KEHIDUPAN MANUSIA ALLAH PERTAMA SEORANG PENDOA (6)
Pembacaan Alkitab: Mat. 15:36-39; 17:19-21; 18:15-22; 19:13-15
GARIS BESAR
II. Fakta-fakta ilahi dalam kehidupan insani yang mistikal dari manusia Allah pertama dalam Injil Sinoptis mengenai manusia Allah pertama sebagai Raja Penyelamat dalam Kerajaan Surga, Budak Penyelamat dalam pelayanan Injil Allah, dan Manusia Penyelamat dalam keselamatan Allah:
F. Saat mengadakan mujizat pemberian makan empat ribu orang dengan tujuh roti dan beberapa ikan kecil (Mat. 15:36-39), Ia melatih murid-murid-Nya sekali lagi untuk mempelajari dari Dia bahwa:
1. Sebelum mengadakan mujizat, Ia mengucapkan syukur (Mat. 15:36), menunjukkan bahwa:
a. Ia menghormati Bapa-Nya sebagai sumber suplai dari kebutuhan-kebutuhan orang banyak, berdiri pada kedudukan sebagai Yang diutus Bapa-Nya.
b. Ia melatih murid-murid-Nya untuk mengucapkan syukur kepada Allah Bapa bagi kebutuhan-kebutuhan mereka dan dalam segala sesuatu (1 Tes. 5:18; Ef. 5:20).
2. Setelah mengadakan mujizat, Ia meninggalkan kerumunan orang banyak dan pergi ke perbatasan Magadan (Mat. 15:39), menunjukkan bahwa Ia tidak tetap tinggal di tengah-tengah hasil dari mujizat itu bersama dengan orang banyak untuk menikmati apresiasi (penghargaan) mereka.
G. Saat menjawab pertanyaan murid-murid-Nya mengenai mengapa mereka tidak bisa mengusir setan (17:19-21), Ia melatih mereka bahwa:
1. Mereka harus berdoa dengan iman -- ayat 20.
2. Mereka juga harus berdoa dengan berpuasa -- ayat 21.
H. Dalam menanggulangi orang yang tidak taat kepada gereja (18:15-22), Ia melatih murid-murid-Nya:
1. Untuk mengikat orang yang tidak taat dengan kuasa surgawi melalui dua atau tiga orang dari mereka berkumpul bersama untuk berdoa bagi orang yang tidak taat itu secara harmonis (sepakat) --ayat 18-20.
2. Untuk mengampuni orang yang berbuat salah (ini mungkin mengacu kepada orang yang tidak taat) sampai tujuh puluh kali tujuh kali -- ayat 21-22.
I. Ketika orang-orang membawa anak-anak mereka kepada-Nya supaya Ia dapat meletakkan tangan-Nya atas mereka dan berdoa, murid-murid-Nya menghardik mereka (19:13-15), Ia melatih mereka:
1. Dengan mengoreksi mereka untuk tidak mencegah anak-anak kecil tetapi membiarkan mereka datang kepada-Nya, menunjukkan bahwa Kerajaan Surga itu adalah milik orang-orang yang demikian -- ayat 14.
2. Dengan meletakkan tangan-Nya ke atas anak-anak kecil ini -- ayat 15.
Kita telah melihat dari Matius 11 kalau Tuhan Yesus memberi tahu kita bahwa kita harus belajar dari Dia (ayat 29). Ia adalah prototipe kita dan juga model kita. Kita harus menjadi reproduksi-Nya dan duplikat-Nya. Ketika Tuhan memberi makan lima ribu orang dengan lima roti dan dua ikan, seperti yang tercatat dalam Matius 14, Ia melakukan hal itu agar murid-murid-Nya belajar dari Dia, bukan hanya supaya mereka melihat mujizat besar. Tuhan Yesus memperhatikan pelajaran hayat.
F. Saat Mengadakan Mujizat Pemberian Makan Empat Ribu Orang
1. Mengucapkan Syukur Sebelum Mengadakan Mujizat
Saat mengadakan mujizat pemberian makan empat ribu orang dengan tujuh roti dan beberapa ikan kecil (Mat. 15:36-39), Ia melatih murid-murid-Nya sekali lagi untuk belajar dari Dia. Ini adalah kali kedua Tuhan memberi makan orang banyak. Kali pertama, pada saat Ia memberi makan lima ribu orang, Ia memberkati roti dan ikan, menengadah ke langit. Berkat-Nya adalah berkat dari Bapa yang di surga. Sebelum memberi makan empat ribu orang, Ia mengucap syukur kepada Allah (ayat 36). Saya percaya bahwa Tuhan melakukan hal ini dengan sengaja untuk melatih murid-murid.
