BERTOBAT DAN MENGAKU DOSA
Minggu ke 6 – Senin Doa baca: Kisah Para Rasul 20:21
". . . supaya mereka bertobat kepada Allah . . ."
MAKNA BERTOBAT
Kata "bertobat" dalam bahasa aslinya (Yunani) berarti "peralihan pikiran". Jadi bertobat yang disinggung dalam Alkitab berarti perubahan pikiran; tidak seperti anggapan kebanyakan orang bertobat ialah mengubah diri sendiri menjadi baru. Sejak manusia jatuh, pikiran manusia membelakangi Allah, dan mengarah kepada banyak perkara, benda, dan manusia yang di luar Allah. Setelah manusia jatuh, manusia terkendali oleh pikiran diri sendiri, "Hidup menurut kehendak daging dan pikiran . . ." (Ef.2:3). Apa yang dipikirkan oleh manusia itulah yang dikatakannya; apa yang dipikirkan manusia, itulah yang akan diperbuat. Tak peduli apa yang disenangi oleh pikiran manusia, entah itu perkara yang baik atau perkara yang jahat, pikiran manusia tetap bertolak belakang dengan Allah, dan mengarah kepada manusia, perkara, benda-benda yang di luar Allah. Karena pikiran manusia membelakangi Allah dan mengarah kepada manusia, perkara, dan benda-benda di luar Allah, maka tindakan manusia pasti membelakangi Allah, mengarah kepada perkara-perkara di luar Allah. Inilah sebabnya manusia perlu bertobat, perlu ada satu peralihan dalam pikirannya. Begitu pikiran manusia beralih, tindakan dan perilaku manusia tersebut juga ikut beralih.
"Harus Bertobat dan Berbalik Kepada Allah" (Kis. 26:20)
Di sini dikatakan, "Berbalik kepada Allah." Karena pikiran manusia mengendalikan seluruh perilaku kehidupannya, dan karena manusia membelakangi Allah serta mengarahkan dirinya kepada banyak manusia, perkara, benda lain, maka manusia harus memiliki satu peralihan dari dalam pikiran, agar dia dari pikiran sampai tindakannya bisa berbalik kepada Allah. Bertobat bukan berarti yang lain, melainkan memalingkan seseorang dari segala sesuatu yang tidak mau Allah dan yang tidak mengarah kepada Allah, berpaling kepada Allah.
"Supaya Mereka Bertobat Kepada Allah" (Kis. 20:21)
Karena bertobat adalah berbalik (berpaling) kepada Allah, maka pertobatan yang sejati haruslah "bertobat kepada Allah". Pertobatan yang diingini oleh orang dunia adalah bertobat kepada kebaikan, mengarah kepada hal-hal yang benar. Tetapi pertobatan yang Allah inginkan bukan hanya mengarah kepada kebaikan atau kebenaran, lebih-lebih mengarah kepada Allah. Manusia mungkin saja berpaling dari kejahatan kepada kebaikan, dari kesalahan kepada kebenaran, tetapi tetap tidak berpaling kepada Allah. Karena itu pertobatan yang sejati bukan mengarah kepada yang lain, melainkan mengarah kepada Allah, bertobat kepada Allah; bukan barang-barang di luar Allah sebagai sasaran, melainkan diri Allah sendiri sebagai sasaran.
"Allah . . . Memberi Hati yang Bertobat . . . Kepada Manusia"
(Kis. 5:31; lI Tim. 2:25, Tl.)
Allah menghendaki manusia menerima karunia keselamatanNya, karena itu Dia melalui RohNya menerangi pikiran manusia, agar manusia nampak keadaannya yang menjauhi Allah, agar manusia tahu bahwa dia harus berpaling kepada Allah; juga menggerakkan hati manusia, memberikan kepada manusia hati yang bertobat, agar manusia berpaling kepada Allah dari segala hal yang di luar Allah. Banyak orang dulunya berada di luar Allah, menyenangi kejahatan dan dosa, tamak akan dunia, damba kepada batryak perkara-perkara lainnya. Pada suatu hari Allah membelaskasihani mereka, melalui Roh Kudus memalingkan pikiran mereka, agar mereka berpaling kepada Allah dari segala dosa, kejahatap, dunia, dan banyak perkara lainnya.
"Maksud Kemurahan Allah Ialah Menuntun Engkau Kepada Pertobatan"
(Rm. 2:4)
Manusia menolak Allah, berbuat dosa dan menentang Allah, berdosa kepada Allah, sebenarnya harus menerima hukuman Allah, disingkirkan oleh Allah. Tetapi Allah demi kemurahanNya, membelaskasihani dan bersabar terhadap manusia. Kemurahan yang demikian sabar kepada manusia adalah untuk memimpin manusia agar bertobat kepadaNya.
