← Daftar isi Keselamatan Lengkap Allah Memiliki Dua Aspek-aspek Yudisial dan Aspek Organik · bab 3/5

PENGUDUSAN WATAK DAN PEMBAHARUAN

Pembacaan Alkitab :

Rm. 15:16; 8:2; 6:19, 22;

Ef. 1:4; Why. 21:2, 10; 22:19; Rm. 12:2a

GARIS BESAR

I. Dalam pengudusan watak dalam sifat ilahi dan dalam pembaharuan Roh terhadap pikiran kaum imani.

II. Pengudusan watak :

A. Pengudusan watak adalah agar kaum imani dikuduskan dalam watak mereka sehingga mereka dapat berbagian dalam sifat kudus Allah dan menjadi satu dengan Dia dalam atribut-Nya ini — Rm. 15:16.

1. Melalui pekerjaan pengudusan di dalam kaum imani oleh Roh hayat — Rm. 8:2.

2. Dengan elemen hayat Allah sebagai bahannya.

B. Aspek pengudusan ini menunjukkan transformasi - Rm. 6:19, 22.

C. Ini adalah pemenuhan tujuan Allah dalam memilih kaum imani — Ef. 1:4.

D. Pengudusan kedudukan dalam aspek yudisial dan pengudusan watak dalam aspek organik dari keselamatan Allah itu dimanifestasikan secara ultima di dalam Yerusalem Baru agar Yerusalem Baru itu menjadi kota kudus — Why. 21:2, 10; 22:19.

III. Pembaharuan :

A. Kaum imani secara spontan diperbaharui dalam kehidupan rohani mereka ketika mereka dikuduskan secara watak oleh Roh Kudus.

B. Kaum imani tidak boleh serupa dengan zaman ini, melainkan harus ditransformasi oleh pembaharuan pikiran mereka — Rm. 12:2a.

C. Diperbaharui dalam pikiran adalah membuang segala konsep usang mengenai segala hal yang berasal dari hayat insani dan dijadikan baru kembali oleh pengajaran Kitab Suci dan penerangan Roh Kudus.

D. Pembaharuan pikiran yang demikian ini menghasilkan transformasi kaum imani dalam kehidupan rohani mereka.

Di dalam dua berita sebelumnya kita telah menunjukkan kedua aspek dari keselamatan lengkap Allah, aspek yudisial dan aspek organik. Kita juga telah meliput dua butir pertama dari aspek organik itu, kelahiran kembali dan penggembalaan. Di dalam berita ini kita akan melanjutkannya ke dua butir lainnya: pengudusan watak dan pembaharuan.

ISI DARI PERJANJIAN BARU

ADALAH PEKERJAAN ALLAH

DALAM ASPEK YUDISIAL DAN ASPEK ORGANIK

Pertama-tama, kita akan melihat bahwa isi dari Perjanjian Baru adalah pekerjaan Allah dalam aspek yudisial dan aspek organik. Di dalam keselamatan lengkap Allah, pekerjaan yudisial itu digenapkan hanya dalam waktu tiga puluh tiga setengah tahun, dari inkarnasi Tuhan sampai Dia menjadi Roh pemberi hayat di dalam kebangkitan sebagai Sang berinkarnasi. Injil Yohanes dimulai dengan pasal satu yang mengatakan bahwa pada mulanya adalah Firman dan Firman itu telah menjadi daging (ay 1, 14), dan itu disimpulkan di dalam pasal dua puluh (pasal dua puluh satu adalah tambahan) yang memberitahu kita bahwa Tuhan telah bangkit sebagai Roh itu (ay 22). Di tengah-tengahnya, kitab ini memberi tahu kita bagaimana Yesus yang berinkarnasi itu melalui segala macam penderitaan di bumi, menempuh suatu kehidupan yang berada di bawah bayangbayang salib, dan pada akhirnya naik ke atas kayu salib dan mati di sana. Kemudian melalui kematian-Nya Dia masuk ke dalam kebangkitan, dan di dalam kebangkitan Dia menjadi Roh pemberi hayat. Inilah isi dari kitab-kitab Injil. Setelah ini, kitab Kisah Para Rasul memberikan suatu catatan tentang para rasul yang memberitakan pekerjaan yudisial yang telah digenapkan oleh Tuhan dalam waktu tiga puluh tiga setengah tahun. Orang-orang di berbagai tempat yang berbeda mendengar dan percaya pada apa yang diberitakan para rasul, menghasilkan gereja-gereja itu. Kemudian gerejagereja menyusun Tubuh Kristus secara organik dan akan secara ultima merampungkan Yerusalem Baru. Setelah kitab Kisah Para Rasul, ada dua puluh dua surat-surat Rasuli, dari Roma sampai Wahyu, yang semuanya membicarakan tentang aspek organik dari keselamatan Allah, yaitu, mengenai kelahiran kembali, penggembalaan, pengudusan watak, pembaharuan, transformasi, pembangunan, penyerupaan, dan pemuliaan.

Singkatnya, dari ke dua puluh tujuh kitab Perjanjian Baru, ke empat Injil yang pertama menyingkapkan sejarah, yang secara khusus membicarakan tentang Tuhan Yesus; kitab yang kelima, Kisah Para Rasul, memberi tahu kita bagaimana Yesus ini diberitakan ke berbagai tempat yang berbeda. Pemberitaan ini sangat efektif dan membawa masuk gereja-gereja, yang menghasilkan Tubuh Kristus dan secara ultima merampungkan Yerusalem Baru. Setelah Kisah Para Rasul, ada dua puluh dua surat Rasuli yang secara khusus meliput tentang gereja, Tubuh Kristus, dan Yerusalem Baru. Dengan cara bagaimana? Dengan membicarakan tentang kelahiran kembali, penggembalaan, pengudusan watak, pembaharuan, transformasi, pembangunan, penyerupaan, dan pemuliaan. Butir-butir ini, dari kelahiran kembali sampai pemuliaan, adalah untuk menghasilkan gereja, Tubuh Kristus, dan akhirnya perampungan Yerusalem Baru. Maka, ke delapan butir ini adalah perkara-perkara yang berada di antara gereja dan Yerusalem Baru. Oleh karena itu Perjanjian Baru meliput pekerjaan Kristus dalam dua periode. Periode yang pertama adalah Dia selama tiga puluh tiga setengah tahun di bumi, dan di dalam periode ini semua pekerjaan Allah adalah yudisial dan telah dirampungkan oleh Tuhan Yesus. Periode yang kedua adalah dari waktu setelah kebangkitan-Nya, sampai hari ini, hingga kekekalan, dan di dalam periode ini semua pekerjaan Allah adalah organik dan dilaksanakan oleh Roh itu. Oleh karena itu, Filipi 1:19 menunjukkan "suplai yang limpah lengkap dari Roh Yesus Kristus." Roh Yesus Kristus, Roh pemberi hayat Allah Tritunggal almuhit dan majemuk, memiliki suplai yang limpah lengkap dan bahkan adalah suplai yang limpah lengkap itu sendiri. Suplai yang limpah lengkap ini melibatkan pekerjaan yudisial dari bagian yang pertama dan pekerjaan organik dari bagian yang kedua.

Butir pertama dari pekerjaan organik Allah adalah kelahiran kembali, yaitu untuk membawa Allah Tritunggal masuk ke dalam manusia. Kelahiran kembali berarti bahwa Kristus diterima oleh manusia dan masuk ke dalam manusia. Kristus yang masuk ke dalam orang-orang yang menerima Dia ini adalah perwujudan Bapa. Oleh karena itu, ketika Dia masuk, Bapa juga masuk. Bukan hanya demikian, realisasi, realitas, dari Kristus adalah Roh itu. Oleh karena itu, ketika Kristus masuk, bukan hanya Bapa dan Putra yang masuk, melainkan Roh itu jugs masuk. Ketiganya— Bapa, Putra, dan Roh — semuanya masuk dan tinggal di dalam orang-orang yang telah dilahirkan kembali, menjadi satu roh dengan kaum imani, dan diikat dengan mereka menjadi satu. Ini merupakan suatu perkara yang sangat besar di alam semesta. Oleh karena itu, D. L. Moody, pendiri Moody Bible Institute (Institut Alkitab Moody) dan seorang penginjil besar di Amerika pada abad yang terakhir, mengatakan bahwa kelahiran kembali adalah mujizat yang paling besar di alam semesta.

Jika kita tidak memiliki Bapa, Putra dan Roh tinggal di dalam kita untuk tersusun bersama-sama dengan kita sebagai suatu organisme, maka tidak akan ada gereja dan tidak akan ada Tubuh Kristus. Oleh karena itu, di dalam Efesus 4 Paulus menunjukkan satu Tubuh, satu Roh, satu Tuhan, dan satu Allah dan Bapa (ay 4-6). Satu Allah dan Bapa ini saja memiliki tiga aspek — Dia yang di atas semua dan melalui semua dan di dalam semua (ay 6). Bukan hanya ada Bapa di sini, melainkan juga Putra dan Roh ada di sini. Bapa, Putra, dan Roh dan umat yang telah ditebus, dilahirkan kembali, digembalakan, dikuduskan, diperbaharui, ditransformasi, dibangun, diserupakan, dan dimuliakan disusun bersama-sama menjadi suatu organisme, yaitu, gereja, Tubuh Kristus.

KONDISI KEKRISTENAN

Tetapi, pandangan Kekristenan hari ini mengenai Alkitab itu terlalu rendah. Orang-orang Lutheran tidak banyak menekankan tentang pertumbuhan dalam hayat dan transformasi. Mereka menganggap bahwa begitu seseorang percaya dalam Tuhan, dia itu dibenarkan, tetapi mereka tidak memperhatikan aspek organik dari keselamatan Allah. Demikian pula, para penganut teologi reformasi juga tidak memperhatikan perkara pertumbuhan dalam hayat dan transformasi, yang mereka anggap terlalu sulit. Mereka malah mengira bahwa begitu seseorang percaya dalam Tuhan, ia akan menerima keselamatan yang terjamin dengan kekal. Mereka mengira bahwa Allah dahulu telah memilih kita di dalam kekekalan dan itu sudah cukup dan tidak akan pemah berubah. Ajaran mereka kekurangan wahyu ilahi di dalam Kitab Suci. Kita tidak dapat mengatakan bahwa tidak ada hal lainnya lagi setelah pemilihan Allah. Efesus 1:4 memang mengatakan bahwa kita telah dipilih. Tetapi Efesus tidak hanya memiliki satu ayat ini saja. Efesus 1 memiliki banyak ayat lainnya yang memberi tahu kita bahwa masih ada banyak hal setelah pemilihan Allah. Jadi, kita tidak dapat mengatakan bahwa pemilihan Allah itu sudah cukup. Orang-orang di dalam pergerakan Pentakosta juga menolak perkara pertumbuhan dalam hayat dan transformasi. Mereka menganggap bahwa lebih panting berbahasa lidah dan bahwa seseorang.tidak dapat diselamatkan tanpa berbahasa lidah.

Inilah kondisi Kekristenan hari Mereka tidak mengenal perkara-perkara organik di dalam keselamatan Allah. Bukan hanya demikian, banyak orang di dalam Kekristenan tidak tahu bahwa Tuhan sebagai Roh itu ada di dalam roh kita. Mereka bahkan tidak tahu apa Roh itu sebenarnya, dan tidak tahu bahwa di dalam diri manusia ada satu roh. Mereka menganggap bahwa roh dan jiwa itu satu dan sinonim. Bukan hanya demikian, mereka juga mencampuradukkan hati, jiwa, dan roh, menganggap ketiganya itu sama.

Kondisi Kekristenan hari ini sudah tidak dapat disembuhkan. Apa yang dapat kita lakukan adalah menantikan Tuhan untuk datang kembali. Menurut Wahyu 17, ketika Tuhan datang kembali, hal pertama yang akan Dia lakukan adalah membakar Gereja Katholik dengan api (ay 16); selanjutnya, Dia akan memerintahkan para malaikat untuk mengikat semua orang Kristen palsu, para lalang di dalam Kekristenan dan melemparkan mereka ke dalam telaga api (Mat. 13:30, 41-42). Ketiga, Dia akan mengumpulkan semuaorang yang telah dengan sejati diselamatkan ke takhta penghakiman-Nya; di sana Dia akan menghakimi mereka untuk melihat siapa yang penghidupan dan pekerjaannya adalah emas, perak, dan batu-batu permata dan siapa yang penghidupan dan pekerjaannya adalah kayu, rumput, dan jerami (1 Kor. 3:12-15; 4:4-5; 2 Kor. 5:10; Why. 22:12). Jika penghidupan dan pekerjaannya adalah kayu, rumput, dan jerami, Tuhan akan membakar hal-hal ini dengan api. Akibatnya, hanya ada sejumlah kecil emas, perak, dan batubatu permata yang akan tersisa. Tuhan telah memperlihatkan kebenaran-kebenaran ini kepada saya setelah saya mempelajari Firman selama tujuh puluh tahun. Tetapi, says merasa sangat pedih ketika saya melihat kondisi Kekristenan hari ini. Tanpa rahmat Tuhan, pemulihan Tuhan dapat memiliki dua macam kondisi. Kondisi yang pertama adalah menjadi sauna dengan Sardis, yaitu, hidup dalam nama, tetapi mati dalam realitas (Why. 3:1). Kondisi lainnya adalah menjadi sauna dengan Laodikia, yaitu, tidak panas juga tidak dingin (ay 16). Hidup dalam nama tetapi mati dan tidak panas juga tidak dingin itu adalah kondisi kita beberapa tahun yang lalu. Itulah sebabnya mengapa pada tahun 1984 saya pergi ke Taiwan untuk mempelajari jalan baru Tuhan agar pemulihan-Nya terus maju. Hari ini di dalam pemulihan Tuhan, pada umunmya, kita telah keluar dari kondisi Sardis dan Laodikia. Tetapi kita perlu merendahkan diri agar tidak ada yang jatuh ke dalam kondisi yang demikian.

PENGUDUSAN

Sekarang kita akan melanjutkan untuk melihat pengudusan dalam sifat ilahi dan pembaharuan Roh itu terhadap kaum imani.

Pengudusan Kedudukan

Adalah Milik Aspek Yudisial dari Keselamatan Allah

Pertama-tama, kita harus mengenal perbedaan antara pengudusan kedudukan dan pengudusan watak. Yang pertama adalah milik aspek yudisial dari keselamatan Allah, sedangkan yang kedua adalah milik aspek organik dari keselamatan Allah.

Sebelum kita diselamatkan, kita semua ada di dalam dunia. Setelah kita diselamatkan dan dilahirkan kembali, Tuhan sepenuhnya memisahkan kita untuk membuat kita menjadi kudus. Ini adalah pengudusan kedudukan agar kaum imani disisihkan dari dunia dan menjadi kudus kepada Allah (1 Kor. 1:2; Rm. 1:7). Seperti yang disinggung di dalam Matius 23, bila emas ditempatkan di pasar, emas itu adalah sesuatu yang biasa, tetapi bila emas itu ditempatkan di dalam bait, maka emas itu dikuduskan (ay. 17). Pengudusan semacam ini sama sekali tidak mengubah watak yang di dalam; pengudusan ini hanya mengubah kedudukan yang di luar. Setiap orang yang telah dilahirkan kembali sedikit banyak memiliki pengalaman yang demikian ini. Segera setelah kita diselamatkan, kita tidak mau berbaur dengan mereka yang berada di dalam dunia; kita telah dipisahkan dari mereka. Ini adalah pengudusan kedudukan, pemisahan. Pengudusan kedudukan ini adalah melalui darah Kristus yang menebus (Ibr. 10:29; 13:12) agar kaum imani menjadi umat khusus Allah (1 Ptr. 2:9-10 dan catatan-catatannya).

Pengudusan Watak Adalah agar Kaum Imani

Dikuduskan dalam Watak Mereka Sehingga Mereka

Dapat Berbagian dalam Sifat Kudus Allah

Tetapi, tidaklah cukup hanya dipisahkan dan dijadikan kudus kepada Allah secara kedudukan. Setelah kita dikuduskan secara kedudukan dan didamaikan kepada Allah, sewaktu kita mulai menuntut dalam hayat, kita akan merasakan sesuatu di dalam kita yang bukan watak kita melainkan adalah sifat Allah. Sifat yang di dalam kita ini membereskan watak alamiah kita, watak aneh kita, dan temperamen kita secara menyeluruh, sehingga sifat ilahi itu menjadi watak kita. Ini adalah menguduskan kaum imani secara watak agar mereka dapat berbagian dalam sifat kudus Allah dan menjadi satu dengan Allah dalam atribut-Nya ini (Rm. 15:16). Pengudusan yang demikian ini memakai elemen hayat Allah sebagai bahannya dan dilaksanakan melalui pekerjaan pengudusan di dalam kaum imani oleh Roh hayat (Rm. 8:2).

Ini benar-benar adalah pengalaman saya. Setelah saya diselamatkan, karena saya mengasihi Tuhan dan sedang bertumbuh dalam hayat, sifat kudus Allah secara berkesinambungan melaksanakan pekerjaan pengudusan di dalam saya. Ketika saya pergi ke toko serba ada, saya melihat satu benda, namun saya tidak dapat mengenakannya; says melihat benda lainnya, dan saya tidak dapat mengenakannya. Ketika saya untuk pertama kali mengganti cara berpakaian saya dengan mengenakan pakaian ala Barat, membeli dasi itu merupakan suatu masalah besar. Ada beberapa dasi yang terlalu lebar, yang lainnya terlalu tipis, dan ada juga yang terlalu banyak corak. Hari ini dasi-dasi saya tidaklah terlalu lebar, tidak terlalu tipis, juga tidak terlalu banyak corak. Ini disebabkan karena ketika saya pergi membeli sebuah dasi, ada satu sifat di dalam saya yang menghendaki saya membeli dasi yang semacam ini. Saudarasaudara, tongkat pengukur untuk penghidupan dan pakaian kita adalah sifat ilahi yang di dalam kita. Sifat ilahi Allah yang di dalam kita ini adalah tongkat pengukur bagi penghidupan kita. Bait 1 dari Sidung, #244 berkata, "Tuhan, Kau hayatku, / Hidup dalamku; / Bawa limpah Allah / Penuhi aku. / Sifat-Mu yang kudus / Menakdiskanku, / Oleh kuasa bangkit, / Jaya kutempuh." Oleh sifat kudus Tuhan kita dikuduskan. Pengudusan yang demikian ini bnkanlah yang di luar melainkan yang di dalam. Oleh karena itu, kita tidak mengatakan bahwa ini adalah pengudusan kedudukan; melainkan, kita mengatakan bahwa ini adalah pengudusan watak.

Tongkat pengukur bagi penghidupan kita bukanlah peraturan-peraturan atau hukum-hukum yang di luar melainkan sifat ilahi yang di dalam. Di beberapa daerah di Pennsylvania dan Ohio ada suatu sekte orang Kristen yang banyak mendirikan kriteria agar tidak mengasihi dunia, terutama mengenai kaum imani dalam mengenakan pakaian atau topi. Mereka bahkan membatasi pakaian wanita hanya tiga warna saja : putih, hitam, dan biru tua. Mereka juga secara spesifik mengharuskan laki-laki memakai topi yang berpinggiran lebar. Beberapa orang yang bergaya modern tidak menyukai topi yang berpinggiran lebar, maim mereka secara diam-diam membuat topi yang berpinggiran lebih sempit. Tetapi pastor mereka mengutuk pinggiran yang sempit itu sebagai keduniawian. Pada akhirnya beberapa dari mereka menyimpan dua jenis topi di rumah mereka, yang satu berpinggiran lebar, dan lainnya dengan berpinggiran sempit. Sewaktu pastor datang, mereka memakai topi yang berpinggiran lebar, dan setelah pastor itu pergi, mereka memakai topi yang berpinggiran sempit.

Saudara saudari, apakah kita mengatur din kita sendiri dengan peraturan-peraturan yang di luar? Apakah kita hidup dan berjalan menurut sifat kudus Allah atau menurut peraturan-peraturan yang di luar? Hari ini kita tidak memerlukan peraturan-peraturan yang di luar ini; kita hanya memerlukan sifat kudus Allah yang dapat membuat kita menjadi kudus. Misalnya, mengenai pakaian wanita, Alkitab hanya memberikan satu firman yang mengatakan bahwa perempuan-perempuan harus menghiasi diri mereka sendiri dengan pakaian yang tepat (1 Tim. 2:9). Tetapi pakaian yang bagaimanakah yang dianggap tepat itu? Sifat ilahi yang di dalam Anda akan memberi tahu Anda. Inilah pengudusan watak; ini adalah pekerjaan organik yang dilaksanakan oleh Kristus sebagai Roh itu di dalam kita. Ini bukanlah sesuatu yang yudisial; ini adalah sesuatu yang benar-benar organik. Aspek pengudusan ini menunjukkan transformasi (Rm. 6:19, 22) bagi pemenuhan tujuan Allah dalam memilih kaum imani (Ef. 1:4). Akhirnya, pengudusan kedudukan dalam aspek yudisial dan pengudusan watak dalam aspek organik dari keselamatan lengkap Allah akan dimanifestasikan secara ultima dalam Yerusalem Baru agar Yerusalem Baru itu menjadi kota kudus (Why. 21:2, 10; 22:19).

PEMBAHARUAN

Baum Imani secara Spontan Diperbaharui di dalam

Kehidupan Rohani Mereka Ketika Mereka Dikuduskan

oleh Roh Kudus

Sekarang kita akan melanjutkan untuk melihat pembaharuan di dalam aspek organik dari keselamatan Allah. Di dalam berita sebelumnya kita telah melihat bahwa kelahiran kembali adalah memiliki Allah sebagai hayat kita. Ini adalah suatu perkara di dalam hayat Allah. Setelah kelahiran kembali kita melalui penggembalaan, dan kemudian kita mendapatkan pengudusan watak, yang adalah suatu perkara dalam sifat Allah. Kita bukan hanya perlu dilahirkan kembali dalam hayat, melainkan juga perlu dikuduskan dalam watak kita. Tidak ada watak insani yang baik; hanya sifat Allah yang kudus. Ketika kita diselamatkan, elemen sifat kudus Allah masuk ke dalam kita; sifat kudus ini mulai bekerja di dalam kita untuk menguduskan kita secara watak. Efesus 1:4 mengatakan bahwa Allah telah memilih kita sebelum dasar dunia diletakkan agar kita menjadi kudus. Ini memperlihatkan kepada kita bahwa menjadi kudus adalah dari pemilihan Allah. Menjadi kudus adalah memiliki sifat Allah, sedangkan memiliki keputraan, di dalam ayat 5, adalah memiliki hayat Allah. Melalui kelahiran kembali, kita memiliki hayat Allah, dan melalui pengudusan, watak kita diubah. Ketika kaum imani dikuduskan secara watak, mereka secara spontan diperbaharui dalam kehidupan rohani mereka.

Tidak Boleh Serupa dengan Zaman Ini,

Melainkan Harus Ditransformasi oleh Pembaharuan Pikiran

Roma 12:2a berkata, "Janganlah menjadi serupa dengan zaman ini, tetapi ditransformasilah oleh pembaharuan pikiran." Kita tidak boleh menjadi serupa dengan zaman ini. Ini berarti bahwa kita tidak boleh terpenuhi. Melainkan kita harus ditransformasi oleh pembaharuan pikiran. Ada yang mengatakan bahwa pembaharuan yang demikian ini serupa dengan pengajaran Konfusius dan Mensius, yaitu bahwa "prinsip dari Pelajaran yang Agung adalah mengembangkan kebajikan yang cerah dan memperbaharui orang" dan bahwa "jika Anda dapat memperbaharui diri Anda sendiri untuk satu hari saja, maka kiranya pembaharuan itu ada setiap hari." Namun, pembaharuan yang diajarkan di dalam Alkitab itu tidak sama dengan pembaharuan yang diajarkan di dalam buku Konfusius dan Mensius. Pembaharuan yang diajarkan oleh Konfusius dan Mensius hanyalah untuk memperbaiki seseorang atau mengatur diri seseorang setiap hari. Sebaliknya, pembaharuan yang diajarkan Kitab Suci adalah pembaharuan pikiran; ini adalah perkara yang mutlak berhubungan dengan pikiran. Pikiran adalah mentalitas kita, filsafat kita, konsep agama kita, pandangan kita mengenai orang dan benda, dan lain-lain. Kita perlu diperbaharui terutama dalam pikiran kita.

Efesus 4:23 berkata, "Dan supaya kamu diperbaharui dalam roh pikiranmu." Ayat sebelumnya mengatakan tentang menanggalkan manusia lama (ay 22), ayat selanjutnya mengatakan tentang mengenakan manusia baru (ay 24), dan ayat yang di tengahnya mengatakan tentang diperbaharui dalam roh pikiran kita. Roh pikiran kita adalah roh yang telah dilahirkan kembali yang berbaur dengan Roh Allah yang menyebar ke dalam pikiran kita mengendalikan pikiran kita. Dengan cara demikian pikiran kita diperbaharui. Lebih jauh lagi, Roma 8:6 berkata, "...pikiran yang diletakkan di atas roh adalah hayat dan damai sejahtera." Ini juga memperlihatkan kepada kita tentang pentingnya pikiran kita. Pikiran kita dapat diperbaharui hanya bila kita meletakkan pikiran kita di atas roh.

Bukan hanya demikian, Perjanjian Baru mengajar kita agar pikiran di dalam kita itu juga adalah pikiran dalam Kristus Yesus (Flp. 2:5). Ini sama dengan mengambil pikiran Kristus Yesus sebagai pikiran kita. Oleh kelahiran kembali kita memiliki hayat Allah, oleh pengudusan kita berbagian dalam sifat Allah, dan oleh pembaharuan kita memiliki suatu perubahan dalam pikiran kita.

Kita yang telah dipisahkan, dikuduskan, kepada Allah tidak boleh digabungkan dengan dunia ini. Melainkan, kita harus memperhatikan transformasi oleh pembaharuan pikiran kita yang dilaksanakan oleh Tuhan Roh dengan bergerak dan bekerja di dalam kita melalui hayat ilahi dan sifat ilahi. Saya pernah melihat seorang saudara mengenakan sepasang sepatu yang yang dihiasi dengan rumbai, tetapi sekarang saya melihat bahwa ia mengenakan sepasang sepatu yang lain tanpa Masan. Ini disebabkan karena pikirannya telah diperbaharui; ia tidak lagi serupa dengan zaman ini. Saya senang karena kita bukanlah orang-orang yang setiap hari membicarakan tentang memperhidupkan Kristus namun mengenakan sepatu dengan rumbai. Demikian pula, para saudari tidak seharusnya, di satu pihak membicarakan tentang mengasihi Tuhan, dan di pihak lain, mengoleskan lipstik dengan tebal. Saya benar-benar tahu bahwa bila para saudari semakin mengatakan, "Oh Tuhan, aku cinta pada-Mu," lipstik yang mereka oleskan itu akan semakin berkurang setiap hari dan akhirnya akan hilang. Ini disebabkan karena pikiran mereka akan diperbaharui dan ditransformasi.

Diperbaharui dalam Pikiran Adalah Membuang Segala

Konsep Usang mengenai Segala Hal yang Berasal dari

Hayat Insani dan Dijadikan Baru Kembali oleh

Pengajaran Kitab Suci dan Penerangan Roh Kudus

Bagaimanakah pikiran kita dapat diperbaharui sehingga seluruh diri kita dapat diperbaharui? Cara pembaharuan terletak pada berdoa dan membaca Kitab Suci, karena bagi kita diperbaharui dalam pikiran itu adalah kita membuang konsep yang usang mengenai segala hal yang berasal dari hayat insani dan dijadikan baru lagi oleh pengajaran Kitab Suci dan penerangan Roh Kudus. Ketika Anda membaca Alkitab dan menjadi akrab dengannya, Roh Kudus akan menerangi Anda dan membimbing Anda. Ketika Roh Kudus datang untuk menerangi Anda sewaktu Anda berdoa dan membaca Firman itu hari demi hari, pikiran di dalam Anda akan diubah dari yang usang menjadi baru. Pandangan Anda akan berbeda dan diri Anda diperbaharui.

Pembaharuan Pikiran yang Demikian ini

Menghasilkan Transformasi Kaum Imani dalam

Kehidupan Rohani Mereka

Pembaharuan pikiran yang demikian ini menghasilkan transformasi kaum imani dalam kehidupan rohani mereka. Titus 3:5 mengacu kepada pembasuhan kelahiran kembali dan pembaharuan Roh Kudus. Pembasuhan kelahiran kembali membuang kehidupan kita yang lama; setelah ini, pembaharuan Roh Kudus mengubah pikiran kita. Ketika pikiran kita diperbaharui, seluruh diri kita ditransformasi. Ini adalah ditransformasi oleh pembaharuan pikiran. Pembasuhan kelahiran kembali menyingkirkan segala yang ada di dalam sifat lama dari manusia lama kita, sedangkan pembaharuan Roh Kudus mendispensikan hal-hal yang baru, esens ilahi dari manusia baru, masuk ke dalam diri kita. Melalui ini kita berpaling dari kondisi yang lama tempat kita berada ke dalam suatu kondisi yang benar-benar baru, dari keadaan ciptaan lama masuk ke dalam keadaan ciptaan baru.

Hari ini, masalah kita terutama berhubungan dengan pikiran kita. Saudara Nee mengatakan bahwa ada orang yang takut ada orang lain yang mencuri dompet mereka dari saku mereka, sehingga mereka selalu meraba saku mereka untuk memeriksa dompet mereka; ia mengatakan bahwa ini adalah suatu tanda mereka selalu berpikir untuk mencuri barang milik orang lain. Ini adalah memiliki pikiran yang kacau. Kadang-kadang ketika seseorang memiliki pikiran yang tidak bares, ia mulai memiliki imajinasi yang liar. Seorang istri mungkin tiba-tiba menangis ketika ia melamunkan imajinasi yang liar. Semua hal ini berhubungan dengan pikiran. Allah sendiri telah menjadi hayat kita, Dia sedang mengubah watak kita, dan Dia juga sedang memperbaharui pikiran kita. Maka, kita dapat memiliki konsep-konsep yang tepat dan dapat menuntut Kristus dengan cara yang tepat. Seringkali ketika ada beberapa orang datang kepada saya untuk berdebat tentang beberapa pertanyaan yang alkitabiah, saya berkata, "Tidak mungkin bagi pikiran Anda yang demikian untuk memahami Alkitab, dan saya tidak akan berdebat dengan Anda. Pikiran Anda adalah pikiran yang tidak dapat memahami Alkitab." Watak kita perlu dikuduskan sehingga kita dapat berbagian dalam sifat kudus Allah; pikiran kita juga perlu diperbaharui sehingga kita dapat ditransformasi dalam kehidupan rohani kita. Ini adalah penyelamatan yang Allah berikan kepada kita di dalam aspek organik dari keselamatan-Nya.