- ayat 43.

c. Ia datang kepada murid-murid-N untuk ketiga kalinya dan berkata kepada mereka, "Masihkah kamu tidur dan beristirahat? Lihat, saatnya sudah tiba, bahwa Anak Manusia diserahkan ke tangan orang-orang berdosa. Bangunlah, marilah kita pergi. Dia yang menyerahkan Aku sudah dekat" -- ayat 45-46.

1) Tuhan membawa Petrus, Yohanes, dan Yakobus yang lebih dekat dan akrab dengan-Nya (lihat Mat. 17:1), terpisah dari murid-murid yang lain secara khusus dan menyuruh mereka untuk berjaga-jaga dengan-Nya -- ayat 37-38.

2) Mereka tidak melaksanakan perkataan Tuhan, karena dalam daging, mereka lemah; meskipun dalam roh, mereka bersedia melakukannya -- ayat 40-41.

3) Ini menunjukkan kepada kita alasan mengapa kita tidak bisa berjaga-jaga bersama Tuhan dalam doa kita.

M. Di atas salib, Kristus berdoa tiga kali:

1. Yang pertama, Ia berdoa untuk orang-orang yang menyalibkan-Nya -- Luk. 23:33-34.

a. Ini dinubuatkan oleh Yesaya (53:12).

b. Ini menunjukkan bahwa manusia Allah pertama sebagai manusia yang murni memiliki roh untuk mengampuni penentang-penentang-Nya sesuai dengan doa yang Ia ajarkan kepada kita dalam Matius 6:12, 14-15.

c. Ia melakukan hal ini dalam keinsanian-Nya dengan kuasa ilahi dari Roh yang kekal -- Ibr. 9:14.

2. Yang kedua, ia berdoa kepada Allah, berkata, "Allah-Ku Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?" -- Mat. 27:46:

a. Ketersaliban Tuhan berlangsung selama enam jam, dari jam 9:00 pagi sampai jam 15:00 sore (Mrk. 15:25; Mat. 27:45). Dalam tiga jam pertama, Ia dianiaya oleh manusia untuk melakukan kehendak Allah; dalam tiga jam terakhir, Ia dihakimi oleh Allah untuk dosa-dosa kita (1 Kor. 15:3).

b. Dalam tiga jam terakhir dari ketersaliban-Nya, Allah telah menimpakan kepada-Nya kejahatan kita sekalian (Yes. 53:6) dan membuat-Nya menjadi dosa karena kita (2 Kor. 5:21), karena itu pada saat ini Allah meninggalkan Dia.

c. Doa Kristus di sini kelihatannya bertentangan dengan perkataan-Nya yang mengatakan bahwa Allah Bapa menyertai-Nya ketika Ia berada di bumi (Yoh. 8:16, 29; 16:32).

d. Hal ini disebabkan sudut pandang yang berbeda antara Injil Sinoptis dengan Injil Yohanes. Sudut pandang Injil Sinoptis bersifat fisik, mengenai Kristus dalam daging-Nya, yaitu dalam keinsanian-Nya; sedangkan sudut pandang Injil Yohanes bersifat mistikal mengenai Kristus dalam keilahian-Nya.

e. Menurut catatan Yohanes dalam sudut pandang mistikal mengenai Kristus dalam keilahian-Nya, Allah Bapa bersama Dia dan Roh sebagai Allah Tritunggal selalu satu secara esensial, serentak ada (coexisting), dan bahkan saling huni (coinhering), inilah yang disebut Trinitas secara esensial; sedangkan menurut catatan Injil Sinoptis dengan sudut pandang fisik mengenai Kristus dalam keinsanian-Nya, Allah Bapa meninggalkan-Nya secara ekonomikal ketika Ia dijadikan berdosa karena kita di atas salib, inilah yang disebut Trinitas secara ekonomikal.

f. Satu Petrus 3:18 mewahyukan kepada kita bahwa ketika Kristus menderita untuk dosa-dosa kita, di satu pihak, Ia disalibkan dalam daging-Nya (dalam keinsanian-Nya), tetapi di pihak lain, Ia dijadikan hidup dalam Roh (dalam keilahian-Nya). Ini membuktikan adanya dua sudut pandang yang berbeda mengenai Kristus: yang pertama adalah menurut keinsanian-Nya dan yang kedua adalah menurut keilahian-Nya.

g. Ia mengusir setan-setan dalam keinsanian-Nya oleh Roh Allah (Mat. 12:28), dan ia mengadakan mujizat pemberian makan lima ribu orang dan pemberian makan empat ribu orang dalam keinsanian-Nya oleh Berkat Bapa; semua ini membuktikan bahwa apa yang dilakukan Kristus dalam Injil Sinoptis adalah dalam keinsanian-Nya dengan keilahian-Nya.

h. Dalam keinsanian-Nya itulah Ia berdoa kepada Bapa dengan sedih dan gentar (Mat. 26:37-38), meneteskan keringat seperti titik-titik darah (Luk. 22:44), dan bahkan memohon dengan ratap tangis agar Allah menyelamatkan-Nya dari maut (Ibr. 5:7). Pada saat itu, Ia perlu seorang malaikat untuk menguatkan-Nya (Luk. 22:43), tidak perlu lagi dikatakan bahwa Ia memerlukan Roh untuk mendukung-Nya (Ibr. 9:14).

3. Yang ketiga, Ia berseru dengan suara nyaring sebelum Ia menyerahkan nyawa-Nya, ber-kata, "Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku" -- Luk. 23:46:

a. Ini memberi tahu kita bahwa manusia Allah pertama sebagai seorang manusia murni bersandar kepada Allah sampai akhir hidup-Nya.

b. Tentu saja, doa Kristus yang semacam itu diucapkan oleh-Nya dalam keinsanian-Nya.

Banyak pembaca Alkitab merasa bahwa dalam mempelajari keempat kitab Injil, hal yang paling mudah dipelajari adalah doa Kristus. Konsep ini salah. Doa dalam Matius, seperti yang telah kita lihat, sulit untuk dimengerti. Semuanya itu menunjukkan kepada kita bagaimana berdoa menurut kehendak Allah bagi perampungan ekonomi Allah.

Dalam berita ini, kita akan menyimpulkan persekutuan kita mengenai kehidupan manusia Allah, khususnya mengenai Kristus sebagai seorang pendoa. Selain itu, kita ingin membahas doa Tuhan di atas salib saat Ia mengatakan, "Allah-Ku, Allah-Ku mengapa Engkau meninggalkan Aku?" (Mat. 27:46). Sulit untuk mencocokkan bagian Firman ini dengan apa yang dikatakan Tuhan dalam Yohanes mengenai Allah Bapa yang selalu menyertai-Nya sebagai Yang diutus Allah (16:32; 8;16, 29). Allah Bapa menyertai Dia sepanjang waktu, tetapi ketika Ia sedang mati di kayu salib, Ia berseru, "Allah-Ku Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?" Kita perlu melihat bagaimana mencocokkan kedua bagian Firman ini.

Kami ingin menekankan bahwa kami masih bersekutu mengenai fakta-fakta ilahi dalam kehidupan insani yang mistikal dari manusia Allah pertama. Makna roti pada meja Tuhan ada dua aspek. Yang satu adalah aspek fisik, dan yang lain adalah aspek mistikal. Di satu pihak, roti menandakan tubuh fisik Tuhan yang terdiri atas darah dan daging, yang Ia berikan kepada kita untuk mati di atas salib bagi kita dan bagi dosa-dosa kita. Selain itu, roti itu juga menandakan Tubuh mistikal Kristus. Tubuh fisik bersifat yuridis. Tubuh mistikal bersifat organik. Kita adalah Tubuh Kristus yang mistikal. Kita telah dibaptis dalam satu Roh ke dalam satu Tubuh ini (1 Kor. 12:13), dan Allah telah menempatkan kita dan membaurkan kita bersama dalam satu Tubuh mistikal ini (ayat 18, 24).

Sudut pandang yang demikian hanya dapat dimiliki oleh orang-orang Kristen yang menuntut. Seperti Tuhan Yesus, kita perlu menjadi orang-orang yang kelihatannya bersifat fisik, namun mistikal secara tidak terlihat. Semua pendoa yang murni, pendoa-pendoa sejati, yang mengucapkan doa yang terhitung di hadapan Allah, adalah fakta-fakta ilahi dari kehidupan insani yang mistikal. Kita telah melihat bahwa sebelum Tuhan memberi makan lima ribu orang, Ia berdoa dengan menengadah kepada Bapa-Nya (Mat. 14:19). Ini adalah sesuatu yang ilahi, diadakan dalam kehidupan insani yang mistikal.

6. Mengajar Murid-murid-Nya Bagaimana Berjaga-jaga dan Berdoa

Sekarang, kita ingin menyimpulkan persekutuan kita dari berita-berita sebelumnya mengenai doa Tuhan di taman Getsemani, di sana Ia mengajar murid-murid-Nya untuk belajar dari Dia bagaimana berdoa (Mat. 26:20-30, 36-46).

a. Roh Mau tetapi Daging Lemah

Dalam taman Getsemani, Tuhan datang kepada murid-murid-Nya dan mendapati mereka sedang tidur. Ia berkata kepada Petrus, "Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku? Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang berniat baik, tetapi tabiat manusia lemah" (ayat 40-41). Berjaga-jaga dan berdoa adalah prinsip yang sangat kuat dalam kehidupan kristiani karena si pencoba, Satan, selalu berada di sekitar kita. Semakin kita mengasihi Tuhan, si pencoba semakin menaruh perhatian kepada kita. Begitu kita berpaling kepada Tuhan untuk mengasihi Dia, Satan tidak akan berhenti mencoba untuk menggangu kita. Dalam alam semesta, ada peperangan dan perjuangan antara Allah dan Satan.

Saya percaya bahwa Tuhan memberi tahu murid-murid-Nya untuk berjaga-jaga dan berdoa juga adalah peringatan-Nya kepada Petrus. Pada akhirnya, Petrus masuk ke dalam pencobaan Satan di malam itu juga. Ia menyangkal Tuhan di depan Tuhan tiga kali. Tentu saja, pada saat itu ia tidak berjaga-jaga dan berdoa. Pada malam itu juga, Petrus masuk ke dalam pencobaan dikarenakan ia tidak berjaga-jaga dan berdoa.

Ada prinsip lain dari kaum beriman yang menuntut Kristus. Prinsip ini adalah roh mereka yang selalu mau sepanjang waktu tetapi daging mereka lemah. Prinsip ini bukan hanya terjadi dalam doa tetapi juga dalam seluruh kehidupan orang yang mencari Kristus. Roh kita ingin menjadi seorang pemenang, tetapi daging kita lemah. Kita memiliki keinginan dalam roh kita, tetapi kita tidak mempunyai kekuatan dalam daging kita. Itulah sebabnya kita tidak boleh bersandar pada daging, tetapi memperhatikan roh kita.

b. Mendapati Murid-murid sedang Tidur

Dan ketika Ia kembali pula, Ia mendapati mereka sedang tidur, sebab mata mereka sudah berat (ayat 43).

c. Alasan Mengapa Kita Tidak Bisa Berjaga-jaga dengan Tuhan dalam Doa

Tuhan datang kepada murid-murid-Nya untuk ketiga kalinya dan berkata kepada mereka, "Masihkah kamu tidur dan beristirahat? Lihat, saatnya sudah tiba, bahwa Anak Manusia diserahkan ke tangan orang-orang berdosa. Bangunlah, marilah kita pergi. Dia yang menyerahkan Aku sudah mendekat" (ayat 45-46). Ketika murid-murid sedang tidur, Tuhan sedang berperang dalam doa-Nya, bahkan sampai tingkat meneteskan keringat seperti titik-titik darah (Luk. 22:44).

Tuhan membawa Petrus, Yohanes, dan Yakobus yang lebih dekat dan akrab dengan-Nya (lihat Mat. 17:1), terpisah dari murid-murid yang lain secara khusus dan menyuruh mereka untuk berjaga-jaga dengan-Nya (26:37-38). Mereka tidak melaksanakan perkataan Tuhan, karena mereka lemah dalam daging mereka walaupun mereka kuat di dalam roh mereka (ayat 40-41). Hal ini juga menunjukkan kepada kita alasan mengapa kita tidak bisa berjaga-jaga dengan Tuhan dalam doa kita. Roh kita kuat, tetapi kita mempunyai masalah dengan daging kita, yang meliputi diri (ego) kita.

M. Kristus Berdoa Tiga Kali di atas Kayu Salib

1. Berdoa untuk Orang-orang yang Menyalibkan-Nya

Di atas salib, Kristus berdoa tiga kali. Yang pertama, Ia berdoa untuk orang-orang yang menyalibkan-Nya (Luk. 23:33-34). Ketika para penganiaya menyalibkan-Nya, Ia menyuruh Bapa untuk mengampuni mereka karena mereka tidak tahu apa yang sedang mereka lakukan. Ini dinubuatkan oleh Yesaya (53:12). Ini menunjukkan bahwa manusia Allah pertama sebagai manusia yang murni memiliki roh untuk mengampuni penentang-penentang-Nya sesuai de-ngan doa yang Ia ajarkan kepada kita dalam Matius 6:12, 14-15. Tuhan mengajar bahwa jika kita tidak mengampuni orang-orang yang bersalah kepada kita, ini akan membuat doa kita tidak berkhasiat. Agar doa kita dijawab, kita harus mengampuni orang-orang yang bersalah kepada kita.

Kristus berdoa dalam keinsanian-Nya dengan kuat kuasa ilahi dari Roh yang kekal, meminta kepada Bapa untuk mengampuni orang-orang yang menyalibkan-Nya. Ibrani 9:14 mengatakan bahwa Ia mempersembahkan diri-Nya dengan Roh yang kekal. Bagi Dia, sama seperti seorang manusia, dipersembahkan kepada Allah sebagai korban bakaran dan sebagai korban penghapus dosa di atas salib bukanlah perkara yang mudah, karena itu Ia memerlukan Roh yang kekal untuk menopang-Nya. Berdoa untuk pengampunan orang-orang yang menyalibkan-Nya bukanlah hal yang mudah, tetapi Ia melakukannya dalam keinsanian-Nya dengan kuat kuasa ilahi. Ini adalah fakta ilahi yang terjadi dalam kehidupan insani-namun bukan dalam kehidupan insani secara fisik, tetapi kehidupan insani yang mistikal-dengan kuat kuasa ilahi dari Roh yang kekal.

2. Berdoa, "Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?"

Yang kedua, ia berdoa kepada Allah, berkata, "Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?" (Mat. 27:46).

a. Dianiaya oleh Manusia dan Dihakimi oleh Allah

Ketersaliban Tuhan berlangsung selama enam jam, dari jam 9:00 pagi sampai jam 15:00 sore (Mrk. 15:25; Mat. 27:45). Dalam tiga jam pertama, Ia dianiaya oleh manusia untuk melakukan kehendak Allah; dalam tiga jam terakhir, Ia dihakimi oleh Allah untuk dosa-dosa kita (1 Kor. 15:3).

b. Menimpakan Kejahatan-kejahatan Kita ke atas-Nya

Dalam tiga jam terakhir dari ketersaliban-Nya, Allah telah menimpakan kepada-Nya kejahatan kita sekalian (Yes. 53:6). Sangat sedikit murid-murid sekolah Alkitab yang telah melihat kedua bagian waktu ini. Manusia menganiaya, menyalibkan, mengejek, dan menghina-Nya pada tiga jam yang pertama dari jam 9:00 pagi sampai tengah hari. Kemudian pada tengah hari, seluruh alam semesta menjadi gelap karena pada saat itulah Allah menghakimi Kristus karena dosa-dosa kita. Alkitab memberi tahu kita bahwa Ia menanggung dosa-dosa kita karena Allah membebankan tanggung jawab itu ke atas-Nya. Allah menimpakan kejahatan kita sekalian ke atas-Nya dan bahkan membuat-Nya menjadi dosa karena kita (2 Kor. 5:21), karena itu pada saat itu Allah meninggalkan Dia. Pada saat itu, Ia menjadi satu-satunya orang berdosa dalam alam semesta. Bahkan Ia sendiri adalah totalitas dosa. Allah membuat-Nya menjadi dosa karena kita, walaupun Ia sendiri tidak berbuat dosa. Bahkan Ia tidak mengenal apa itu dosa.

c. Doa Kristus Di sini Kelihatan-Nya Bertentangan dengan Perkataan-Nya

bahwa Allah Bapa Menyertai-Nya

Doa Kristus di sini kelihatannya bertentangan dengan perkataan-Nya yang mengatakan bahwa Allah Bapa menyertai-Nya ketika Ia berada di bumi (Yoh. 8:16, 29; 16:32).

d. Dikarenakan Sudut Pandang yang Berbeda Antara Injil Sinoptis dengan Injil Yohanes

Hal ini disebabkan sudut pandang yang berbeda antara Injil Sinoptis dengan Injil Yohanes. Sudut pandang Injil Sinoptis bersifat fisik, mengenai Kristus dalam daging-Nya, yaitu dalam keinsanian-Nya. Ketiga kitab Injil yang pertama-Matius, Markus, dan Lukas-ditulis dengan sudut pandang fisik mengenai Kristus dalam keinsanian-Nya, sebagai seorang Raja dalam kitab Matius, seorang Budak dalam kitab Markus, dan seorang Insan Penyelamat dalam kitab Lukas. Tetapi sudut pandang Injil Yohanes itu mistikal, mengenai Kristus dalam keilahian-Nya. Hanya Injil Yohanes yang ditulis dengan sudut pandang Kristus sebagai Allah.

e. Aspek Esensial dan Aspek Ekonomikal dari Trinitas

Menurut catatan Yohanes dalam sudut pandang mistikal mengenai Kristus dalam keilahian-Nya, Allah Bapa bersama Dia dan Roh sebagai Allah Tritunggal selalu satu secara esensial, serentak ada (coexisting), dan bahkan saling huni (coinhering). Saling huni adalah tinggal di dalam satu sama lain. Ketiganya dari ke-Allahan itu saling huni, berbaur, dan bergabung menjadi satu. Inilah yang disebut Trinitas secara esensial. Tetapi menurut catatan Injil Sinoptis dengan sudut pandang fisik mengenai Kristus dalam keinsanian-Nya, Allah Bapa meninggalkan-Nya secara ekonomikal ketika Ia dijadikan berdosa karena kita di atas salib, inilah yang disebut Trinitas secara ekonimikal.

Trinitas secara esensial adalah menurut esens Allah. Trinitas secara ekonomikal adalah menurut pergerakan Allah. Yohanes 14 mengatakan bahwa Bapa berada dalam Putra dan Putra berada dalam Bapa. Keduanya adalah satu. Pada akhirnya, Mereka bekerja untuk membawa kita ke dalam Mereka, yaitu ke dalam keesaan, perbaruan, dan penggabungan dengan Allah Tritunggal. Yohanes mewahyukan bahwa kita telah disatukan dengan, dibaurkan dengan, dan bahkan digabungkan ke dalam Allah Tritunggal. Tetapi dalam Matius dan Lukas, Injil Sinoptis, ketika Kristus dibaptis, Ia berdiri dalam air di bumi dan berdoa. Pada saat itu, Allah Bapa berbicara dari surga, dan Allah Roh melayang di udara (Mat. 3:16-17; Luk. 3:21-22). Ketiganya dari Trinitas ilahi ada di tiga tempat yang berbeda. Bapa ada di surga; Putra ada di bumi; dan Roh itu melayang di udara. Meskipun secara ekonomikal, Mereka terpisah, Mereka masih satu secara esensial.

f. Disalibkan dalam Daging dan Dihidupkan dalam Roh

Satu Petrus 3:18 mewahyukan kepada kita bahwa ketika Kristus menderita untuk dosa-dosa kita, di satu pihak, Ia disalibkan dalam daging-Nya (dalam keinsanian-Nya), tetapi di pihak lain, Ia dijadikan hidup dalam Roh (dalam keilahian-Nya). Ini membuktikan adanya dua sudut pandang yang berbeda mengenai Kristus: yang pertama adalah menurut keinsanian-Nya dan yang kedua adalah menurut keilahian-Nya. Ia adalah Allah pun manusia, memiliki sifat ilahi, keilahian, dan sifat insani, keinsanian. Ketika Ia tersalib sampai mati, Ia tidak mati dalam keilahian-Nya, tetapi Ia dibunuh dalan keinsanian-Nya untuk dosa-dosa kita. Sementara itu, Ia bekerja dalam keilahian-Nya. Dalam sudut pandang fisik mengenai Kristus dalam keinsanian-Nya, Ia dibunuh. Dalam sudut pandang mistikal mengenai Kristus dalam keilahian-Nya, Ia dikuatkan dengan hayat.

g. Apa yang Dilakukan Kristus dalam Injil Sinoptis adalah

dalam Keinsanian-Nya dengan Keilahian-Nya

Ia mengusir setan-setan dalam keinsanian-Nya oleh Roh Allah (Mat. 12:28), dan ia mengadakan mujizat pemberian makan lima ribu orang dan pemberian makan empat ribu orang dalam keinsanian-Nya oleh berkat Bapa; semua ini membuktikan bahwa apa yang dilakukan Kristus dalam Injil Sinoptis adalah dalam keinsanian-Nya dengan keilahian-Nya.

h. Berdoa dalam Keinsanian-Nya dan Perlu Roh untuk

Mendukung-Nya bahkan Malaikat Menguatkan-Nya

Dalam keinsanian-Nya itulah Ia berdoa kepada Bapa dengan sangat sedih dan gentar (Mat. 26:37-38), meneteskan keringat seperti titik-titik darah (Luk. 22:44), dan bahkan memohon dengan ratap tangis, agar Allah menyelamatkan-Nya dari maut (Ibr. 5:7). Pada saat itu, Ia perlu seorang malaikat untuk menguatkan-Nya (Luk. 22:43), tidak perlu lagi dikatakan bahwa Ia memerlukan Roh untuk mendukung-Nya (Ibr. 9:14). Sebagai seorang manusia, Ia mempersembahkan diri-Nya dalam keinsanian-Nya kepada Allah, sehingga Ia memerlukan Roh yang kekal untuk menopang-Nya.

3. Menyerahkan Roh-Nya ke dalam Tangan Bapa

Yang ketiga, Ia berseru dengan suara nyaring sebelum Ia menyerahkan nyawa-Nya, berkata, "Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku (Roh-Ku-Tl.)" (Luk. 23:46). Ini memberi tahu kita bahwa manusia Allah pertama sebagai seorang manusia murni bersandar kepada Allah sampai akhir hidup-Nya. Tentu saja, doa Kristus yang semacam itu diucapkan oleh-Nya dalam keinsanian-Nya.

Kita perlu melihat bahwa doa-doa yang diucapkan Kristus dalam Injil Sinoptis dibuat oleh-Nya dalam keinsanian-Nya dengan keilahian-Nya. Tetapi doa-Nya dalam Yohanes 17 bukan diucapkan dalam keinsanian-Nya tetapi dalam keilahian-Nya. Yohanes 17 menunjukkan kepada kita bagaimana Kristus berdoa supaya kaum beriman-Nya mempraktekkan keesaan dari Trinitas Ilahi seperti yang dilakukan oleh Trinitas Ilahi. Ia berdoa agar Bapa membuat kita satu seperti Ia dan Bapa adalah satu. Kita satu di dalam Mereka seperti Mereka adalah satu (ayat 21-23). Inilah keesaan Allah Tritunggal. Kita tidak dapat melaksanakan keesaan ini dalam diri sendiri. Kita harus mempraktekkannya dalam Allah Tritunggal dan menurut apa yang dilakukan Allah Tritunggal.

INKARNASI, INKLUSI, DAN INTENSIFIKASI

BAB

1 2 3 4

PRAKATA

Buku ini disusun dari kumpulan berita yang disampaikan oleh Saudara Witness Lee di Anaheim, California dalam bulan April dan Juni 1996.