HASIL MENGALAMI KRISTUS DALAM SURAT EFESUS
Pembacaan Alkitab:
Ef. 1:10, 13, 17-23; 2:5-6, 10, 15-16, 18, 20-22; 3:4-6, 8-11, 14-21;
4:3-6, 11-16, 22-24; 5:18, 25-27, 30, 32; 6:10-19
Kita akan melihat beberapa ayat dalam Surat Efesus. Pasal 1:10 mengatakan, “Sebagai persiapan kegenapan waktu untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di surga maupun yang di bumi.” Kristus tidak hanya sebagai hayat, Dia juga Kepala; segala sesuatu akan dipersatukan di bawah kekuasaan Dia sebagai Kepala.
Ayat 13 mengatakan, “Di dalam Dia kamu juga — karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu — di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu.” Dia dalam frase “di dalam Dia” mengacu kepada Kristus; di dalam Dia yang mempersatukan segala sesuatu ini, kita telah menerima Roh Kudus sebagai meterai.
Ayat 17 mengatakan, “Dan meminta kepada Allah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Bapa yang mulia itu, supaya Ia memberikan kepadamu Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar.” Kata “Roh” di sini sebenarnya mengacu kepada Roh Kudus atau roh manusia kita, sulit sekali ditentukan. Kita harus mengatakan, ini adalah roh manusia berbaur dengan Roh Kudus, dua roh berbaur dan terjalin menjadi satu.
Ayat 18-23 meneruskan mengatakan, “Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: Betapa kayanya kemuliaan warisan-Nya kepada orang-orang kudus, dan betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya, sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya yang besar, yang dikerjakan-Nya di dalam Kristus dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati dan mendudukkan Dia di sebelah kanan-Nya di surga, jauh lebih tinggi dari segala pemerintah dan penguasa dan kekuasaan dan kerajaan dan tiap-tiap nama yang dapat disebut, bukan hanya di dunia ini saja, melainkan juga di dunia yang akan datang. Segala sesuatu telah diletakkan-Nya di bawah kaki Kristus dan Dia telah diberikan-Nya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada. Jemaat yang adalah tubuh-Nya, yaitu kepenuhan Dia yang memenuhi semua dan segala sesuatu.” Kata “kepada” dalam frase “kepada jemaat (gereja)”, sangatlah penting. Apa yang Allah kerjakan di atas diri Kristus, apa yang Kristus capai, bukan hanya untuk gereja, tetapi juga kepada gereja, yaitu ditransmisikan kepada gereja.
Sampai pasal 2, ayat 5-6 mengatakan, “Telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita — oleh anugerah kamu diselamatkan — dan di dalam Kristus Yesus Ia telah membangkitkan kita juga dan memberikan tempat bersamasama dengan Dia di surga.” Kemudian ayat 10 mengatakan, “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.” Ayat 15 dan 16 mengatakan, “Sebab dengan kematian-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera, dan untuk memperdamaikan keduanya, di dalam satu tubuh, dengan Allah melalui salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib itu.” Kristus, di dalam diri-Nya sendiri, menggarap orang Yahudi dan orang kafir (dua kelompok orang ini), bukan hanya menjadi, bahkan menciptakan menjadi satu manusia baru. Tubuh dalam ayat 16 adalah gereja, berdasarkan ayat 15, Tubuh ini juga adalah manusia baru.
Ayat 18 mengatakan, “Karena melalui Dia kita kedua pihak dalam satu Roh beroleh jalan masuk kepada Bapa.” Ayat 20-22 meneruskan, “Yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru. Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapi tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan. Di dalam Dia kamu juga turut dibangun menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh.” Kata “Roh” dalam ayat 22, mengacu kepada roh insani kita berbaur dengan Roh Kudus.
Efesus 3:4 mengatakan, “Apabila kamu membacanya, kamu dapat mengetahui pengertianku tentang rahasia Kristus.” Kolose 2:2 mengatakan tentang “rahasia Allah”, tetapi Efesus 3:4 mengatakan tentang “rahasia Kristus”. Rahasia Allah adalah Kristus, dan rahasia Kristus adalah gereja. Kristus adalah sejarah dan cerita Allah, yaitu penjelasan dan pernyataan Allah. Demikian juga gereja adalah sejarah, cerita, penjelasan, dan pernyataan Kristus. Ayat 5-6 meneruskan, “Yang pada zaman orang-orang dahulu tidak diberitahukan kepada anak-anak manusia, tetapi sekarang dinyatakan di dalam Roh (roh) kepada rasul-rasul dan nabi-nabi-Nya yang kudus, yaitu bahwa orang-orang bukan Yahudi, karena Injil, turut menjadi ahli-ahli waris dan anggota-anggota tubuh dan peserta dalam janji yang diberikan dalam Kristus Yesus.” Roh dalam ayat 5 bahasa aslinya tidak ada kata sandang, sebab itu mengacu kepada roh insani kita.
Ayat 8 mengatakan, “Kepadaku, yang paling hina (yang lebih kecil daripada yang terkecil) di antara segala orang kudus, telah diberikan anugerah ini, untuk memberitakan kepada orang-orang bukan Yahudi kekayaan Kristus, yang tidak terduga itu.” Paulus tidak memberitakan doktrin, nubuat, atau karunia; dia memberitakan kekayaan Kristus yang tidak terduga. Kekayaan-kekayaan ini adalah berbagai macam butir apa adanya Kristus, berbagai macam butir kekayaan Kristus. Ayat 9-10 meneruskan, “Dan untuk membuat semua orang melihat rencana rahasia yang telah berabadabad tersembunyi dalam Allah yang menciptakan segala sesuatu, supaya sekarang melalui jemaat diberitahukan berbagai ragam hikmat Allah kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa di surga, sesuai dengan maksud abadi, yang telah dilaksanakan-Nya dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.”
