KEHIDUPAN MANUSIA ALLAH PERTAMA SEORANG PENDOA (5)
Pembacaan Alkitab: Mat. 14:19, 23
GARIS BESAR
II. Fakta-fakta ilahi dalam kehidupan insani yang mistikal dari manusia Allah pertama dalam catatan Injil Sinoptis mengenai manusia Allah pertama sebagai Raja Penyelamat dalam kerajaan surga, Budak Penyelamat dalam pelayanan Injil Allah, dan Manusia Penyelamat dalam keselamatan Allah:
E. Dalam mengadakan mujizat pemberian makan lima ribu orang dengan lima roti dan dua ikan, Ia melatih murid-murid-Nya untuk belajar dari-Nya (Mat. 11:29) bahwa:
1. Sebelum mengadakan mujizat, Ia mengambil lima roti dan dua ikan, menengadah ke langit (menunjukkan bahwa Ia menengadah kepada Bapa-Nya di surga), dan memberkatinya (Mat. 14:19), menunjukkan bahwa:
a. Sebagai Putra di bumi yang diutus oleh Bapa di surga, Ia satu dengan Bapa, bersandar kepada Bapa -- Yoh. 10:30.
b. Ia tidak melakukan apa pun dari diri sendiri -- Yoh. 5:19.
c. Ia tidak mencari kehendak-Nya sendiri tetapi kehendak Dia yang mengutus-Nya -- Yoh. 5:30b.
d. Ia tidak mencari kemuliaan-Nya sendiri tetapi kemuliaan Bapa yang mengutus Dia -- Yoh. 7:18.
2. Setelah mengadakan mujizat, Ia naik ke bukit untuk berdoa seorang diri (Mat. 14:23; cf. Luk. 6:12), menunjukkan bahwa:
a. Ia tidak tetap tinggal di tengah-tengah hasil dari mujizat itu dengan orang banyak tetapi pergi dari mereka seorang diri untuk berada bersama Bapa dalam doa di bukit.
b. Ia mungkin meminta Bapa untuk memberkati semua orang yang mengambil bagian dalam kenikmatan terhadap hasil dari mujizat itu:
1) Agar mereka tidak dipuaskan dengan makanan yang binasa;
2) Tetapi agar mereka mencari makanan yang akan tetap bertahan sampai kepada hidup yang kekal;
3) Dan mengenal bahwa Ia bukan hanya Anak Manusia tetapi juga Anak Allah:
a) Yang diutus dan dimeterai oleh Bapa,
b) Dan yang dapat memberi mereka hayat kekal -- Yoh. 6:27.
c. Ia mungkin menerima beberapa perintah dari Bapa mengenai bagaimana merawat kelima ribu orang yang diberi makan dengan mujizat-Nya.
Dalam berita ini, kita ingin melanjutkan persekutuan kita mengenai teladan Tuhan sebagai seorang pendoa dalam catatan Matius.
E. Melatih Murid-murid-Nya untuk
Belajar dari Dia dalam Mujizat Pemberian Makan Lima Ribu Orang
1. Mengambil Lima Roti dan Dua Ikan, Menengadah ke Langit, dan Memberkatinya
Dalam mengadakan mujizat pemberian makan lima ribu orang dengan lima roti dan dua ikan, Ia melatih murid-murid-Nya untuk belajar dari Dia. Dalam Matius 11:29 Tuhan memberi tahu murid-murid bahwa mereka perlu belajar dari Dia, menunjukkan bahwa Ia adalah teladan mereka.
Matius 14:19 mengatakan bahwa Ia mengambil lima roti dan dua ikan dan ketika akan memberkati-Nya, Ia menengadah ke langit. Dengan kata lain, Ia memberkati makanan dengan menengadah ke langit. Menengadah ke langit menunjukkan bahwa Ia sedang menengadah kepada Bapa-Nya di surga. Ini menunjukkan bahwa Ia menyadari kalau sumber berkat itu bukanlah Dia. Ia adalah Yang diutus. Yang diutus tidak seharusnya menjadi sumber berkat. Yang mengutus, Bapa, harus menjadi sumber berkat.