Catatan:
Minggu ke 6 — Selasa Doa baca: Mazmur 32:5
"Dosaku kuberitahukan kepadaMu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan; aku berkata: Aku akan mengaku kepada TUHAN pelanggaran-pelanggaranku, dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku."
MENGAKU DOSA KEPADA ALLAH
Mengaku dosa ada dua aspek: 1. Mengaku dosa kepada Allah; 2. Mengaku dosa kepada manusia. Dosa yang kita perbuat, tak peduli yang kita anggap berdosa kepada Allah atau kepada manusia, semuanya berdosa kepada Allah. Daud membunuh Uria dan merampas istrinya, dalam pandangan kita, Daud hanya berdosa kepada manusia, bersalah kepada manusia, tetapi Daud berkata, bahwa ia telah berdosa kepada Allah (lihat Mazmur 51:1-17). Sebab itu ia mengaku dosanya itu kepada Allah. Banyak orang meskipun sudah bertobat dan beroleh selamat, tetapi belum mengaku dosa dengan tuntas di hadapan Allah, sebab itu, setelah beroleh selamat, tidak memiliki sukacita keselamatan, juga tidak memiliki banyak kedambaan, penuntutan, dan pertumbuhan rohani. Kalau mereka ingin dengan limpah menikmati sukacita keselamatan, harus datang ke hadapan Allah mengaku dengan tuntas segala dosa dan pelanggarannya. Kalau mereka ingin dirinya memiliki kedambaan, penuntutan, dan pertumbuhan rohani, perlu mengaku kesalahan mereka kepada Allah satu per satu. Pengakuan dosa ini tidak boleh secara global, atau secara prinsip saja mengaku dirinya orang dosa, memiliki dosa yang sangat besar; harus dengan teliti, secara cermat mengakuinya satu per satu. Tidak boleh seperti membawa satu bungkusan yang besar, lalu melemparkannya kepada Allah; harus membuka bungkusan itu di hadapan Allah, lalu mengakui satu per satu dosa dengan tuntas.
Dengan berbuat demikian, Anda bisa mengakui dosa Anda dengan tuntas kepada Allah. Ini tidak berkaitan dengan keselamatan, tetapi berkaitan dengan penghidupan setelah beroleh selamat; ini bukan syarat untuk beroleh selamat, ini adalah syarat untuk pertumbuhan rohani. Kita bukan bersandarkan pengakuan dosa yang demikian mendapatkan keselamatan Tuhan, tetapi kita yang mendapatkan karunia keselamatan Tuhan, seharusnya mengaku dosa dengan cara yang demikian.
"Jika Kita Mengaku Dosa Kita,
Maka Allah . . . Akan Mengampuni Segala Dosa Kita,
dan Menyucikan Kita . . ."
(I Yoh. 1:9)
Pengakuan yang dikatakan di sini adalah mengaku dosa kepada Allah. Ini adalah pengakuan yang seharusnya kita lakukan. Setelah kita beroleh selamat, jika berbuat dosa, kita harus mengaku dosa kepada Allah, agar kita mendapatkan pengampunan Allah dan pembasuhan Allah. Kita tidak seharusnya setelah berbuat dosa, berbuat salah, tetapi tidak mau mengakui kepada Allah, sehingga banyak dosa bertumpuk di atas diri kita, dan roh hati kita tidak bisa terbebaskan, tidak bisa peka. Kita harus setiap saat mengaku dosa kepada Allah, setiap saat bisa membereskan dengan jelas dosa kita kepada Allah, agar kita tidak kehilangan persekutuan dengan Allah, dan kita bisa hidup di bawah terang wajah Allah. Kita harus melalui mengaku dosa menyingkirkan sekatan antara kita dengan Allah, memulihkan dan mempertahankan persekutuan antara kita dengan Allah.
"Siapa Menyembunyikan Pelanggarannya Tidak Akan Beruntung,
Tetapi Siapa Mengakuinya dan Meninggalkannya akan Disayangi"
(Ams.28:13)
Berdasarkan prinsip hukum Allah, jika kita menyembunyikan atau menutup-nutupi dosa kita sendiri, kita tidak akan beruntung; sebaliknya jika kita mengakui dan meninggalkan dosa, pasti akan mendapat belaskasihan Allah. Karena itu, jika kita ingin mendapatkan belaskasihan Allah, kita harus mengakui segala dosa kita kepada Allah. Mengaku dosa kepada Allah adalah syarat untuk mendapatkan belaskasihan Allah. Jika di hadapan Allah kita tidak mengakui dosa-dosa kita dengan jelas, kita akan kehilangan belaskasihan Allah, kita tidak akan beruntung.
