MITRA ALLAH (1)
Pembacaan Alkitab: Kel. 32:30—33:23
Dalam berita ini kita sampai kepada catatan mengenai perkara yang sangat khas, catatan yang menyatakan bahwa Musa adalah teman (mitra) Allah (Kel. 32:30—33:23)
MEMERLUKAN SEORANG PERANTARA
Pembuatan anak lembu emas adalah pukulan yang hebat bagi Allah dan Musa. Sebelum anak lembu itu dibuat, segalanya lancar. Musa di puncak gunung bersama Tuhan dan Tuhan mewahyukan kepadanya rencana Kemah Suci dan perabotannya serta perkakasnya. Tentunya Allah dan Musa sangat senang. Namun, di akhir dari empat puluh hari yang Musa luangkan di gunung bersama Allah, bangsa Israel berbuat jahat dengan membuat anak lembu emas dan menyembahnya. Dengan berbuat begitu, mereka melanggar empat perintah pertama dari Sepuluh Perintah.
Penyembahan anak lembu emas menyebabkan timbulnya persoalan yang serius. Apa yang seharusnya Allah lakukan? Haruskah Ia memusnahkan bangsa Israel? Haruskah Ia melupakan tujuan-Nya membawa mereka keluar dari Mesir? Tentu, Allah tidak dapat bertindak demikian. Kalau Anda telah membawa lebih dari dua juta orang keluar dari Mesir, tidak menurut perasaan hati Anda, melainkan menurut janji Anda, sanggupkah Anda membuang mereka? Jelas tidak mungkin. Allah menyelamatkan bangsa Israel dengan maksud menggenapi janji-Nya kepada Abraham, Ishak, dan Yakub. Allah membawa bangsa itu keluar dari Mesir, memimpin mereka melalui padang gurun, dan membawa mereka ke Gunung Sinai, tempat Ia melatih mereka. Tiba-tiba, dengan sangat mengejutkan, bangsa Israel berbuat jahat dengan menyembah anak lembu emas. Perbuatan bangsa Israel itu mendatangkan kesulitan besar bagi Allah. Apa yang seharusnya Ia lakukan? Pada prinsipnya, kita boleh yakin bahwa Allah tidak bisa membuang umat-Nya, tidak bisa melepaskan rencana-Nya atas mereka. Sebaliknya, Ia akan tetap berjalan bersama mereka. Namun, bagaimana Ia dapat berjalan bersama bangsa Israel dalam keadaan seperti itu?
Persoalan yang Allah hadapi dengan umat-Nya dapat dibandingkan dengan persoalan-persoalan antara suami dengan istri atau antara orang tua dengan anak. Walaupun seorang istri mungkin saja menimbulkan persoalan yang serius bagi suaminya, dan walaupun anak-anak dapat menimbulkan persoalan yang serius bagi orang tua mereka, sang suami tidak dapat menceraikan istrinya dan orang tua tidak dapat meninggalkan anak-anak mereka. Tentunya ada jalan bagi suami dan istri serta orang tua dan anak untuk berjalan maju bersama. Demikian pula, Allah perlu mencari suatu jalan untuk tetap bersama umat-Nya. Ia memerlukan jalan keluar dari persoalan yang timbul sehubungan dengan mereka.
Jalan keluar Allah adalah melalui Musa sebagai manusia penengah, perantara. Untuk menjadi penengah atau perantara di antara Allah dengan bangsa Israel, Musa perlu akrab dengan kedua pihak tersebut. Musa benar-benar bersyarat sebagai perantara, ia tidak bersangkut paut dengan penyembahan anak lembu emas. Ia telah terjaga dari hal jahat itu dan terlindung dalam hadirat Allah. Maka, ia merupakan satu-satunya yang bersih di antara umat Allah. Lagi pula, Musa sangat akrab dengan Allah. Seperti yang akan kita lihat, cara Musa menyatakan permohonannya kepada Allah menunjukkan bahwa hubungannya dengan Allah sangatlah akrab.
Saya yakin, jauh di dalam hati-Nya, Allah mengharapkan Musa menjadi perantara antara Dia dengan umat itu. Allah menghendaki Musa memberi-Nya jalan keluar dari persoalan ini. Tanpa seorang penengah yang dapat berbicara kepada Allah dengan akrab, Allah tidak akan mempunyai pemecahan persoalan-Nya. Tidak diragukan, Allah ingin ditenangkan, didamaikan. Dalam Keluaran 32:30 Musa menerangkan bahwa pendamaian memang dibutuhkan, “Keesokan harinya berkatalah Musa kepada bangsa itu: ‘Kamu ini telah berbuat dosa besar, tetapi sekarang aku akan naik menghadap TUHAN, mungkin aku akan dapat mengadakan pendamaian karena dosamu itu.’”
Kesalahan yang dilakukan oleh bangsa Israel sangat serius. Yang mereka lakukan tidak dapat dimaafkan. Mereka tidak hanya melakukan sesuatu yang salah; mereka membuat berhala dan menyembahnya seakan-akan berhala itu Allah. Mereka menyebut nama Tuhan dengan sia-sia. Dengan berbuat demikian, mereka bersalah kepada Allah sebesar-besarnya, dan tampaknya mereka membuat Dia tidak dapat mengampuni mereka. Tampaknya tidak mungkin Allah mengampuni pelanggaran itu atau mengatakan sesuatu kepada umat itu lagi. Kelihatannya, satu-satunya yang dapat dilakukan Allah adalah memusnahkan bangsa Israel di padang gurun. Sebab itu, perlu ada seorang penengah, seorang perantara. Betapa baiknya, Musa di situ sebagai perantara antara Allah dengan bangsa Israel!
AKRAB DENGAN ALLAH
Pada butir ini saya hendak mengatakan kepada kaum beriman, khususnya yang muda-muda, bahwa melayani Tuhan bukanlah suatu cara atau metode belaka. Melayani Tuhan adalah perkara yang sangat pribadi. Kalau kita mau melayani Tuhan, kita harus menjadi seorang yang berhubungan akrab dengan Tuhan. Kalau tidak, boleh jadi kita adalah sekerja Kristen yang baik, tetapi kita tidak dapat menjadi orang yang mampu menjamah hati Allah. Musa adalah seorang yang dipakai Allah secara besarbesaran. Dalam berita-berita yang lampau telah kita lihat betapa Musa dibangkitkan oleh Allah dan dilatih oleh-Nya. Musa dibangkitkan oleh Allah selama empat puluh tahun pertama dari hidupnya, dan ia dilatih oleh-Nya selama empat puluh tahun berikutnya. Sewaktu Musa berusia delapan puluh tahun, Allah datang memanggilnya dan memakainya. Allah memberi dia suatu penglihatan tentang semak belukar yang menyala (Kel. 3:2). Walaupun api menyala-nyala pada semak itu, semak itu tidak hangus terbakar. Melalui penglihatan ini, Allah seakan-akan berkata, “Musa, kamu seperti semak ini. Aku bermaksud memakaimu, tetapi Aku tidak akan menghanguskanmu. Aku akan membakar di dalammu menurut apa ada-Ku.”
Ketika Musa dipanggil oleh Allah dalam Keluaran 3, belum terjalin keakraban antara dia dengan Allah, Musa masih baru bagi Allah; hubungan mereka dapat diibaratkan dengan hubungan antara seorang majikan dengan pegawai baru. Allah, majikan, berbicara kepada Musa, pegawai baru, dan menanyakan apakah ia mau menerima pekerjaan itu. Kita tahu bahwa akhirnya Musa sepakat menerima “pekerjaan” yang Tuhan tawarkan kepadanya.Jangka waktu dari hari Musa dipanggil dalam Keluaran 3 sampai percakapan antara dia dengan Allah dalam Keluaran 32 dan 33 mungkin tidak lebih dari dua tahun. Selama jangka waktu itu, Musa menjadi akrab dengan Allah. Menurut catatan dalam Kitab Keluaran, Musa dua kali meluangkan waktu empat puluh hari bersama Allah di puncak gunung. Selama empat puluh hari yang pertama, Allah memberi Musa rancangan Kemah Suci dengan perabotnya. Hal ini diuraikan dalam enam pasal, dari Keluaran 25-30. Apakah Anda pikir isi keenam pasal itu saja yang Allah sampaikan selama empat puluh hari? Tampaknya tidaklah demikian. Apa yang Allah dan Musa lakukan selama itu? Mungkin mereka menikmati persekutuan yang akrab.
Bangsa Israel mungkin mencoba memaafkan diri setelah membuat anak lembu emas atas dasar fakta bahwa Musa pergi terlalu lama. Beberapa dari mereka mungkin berkata, “Kami sudah lama tidak mendapat kabar dari Tuhan atau dari Musa. Mereka telah meninggalkan kami di sini, di kaki gunung, dan kami telah menunggu di sini selama hampir empat puluh hari. Tuhan dan Musa membawa kami ke tempat ini, tetapi kami tidak tahu apa yang terjadi atas mereka. Kami tidak dapat melihat Allah, dan kami juga tidak dapat melihat Musa. Sebab itu, kami harus berbuat sesuatu untuk diri kami.” Allah, tentu saja tidak memberikan kesempatan kepada umat-Nya untuk memaafkan diri. Demikian pula, Musa tidak membiarkan bangsa Israel, khususnya Harun, mengajukan dalih. Seandainya Harun dan bangsa Israel dibiarkan memaafkan diri, mungkin mereka akan mencela Musa karena pergi terlalu lama. Mereka akan berkata, “Musa, dari mana saja kamu? Kamu telah pergi terlalu lama. Apakah Tuhan menghendaki memiliki kami sebagai umat-Nya, atau apakah Ia berencana hanya memiliki dirimu? Kami rasa kamu dan Allah telah melupakan kami.”
Kita boleh berkata bahwa Tuhan dan Musa tinggal bersama begitu lama, karena mereka akrab satu sama lain. Mereka menempuh saat-saat bahagia bersama di puncak gunung. Namun, saat-saat yang menyenangkan itu merupakan suatu ujian bagi bangsa Israel. Kemudian Allah menyuruh Musa naik ke puncak gunung lagi, dan mereka bersama-sama lagi selama empat puluh hari. Musa dan Allah pasti senang tinggal bersama. Mereka saling mengasihi dan mereka mau selalu bersama.
MENGETAHUI ISI HATI ALLAH
Catatan dalam Kitab Keluaran memberikan banyak rincian mengenai pribadi Musa. Menurut catatan ini, sebelum empat puluh hari yang pertama yang diluangkan Musa di gunung bersama Allah, hubungannya dengan Allah belum begitu akrab. Namun, pada peristiwa pembuatan anak lembu emas, kita lihat Musa dan Allah bercakap-cakap dengan akrab, inilah awal keakraban Musa dengan Allah. Musa tahu isi hati Allah. Ia turun dari gunung, melemparkan loh batu, menggiling halus-halus anak lembu emas itu dan memaksa bangsa itu minum air yang telah ditaburi bubuk anak lembu emas itu. Ia juga memanggil sekelompok pemenang untuk membunuh para penyembah berhala. Musa melakukan semua itu menurut hati Allah.
Musa tahu bahwa Allah tidak ingin membuang bangsa Israel. Namun, ia juga tahu bahwa Allah memerlukan jalan keluar dari persoalan antara Dia dengan umat-Nya. Kalau kita membaca Keluaran 32 dan 33 dengan cermat, kita akan melihat bahwa Musa memiliki kepastian bahwa ia dapat menyelesaikan persoalan itu bersama Allah, yakni mengenai pelanggaran yang tak dapat dimaafkan yang dilakukan oleh bangsa itu. Musa tahu bahwa ia dapat melunakkan hati Allah dalam keadaan seperti itu. Dalam Keluaran 32:30 Musa seolah-olah berkata kepada bangsa Israel, “Kalian telah berbuat dosa besar, sehingga tampaknya kalian tidak dapat diampuni. Apa yang telah kalian lakukan sungguh tak dapat dimaafkan. Tetapi aku akan pergi untuk mengadakan pendamaian bagi kalian.” Musa yakin bahwa pendamaian dapat diadakan, karena sebagai hasil dari tinggal bersama Allah di puncak gunung selama empat puluh hari, ia tahu isi hati Allah.
Selama empat puluh hari bersama Allah, Musa memperoleh pengetahuan yang jelas mengenai hati Allah terhadap bangsa Israel. Musa tahu bahwa Allah menghendaki bangsa itu menjadi milik-Nya, bahwa Ia ingin mengambil mereka sebagai mempelai perempuan-Nya. Musa tahu bahwa dosa bangsa itu dalam hal menyembah anak lembu emas pun tidak dapat mengubah maksud hati Allah. Walaupun pelanggaran ini menimbulkan persoalan yang sangat sulit, Musa yakin, Allah dapat didamaikan. Ia tahu hati Allah dan ia tahu cara mendekati-Nya sehubungan dengan umat-Nya.
Sebagai orang-orang yang hendak melayani Allah, kita pun perlu tahu isi hati Allah. Hari ini banyak orang Kristen menekankan fakta bahwa kita perlu menerima firman Allah. Tentu saja, kita harus tahu firman Allah dan menerimanya. Namun, kalau Musa hanya menerima firman Allah, ia tidak bisa mengadakan pendamaian antara Allah dengan umat-Nya. Tuhan berkata kepada Musa, “Siapa yang berdosa kepada-Ku, nama orang itulah yang akan Kuhapuskan dari dalam kitab-Ku” (Kel. 32:33). Itulah firman Allah, tetapi apakah itu juga maksud hati Allah? Tidak, firman Allah adalah satu hal, tetapi maksud hati-Nya adalah hal lain lagi. Musa sadar bahwa Allah mengatakan, Ia akan menghapuskan umat-Nya. Namun, karena ia tahu hati Allah, Musa juga sadar bahwa Ia tidak akan membuang umat-Nya. Sebagai penengah antara Allah dengan bangsa Israel, Musa tahu isi hati Allah.
Ketika Musa menghadap Allah untuk keadaan ini, ia tidak berdoa secara agamawi. Ia tidak mengatakan, seperti yang mungkin akan kita lakukan, “Tuhan, terima kasih karena Engkau penuh rahmat.” Menurut Keluaran 32:31-32, Musa berbicara kepada Tuhan dengan akrab, seperti seseorang berbicara dengan teman akrabnya.
Tidaklah cukup jika kita hanya mengenal firman tentang ekonomi Allah dan kedudukan gereja. Kalau Anda tahu firman tentang ekonomi-Nya dan gereja, Anda mungkin hanyalah seorang manusia yang penuh firman (manusia firman), bukan manusia yang sesuai dengan hati Allah. Selain mengenal firman, kita semua harus mengenal hati Allah. Hal ini diperlukan khususnya oleh para penatua. Semua penatua haruslah orang-orang yang sesuai dengan hati Allah. Pada diri Musa dalam Keluaran 32 dan 33, kita lihat seorang manusia yang tidak hanya benar dalam segala perbuatannya, kita juga melihat seorang manusia yang tahu isi hati Allah dan sesuai dengan hati Allah.
Dosa yang dilakukan bangsa Israel dalam menyembah anak lembu emas menimbulkan persoalan tidak hanya bagi Allah, tetapi juga bagi Musa. Musa mungkin berkata kepada dirinya sendiri, “Apa yang harus kulakukan dalam hal ini? Keadaan ini dapat membuat Firaun dan orang-orang Mesir mencela Allah, dan mencela kita.” Namun, kita tidak diberi tahu bahwa Musa memikirkan keadaan itu sejangka waktu, atau ia berpuasa dan berdoa, memohon pimpinan Tuhan. Tidak ada petunjuk bahwa Musa bertanya haruskah ia datang kepada Tuhan mengenai hal ini. Sebaliknya, segera sesudah ia menanggulangi para penyembah berhala, ia memberi tahu bangsa Israel bahwa mereka telah berbuat dosa besar, tetapi ia akan berusaha mengadakan pendamaian bagi mereka. Musa dapat melakukan hal ini karena ia tahu jelas keadaan bangsa Israel dan khususnya mengenai maksud hati Allah. Selama empat puluh hari di puncak gunung, Tuhan benar-benar tidak meninggalkan Musa sendirian sekian lama dan kemudian hanya sewaktu-waktu berbicara dengannya tentang Kemah Suci dengan perabotannya. Musa dan Tuhan mungkin bercakap-cakap sangat lama. Sebagai hasil persekutuan yang akrab dengan Allah, Musa tahu keadaan sebenarnya di antara umat itu dan ia pun tahu pasti bahwa ia dapat melunakkan hati Tuhan.
LEBIH DARI SEORANG SAHABAT
Pada bagian ini Alkitab menyatakan Musa adalah seorang mitra Allah. Keluaran 33:11 mengatakan, “Dan TUHAN berbicara kepada Musa dengan berhadapan muka seperti seorang berbicara kepada temannya (mitranya).” Kata yang diterjemahkan “mitra” di sini berbeda dengan kata “sahabat” yang dipakai untuk menyebut Abraham dalam 2Tawarikh 20:7 dan Yesaya 41:8. Sebagai sahabat Allah, Abraham telah terpisah dari umat penyembah berhala (Yos. 24:2-3), dan ia berdoa syafaat untuk Lot (Kej. 18:16-33). Rasul Yakobus juga memberi tahu kita bahwa Abraham adalah sahabat Allah (Yak. 2:23). Abraham tidak hanya dibenarkan oleh Allah, tetapi juga menjadi sahabat Allah. Allah menganggap Abraham sebagai seorang yang terkasih, seorang yang dikasihi-Nya. Namun, Musa tidak hanya sebagai sahabat Allah seperti Abraham, lebih-lebih adalah seorang mitra Allah.
Di antara dua orang mula-mula ada persahabatan, kemudian menjadi mitra. Misalnya, sebelum sepasang insan menikah, keduanya saling berteman. Kemudian persahabatan mereka berkembang menjadi mitra. Setelah menikah, mereka tidak lagi menganggap satu sama lain sebagai teman, tetapi melanjutkan menjadi mitra. Kata “mitra” mencakup unsur persahabatan, tetapi lebih dalam, mencakup konsep hubungan akrab. Salah satu makna kata Ibrani untuk “mitra” adalah pasangan atau rekan. Kalau Anda dan orang lain adalah rekan, Anda memiliki minat bersama, usaha bersama, karier bersama. Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa di antara Abraham dengan Allah tidak ada kesamaan minat. Mereka memiliki minat yang sama, tetapi keadaannya tidak sedalam antara Musa dengan Allah. Pada puncaknya, Allah dan Musa merupakan partner dalam suatu perusahaan besar. Mereka berdua terlibat dalam “karier” yang sama. Musa dan Tuhan tidak hanya teman akrab, mereka juga rekanan, mitra, partner. Dalam Kejadian 18, Abraham dinyatakan sebagai sahabat Allah. Allah datang mengunjungi Abraham dan Abraham menyambut Dia dan melayaniNya dengan mengadakan perjamuan. Karena tidak ingin langsung pergi, Allah berjalan berdampingan dengan Abraham sejenak. Karena Allah menganggap Abraham teman-Nya, tak tahu bahwa Ia tak dapat menyembunyikan apa yang akan dilakukan-Nya kepadanya. Sebaliknya, Ia ingin menyatakan kepada teman-Nya yang tercinta isi hati-Nya. Sebab itu, Ia memberi tahu Abraham bahwa Sodom akan segera dihancurkan. Maksud Allah mengatakan hal ini ialah agar Abraham mengingat Lot dan berdoa syafaat baginya. Ini berarti, tujuan Allah di sini menurut isi hati-Nya adalah mendorong Abraham untuk berdoa syafaat bagi Lot. Allah bermaksud menyelamatkan Lot. Namun, menurut prinsip-Nya, Allah tahu Ia tidak dapat melakukan apa-apa bagi Lot tanpa seseorang berdoa syafaat untuk Lot. Dalam kejadian itu pun Allah memerlukan seorang penengah.
Kita telah melihat bahwa Allah dan Abraham adalah sahabat karib. Kadang-kadang jika kita menghendaki seorang teman akrab kita melakukan sesuatu bagi kita, kita tidak memberi tahu dia terus terang. Sebaliknya, mungkin kita memberinya tanda dan membiarkan dia menafsirkan apa yang kita inginkan atau butuhkan. Ketika Allah berkata kepada Abraham dalam Kejadian 18, Ia tidak mengatakan apa-apa mengenai Lot secara terus terang. Namun, Abraham mengenal isi hati Sahabat ilahinya. Maka, Abraham berdoa bagi Lot. Namun, dalam syafaatnya, ia tidak menyebut nama Lot. Sebaliknya, ia berdoa bagi Lot secara tidak langsung. Akhirnya, Allah menyelamatkan Lot sebagai jawaban terhadap doa Abraham. Dalam Kejadian 18, kedua pihak, Tuhan dan Abraham, bersahabat. Mereka berdua ingin berbuat sesuatu untuk Lot. Saya yakin dalam Kejadian 18, kita melihat alasan mengapa Allah menyebut Abraham sahabat-Nya. Kalau Anda mambaca pasal itu lagi, Anda akan tahu bahwa pasal itu merupakan catatan lengkap percakapan antara dua orang sahabat.
Yang penting di sini adalah pada diri Tuhan dan Musa ada sesuatu yang lebih dari sekadar persahabatan. Percakapan di antara mereka tidak hanya percakapan antar teman, tetapi antar mitra, rekan. Allah dan Musa sama-sama memperhatikan “perusahaan” mereka, “usaha” mereka dan “karier” mereka. Kedua pihak sama-sama bijak dengan tidak menceritakan keadaan secara langsung dan rinci. Mula-mula, Tuhan berbicara kepada Musa mengenai bangsa Israel dan anak lembu emas. Kemudian Ia membiarkan Musa mengatasi keadaan itu. Seolah-olah Tuhan berkata kepadanya, “Musa Kuserahkan perkara ini kepadamu. Turunlah ke kaki gunung dan lihatlah apa yang dapat dikerjakan.” Di luar dugaan kita, Tuhan tidak secara rinci menuntut Musa menggiling anak lembu emas itu halus-halus, menaburkan bubuk anak lembu emas itu ke atas air, dan memaksa para penyembah berhala itu meminum air itu. Tuhan pun tidak meminta Musa memanggil para pemenang untuk membunuh para penyembah berhala, dan setelah itu berbicara kepada bangsa Israel demi Tuhan, kemudian kembali kepada Tuhan di puncak gunung. Tuhan hanya menunjukkan kepada Musa apa yang dilakukan bangsa itu. Namun, karena Musa tahu isi hati Allah, segala yang dilakukannya sehubungan dengan penyembahan anak lembu emas, menyenangkan hati Allah. Misalnya, adalah perkara yang sangat serius membuang loh batu yang bertuliskan perintah-perintah yang diukir oleh tangan Allah. Namun, tindakan itu pun tidak melukai Allah, karena hal itu dilakukan seturut hati Allah. Musa tahu bahwa memecahkan loh batu itu seturut hati Allah. Sebagai mitra Allah, Musa berhubungan akrab dengan Dia dan tahu isi hati-Nya. Maka, segala yang Musa lakukan cocok dengan hati Allah.