← Daftar isi Keterangkatan dan Kesusahan Besar · bab 3/4

BAB 3

Dua kali sebelum ini, saya telah membicarakan pendapat orang-orang yang mengatakan seluruh gereja akan terangkat sebelum kesusahan besar, bahwa alasan-alasan mereka betapa tidak dapat diandalkan/dipertahankan dan betapa berlebihan pernyataan-pernyataan mereka. Dalam berita ini saya akan membicarakan hal lain, yaitu adakah Alkitab mengatakan bahwa orang-orang saleh bisa mengalami kesusahan besar?

BUKTI BAHWA GEREJA AKAN MENGALAMI KESUSAHAN

Dalam Alkitab terdapat banyak bukti bahwa orang-orang saleh akan mengalami kesusahan besar. Hari ini saya hanya akan menyebutkan tiga bukti. Kita dapat membaca ayat-ayat berikut ini.

1. Bukti Pertama

Dua Tesalonika 2:1-3 mengatakan, "Tentang kedatangan Tuhan kita Yesus Kristus dan terhimpunnya kita dengan Dia kami minta kepadamu, saudara-saudara, supaya kamu jangan lekas bingung dan gelisah, baik oleh ilham roh, maupun oleh pemberitaan atau surat yang dikatakan dari kami, seolah-olah hari Tuhan telah tiba. Janganlah kamu memberi dirimu disesatkan orang dengan cara yang bagaimanapun juga! Sebab sebelum Hari itu haruslah datang dahulu murtad dan haruslah dinyatakan dahulu manusia durhaka, yang harus binasa."

Kita harus membaca bagian Alkitab ini dengan cermat, karena bagian ini sangat berkaitan dengan topik yang kita bahas. Apakah judul bagian Alkitab ini? Bagian ini tidak hanya membicarakan kedatangan Kristus, atau hanya tentang berhimpunnya kita dengan Dia, melainkan membicarakan kedatangan Kristus dan berhimpunnya kita denganNya. Bagian Alkitab ini membicarakan kedatangan Kristus dan keterangkatan kaum saleh secara bersamaan; tidak hanya membicarakan kedatanganNya ke bumi, atau membicarakan kepergian kita ke sorga, melainkan Dia datang dan kita pergi.

Karena bagian ini membicarakan kedatangan Kristus dan keterangkatan kaum saleh, adakah petunjuk yang menunjukkan kepada kita, keterangkatan kaum saleh itu terjadi sebelum atau sesudah kesusahan besar? Saya mengatakan, bahwa dalam bagian Alkitab ini ada petunjuk-petunjuk.

Ayat 2 mengatakan, "Jangan lekas bingung dan gelisah, baik oleh ilham roh, maupun oleh pemberitaan atau surat yang dikatakan dari kami, seolah-olah hari Tuhan telah tiba." Ada pertanyaan yang besar di sini. Apakah artinya "hari Tuhan"? Saudara-saudara kita mengatakan, bahwa hari Tuhan di sini mengacu kepada kesusahan besar. Mengapa mereka mengatakan begitu? Mereka mempunyai alasan mereka sendiri. Karena mereka percaya bahwa seluruh gereja akan terangkat sebelum kesusahan besar. Maksud mereka ialah: Bagaimana mungkin ada kesusahan besar jika kita belum terangkat?

Memang, dalam Perjanjian Lama banyak tempat yang memuat frasa "hari Tuhan", dengan mencakup kesusahan besar, ini adalah fakta. Namun, tidak semua penyebutan "hari Tuhan" dalam Alkitab mengacu kepada kesusahan besar. Ketika Perjanjian Lama membicarakan hari Tuhan, kebanyakan istilah itu mengacu kepada penghakiman Allah yang khusus pada akhir kesusahan besar (Kitab Yoel). Karena itu, mengatakan bahwa "hari Tuhan" selalu mengacu kepada kesusahan besar, jelas salah. Marilah kita membaca II Petrus 3:10, "Tetapi hari Tuhan akan tiba seperti pencuri. Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api, dan bumi dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap." Menunjuk pada apakah ini? Ini mengacu kepada dihancurkannya langit dan bumi yang lama oleh Allah setelah kesusahan besar. Hari seperti itu juga disebut hari Tuhan. Dalam kebanyakan perkara dalam Perjanjian Lama, "hari Tuhan" mengacu kepada kesusahan besar. Tetapi kita tidak dapat mengatakan bahwa dalam setiap perkara "hari Tuhan" itu mengacu pada kesusahan besar. Dua Petrus 3:10 adalah contoh seperti itu.

Bukan hanya II Petrus 3:10 yang membuktikannya. Seluruh konteks II Tesalonika 2:1-3 juga membuktikan hal ini. Di situ, dalam ayat pertama, topiknya ialah "Tentang kedatangan Tuhan kita Yesus Kristus dan terhimpunnya kita dengan Dia." Ayat 2 menyebutkan "hari Tuhan." Hari Tuhan yang disebutkan di sini tentu saja mengacu pada hari kedatangan Kristus dan terhimpunnya kita denganNya, yang digambarkan dalam ayat 1.

Pada waktu itu, orang-orang Tesalonika mempunyai masalah. Sebagian mengatakan bahwa hari Tuhan telah tiba. Tujuan Paulus ialah mengingatkan mereka agar tidak bingung oleh kata-kata seperti itu. Paulus ingin mereka mengetahui bahwa maksud orang-orang yang berbicara seperti itu kepada mereka adalah untuk mencobai mereka.

Bagaimana orang dapat mengetahui bahwa hari Tuhan telah tiba? Marilah kita lihat II Tesalonika 2:3, ". . . Sebab sebelum Hari itu haruslah datang dahulu murtad dan haruslah dinyatakan dahulu manusia durhaka, yang harus binasa." "Hari" di sini adalah hari dalam ayat 1. Untuk mengetahui apakah hari Tuhan sudah tiba, dapat dilihat dari dua hal: Pertama, harus ada murtad; kedua, manusia durhaka harus dinyatakan. Jika ini telah terjadi, Kristus segera datang. Sebelum keterangkatan orang-orang saleh terjadi, harus ada lebih dahulu murtad dan dinyatakannya manusia durhaka sebelum keterangkatan orang-orang saleh terjadi. Kita harus berpegang teguh pada kenyataan bahwa sebelum keterangkatan orang-orang saleh, manusia durhaka harus dinyatakan lebih dahulu. Inilah yang diberitahukan Paulus kepada kita dalam II Tesalonika 2.

Keterangkatan orang-orang saleh terjadi setelah manusia durhaka dinyatakan. Siapakah manusia durhaka itu? Dia tidak lain adalah Antikristus. Keterangkatan orang-orang saleh akan terjadi setelah Antikristus dinyatakan. Kapankah Antikristus dinyatakan? Setiap orang yang mempelajari Alkitab tahu bahwa itu terjadi pada masa kesusahan besar. Hal ini diakui umum oleh semua pelajar Alkitab di seluruh dunia. Ini membuktikan bahwa keterangkatan terjadi setelah kesusahan besar.

Dari II Tesalonika 2:1-3, kita dapat melihat bahwa keterangkatan menyusul setelah dinyatakannya Antikristus, atau kesusahan besar. Di sini kita lihat bahwa paling sedikit ada sekelompok, atau seorang, yang terangkat setelah kesusahan besar. Mereka yang mendukung keterangkatan seluruh gereja sebelum kesusahan besar mengatakan bahwa hari Tuhan yang disebutkan dalam II Tesalonika 2 sama dengan kesusahan besar. Apakah bukti mereka?

Dalam membaca Kitab Suci, kita tidak dapat mengabaikan keseluruhan konteks. Di sini "hari Tuhan" dengan jelas mengacu pada hari kedatangan Tuhan dan keterangkatan kita. Jika mereka ingin mengacu kepada Perjanjian Lama, mereka juga tidak boleh mengabaikan II Petrus 3:10. Di situ terbukti bahwa hari Tuhan bukanlah kesusahan besar.

2. Bukti Kedua

Satu Korintus 15:51-52 mengatakan, "Sesungguhnya aku menyatakan kepadamu suatu rahasia: kita tidak akan mati semuanya, tetapi kita semuanya akan diubah, dalam sekejap mata, pada waktu bunyi nafiri yang terakhir. Sebab nafiri akan berbunyi dan orang-orang mati akan dibangkitkan dalam keadaan yang tidak dapat binasa dan kita semua akan diubah."

Satu Tesalonika 4:16-17 mengatakan, "Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari sorga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit; sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa. Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan."

Kedua bagian Alkitab ini mempunyai penekanannya sendiri. Satu Tesalonika 4 menekankan keterangkatan dan kebangkitan, sedangkan I Korintus 15 menekankan kebangkitan dan perubahan. Satu Korintus 15 tidak secara jelas menyebutkan keterangkatan. Namun, semua orang mengakui bahwa baik I Korintus 15 maupun I Tesalonika 4 akan terjadi pada waktu yang sama. Para pembaca Alkitab mengakui hal tersebut, saya juga mengakuinya. Dengan demikian, marilah kita lihat apakah ada petunjuk mengenai waktu keterangkatan dalam kedua bagian Alkitab ini. Ada, yaitu "nafiri Allah". Nafiri Allah itu banyak. Dari nafiri-nafiri itu, manakah yang terakhir? Kapankah nafiri itu dibunyikan?

Nafiri yang "terakhir" dalam I Korintus 15 juga dapat diterjemahkan sebagai nafiri "penutup." Satu Korintus 15 memberitahu kita bahwa nafiri yang disebutkan dalam I Tesalonika 4 adalah nafiri yang terakhir. Karena itu, kita mempunyai petunjuk yang sangat jelas mengenai waktu keterangkatan orang-orang Kristen. Satu Korintus 15 mengatakan, "Pada waktu bunyi nafiri yang terakhir." Kapankah nafiri yang terakhir ini berbunyi? Kawan-kawan kita mengatakan bahwa nafiri yang terakhir berbunyi sebelum kesusahan, karena I Korintus mengatakan bahwa gereja akan terangkat pada waktu nafiri yang terakhir dibunyikan. Karena mereka mendukung pendapat bahwa seluruh gereja akan terangkat sebelum kesusahan besar, mereka harus menyimpulkan bahwa nafiri yang terakhir akan dibunyikan sebelum kesusahan besar. Namun, bagaimanapun juga orang membaca Alkitab, ke depan atau ke belakang, orang tidak pernah menemukan bukti dari perkataan seperti ini. Mereka mengatakan ini hanya karena mereka ingin mengatakannya.

Alkitab tidak pernah mengatakan, bahwa nafiri yang terakhir dibunyikan sebelum kesusahan besar; sebaliknya, ada petunjuk yang menunjukkan kepada kita bahwa nafiri yang terakhir itu akan dibunyikan setelah kesusahan besar. Kitab Wahyu membicarakan tiga benda yang berjumlah tujuh yang berhubungan dengan kesusahan besar: tujuh meterai, tujuh sangkakala, dan tujuh cawan. Kitab Wahyu mengatakan, bahwa pada waktu kesusahan besar, tujuh sangkakala akan dibunyikan. Menurut kawan-kawan kita, sangkakala yang terakhir pasti telah dibunyikan sebelum kesusahan besar, lalu bagaimana mungkin tujuh sangkakala yang lain dibunyikan? Ini seperti orang yang mengatakan, "Ini uangku yang terakhir, tetapi aku masih mempunyai tujuh dolar lagi di dalam saku." Logiskah ini? Berartikah pernyataan ini?

Nafiri macam apakah nafiri yang terakhir itu? Menurut Alkitab, kesimpulan yang paling wajar, jujur, dan adil ialah bahwa nafiri itu berkaitan dengan nafiri/sangkakala ketujuh dalam Wahyu. Saya percaya bahwa setiap pembaca yang jujur dan adil akan mengakui hal ini. Atau kawan-kawan kita akan mengatakan bahwa nafiri yang terakhir bukanlah nafiri ketujuh, karena nafiri ketujuh dibunyikan selama kesusahan besar. Mereka mengatakan bahwa nafiri yang terakhir ini ialah nafiri terakhir gereja. Jika demikian saya akan bertanya, "Kapan gereja membunyikan nafiri pertamanya?" Apakah gereja pernah membunyikan nafirinya yang pertama? Saya telah membaca seluruh Perjanjian Baru beberapa kali dan saya belum pernah melihat nafiri gereja. Kalau tidak ada nafiri yang pertama, bagaimana mungkin ada nafiri yang terakhir?

Ada seorang saudara yang mengakui kekurangan penafsiran seperti ini. Dia mengatakan bahwa pada zaman kekaisaran Romawi, pasukan mulai berbaris ketika nafiri yang terakhir dibunyikan. Lalu, dapatkah kita mengatakan bahwa nafiri yang terakhir di sini adalah nafiri terakhir pasukan Romawi? Alkitab mengatakan bahwa itu adalah nafiri Allah, bukan nafiri Romawi. Jika kita hendak mengatakan bahwa itu adalah nafiri Romawi, bukankah kita juga dapat mengatakan bahwa itu adalah nafiri negara lain? Satu Korintus 15, yang menyebutkan nafiri yang terakhir, sejajar dengan I Tesalonika 4, yang menyebutkan nafiri Allah. Jelas bahwa itu bukan nafiri Romawi; lebih-lebih itu bukan nafiri negara lain. Mengenai nafiri ini, mereka mempunyai dua penafsiran: nafiri gereja dan nafiri Romawi. Namun, I Tesalonika 4 mengatakan bahwa itu bukan nafiri gereja ataupun nafiri Romawi, melainkan nafiri Allah. Hanya kitab Wahyu menyebutkan nafiri Allah.

Sekarang marilah kita lihat apakah nafiri yang terakhir ini cocok dengan nafiri ketujuh dalam kitab Wahyu. Jika tidak cocok, kita tidak dapat mengatakan apa-apa. Tetapi jika cocok, maka kita harus mengakui bahwa keduanya adalah benda yang sama.

Wahyu 10:7 mengatakan, "Tetapi pada waktu bunyi sangkakala dari malaikat yang ketujuh, yaitu apabila ia meniup sangkakalanya, maka akan genaplah keputusan rahasia Allah, seperti yang telah Ia beritakan kepada hamba-hambaNya, yaitu para nabi." Ayat ini memberitahukan satu hal kepada kita, yaitu ketika malaikat yang ketujuh membunyikan sangkakalanya, rahasia Allah tergenaplah. Kita ingin mengajukan satu pertanyaan: Apakah rahasia Allah itu?

Ingatlah, dalam Alkitab ada berbagai zaman. Dari Musa sampai Kristus, semuanya diwahyukan. Tidak ada yang merupakan rahasia, semuanya terwujud. Demikian pula halnya dalam seribu tahun mendatang. Kelak, Allah akan berhadapan muka dengan manusia, terlihat oleh manusia. Hanya dalam zaman inilah persekutuan Allah dengan manusia tidak seperti masa lalu dan tidak seperti masa yang akan datang. Hari ini kita berada di antara keduanya. Kita tidak dapat melihat Allah dengan mata jasmani kita, kitapun tidak dapat melihat Kristus atau Roh Kudus. Zaman ini adalah zaman rahasia Allah. Sesungguhnya, zaman ini sudah dimulai di atas diri Kristus. Satu Timotius 3:16 mengatakan, "Dan sesungguhnya agunglah rahasia ibadah kita: Dia, yang telah menyatakan diriNya dalam rupa manusia." Dari Matius 13 dan seterusnya, segalanya adalah rahasia. Dulu segala sesuatu terbuka dan tidak tertutup, tetapi sekarang tidak begitu lagi. Gereja juga merupakan suatu rahasia. Bagaimana orang-orang kafir diberkati oleh Allah, ini adalah suatu rahasia. Kristus ada di dalam kita, juga suatu rahasia.

Kapan Alkitab mengatakan rahasia itu tergenap? Rahasia itu tergenap pada waktu nafiri yang ketujuh dibunyikan, bukan sebelum kesusahan besar. Jika seluruh gereja terangkat sebelum kesusahan besar, maka rahasia itu akan selesai sebelum kesusahan besar dimulai. Tetapi Alkitab mengatakan bahwa rahasia itu akan selesai ketika sangkakala yang ketujuh dibunyikan. Karena itu, gereja harus berada di bumi dan baru terangkat ketika sangkakala yang ketujuh dibunyikan.

Roma 16:25-26 mengatakan, "Bagi Dia, yang berkuasa menguatkan kamu, menurut Injil yang kumasyhurkan dan pemberitaan tentang Yesus Kristus, sesuai dengan pernyataan rahasia, yang didiamkan berabad-abad lamanya, tetapi yang sekarang telah dinyatakan dan yang menurut perintah Allah yang abadi, telah diberitakan oleh kitab-kitab para nabi kepada segala bangsa untuk membimbing mereka kepada ketaatan iman." Jika kita membandingkan apa yang dikatakan di sini dengan Wahyu 10:7, kita dapat menemukan bagian-bagian yang cocok. Pertama, pokok pembicaraan dalam Roma adalah rahasia Allah; pokok pembicaraan dalam Wahyu juga rahasia Allah. Kedua, dalam Roma dikatakan bahwa Allah memberitakan melalui para nabi; dalam Wahyu juga dikatakan hal yang sama. Ketiga, dalam Roma disebutkan Injil; dalam Wahyu juga disebutkan kabar baik. Dalam bahasa Yunani, kata yang terdapat dalam kedua bagian ini sama. Karena itu, kita dapat menyimpulkan dengan pasti bahwa rahasia Allah dalam kitab Roma dan rahasia Allah dalam Wahyu adalah sama. Keduanya sama dalam hakikinya. Jika kita mengambil sehelai kertas kosong dan menuliskan Roma 16:25-26 pada separuh halaman dan Wahyu 10:7 pada separuh halaman yang lain dan membandingkannya, kita harus mengakui bahwa keduanya membicarakan hal yang sama. Perbedaan satu-satunya ialah Roma memberitahukan kepada kita permulaan rahasia itu, sedangkan Wahyu memberitahu kita akhir rahasia itu. Menurut Wahyu, kapankah rahasia itu berakhir? Rahasia itu berakhir ketika nafiri yang ketujuh dibunyikan. Hal ini sudah pasti.

Kebangkitan dan transfigurasi juga suatu rahasia. Satu Korintus 15:51 mengatakan, "Sesungguhnya aku menyatakan kepadamu suatu rahasia." Kawan-kawan kita berpendapat bahwa rahasia itu berhenti sebelum kesusahan besar. Tetapi Alkitab mengatakan bahwa rahasia itu baru akan berhenti ketika sangkakala yang ketujuh dibunyikan. Alkitab tidak hanya mengatakan hal ini; Alkitab juga terus-menerus memberi kita lebih banyak bukti.

Wahyu 11:15-18 mengatakan, "Lalu malaikat yang ketujuh meniup sangkakalanya, dan terdengarlah suara-suara nyaring di dalam sorga, katanya: Pemerintahan atas dunia dipegang oleh Tuhan kita dan Dia yang diurapiNya, dan Ia akan memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya. Dan kedua puluh empat tua-tua, yang duduk di hadapan Allah di atas takhta mereka, tersungkur dan menyembah Allah, sambil berkata: Kami mengucap syukur kepadaMu, ya Tuhan, Allah, Yang Mahakuasa, yang ada dan yang sudah ada, karena Engkau telah memangku kuasaMu yang besar dan telah mulai memerintah sebagai raja dan semua bangsa telah marah, tetapi amarahMu telah datang dan saat bagi orang-orang mati untuk dihakimi dan untuk memberi upah kepada hamba-hambaMu, nabi-nabi dan orang-orang kudus dan kepada mereka yang takut akan namaMu, kepada orang-orang kecil dan orang-orang besar dan untuk membinasakan barangsiapa yang membinasakan bumi." Ayat-ayat ini menunjukkan kepada kita lebih lanjut bahwa baik keterangkatan maupun kebangkitan harus menunggu sampai sangkakala yang ketujuh. Di sini ada sesuatu yang sangat khusus. Ketika sangkakala ketujuh dibunyikan, kedua puluh empat tua-tua tersungkur dan menyembah Allah dan mengucapkan kata-kata penyembahan. Dibunyikannya sangkakala ketujuh terutama menunjukkan bahwa Allah telah menang. Karena itu, sangkakala ini unik karena pentingnya.

"Dan saat bagi orang-orang mati untuk dihakimi." Banyak dari orang mati akan dibangkitkan setelah seribu tahun dan dihakimi di takhta putih. Namun, penghakiman orang mati di sini terjadi sebelum pemberian upah. Jadi penghakiman orang mati di sini ialah untuk menentukan siapa yang patut dibangkitkan pertama, dan siapa yang patut dibangkitkan nomor dua. Karena itu, penghakiman orang mati di sini ialah waktu kebangkitan orang mati dan transfigurasi orang yang masih hidup yang disebutkan dalam I Korintus 15. Allah menghakimi untuk menentukan siapa yang patut dan yang tidak patut. Ini akan terjadi pada waktu sangkakala yang terakhir dibunyikan. Sebaliknya, Wahyu mengatakan bahwa hal itu akan terjadi ketika sangkakala yang ketujuh dibunyikan. Dari sini kita dapat melihat bahwa kedua bagian ini cocok satu sama lain.

"Dan (saat) untuk memberi upah kepada hamba-hambaMu . . . kepada orang-orang kecil dan orang-orang besar." Ini terjadi pada takhta pengadilan. Ini menunjukkan dengan jelas kepada kita bahwa dibunyikannya sangkakala terakhir ialah pada akhir kesusahan besar. Begitu sangkakala ketujuh dibunyikan, kerajaan seribu tahun akan tampak.

Dua bukti sebelumnya telah menunjukkan kepada kita bahwa keterangkatan orang-orang saleh terjadi pada waktu sangkakala ketujuh dibunyikan. Dalam bagian berikut ini saya akan menggabungkan beberapa butir kecil sebagai bukti lebih lanjut bahwa ada orang-orang saleh yang akan mengalami kesusahan besar sebelum terangkat.

3. Bukti Ketiga

Matius 28:20 mengatakan, "Ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." Perhatikan, di sini disebutkan akhir zaman, bukan akhir dunia. Tuhan berkata, "Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." Ijinkan saya bertanya kepada Anda, jika seluruh gereja terangkat sebelum kesusahan besar, maka penyertaan Tuhan atas gereja paling sedikit berkurang tiga setengah tahun? Tentu, saya tidak mengatakan bahwa ini adalah bukti yang besar, tetapi saya mengatakan bahwa ini adalah bukti yang kecil.

Kisah Para Rasul 2:35 mengatakan, "Duduklah di sebelah kananKu, sampai Kubuat musuh-musuhMu menjadi tumpuan kakiMu." Tuhan akan menunggu sampai musuh-musuh Kristus menjadi tumpuan kaki Kristus. Kita tahu bahwa ini terjadi pada akhir kesusahan besar. Allah akan menghancurkan kaum kafir yang telah menghancurkan dunia dan akan memberikan kekuasaan kepada Kristus. Maka musuh-musuh akan menjadi tumpuan kaki Kristus. Allah mengatakan, "Sampai Kubuat musuh-musuhMu menjadi tumpuan kakiMu." Tetapi kawan-kawan kita tanpa menunggu Allah membuat musuh-musuhNya menjadi tumpuan kakiNya, sudah mengatakan bahwa Kristus telah meninggalkan takhta Bapa. Seakan-akan mereka mengatakan bahwa Kristus tidak dapat menunggu. Hal ini juga merupakan petunjuk kecil.

Lebih lanjut, tak seorangpun yang mempelajari kitab Wahyu dengan cermat dapat mengatakan bahwa Kristus akan meninggalkan takhta dan datang di atas awan-awan sebelum kesusahan besar. Tidak ada catatan seperti itu dalam kitab Wahyu. Saya belum pernah melihatnya. Jika memang Kristus datang di atas awan-awan sebelum kesusahan besar, bagaimana mungkin kitab Wahyu lupa mencatat hal ini, yang merupakan inti dari nubuat? Wahyu 14:1-5 membicarakan buah-buah sulung. Ayat 6 sampai 13 membicarakan kesusahan besar. Ayat 14 sampai 15 membicarakan kedatangan Kristus di atas awan-awan. Dengan kata lain, kedatangan Kristus di atas awan-awan untuk menerima orang-orang saleh terjadi setelah Wahyu 6-12. Dari sini kita dapat melihat bahwa keterangkatan orang-orang saleh terjadi setelah kesusahan besar.

KESALAHAN MENDASAR DALAM MEMPERCAYAI BAHWA

SELURUH GEREJA AKAN MENGALAMI KESUSAHAN BESAR

Apakah ini berarti bahwa seluruh gereja akan mengalami kesusahan besar? Menurut Alkitab, tidak disebutkan bahwa seluruh gereja akan terangkat sebelum kesusahan besar. Seorang saudara menerima surat dari seorang teman yang mengatakan, bahwa orang yang percaya seluruh gereja akan terangkat sebelum kesusahan besar adalah orang yang membaca Alkitab dengan perantaraan orang lain (orang lain membaca Alkitab untuknya). Ini berarti, dia percaya apapun yang dikatakan orang lain tanpa menyelidikinya sendiri. Alkitab tidak mengatakan seluruh gereja akan terangkat sebelum kesusahan besar. Apakah Alkitab mengatakan seluruh gereja akan terangkat setelah kesusahan besar? Tidak, Alkitab juga tidak mengatakan demikian. Alkitab mengatakan bahwa di antara mereka yang telah diselamatkan dan dilahirkan kembali, sebagian kecil akan terangkat sebelum kesusahan besar, sedangkan sebagian besar akan terangkat setelah kesusahan besar.

Mereka yang mengatakan seluruh gereja akan terangkat setelah kesusahan besar mempunyai kesalahan-kesalahan mendasar sebagai berikut.

1. Berjaga-jaga dalam Menanti Menjadi Tidak Berarti

Mereka yang berpegang pada konsep bahwa seluruh gereja akan mengalami kesusahan besar tidak dapat berjaga-jaga dan mempersiapkan diri menunggu Tuhan Yesus. Karena mereka tahu bahwa sebelum keterangkatan harus ada kesusahan besar selama tiga setengah tahun, maka mereka tidak perlu bersiap atau berjaga-jaga; karena mereka tahu bahwa mereka harus menunggu tiga setengah tahun sebelum Kristus datang. Lagi pula, tidaklah terlalu terlambat menunda berjaga-jaga sampai tiga atau lima bulan sebelum akhir dari tiga setengah tahun itu. Tetapi Alkitab menyuruh kita untuk selalu berjaga-jaga, tetap berdoa, dan bersiap untuk kedatangan Tuhan kembali. Jika seluruh gereja harus mengalami kesusahan besar, maka orang dapat mulai bersiap beberapa hari sebelum akhir dari tiga setengah tahun.

2. Tidak Menunggu Tuhan, Tetapi Menunggu Antikristus

Jika seluruh gereja mengalami kesusahan besar, hidup kita di bumi tidak akan diisi dengan penantian terhadap Kristus, tetapi menanti Antikristus. Sehari-hari kita hanya perlu melihat apakah Antikristus sudah datang. Jadi, mata kita akan mengawasi lingkungan, tidak melihat ke atas. Ini bertentangan dengan ajaran Alkitab, karena Alkitab tidak menyuruh kita menunggu Antikristus, tetapi menunggu Tuhan.

3. Menantikan Kesusahan Besar Bukannya Menantikan Berkat

Jika seluruh gereja mengalami kesusahan besar, yang dapat diharapkan gereja hanyalah kesusahan besar dan penderitaan. Jadi, gereja tidak mempunyai harapan. Lalu, di manakah harapan gereja mendapat berkat? Tidakkah kata-kata di dalam Titus 2:13, "menantikan penggenapan pengharapan," menjadi tidak berarti? Jika seluruh gereja mengalami kesusahan besar, gereja tidak akan menantikan pengharapan mendapat berkat, tetapi menantikan kesusahan. Ini bertentangan dengan prinsip dan semangat Alkitab. Konsep seperti ini adalah keterlaluan.

Mereka yang percaya bahwa seluruh gereja akan mengalami kesusahan besar mempunyai beberapa kesalahan berikut ini dalam penafsiran mereka mengenai Alkitab:

(1) Mereka hanya mengakui keterangkatan terbuka. Tetapi Tuhan berkata, "Aku datang seperti pencuri" (Wahyu 16:15). Bila seorang pencuri datang, apakah dia datang dengan pengumuman besar atau dengan upacara besar? Seorang pencuri datang secara diam-diam, dan dia datang untuk mencuri benda yang berharga dan mahal. Tuhan akan datang untuk mengambil apa yang berharga bagiNya. Tetapi Tuhan tidak seperti pencuri yang mengambil benda-benda milik orang lain, Tuhan hanya mengambil benda-benda kepunyaanNya sendiri.

(2) Mereka terlalu meremehkanposisi orang Yahudi. Kawan-kawan yang percaya seluruh gereja akan terangkat sebelum kesusahan besar mengatakan, bahwa semua murid pada zaman Tuhan adalah orang Yahudi (secara posisi) dan tidak ada yang orang Kristen; ini keterlaluan. Kawan-kawan yang percaya seluruh gereja akan mengalami kesusahan besar mengatakan, bahwa semua murid adalah orang Kristen; tidak ada yang orang Yahudi; ini terlalu picik. Ketahuilah, murid-murid pada saat itu memiliki dua status. Di satu pihak, mereka adalah sisa Israel, dan di pihak lain, mereka adalah pemula-pemula gereja. Kita tidak dapat mengatakan bahwa mereka adalah orang Yahudi semua, kita juga tidak dapat mengatakan mereka semua adalah gereja. Mereka yang mendukung pendapat bahwa seluruh gereja akan terangkat sebelum kesusahan besar, meniadakan segala sesuatu; mereka mengatakan bahwa tidak ada murid yang orang Kristen, semuanya adalah orang Yahudi. Mereka yang mendukung pendapat seluruh gereja akan mengalami kesusahan besar tampaknya mengakui segala sesuatu; mereka mengatakan bahwa semua murid adalah orang Kristen, dan tidak ada yang orang Yahudi. Tetapi Alkitab mengatakan kepada kita, bahwa mereka adalah orang Yahudi dan juga orang Kristen. Jika semua murid adalah orang Kristen, tidak ada yang orang Yahudi, kita akan sulit memahami beberapa ayat. Misalnya, Matius 10:5-6 mengatakan, "Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria, melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel." Ini adalah acuan yang jelas terhadap latar belakang Yahudi mereka. Mereka adalah orang-orang dalam zaman peralihan. Kita tidak dapat secara dogmatis memisahkan mereka dan berkata bahwa sampai suatu tingkat mereka bukan lagi orang Yahudi. Contoh lain ialah Matius 23:2, "Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa." Apakah ayat ini untuk orang Kristen? Tentu tidak. Ini adalah untuk orang Yahudi. Dalam keempat Injil, Tuhan di satu pihak penuh dengan kasih karunia, tetapi di pihak lain, Ia adalah seorang Yahudi. Karena itu, kita tidak dapat mengatakan bahwa para murid semuanya adalah orang Yahudi. Kita juga tidak dapat mengatakan bahwa semua murid bukan orang Yahudi.

(3) Mereka yang berpegang pada konsep seluruh gereja akan terangkat mengatakan bahwa seluruh Matius 24:23-31 ditujukan kepada orang Kristen. Tetapi kita harus tahu bahwa Matius 24 adalah kelanjutan dari pasal 23, yang mengatakan bahwa keturunan orang Yahudi akan memikul tanggung jawab penumpahan darah para nabi. Tuhan berkata, "Sebab itu, lihatlah, Aku mengutus kepadamu nabi-nabi, orang-orang bijaksana dan ahli-ahli Taurat: separuh di antara mereka akan kamu bunuh dan kamu salibkan, yang lain akan kamu sesah di rumah-rumah ibadatmu dan kamu aniaya dari kota ke kota" (Matius 23:34). Jelas bahwa di masa mendatang masih ada orang-orang yang diutus oleh Tuhan di tanah Yudea. Selama kesusahan besar akan ada nabi-nabi yang memberi kesaksian di antara orang Yahudi. Orang-orang ini adalah orang-orang Kristen, namun mereka juga orang Yahudi; mereka adalah orang Yahudi, namun mereka juga orang Kristen. Kawan-kawan kita mengatakan, yang ada hanya gereja Kristus. Mereka tidak mengakui bahwa ada tempat bagi orang Yahudi dalam Matius 24. Tetapi dalam pasal ini banyak ayat yang mengacu kepada orang-orang Yahudi yang percaya selama kesusahan besar, karena banyak dari mereka akan diselamatkan selama kesusahan besar.

(4) Mereka hanya membedakan sedikit antara perihal Kristus mengambil orang-orang saleh dengan perihal Kristus datang bersama orang-orang saleh. Bagi mereka, kata-kata, "Tuhan datang untuk orang-orang saleh," sama dengan, "Tuhan datang bersama orang-orang saleh." Mereka mengatakan bahwa keterangkatan adalah suatu hal yang terbuka dan bukan rahasia. Tetapi Yudas 14 mengatakan, "Juga tentang mereka Henokh, keturunan ketujuh dari Adam, telah bernubuat, katanya: "Sesungguhnya Tuhan datang dengan beribu-ribu orang kudusNya." Ini mengacu kepada kedatangan Tuhan di Bukit Zaitun. Dalam Wahyu 1:7 dikatakan, "Lihatlah, Ia datang dengan awan-awan dan setiap mata akan melihat Dia, juga mereka yang telah menikam Dia." Inipun mengacu kepada saat Dia datang di Bukit Zaitun. Mereka tidak membedakan hal-hal ini. Ini, sekali lagi, adalah kesalahan mereka.

(5) Kebanyakan dari mereka termasuk dalam aliran historis mengenai penafsiran kitab Wahyu. Dalam penafsiran kitab Wahyu, ada dua aliran utama: aliran historis dan aliran futuristik. Karena mereka kebanyakan adalah aliran historis, mereka mengatakan, bahwa sebagian besar dari Wahyu 4 - 9 telah terpenuhi. Aliran futuristik mengatakan bahwa tidak ada yang telah terpenuhi sebelum pasal 4. Meskipun teori ini mempunyai kelemahannya, pada umumnya teori ini benar. Menurut Alkitab, konsep aliran historis tidak dapat diterima karena mereka membuat acuan-acuan tentang banyak lambang dalam Wahyu. Banyak penafsiran tentang penggenapan historis terlalu dibuat-buat. Gereja mempunyai sejarah dua ribu tahun, tetapi Wahyu 2-3 sudah meliputi dua ribu tahun. Jika kitab Wahyu semuanya adalah sejarah, maka kitab ini hanya untuk para doktor dan sarjana; Anda dan saya tidak akan mampu memahaminya. Mereka memperlakukan hampir setiap catatan harfiah sebagai lambang. Darah seharusnya hanyalah darah; api seharusnya adalah api. Tetapi mereka mengatakan bahwa darah melambangkan satu hal, dan api melambangkan hal yang lain. Di samping itu, mereka mengatakan bahwa 1260 hari menandakan satu hal, dan "satu masa dan dua masa dan setengah masa" menunjukkan hal lain. Mereka mengatakan bahwa matahari, bulan, dan bintang-bintang juga mengacu kepada sesuatu. Dengan cara berpikir seperti ini, hampir segala sesuatu menjadi lambang. Kita hendak mengajukan satu pertanyaan, Perjanjian Baru menggenapi Perjanjian Lama secara simbolis atau harfiah? Kita tahu, Perjanjian Baru menggenapi Perjanjian Lama secara harfiah. Betlehem adalah Betlehem, dan seorang perawan adalah seorang perawan. Misalnya, "Lihatlah, rajaMu datang kepadamu . . . mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda" semuanya tergenap secara harfiah. Ajaran mereka mengenai lambang sepenuhnya khayalan. Karena mereka mengikuti aliran historis, mereka memperlakukan seluruh kitab Wahyu seperti lambang. Ini juga merupakan kesalahan besar.

Saya hanya mengemukakan beberapa contoh saja. Saya harap kita semua bisa nampak, Alkitab mengatakan bahwa gereja akan mengalami kesusahan besar. Namun, Alkitab tidak mengatakan seluruh gereja akan mengalami kesusahan besar. Jika kita mengatakan seluruh gereja akan mengalami kesusahan besar, kita tidak mempunyai cukup bukti dari Alkitab untuk mendukungnya. Kita harus ingat dengan jelas bahwa Alkitab tidak mengatakan seluruh gereja tidak akan mengalami kesusahan besar; Alkitab juga tidak mengatakan seluruh gereja akan mengalami kesusahan besar. Itu adalah penafsiran manusia yang ironis, bukan apa yang dikatakan Alkitab.