Jadi, baik kita ingin mendapatkan sukacita keselamatan, ingin menyingkirkan sekatan antara kita dengan Allah, atau ingin memulihkan serta mempertahankan persekutuan antara kita dengan Allah, atau kita ingin mendapatkan belaskasihan Allah, mendapatkan berkat Allah, kita harus mengaku dosa kepada Allah. Dosa adalah perkara yang dibenci Allah, ia merupakan penghalang kita mendapatkan berkat Allah di hadapan Allah, adalah yang membunuh kerohanian kita. Karena itu kita harus di hadapan Allah menanggulangi dengan jelas dosa-dosa atas diri kita. Perkara ini harus dilakukan dengan serius, semakin tuntas semakin baik.
Catatan:
Minggu ke 6 – Rabu Doa baca: Amsal 28:13
"Siapa menyembunyikan pelanggarannya tidak akan beruntung; tetapi siapa mengakuinya dan meninggalkannya akan disayangi."
MENGAKU DOSA KEPADA MANUSIA
Dosa-dosa yang kita lakukan, kebanyakan adalah terhadap manusia, karena itu kita tidak hanya harus mengaku dosa kepada Allah, juga harus mengaku dosa kepada manusia. Kita mengaku dosa kepada Allah, dikarenakan semua dosa yang kita lakukan adalah berdosa kepada Allah. Tetapi dosa yang kita lakukan itu tidak hanya menyalahi Allah, juga menyalahi manusia. Kita berdosa kepada Allah, begitu mengaku dosa kepada Allah, Allah segera mengampuni dosa kita; tetapi Allah tidak bisa mewakili orang yang kepadanya kita bersalah untuk mengampuni kita. Sebab itu kita masih harus mengaku salah kepada orang. Misalnya, Anda telah bersalah kepada tetangga Anda, Anda mengetahuinya, Anda lalu mengaku dosa itu kepada Allah, tentu Allah mengampuni Anda. Tetapi tetangga Anda belum dapat mengampuni Anda. Anda masih harus pergi kepada tetangga Anda dan mengakui kesalahan Anda, mohon pengampunannya, jika tidak, di hadapan tetangga Anda, Anda terdakwa. Anda telah terikat di dalam hatinya. Jika Anda ingin mendapatkan kebebasan darinya, pengampunan darinya, dan di dalam Anda terasa tembus, Anda harus mengaku dosa kepadanya. Karena itu, kalimat mengakui dosa dalam Amsal 28 juga mencakup mengaku dosa kepada manusia.
"Hendaklah Kamu Saling Mengaku Dosamu" (Yak. 5:16)
Di sini dikatakan dengan jelas, bahwa Allah menghendaki kita "saling mengaku dosa." Kita saling mengaku dosa, berarti Kita sebagai manusia mengaku dosa kepada manusia. Ketika saudara saudari berkumpul bersama sering kali terjadi: aku bersalah kepada Anda, atau Anda bersalah kepadaku. Sebab itu kita harus saling mengaku dosa. Kalau Anda bersalah atau berbuat suatu pelanggaran kepada saudara saudari, Anda tidak saja harus mengaku dosa kepada Allah, juga harus mengaku dosa kepada saudara atau saudari, supaya kita mendapatkan pengampunan dari Allah, juga mendapatkan pengampunan dari saudara saudari.
Setiap orang yang menjadi anak-anak Allah, tidak saja harus mengakui semua dosa di hadapan Allah, juga harus membereskan segala dosa di hadapan manusia. Meskipun hal ini tidak berhubungan dengan keselamatan kita, tetapi sangat mempengaruhi kemajuan rohani kita. Tidak ada orang Kristen yang tidak mengaku dosa kepada Allah dan tidak membereskan dosa di hadapan manusia, yang bisa memiliki kemajuan rohani.
Dulu di suatu tempat di Inggris, ada suatu sidang kebangunan rohani. Ada seorang imani bertanya kepada orang yang memimpin sidang, apa yang harus dilakukan oleh orang Kristen supaya bisa memiliki pertumbuhan rohani? Pemimpin sidang itu menjawab, "Sudah berapa lama Anda tidak mengaku dosa kepada orang?" Pada mulanya ia merasa heran mendengarkan jawaban tersebut. Apa sangkut pautnya mengaku dosa kepada orang dengan pertumbuhan rohani? Apakah mengaku dosa kepada orang bisa membuat orang Kristen bertumbuh? Kemudian ia mengetahui, mengaku dosa kepada orang tidak saja membuat orang Kristen bertumbuh besar, juga merupakan syarat dasar pertumbuhan rohani orang Kristen.
O, saudara saudari, orang Kristen yang tidak pernah mengaku dosa di hadapan manusia, pasti tidak bertumbuh besar! Apakah kita bertumbuh besar, bisa diketahui apakah kita mengaku dosa kepada orang. Seberapa besar pertumbuhan kita, tergantung pada seberapa banyak pengakuan dosa kita kepada orang. Pengakuan dosa kita sebanding dengan pertumbuhan rohani kita, juga saling mempengaruhi. Bukan saja pengakuan dosa kita kepada orang membuat kita bertumbuh, pertumbuhan kita juga menuntut dan membuat kita mengaku dosa kepada orang. Kalau kita adalah orang Kristen yang terus-menerus bertumbuh besar, tentunya kita adalah orang yang sering mengaku dosa kepada orang.
Tidak saja demikian, mengaku dosa kepada orang juga bisa membuat roh kita bangkit, kuat, lincah. Banyak saudara saudari rohnya tidak bebas, ada gejala layu, lemah, tenggelam, itu dikarenakan mereka melakukan hal-hal yang menyalahi orang lain tetapi tidak mau mengaku dosa kepada orang itu. Dosa menyebabkan roh kita menjadi mati. Khususnya dosa kita yang merugikan orang lain, dapat membuat hati nurani dalam roh kita merasa berhutang di hadapan manusia, demikian akan membuat roh kita tidak bisa bangkit di hadapan manusia, terasa mati dan tenggelam. Sebab itu, kalau kita ingin roh kita di hadapan manusia bisa bebas, kuat, kita harus mengaku dosa di hadapan manusia, menghilangkan perasaan hutang kepada orang yang ada dalam hati nurani kita.
Catatan:
Minggu ke 6 — Kamis Doa baca: I Yohanes 1:9
"jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan."
PENGAKUAN DOSA HARUS TUNTAS
Kita mengaku dosa kepada orang, jangan takut kalau terlalu sungguh-sungguh, jangan takut kalau terlalu tuntas. Semakin sungguh-sungguh, semakin tuntas, semakin besar faedahnya. Lagi pula jangan berlambatan, jangan menunggu, harus memegang kesempatan yang pertama, sebisanya dilakukan sedini mungkin. Pada akhir tahun 1933 ketika saya diterangi dan dibersihkan oleh Allah, pernah sekali dalam sehari mengirim 40 pucuk surat minta maaf, mengaku dosa, dan mohon pengampunan kepada orang. Sekarang, ketika saya menengok kembali, perkara itu benar-benar mempunyai kaitan yang besar dengan penempuhan saya di hadapan Tuhan di kemudian hari. Puji Tuhan, pada saat itu, Ia memberi saya kasih karunia, sehingga bisa dengan sungguh-sungguh membereskan segala perkara yang berdosa kepada orang.
Mengenai mengaku dosa kepada orang, masih ada satu butir yang harus kita perhatikan, yaitu batas pengakuan dosa kepada orang. Menurut prinsipnya, seberapa besar batasan dosa kita kepada orang, sebegitu juga batasan pengakuan dosa kita kepada orang. Jangan lebih kecil, juga jangan lebih besar. Kita berdosa kepada siapa, harus mengaku dosa kepada orang itu. Kita bersalah kepada beberapa orang, kepada beberapa orang itulah kita mengaku dosa. Jangan lebih sedikit, juga jangan lebih banyak. Bila terlalu sedikit, akan berhutang kepada orang; bila terlalu banyak, akan timbul penyakit. Kita tidak seharusnya mengaku dosa kepada orang lain, yakni kepada orang yang tidak kita salahi, sehingga terhadap dosa yang kita lakukan, orang lain itu memiliki kesan buruk. Tindakan demikian adalah berlebihan, juga mengandung penyakit. Mengaku dosa kepada orang adalah untuk menghapus semua kesan kesan orang terhadap dosa yang kita lakukan. Kalau mengaku dosa kepada orang dan hasilnya bukan demikian, sebaliknya membuat orang yang tidak tahu tentang dosa kita, yang tidak mempunyai kesan-kesan terhadap dosa kita, malah mempunyai kesan yang dalam, pengakuan dosa semacam ini tidak seharusnya dilakukan. Pengakuan dosa yang tepat tidak hanya membuat kita mendapatkan berkat, juga membuat Allah mendapatkan mulia, membuat orang lain mendapatkan faedah.
