← Daftar isi Pengalaman atas Kristus dalam Surat-surat Galatia, Efesus, Filipi, Kolose · bab 3/4

KUNCI RAHASIA MENGALAMI KRISTUS DALAM SURAT FILIPI

Pembacaan Alkitab:

Flp. 1:19-21a; 2:5, 13; 3:3, 7-14; 4:12-13

Filipi 1:19-21a mengatakan, “Karena aku tahu bahwa kesudahan semuanya ini ialah keselamatanku oleh doamu dan pertolongan (suplai yang limpah lengkap) Roh Yesus Kristus. Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala hal tidak akan beroleh malu, melainkan seperti sediakala, demikian pun sekarang, Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku maupun oleh matiku. Karena bagiku hidup adalah Kristus.” Ayat 19 membicarakan tentang suplai yang limpah lengkap, dalam bahasa aslinya adalah satu istilah yang sangat khusus, mengacu kepada satu macam suplai yang serba lengkap, yang meliputi segala-galanya. Pada hakikatnya, suplai ini bukan milik Roh Allah, tetapi milik Roh Yesus Kristus.

Filipi 2:5 mengatakan, “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.” Ayat 13 mengatakan, “Karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.”

Pasal 3:3 mengatakan, “Sebab kitalah orang-orang bersunat yang beribadah oleh Roh Allah dan bermegah dalam Kristus Yesus dan tidak mengandalkan hal-hal lahiriah.” Ayat 7-14 meneruskan berkata, “Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia daripada semuanya. Karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus, dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena menaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan. Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati. Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena aku pun telah ditangkap oleh Kristus Yesus. Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap bahwa aku telah menangkapnya, tetapi inilah yang kulakukan: Aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan surgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.”

Pasal 4:12-13 mengatakan, “Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam setiap keadaan dan dalam segala hal tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam keadaan kenyang, maupun dalam keadaan lapar, baik dalam keadaan berkelimpahan maupun dalam keadaan berkekurangan. Segala hal dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.”

Dalam dua berita yang lalu, kita melihat Kristus adalah segala sesuatu. Surat Kolose memperlihatkan kepada kita Dia adalah Allah, juga manusia; Dia adalah Pencipta, juga yang terutama dari makhluk ciptaan. Seluruh kepenuhan ke-Allahan tinggal di dalam-Nya. Tidak hanya demikian, Dia adalah realitas segala perkara yang positif. Segala benda dan perkara materi adalah bayang-bayang; realitas dari segala sesuatu adalah Kristus sendiri. Hari ini Kristus terhadap kita adalah hayat. Menurut 1 Korintus 15:45b, Kristus adalah Roh pemberi hayat; Dia ada di dalam kita, menjadi hayat kita pada hari ini, juga menjadi pengharapan, tujuan, dan sasaran kita pada kelak hari.

Sekarang, Kristus yang telah kita lihat ini harus tergarap ke dalam kita. Inilah berita dalam Surat Galatia. Menurut kitab ini, Kristus haruslah yang tinggal di dalam kita. Terhadap kita Dia sangat subyektif, karena Dia terwahyu di dalam kita, Dia hidup di dalam kita sebagai hayat kita, kita telah ditaruh di dalam Dia, Dia sedang terbentuk di dalam kita; artinya, Dia sedang berbaur dengan kita, sedang tergarap ke dalam kita, bahkan sedang tersusun ke dalam setiap bagian batiniah kita. Kristus sudah masuk ke dalam roh kita, hari ini Dia ada di dalam roh kita, menjenuhi kita melalui masuk ke dalam pikiran, emosi, dan tekad kita, menyebar ke dalam setiap bagian batiniah kita. Dengan demikian Dia akan menjenuhi seluruh diri kita dan berbaur dengan kita, menjadi Kristus yang tinggal di dalam kita, menjadi hayat kita. Inilah butir-butir penting dalam Surat Kolose dan Galatia.

KRISTUS MENJADI HAYAT DAN EKSPRESI KITA

Surat Filipi memberi kita kunci rahasia mengalami Kristus. Pasal pertama mengatakan Kristus menjadi hayat dan ekspresi kita. Kristus diperbesar di dalam tubuh kita (ayat 20), yaitu Kristus mendapatkan ekspresi yang mulia di atas tubuh kita. Supaya Kristus melalui kita dan dari dalam kita diperbesar, diekspresikan, Kristus harus menjadi hayat di dalam kita. Inilah sebabnya Paulus berkata, “Karena bagiku hidup adalah Kristus” (ayat 21a). Artinya, Kristus hidup di dalam kita, dan memperhidupkan diri-Nya dari kita. Dia adalah hayat kita, Dia sedang hidup di dalam kita. Hari ini Dia akan memperhidupkan diri-Nya dari dalam kita, supaya Dia bisa diperbesar di atas diri kita. Sebab itu Filipi 1 membicarakan Kristus adalah hayat kita dan ekspresi kita.

KRISTUS ADALAH TELADAN KITA

Dalam Filipi 2, rasul mengambil Kristus sebagai teladan kita. Di sini faktor yang paling penting adalah pikiran kita. Ayat 5 mengatakan, “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.” Kita harus menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus ke dalam kita. Kehidupan kita yang sesungguhnya berkaitan dengan pikiran. Kita memikirkan apa, kita akan melakukan apa. Bagaimana kita menempuh kehidupan ini, seluruhnya tergantung pada apa yang ada dalam pikiran kita. Menurut Perjanjian Baru, pikiran kita menempati kedudukan yang sangat penting. Pikiran adalah bagian yang paling utama dalam jiwa. Setelah kita dilahirkan kembali dalam roh kita, langkah kedua adalah melalui pembaruan pikiran mengalami perubahan (Rm. 12:2). Artinya, pikiran kita harus diubah. Arti bertobat adalah berubah dalam pikiran, berpaling dalam pikiran. Kita perlu memalingkan pikiran kita kepada Tuhan dan bertobat, tetapi ini hanyalah satu permulaan. Setelah kita bertobat, dilahirkan kembali, kita perlu terus memperbarui pikiran kita. Bagaimana pikiran kita bisa diperbarui? Di satu pihak, perlu menerima Kristus sebagai teladan; di pihak lain, membiarkan Kristus di dalam kita memperluas diri-Nya, meluap, menjenuhi setiap bagian batin kita. Dengan demikian, kita baru bisa benar-benar menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.

Sesungguhnya, teladan Kristus yang dikatakan dalam Filipi 2 adalah mengacu kepada catatan dalam empat kitab Injil. Inilah sebabnya mengapa kita perlu berkali-kali membaca kitab Injil. Kita harus menerima Kristus sebagai teladan kita. Namun ini bukan sekadar mengikuti Dia melalui meniru Dia. Keledai atau kera tidak bisa benar-benar meniru manusia, demikian juga, kita tidak bisa meniru Kristus; kita bodoh bagaikan keledai, juga nakal bagaikan kera. Namun andaikata kita masuk ke dalam kera, kera itu bisa memperhidupkan hayat kita. Demikian juga, selain Kristus hidup di dalam kita, bagaimana kita bisa meniru Dia? Kristus harus hidup di dalam kita, kita baru bisa mengikuti Dia. Ada sebuah buku berjudul “The Imitation of Christ” karangan Thomas a’ Kempis. Ini mungkin adalah satu buku yang baik, namun pada hakikatnya, kalau tidak ada Kristus hidup di dalam kita, kita sama sekali tidak bisa meniru Kristus. Dalam Surat Filipi kita mempunyai Kristus sebagai teladan, ini berdasarkan fakta hari ini Kristus hidup di dalam kita.

KRISTUS ADALAH SASARAN KITA

Dalam Filipi 3, kita memiliki Kristus sebagai sasaran, tujuan, bahkan pahala. Kita tidak seharusnya terganggu oleh perkara yang lainnya. Seperti yang pernah kita bicarakan, Allah telah memberi kita berbagai macam benda materi, supaya kita bisa mempertahankan keberadaan kita. Kalau tidak ada makanan, minuman, dan benda-benda yang lain, kita tidak bisa hidup. Kalau demikian, bagaimana kita bisa hidup bagi Kristus? Untuk mempertahankan hayat kita, Allah telah menciptakan barang-barang materi, dan diberikan kepada kita untuk kita nikmati. Namun kita mungkin sekali terganggu oleh benda-benda materi itu, tertarik oleh bendabenda materi itu, sehingga meninggalkan sasaran ekonomi Allah, yaitu Kristus. Allah menciptakan benda-benda itu untuk Kristus, Allah memberikan benda-benda itu kepada kita, supaya kita bisa hidup bagi Kristus. Allah memberikan sekian banyak benda materi sehingga kita bisa bertahan hidup, tujuannya supaya kita hidup bersama Kristus, hidup bagi Kristus. Namun orang yang milik dunia, yang tidak percaya Tuhan, terus terganggu oleh benda-benda materi itu sehingga meninggalkan Kristus, sampai kini tetap demikian.

