← Daftar isi Keluaran (11) · bab 8/16

MITRA ALLAH (2)

Pembacaan Alkitab: Kel. 32:30—33:23

Dalam berita yang lalu, kita melihat Musa bukan hanya teman Allah, lebih-lebih adalah mitra Allah, rekan Allah. Musa dan Allah adalah rekanan dalam satu usaha. Sebagai mitra Allah, Musa mengerti maksud hati Allah, lagi pula bisa dengan akrab bercakap-cakap dengan Allah.

TERNYATAKAN DI TENGAH-TENGAH

PENYEMBAH BERHALA

DAN OLEH PENYEMBAH BERHALA

Fakta Musa adalah mitra Allah, ternyatakan di tengah-tengah penyembah berhala dan oleh penyembah berhala. Kita, orang-orang yang melayani kaum beriman di dalam gereja, dapat belajar satu pelajaran yang penting dari hal ini, yaitu jangan sekali-kali melemparkan kesalahan kepada lingkungan. Para penatua tidak seharusnya berkata, “Oh, saudara saudari di sini semua pandai mencari masalah, sehingga kita sulit maju ke depan. Sudahlah, kami akan mengundurkan diri, biar orang lain yang menjadi penatua. Mereka pasti akan merasakan getir pahitnya menjadi penatua di tempat ini.” Adakalanya dalam benak hati para penatua ada pikiran yang demikian. Saya sering mendengarkan penatua berkata demikian. Yang menjadi penatua perlu melihat, berapa banyak kita sudah ditanggulangi oleh Tuhan, berapa banyak kita telah belajar dari Tuhan, selalu dinyatakan oleh kesulitan menghadapi kaum beriman. Para penyembah berhala menyatakan kelayakan Musa menjadi mitra Allah. Demikian juga, kaum beriman yang menimbulkan masalah juga bisa menciptakan kesempatan bagi Tuhan untuk menyatakan apa yang telah Ia lakukan di dalam kita. Kalau penatua hanya berkumpul dengan saudara saudari yang aktif dan baik, maka apa adanya penatua tidak bisa tertampil.

Terhadap Musa, perkara membuat anak lembu emas adalah satu pukulan yang besar. Bagaimana ia menghadapi situasi ini, tergantung pada orang macam apakah dia. Keadaan yang jahat di tengah-tengah orang Israel memberi kesempatan bagi Musa, menyatakan ia adalah mitra Allah.

MENGADAKAN KURBAN PENDAMAIAN

BAGI UMAT YANG TEGAR TENGKUK DAN MENYEMBAH BERHALA

Dalam Keluaran 32:30 Musa berkata kepada bangsa itu, “Kamu ini telah berbuat dosa besar, tetapi sekarang aku akan naik menghadap TUHAN, mungkin aku akan dapat mengadakan (kurban) pendamaian karena dosamu itu.” Di sini kita melihat Musa mau mengadakan kurban pendamaian bagi bangsa yang tegar tengkuk dan menyembah berhala. Dari aspek manusia, ini memerlukan kesabaran yang amat besar. Kalau Anda adalah Musa, maukah Anda bagi bangsa yang murtad ini meredakan amarah Allah? Kalau kita berada di sana, kita mungkin akan menganjuri Allah untuk membasmi bangsa yang demikian. Melakukan pekerjaan pendamaian membutuhkan kesabaran yang sangat besar.

Melalui Bercakap-cakap dengan Allah secara Akrab

Musa ingin melalui bercakap-cakap dengan Allah secara akrab, meredakan amarah Allah. Keluaran 32:31 berkata, “Lalu kembalilah Musa menghadap TUHAN dan berkata: ‘Ah, bangsa ini telah berbuat dosa besar, sebab mereka telah membuat allah emas bagi mereka.” Perhatikanlah, di sini Musa memakai kata yang bersifat netral: “bangsa ini”, ia tidak berkata kepada Allah, “bangsa-Mu”, juga tidak berkata bahwa mereka adalah “bangsaku”. Allah berkata kepada Musa bahwa Musalah yang memimpin bangsa itu keluar dari Mesir (Kel. 32:7) dan Musa berkata kepada Allah bahwa Allahlah yang membawa umat itu keluar dari Mesir (Kel. 32:11). Tetapi di sini, Musa sebagai seorang penengah, sebagai perantara, memakai kata yang netral, tidak mengatakan “bangsa Allah”, juga tidak mengatakan “bangsaku”, melainkan mengatakan, “bangsa ini”.

Alkitab tidak mencatat Musa memberi laporan kepada Allah tentang bagaimana ia menanggulangi penyembah berhala ini. Ia juga tidak memberi tahu Allah kalau ia telah menggiling anak lembu emas sampai halus dan menaburkannya ke dalam air, lalu memaksa umat Israel meminumnya. Ia juga tidak memberi tahu Tuhan, kalau ia memanggil beberapa pemenang untuk membunuh orang-orang yang menyembah berhala. Yang tercatat dalam Alkitab hanyalah percakapan yang dekat dan akrab antara Musa dengan Tuhan. Musa hanya memberi tahu Allah bahwa bangsa ini telah membuat allah emas, telah berbuat dosa besar.

Mengambil Risiko Penetapan yang Kekal

Melakukan Syafaat

Musa mengambil penetapan yang kekal sebagai taruhan, berupaya melakukan pendamaian bagi umat ini. Menurut ayat 32, ia berkata kepada Tuhan, “Tetapi sekarang, kiranya Engkau mengampuni dosa mereka itu dan jika tidak, hapuskanlah kiranya namaku dari dalam kitab yang telah Kautulis.” Perhatikan, perkataan Musa yang di depan belum selesai, ia hanya berkata, “Kiranya Engkau mengampuni dosa mereka itu.” Kalau kita adalah Musa, mungkin akan berkata demikian, “Kiranya Engkau mengampuni dosa mereka itu, semuanya pasti beres.” Namun, Musa membiarkan perkataan itu tidak lengkap. Ada beberapa terjemahan memberi tanda “. . .” untuk menjelaskan hal ini, “Kiranya Engkau mengampuni dosa mereka itu . . .” Adakalanya kita perlu dengan cara yang demikian berbicara kepada orang yang dekat dengan kita. Ketika kita berbicara kepada suami atau istri kita, mungkin perlu berkata, “Kiranya kamu berbuat demikian . . .” Kita belum tentu perlu mengutarakan secara penuh pikiran kita. Musa berkata demikian, karena dia mengetahui kalau dirinya bukan Tuhan. Hanya Tuhan adalah Tuhan. Sebab itu, Musa tidak berani melancangi berkata, kalau Tuhan mau mengampuni dosa mereka, maka hasilnya akan bagaimana.

Kalimat selanjutnya dalam ayat 32 menunjukkan, Ia mengambil resiko penetapan yang kekal untuk memperdamaikan umat dengan mempertaruhkan masa depan rohaninya. Ia berkata kepada Tuhan, “Jika tidak, hapuskanlah kiranya namaku dari dalam kitab yang telah Kautulis.” Maksud Musa, “Tuhan, mengenai takdirku, kalau Engkau tidak mau mengampuni umat ini, kiranya Engkau memusnahkan aku, dan aku menyerahkan persoalan umat ini kepada-Mu, hanya Engkau yang bisa menetapkan bagaimana nasib mereka.” Apakah Anda mengira perkataan dalam ayat 31 dan 32 adalah doa yang biasa? Ia tidak secara umum berdoa bagi orang Israel. Sebaliknya, untuk mereka, ia berbicara akrab dengan Allah. Dalam keadaan yang demikian, Musa menurut jalan hikmat ini meredakan hati Allah.

Menurut Maksud Hati Allah

Musa menurut maksud hati Allah mengadakan kurban pendamaian bagi umat Israel (Kel. 32:33 — 33:3). Kelihatannya, perkataan Tuhan dalam ayat 33 tidak mempedulikan perkataan Musa. Di luar, Allah seolah-olah tidak mendengar perkataan Musa, tetapi di dalam, Ia sudah menghormati perkataannya. Allah senang mempunyai mitra yang demikian. Mungkin Allah berkata kepada diri-Nya sendiri, “Aku senang mempunyai seorang mitra seperti Musa. Ia dengan akrab berbicara dengan Aku, dan mengerti maksud hati-Ku, mengetahui Aku akan berbuat apa. Musa mengetahui bahwa Aku akan mengampuni umat ini, dan akan tetap memakai mereka. Namun, Aku tidak mungkin memulai pembicaraan seperti ini dengan mereka. Namun, mitra-Ku, Musa, adalah orang yang mengerti maksud hati-Ku, dan ia sudah mengadakan percakapan ini.”

Dalam ayat 33, Allah berkata kepada Musa, “Siapa yang berdosa kepada-Ku, nama orang itulah yang akan Kuhapuskan dari dalam kitab-Ku.” Perkataan ini adalah semacam pernyataan di luar untuk mempertahankan kehormatan Allah. Namun, dalam ayat 34, Tuhan meneruskan perkataan-Nya bahwa Ia telah mengampuni umat itu, “Tetapi pergilah sekarang, tuntunlah bangsa itu ke tempat yang telah Kusebutkan kepadamu; akan berjalan malaikat-Ku di depanmu, tetapi pada hari pembalasan-Ku itu Aku akan membalaskan dosa mereka kepada mereka.” Musa yang menjadi penengah mengerti, perkataan Allah ini menyatakan bahwa Ia telah mengampuni bangsa itu. Musa pernah berkata, “Kiranya Engkau mengampuni dosa mereka itu . . .” Maksudnya ia berkata kepada Tuhan, “Tuhan, saya tidak berkata apa-apa lagi, berkatalah ya Tuhan, sekarang Engkau menyuruhku menuntun bangsa ini pergi ke tempat yang telah Kausebutkan kepadaku. Untuk hal ini aku tidak keberatan sama sekali.”

Versi King James dan terjemahan Darby dengan huruf besar menulis “Malaikat” dalam ayat 34. Saya setuju akan hal ini, karena ini menunjukkan bahwa Malaikat itu adalah Kristus. Tuhan berjanji kepada Musa, Malaikat-Nya akan berjalan di depannya, hanya pada hari pembalasan-Nya, Ia akan membalaskan dosa mereka. Di satu pihak, bangsa itu telah diampuni, di pihak lain, masih ada satu persoalan, dan Allah akan menanggulanginya. Adakalanya demikianlah hubungan ayah dengan anak. Ketika anak-anak berbuat salah, meskipun ayah bisa mengampuni mereka, memaafkan mereka, tetapi di kemudian hari mungkin ia akan dengan cara yang lain menanggulangi mereka.

Supaya Bangsa Israel Berkabung dan Mentahirkan Diri

Keluaran 33:1-3 berkata, “Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: ‘Pergilah, berjalanlah dari sini, engkau dan bangsa itu yang telah kaupimpin keluar dari tanah Mesir, ke negeri yang telah Kujanjikan dengan sumpah kepada Abraham, Ishak, dan Yakub, demikian: Kepada keturunanmulah akan Kuberikan negeri itu Aku akan mengutus seorang malaikat berjalan di depanmu dan akan menghalau orang Kanaan, orang Amori, orang Het, orang Feris, orang Hewi, dan orang Yebus yakni ke suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madu. Sebab Aku tidak akan berjalan di tengah-tengahmu, karena engkau ini bangsa yang tegar tengkuk, supaya Aku jangan membinasakan engkau di jalan.’” Ini menunjukkan pembicaraan antara Tuhan dengan Musa, dua rekanan ini, sudah mencapai satu persetujuan. Di pihak Allah, Ia sudah menyetujui melewatkan orang-orang yang berdosa, tetapi Ia tetap menyatakan di kemudian hari akan menanggulangi bangsa itu. Musa dan bangsa Israel telah mendengarnya, mereka mengetahui bahwa potongan perkataan ini tidaklah menyenangkan hati. Ayat 4 mengatakan, “Ketika bangsa itu mendengar ancaman yang mengerikan ini, berkabunglah mereka dan seorang pun tidak ada yang memakai perhiasannya.”

Ayat 5-6 mengatakan, “Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: ‘Katakanlah kepada orang Israel: Kamu ini bangsa yang tegar tengkuk. Jika Aku berjalan di tengah-tengahmu sesaat pun, tentulah Aku akan membinasakan kamu. Oleh sebab itu, tanggalkanlah perhiasanmu, maka Aku akan melihat, apa yang akan Kulakukan kepadamu’. Demikianlah orang Israel tidak memakai perhiasan-perhiasan lagi sejak dari gunung Horeb.” Di sini kita melihat, Musa membuat bangsa itu berkabung dan mentahirkan diri.

Ini seperti peristiwa yang terjadi dalam Kejadian 35:14. Tuhan berpesan kepada Yakub agar ia naik ke Betel untuk mendirikan satu mezbah bagi Allah. Lalu Yakub berkata kepada seisi rumahnya dan kepada semua orang yang bersama-sama dengan dia: “Jauhkanlah dewa-dewa asing yang ada di tengah-tengah kamu, tahirkanlah dirimu dan tukarlah pakaianmu.” (Kej. 35:2). Kemudian Alkitab memberi tahu kita, “Mereka menyerahkan kepada Yakub segala dewa asing yang dipunyai mereka dan anting-anting yang ada pada telinga mereka” (ayat 4). Supaya tahir, mereka harus menanggalkan semua perhiasan.

Dalam berita yang di depan dikatakan, perhiasan yang dipakai orang Israel adalah untuk mempercantik diri, menghiasi diri sendiri. Menghiasi diri sendiri adalah tahap persiapan membuat anak lembu emas. Berhala berasal dari hal mempercantik diri, karena emas perhiasan dipakai untuk membuat anak lembu emas. Bahkan setelah anak lembu emas dihancurkan, tiga ribu orang Israel dibunuh, bangsa itu masih mempunyai perhiasan. Namun, begitu mereka mendengar “ancaman” TUHAN tidak pergi bersama mereka, lalu “tidak ada lagi orang Israel yang memakai perhiasan”. Sesungguhnya, bangsa Israel harus berkabung dengan memakai kain kabung dan abu, sebagai tanda benar-benar bertobat. Pertobatan semacam ini berasal dari hati yang hancur. Namun, bangsa itu masih mempunyai perhiasan. Sampai mereka mendengarkan ancaman ini baru merasa tidak sepatutnya memakai perhiasan. Sebab itu Alkitab memberi tahu kita, “Demikianlah orang Israel tidak memakai perhiasan-perhiasan lagi sejak dari gunung Horeb” (ayat 6).

Dalam pasal 32—33 kita melihat hasil kerja Musa sebagai perantara Allah dengan orang Israel. Pertama-tama bagi orang Israel, ia meredakan amarah Allah. Kemudian ia membuat orang Israel bertobat, dan menanggalkan perhiasan mereka sebagai tanda bertobat. Bangsa Israel melepaskan hal mempercantik diri. Inilah hasil dari kurban pendamaian yang Musa lakukan untuk bangsa yang tegar tengkuk dan menyembah berhala.

DALAM KEMAH DI LUAR PERKEMAHAN BESERTA DENGAN ALLAH

Keluaran 33:7 berkata, “Sesudah itu Musa mengambil kemah dan membentangkannya di luar perkemahan, jauh dari perkemahan, dan menamainya Kemah Pertemuan. Setiap orang yang mencari TUHAN, keluarlah ia pergi ke Kemah Pertemuan yang di luar perkemahan.” Menurut ayat 9 dan 10, kemuliaan Tuhan berada di depan pintu kemah. Ayat 11 memberi tahu kita, “Tuhan berbicara kepada Musa dengan berhadapan muka seperti seseorang berbicara kepada temannya.” Orang Israel yang akan bertanya kepada Allah, pergi ke Kemah Pertemuan yang di luar perkemahan. Musa sangat berpengalaman, ia mengerti, menurut sifat kudus Allah, ia tidak dapat tinggal di tengah-tengah bangsa itu, karena perkemahan telah menjadi milik penyembah berhala. Sebab itu, Musa membentangkan kemah yang asalnya berada di tengah-tengah perkemahan, perbuatan ini menurut kehendak hati Allah.

Musa mengerti maksud hati Allah, mengetahui bahwa ia tidak bisa tinggal dalam situasi penyembahan berhala, inilah sebabnya ia memindahkan kemah ke luar perkemahan. Kemudian kemah ini menjadilah kemah Allah. Kemah Pertemuan belum dibangun, maka kemah Musa menjadilah kemah pertemuan antara Allah dengan bangsa Israel. “Apabila Musa masuk ke dalam kemah itu, turunlah tiang awan dan berhenti di pintu kemah dan berbicaralah TUHAN dengan Musa di sana” (ayat 9). Kalau bangsa Israel hendak bertanya kepada Allah, mereka harus pergi ke kemah Musa itu.

Kemah Musa di luar perkemahan adalah satu lambang. Ibrani 13:12-13 adalah penggenapan perlambangan ini, “Itu jugalah sebabnya Yesus telah menderita di luar pintu gerbang untuk menguduskan umat-Nya dengan darah-Nya sendiri. Karena itu, marilah kita pergi kepada-Nya di luar perkemahan dan menanggung kehinaan-Nya.” Tuhan Yesus disalibkan di luar Kota Yerusalem. Umat Allah telah membuang Orang yang diutus Allah ini. Meskipun Ia adalah Anak Allah, tetapi orang Israel memaku Dia di kayu salib di luar kota. Ibrani 13:13 menganjuri kita pergi kepada Kristus di luar perkemahan. Perkemahan melambangkan organisasi manusia.

Abad yang lalu, beberapa guru Alkitab sangat menekankan perkara ini. Mereka menunjukkan agama Kristen hari ini adalah “perkemahan”, perkemahan ini telah menjadi penyembahan berhala. Tuhan tidak mau tinggal di dalam perkemahan yang menyembah berhala ini. Karena Ia telah ke luar dari perkemahan ini, maka siapa saja yang mencari Dia harus ke luar perkemahan mendapatkan-Nya. Kita perlu pergi mendapatkan Tuhan yang dibuang oleh agama yang menyembah berhala. Kita perlu meninggalkan perkemahan yang menyembah berhala, untuk mendapatkan Sang yang telah ditolak. Inilah jalan sempit kita.

Kita harus bertanya kepada diri kita sendiri, kita tetap di dalam “perkemahan” atau ke luar perkemahan pergi kepada Tuhan. Mungkin kita bisa bersaksi bahwa kita berada di luar perkemahan. Namun, kita harus hati-hati, supaya tidak menjadi satu perkemahan yang lain. Asal di tengah-tengah umat Allah ada perkara penyembahan berhala, segera menjadi perkemahan.

Apa yang dilakukan oleh Musa dalam pasal-pasal ini, semuanya menurut isi hati Allah. Ia menurut hati Allah mengadakan kurban pendamaian bagi orang Israel, dan menurut maksud hati Allah memindahkan kemah-Nya ke luar perkemahan. Sebab itu, Musa mempunyai kedudukan tawar-menawar untuk penyertaan dan kemuliaan Allah (Kel. 33:12-23).

TAWAR-MENAWAR UNTUK PENYERTAAN

DAN KEMULIAAN ALLAH

Untuk Penyertaan Allah

Pergi Bersama-sama Umat-Nya

Dalam 33:12-17, kita melihat Musa tawar-menawar dengan Allah untuk penyertaan Allah (wajah-Nya) pergi bersama-sama dengan umat yang disisihkan-Nya, menempuh jalan yang harus mereka lalui. Dalam ayat 12 dan 13 Musa berkata kepada Tuhan, “Memang Engkau berfirman kepadaku: Suruhlah bangsa ini berangkat, tetapi Engkau tidak memberitahukan kepadaku, siapa yang akan Kauutus bersama-sama dengan aku. Namun demikian Engkau berfirman: Aku mengenal namamu dan juga engkau mendapat kasih karunia di hadapan-Ku. Maka sekarang, jika aku kiranya mendapat kasih karunia di hadapan-Mu, beritahukanlah kiranya jalan-Mu kepadaku, sehingga aku mengenal Engkau, supaya aku tetap mendapat kasih karunia di hadapan-Mu. Ingatlah, bahwa bangsa ini umat-Mu.” Meskipun Musa tidak memakai kata-kata menyatakan permintaannya dengan jelas, tetapi Allah mengerti. Dalam ayat 14 Ia menjawab, “penyertaan-Ku pasti pergi bersamamu, supaya kamu mendapatkan perhentian” (Tl.). Kemudian Musa maju selangkah lagi berkata kepada Tuhan, “Jika penyertaan-Mu tidak pergi bersama kami, janganlah suruh kami berangkat dari sini. Dari manakah gerangan akan diketahui, bahwa aku telah mendapat kasih karunia di hadapan-Mu, yakni aku dengan umat-Mu ini? Bukankah karena Engkau berjalan bersama-sama dengan kami, sehingga kami, aku dengan umat-Mu ini, dibedakan dari segala bangsa yang ada di muka bumi ini?” (ayat 15-16 Tl.). Tuhan sekali lagi mengabulkan permohonan Musa, “Juga hal yang telah kaukatakan ini akan Kulakukan, karena engkau telah mendapat kasih karunia di hadapan-Ku dan Aku mengenal engkau.”

Kalau kita dengan teliti membaca potongan pasal 33 ini, kita akan melihat bahwa kemuliaan Allah adalah penyertaan-Nya, dan penyertaan-Nya adalah jalan-Nya. Kalau kita sudah mempunyai penyertaan Allah, kita mempunyai jalan-Nya. Penyertaan Tuhan adalah “peta”, menunjukkan jalan yang harus kita tempuh. Misalnya, ketika Allah memanggil Abraham, Ia tidak dengan jelas memberi tahu Abraham harus pergi ke mana, karena penyertaan-Nya adalah pimpinan yang Allah berikan kepada Abraham.

Dari Keluaran 33:12-17 kita melihat, Musa menghendaki penyertaan dan kemuliaan Allah. Musa telah meredakan amarah Allah, tetapi Allah menyatakan tidak mau pergi bersama mereka. Musa tidak puas dengan syarat perundingan, sebab itu ia maju selangkah lagi, bertanya kepada Tuhan, siapa yang akan pergi bersama umat Israel. Musa berkata kepada-Nya, “Engkau tidak memberitahukan kepadaku, siapa yang akan Kauutus bersama-sama dengan aku.” Akhirnya Tuhan menyetujui permintaan Musa, maksud Tuhan, “Musa, Aku bisa memberikan apa yang kamu minta kepada-Ku, Aku tahu kamu menghendaki Aku pergi bersamamu, baiklah, Aku akan pergi.”

Untuk Memperlihatkan Kemuliaan Allah kepadanya

Musa belum puas sepenuhnya, lalu berkata kepada Tuhan lagi, “Perlihatkanlah kiranya kemuliaan-Mu kepadaku” (ayat 18). Musa benar-benar berpengalaman, mengerti bagaimana berurusan dengan Tuhan. Kita harus belajar dari Musa. Doa yang tepat bukan doa yang agamawi; sebaliknya doa yang tepat adalah bercakap-cakap secara akrab dengan Allah.