ALLAH BISA MENGAMPUNI SEGALA DOSA KITA
Bila seorang imani berbuat dosa, ia harus mengakuinya, jangan dosa itu diberi satu sebutan yang indah untuk memaafkan diri sendiri. Misalnya, Anda berdusta. Dusta itu dosa, Anda harus mengaku bahwa Anda sudah berbuat dosa. Jangan berkata, "Aku hanya kelebihan berbicara (atau kekurangan) sedikit." Anda harus berkata, "Aku sudah berbuat dosa." Anda tidak boleh menjelaskan atau menutupinya dengan perkataan lain. Anda harus mengakuinya di hadapan Allah, bahwa Anda sudah melakukan dosa berdusta; Anda harus menghakimi dusta sebagai dosa.
Mengaku dosa berarti berdiri di pihak Allah dan menghakimi dosa sebagai dosa. Dalam hal ini terdapat tiga aspek: Allah, aku, dan dosa. Allah dan dosa ada di kedua ujung, aku ada di tengah-tengah. Apa artinya berbuat dosa? Berbuat dosa berarti berdiri di pihak dosa dan meninggalkan Allah. Apa artinya mengaku dosa? Mengaku dosa berarti kembali ke pihak Allah dan mengaku, bahwa apa yang telah Anda lakukan tadi adalah dosa, sekarang Anda kembali ke pihak Allah, tidak memihak kepada dosa, berdiri di seberang dosa, menghakiminya sebagai dosa, itulah artinya mengaku dosa. Bila seorang imani berbuat dosa, dalam batinnya pasti timbul perasaan, segera merasa tidak damai, hatinya seolah-olah tertusuk duri. Jika kita mengaku dosa kita, maka "Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan." Jika kita berbuat dosa, mengetahui dosa kita sendiri, dan kitapun mengakui bahwa kita berbuat dosa tersebut, maka Allah akan mengampuni dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. Sebab "Allah adalah setia," Ia tidak dapat tidak setia, tidak dapat tidak menggenapkan firman dan janjiNya; dan lagi "Ia adalah adil," maka Ia tidak dapat tidak puas, dan tidak dapat tidak menghitung pekerjaan dan penebusan PuteraNya di salib. Ia telah berjanji, Ia tidak dapat tidak mengampuni. Ia adalah setia dan adil, maka Ia tidak dapat tidak mengampuni dosa kita, tidak dapat tidak menyucikan kita dari segala kejahatan.
Kita harus memperhatikan dua ungkapan "segala" dalam I Yohanes 1:7 dan 9. "Segala dosa" dan "segala kejahatan" kita telah diampuni dan telah disucikan. Itu pekerjaan Tuhan. Jika Tuhan berkata, "segala" pastilah "segala". Jangan sekali-kali kita mengubah kata-kata tersebut. Tuhan berkata: segala dosa, pasti segala dosa. Kita tidak hanya percaya, bahwa segala dosa yang kita lakukan sebelum percaya Tuhan, ataupun dosa-dosa yang kita lakukan di masa lampau, telah diampuni, bahkan segala dosa kita telah diampuni olehNya.
Catatan:
Minggu ke 6 – Jumat Doa baca: I Yohanes 1:7
"Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Ia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan satu dengan yang lain, dan darah Yesus, AnakNya itu, menyucikan kita dari segala dosa."
MENGAKU DOSA ADALAH DIKARENAKAN
NAMPAK HAKIKI KENAJISAN DOSA
Inilah suasana hati yang Allah inginkan ada pada kita ketika mengaku dosa. Allah memberikan hayatNya sendiri ke dalam kita, dan setelah kita memiliki hayat ini, di dalam kita ada satu sifat sorgawi yang sangat kudus, seperti Allah yang begitu kudus. Dosa, di hadapan Allah adalah sesuatu yang sangat najis, yang mutlak tidak bisa berpadanan dengan kekudusan Allah. Allah memberikan hayatNya yang kudus kepada kita, agar kita juga membenci dosa sebagaimana Allah membencinya. Jika manusia membiarkan hayat Allah yang kudus itu bertumbuh besar, mengenal hakiki kenajisan dosa, dia akan seperti Madame Guyon yang berkata, "Aku lebih baik masuk neraka. Bagaimanapun aku tidak mau berbuat dosa." Hayat Allah di dalam kita adalah untuk mengekspresikan Kristus. Semakin mengekspresikan sifat Kristus, semakin memandang dosa itu membencikan, juga semakin meninggalkan dosa (Ibr. 7:26), memandang dosa bagaikan memandang orang sakit kusta, merasa makin meninggalkan dosa makin lega. Orang yang memiliki pengenalan yang demikian terhadap dosa adalah orang yang paling tidak mudah berbuat dosa. Orang yang memiliki suasana hati demikian terhadap pengakuan dosa, hidupnya sebagai manusia pastilah beribadah, kudus, menempuh hari-hari di hadapan Allah.