Tidak hanya demikian, perkara-perkara agama pun bisa mengganggu orang, seperti yang dibicarakan dalam Filipi 3. Dalam Galatia 1 Paulus memberi tahu kita bahwa ketika ia bergairah dalam agama Yahudi, ia terganggu sehingga meninggalkan Kristus. Ia tidak terganggu oleh perkara duniawi, tetapi terganggu oleh agama fundamental; yang menggangu dia bukan agama orang kafir, melainkan agama Yahudi. Agama Yahudi adalah satu agama yang diberikan dan ditetapkan oleh Allah. Bahkan perkara yang ditetapkan oleh Allah pun bisa menjadi satu faktor yang dipakai oleh Iblis untuk mengganggu orang sehingga meninggalkan Kristus. Tujuan Allah menetapkan agama Yahudi adalah menjaga orang bagi Kristus dan membawa orang kepada Kristus. Tetapi musuh Allah memakai agama yang didirikan oleh Allah ini, mendorong orang yang bergairah kepada agama ini, meninggalkan Kristus. Dalam Galatia 1 dan Filipi 3 berkali-kali Paulus menunjukkan hal ini. Dalam Filipi 3:5-6 Ia mengatakan, “Disunat pada hari kedelapan, dari bangsa Israel, dari suku Benyamin, orang Ibrani asli, tentang pendirian terhadap hukum Taurat aku orang Farisi, tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, tentang kebenaran dalam menaati hukum Taurat aku tidak bercacat.” Ia sangat terpengaruh oleh perkara-perkara agama Yahudi, sehingga meninggalkan Kristus, sebaliknya condong kepada perkara-perkara agama Yahudi.

Hari ini bahkan kekristenan juga menganggu orang sehingga meninggalkan Kristus. Kekristenan seharusnya untuk Kristus, tetapi hari ini banyak perkara-perkara dalam kekristenan yang mengganggu orang, sehingga mereka meninggalkan Kristus, dan berpaling ke dalam perkara-perkara itu. Tidak hanya perkara duniawi mengganggu kita, bahkan perkara-perkara dalam kekristenan pun bisa mengganggu kita, sehingga kita menyimpang dari sasaran, tujuan, dan pahala Allah, yaitu Kristus sendiri.

MENGENAL KRISTUS DAN KUASA KEBANGKITAN-NYA

Kita tidak seharusnya menganggap diri kita sudah mengenal Kristus. Memang di satu pihak kita sudah mengenal Kristus; tetapi di pihak lain, kita masih belum sepenuhnya mengenal Dia. Paulus mendambakan mengenal Kristus (3:8, 10). Cara pengutaraan sedemikian sepertinya tidak masuk akal; namun ini tidak menyatakan bahwa Paulus tidak mengenal Kristus. Ia sangat mengenal Kristus, tetapi ia masih perlu lebih banyak mengenal Kristus. Ia mendambakan untuk lebih banyak mengenal Kristus. Paulus damba tidak hanya mengenal Kristus, lebih-lebih mengenal kuasa kebangkitan-Nya. Ini berhubungan dengan Roh pemberi hayat (1 Kor. 15:45b). Kalau Kristus bukan Roh pemberi hayat yang berada di dalam kita, kita tidak bisa mengenal dan mengalami kuasa kebangkitan. Kuasa kebangkitan-Nya tidak berada di dalam tubuh kita, tetapi di dalam roh kita.

Ketika Paulus menulis Surat Filipi, ia berada di dalam penjara. Dari zaman ke zaman, orang Kristen selalu menyanjung pengalaman Petrus di penjara. Pintu penjara terbuka, Petrus dibebaskan (Kis. 5:18-19). Kuasa yang membuka pintu penjara dan melepaskan Petrus dari penjara fisik adalah kuasa Allah, bukan kuasa kebangkitan Kristus. Ketika Paulus di penjara menulis Surat Filipi, pintu penjara tidak terbuka untuknya, rantai yang membelenggunya juga tidak terlepas. Hari lewat hari, bulan lewat bulan, ia masih terpenjara di sana; namun di dalamnya ada satu kekuatan yang membuatnya menderita dalam kemuliaan, inilah kuasa kebangkitan Kristus. Saya pernah mendengar banyak orang memuji pengalaman Petrus terlepas dari penjara yang di luar, tetapi saya tidak banyak mendengar orang memuji pengalaman Paulus; di luar ia dipenjara, di dalam ia mendapatkan kebebasan. Bahkan sampai hari ini kita tetap menikmati hasil dari kebebasannya. Surat Efesus, Filipi, dan Kolose, semuanya ditulis ketika ia di dalam penjara. Di luar ia dipenjara, tetapi di dalam ia bangkit.

Ketika kita masih kekanak-kanakan, bahkan masih seperti bayi, kalau kita sakit, kita akan berdoa untuk kesembuhan kita. Tuhan mungkin berkata, “Baiklah, biar penyakitmu pergi.” Lalu penyakit kita sirna. Ketika kita bertumbuh lebih matang, lebih dewasa, kita mungkin tetap berdoa ketika kita sakit, namun banyak orang bersaksi bahwa semakin mereka berdoa, penyakitnya semakin berat. Tuhan tidak segera menyingkirkan penyakit itu; sebaliknya Dia berkata, “Anugerah-Ku cukup kamu pakai. Kamu harus mengalami kuasa kebangkitan-Ku.” Penyakitnya masih tetap ada, tetapi puji Tuhan, penyakit hanya membuka jalan bagi kita, dan meletakkan dasar supaya kita mengalami kuasa kebangkitan. Kalau tidak ada penyakit, kita pasti tidak bisa mengalami kuasa kebangkitan. Dulu bahkan sampai sekarang, saya mengenal beberapa saudara saudari yang mempunyai kesulitan. Mereka sudah banyak berdoa, tetapi kesulitan mereka masih tetap di sana. Belakangan ini seorang saudari yang sudah saya kenal tiga puluh tahun lebih datang mencari saya. Ia berkata bahwa suaminya tahun demi tahun di hadapan Tuhan tetap tidak berubah. Saya juga mengenal suaminya, bahkan kami dulu teman sekolah. Setiap hari suaminya mengeluh istrinya seharusnya tidak menjadi orang Kristen.

Setiap hari istrinya menderita, sampai sekarang masih menderita. Dia bertanya kepada saya, mengapa bisa demikian? Saya tidak menjawab sepatah kata pun; saya mengharap Tuhan yang berbicara kepadanya. Saya menyadari dalam batinnya dia benar-benar telah belajar beberapa pelajaran, yaitu belajar tentang kuasa kebangkitan Allah, bukan kuasa penciptaan Allah.

Orang Israel selama hampir 40 tahun, setiap pagi melihat mukjizat manna. Kalau besok pagi kita membuka pintu dan melihat manna turun, kita akan sangat girang, setiap surat kabar akan memuat laporan tentang kejadian ini. Orang Israel mengalami perkara ini lebih dari sepuluh ribu kali, sehari lewat sehari, ke mana saja mereka pergi, di mana saja mereka berada, setiap pagi mereka melihat mukjizat manna turun dari langit. Namun ini terlalu luaran, bukan kuasa kebangkitan. Tidak peduli Allah telah berapa tahun melakukan mukjizat, tetap tidak ada sesuatu yang tergarap ke dalam orang Israel. Hari ini dalam zaman Perjanjian Baru, Allah pada umumnya tidak akan melakukan pekerjaan seperti itu lagi. Dalam zaman Perjanjian Baru, maksud hati Allah ialah ingin menggarapkan Kristus ke dalam kita. Turunnya manna berasal dari kuasa penciptaan Allah, bukan berasal dari kuasa kebangkitan. Namun Allah tidak memperhatikan mukjizat yang di luar, melainkan memperhatikan mukjizat yang di dalam. Kristus menjadi Roh itu, tergarap ke dalam kita adalah mukjizat yang di dalam. Ini bukan kuasa penciptaan, tetapi kuasa kebangkitan.

Bahkan terbukanya pintu penjara yang melepaskan Rasul Petrus juga bukan kuasa kebangkitan. Namun dalam Surat Filipi, ada seorang rasul yang lain dipenjara. Allah tidak melakukan sesuatu di luaran, namun dia melalui kuasa kebangkitan yang di dalamnya bisa menahan segalanya. Ketika Petrus keluar dari penjara, saya percaya, melalui perkara itu saja dia tidak mengalami kuasa kebangkitan. Ketika ia tua, dia disalib mati martir bagi Tuhan. Saat itu Allah tidak melepaskan dia; Allah tidak menyelamatkan dia terlepas dari penganiayaan. Saat itu Petrus menerima penderitaan dan mati martir, dia mengalami kuasa kebangkitan.

Apakah kita mengharapkan mendapatkan kuasa yang luar biasa? Kita mungkin secara kekanak-kanakan mengharapkan mempunyai kuasa penciptaan. Kita mungkin mengira kalau Tuhan menurunkan manna di sekitar tempat kediaman kita, berjuta-juta orang akan beroleh selamat. Saya tidak percaya bisa demikian. Orang Israel selama hampir 40 tahun setiap hari ada mukjizat, tetapi ada berapa orang yang benarbenar didapatkan oleh Allah? Tidak banyak. Tuhan Yesus dengan lima roti dan dua ikan mengenyangkan 5.000 orang, tidak termasuk perempuan dan anak-anak; itu adalah mukjizat yang ajaib, tetapi ada berapa orang melalui mukjizat itu beroleh selamat? Hanya sedikit orang yang mengikuti Tuhan, menuntut hayat batini. Menurut Yohanes 6, orang-orang yang meninggalkan Tuhan, berkata, “Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?” (ayat 60, 66). Kalau kita mengharapkan mengalami kuasa, kuasa itu seharusnya adalah kuasa kebangkitan. Sasaran kita seharusnya adalah Kristus yang bangkit, di dalam kita menjadi kuasa kebangkitan. Kita harus mencari Dia, menuntut Dia, dan mengikuti Dia, dengan Dia sebagai sasaran, tujuan, dan pahala Allah.

KRISTUS SEBAGAI KUNCI RAHASIA

Filipi 4 mengatakan Kristus menjadi kunci rahasia. Dalam ayat 12 Paulus berkata, “Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam setiap keadaan dan dalam segala hal tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam keadaan kenyang, maupun dalam keadaan lapar, baik dalam keadaan berkelimpahan maupun dalam keadaan berkekurangan.” Paulus tidak saja mengetahui kunci rahasia dalam keadaan yang lancar, juga mengetahui kunci rahasia dalam keadaan menderita dan rendah. Hari ini kita sering mendengarkan kesaksian tentang kelimpahan. Dalam sidang gereja, saudara saudari berdiri bersaksi bagaimana mereka mendapatkan kelimpahan. Kita hampir tidak pernah mendengarkan orang bersaksi bagaimana mereka dalam kekurangan. Rasul Paulus berada dalam keadaan yang sangat kurang dan rendah, dia mungkin ditantang oleh orang, “Kalau Yesus yang kamu beritakan itu hidup, kalau Dia adalah Allah, mengapa kamu masih menderita? Kalau Dia itu Mahakuasa, mengapa kamu masih menderita kelaparan? Kami mempunyai banyak makanan, tetapi kamu tidak mempunyai makanan.” Paulus dalam 2 Korintus 11 memberi tahu kita, dia lapar dan tanpa pakaian (ayat 27). Itu adalah kesaksian yang sesungguhnya. Kalau saya bersaksi bahwa 30 tahun yang lalu saya pernah sangat kaya, dan sekarang saya tetap adalah miliarder, maka dalam aspek tertentu, saya ada masalah.

Kristus adalah kunci rahasia kehidupan, penderitaan, dan kenikmatan kita. Adakalanya kita benar-benar kaya. Kita tahu harus bagaimana dalam kekurangan, juga tahu harus bagaimana dalam kelimpahan. Untuk mengetahui bagaimana dalam keadaan kekurangan dan rendah, mungkin agak mudah; tetapi untuk mengetahui bagaimana berada dalam kelimpahan, itu tidak begitu mudah. Kalau Allah menaruh satu juta dolar di tangan kita, mungkin kita mudah berubah, kita mungkin merasakan sekarang kita sangat terhormat. Kalau kita mendapatkan sedikit uang, mungkin uang itu akan merusak kita. Kristus haruslah sebagai kunci rahasia kita menggunakan harta benda, sedang kita sendiri tidak terusak. Kalau di tangan kita ada beberapa juta dolar dan kita bisa tidak salah memakai, atau kita tidak menjadi rusak olehnya, itu benar-benar adalah anugerah. Inilah arti kita telah mendapatkan kunci rahasia. Kristus adalah kunci rahasia kita dalam keadaan kekurangan atau kelimpahan.

ROH ITU ADALAH KUNCI RAHASIA DALAM KUNCI RAHASIA

Beberapa butir di atas adalah konsepsi seluruh Surat Filipi. Kristus adalah hayat, sebab itu Dia adalah ekspresi kita. Dia adalah teladan, juga sasaran, tujuan. Tidak hanya demikian, Kristus adalah kunci rahasia. Masih ada satu kunci rahasia dalam kunci rahasia, yaitu suplai Roh Yesus Kristus yang limpah lengkap dalam 1:19. Ini bukan saja Roh Allah, tetapi Roh Yesus Kristus. Kita semua mengetahui Roh Yesus Kristus adalah Roh Allah, tetapi Rasul Paulus di sini tidak mengatakan Roh Allah, tetapi suplai Roh Yesus Kristus yang limpah lengkap. Roh ini adalah kunci dan rahasia.

Suplai Limpah Lengkap Roh Itu

Frase “suplai limpah lengkap” bagi orang Yunani kuno adalah satu istilah yang istimewa, berhubungan dengan kelompok paduan suara. Pemimpin kelompok paduan suara bertanggung jawab menyuplai keperluan anggotanya. Pemimpin ini menyuplai makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, buku musik, dan alat-alat musik mereka. Inilah frase yang dipakai dalam ayat 19. Hari ini Roh Yesus Kristus adalah pemimpin kelompok paduan suara kita, menyuplai segala keperluan kita. Kita adalah anggota-anggota paduan suara, melalui “nyanyian” kita memamerkan Kristus; kita perlu banyak barang, tetapi keperluan kita disuplai oleh pemimpin paduan suara kita, yaitu Roh Yesus Kristus. Inilah suplai limpah lengkap, suplai yang almuhit.

Di sini Roh itu disebut sebagai Roh Yesus Kristus. Karena hari ini Roh Yesus Kristus adalah Roh itu. Kristus mengatakan bahwa Dia adalah realitas, dan hari ini Roh itu adalah Roh realitas (Yoh. 14:6, 17). Yesus Kristus adalah realitas, Roh Allah hari ini adalah Roh Yesus Kristus, sebab itu Roh itu adalah Roh realitas. Apa adanya Yesus, apa yang yang dicapai dan didapatkan oleh Yesus, semuanya ada dalam Roh itu. Tidak hanya demikian, Roh ini ada di dalam kita. Aliran listrik adalah penjelasan yang terbaik untuk Roh itu. Kalau Anda melihat meteran listrik bisa mengetahui apakah dalam suatu rumah ada listrik yang mengalir atau tidak. Kalau di rumah itu ada listrik yang mengalir, di sana ada realitas listrik; kalau tidak ada aliran listrik, tidak ada realitas listrik. Lalu, apakah aliran listrik itu? Aliran listrik adalah listrik itu sendiri. Ketika kita membicarakan kasih Allah, anugerah Kristus, dan persekutuan Roh Kudus, maksud kita adalah: persekutuan Roh Kudus adalah aliran Allah dan Kristus. Kristus sebagai “listrik” mengalir dalam aliran listrik. Listrik asalnya berada di dalam mesin pembangkit listrik, sekarang melalui aliran listrik, listrik juga ada di dalam rumah itu. Demikian juga, Roh itu adalah aliran Kristus, hari ini aliran ini mengalir di dalam kita. Aliran listrik adalah penjelasan yang indah dari Roh itu. Mungkin karena beberapa ratus tahun yang lalu belum ada aliran listrik, maka mereka tidak bisa seperti kita pada hari ini demikian memahami tentang Roh Yesus Kristus.

Pemulihan Tuhan terhadap Roh Itu

Hari ini Kristus adalah Roh itu, terhadap kita begitu riil. Kalau Kristus terhadap kita bukan aliran yang demikian, bagaimana kita bisa mengalami Dia sebagai hayat kita? Yesus berkata, “Akulah roti kehidupan (hayat),” juga, “Demikian juga siapa saja yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku” (Yoh. 6:48, 57). Kristus terhadap kita adalah makanan, kita harus memakan Dia. Tetapi kalau Dia bukan Roh itu, bagaimana kita bisa memakan Dia? Saya percaya dalam beberapa waktu ini, Kristus adalah Roh yang tinggal di dalam adalah satu butir utama dalam pemulihan Tuhan. Hal ini akan mendapatkan pemulihan yang lebih lanjut di tengah-tengah kita. Enam tahun yang lalu, sejak tahun 1959, setiap kali saya mengeluarkan waktu di hadapan Tuhan, di dalam saya timbul perkara ini: Roh itu dengan roh kita.

Rasul Yohanes dalam roh nampak semua visi dalam Kitab Wahyu. Dalam Kitab Wahyu 4 ada visi tentang takhta. Dalam pasal 6—20 ada visi tentang tujuh meterai, tujuh sangkakala, dan tujuh cawan. Pasal 4:1-2 mengatakan, “Setelah itu aku melihat: Sesungguhnya, sebuah pintu terbuka di surga dan suara yang dahulu kudengar, berkata kepadaku seperti bunyi sangkakala, ‘Naiklah ke mari dan Aku akan menunjukkan kepadamu apa yang harus terjadi sesudah ini.’” Segera aku dikuasai oleh Roh dan lihatlah, ada sebuah takhta di surga, dan di takhta itu duduk Seorang.” Dari takhta ini keluar tujuh meterai, tujuh sangkakala, dan tujuh cawan. Kemudian dari pasal 21—22 ada visi tentang Yerusalem Baru. Pasal 21:10 mengatakan, “Lalu, di dalam roh ia membawa aku ke atas sebuah gunung yang besar dan tinggi dan ia menunjukkan kepadaku kota yang kudus itu, Yerusalem, turun dari surga, dari Allah.” Visi pasal 4 adalah tentang takhta, yaitu pusat seluruh alam semesta. Visi pasal 21 adalah tentang Yerusalem Baru, satu-satunya ekspresi universal Allah. Kedua visi ini adalah cerita dalam roh. Ada beberapa Alkitab yang menerjemahkan kata roh di sini memakai huruf besar (Roh), tetapi ada terjemahan yang memakai huruf kecil (roh). Sulit mengetahui ini sebenarnya mengacu kepada Roh itu, atau roh manusia rasul. Tidak peduli yang mana, ini semua adalah cerita roh.

Roh Itu Adalah Hembusan Kristus

Pada akhir zaman, hal tentang Roh itu dengan roh kita semakin lama semakin dipulihkan. Kita harus mengenal Kristus adalah Roh itu, dan semua hal yang berkaitan dengan Allah dapat kita realisasikan di dalam roh. Bahkan lima tahun yang lalu, saya masih tidak sejelas hari ini. Saat itu saya belum pernah melepaskan satu berita yang memberi tahu orang bahwa Kristus menjadi Roh pemberi hayat adalah seperti udara. Hari ini saya bisa memberi tahu orang tentang hal ini, saya mempunyai keyakinan bahwa hal ini tepat, karena pada malam hari kebangkitan Tuhan, Ia datang ke tempat murid-murid, menghembusi mereka dan berkata, “Terimalah Roh Kudus” (Yoh. 20:22). Roh itu adalah hembusan Kristus; ketika Tuhan menghembusi murid-murid, udara yang keluar dari mulut-Nya adalah Roh Kudus. “Roh” dalam bahasa Yunaninya adalah “pneuma”, artinya, roh, udara, angin. Ban mobil kita ada tekanan udara; kalau tidak ada udara, ban akan kempis. Hari ini banyak orang Kristen yang kempis, kekurangan “pneuma”, kekurangan udara rohani.

Hari ini, terhadap kita Kristus sangatlah praktis, sama seperti udara. Kita masih bisa bertahan hidup meskipun tidak makan tujuh hari, tidak minum tiga sampai lima hari, tetapi kalau tidak ada udara, tiga menit saja kita akan mati. Udara ini bukanlah udara yang sejati, hanya bayang-bayang saja. Udara sejati adalah Kristus; kita hidup, bergerak, berperilaku, dan bertindak tanduk di dalam-Nya. Terhadap kita Kristus begitu penting, begitu praktis. Bukankah ini sangat ajaib? Di satu pihak ini adalah mukjizat yang terbesar; di pihak lain ini adalah perkara yang sangat normal. Setiap hari kita hidup dalam udara. Kristus sebagai udara adalah mukjizat. Dia adalah udara, angin, bahkan pada hari raya Pentakosta terjadi tiupan angin keras, juga membawa masuk udara segar; angin selalu membawa datang udara.

Kalau tidak ada penemuan ilmiah, mungkin kita tidak bisa dengan sepenuhnya mengerti hal-hal ini. Hari ini ilmu pengetahuan membuktikan, bahkan dalam benda yang sekecil apa pun juga ada energi atom. Kalau benda-benda kecil ini saja ada kekuatan yang begitu besar, coba pikirkan, betapa besar kekuatan yang ada pada Kristus . Hari ini Kristus adalah Roh itu, Roh itu ada di dalam kita. Dalam alam semesta ini ada realitas Allah Tritunggal — Bapa adalah sumber, Anak adalah saluran, Roh adalah aliran. O, di dalam kita ada kasih Allah, anugerah Kristus, dan persekutuan Roh Kudus! Realitas Allah Tritunggal sedemikian ini, melalui Roh itu disalurkan ke dalam kita. Sebab itu kita bukan sedang menggarap suatu aktivitas agama Kristen, karunia, bahkan bukan hanya Alkitab itu sendiri. Kita sedang berhubungan dengan Allah yang hidup, berhubungan dengan Kristus yang hidup dalam Roh yang hidup; bukan dengan cara yang ajaib, tetapi dengan cara yang sangat normal dan biasa, sama seperti bernafas. Saya tidak mempunyai kosa kata yang cukup untuk menyatakan apa yang ada di dalam hati saya, dan apa yang dipahami dalam roh saya. Ini sangat sulit untuk dijelaskan, tetapi terhadap hal ini saya benar-benar nampak dalam roh. Tentang hal ini, saya selamanya tidak bisa habis mengatakannya. Dari makna tertentu, saya bahkan menjadi “gila” terhadap hal ini.

Bapa di dalam Anak, Anak adalah Roh itu, dan Roh itu hari ini adalah aliran Allah Tritunggal. Aliran ini mengalir masuk ke dalam kita, juga mengalir di dalam kita. Ketika Dia mengalir, segala esens, unsur, dan kepenuhan ke-Allahan, tersalur ke dalam kita. Ini sungguh terlalu ajaib! Ini bukan semacam agama, serangkai pengajaran, atau beberapa macam karunia, bahkan bukan hanya Alkitab itu sendiri. Ini adalah Allah Tritunggal yang hidup, di dalam Anak, melalui Roh, hari demi hari, tidak hentinya mengalir ke dalam kita, sama seperti listrik, sama seperti udara. Kristus yang kita percayai adalah demikian hidup, Roh pemberi hayat, begitu riil dan praktis seperti udara. Apakah pemahaman kita terhadap Dia sudah sampai taraf ini? Kita perlu memahami Dia.

Inilah Kristus yang diwahyukan dalam Surat Galatia, Efesus, Filipi, dan Kolose, keempat Surat Kiriman ini. Penulisnya, Rasul Paulus memperlihatkan kepada kita visi tentang Kristus, kemudian memberi kita satu kunci rahasianya, yaitu dalam suplai dari Roh Yesus Kristus yang limpah lengkap mengalami Kristus ini. Kalau kita mempunyai Roh ini mengalir di dalam kita, kita mempunyai Kristus hidup di dalam kita. Namun Kristus akan melalui kita diperbesar, Dia akan menjadi teladan, sasaran, pahala, dan tujuan kita, Dia juga akan menjadi Dia yang berada di dalam kita dan yang memperkuat kita. Dengan demikian, Dia menjadi kunci rahasia. Kalau kita telah memiliki Dia, apa saja bisa kita lakukan. Namun kunci rahasia di dalam kunci rahasia adalah Roh itu. Sama seperti untuk mendapatkan listrik harus melalui saklar, saklar ekonomi Allah adalah Roh itu bersama roh kita. Kalau kita melatih roh kita dan memperhatikan roh ini, kita akan memahami betapa limpah, riil, dan hidup, Kristus yang tinggal di batin kita. Saya ulangi lagi, ini bukan hal yang adikodrati, melainkan hal yang sangat normal. Semakin kita rohani, kita akan semakin normal, dan mempunyai kekuatan yang normal. Hayat, ekspresi, teladan, sasaran, tujuan, diperkuat, dan kunci rahasia, semuanya di dalam Roh Yesus Kristus, Dia mempunyai suplai yang limpah lengkap. Puji Tuhan, Dia ada di dalam kita! Ini sangatlah ajaib, inilah kunci untuk mengalami Kristus. Untuk inilah saya sangat memustikakan Surat Filipi.