Ayat 14 mengatakan “itulah sebabnya”, ini adalah penyebab dari wahyu dalam beberapa ayat sebelumnya. Ayat 14-17a mengatakan, “Itulah sebabnya aku sujud kepada Bapa, yang dari-Nya semua keluarga yang di dalam surga dan di atas bumi menerima namanya. Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan kamu dengan kuasa melalui Roh-Nya di dalam batinmu, sehingga oleh imanmu Kristus tinggal di dalam hatimu.” Allah memperkuat kita di dalam batin kita. Ayat 17b-21 meneruskan, “Dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih. Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan semua orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu yang melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah. Bagi Dia yang dapat melakukan jauh lebih banyak daripada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita, bagi Dialah kemuliaan di dalam jemaat dan di dalam Kristus Yesus turun-temurun sampai selamalamanya. Amin.”
Pasal 4:3-6 mengatakan, “Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh dalam ikatan damai sejahtera: Satu tubuh, dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan melalui semua dan di dalam semua.” Ayat 11-16 mengatakan tentang pertumbuhan dan pembangunan. Ayat 15-16 mengatakan, “Sebaliknya, dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih, kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala. Dari Dialah seluruh tubuh — yang rapi tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota — menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih.”
Ayat 22-24 mengatakan, “Yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibarui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.”
Sampai pasal 5, ayat 18 mengatakan, “Janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh.” Ayat 2527 mengatakan, “Hai suami, kasihilah istrimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan (dalam) firman, supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela.” Ayat 27 tidak mengatakan tentang dosa dan kenajisan, tetapi mengatakan tentang cacat dan kerut. Ayat 30-32 mengambil kesimpulan, “Karena kita adalah anggota tubuh-Nya. Sebab itu, laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Rahasa ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat.”
Pasal 6:10-19 mengatakan tentang perlengkapan senjata Allah. Ayat 14-17 mengatakan, “Jadi, berdirilah tegap, berikatpinggangkan realitas dan berbajuzirahkan kebenaran, kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera; dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah” (Tl.). Realitas, kebenaran, damai sejahtera, semuanya adalah Kristus, dan Kristus yang memimpin kita kepada iman, dan yang
membawa iman kita itu kepada kesempurnaan. Selain itu, Kristus juga anugerah keselamatan, lagi pula Dia adalah firman Allah. Ayat 18 meneruskan, “berdoalah setiap waktu di dalam Roh.” Di sini kata “Roh” juga tidak ada kata sandang, sebab itu seharusnya diterjemahkan menjadi “roh”, dengan huruf kecil.
Dalam bab pertama, kita melihat bahwa dalam Surat Kolose, Kristus adalah segala sesuatu, juga di dalam segala sesuatu. Dalam bab kedua, kita melihat bahwa Kristus yang almuhit ini harus tergarap ke dalam kita. Kemudian dalam bab ketiga, kita melihat kunci rahasia mengalami Kristus. Dalam bab ini kita akan melihat hasil dari mengalami Kristus. Hasil dari mengalami Kristus adalah gereja. Gereja berasal dari pengalaman terhadap Kristus, hal ini diwahyukan dengan sepenuhnya di dalam enam pasal Surat Efesus yang pendek ini. Surat Efesus cukup pendek, tetapi benarbenar dalam. Pendalaman kita terhadap Surat Kiriman ini selamanya tidak akan habis; dari dalamnya kita juga bisa menyuplai dengan tiada batasnya firman tentang Kristus dan gereja. Surat Kiriman ini memiliki empat pokok utama. Pokok pertama yang diwahyukan oleh Surat Efesus adalah Kristus “kepada jemaat” (1:22). Pokok kedua adalah menyuplai ministri Kristus. Pokok ketiga adalah pengalaman terhadap Kristus. Pokok keempat adalah roh perbauran, Roh Kudus sendiri berbaur dengan roh manusia, roh manusia juga berbaur dengan Roh Kudus.
TRANSMISI KRISTUS TERHADAP GEREJA
Kita telah melihat, dalam Surat Kolose Kristus adalah segala-galanya, tetapi kita tidak terlalu banyak melihat pekerjaan Kristus di dalam Surat Kiriman itu. Surat Efesus lebih maju lagi mewahyukan yang digenapkan, dicapai, dan didapatkan oleh Kristus. Benar-benar ada yang dicapai, digenapkan, dan didapatkan oleh Kristus. Surat Efesus 1 memberi tahu kita tentang ekonomi, pengaturan, dan rencana Allah, adalah hendak mempersatukan segala sesuatu di dalam Kristus sebagai Kepala. Ini adalah satu perkara yang besar. Kita tidak tahu ada berapa banyak butir perkara dalam alam semesta. Dalam alam semesta sebenarnya ada berapa triliun butir perkara, tidak ada orang yang bisa menyebutnya. Kesemuanya ini akan dipersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala. Kristus akan menjadi Kepala yang mempersatukan segala sesuatu. Inilah maksud hati, kehendak, dan ekonomi Allah. Namun untuk mencapai ini, Kristus harus merampungkan beberapa hal.
