← Daftar isi Kepemimpinan dalam Perjanjian Baru Belajar Berkoordinasi Pelatihan Video Praktek Perbauran · bab 2/8

MENYERU NAMA TUHAN

Minggu ke 2 – Senin Doa-baca: Ratapan 3:55-56

"Ya Tuhan, aku memanggil (berseru kepada) namaMu dari dasar lobang yang dalam. Engkau mendengar suaraku! Janganlah Kau tutupi telingaMu terhadap kesahku dan teriak tolongku!"

MAKNA MENYERU NAMA TUHAN

Orang Kristen bukan hanya perlu memiliki pengenalan terhadap Allah, juga perlu dalam penghidupan sehari-hari dengan riil menikmati Allah yang kita kenal. Ada satu jalan yang paling sederhana dan paling singkat untuk menikmati Tuhan yaitu melalui "Menyeru nama Tuhan". Dalam Alkitab terjemahan bahasa Indonesia sering dikatakan sebagai "memanggil nama Tuhan", yang berarti berdoa. Tetapi menurut arti kata dari bahasa aslinya, "berseru" ini bukan berarti berdoa, dalam bahasa Ibraninya berarti "berseru kepada", "berteriak kepada". Arti bahasa Yunaninya sebagai "memohon kepada orang", "memanggil nama orang", yaitu dengan suara yang terdengar oleh orang lain memanggil nama seseorang. Karena itu "menyeru nama Tuhan" arti yang benar adalah menyeru nama Tuhan Yesus, dengan suara yang terdengar orang berseru "Ya Tuhan Yesus, O Tuhan Yesus".

Kejadian pasal 4 menyinggung orang yang pertama menyeru nama TUHAN yaitu Enos. Arti Enos ialah "getas/rapuh, orang yang pasti mati". Dia mengenal, setelah manusia jatuh, manusia tidak saja menjadi kosong dan sia-sia, manusia juga menjadi getas, pasti mati. Dengan otomatis dia berseru kepada Tuhan. Demikian juga kita, setelah kita mengenal kesia-siaan hidup manusia, kita lalu berkata: "Ya Tuhan, aku tidak seharusnya menurut pandanganku sendiri, aku harus menurut caraMu dan hidup beribadah kepadaMu. Tuhan, kehidupan manusiaku kosong dan sia-sia, aku adalah orang yang lemah dan pasti mati." Pada saat ini dengan sendirinya kita bisa berseru kepada nama Tuhan.

Menyeru Tuhan juga berarti berteriak kepada Tuhan, bahkan mengalami pernafasan rohani. "Ya Tuhan, aku memanggil namaMu dari dasar lobang yang dalam. Engkau mendengar suaraku! Janganlah Kau tutupi telingaMu terhadap kesahku dan teriak tolongku!" (Rat.3:55-56). Ayat-ayat di atas menunjukkan bahwa berseru juga merupakan memanggil/berteriak dan juga pernafasan. Berteriak adalah satu tarikan nafas yang baik. Ada orang memberitahu saya, menangis adalah satu olah raga yang paling baik bagi bayi. Setiap kali Anda berteriak, saat itulah dengan sendirinya Anda memiliki satu pernafasan yang dalam. Melalui berteriak dan bernafas, di satu pihak kita menghembuskan, di pihak lain kita menghirup. Menghirup selalu berkaitan erat dengan menghembus. Melalui menghembus, kita menghembuskan keluar segala hal yang negatif. Setiap kali Anda menghembuskan hal-hal yang negatif, maka hal-hal yang positif dari Tuhan akan memenuhi diri Anda. Kita ambil contoh dalam hal temperamen, ketika Anda hampir marah-marah, janganlah memikirkan untuk menekannya, asal Anda berseru, "O, Tuhan Yesus!" kemudian ditambah satu kalimat doa yang pendek, "Tuhan Yesus, aku mau marah!" Cobalah demikian dan lihatlah apakah Anda masih bisa marah. Melalui menyeru nama Tuhan, Anda bisa menghembuskan temperamen Anda, dan kemudian menghirup masuk Tuhan Yesus. Apakah Anda ingin menjadi kudus? Jalan untuk menjadi kudus ialah menyeru Tuhan Yesus. Melalui menyeru namaNya, maka segala dosa, kejahatan, dan kenajisan, akan terhembuskan keluar, di samping itu semua hal yang positif -- kelimpahan Tuhan -- akan terhirup masuk oleh Anda.

Seorang saudara pernah menulis satu kidung yang menyinggung bernafaskan Tuhan. Marilah kita baca beberapa bait dari kidung tersebut: kidung 116

Padaku, hembuslah RohMu, ajarku menghirupMu;

ke pangkuanMu ku acu, dosaku dan diriku.

Koor: Ku hembuskan dukacita, dosa nistaku;

ku hirup dan hirup saja, genap limpahMu.

Ku hembus kehidupanku, baru aku terpenuh;

lepas lemah dan kuatku, hirup rahmat, kurniaMu.

Ku hembus kekang dosaku, Kau sapu s'mua buatku;

hirup kelimpahan kudus, tahulah Kau Sang Hayat.

Catatan:

Minggu ke 2 – Selasa Doa-baca: Yesaya 12:3-4

"Maka kamu akan menimba air dengan kegirangan dari mata air keselamatan. Pada waktu itu kamu akan berkata: Bersyukurlah kepada Tuhan, panggillah namaNya . . ."

PELAKSANAAN MENYERU NAMA TUHAN

Bagaimana kita bisa menghirup Tuhan? Melalui membuka diri kita kepada Tuhan, dan menyeru namaNya. Kita perlu berseru kepadaNya, bahkan berteriak kepadaNya, seperti yang dikatakan dalam Yeremia, menyeru Tuhan berarti berteriak kepadaNya, dari lobang yang dalam berseru kepadaNya. Ketika kita dalam keadaan yang lembam, itulah artinya kita berada dalam lobang yang dalam. Saat itu kita perlu berteriak berseru kepadaNya, demikian baru bisa membebaskan kita dari kurungan itu, dan lebih banyak menerima Tuhan masuk ke dalam kita.

Yesaya juga memberitahu kita, bahwa berseru kepada Tuhan itu berarti memanggil namaNya (berteriak kepadaNya). "Lihatlah, Allah itu keselamatanku; aku mau bersandar kepadaNya, dan tidak takut; sebab Tuhan Allah itu kekuatanku dan mazmurku; Ia telah menjadi kekuatanku dan keselamatanku. Maka kamu akan menimba air dengan kegirangan dari mata air keselamatan. Pada waktu itu kamu akan berkata: Bersyukurlah kepada Tuhan, panggillah namaNya . . . Bermazmurlah bagi Tuhan, . . . berserulah dan bersorak sorailah, hai penduduk Sion, sebab yang mahakudus, Allah Israel, agung di tengah-tengahmu" (Yes. 12:2-6; Tl.). Dalam ayat-ayat di atas, Yesaya memberitahu kita agar kita bersyukur, bermazmur, memanggil, dan berseru. Semuanya ini berpadanan dengan ayat keempat. Dalam ayat dua dia berkata, bahwa Allah adalah keselamatan kita, Allah adalah kekuatan kita. Allah adalah segala sesuatu kita. Yang kita perlukan adalah menimba air dari mata air keselamatan Allah. Bagaimana kita bisa menimba air dengan kegirangan dari mata air keselamatan? Caranya adalah menyeru namaNya, bersyukur memuji Tuhan, bermazmur bagiNya, memanggil, dan berseru. Dalam ayat empat, pujian dan seruan digabungkan menjadi satu, dalam ayat enam, sorak sorai dan seruan digabung jadi satu. Ini berarti menyeru nama Tuhan adalah memanggil dan bersuara lantang. Banyak orang Kristen yang selamanya tidak pernah memanggil dan berseru dengan suara lantang. Jika Anda belum pernah berseru di hadapan Tuhan, saya ragu-ragu apakah Anda pernah menikmati Tuhan dengan kaya limpahnya. Cobalah di depan Allah Anda berseru kepadaNya. Jika Anda belum pernah berseru kepada Tuhan untuk keberadaan diri Anda, saya menganjuri Anda untuk mencobanya. Semakin Anda berseru, "O, Tuhan Yesus, betapa baiknya Engkau terhadapku!" Anda akan makin terlepas dari diri sendiri, makin dipenuhi Tuhan. Anda akan mencapai langit tingkat ketiga. Karena itu, bahkan dalam Perjanjian Lama, Yesaya bisa memberitahu kita memuji Tuhan, menyeru namaNya, memanggil, bahkan bersuara lantang.

Ijinkan saya membagi-nikmatkan beberapa pengalaman saya pribadi terhadap hal menyeru Tuhan. Saya dibesarkan di gereja Baptis Selatan, setelah beroleh selamat, karena menuntut firman Allah, saya tinggal beberapa tahun di satu perhimpunan Kaum Saudara yang sangat ketat. Praktik mereka adalah diam tenang. Dalam sidang mereka, bahkan sebuah jarum yang jatuh ke tanahpun akan terdengar. Saya tidak melukiskannya secara berlebihan.

Pada bulan Agustus 1931, suatu hari ketika saya sedang berjalan di suatu jalan, Roh Kudus di dalam saya berkata, "lihatlah dirimu sendiri, kamu telah memperoleh demikian banyak pengetahuan, kamu telah mengetahui lambang dan nubuat, tetapi lihatlah dirimu betapa mati!" Saat itu segera di dalam saya terasa lapar dan haus; seolah-olah ada satu benda yang mau meledak. Namun dikarenakan latar belakang keagamaan saya, saya tidak berani melakukannya di jalanan. Saya menekan diri sendiri, sore hari, senja dan bahkan malam harinya, saya sangat merasa sedih. Saya menunggu sampai keesokan harinya, karena waktu itulah saya baru bisa membebaskan diri saya di hadapan Tuhan. Rumah saya berada di sebuah bukit. Begitu pagi datang, saya berlari ke atas puncak bukit itu, menuangkan isi hati kepada Tuhan. Saya tidak bermaksud berseru, tetapi ada barang yang meletus keluar dari dalam diri saya, "O, Tuhan Yesus!" Dengan sendirinya saya telah berseru kepada Tuhan. Tidak ada orang mengajar saya menyeru Tuhan, saya juga belum nampak dari dalam Alkitab tentang hal menyeru Tuhan, saya dengan sendirinya telah melaksanakannya Meskipun saya belum memiliki istilah "menikmati Tuhan” dan "membebaskan roh", tetapi saya telah memiliki realitas kedua hal tersebut. Saya benar-benar telah berlatih dan membebaskan roh saya. Saya juga benar-benar telah menikmati Tuhan. Setelah kejadian itu, hampir setiap pagi saya pergi ke puncak bukit, untuk berseru kepada nama Tuhan. Melalui menyeru nama Tuhan, saya dipenuhi Tuhan. Setiap pagi ketika saya turun dari bukit, saya dipenuhi sukacita. Saya berada di atas langit, seluruh bumi dan segala sesuatu di bumi berada di bawah kaki saya.

Catatan:

Minggu ke 2 – Rabu Doa-baca: Roma 10:12b-13

". . . kaya bagi semua orang yang berseru kepadaNya. Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, pasti diselamatkan" (Tl.)

SEJARAH MENYERU NAMA TUHAN

Sejarah menyeru nama Tuhan dimulai pada generasi manusia yang ketiga, yaitu Enos anak Set. Sejarah menyeru nama Tuhan terus berkelanjutan dalam seluruh Alkitab. Kita bisa menunjukkan banyak contoh dari orang-orang yang menyeru nama Tuhan: Abraham (Kej.12:8), Ishak (Kej.26:25), Musa (Ul.4:7), Ayub (Ay.12:4), Yabes (I Taw.4:10), Simson (Hak.16:18), Samuel (I Sam.12:18), Daud (II Sam.22:4), Yunus (Yun.2:2), Elia (I Raj.18:24), Elisa (II Raj.5:11), Yeremia (Rat.3:55). Kaum saleh Perjanjian Lama tidak hanya menyeru nama Tuhan, mereka bahkan menubuatkan bahwa orang-orang lainnya juga akan menyeru namaNya (Yoel 2:32; Zef. 3:9; Zak.13:9).

Meskipun banyak orang yang sangat hafal dengan nubuat Yoel tentang Roh Kudus, namun tidak banyak yang memperhatikan bahwa fakta untuk menerima pencurahan Roh Kudus perlu menyeru nama Tuhan. Yoel menubuatkan bahwa Allah akan mencurahkan Roh Kudus, di lain pihak ia menubuatkan bahwa orang-orang akan berseru kepada nama Tuhan. Pencurahan Allah memerlukan kerja sama penyeruan kita. Nubuat Yoel tergenapi pada hari Pentakosta. Pada hari Pentakosta Allah mencurahkan RohNya, kaum saleh pada masa permulaan menerima Roh ini melalui menyeru namaNya. Penyeruan mereka adalah suatu reaksi terhadap pencurahan Roh oleh Allah. Stefanus juga menyeru nama Tuhan. Ketika dia dilempari dengan batu, dia berseru kepada nama Tuhan (Kis.7:60).

Seluruh kaum saleh dalam Perjanjian Baru melaksanakan menyeru nama Tuhan (Kis.9:14, 22:16; I Kor.1:2; II Tim.2:22). Ketika Paulus masih sebagai Saulus dari Tarsus, dia mendapatkan satu surat kuasa dari para imam, untuk membelenggu setiap orang yang berseru kepada nama Tuhan (Kis. 9:14). Ini menyatakan bahwa kaum saleh pada masa permulaan adalah orang-orang yang menyeru kepada Yesus. Penyeruan kepada nama Tuhan oleh mereka, telah menjadi tanda, ciri-ciri mereka sebagai orang Kristen. Sebab itu, sangatlah mudah bagi Saulus dari Tarsus untuk mengenali orang-orang Kristen di Damaskus, karena mereka adalah orang-orang yang berseru kepada Tuhan. Orang-orang Kristen itu tidak hanya berdoa kepada Tuhan, bahkan menyeru kepada Tuhan. Banyak orang Kristen yang sejati setiap hari berdoa kepada Tuhan, tetapi tetangga, kawan, dan teman sekolah mereka, tidak tahu kalau mereka adalah orang Kristen. Kita boleh menyebut orang-orang Kristen demikian sebagai orang Kristen tak bersuara. Namun, jika mereka menjadi orang Kristen yang berseru kepada nama Tuhan, maka penyeruan mereka akan menyatakan status Kekristenan mereka. Inilah keadaan orang-orang Kristen pada mulanya.

Ketika Paulus menulis surat Roma, dia sendiri menekankan hal menyeru nama Tuhan. Dia mengatakan, "Sebab tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dengan orang Yunani, karena Allah yang satu itu adalah Tuhan bagi semua orang, kaya bagi semua orang yang berseru kepadaNya. Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, pasti diselamatkan" (Roma 10:12-13, Tl.). Dalam Roma 10:12 Paulus berkata, bahwa Tuhan kaya bagi setiap orang yang berseru kepadaNya. Dalam ayat 13 dia mengutip nubuat Yoel yang mengatakan, "Sebab barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, pasti diselamatkan." Dalam I Korintus Paulus juga menyinggung tentang menyeru Tuhan, dia berkata, " . . . dengan segala orang di segala tempat yang berseru kepada nama Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Tuhan mereka dan Tuhan kita" (I Kor.1:2). Dalam surat II Trmotius dia juga memberitahu Timotius, bahwa ia harus menuntut perkara-perkara rohani bersama-sama dengan orang-orang yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni (II Tim.2:22). Dari ayat-ayat Alkitab ini kita nampak, bahwa orang-orang Kristen pada abad pertama sudah melaksanakan perkara menyeru nama Tuhan. Karena itu sepanjang Perjanjian Lama dan juga dalam zaman orang Kristen pada mulanya, kaum saleh telah menyeru nama Tuhan. Tetapi sayang sekali, perkara ini justru telah diabaikan oleh kebanyakan orang Kristen dalam waktu yang sangat lama. Kita percaya, bahwa hari ini Tuhan akan memulihkan perkara menyeru namaNya, dan mau supaya kita melaksanakan menyeru nama Tuhan, agar kita bisa menikmati kekayaan hayatNya.

Catatan:

Minggu ke 2 – Kamis Doa-baca: Mazmur 118:5

"Dalam kesesakan aku telah berseru kepada Tuhan. Tuhan telah menjawab aku dengan memberi kelegaan."

TUJUAN MENYERU NAMA TUHAN

1. Mendapatkan Keselamatan

Mengapa kita perlu menyeru nama Tuhan? Manusia mau mendapatkan keselamatan, perlu menyeru nama Tuhan (Roma 10:13). Misalkan ada orang mendengarkan Injil dan percaya Tuhan, Anda boleh menyuruhnya dengan tenang berdoa, membantu dia beroleh selamat. Saya melihat banyak orang beroleh selamat secara demikian. Tetapi jika Anda tidak hanya membantu dia berdoa, juga membantu dia menyeru Tuhan, maka pengalaman keselamatannya bisa lebih kuat Cara pertama yaitu dengan tenang membantu dia berdoa, itu bisa membantu orang beroleh selamat, tetapi ini tidak begitu limpah. Cara yang kedua yaitu dengan suara lantang menyeru nama Tuhan, bisa membantu orang secara lebih limpah beroleh selamat. Karena itu kita bisa membantu orang agar membuka diri sendiri, berseru kepada nama Tuhan Yesus.

2. Mendapatkan Penyelamatan dari Kesulitan,

Kesesakan, Penderitaan, dan Penyakit

Alasan lain perlunya menyeru nama Tuhan adalah untuk mendapatkan penyelamatan dari kesulitan dan kesesakan (Maz.18:7; 50:15; 80:7; 86:7; 118:5); dari penderitaan dan penyakit (Maz. 116:3-4). Orang-orang yang tidak setuju dengan hal menyeru nama Tuhan, ternyata menemukan diri mereka justru telah berseru kepadaNya, tatkala mereka menghadapi kesulitan atau penyakit. Ketika hidup kita lancar dan tidak ada kesulitan, kita mungkin menolak untuk menyeru Tuhan. Namun begitu kesulitan muncul, tanpa seorangpun memberitahu kita untuk berseru kepadaNya, secara spontan kita akan berseru kepadaNya. Menyeru Tuhan akan mendatangkan keselamatan dan pertolongan bagi kita. Ketika kita menghadapi kesulitan dan penderitaan, kita perlu menyeru Tuhan. Lebih lanjut Mazmur 116:3-4 memberitahu kita, bahwa menyeru nama Tuhan akan menyelamatkan kita terlepas dari banyak perkara yang negatif seperti penderitaan, kesesakan, kematian, dan alam maut. Jika Anda ingin terselamatkan dari semua kesulitan itu, Anda harus menyeru Tuhan.

3. Berbagian dalam Belas Kasihan Tuhan

Mazmur 86:5 mengatakan, bahwa Tuhan itu baik dan suka mengampuni, berlimpah kasih setia (belas kasihan) bagi semua orang yang berseru kepadaNya. Jalan agar kita berbagian dalam belas kasihanNya yang limpah adalah menyeru namaNya. Saat berseru kepadaNya, kita akan semakin menikmati belas kasihanNya.

4. Berbagian dalam Penyelamatan Tuhan

Mazmur 116 memberitahu kita melalui menyeru Tuhan, kita juga bisa berbagian dalam penyelamatan Tuhan, "Aku akan mengangkat piala keselamatan, dan akan menyerukan nama Tuhan" (ayat 13). Dalam Mazmur pasal yang sama menyinggung empat kali tentang berseru kepada Tuhan (Mazmur 116: 2, 4, 13, 17). Penyeruan di sini adalah untuk berbagian di dalam penyelamatanNya. Kita telah melihat bahwa jalan untuk menimba air dari mata air keselamatan adalah menyeru nama Tuhan (Yes. 12:2-4).

5. Menerima Roh Kudus

Alasan lain lagi menyeru nama Tuhan yaitu untuk menerima Roh Kudus (Kis.2:17a; 21). Cara yang paling baik dan paling mudah untuk dipenuhi Roh Kudus ialah menyeru nama Tuhan Yesus. Roh itu sudah dicurahkan, untuk menerimanya kita perlu berseru kepada Tuhan. Setiap saat kita boleh melakukan demikian. Jika Anda banyak kali menyeru nama Tuhan, Anda bisa dipenuhi Roh Kudus.

Catatan:

Minggu ke 2– Jumat Doa-baca: Yesaya 55:6

"Carilah Tuban selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat!"

6. Minum Minuman Rohani, Makan Makanan Rohani,

Mendapatkan Kepuasan

Yesaya 55:1 mengatakan, "Ayo, hai semua orang yang haus, marilah dan minumlah air, dan hai orang yang tidak mempunyai uang, marilah! Terimalah gandum tanpa uang pembeli dan makanlah, juga anggur dan susu tanpa bayaran!" Bagaimana cara makan dan minum Tuhan? Yesaya menunjukkan kepada kita caranya, yaitu yang tercantum dalam ayat 6 pada pasal yang sama: "Carilah Tuhan selama Ia berkenan ditemui, berserulah kepadaNya selama Ia dekat!" Jadi, cara untuk minum minuman rohani dan makan makanan rohani ialah dengan menyeru namaNya.

7. Menikmati Kelimpahan Tuhan

Roma 10:12 mengatakan, "Tuhan itu kaya bagi semua orang yang berseru kepadaNya." Tuhan itu kaya limpah, dan Ia kaya terhadap setiap orang yang berseru kepadaNya. Cara untuk menikmati kelimpahan Tuhan ialah dengan berseru kepada Tuhan. Tuhan tidak saja kaya, dalam pasal yang sama ayat 8 mengatakan, Ia juga dekat dan tersedia; karena Dia adalah Roh pemberi hayat (1 Kor. 15:45). Dia adalah Roh, karena itu mahaada. Kita boleh menyeru namaNya kapan saja dan di mama saja. Begitu kita berseru kepadaNya, karena Ia adalah Roh itu, maka Ia segera datang kepada kita, dan kita segera menikmati segala kelimpahanNya. Ketika Anda menyeru Tuhan Yesus, Roh itu segera datang.

Surat Korintus yang pertama merupakan sebuah kitab tentang kenikmatan atas Kristus. Dalam pasal 12 Paulus memberitahu kita bagaimana menikmati Dia. Cara menikmati Tuhan ialah dengan menyeru namaNya (12:3; 1:2). Setiap kali kita berseru, "O, Tuhan Yesus," Tuhan Sang Roh itu segera datang, dan kita meminumNya, meminum Roh pemberi hayat itu (12:13). Dalam pasal 15:45 memberitahu kita, bahwa Tuhan sekarang adalah Roh pemberi hayat. Setiap kali kita berseru, "Tuhan Yesus", Dia sebagai Roh itu segera datang kepada kita. Jika saya memanggil nama seseorang, dan orang itu benar-benar ada dan hidup, juga ada di samping saya, dia pasti segera datang. Tuhan itu sejati, hidup, selalu beserta, Dia terhadap kita senantiasa siap sedia. Karena itu setiap kali kita berseru kepadaNya, Dia segera datang. Dalam Perjanjian Lama Musa juga demikian berkata tentang Tuhan: "Sebab bangsa besar manakah yang mempunyai Allah yang demikian dekat kepadanya, seperti Tuhan, Allah kita, setiap kali kita memanggil (berseru kepadaNya)?" Setiap kali kita berseru kepada-Nya, Dia dekat kepada kita (Maz. 145:18). Maukah Anda menikmati penyertaanNya beserta segala kelimpahanNya? Cara yang terbaik untuk mengalami penyertaanNya beserta segala kelimpahanNya, ialah menyeru nama Tuhan. Ketika Anda sedang mengendarai mobil di jalan bebas hambatan atau Anda sedang bekerja, Anda perlu menyeru kepadaNya. Setiap saat dan di mana saja Anda berseru kepadaNya, Dia akan dekat kepada Anda, bahkan limpah kaya terhadap Anda.

8. Membarakan Diri Kita Sendiri

Melalui menyeru nama Tuhan, kita bisa mengobarkan diri kita sendiri. Yesaya 64:7 mengatakan, "Tidak ada yang memanggil namaMu atau yang bangkit untuk berpegang kepadaMu." Ketika kita merasa bahwa kita sedang lembam, lesu, atau turun, kita bisa berkobar dan bangkit kembali melalui menyeru nama Tuhan.

Catatan:

Minggu ke 2 — Sabtu Doa-baca: II Timotius 2:22

"jauhilah nafsu orang muda, kejarlah keadilan, kesetiaan, kasih dan damai bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni "

BAGAIMANA BERSERU KEPADA TUHAN

Sekarang kita perlu melihat bagaimana berseru kepada Tuhan. Pertama kita harus berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni (II Tim.2:22). Hati kita yang merupakan sumber seruan kita haruslah murni, tidak menuntut yang lain kecuali Tuhan sendiri. Kedua, kita juga harus berseru kepada Tuhan dengan bibir yang bersih (Zef.3:9). Kita harus memperhatikan tutur kata kita, karena perkataan sia-sia paling menajiskan bibir kita. Jika bibir kita tidak bersih dikarenakan perkataan yang sia-sia, maka sulitlah bagi kita untuk menyeru nama Tuhan. Selain hati yang murni dan bibir yang bersih, kita juga perlu memiliki mulut yang terbuka (Maz.81:11). Kita perlu membuka mulut kita lebar-lebar dan berseru kepada Tuhan. Di samping itu, kita perlu menyeru Tuhan secara korporat. Dua Timotius 2:22 mengatakan, "Jauhdah nafsu orang muda, kejarlah keadilan, kesetiaan, kasih dan damai bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni." Kita perlu berhimpun bersama dengan tujuan untuk menyeru nama Tuhan. Mazmur 88:10 mengatakan, "Aku telah berseru kepadaMu, Ya TUHAN, sepanjang hari." Karena itu, kita harus menyeru namaNya setiap hari dan sepanjang hari. Perkara menyeru nama Tuhan ini bukanlah doktrin semata, melainkan satu perkara yang praktis, riil, yang perlu kita laksanakan setiap hari. Kita tentunya tidak bisa berhenti bernafas. Kita tahu apa yang akan terjadi jika kita berhenti bernafas. Selain itu, dalam Mazmur 116:2b mengatakan, "Maka seumur hidupku aku akan berseru kepadaNya." Selama kita hidup, kita harus berseru kepadaNya. Saya mengharapkan lebih banyak umat Allah, khususnya yang baru beroleh selamat, bisa mulai melaksanakan hal menyeru nama Tuhan. Jika Anda melaksanakannya, Anda pasti nampak, bahwa ini adalah cara yang terbaik untuk menikmati kelimpahan Tuhan.

Ada orang bertanya kepada saya, "Bukankah Tuhan ada di dalam kita? Mengapa Anda masih mengatakan, bahwa ketika berseru kepada Tuhan, Tuhan akan dekat?" Ada orang mengira, kalaupun Tuhan sudah berada di dalam kita, maka kita tidak perlu lagi berseru kepadaNya. Terhadap orang-orang semacam ini, saya juga ada satu pertanyaan, "Bukankah di dalam kalian ada udara? Kalau di dalam diri kalian sudah ada udara, mengapa kalian masih perlu bernafas?" Logika pertanyaan ini sama dengan perlunya kita menyeru Tuhan meskipun Ia sudah ada di dalam kita. Tuhan sudah berada di dalam kita, maka kita tidak perlu lagi berseru kepadaNya, perkataan ini seolah sesuai dengan logika, namun ini tidak sesuai dengan realitasnya. Dalam hal bernafas, tidak ada seorangpun yang dikarenakan di dalam dirinya sudah ada udara maka ia tidak perlu bernafas lagi. Kita harus tidak henti-hentinya bernafas demi mempertahankan hidup kita. Demikian juga, meskipun Tuhan sudah ada di dalam kita, kita masih perlu berseru kepadaNya, lebih banyak menghirupNya.

Ada orang bertanya, "Mengapa kalian begitu lantang berseru? Apakah Allah kita tuli? Apakah Dia tidak mendengar doa kita yang kita panjatkan secara diam-diam?" Mereka mendebat dengan mengatakan, bahwa karena Tuhan kita tidak tuli, maka kita tidak perlu dengan suara lantang berseru kepadaNya. Tetapi, silakan melihat Ibrani 5:7, bagaimana Tuhan berdoa: "Dalam hidupnya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkanNya dari maut, dan karena kesalehanNya, Ia telah didengarkan." Kata "ratap tangis" di sini, jelas menyatakan bukan berdoa dengan diam-diam. Jika Anda tidak bisa menerima (menggerutu) terhadap orang-orang yang berseru lantang kepada Tuhan, Anda harus bertanya kepada Tuhan Yesus, mengapa Dia meratap tangis dalam doa dan permohonanNya. Kalaupun Allah Bapa tidak tuli, mengapa pula Tuhan berdoa sebegitu rupa?

Lagi pula, berulang kali Mazmur memberitahu kita, agar kita bersorak-sorai bagi Tuhan (Maz.66:1; 81:2; 95:1-2; 98:4,6; 100:1). Perhatikanlah, kata-kata ini dalam bahasa aslinya bukan hanya bersorak biasa, melainkan bersorak-sorai dengan lantang dan sukaria. Kita semua tahu perbedaan antara sekadar suara dan bersorak-sorai. Kita perlu bersorak-sorai bagi Tuhan, karena Tuhan senang mendengarkan sorak-sorai demikian.

Bagaimanapun, persoalan yang sebenarnya bukanlah Allah mendengar atau tidak, melainkan kita perlu melatih roh kita, membebaskan segala yang ada di dalam roh dan pikiran kita, agar Tuhan Sang Roh pemberi hayat itu masuk ke dalam kita. Hal ini bukan soal didengar, melainkan soal menikmati Tuhan dan berbagian dalam segala kelimpahanNya.

Catatan:

Minggu ke 3 – Minggu Doa-baca: Mazmur 81:11b

"Bukalah mulutmu lebar-lebar, maka Aku akan membuatnya penuh."

MENDIRIKAN PENGHIDUPAN MENYERU NAMA TUHAN

1. Menyeru Nama Tuhan Adalah Jalan Menikmati Tuhan

Kita telah melihat dengan jelas, bahwa cara untuk menikmati Tuhan ialah makan Tuhan, dan makan Tuhan adalah salah satu sebutan rohani yang sebenarnya adalah berseru kepada Tuhan. Berseru kepada Tuhan adalah jalan kita menikmati Tuhan. Allah kita dekat kepada orang yang berseru kepadaNya. Apakah Anda ingin kalau Allah dekat dengan Anda? Apakah Anda ingin mendapatkan penyertaan Allah? Anda harus menyeru namaNya. Cobalah, baik Anda sedang duduk di rumah, sedang berjalan di jalanan, sedang duduk di kendaraan, sedang makan, bahkan ketika sedang berbincang-bincang dengan orang, begitu Anda berseru, "O, Tuhan!" Tuhan segera ada di hadapan Anda.