a. Menghormati Bapa-Nya Sebagai Sumber
Ia mengucap syukur menunjukkan bahwa Ia menghormati Bapa-Nya sebagai sumber suplai dari kebutuhan-kebutuhan orang banyak, berdiri pada kedudukan sebagai Yang diutus Bapa-Nya. Hal ini menunjukkan kepada murid-murid-Nya bahwa Bapa-Nya, bukan Dia, adalah sumber dari semua keperluan orang-orang. Jika tidak, orang-orang akan memberikan kemuliaan kepada-Nya, mengira bahwa Ia adalah sumber. Sebagai Yang diutus, Tuhan Yesus mengucap syukur kepada Yang mengutus. Ia berdiri pada kedudukan sebagai Seorang yang diutus oleh Bapa-Nya.
Satan berlawanan dengan Tuhan Yesus. Tuhan Yesus berdiri pada kedudukan-Nya sebagai Yang diutus, bawahan, bukan sumber. Tetapi Satan berontak melawan sumber untuk meninggikan diri sendiri. Hal itu menjadi pemberontakan yang menyebabkan seluruh alam semesta menjadi kacau balau. Bukan hanya manusia yang berperang di bumi ini, menurut Daniel para malaikat juga berperang (10:13, 20). Alkitab dengan jelas menunjukkan kepada kita bahwa ada dua jenis malaikat: malaikat-malaikat baik yang berpihak kepada Allah dan malaikat-malaikat jahat yang mengikuti Satan. Dalam Wahyu 12, Satan itu seperti naga merah padam yang besar yang ekornya menyeret sepertiga dari bintang-bintang di langit (ayat 3-4). Bintang-bintang di langit di sini mengacu kepada malaikat-malaikat (Ayb. 38:7; Yes. 14:12). Sepertiga dari bintang-bintang di langit adalah malaikat-malaikat jatuh yang mengikuti Satan dalam pemberontakannya melawan Allah. Ada perang yang terjadi baik di bumi maupun di surga. Hari ini, bumi penuh dengan pemberontakan dan peperangan. Perserikatan Bangsa-Bangsa mencoba untuk mempertahankan damai sejahtera tetapi mereka tidak bisa melakukannya. Bahkan di dalam gereja terlihat adanya kekacauan, karena itu menurut ajaran Perjanjian Baru, Tuhan Yesus mendirikan satu model untuk mempertahankan urutan yang benar. Ia selalu berdiri di atas kedudukan sebagai Seorang yang diutus Bapa.
Ketika mengadakan mujizat, Ia juga selalu berada dalam status sebagai seorang manusia. Selama tiga setengah tahun dari ministri-Nya di bumi, Ia bertindak sebagai seorang manusia yang taat kepada Allah. Hal ini mempermalukan Satan. Itulah sebabnya Tuhan berkata bahwa di dalam-Nya, Satan tidak mempunyai kuasa apa-apa (Yoh. 14:30b). Satan tidak mempunyai apa-apa di dalam-Nya karena ketaatan-Nya kepada Bapa mengenyahkan Satan. Hari ini dalam pemulihan Tuhan, kita harus belajar bagaimana mempertahankan ketaatan dengan urutan yang tepat di dalam Tubuh. Saudara Watchman Nee sangat menekankan hal ini. Tuhan tidak banyak mengajarkan hal ini, tetapi Ia bertindak tanduk secara demikian untuk melatih murid-murid-Nya. Itulah sebabnya Ia memberi tahu murid-murid-Nya untuk memikul kuk-Nya dan belajar dari Dia. Hari ini, kita harus mengikuti teladan Tuhan. Kita harus menerima Dia sebagai model untuk ditiru, menghormati Bapa sebagai sumber suplai kebutuhan-kebutuhan orang, berdiri pada kedudukan sebagai Yang diutus oleh Bapa-Nya.
b. Melatih Murid-murid-Nya untuk Mengucapkan Syukur kepada Allah Bapa
Ia juga melatih murid-murid-Nya untuk mengucapkan syukur kepada Allah Bapa bagi kebutuhan-kebutuhan mereka dan dalam segala sesuatu. Baik dalam 1 Tesalonika 5:18 maupun dalam Efesus 5:20, Paulus menyuruh kita untuk mengucap syukur kepda Allah dalam segala sesuatu. Ini sangat penting. Kita tidak ingin membuat segala sesuatu itu hanya sebagai formalitas. Walaupun demikian, dalam melakukan segala sesuatu, bahkan perkara-perkara yang biasa, kita harus mengatakan, "Tuhan, aku mengucap syukur karena hal ini. Segala sesuatu yang Engkau ciptakan telah disediakan untuk memenuhi kebutuhanku karena rahmat-Mu dan karena sediaan ilahi-Mu." Kita perlu bersyukur kepada Tuhan untuk semua berkat fisik maupun rohani dari-Nya.