Tuhan menjawab permintaan Musa, “Aku akan melewatkan segenap kegemilangan-Ku dari depanmu dan menyerukan nama TUHAN di depanmu: Aku akan memberi kasih karunia kepada siapa yang Kuberi kasih karunia dan mengasihani siapa yang Kukasihani.” Lagi firman-Nya: “Engkau tidak tahan memandang wajah-Ku, sebab tidak ada orang yang memandang Aku dapat hidup” (ayat 19-20). Di sini kita melihat kebaikan, keagungan, anugerah, dan rahmat Tuhan akan secara langsung dinyatakan kepada Musa dan diproklamirkan. Namun, wajah Tuhan, kemuliaan Tuhan, tidak dapat diperlihatkan kepada manusia. Di sini maksud Tuhan, “Musa, Aku bisa menyatakan kebaikan, anugerah, dan rahmat-Ku kepadamu; Aku juga bisa memproklamirkan nama-Ku kepadamu. Tetapi ada satu hal yang tidak bisa Kulakukan, yaitu Aku tidak bisa memperlihatkan wajah-Ku kepadamu, Musa. Kalau kamu melihat wajah-Ku, kamu pasti mati. Sebab itu, Aku tidak bisa memperlihatkan wajah-Ku kepadamu.”

Menurut Keluaran 33:21-23, Tuhan berkata kepada Musa, “Ada suatu tempat dekat-Ku, di mana engkau dapat berdiri di atas gunung batu; apabila kemuliaan-Ku lewat, maka Aku akan menempatkan engkau dalam lekuk gunung itu dan Aku akan menudungi engkau dengan tangan-Ku, sampai Aku berjalan lewat. Kemudian Aku akan menarik tangan-Ku dan engkau akan melihat belakang-Ku, tetapi wajah-Ku tidak akan kelihatan.” Kristus adalah batu karang yang terbelah, adalah batu karang yang kekal terbelah untuk kita. Hanya di dalam Kristus yang disalibkan, kita baru bisa melihat Allah. Kita tidak mampu menjelaskan makna ini sampai tuntas. Kita hanya bisa melihat belakang-Nya, tetapi tidak bisa melihat wajah-Nya. Dalam ayat-ayat ini, Musa tawar-menawar dengan Allah sampai “batas minimum”. Musa tidak bisa menawar lagi, apa yang bisa ia dapatkan sudah ia dapatkan. Dari firman Tuhan yang langsung disampaikan ia mengetahui bahwa ia tidak bisa melihat wajah-Nya, hanya bisa melihat belakang-Nya.

BEBERAPA PERSOALAN YANG SULIT

Dalam potongan firman ini ada beberapa persoalan teologi yang belum mendapatkan jawaban. Pertama, dalam Keluaran 33:2 Tuhan berkata, Ia akan mengutus malaikat-Nya berjalan di depan umat Israel. Tidak diragukan lagi, malaikat ini ditujukan kepada Kristus, dan Kristus adalah Allah sendiri. Asal Kristus pergi bersama umat Israel, berarti Allah sendiri pergi bersama mereka. Lalu mengapa Allah berkata malaikat-Nya akan pergi, tetapi Dia sendiri tidak pergi? Tidak hanya demikian, setelah Musa tawar-menawar dengan Allah, mengapa Dia berkata bahwa penyertaan-Nya akan pergi bersama mereka. Allah berkata bahwa malaikat-Nya dan penyertaan-Nya akan pergi bersama mereka, umat Israel. Malaikat mengacu kepada Kristus, dan penyertaan-Nya, sesungguhnya adalah wajah Allah. Sebab itu, di sini kita mempunyai satu pertanyaan: Malaikat Allah dan penyertaan Allah akan pergi bersama umat Israel, tetapi Allah tetap berkata bahwa Ia sendiri tidak pergi bersama mereka.

Persoalan lain berhubungan dengan pembicaraan Allah mengenai melihat belakang-Nya. Tuhan berkata, “Engkau tidak tahan memandang wajah-Ku, sebab tidak ada orang yang memandang Aku dapat hidup.” Tetapi ayat 11 mengatakan, “TUHAN berbicara kepada Musa dengan berhadapan muka seperti seorang berbicara kepada temannya.” Bagaimana kita bisa menjelaskan hal ini?

Selain itu, dalam ayat-ayat ini, kita melihat bahwa wajah Allah adalah kemuliaan Allah, kemuliaan Allah adalah penyertaan Allah, dan kemuliaan Allah adalah wajah-Nya, bagaimana kita memahami hal-hal ini?

Telah saya jelaskan bahwa saya belum mempunyai jawaban mengenai persoalan-persoalan ini. Saya hanya bisa berdasarkan pemahaman kita yang terbatas terhadap apa adanya Allah, menguraikan sedikit hal-hal ini. Di satu pihak kita bisa berbicara kepada Allah dengan berhadapan muka. Namun, di pihak lain, kita tidak bisa memandang muka Allah. Ini tidaklah berlawanan, melainkan persoalan tingkatan atau tarafnya sampai di mana.

Malaikat Allah pergi bersama umat Israel, prinsipnya juga sama. Malaikat Allah pergi bersama orang Israel, artinya, Allah sedikit banyak juga pergi bersama mereka. Kemuliaan Allah pergi bersama mereka, artinya, Allah maju selangkah lagi pergi bersama mereka. Keluaran 14 memperlihatkan kepada kita, Malaikat Allah adalah satu perkara, dan tiang awan adalah perkara yang lain (ayat 19). Malaikat Allah dan tiang awan sama-sama memimpin jalan. Orang Israel mungkin hanya mempunyai semacam, tidak mempunyai satunya lagi. Tentunya kalau mempunyai kedua-duanya lebih baik.

Setelah Musa membentangkan kemahnya di luar perkemahan, kemuliaan Allah berada di depan pintu, tidak di dalam perkemahan. Ini menunjukkan bahwa penyertaan Allah berada di depan pintu kemah Musa, bukan di dalam perkemahan. Namun, kita tidak seharusnya berkata bahwa Allah sama sekali tidak di dalam perkemahan beserta dengan umat Israel. Prinsip ini hari ini boleh diterapkan di atas diri kita. Kita bisa berkata bahwa di tengah-tengah orang Kristen ada kasus menyembah berhala, lalu kemuliaan Allah tidak berada di dalam situasi ini. Namun, kita tidak bisa berkata bahwa Allah sedikit pun tidak berada di tengah-tengah orang Kristen. Kita telah menunjukkan, ini adalah persoalan taraf ada banyak penyertaan atau sedikit penyertaan.

Dari Keluaran 32:30—33:23, kita belajar satu pelajaran yang serius, yaitu kita harus mengerti maksud hati Allah, juga perlu menjadi orang yang menurut maksud hati Allah. Kemudian kita bisa seperti Musa mempunyai penyertaan Allah. Musa mempunyai penyertaan Allah yang sepenuhnya, tetapi orang Israel hanya mempunyai sedikit sekali, karena mereka menjauhi maksud hati Allah. Sebaliknya, Musa sangat dekat dengan maksud hati Allah. Dia adalah seorang yang menurut maksud hati Allah. Inilah sebabnya ia mempunyai penyertaan Allah dengan sepenuhnya. Kita semua harus tahu, hanya orang yang seperti Musa baru bisa menjadi mitra Allah. Hanya orang yang demikian baru bisa mempunyai kegemaran yang sama dengan Allah, dan dipakai oleh Allah untuk menjalankan usaha-Nya di bumi.