2. Memberitakan Injil Harus Memimpin Orang Menyeru Nama Tuhan

Memberitakan Injil kepada orang lebih baik sedikit berbicara, semakin sedikit berbicara semakin baik. Di dalam Anda bercokol setan, begitu Anda berbicara, setan segara ikut keluar. Cara terbaik bagi Anda ialah membantu orang lain membuka mulut berseru kepada Tuhan. Ada seorang saudara sangat pandai memberitakan Injil secara demikian; ketika ia berjumpa dengan orang di jalan, dengan tersenyum simpul ia menyapanya dan berkata, "Tuan, ijinkan aku memberitahu tuan, aku memiliki Yesus! Tuan juga perlu Yesus! Bolehkah tuan menyeru nama Tuhan bersamaku?" Orang tadi dengan merasa aneh lalu mengikutinya menyeru nama Tuhan. Selanjutnya saudara itu berkata, "Silakan tuan menyerunya lebih lantang lagi "O, Tuhan!" Demikianlah saudara ini memberitakan Injil, dan banyak orang yang beroleh selamat karenanya.

3. Ketika Memuji dan Bersyukur kepada Tuhan

Perlu Menyeru Tuhan

Satu lagi, Alkitab memperlihatkan kepada kita, ketika kita mempersembahkan korban, ketika kita memanjatkan syukur, kita harus juga berseru kepada Tuhan. Setiap kali hati Anda tergerak untuk bersyukur, setiap kali memiliki rasa berterima kasih kepada Tuhan, perlu dari dalam Anda menyeru kepadaNya. Yang paling membuat Tuhan mendapatkan kemuliaan, yang paling membuat Tuhan mendapatkan pujian dan syukur, adalah kita berseru kepadaNya! Anda demikian berseru kepadaNya, Tuhan benar-benar mendapatkan pujian dan ucapan syukur.

4. Ketika Membaca Alkitab Perlu Menyeru Tuhan

Sayang, hari ini banyak orang Kristen yang membaca Alkitab dengan menggunakan otak mereka. Ketika mereka membaca Alkitab, mereka tidak mau berseru kepada Tuhan, akibatnya, mereka hanya menjamah Alkitab, tetapi tidak menjamah Tuhan. Ingatlah, jika Anda tidak menyeru Tuhan, Alkitab akan menjadi huruf-huruf bagi Anda, bukan menjadi roh. Huruf-huruf mematikan, hanya roh yang menghidupkan. Jika Anda membaca Alkitab dengan otak Anda, maka setiap kata dan kalimat dari Alkitab itu akan membunuh Anda. Kita harus mendirikan satu kebiasaan, begitu membuka Alkitab, segera menyeru nama Tuhan! Sambil "O, Tuhan!" sambil membaca; firman Alkitab akan menjadi hidup. Saat demikian, kegelapan Anda akan tersingkirkan, Anda yang lemah dikuatkan, Tuhan di dalam Anda menyuplai Anda atas berbagai hal, ini baru benar.

5. Menyeru Tuhan Harus Menjadi Penghidupan Kita

Ketika Stefanus dianiaya, dilempari batu, saat itu dia tidak berdoa, melainkan berseru kepada Tuhan. Dia berseru, "Tuhan Yesus, terimalah rohku!" (Kis. 7:59; Tl.). Hasilnya, orang-orang melihat bahwa wajahnya bercahaya seperti malaikat. Mengapa? Karena begitu dia berseru, Tuhan memenuhi manusia batiniahnya, dan terekspresi melalui manusia lahiriahnya. Ini memperlihatkan kepada kita, bahwa orang-orang Kristen pada mulanya di abad pertama, semuanya menempuh hidup yang menyeru nama Tuhan. Saya sedikitpun tidak ragu-ragu, mereka setiap hari menyeru nama Tuhan; di rumah menyeru, di jalan juga menyeru. Saya mengharapkan kalian juga bisa mendirikan suasana yang demikian.

(Dikutip dari Pelajaran-hayat Kitab Kejadian, berita ke-25, dan Pemulihan Tuhan – Makan, berita ke-4).

Catatan: