MUSA BESERTA DENGAN ALLAH (1)
Pembacaan Alkitab: Kel. 34
Keluaran 34 adalah pasal yang tidak mudah dipahami. Meskipun kita telah membaca dari awal sampai akhir, mungkin belum bisa mengerti apa yang dibicarakan, karena pasal ini membicarakan banyak perkara. Sebab itu, dalam pembukaan berita ini, saya akan mengetengahkan dua perkara, yang mungkin bisa membantu kita memahami pasal ini.
LAMBANG, GAMBAR, BAYANG-BAYANG
Pertama-tama, begitu kita kaum beriman Perjanjian Baru membaca Perjanjian Lama, khususnya membaca sampai beberapa kitab tertentu, kita harus mengetahui bahwa dalam Perjanjian Lama ada lambang, gambar, bayang-bayang, untuk menjelaskan perkara rohani dan ilahi yang diwahyukan oleh Perjanjian Baru. Perkara ilahi dan rohani itu misteri, tidak bisa dipahami oleh otak alamiah kita. Meskipun demikian, kita dapat melalui lambang, gambar, bayang-bayang dalam Perjanjian Lama, memahami perkara-perkara ilahi, rohani, lagi misterius ini. Namun, di sini ada satu persoalan, ketika kita membaca sampai lambang, gambar, dan kiasan dalam Perjanjian Lama, sulit sekali memahami maknanya.
Untuk membantu kita mengerti makna lambang dalam Perjanjian Lama, kita harus mengetahui bahwa catatan dalam Perjanjian Lama bukan hanya catatan sejarah mengenai orang zaman dulu, kita pun terkait dengan catatan ini. Sebab itu ketika membaca Perjanjian Lama, kita tidak saja membaca mengenai orang Israel, juga membaca mengenai diri kita. Kita tidak seharusnya menganggap Kitab Keluaran sebagai sejarah, kita perlu dari dalam kitab ini melihat diri kita sendiri. Kitab Keluaran tidak hanya meliputi sejarah orang zaman dulu, juga mencakup kisah kita. Ia adalah cerita kehidupan orang Kristen hari ini. Selain itu, kitab ini juga melambangkan banyak perkara rohani dan ilahi yang berhubungan dengan pengalaman orang Kristen. Kita sangat perlu mengerti hal ini.
MEMULIHKAN PERJANJIAN YANG TELAH DIRUSAK
Selanjutnya, ketika kita dengan pemahaman semacam ini melihat Keluaran 34, kita juga perlu melihat bahwa perjanjian yang telah dirusak dalam pasal ini seluruhnya telah dipulihkan. Karena itu, banyak perkara yang dicatat dalam pasal ini mengulangi perkara yang telah disinggung di depan. Keluaran 34 mengulangi firman yang pernah Allah katakan. Hampir setiap perkara dalam pasal ini adalah pengulangan.
Pada masa kali pertama Musa beserta dengan Allah di gunung, perjanjian yang Allah buat dengan bani Israel sudah dirusak. Dua loh batu kesaksian yang melambangkan perjanjian sudah dibanting hancur, dibuang. Yang menghancurkan perjanjian ini bukan Allah yang memberikan hukum Taurat, melainkan orang yang menerima loh hukum ini. Kita telah melihat, kalau Musa bukan mitra Allah, begitu perjanjian dihancurkan, semuanya habis. Hubungan yang khusus antara Allah dengan umat-Nya akan mengalami kerusakan yang hebat. Namun, mitra Allah ini mengerti maksud hati Allah, juga mengetahui bahwa Allah tidak akan membuang tujuan-Nya terhadap orang Israel. Musa mengetahui Allah yang bertujuan ini mempunyai satu minat yang sangat kuat, apa yang Ia akan kerjakan, tidak ada seorang pun yang dapat menghalang-halangi. Mungkin Allah dapat sementara terganggu dan terhambat, tetapi Dia tidak akan berhenti.
Karena Allah harus mempertahankan pendirian-Nya, mempertahankan kedudukan-Nya, Ia memerlukan seorang mitra yang menjadi perantara antara Dia dengan umat-Nya. Perantara ini bisa mengadakan kurban pendamaian bagi umat Israel, dan dalam situasi ini meredakan amarah Allah. Kita telah melihat Musa datang ke hadapan Allah menjadi perantara. Sebab itu, setiap hal yang Musa bicarakan dengan Allah berhubungan dengan hati Allah. Allah mengiyakan apa yang Musa katakan, mengabulkan permintaannya.
Setelah Allah reda kembali, perjanjian yang diremukkan perlu dipulihkan. Loh batu yang melambangkan perjanjian sudah diremukkan. Hari ini, untuk memulihkan keadaan Allah dengan umat-Nya perlu memulihkan perjanjian yang telah diremukkan. Sebab itu, Keluaran 34 membicarakan tentang pemulihan perjanjian yang telah diremukkan.
Keluaran 34:1 mengatakan, “Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: ‘Pahatlah dua loh batu sama dengan yang mula-mula, maka Aku akan menulis pada loh itu segala firman yang ada pada loh yang mula-mula, yang telah kaupecahkan.” Karena Allah telah reda kembali, dan Musa telah mengadakan kurban pendamaian bagi umat Israel, maka Tuhan mempunyai kedudukan berbicara demikian kepada Musa. Usul dalam Keluaran 34:1 bukan dari Musa, melainkan dari Tuhan. Musa mengadakan kurban penda-maian bagi umat Israel, hal itu sangat bermakna bagi Allah. Kalau tidak ada kurban pendamaian, Allah tidak mempunyai pendirian melakukan apa-apa untuk memulihkan perjanjian yang telah dirusak.
Dalam Keluaran 34:2 Tuhan meneruskan perkataan-Nya kepada Musa, “Bersiaplah menjelang pagi dan naiklah pada waktu pagi ke atas gunung Sinai; berdirilah di sana menghadap Aku di puncak gunung itu.” Musa harus ke puncak gunung untuk bertemu dengan Tuhan. Tuhan tidak bisa turun ke tempat Musa. Puncak gunung adalah tempat pertemuan Allah dengan Musa. Pertemuan di puncak gunung meliputi Musa naik ke gunung dan Allah turun ke gunung.
SEORANG DIRI BERTEMU DENGAN TUHAN
Ayat 4-5 mengatakan, “Lalu Musa memahat doa loh batu sama dengan yang mula-mula; bangunlah ia pagi-pagi dan naiklah ia ke atas gunung Sinai, seperti yang diperintahkan TUHAN kepadanya, dan membawa kedua loh batu itu di tangannya. Turunlah TUHAN dalam awan, lalu berdiri di sana dekat Musa serta menyerukan nama TUHAN.” Dalam ayat-ayat ini kita melihat Musa naik ke gunung Sinai, dan TUHAN turun ke Gunung Sinai. Jadi, bagi Musa adalah naik, tetapi bagi Allah adalah turun.
Dalam ayat 2, TUHAN berpesan kepada Musa supaya bersiap menjelang pagi dan naik ke gunung. Menurut ayat 4, “Musa . . . bangunlah ia pagi-pagi dan naiklah ia ke atas gunung Sinai, seperti yang diperintahkan TUHAN kepadanya.” Saya sangat menghargai firman di sini mengatakan pagi-pagi bertemu dengan TUHAN. Kalau kita bisa setiap pagi berkumpul, sungguh indah sekali!
Kalau kita dengan teliti membaca Keluaran 34, kita akan melihat bahwa Allah tidak dengan jelas berpesan kepada Musa pada pagi hari bertemu dengan Dia. Allah hanya memberi tahu dia agar naik “menjelang pagi”. Namun, bagi Musa, adalah keesokan pagi harinya.
Pagi hari bertemu dengan Tuhan; artinya tidak saja pada suatu hari pagi-pagi berjumpa dengan Dia, juga berarti dalam keadaan yang penuh terang bertemu dengan Allah. Kita bertemu dengan Allah seharusnya pada waktu matahari terbit, bukan pada waktu matahari terbenam. Pintu masuk Kemah Suci dan Bait Suci menghadap ke timur, mengarah ke tempat matahari terbit (Kel. 27:13-15). Jalan yang kita tempuh haruslah berada di dalam terang. Amsal 4:18 berkata, “Jalan orang benar itu seperti cahaya fajar, yang kian bertambah terang sampai rembang tengah hari.” Jalan yang kita tempuh seharusnya mengarah ke tempat matahari terbit, bukan mengarah ke tempat matahari terbenam. Dalam Keluaran 34:3 Tuhan berkata kepada Musa, “Tetapi janganlah ada seorang pun yang naik bersama-sama dengan engkau dan juga seorang pun tidak boleh kelihatan di seluruh gunung itu, bahkan kambing domba dan lembu sapi pun tidak boleh makan rumput di sekitar gunung itu.” Di sini Tuhan berpesan kepada Musa, ia tidak boleh membawa seorang pun naik ke gunung. Musa tidak boleh membawa Yosua, Harun, atau orang yang lain dan harus sendirian datang ke hadapan Tuhan. Selain itu, ia harus meninggalkan semua kawanan domba dan lembu sapi. Tak diragukan lagi, ia harus meninggalkan semua harta kekayaan. Ini berarti, ketika Musa naik ke gunung bertemu dengan Tuhan, selain loh batu, ia tidak boleh membawa siapa pun atau barang apa pun.
Pesan Tuhan kepada Musa dalam ayat 3 menyatakan kita perlu ada satu potongan waktu seorang diri berkontak dengan Tuhan, kita perlu secara pribadi bertemu dengan Tuhan. Sewaktu kita seorang diri beserta dengan Tuhan, kita tidak seharusnya membawa orang, perkara, dan barang apa pun. Pada pagi hari kita pergi ke hadapan Tuhan, seharusnya seorang diri berjumpa dengan Dia, bahkan perlu meninggalkan suami atau istri kita. Ada saudara ke mana saja selalu membawa serta istrinya. Ini adalah kebiasaan yang baik; tetapi, ketika ke atas gunung untuk bertemu dengan Tuhan, saudara harus meninggalkan istrinya di kaki gunung. Ketika dengan demikian bertemu dengan Tuhan, kita harus melupakan semua orang, perkara, dan barang. Lupakanlah harta, pendidikan, pekerjaan, dan hari depanmu. Jangan membawa orang, perkara, atau barang apa pun, harus seorang diri bertemu dengan Tuhan.
Saat seorang diri bertemu dengan Tuhan, kita bisa lupa memohon sesuatu. Musa tidak membawa makanan atau minuman, juga tidak membawa peralatan untuk tidur. Ini menunjukkan ketika kita beserta dengan Tuhan, tidak perlu khawatir tentang makan, minum, atau tidur kita. Sesungguhnya, kita tidak ada waktu memperhatikan hal-hal itu. Ketika seorang diri bertemu dengan Tuhan, kita harus tidak khawatir sedikit pun. Kita harus tidak khawatir tentang keluarga, harta, atau keperluan-keperluan lainnya. Musa pagi-pagi ke puncak gunung bertemu dengan Allah dalam keadaan yang demikian bebas.
Kita telah melihat, supaya Musa dengan Tuhan berkumpul bersama, Musa naik ke gunung, sebaliknya Allah turun. Mereka bertemu di tempat yang netral, yaitu puncak gunung. Ini menunjukkan Tuhan tidak berlebihan menuntut kepada Musa. Di satu pihak Ia meminta Musa naik gunung. Di pihak lain, Ia turun ke gunung untuk bertemu dengan Musa.
Keluaran 34:29 mengatakan, “Ketika Musa turun dari gunung Sinai kedua loh hukum Allah ada di tangan Musa ketika ia turun dari gunung itu tidaklah ia tahu, bahwa kulit mukanya bercahaya oleh karena ia telah berbicara dengan TUHAN.” Bagian bawah ayat ini merupakan satu persoalan yang sulit bagi penerjemah Alkitab. Seharusnya diterjemahkan “Karena TUHAN berbicara dengan dia”, atau “Karena ia telah berbicara dengan TUHAN”? Kalau diterjemahkan “TUHAN berbicara dengan dia”, ini menyatakan TUHAN yang berbicara dengan Musa; tetapi kalau diterjemahkan “Ia berbicara dengan TUHAN”, artinya Musa yang berbicara dengan Tuhan. Saya senang yang di depan, karena di sini bukan Musa yang berbicara, melainkan Allah yang berbicara. Sebab itu ayat 29 mengatakan bahwa kulit muka Musa bercahaya oleh karena TUHAN telah berbicara dengan dia.
Sesungguhnya dalam pasal ini Musa hampir tidak berbicara apa-apa. Ketika Tuhan memproklamirkan namanya, Musa sangat tertegun. Ayat 6-7 mengatakan, “Berjalanlah TUHAN lewat dari depannya dan berseru: ‘TUHAN, TUHAN, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya, yang meneguhkan kasih setia-Nya kepada beribu-ribu orang, yang mengampuni kesalahan, pelanggaran dan dosa; tetapi tidaklah sekali-kali membebaskan orang yang bersalah dari hukuman, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya dan cucunya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat.” Menurut ayat 8-9, Musa sujud menyembah serta berkata, “Jika aku telah mendapat kasih karunia di hadapan-Mu, ya Tuhan, berjalanlah kiranya Tuhan di tengah-tengah kami; sekalipun bangsa ini suatu bangsa yang tegar tengkuk, tetapi ampunilah kesalahan dan dosa kami; ambillah kami menjadi milik-Mu.” Setelah Musa berkata demikian kepada Tuhan, Tuhan meneruskan berkata dengannya. Titik beratnya di sini adalah, ini bukan waktunya Musa berbicara, tetapi waktunya Allah berbicara. Musa menerima infusi bukan karena ia berbicara dengan Allah, melainkan karena Allah berbicara dengannya.
Ketika di pagi hari kita seorang diri bertemu dengan Tuhan, kita tidak seharusnya berbicara terlalu banyak. Sebaliknya, kita harus membiarkan Allah berbicara kepada kita. Kalau sewaktu bertemu dengan Tuhan, kita berbicara terlalu banyak, kita akan tidak mendapatkan infusi. Penginfusian Allah mengikuti pembicaraan-Nya. Kalau Allah tidak mau berbicara kepada Anda, ini menyatakan Ia tidak mau menginfusikan diri-Nya ke dalam Anda. Namun, kalau Allah berbicara kepada Anda, Anda akan mendapatkan infusi dari Allah.
Pada awal pasal ini, Tuhan memberi tahu Musa bahwa Ia akan menulis pada dua loh ini segala firman yang ditulis pada dua loh yang mula-mula. Namun, Tuhan tidak segera melakukannya, sebaliknya malah mengatakan banyak perkara kepada Musa. Sampai akhir pembicaraan yang panjang dengan Musa, Allah baru “menuliskan pada loh itu segala perkataan perjanjian, yakni Kesepuluh Firman” (ayat 28). Ini menunjukkan maksud Allah yang utama bukanlah menuliskan Kesepuluh Hukum pada loh batu. Beban utama Allah adalah hendak berbicara kepada Musa mengenai perkara yang tercatat dalam Keluaran 34:10-27. Dalam ayat-ayat ini ada catatan pembicaraan yang panjang antara Allah dengan Musa, yang menyinggung banyak hal. Dalam ayat-ayat ini, malah tidak disinggung sedikit pun tentang Sepuluh Hukum. Kalau saya adalah Musa, pasti akan bertanya kepada Allah, “Tuhan, apa yang Engkau lakukan di sini? Engkau menyuruhku membawa dua loh batu. Sekarang batunya sudah siap untuk Engkau tulisi dengan firman. Mengapa Engkau membicarakan begitu banyak perkara kepadaku?” Saat itu mungkin Musa sangat tertegun, sehingga tidak berani berkata apa-apa mengenai yang dilakukan Tuhan.
TUHAN MEMPROKLAMIRKAN NAMA-NYA
Sebelum Tuhan bekerja, Ia terlebih dulu memproklamirkan nama-Nya, untuk memberi peringatan kepada Musa (ayat 6). Allah memproklamirkan nama-Nya, artinya adalah mendapatkan kedudukan-Nya. Dia tidak akan meninggalkan kedudukan-Nya sendiri. Begitu Musa mendengarkan proklamir ini, Musa segera berlutut ke tanah, lalu sujud menyembah (ayat 8).
JANJI TUHAN
Setelah Tuhan memproklamirkan nama-Nya, Ia berkata, “Sungguh, Aku mengadakan suatu perjanjian. Di depan seluruh bangsamu ini akan Kulakukan perbuatan-perbuatan yang ajaib, seperti yang belum pernah dijadikan di seluruh bumi di antara segala bangsa; seluruh bangsa, yang di tengah-tengahnya engkau diam, akan melihat perbuatan TUHAN, sebab apa yang akan Kulakukan dengan engkau, sungguh-sungguh dahsyat. Tetapi engkau, berpeganglah pada yang Kuperintahkan kepadamu pada hari ini. Lihat, Aku akan menghalau dari depanmu orang Amori, orang Kanaan, orang Het, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebus” (ayat 10-11). Di sini kita melihat bahwa Tuhan berjanji akan melakukan perkara ajaib di depan umat-Nya, dan perkara ajaib ini akan merampungkan satu tujuan yang istimewa membawa umat-Nya masuk ke tanah permai. Apa yang Allah kerjakan untuk orang Israel, baik memberi manna kepada mereka, atau mengalahkan musuh mereka, tujuan-Nya adalah untuk membawa mereka masuk ke tanah permai. Tanah permai adalah tujuan Allah.
Allah menghendaki umat-Nya masuk ke tanah permai, sehingga di bumi Ia bisa mendapatkan satu bait suci, bait suci ini akan menjadi kesaksian-Nya. Bait suci adalah untuk Allah, juga untuk umat Allah. Asal Allah bisa mendapatkan bait suci sebagai kesaksian-Nya di bumi, keadaan bani Israel pasti baik. Bila hubungan orang Israel dengan bait suci Allah tepat, keadaan mereka di bumi juga normal; tetapi begitu hubungan mereka dengan bait Allah tidak tepat, akan timbul kesulitan yang serius. Akhirnya mereka kehilangan bait suci, juga kehilangan tanah.
Kita telah melihat, Allah melakukan perkara yang ajaib bagi umat-Nya, tujuannya hendak membawa mereka masuk ke tanah permai. Dalam perlambangan, ini menyatakan Allah bagi kita dan bersama kita melakukan perkara yang ajaib, tujuannya ialah membawa kita masuk ke dalam Kristus. Menurut catatan Perjanjian Lama, orang Israel tidak mudah masuk ke tanah permai. Dari luaran, mereka dihalang-halangi oleh situasi lingkungan dan musuh; dari dalam, mereka diganggu oleh hal-hal yang ada di dalam mereka. Inilah sebabnya mereka menghabiskan empat puluh tahun baru masuk tanah permai. Hari ini kita juga tidak mudah masuk ke dalam Kristus. Dari pengalaman kita mengetahui hal ini. Selama lima puluh tahun saya terus dengan susah payah menunaikan tugas untuk satu tujuan, yaitu membantu kaum beriman masuk ke dalam Kristus yang sebagai tanah permai. Berapa banyak orang yang dalam pengalaman sudah masuk ke dalam Kristus? Beberapa orang mungkin akan berkata bahwa kita semua ada di dalam Kristus. Tentu saja ini benar bila dilihat dari doktrin dan secara objektif. Namun, seberapa Kristus yang Anda nikmati hari demi hari?
Perbuatan Allah yang ajaib hanya untuk satu tujuan, yaitu membawa umat-Nya masuk ke dalam tanah permai, untuk membangun bait suci. Allah memberi tahu Musa, Ia akan membawa umat-Nya masuk ke dalam tanah permai. Ia akan memperhatikan keperluan umat-Nya dan mengalahkan semua musuh. Allah akan melakukan pekerjaan yang diperlukan untuk membawa orang Israel masuk ke tanah permai.
MELARANG PENYEMBAHAN BERHALA
Kemudian Tuhan sekali lagi menyampaikan peringatan tentang penyembahan berhala, “Berawas-awaslah, janganlah kauadakan perjanjian dengan penduduk negeri yang kaudatangi itu, supaya jangan mereka menjadi jerat bagimu di tengah-tengahmu. Sebaliknya, mezbah-mezbah mereka haruslah kamu rubuhkan, tugu-tugu berhala mereka kamu remukkan, dan tiang-tiang berhala mereka kamu tebang. Sebab janganlah engkau sujud menyembah kepada allah lain, karena TUHAN, yang nama-Nya Cemburuan, adalah Allah yang cemburu” (ayat 12-14). Dalam ayat 17 TUHAN melanjutkan lagi, “Janganlah kaubuat bagimu allah tuangan.” Di sini Tuhan seolah-olah berkata, “Berjaga-jagalah terhadap jerat penyembahan berhala tanah Kanaan. Hari ini, seluruh muka bumi dipenuhi dengan berhala. Setelah kamu masuk tanah permai, kamu akan menghadapi satu bahaya, yaitu terjerumus ke dalam jerat penyembahan berhala orang kafir.”
Perkataan ini tidak hanya ditujukan kepada orang Israel saja, tetapi juga ditujukan kepada kita. Hari ini, di tengah-tengah umat Allah masih banyak berhala, berhala-berhala ini terlebih dulu memenuhi mereka, sehingga mereka tidak bisa menikmati Kristus. Setiap perkara bisa menjadi berhala kita, sampai-sampai sebuah dasi, sebuah peniti pun bisa menjadi berhala kita. Banyak orang beriman diduduki oleh orang, benda, dan perkara yang di luar Kristus. Misalnya, mengobrol melalui telepon. Ada orang beriman yang terlalu sibuk sehingga tidak bisa berdoa, tetapi mereka menghabiskan banyak waktu untuk mengobrol melalui telepon. Bagi mereka, mengobrol melalui telepon sudah menjadi satu berhala. Apa saja yang menyebabkan kita tidak bisa menikmati Kristus sebagai tanah permai adalah berhala. Ini berarti, semua perkara, orang, dan benda yang menguasai kita, yang menyebabkan kita tidak bisa sepenuhnya menikmati Kristus, adalah berhala.
Menurut sejarah Perjanjian Lama, peperangan yang melibatkan orang Israel, semuanya disebabkan mereka mempunyai berhala. Setiap kali umat Allah mempunyai berhala, musuh lalu menyerang mereka. Hari ini, kita semua damba menempuh hidup yang menang, yang kudus, dan yang rohani. Namun, banyak orang Kristen karena mempunyai berhala, lalu mengalami kegagalan. Sesungguhnya, kalau kita mempunyai berhala, mempunyai benda yang menguasai kita sehingga kita tidak bisa menikmati Kristus, kita sudah kalah dalam peperangan dengan musuh, kita sama sekali tidak bisa berperang. Bagi Allah, membuat kita menikmati Kristus dengan sepenuhnya bukanlah satu persoalan yang sulit, tetapi di tengah-tengah umat Allah, masih ada persoalan berhala. Sebab itu, dalam permulaan pasal yang membicarakan memperbaiki perjanjian yang dirusak, Tuhan memproklamirkan bahwa Ia akan melakukan segala sesuatu untuk membawa orang Israel masuk tanah permai, tetapi Ia juga menunjukkan bahayanya penyembahan berhala. Maksud Allah, “Aku bisa dengan baik membawa kamu masuk ke tanah permai, tetapi menyembah berhala bisa menyebabkan kamu kehilangan kenikmatan terhadap tanah itu, dan merusak semua yang Kuberikan kepadamu.”
Allah sudah melakukan banyak hal ajaib untuk umat-Nya. Namun, pengalaman orang Kristen membuktikan bahwa perkara yang menjajah kita, perkara penyembahan berhala, sudah merusak banyak hal yang Allah kerjakan untuk kita. Ada berapa banyak orang Kristen menikmati Kristus? Banyak orang Kristen sama sekali tidak mengerti menikmati Kristus. Di antara kita mungkin agak banyak orang menikmati Kristus. Namun, mengerti hal ini adalah satu perkara, dengan riil menikmati Kristus adalah perkara yang lain lagi.
Banyak orang tidak bisa menikmati Kristus, karena dijajah oleh berbagai perkara. Mengapa Anda menghabiskan begitu banyak waktu mengobrol di telepon, tetapi tidak mau menggunakan sepuluh menit untuk berdoa? Anda mempunyai waktu, tenaga, untuk mengobrol, tetapi sepertinya tidak ada waktu dan tenaga untuk berdoa. Ini membuktikan mengobrol di telepon sudah menjadi berhala Anda. Orang lain mungkin bisa menggunakan banyak waktu untuk membaca surat kabar, tetapi begitu membaca Alkitab cepat letih. Mungkin ada orang berkata, mereka sama sekali tidak mempunyai selera terhadap Alkitab, juga tidak damba membaca Alkitab. Inilah keadaan mereka. Mereka tidak damba menyembah Allah, karena mereka damba menyembah berhala. Mereka dengan sendirinya, dengan tidak terasa, mementingkan berhala mereka. Betapa kasihan, betapa menyedihkan keadaan ini!
Dalam Keluaran 34:12-27, Allah mengingatkan orang Israel tentang perkara penyembahan berhala. Sebenarnya Ia mengulangi tiga hukum pertama dalam Taurat. Hukum-hukum ini di aspek positifnya berhubungan dengan Allah, di aspek negatifnya berhubungan dengan penyembahan berhala. Menyembah berhala berarti mempunyai allah yang lain lagi. Melaksanakan penyembahan berhala adalah membuat berhala, kemudian melayaninya, menyembahnya. Menyembah berhala juga mencakup menyebut nama TUHAN dengan sembarangan.
Kemudian, dalam pasal ini Allah membicarakan hukum yang keempat, yaitu memelihara hari Sabat. Sebab itu, pasal ini menyinggung empat hukum yang pertama yang berhubungan dengan Allah. Namun, dalam potongan kata-kata pengulangan ini, tidak disebut keenam hukum yang berhubungan dengan manusia.
Saya harap kita semua bisa ingat baik-baik, Tuhan sudah berjanji akan merampungkan segalanya, untuk membawa kita masuk ke tanah permai, membawa kita masuk ke dalam Kristus yang almuhit, sebagai kenikmatan kita. Namun, kita harus memperhatikan peringatan Allah mengenai penyembahan berhala. Di satu pihak, Allah akan membawa kita masuk ke dalam Kristus; di pihak lain, Dia mempersalahkan perkara penyembahan berhala.