Ini adalah pelajaran penting yang harus kita pelajari. Kebanyakan pembaca Alkitab menaruh perhatian pada mujizat untuk menciptakan dari yang tidak ada menjadi ada dalam Matius 14. Tetapi kita perlu melihat teladan yang Tuhan dirikan bagi kita di sini. Kita perlu ingat bahwa Ia menengadah kepada Bapa di surga dan memberkati lima roti dan dua ikan di depan murid-murid-Nya. Setelah Ia memberkati dengan cara ini, Ia memberi tahu murid-murid-Nya apa yang harus dilakukan. Tidak diragukan, apa yang dilakukan-Nya adalah teladan agar murid-murid-Nya belajar dari Dia. Menurut teladan ini, kita harus menyadari bahwa kita bukan sang Pengutus, tetapi orang-orang yang diutus oleh sang Pengutus. Tidak peduli kita dapat melakukan berapa banyak, kita harus menyadari bahwa kita masih tetap memerlukan berkat dari sumber, dari Pengutus kita, sehingga kita dapat memberikannya kepada orang-orang yang membutuhkannya. Ini adalah pelajaran penting yang ingin saya tekankan.
Seorang sekerja yang diundang untuk berbicara di suatu tempat mungkin mengira karena ia telah berbicara bagi Tuhan selama bertahun-tahun, ia tahu bagaimana harus berbicara. Kita semua perlu meninggalkan sikap yang demikian dan menyadari bahwa kita bukanlah sumber. Tidak ada berkat yang berasal dari kita. Tidak peduli kita dapat melakukan berapa banyak atau seberapa banyak yang kita tahu apa yang harus kita lakukan, kita harus menyadari bahwa kita perlu berkat sang Pengutus atas pekerjaan kita melalui bersandar kepada-Nya, bukan pada diri sendiri. Bahkan ketika kita memakan makanan kita, kita harus belajar dari Tuhan untuk menengadah kepada Bapa sebagai sumber. Ketika kita memberkati makanan kita, kita harus memberkatinya dengan menengadah kepada sumber berkat.
a. Menjadi Satu dengan Bapa
Ia menengadah kepada Bapa di surga menunjukkan bahwa sebagai Putra di bumi yang diutus oleh Bapa di surga, Ia satu dengan Bapa, bersandar kepada Bapa (Yoh. 10:30). Ini adalah prinsip yang sangat penting. Kapan kala saya berbicara untuk Tuhan, saya harus mempunyai perasaan bahwa saya satu dengan Tuhan, bersandar kepada-Nya. Apa yang saya tahu dan apa yang dapat saya lakukan tidak berarti apa-apa. Menjadi satu dengan Tuhan dan bersandar kepada Dia sangatlah penting dan sangat berarti dalam ministri kita. Kita tidak boleh pergi melayankan (minister) firman dengan tetap tinggal dalam diri sendiri dan bersandar pada apa yang dapat kita lakukan. Jika kita bersandar pada apa yang dapat kita lakukan, kita habis. Berkat hanya datang melalui diri kita menjadi satu dengan Tuhan dan bersandar kepada Dia.
b. Tidak Melakukan Apa pun dari Diri Sendiri
Tuhan tidak melakukan apa pun dari diri sendiri (Yoh. 5:19). Ini juga adalah teladan bagi murid-murid. Ia adalah Seorang yang melalui-Nya seluruh alam semesta diciptakan, tetapi Ia tidak melakukan apa-apa dari diri sendiri. Inilah menyangkal diri (ego) kita, perkara ini begitu banyak diajarkan oleh-Nya. Ia berkata bahwa setiap orang yang mengikuti-Nya harus memikul salib-Nya dan menyangkal dirinya (Mat. 16:24). Ia menempuh hidup yang menyangkal diri sendiri.
Profesor-profesor yang ahli dalam universitas-universitas melakukan banyak perkara untuk menarik perhatian orang, memamerkan apa yang mereka tahu dan apa yang dapat mereka lakukan. Tetapi kita bukan profesor-profesor hari ini; kita adalah manusia-manusia Allah hari ini, duplikat Yesus. Kita harus menyangkal diri sendiri dan tidak mempunyai maksud untuk melakukan segala sesuatu dari diri sendiri tetapi bermaksud melakukan segala sesuatu dari Dia. Ini adalah melaksanakan ajaran menyangkal diri melalui melakukan perkara-perkara bersama Tuhan.
c. Tidak Mencari Kehendak-Nya Sendiri
Tuhan tidak mencari kehendak-Nya sendiri tetapi kehendak Dia yang mengutus-Nya (Yoh. 5:30b). Pertama, Ia menyangkal diri sendiri; kedua, Ia menolak ide-Nya, maksud-Nya, dan tujuan-Nya. Ia hanya mencari kehendak Dia yang mengutus-Nya. Kita semua harus waspada terhadap satu perkara ini-ketika kita diutus untuk melakukan beberapa pekerjaan, kita tidak seharusnya mengambil kesempatan itu untuk memenuhi sasaran kita sendiri. Ketika kita pergi untuk melakukan pekerjaan Allah, apakah kita pergi dengan maksud memenuhi tujuan kita atau tujuan Allah? Saudara Watchman Nee selalu prihatin ketika ia mengutus seorang saudara untuk pergi melakukan pekerjaan Tuhan. Ia khawatir kalau saudara itu akan mengambil kesempatan untuk melakukan tujuannya sendiri.