Kita tahu bahwa Kristus telah mati bagi kita. Tetapi setelah disalibkan, Dia bangkit dari kematian; setelah bangkit Dia ditinggikan, dibawa ke tempat tertinggi dalam alam semesta. Allah membuat Dia melampaui segala sesuatu, segala sesuatu bukan hanya dalam aspek ruang, juga melampaui aspek waktu, karena alam semesta adalah ruang ditambah waktu. Kristus begitu tinggi dan unggul, sehingga Dia melampaui seluruh alam semesta, bukan hanya pada masa kini, termasuk juga pada masa yang akan datang. Tidak hanya demikian, Dia juga menjadi Kepala segala sesuatu. Bahkan sebelum menjadi daging, Allah sudah menetapkan Kristus menjadi Kepala, tetapi setelah Dia bangkit dari kematian, dan berada dalam kenaikan surga, barulah dibawa ke dalam kedudukan sebagai Kepala, baru menjadi Kepala. Setelah Dia naik ke atas segala langit, Allah menaruh Kristus ke atas takhta, untuk menjadi Kepala segala sesuatu.
Selain itu, apa yang Kristus rampungkan, yang Kristus capai dan dapatkan, semuanya terarah kepada gereja (Ef. 1:22). Banyak orang mungkin tidak jelas tentang frase “kepada jemaat (gereja)”. Kita boleh membandingkan hal ini dengan penyuntikan, yaitu menyalurkan sesuatu ke dalam seluruh diri kita. Apa saja yang Allah kerjakan di atas diri Kristus, apa saja yang Kristus capai dan dapatkan, tidak hanya untuk gereja, juga diarahkan kepada gereja. Allah membangkitkan Kristus, dalam kenaikan ke surga Allah meninggikan Kristus ke tempat yang paling tinggi, juga menaruh Dia di atas takhta menjadi Kepala segala sesuatu. Hari ini apa saja yang Allah kerjakan terhadap Kristus, semuanya diarahkan kepada gereja, Tubuh-Nya.
Kelihatannya orang Kristen sangat kasihan. Sebenarnya kita sangatlah tinggi dan unggul, tetapi kita yang merasa sangat rendah, tidak layak! Kita perlu melihat visi. Kalau saya bertanya kepada Anda, “Di mana Anda sekarang?” Apa jawaban Anda? Apakah Anda akan menjawab hanya ada di dalam ruangan ini? Kita semua harus nampak bahwa kita berada di tempat yang paling tinggi dalam alam semesta. Kristus telah melakukan hal ini. Dia telah membereskan semua perkara yang negatif, Dia telah mendapatkan segala perkara yang positif, maka Dia tidak meninggalkan sesuatu yang belum diselesaikan. Kita sudah diletakkan di dalam Kristus, kita sudah berkorporasi dengan Dia. Jadi, apa saja yang Kristus kerjakan, rampungkan, dapatkan, dan capai, semuanya diarahkan kepada gereja, yaitu ditransmisikan kepada gereja.
MINISTRI YANG MENYUPLAIKAN KRISTUS
Ministri rasul, nabi, pemberita Injil, gembala dan pengajar, adalah ministri yang menyuplaikan Kristus (4:11-12). Mereka menyuplaikan kekayaan Kristus yang tidak terduga kepada orang. Kristus adalah Kepala, Dia itu almuhit. Dia sudah merampungkan, mencapai, dan mendapatkan segala sesuatu. Bagaimana Kristus yang demikian kaya dan yang mempunyai banyak kesuksesan ini bisa disuplaikan kepada kita? Yaitu melalui ministri rasul, nabi, pemberita Injil, gembala dan pengajar. Berbagai macam ministri orang yang berkarunia adalah menyuplaikan Kristus kepada orang.
Kita bersyukur kepada Tuhan, dalam lima abad yang lalu, Dia melalui umat-Nya telah memulihkan banyak pengajaran. Pengajaran-pengajaran itu benar-benar ada sejumlah realitasnya, tetapi karena kelemahan manusia, manusia tertarik memperhatikan pengajaran-pengajaran, tidak memperhatikan realitas. Namun, dalam hari-hari terakhir ini, yang akan Tuhan pulihkan bukan pengajaran yang lebih banyak, melainkan realitas yang lebih banyak, yaitu diri-Nya yang lebih banyak. Jadi, minister-minister dan orang-orang berkarunia yang dibangkitkan Tuhan harus menyuplaikan Kristus, bukan menyuplaikan doktrin; mereka memberitakan kekayaan Kristus kepada orang kafir, yaitu memberitakan setiap butir apa adanya Kristus. Kita harus menyuplaikan kekayaan Kristus, seperti hayat, hikmat, sabar, kerendahan hati, kepada orang.
Pada tahun 1960, di Taiwan saya bersama kaum muda membagi nikmat bahwa segala nama Kristus menunjukkan seluruh apa adanya Kristus. Saya menemukan hampir tiga ratus nama, sebutan, atau butir Kristus yang berbeda. Dia adalah bait, kemah pertemuan, dan hari raya Paskah. Hanya kurban persembahan saja sudah ada banyak butir: kurban bakaran, kurban penghapus dosa, kurban penebus salah, kurban sajian, kurban keselamatan, kurban unjukan, dan kurban khusus. O, kekayaan Kristus! Dalam hari-hari ini, semua minister yang dibangkitkan Tuhan harus belajar hanya menyuplaikan kekayaan Kristus. Biarlah kita melupakan doktrin, denominasi, zaman, penentuan dini, pemilihan, dan lain-lain. Saya tidak senang mendengarkan hal-hal ini. Marilah kita belajar bagaimana melalui pengurapan Roh itu menyuplaikan Kristus kepada orang.
Di tengah-tengah kita ada orang yang pernah sekolah Teologi atau Seminari Alkitab, saya ingin bertanya kepada kalian, “Apakah kalian pernah mendengar bahwa Kristus adalah kurban unjukan dan kurban khusus? Apakah kalian pernah dengan demikian mengalami Kristus?” Kita memberitakan kekayaan Kristus, bukan doktrin Kristus. Hari ini gereja perlu satu macam ministri, bukan menyuplaikan menu Kristus, melainkan menyuplaikan Kristus sebagai makanan. Banyak ajaran kekristenan hari ini sama seperti menu makanan di restoran. Hari ini dalam apa yang disebut gereja, mungkin ada orang telah mampu membaca menu, tetapi tidak memiliki makanannya. Mereka memiliki doktrin tentang Kristus, tetapi tidak memiliki realitas Kristus.
Adakalanya saya pergi ke suatu rumah makan bersama saudara-saudara, karena terlalu lelah, saya tidak ingin melihat menu masakan. Ketika saudara-saudara memperlihatkan menu masakan kepada saya, saya hanya berkata, “Saya ikut makan apa yang kalian pilih, saya tidak suka membaca nama masakan, saya suka makan. Saya tidak ingin mengerti, saya hanya ingin menikmati, sebab itu kalian memilih apa saja untuk saya, tidak ada masalah. Saya tidak peduli asam atau manis, saya makan semua.” Kita harus belajar makan. Kita harus belajar makan Kristus, bukan hanya belajar doktrin tentang Kristus. Belajar doktrin akan membuat kita letih, tetapi menikmati Kristus akan membuat kita segar, akan membuat kita kuat, dan membuat kita puas. Setelah pulang dari rumah makan, kalau ada orang bertanya kepada saya, “Tadi makan apa?” Saya akan menjawab, “Saya telah makan banyak, tetapi saya tidak tahu apa saja yang saya makan. Saya tidak tahu nama makanan itu, saya hanya menikmati makanan.” Meskipun saya tidak mengetahui makan makanan apa, saya telah mencernanya. Demikian juga, kita harus belajar mengenal Kristus, bukan mengenal pengetahuan, pengajaran, atau doktrin.
Orang-orang yang menyuplai umat Tuhan harus nampak bahwa keperluan orang pada hari ini adalah kekayaan Kristus, bukan doktrin atau pengajaran. Tentunya kadang-kadang untuk mentransmisikan Kristus kepada orang, kita perlu doktrin sebagai sarana, tetapi yang kita berikan kepada orang itu bukan sarana, melainkan Kristus yang kita transmisikan di dalamnya. Dalam Surat Efesus ada satu macam ministri yang terus menyuplaikan Kristus kepada orang. Hari ini gereja belum terbangun, karena terlalu kurang gizi, suplai, dan bahan yang sejati, untuk dipakai membangun gereja. Kekayaan Kristus terlalu sedikit disuplaikan kepada kaum saleh, sebab itu kaum saleh mati kelaparan. Gereja perlu Kristus sebagai bahan bangunan. Untuk ini perlu para minister dan ministri yang menyuplaikan Kristus kepada orang. Rasul, nabi, pemberita Injil, semua menyuplaikan Kristus kepada kaum saleh, melalui ministri ini menggenapkan mereka.
PENGALAMAN TERHADAP KRISTUS
Pokok pembicaraan yang paling besar dalam Surat Efesus adalah pengalaman terhadap Kristus. Pengalaman terhadap Kristus ada tujuh butir. Di antaranya lima butir adalah: “menguatkan kamu dengan kuasa melalui Roh-Nya di dalam batinmu” (3:16), “diperbarui di dalam roh pikiranmu” (4:23 Tl.), “menerima pertumbuhannya” (4:16), “melalui tumbuh . . . dibangun” (2:20-22), “perjuangan” (6:12). Kelima butir ini — menguatkan, diperbarui, bertumbuh, dibangun, dan berjuang, adalah berbagai aspek pengalaman terhadap Kristus; tetapi sebelum kita mengalami ini, harus nampak dua butir yang lain. Pertama, kita harus nampak bahwa kita di dalam Kristus. Dalam Surat Efesus, frase “di dalam Dia” dipakai beberapa kali (1:4, 10-11, 13; 2:21-22; 3:12; 4:21). Semua pengalaman terhadap Kristus adalah berdasarkan pada fakta bahwa kita berada di dalam Kristus, yaitu kita telah berkorporasi dengan Kristus, bersatu dengan Kristus. Kalau saya telah berkorporasi dengan seseorang, secara hukum saya bersatu dengan orang itu; apa yang menjadi miliknya, menjadi milik saya. Kristus telah naik ke surga, menjadi Kepala segala sesuatu. Berkorporasi dengan orang yang miskin, sangatlah kasihan, tetapi berkorporasi dengan miliarder sangatlah menakjubkan. Puji Tuhan, Kristus lebih kaya daripada miliarder, kita sudah berkorporasi dengan-Nya!
Orang sering bertanya tentang nama gereja kita, bertanya sebenarnya kita sedang berbuat apa. Kita boleh berkata bahwa kita adalah Perseroan Kristus, hari demi hari kita mengelola usaha Perseroan Kristus. Inilah usaha kita. Kita sedang melakukan “bisnis” Kristus, melakukan “tansaksi” Kristus, melakukan “perdagangan” Kristus. Saudara saudari terkasih, saya berharap mengadakan transaksi dengan kalian, tetapi transaksi ini bukan yang lain, melainkan Kristus. Hari ini kita berkorporasi dengan Kristus, kita telah berada di dalam Kristus.
Butir kedua yang harus kita pahami adalah Kristus di dalam kita. Bukan hanya kita yang ada di dalam Kristus, Kristus juga ada di dalam kita. Ini adalah saling “di dalam”. Kita di dalam Dia, Dia juga di dalam kita. Kristus ingin berhuni di dalam kita. Efesus 3:16-17a mengatakan, “Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan kamu dengan kuasa melalui Roh-Nya di dalam batinmu, sehingga oleh imanmu Kristus tinggal di dalam hatimu.” Kita sepenuhnya berada di dalam-Nya, Dia juga sepenuhnya berada di dalam kita. Kita harus nampak dua fakta ini. Begitu kita nampak dua fakta ini, kita perlu lima faktor yang disinggung di atas — menguatkan, diperbarui, bertumbuh, dibangun, dan berjuang. Lima aspek pengalaman terhadap Kristus ini adalah berdasarkan fakta kita di dalam Dia, dan Dia di dalam kita.
Dikuatkan ke Dalam Manusia Batiniah
Dikuatkan adalah permulaan yang sejati pengalaman terhadap Kristus. Ayat 16 mengatakan, “Menguatkan kamu dengan kuasa melalui Roh-Nya di dalam batinmu.” “Batinmu” dalam bahasa aslinya adalah “manusia batiniah”, suatu istilah yang sangat istimewa. Sebelum beroleh selamat, kita tidak memiliki manusia batiniah ini. Kita memiliki roh manusia, tetapi tidak memiliki manusia batiniah. Di dalam jiwa kita ada hayat insani, sebab itu jiwa kita adalah satu orang. Tetapi dalam roh insani kita tidak ada hayat, sebab itu roh ini bukan satu orang (persona), hanya satu organ. Sampai Tuhan Yesus masuk ke dalam roh kita, Dia menyalurkan diri-Nya ke dalam roh kita untuk menjadi hayat. Kini di dalam roh kita ada hayat yang lain. Dalam jiwa kita ada hayat insani, sehingga jiwa menjadi persona yang insani; tetapi hari ini kita juga memiliki hayat ilahi Kristus di dalam roh kita, sebab itu roh kita mempunyai satu persona ilahi. Roh kita yang dilahirkan kembali tidak hanya merupakan satu organ, tetapi juga menjadi manusia batiniah. Inilah permulaan kita mengalami Kristus.
Namun mungkin seseorang belum matang, bahkan mungkin masih sebagai seorang bayi. Ada orang yang sangat kuat, tetapi ada orang yang masih sangat lemah. Ada orang yang bertumbuh besar, ada orang yang belum matang. Meskipun sama-sama sebagai orang, tetapi ada perbedaan umur dan keadaan kesehatan. Kita sudah dilahirkan kembali, juga mempunyai manusia batiniah, tetapi ada orang yang manusia batiniahnya lemah, muda, bahkan kekanak-kanakan seperti seorang bayi.
Kita sering lemah dalam roh, tetapi kuat dalam jiwa. Kita boleh memakai keterangan di bawah ini untuk membuktikan hal ini: ketika kita berkumpul bersama, selalu senang ngobrol, dalam hal ngobrol ini kita sangat kuat. Ini membuktikan pikiran dan jiwa kita sangat kuat. Tetapi kalau ingin memiliki sepotongan waktu untuk berdoa, setiap orang menjadi tenang. Jalan terbaik supaya setiap orang tenang adalah mengajak orang berdoa. Saudara saudari tidak ada waktu untuk berdoa, tetapi bisa tidak henti-hentinya berbicara, meskipun kita berusaha menenangkan mereka, tetap tidak bisa berhenti berbicara. Cara terbaik supaya mereka tenang adalah berkata, “Mari kita berdoa.” Dengan demikian, setiap orang bisa sunyi tenang. Ini disebabkan untuk berdoa perlu melatih roh. Berbicara dan tenang membuktikan kita terlalu kuat dalam pikiran dan jiwa, tetapi terlalu lemah dalam roh. Inilah sebabnya kita harus diperkuat ke dalam manusia batiniah kita.
Jiwa kita, manusia lahiriah kita perlu dikurangi sedikit. Manusia lahiriah kita terlalu kuat. Ketika suami dan istri berdebat, kedua-duanya kuat. Sekalipun mereka tidak bertengkar, hanya membicarakan suatu urusan, tetapi mereka tetap kuat, “Aku tahu ini; aku tahu itu.” Tentunya, ketika mereka berdoa, mereka berkata, “Tuhan, aku tidak tahu harus bagaimana berdoa.” Mereka tahu bagaimana berargumentasi, berdiskusi, bertengkar, tetapi tidak tahu bagaimana berdoa. Dalam hidup gereja, bahkan dalam hidup keluarga dan pernikahan, kita bisa nampak manusia batiniah kita lemah. Sering kali dalam kehidupan keluarga saya, saya tergoda untuk berdebat. Tetapi saya telah belajar, saya berkata, “Tuhan, buatlah aku rendah hati, buatlah aku lebih lemah. Aku senang lemah. Aku senang dibawa ke salib untuk dibunuh. Aku suka kelemahan dalam jiwa, tetapi kuat dalam roh.” Tuhan Yesus adalah demikian. Dilihat dari sudut tertentu, ketika Dia dibunuh di atas salib, Dia lemah di dalam jiwa dan di dalam diri-Nya, tetapi Dia kuat di dalam roh. Roh kita, manusia batiniah kita, perlu diperkuat, diperluas.
Kristus Berumah di Dalam Hati Kita
Hasil dari diperkuat adalah Kristus berumah di dalam hati kita. Frase “tinggal” dalam 3:17a, bahasa aslinya adalah bentuk kata kerja “rumah”. Manusia batiniah adalah roh kita yang ada Kristus di dalamnya, dan hati termasuk pikiran, emosi, tekad, dan hati nurani. Ketika roh kita, inti batiniah kita, diperkuat, Kristus bisa meluas, menguasai pikiran, emosi, tekad, dan hati nurani kita. Dengan demikian Kristus berumah di dalam hati kita. Kita boleh dengan sarung tangan menjelaskan hal ini. Kita bisa memasukkan tangan ke dalam sarung tangan, tetapi pada mulanya tangan belum sepenuhnya masuk ke dalam sarung tangan. Tangan masih perlu “berumah” di dalam sarung tangan. Pelan-pelan ibu jari masuk ke dalam ibu jari sarung tangan, kemudian jari kedua, ketiga juga masuk ke dalam jari kedua dan ketiga sarung tangan, kemudian, seluruh tangan dengan mantap masuk ke dalam sarung tangan.
Memang, Kristus berada di dalam kita, tetapi Dia mungkin belum dengan stabil ada di dalam kita. Ini perlu kita maju selangkah lagi mempersembahkan diri, lebih banyak takluk kepada Tuhan. Roh kita, manusia batiniah kita, harus diperkuat. Ketika kita diperkuat di dalam roh, Kristus yang berumah di dalam segera mempunyai kedudukan, kesempatan, meluaskan diri-Nya ke dalam pikiran, emosi, dan tekad kita, menguasai setiap bagian jiwa kita, yaitu menduduki hati kita. Kemudian Kristus akan mantap tinggal di setiap bagian batiniah kita. Dia tidak hanya melahirkan kembali roh kita, lebih-lebih tinggal di dalam dan berumah di dalam hati kita. Inilah perkara batiniah, bukan perkara lahiriah. Jiwa kita harus diduduki, pikiran, emosi, dan tekad kita harus dijenuhi oleh Kristus.
Dalam permulaan pengalaman kita terhadap Kristus, kita telah dilahirkan kembali. Kini kita mempunyai satu roh kelahiran kembali, satu manusia batiniah, tetapi roh ini masih hijau, lemah, dan kecil. Kristus ada di dalam roh kita, tetapi Dia tidak tinggal di dalamnya, dia dipenjara di sana. Roh kita menjadi penjara Kristus, bukan rumah-Nya. Begitu Kristus masuk, Dia tidak bisa dengan bebas bergerak. Hari ini kita harus diperkuat di dalam manusia batiniah kita. Artinya hayat jiwa kita harus direndahkan, jiwa kita harus dikurangi, barulah roh kita bisa ditinggikan. Roh kita (bukan jiwa kita) harus menjadi yang utama. Namun, bagi kebanyakan orang, jiwalah yang terutama; jiwa kita terlalu kuat, perlu ditaklukkan. Ketika kita diperkuat di dalam manusia batiniah kita, dan membiarkan Kristus mempunyai lebih banyak kedudukan, Dia akan menjenuhi hati kita dan berumah di dalam hati kita.
Diperbarui di Dalam Roh Pikiran Kita
Pasal 4:23 mengatakan, “Supaya kamu dibarui di dalam roh dan pikiranmu” (Tl.). “Roh pikiranmu” adalah satu frase yang istimewa. Ini menunjukkan roh berada di dalam pikiran kita. Roh di sini sulit dikatakan sebagai roh manusia atau Roh Kudus. Di sini ada kata sandang, tetapi “roh” dalam bahasa Inggris ditulis dengan huruf kecil, “spirit”. Saya yakin ini mengacu kepada roh perbauran. Kita dibarui di dalam roh pikiran, artinya pikiran kita telah diduduki oleh roh. Bukan pikiran kita yang menguasai roh kita, melainkan roh kita yang menguasai pikiran kita. Bagi kebanyakan orang, pikiran lebih berkuasa daripada roh, tetapi kalau kita lebih menaklukkan diri, mempersembahkan diri kepada Tuhan, roh perbauran akan menguasai pikiran kita, sebab itu roh ini menjadi roh pikiran kita. Melalui roh yang demikianlah pikiran kita baru bisa diperbarui.
Dalam pikiran kita terlalu banyak perkara yang usang; pikiran kita terlalu usang. Kita perlu diperbarui dalam pikiran kita. Ini adalah satu perkara yang besar. Kita tidak begitu bertumbuh, karena kita terlalu usang. Petani di kebun bisa memberi tahu kita bahwa cara untuk membantu pohon bertumbuh adalah memotong carang yang tua (usang), supaya pohon berubah menjadi segar. Kalau menyingkirkan yang tua, bisa tumbuh carang yang baru. Dalam sepanjang hidup kita terus memakai pikiran, pikiran kita sudah terlalu usang, perlu diperbarui, bukan melalui tangan manusia atau cara manusia, melainkan melalui roh yang diperbarui.
Bertumbuh ke Dalam Kristus
Setelah kita diperbarui, kita akan bertumbuh karena Kristus, dan bertumbuh ke dalam Kristus. Secara doktrin, kita berada di dalam Kristus; tetapi secara pengalaman, dalam banyak hal kita tetap tidak di dalam Kristus. Sebab itu, kita perlu dalam hal-hal itu bertumbuh ke dalam Kristus. Efesus 4:15 mengatakan, “Kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala.” Kita perlu bertumbuh ke dalam Kristus, bukan hanya dalam satu hal, tetapi dalam segala hal.
Dengan Kristus sebagai Bahan Bangunan
Melalui bertumbuh kita terbangun, menghasilkan satu bangunan (ayat 16b). Kita harus terbangun, bukan dengan diri sendiri sebagai bahan, melainkan dengan Kristus sebagai bahan. Semakin bertumbuh besar, semakin mendapatkan Kristus sebagai bahan bangunan, demikianlah kita terbangun.
Berperang Berdasarkan Kristus sebagai Seluruh Perlengkapan Senjata Allah
Setelah kita dibangun, kita harus berperang. Kita bukan berperang berdasarkan hal-hal yang berasal dari diri sendiri. Sebaliknya, Kristus adalah setiap aspek dari perlengkapan senjata Allah. Kebenaran dan realitas yang kita pakai untuk mengikat pinggang, supaya kita kuat, adalah Kristus (6:14a). Baju zirah keadilan yang menutupi hati nurani kita adalah Kristus sendiri; kasut Injil damai sejahtera juga Kristus (ayat 14b, 15). Damai sejahtera adalah Kristus, bahkan Injil yang kita beritakan juga Kristus. Selain itu, iman yang sebagai perisai juga Kristus, Dialah yang memimpin kita dalam iman dan membawa iman kita itu kepada kesempurnaan (ayat 16). Kalau kita mempunyai Kristus, kita mempunyai iman yang hidup; kalau kita tidak mempunyai Kristus, kita tidak mempunyai iman. Ketopong keselamatan juga Kristus (ayat 17). Kristus adalah keselamatan kita, adalah penudung kita. Kalau kita mempunyai Kristus, kepala kita tertudung. Firman Allah adalah Kristus, Dia adalah firman yang hidup itu (ayat 17b). Firman adalah pedang. Perlengkapan senjata yang lainnya adalah untuk perlindungan, hanya pedang itu menyerang, untuk membunuh musuh. Kristus adalah setiap bagian dari perlengkapan senjata ini. Artinya, kita di dalam Kristus, berdasarkan Kristus dan bersama Kristus, berperang melawan musuh. Ini juga salah satu aspek dari pengalaman terhadap Kristus.
Kita harus diperkuat ke dalam manusia batiniah kita, supaya Kristus bisa bersemayam, berumah di dalam kita. Kemudian kita harus diperbarui oleh Kristus, bertumbuh karena Kristus, dan bertumbuh ke dalam Kristus. Setelah itu kita harus membangun dengan Kristus, dan berperang berdasarkan Kristus. Kita harus belajar mempunyai pengalaman yang demikian penuh dan lincah terhadap Kristus.
ROH PERBAURAN
Setiap butir di atas ini — apa adanya Kristus terhadap kita, ministri yang menyuplaikan Kristus, dan pengalaman terhadap Kristus — semuanya tergantung pada roh perbauran. Dalam Surat Efesus ada Roh Kudus, roh manusia, dan dua roh berbaur menjadi satu roh. Kita dapat segera memutuskan ada beberapa ayat yang mengacu kepada Roh Kudus, ada beberapa ayat yang mengacu kepada roh manusia; tetapi ada beberapa ayat Alkitab yang sulit dikatakan mengacu kepada Roh Kudus atau roh manusia, karena di beberapa tempat ini mengacu kepada roh perbauran, yaitu Roh Kudus berbaur dengan roh manusia.
Hari ini semua apa adanya Kristus berada di dalam Roh Kudus, dan Roh Kudus adalah transmisi. Kristus sudah terangkat ke tempat yang tinggi, lalu bagaimana Dia bisa masuk ke dalam kita? Dia menjadi unsur Roh Kudus yang ditransmisikan masuk ke dalam kita. Roh Kudus di dalam roh kita adalah transmisi, hari demi hari, terus mentransmisi dan mengalir. Dalam setiap orang Kristen ada satu aliran batiniah, aliran batiniah ini adalah transmisi Roh Kudus, mentransmisi segala kelimpahan Kristus, yaitu Kristus sendiri, ke dalam kita. Dia sudah masuk ke dalam kita, sudah memeteraikan kita (1:13), sebab itu kita harus hati-hati, jangan sampai mendukakan Dia (4:30). Artinya, kita harus menaati Dia, bekerja sama dengan Dia, berperilaku mengikuti Dia.
Mengenai roh manusia kita, kita harus dipenuhi di dalam roh (5:18), berdoa di dalam roh (6:18), melihat visi di dalam roh (1:17). Kita harus belajar melihat perkara Allah tidak hanya di dalam pengertian kita, pikiran kita, lebih-lebih perlu dengan roh kita memahami perkara Allah, dengan roh kita melihat perkara dalam visi dan wahyu. Dengan demikian, roh kita akan berbaur dengan Roh Kudus, berada di dalam roh yang terus berbaur dan sudah berbaur. Demikian kita bisa memahami segala kekayaan Kristus yang ajaib. Segala sesuatu yang ditransmisikan Roh Kudus kepada kita ada di dalam roh perbauran; kita harus mengenal dan mengalami Dia, apa saja yang kita lakukan harus di dalam roh perbauran ini.
Saya ulangi lagi, tiga butir utama dalam Surat Efesus, semuanya tergantung pada butir ini — roh perbauran. Kuncinya adalah roh perbauran. Semua apa adanya Kristus ada di dalam Roh Kudus, hari ini Roh Kudus masuk ke dalam kita menjadi Pemberi transmisi, hari demi hari tinggal di dalam kita, juga mentransmisikan diri-Nya ke dalam kita. Ini sama seperti aliran listrik mentransmisikan listrik ke dalam suatu gedung; kalau aliran listrik berhenti, suplai listrik juga berhenti. Demikian juga, melalui Roh yang mentransmisi, Kristus terus mentransmisikan diri-Nya ke dalam kita. Organ kita yang menerima transmisi Roh Kudus adalah roh manusia kita. Roh Kudus mentransmisikan Kristus ke dalam roh kita. Sebab itu kita harus belajar bagaimana melatih roh kita untuk menyentuh Roh Kudus.
Kalau kita kembali membaca Surat Efesus, memperhatikan semua ayat yang membicarakan tentang Roh Kudus, kita akan melihat tiga aspek: Roh Kudus mentransmisikan Kristus ke dalam kita, roh kita menerima transmisi dari Roh itu, dan dua roh ini (Roh yang mentransmisi dan roh yang menerima) berbaur menjadi satu roh. Di dalam roh perbauran inilah (meliputi roh kita dan Roh Kudus), kita bersatu dengan Kristus, dan bersatu dengan kaum saleh yang lainnya. Kalau kita tidak bersatu dengan orang lain, berarti kita telah meninggalkan roh perbauran. Kalau kita di dalam roh perbauran, kita adalah esa, akan ada Tubuh Kristus. Tubuh berada dalam roh perbauran, juga terbangun dalam roh perbauran.
Tidak hanya demikian, kalau kita tinggal dalam roh perbauran, kita akan mendapatkan pengudusan dan pembasuhan, semua cacat dan kerut kita akan tersingkir (5:26-27). Kalau kita memakai sabun, tidak bisa membasuh bersih cacat dan kerut wajah kita. Demikian juga, darah Yesus bisa mencuci bersih dosa dan menajisan kita karena kontak kita dengan hal-hal duniawi, tetapi darah ini tidak bisa membasuh cacat dan kerut kita. Kesemuanya ini hanya bisa dibasuh oleh hayat batiniah kita. Kalau saya bisa menjadi muda lagi, semua kerut saya akan hilang. Ini membuktikan bahwa kerut adalah tanda keusangan. Namun, gereja tidak bisa usang. Gereja semakin tumbuh besar, semakin menjadi muda. Hayat batini membasuh segala kerut. Banyak orang berkata, “Gereja yang sudah lama di atas bumi, akan semakin usang.” Dipandang dari sudut tertentu, saya menyetujui perkataan ini. Saya takut lima belas tahun lagi, gereja di sini bisa menjadi usang sehingga banyak kerut. Di mana kekurangan hayat batiniah, di sana ada kerut. Sedangkan cacat adalah tanda dari luka. Ketika gereja terluka, timbullah cacat. Kalau gereja berada di satu tempat lebih lama lagi, kesempatan terlukanya lebih banyak, bisa ada banyak cacat. Namun kalau kita semakin mempunyai hayat batini yang limpah, hayat ini akan mendatangkan kekuatan membasuh dan memandikan. Hayat membasuh bersih semua cacat dan kerut.
Pengudusan dan pembasuhan ini adalah pembasuhan dengan air dalam firman (ayat 26). Dalam firman ada hayat batini, dalam hayat batini ini adalah air pembasuhan. Air ada di dalam firman, semakin mempunyai hayat batiniah, kekuatan firman yang hidup semakin membasuh semua luka, semakin menghapus semua kerut, memulihkan kita pada keadaan hayat yang semula. Dengan demikian, gereja tidak hanya bertumbuh, tetapi juga lebih dimurnikan — tidak ada cacat, noda, atau kerut, tetapi mulia, segar, sepenuhnya baru, dan indah. Kesemuanya ini berasal dari pengalaman terhadap Kristus.
Kita tidak perlu khawatir, kita mempunyai janji yang terbaik: Tuhan Yesus telah menyerahkan diri bagi gereja, karena Dia mengasihi gereja, dia akan menguduskan dan membasuh bersih gereja, untuk mempersembahkan gereja kepada diri-Nya sebagai gereja yang mulia dan sempurna. Apakah Anda percaya perkataan ini? Saya percaya. Cepat atau lambat Tuhan pasti merampungkan hal ini. Puji Tuhan! Pembangunan dan kemurnian gereja adalah hasil dari pengalaman terhadap Kristus.