HARUS TERLEBIH DULU MENGAKU DOSA KEPADA ALLAH
Terhadap perkara mengaku dosa, di tengah-tengah orang Kristen terdapat satu kecenderungan yang sangat jelek, yaitu secara perlahan-lahan menitikberatkan pemberesan terhadap manusia lebih daripada pemberesan di hadapan Allah. Bahkan ada kalangan tertentu, tidak lagi menyinggung darah adi. Asal hati nuraninya terhadap orang lain bisa merasa damai, lalu mengesampingkan Allah. Keadaan sedemikian sungguh menakutkan. Ini membuat orang kehilangan hati yang beribadah kepada Allah. Dengan berat saya katakan, bahwa pengakuan dosa yang tidak memerlukan darah adi, adalah pengakuan dosa yang berasal dari alam maut. Ketahuilah, setiap kali orang berbuat dosa, yang pertama disalahi adalah Allah, bukan manusia; yang lebih banyak disalahi adalah Allah, bukan manusia. Misalnya, orang memecahkan barang di rumah Anda. Pertama yang disalahi adalah Anda, bukan barang Anda. Dalam Mazmur 51:6 Daud berkata, "Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku berdosa." Daud tidak berkata, bahwa ia telah berdosa kepada Uria, atau kepada Batsyeba. Yudas yang menjual Tuhan Yesus, meskipun telah mengaku dosa, uang juga sudah dikembalikan, di hadapan manusia semua dibereskan dengan jelas, tetapi dia masih adalah anak kebinasaan. Saya berkata demikian bukan berarti tidak perlu saling mengaku dosa; saling mengaku dosa sudah sepatutnya, tetapi penanggulangan di hadapan Allah haruslah melebihi penanggulangan di hadapan manusia. Sekali-kali jangan terbalik, lebih-lebih jangan mengesampingkan Allah dan darah adi Tuhan.
DARAH YESUS MENCUCI BERSIH SEGALA DOSA KITA
Ada orang yang menerima tekanan kelemahan diri sendiri, adakalanya malah menerima pencobaan, merasa bahwa ada beberapa dosa tertentu yang seolah-olah tidak bisa diampuni. Marilah kita ingat perkataan ini, "Darah Yesus, AnakNya itu menyucikan kita dari segala dosa." Tak peduli dosa besar, dosa kecil, dosa yang sangat hitam, dosa yang kelihatannya tidak begitu hitam, dosa yang kita sangka bisa diampuni, atau dosa yang kita sangka tidak bisa diampuni; ya, segala dosa yang disengaja, yang tidak sengaja, yang diingat, atau yang telah dilupakan, semua tercakup ke dalam "segala dosa" ini. Haleluya! Darah Yesus, AnakNya itu, menyucikan kita dari segala dosa. Darah ini bisa demikian, karena Dia telah memuaskan Allah. Tak peduli sepanjang hari ini Anda tempuh dengan sangat baik, atau Anda tempuh dengan sangat jelek, tak peduli Anda merasa diri Anda berdosa atau tidak, sandaran Anda untuk menghampiri Allah selamanya hanya ada satu, yaitu darah Yesus Kristus. Inilah sandaran bagi Anda untuk masuk ke dalam ruang mahakudus, selain ini tidak ada sandaran lain lagi.
Catatan:
Minggu ke 6 – Sabtu Doa baca: Yakobus 5:16a
"Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh."
MELAKSANAKAN KELOMPOK VITAL
HARUS MENGAKU DOSA DENGAN TUNTAS
1. Mengakui Dosa Egoisme dan Individualisme
Kita perlu menghakimi dosa egoisme dan individualisme. Di dalam penghidupan gereja, kita mungkin hanya memperhatikan diri sendiri, tidak mau memperhatikan orang lain. Kita mungkin mengasihi orang lain, tetapi tidak memperhatikan orang lain, hanya memperhatikan diri sendiri. Ini berarti menyendiri, kita harus mengakui dosa ini.