Suatu hari, saya sedang bersiap-siap untuk pergi dari Shanghai ke Hangcow. Kemudian saudara Nee bertanya kepada saya, "Witness, untuk tujuan apakah Anda pergi ke Hangcow?" Saya menjawab bahwa saya sedang pergi untuk mengunjungi saudara-saudara di sana. Ia berkata bahwa ini adalah jawaban yang salah. Seharusnya saya mengatakan bahwa saya pergi untuk melakukan tujuan Tuhan. Jika Anda hanya pergi untuk mengunjungi saudara-saudara, Anda dapat melakukan banyak hal bagi diri sendiri. Anda mungkin menggunakan kunjungan itu sebagai kesempatan untuk memenuhi tujuan Anda daripada mencari kehendak Tuhan. Tidaklah mudah untuk memiliki hati yang murni, tanpa ada tujuan kita, sasaran kita, dan ide kita. Kita seharusnya hanya pergi mencari ide, tujuan, sasaran, dan maksud dari Tuhan yang mengutus. Ini memerlukan banyak pelajaran di pihak kita.
Kadang-kadang, saudara tertentu mungkin bertanya kepada saya bagaimana pendapat saya jika mereka menerima undangan untuk pergi ke tempat tertentu. Pertimbangan dasar saya adalah, "Apakah Anda pergi hanya untuk menggenapkan tujuan Tuhan, sasaran Tuhan, target Tuhan, ide Tuhan, maksud Tuhan, yaitu kehendak Tuhan, atau apakah Anda akan mengambil kesempatan untuk memenuhi maksud Anda, kehendak Anda?" Memenuhi maksud kita itu mutlak tidak murni. Kita perlu dimurnikan oleh salib. Kita harus berdoa, "Tuhan, selamatkanlah saya dari pergi keluar untuk merampungkan sesuatu menurut maksud dan ide saya." Tuhan Yesus tidak pernah mencari ide-Nya sendiri, tujuan-Nya sendiri, konsep-Nya sendiri, atau maksud-Nya sendiri. Ia murni hanya mencari kehendak Bapa.
d. Tidak Mencari Kemuliaan-Nya Sendiri
Manusia Allah pertama tidak mencari kemuliaan-Nya sendiri tetapi kemuliaan Bapa yang mengutus Dia (Yoh. 7:18). Saya ada bersama saudara Nee selama kurang lebih dua puluh tahun. Yang paling merisaukan beliau mengenai para sekerja adalah sulit untuk melihat seorang yang tidak berambisi. Berambisi berarti mencari kemuliaan diri sendiri. Setiap pelayanan yang kita persembahkan kepada Tuhan dalam kehidupan gereja selalu mengandung ambisi. Seorang saudara mungkin mempunyai ambisi untuk menjadi seorang penatua. Untuk menjadi seorang penatua, ia merasa bahwa pertama-tama ia harus menjadi seorang diaken. Bagi dia, menjadi diaken adalah langkah untuk diangkat menjadi penatua. Kita tidak seharusnya mengira bahwa kita sama sekali tidak berambisi seperti itu. Kita semua adalah keturunan Adam yang jatuh dan menderita penyakit yang sama, dosa yang sama. Pemberontakan yang terjadi di tengah-tengah kita tujuh tahun yang lalu sepenuhnya berkaitan dengan ambisi. Selama bertahun-tahun, saya telah melihat sejumlah sekerja di tengah-tengah kita yang dirusak oleh ambisi. Karena belas kasih Tuhan, saya telah mempelajari rahasia untuk menanggulangi diri saya dan maksud saya, dan hal itu membantu saya untuk menanggulangi kemuliaan diri sendiri.
Dalam Yohanes 7:18 Tuhan memberi tahu orang-orang Farisi, "Siapa saja yang berkata-kata dari dirinya sendiri, ia mencari hormat bagi dirinya sendiri, tetapi siapa saja yang mencari hormat bagi Dia yang mengutusnya, ia benar dan tidak ada ketidakbenaran padanya." Orang-orang Farisi sedang mencari kemuliaan mereka sendiri. Menurut konteks ayat ini, Tuhan menunjukkan kepada mereka jika mereka tidak mencari kemuliaan mereka sendiri, mereka akan tahu bahwa Ia diutus oleh Bapa-Nya.
Kita perlu melihat bahwa diri kita, tujuan kita, dan ambisi kita adalah tiga "ulat" besar yang menghancurkan dalam pekerjaan kita. Jika kita mau selalu dipakai Tuhan dalam pemulihan-Nya, diri kita harus disangkal, tujuan kita harus ditolak, dan ambisi kita harus ditinggalkan. Kita tidak boleh memiliki tujuan kita sendiri; sebaliknya, kita seharusnya hanya memiliki kehendak Tuhan. Kita semua harus mempelajari ketiga perkara ini: tidak ada diri (ego), tidak ada tujuan, dan tidak ada ambisi. Kita seharusnya hanya tahu berjerih lelah, bekerja bagi-Nya, dengan menyangkal diri kita, menolak tujuan kita, dan meninggalkan ambisi kita. Diri, tujuan, dan ambisi adalah seperti tiga ular atau kalajengking di dalam kita. Kita harus belajar membencinya.
2. Pergi ke Bukit untuk Berdoa Seorang Diri
Setelah mengadakan mujizat, Ia naik ke bukit untuk berdoa seorang diri (Mat. 14:23; cf. Luk. 6:12).
a. Tidak Tetap Tinggal di tengah-tengah Hasil dari Mujizat itu dengan Orang Banyak
Tuhan tidak tetap tinggal di tengah-tengah hasil dari mujizat itu dengan orang banyak tetapi pergi dari mereka untuk berada bersama Bapa sendirian dalam doa di bukit. Jika kita pergi ke tempat tertentu dan sukses besar, apakah kita akan segera pergi atau tetap tinggal dalam kesuksesan besar itu untuk menikmatinya? Kita perlu melihat dan mengikuti teladan Tuhan Yesus. Ia tidak tetap tinggal di tengah-tengah hasil dari mujizat yang diadakan-Nya. Sebaliknya Ia pergi ke bukit untuk berdoa seorang diri. Istilah seorang diri sungguh sangat bermakna. Ini berarti Ia tidak membiarkan orang-orang banyak itu tahu bahwa Ia sedang berdoa. Jika tidak, mereka akan mengikuti-Nya. Ia pergi dari mereka secara diam-diam untuk berada bersama dengan Bapa dalam doa. Saya suka ketiga frase ini: bersama Bapa, di bukit, dan dalam doa. Kita harus belajar dari teladan Tuhan di sini dengan berlatih untuk berada bersama-Nya di bukit dalam doa. Ia memandang ke langit berarti Ia tidak bersandar pada diri sendiri. Ia pergi ke bukit berarti Ia ingin berada bersama Bapa dalam doa.
Berdoa bersama orang lain itu baik, tetapi sering kali kita perlu berdoa sendiri. Ketika kita berdoa dengan orang lain, kita tidak dapat menikmati Tuhan sedalam ketika kita berdoa kepada Tuhan seorang diri. Bahkan Tuhan Yesus memberi tahu kita bahwa ketika kita berdoa, kita harus mengunci kamar kita seorang diri dan berdoa secara tersembunyi kepada Bapa yang melihat yang tersembunyi (Mat. 6:6). Dengan demikian, kita akan memiliki perasaan betapa mesranya Dia dengan kita dan betapa dekatnya kita dengan Dia. Kita harus belajar untuk meninggalkan kerumunan orang banyak, keluarga kita, teman-teman kita, dan orang-orang kudus dalam gereja untuk pergi ke tingkat yang lebih tinggi di atas "bukit". Kita harus pergi lebih tinggi, jauh dari perkara-perkara dunia yang berada pada tingkat yang lebih rendah. Kita perlu mencapai tingkat yang lebih tinggi, terpisah dari kerumunan orang banyak, berada bersama Bapa seorang diri dan mempunyai persekutuan yang mesra dengan-Nya secara tersembunyi. Inilah makna berdoa di atas bukit.
b. Meminta Bapa untuk Memberkati Semua Orang yang Mengambil Bagian dalam Kenikmatan Terhadap Hasil dari Mujizat itu
Kita perlu membahas mengapa Tuhan Yesus pergi ke bukit segera setelah mujizat itu. Yohanes 6:27 memberi kita jawabannya. Ayat ini mengatakan bahwa setelah mengadakan mujizat, Tuhan berkata, "Bekerjalah, bukan untuk makanan yang dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang telah dimeteraikan Bapa, Allah, dengan meterai-Nya." Tuhan memberi tahu orang-orang yang Ia beri makan untuk tidak mencari makanan yang dapat binasa, melainkan untuk makanan yang dapat bertahan sampai kepada hidup yang kekal. Saya yakin, Tuhan Yesus pergi ke bukit untuk berdoa seperti ini, "Bapa, Saya berdoa kepada-Mu di bawah berkat-Mu. Melalui berkat-Mu, Engkau memberi makan lima ribu orang, tetapi Bapa, mereka hanya mencari makanan yang dapat binasa. Saya sungguh menengadah kepada-Mu agar Engkau memberkati mereka sehingga mereka hanya mencari makanan yang dapat bertahan sam-pai kepada hidup yang kekal. Bapa, Engkau tahu bahwa Saya adalah Yang Engkau utus. Hanya Saya yang dapat memberi mereka makanan yang dapat bertahan sampai kepada hidup yang kekal, tetapi mereka tidak mengenal Saya. Mereka hanya tahu bahwa Saya dapat mengadakan mujizat untuk memberi mereka makan dengan makanan fisik. Tetapi mereka tidak tahu bahwa hanya Sayalah yang dapat memberi mereka makanan yang dapat bertahan sampai kepada hidup yang kekal." Saya percaya bahwa Tuhan berdoa untuk memberkati mereka lebih lanjut secara demikian.
Ia pergi ke bukit untuk berdoa, hal ini menunjukkan bahwa Ia meminta kepada Bapa untuk memberkati semua orang yang mengambil bagian dalam kenikmatan terhadap hasil dari mujizat itu sehingga mereka tidak dipuaskan dengan makanan yang binasa, tetapi agar mereka mencari makanan yang akan tetap bertahan sampai kepada hidup yang kekal dan mengenal bahwa Ia bukan hanya Anak Manusia tetapi juga Anak Allah yang diutus dan dimeterai oleh Bapa, dan yang dapat memberi mereka hayat kekal. Ketika lima ribu orang itu diberi makan oleh-Nya, mereka mengenal bahwa Ia adalah Anak Manusia yang serba bisa (cakap), tetapi mereka tidak menyadari bahwa Ia sesungguhnya adalah Anak Allah yang tidak hanya diutus tetapi juga dimeterai oleh Bapa. Ia adalah Seorang yang dapat memberi mereka roti yang berhubungan dengan hidup yang kekal. Karena itu, Ia menyampaikan ajaran lain dalam Yohanes 6. Dalam Yohanes 6, Tuhan mewahyukan bahwa Ia adalah roti yang turun dari surga, roti hayat. Pada akhirnya, Ia memberi tahu kita bahwa roti ini tidak lain adalah firman-Nya. "Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup (hayat)" (ayat 63). Yohanes 3:34 mengatakan bahwa Ia adalah Seorang yang menyampaikan firman dan memberikan Roh dengan tidak terbatas. Untuk mengenal-Nya seperti ini, kita perlu wahyu, karena itu Ia berdoa sendirian untuk mereka di bukit.
c. Menerima Beberapa Perintah dari Bapa
Ia pergi ke bukit untuk berdoa seorang diri, hal ini juga menunjukkan bahwa Ia ingin menerima beberapa perintah dari Bapa mengenai bagaimana merawat kelima ribu orang yang diberi makan melalui mujizat-Nya.
Dalam pengkajian kristalisasi dari Matius 14 ini, kita dapat melihat betapa kita perlu wahyu dari Tuhan untuk melihat makna intrinsik dari firman-Nya. Melihat mujizat pemberian makan lima ribu orang dengan lima roti dan dua ikan itu mudah, tetapi untuk mengetahui pelajaran yang lebih dalam yang harus kita pelajari dari Dia yang melakukan mujizat besar itu memerlukan wahyu. Pelajaran ini dalam, dan berasal dari hayat. Mengetahui mujizat besar yang Tuhan lakukan tidak memberi kita hayat sedikit pun. Kita hanya dapat mengagumi perbuatan lahiriah Tuhan. Tetapi untuk melihat semua butir rinci mengenai pelajaran-pelajaran hayat untuk mempelajari cara Tuhan mengadakan mujizat memberikan (imparts) hayat kepada kita. Kita perlu mempelajari pelajaran-pelajaran yang hidup dari Tuhan ini sehingga kita dapat masuk ke dalam kehidupan manusia Allah.