2. Setelah Mengadakan Mujizat, Ia Meninggalkan Kerumunan Orang Banyak
dan Pergi ke Perbatasan Magadan
Setelah memberi makan empat ribu orang, Ia meninggalkan kerumunan orang itu untuk pergi ke gunung yang tinggi dan berdoa seorang diri (15:39), hal ini menunjukkan bahwa Ia tidak tetap tinggal di tengah-tengah hasil dari mujizat itu bersama dengan orang banyak untuk menikmati apresiasi (penghargaan) mereka. Ini adalah teladan bagi kita. Setiap kali kita berbicara dan mempunyai sidang yang baik, kita ingin tinggal bersama orang banyak itu untuk menikmati apresiasi mereka. Itu bersifat daging. Pada pemberian makan yang pertama, Tuhan meninggalkan mereka dan pergi ke bukit seorang diri. Kali berikutnya, Ia meninggalkan apresiasi orang banyak dan pergi ke lokal Magadan.
G. Menjawab Pertanyaan Murid-murid-Nya Mengenai
Mengapa Mereka Tidak Dapat Mengusir Setan
1. Berdoa dengan Iman
Murid-murid tidak sukses ketika mencoba mengusir setan, karena itu mereka bertanya kepada Tuhan mengapa demikian. Saat menjawab pertanyaan mereka, Ia melatih mereka bahwa mereka harus berdoa dengan iman (17:19-21). Pada tahun-tahun pertama di Cina, di tengah-tengah kita ada sejumlah kasus mengusir setan, tetapi akhir-akhir ini tidak lagi. Jika kita mencoba untuk mengusir setan, setan-setan itu akan menghakimi kita. Ketika mereka menghakimi kita, kita dapat kehilangan jaminan kita, menyebabkan kita berdoa tanpa iman. Itulah sebabnya kita perlu memproklamirkan, "Satan, kamu kalah. Kamu adalah musuh yang telah dikalahkan, dan Tuhan Yesus telah menyalibkan kamu di salib. Kami memiliki darah Anak Domba yang menudungi kami dan itu mengalahkan tuduhanmu." Inilah perkataan kesaksian kita yang mengalahkan iblis (lihat Wahyu 12:11 dan catatan 3). Ini memberi kita jaminan untuk berdoa dengan iman.
2. Berdoa dengan Berpuasa
Tuhan juga berkata bahwa kita perlu berdoa dengan berpuasa (Mat. 17:21). Kadang-kadang, setan sangat ngotot berjuang dan tidak mau pergi. Itulah sebabnya kita perlu berdoa dengan iman dan juga disertai puasa. Kedua hal ini-iman dan berpuasa-mengakhiri diri alamiah kita, daging kita. Jika kita dalam daging, kita tidak dapat beriman ataupun berpuasa secara murni. Berdoa dengan iman adalah untuk berhubungan dengan Allah dan diresapi dengan Allah, mengakibatkan kita mempunyai iman dalam Allah untuk memuji Allah, dan berpuasa adalah menanggulangi diri, menanggalkan diri sendiri.
H. Dalam Menanggulangi Orang yang Tidak Taat Kepada Gereja
1. Mengikat Orang yang Tidak Taat dengan Kuasa Surgawi Mereka
Dalam menanggulangi orang yang tidak taat kepada gereja, Tuhan melatih murid-murid-Nya untuk mengikat orang yang tidak taat dengan kuasa surgawi mereka melalui dua atau tiga orang dari mereka berkumpul bersama untuk berdoa bagi orang yang tidak taat itu secara harmonis (sepakat) (18:18-20). Matius 18:15-22 menggambarkan kasus seorang saudara yang pertama-tama tidak taat kepada orang yang ingin menggembalakan dia. Karena ia tidak mau mendengar, orang yang menggembalakan ini membawa satu atau dua orang lain lagi bersamanya. Jika ia masih memberontak, mereka memberitahukannya kepada gereja. Jika ia tidak mendengarkan gereja, ia akan kehilangan persekutuan gereja dan akan menjadi seperti orang kafir dan pemungut cukai, orang-orang yang di luar persekutuan gereja.
Tuhan Yesus memberi tahu murid-murid untuk mengikat pemberontak yang demikian dengan kuasa dari surga. Apa yang kita ikat akan terikat di surga. Khususnya para penatua harus belajar bagaimana mengikat orang-orang yang memberontak. Kita tidak seharusnya mengikat orang-orang secara luaran dengan cara yang bersifat daging. Kita harus mengikat dengan kuasa dari surga melalui dua atau tiga orang yang berkumpul dalam prinsip Tubuh, bukan dengan diri sendiri. Dua atau tiga orang mewakili kerja sama Tubuh.
Dua atau tiga orang ini berkumpul bukan untuk membahas banyak hal tetapi untuk berdoa secara harmonis. Untuk memiliki kuasa surgawi, perlu ada keharmonisan di antara manusia. Berdoa secara harmonis adalah seperti bunyi musik yang selaras. Apa pun yang kita lakukan untuk mengikat pemberontak haruslah seperti musik bagi Allah dan juga bagi musuh, Satan, agar dia dikalahkan. Jika kita beropini dan berselisih dalam batin, iblis mengetahui hati kita. Sulit bagi suami dan istri untuk menjadi harmonis. Bahkan dalam kehidupan gereja, dapat pula terjadi hal yang sama di antara orang-orang kudus. Asalkan penatua tidak harmonis maka jabatan penatua sudah hilang. Mereka tidak akan dapat melaksanakan kuasa Tuhan.
Siapa saja yang tidak harmonis sampai suatu tingkat sehingga ia memberontak dalam kehidupan gereja akan menderita kerugian. Tuhan Yesus mendirikan suatu contoh yang benar-benar mempermalukan Satan, pemberontak besar itu. Dalam alam semesta ada satu orang yang bernama Yesus Kristus yang menyerahkan diri-Nya untuk taat secara mutlak dan terus-menerus kepada Bapa-Nya, berdiri pada kedudukan-Nya sendiri untuk mempertahankan keharmonisan di antara Trinitas.
2. Mengampuni Orang-orang yang Bersalah
Matius 18:21 dan 22 mengatakan,"Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus, 'Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?' Yesus berkata kepadanya: 'Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali." Menurut konteks ayat-ayat ini, orang yang bersalah mungkin adalah orang yang tidak taat dalam ayat sebelumnya. Mungkin saja Petrus merasa tersinggung dengan saudara yang tidak taat. Karena ia kuat dan terang-terangan, Petrus bertanya kepada Tuhan berapa kali ia harus mengampuni saudaranya. Tuhan berkata bahwa jika kita hendak memaafkan saudara yang tidak taat, kita harus memaafkannya tujuh puluh kali tujuh kali, yaitu 490 kali. Mengikat itu mudah; memaafkan itu sulit. Suami dan istri tidak seharusnya saling mengikat satu sama lain, tetapi saling memaafkan. Orang-orang yang menempuh kehidupan Kerajaan Surga tidak merasa tersinggung. Semakin kita hidup dalam kerajaan, kita semakin tidak merasa bahwa ada yang telah menyakiti kita, walaupun mereka telah melakukan banyak kesalahan kepada kita.
I. Orang-orang Membawa Anak-anak Mereka kepada Tuhan
Orang-orang membawa anak-anak mereka kepada Tuhan supaya Ia dapat meletakkan tangan-Nya atas mereka dan berdoa, tetapi murid-murid-Nya menghardik mereka (Mat. 19:13-15).
1. Mengoreksi Murid-murid
Tuhan melatih murid-murid dengan mengoreksi mereka untuk tidak mencegah anak-anak kecil tetapi membiarkan mereka datang kepada-Nya, menunjukkan bahwa Kerajaan Surga itu adalah milik orang-orang yang demikian (ayat 14). Semua umat kerajaan harus seperti anak-anak. Murid-murid menghardik anak-anak yang datang kepada Tuhan menunjukkan kalau mereka merasa bahwa mereka itu matang dan istimewa. Kita seharusnya tidak pernah bangga sedemikan rupa. Kita seharusnya tidak pernah menolak yang lemah, orang-orang yang jatuh, orang-orang yang bersalah dan berpaling, atau orang-orang yang kita rasakan tidak bertumbuh. Dalam melayani Tuhan, kita harus merawat orang-orang yang seperti itu. Dalam Galatia 6 Paulus menyuruh kita untuk memulihkan orang-orang yang ditawan dosa dalam roh yang lemah lembut (ayat 1).
2. Menumpangkan Tangan-Nya ke atas Anak-anak Kecil
Tuhan juga melatih murid-murid untuk menumpangkan tangan-Nya ke atas anak-anak kecil (Mat. 19:15). Berkat Tuhan berada pada tangan-Nya. Ia menumpangkan tangan ke atas anak-anak menunjukkan bahwa Ia tidak pernah menolak siapa saja yang lemah, yang bersalah, atau yang kalah, yang seperti anak-anak. Tuhan tidak pernah melupakan mereka; Ia akan tetap memberi mereka berkat. Semua butir ini sangat mendidik dan menunjukkan kepada kita bagaimana kita menanggulangi orang-orang dan berada di tengah-tengah mereka untuk kepentingan Tuhan.