2. Mengakui Segala Kekurangan, Kelemahan,
Kejahatan, Kesalahan, Dosa, Pelanggaran,
Dosa yang di Luar dan Kejahatan yang di Dalam,
Mohon Tuhan Mengampuni
Agar kita dibaurkan oleh Tuhan, kita perlu mengakui dosa-dosa tersebut, juga mohon Tuhan mengampuni. Tuhan dengan senang mengampuni, bahkan Dia melupakan, tetapi kita harus terlebih dulu mengakuinya. Kita harus memiliki pengakuan dosa yang tuntas, agar kita bisa mendapatkan pengampunan dan pembenaran.
3. Mengakui Sifat Dosa, Kenajisan,
dan Pencemaran Kebobrokan Dunia, Serta Keusangannya;
Mohon Darah Adi Tuhan Membasuh Bersih
Kita perlu mengalami kematian dan kebangkitan Kristus, untuk menyingkirkan sifat dosa kita, kenajisannya, dan pencemaran kebobrokan dunia. Kita juga perlu mengakui keusangan dosa alamiah kita. Begitu kita alamiah, kita segera usang. Kita harus mengakui semua perkara ini, dan mohon Tuhan dengan darah adiNya membasuh bersih kita. Kita perlu pengampunan Tuhan, juga perlu pembasuhanNya.
4. Mengakui Kesulitan Sifat Anda
dan Keanehan Karakter Anda
Banyak di antara kita dikarenakan sifat pribadi kita sehingga timbul kesulitan. Semua kesulitan itu menghalangi kita berbaur menjadi satu. Secara umum boleh dikatakan, orang yang kasar tidak begitu aneh; semakin teliti seseorang, dia semakin aneh. Keanehan dan kekakuan karakter kita juga menghalangi berbaurnya kita dengan orang lain.
5. Menyangkal Ego, Kebiasaan, dan Kekawakan Bekerja
Sebagai orang-orang yang jatuh, kita terbentuk dari kerepotan. Di atas diri kita terdapat begitu banyak kerepotan yang perlu ditanggulangi.
6. Tidak Lagi Percaya Diri Sendiri,
Tidak Lagi Bersandar Pada Kekuatan Alamiah Diri Sendiri
Kita hidup karena kita percaya pada diri sendiri, dan bersandar pada kekuatan diri sendiri. Tetapi jika kita bersandar pada kekuatan diri sendiri, kita tidak akan bisa berbaur dengan orang lain. Semua perkara ini perlu melewati penanggulangan, baru kita bisa berbaur menjadi satu.
7. Di Dalam Kasih Allah, Dengan Kasih yang Sama,
Mengasihi Orang yang Ada Dalian Kelompok Kita
Adakalanya kita sering bisa pilih kasih terhadap kaum saleh tertentu. Ini memperlihatkan kepada kita, bahwa kita tidak dengan kasih yang sama mengasihi kaum saleh, kita selalu mengasihi orang lain berdasarkan kesenangan kita dan citarasa kita. Filipi 2:2 mengatakan, bahwa terhadap semua orang saleh kita harus memiliki kasih yang sama.
8. Menghakimi Segala Pandangan yang Meninggikan Diri Sendiri
dan Melepaskan Segala Pendapat yang Menimbulkan Perpecahan
Ada kaum saleh yang mungkin sangat percaya diri sendiri, mengira dirinya lebih berpengetahuan daripada penatua gereja, bisa melakukan pekerjaan lebih baik daripada mereka, ini berarti meninggikan diri sendiri. Orang yang memiliki pandangan meninggikan diri sendiri, pasti juga memiliki opini. Tidak ada seorangpun yang tidak memiliki opini. Kita perlu menghakimi segala pandangan yang meninggikan diri sendiri, dan melepaskan segala opini yang menimbulkan perpecahan.
Catatan:
Minggu ke 7 – Minggu Doa baca: Mazmur 51:4
"Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku."
KESAKSIAN PRIBADI SAUDARA WATCHMAN NEE
Pada bulan Pebruari 1920, Dora Yu diundang ke Foochow, ibukota propinsi Fukien untuk memberitakan Injil di gedung Methodis. Pemberitaannya sangat kuat, menaklukkan orang dan penuh dengan kuasa, sehingga seusai setiap sidang, di lantai gedung itu terlihat bekas-bekas tetesan air mata pendengar. Banyak orang beroleh selamat. Di antara orang-orang yang beroleh selamat itu, ada seorang perempuan Cina yang terpelajar, yaitu ibu Watchman Nee. Dia dan suaminya adalah anggota Methodis, tetapi belum mempunyai pengalaman beroleh selamat. Begitu ia beroleh selamat, ia pulang dan mengaku dosa dengan tuntas kepada suami dan anak-anaknya. Puteranya yang sulung, Shu-tsu, sangat heran dan tergerak melihat ibunya mengaku dosa. Dia merasa bahwa dia harus pergi ke sidang Dora Yu itu, untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi di sana sehingga menimbulkan perubahan yang sedemikian itu atas ibunya. Keesokan harinya dia pergi, dan Tuhan menangkap dia. Malam itu juga ia nampak visi Tuhan Yesus tergantung di salib. Melalui pengalaman itu, Tuhan memanggil dia menjadi hambaNya.
Sejak beroleh selamat, dengan sendirinya dia mengasihi jiwa-jiwa orang dosa, dan mengharapkan mereka beroleh selamat. Sebab itu dia mulai memberitakan Injil dan bersaksi kepada teman-teman sekolahnya. Namun, setelah melakukan kurang lebih satu tahun, tidak ada satu jiwapun yang beroleh selamat. Saat itu dia mengira, jika dia semakin banyak bicara, banyak alasan, maka dia akan lebih berhasil menyelamatkan orang. Tetapi walaupun dia telah berbicara banyak tentang Tuhan Yesus, perkataannya tetap tidak berkekuatan untuk menggerakkan orang.
Berdoa Untuk Keselamatan Orang Lain
Kemudian dia bertemu dengan seorang misionaris Barat yang bernama Groves, sekerja Margaret Barber. Ia bertanya, "Dalam jangka waktu satu tahun setelah kamu beroleh selamat, berapa orang yang telah kamu bawa kepada Tuhan?" Dia menundukkan kepala, mengharap ia tidak melanjutkan pertanyaannya, dengan tertunduk malu, serta dengan suara yang pelan dia berkata, "Aku sudah memberitakan Injil kepada teman-teman sekolah, tetapi mereka tidak senang mendengarkan, dan kalaupun mereka mendengarkan, mereka tidak mau percaya. Maka dosa itu harus mereka tanggung sendiri!" Saudari Groves dengan terus terang berkata kepadanya, "Kamu tidak bisa membawa orang kepada Tuhan, karena di antara dirimu dengan Allah ada suatu sekatan. Mungkin ada dosa-dosa tersembunyi yang belum dibereskan, atau kamu telah bersalah kepada seseorang, atau perkara lainnya." Dia mengakui bahwa hal-hal itu memang ada. Dia bertanya, "Maukah kamu segera membereskannya?" Dia menjawab, "Ya, aku mau!"
Ia bertanya lagi, "Bagaimana caramu memberitakan Injil?" Dia menjawab, "Begitu aku bertemu dengan seseorang, aku segera memberitakan Injil kepadanya, tak peduli dia mau mendengar atau tidak." Ia berkata lagi, "Itu tidak benar! Kamu harus berkata kepada Allah dulu, baru kepada manusia. Kamu harus berdoa kepada Allah, menuliskan nama-nama teman sekolahmu dan bertanya kepada Allah, siapa yang perlu didoakan. Doakanlah mereka setiap hari dengan menyebutkan nama mereka. Lalu bila Allah memberikan kesempatan, bersaksilah kepada mereka."
Setelah pembicaraan itu, dia segera mulai membereskan dosa-dosanya. Misalnya, mengganti rugi, membayar hutang, berdamai dengan teman-teman sekolah, mengakui kesalahan kepada orang lain. Dia juga menuliskan nama-nama dari sekitar 70 orang teman sekolahnya, dan mulai mendoakan mereka setiap hari, menyebut nama mereka satu per satu di depan Allah. Kadang-kadang dia mendoakan mereka setiap satu jam, dalam kelas secara diam-diam mendoakan mereka. Jika ada kesempatan, dia segera bersaksi kepada mereka, dan mengajak mereka percaya Tuhan Yesus. Teman-teman sekolahnya sering mengejeknya, "Hai, tuan pengkhotbah datang lagi! Mari kita dengar dia berkhotbah." Sebenamya, sedikitpun mereka tak berminat mendengarkan.
Dia datang kepada saudari Groves lagi, dan berkata kepadanya, "Aku telah sepenuhnya melaksanakan saran Anda. Tetapi mengapa tidak ada hasilnya?" Dia menjawab, "Jangan putus asa. Berdoalah terus sampai ada yang beroleh selamat." Bersandar kasih karunia Allah, dia tetap berdoa setiap hari. Bila ada kesempatan, dia bersaksi dan memberitakan Injil. Syukur kepada Tuhan, beberapa bulan kemudian, selain satu orang, semua orang yang namanya dicatatnya dalam buku catatan, satu per satu beroleh selamat.
Mulai tahun 1920 sampai pertengahan 1922, sedikitnya dia telah mengaku dosa kepada dua sampai tiga ratus orang.
Catatan: