MENANGGULANGI BERHALA DAN PENYEMBAH BERHALA
Pembacaan Alkitab: Kel. 32:7-14, 19-29
Dalam berita-berita yang lalu kita telah melihat pelanggaran hukum Taurat dan prinsip berhala anak lembu emas. Kini kita akan melihat bagaimana Musa menanggulangi berhala dan penyembah berhala.
PERMOHONAN MUSA BAGI UMAT
YANG MENYEMBAH BERHALA
Firman Yehova Mengenai Umat yang Menyembah Berhala
Musa bukanlah orang pertama yang tahu bahwa bani Israel menyembah berhala di kaki gunung. Allahlah yang memberitahukan hal itu kepada Musa, “Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: ‘Pergilah, turunlah, sebab bangsamu yang kaupimpin keluar dari tanah Mesir telah rusak lakunya” (ayat 7). Allah khusus memberi tahu Musa bahwa umat itu telah rusak lakunya. Percayakah Anda bahwa hari ini di bumi ada kelompok orang Kristen yang tidak merusak diri sendiri? Unsur yang dipakai musuh Allah untuk merusak orang Kristen adalah berhala. Berhala adalah faktor perusak. Tak ada yang lebih merusak kita daripada berhala. Apa pun yang Anda lebih kasihi daripada Allah adalah berhala, dan hal itu merusak Anda. Begitu Anda telah rusak akibat berhala, hal-hal dosa akan muncul. Kalau kita lebih mengasihi sesuatu daripada Allah, hal itu akan menjadi sesuatu yang merusak kita. Ini akan disusul oleh dosa-dosa. Maka, kita perlu hati-hati agar tidak merusak diri dengan memiliki berhala, dengan memiliki barang-barang yang lebih kita kasihi daripada Allah. Mengenai umat yang menyembah berhala, Tuhan berkata kepada Musa, “Segera juga mereka menyimpang dari jalan yang Kuperintahkan kepada mereka; mereka telah membuat anak lembu tuangan, dan kepadanya mereka sujud menyembah dan mempersembahkan kurban, sambil berkata: Hai Israel, inilah Allahmu yang telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir” (ayat 8). Bani Israel telah berada di bawah pengaturan dan pelatihan Allah selama lebih kurang satu tahun. Mereka telah melihat banyak mukjizat yang dilakukan oleh Allah. Sulit dipercaya, mereka begitu cepat berpaling dari jalan Allah. Bagaimanakah keadaan orang Kristen hari ini sehubungan dengan jalan Allah? Orang Kristen mempunyai Alkitab, tetapi sedikit sekali yang menerima jalan Allah. Sebaliknya, banyak yang telah menyimpang dengan membuat anak lembu emas dan menyembahnya.
Menurut ayat 9, Tuhan juga berkata kepada Musa, “Telah Kulihat bangsa ini dan sesungguhnya mereka adalah suatu bangsa yang tegar tengkuk.” Ini berarti umat itu pembangkang dan tidak mau ditundukkan atau sulit diubah. Tidak hanya tengkuk mereka yang tegar, seluruh diri mereka juga kaku. Demikian pula keadaan kebanyakan orang Kristen hari ini. Siapa yang dapat menundukkan orang Kristen yang menyembah anak lembu emas? Siapa yang dapat menaklukkan mereka untuk bertindak sebaliknya? Kalau Anda mencoba menasihati mereka, mungkin mereka menyalahkan Anda dan menuduh Anda bidah. Dalam ayat 10, Tuhan selanjutnya berfirman, “Oleh sebab itu biarkanlah Aku, supaya murkaKu bangkit terhadap mereka dan Aku akan membinasakan mereka, tetapi engkau akan Kubuat menjadi bangsa yang besar.” Perkataan ini menunjukkan bahwa Allah mempertimbangkan hendak membuang bani Israel. Allah jelas tidak bermaksud mengancam Musa dalam berkata demikian kepadanya. Tuhan sungguh-sungguh dalam perkataan-Nya. Ia berhasrat menjaga Musa dan keluarganya serta hendak menjadikan Musa suatu bangsa untuk merampungkan tujuan-Nya dan menggenapi janji-Nya kepada nenek moyang Abraham, Ishak, dan Yakub.
Permohonan Musa
Dalam Keluaran 32:11-13 kita lihat permohonan Musa bagi umat yang menyembah berhala. Ayat 11 mengatakan, “Lalu Musa mencoba melunakkan hati TUHAN, Allahnya, dengan berkata: ‘Mengapakah, TUHAN, murka-Mu bangkit terhadap umat-Mu, yang telah Kaubawa keluar dari tanah Mesir dengan kekuatan yang besar dan dengan tangan yang kuat?” Kata yang diterjemahkan “melunakkan hati”, dalam bahasa aslinya berarti menenangkan, menyukakan hati. Makna harfiahnya adalah membuat wajah seseorang manis, atau menyenangkan. Allah menampilkan kemarahan pada wajah-Nya dan Musa mencoba membuat wajah Allah menyenangkan, membuat wajah-Nya bergembira. Musa mencoba membuat Allah menyukai umat yang menyembah berhala. Itulah permohonan Musa.
Nampaknya Musa tidak tergoda oleh perkataan Allah yaitu hendak membuatnya menjadi bangsa yang besar. Tuhan berfirman bahwa umat itu tidak ada harapan, sehingga Ia akan memusnahkannya, dan bahwa Ia akan membuat Musa menjadi suatu bangsa yang besar. Kalau saya ada di sana, mungkin saya akan tergoda oleh keadaan itu. Dengan mudah kita akan mengatakan, “Amin, Tuhan. Apa pun yang Kaukatakan, jadilah Tuhan.” Seraya agak merendahkan diri. Namun, Musa tidak mempertahankan pikiran semacam itu. Sebaliknya, ia melunakkan wajah Allah yang menampakkan kemarahan agar Ia memaklumi umat yang menyembah berhala itu.
Dalam ayat 7, Tuhan berfirman kepada Musa bahwa bangsa itu adalah bangsanya dan bahwa dialah yang membawa mereka keluar dari tanah Mesir. Tetapi dalam ayat 11 Musa bertanya kepada Tuhan, “Mengapakah, TUHAN, murka-Mu bangkit terhadap umat-Mu, yang telah Kaubawa keluar dari tanah Mesir dengan kekuatan yang besar dan dengan tangan yang kuat?” Di sini, maksud Musa ialah, “Tuhan, Engkau mengatakan bangsa ini bangsaku dan akulah yang membawa mereka keluar dari tanah Mesir. Tetapi, Tuhan, mereka adalah umat-Mu, bukan umatku. Engkaulah yang membawa mereka keluar dari tanah Mesir, bukan aku. Aku tidak mampu melakukan hal itu.” Musa benar-banar seorang perantara, pembela zaman kuno, pada saat ia mengajukan permohonan kepada Allah.
Lalu Musa melanjutkan, “Mengapakah orang Mesir akan berkata: Dia membawa mereka keluar dengan maksud menimpakan malapetaka kepada mereka dan membunuh mereka di gunung dan membinasakannya dari muka bumi? Berbaliklah dari murka-Mu yang bernyala-nyala itu dan menyesallah karena malapetaka yang hendak Kau datangkan kepada umat-Mu. Ingatlah kepada Abraham, Ishak dan Israel, hamba-hamba-Mu itu, sebab kepada mereka Engkau telah bersumpah demi diri-Mu sendiri dengan berfirman kepada mereka: Aku akan membuat keturunanmu sebanyak bintang di langit, dan seluruh negeri yang telah Kujanjikan ini akan Kuberikan kepada keturunanmu, supaya dimilikinya untuk selama-lamanya” (ayat 12-13). Musa memberi tahu Tuhan bahwa jika Ia memusnahkan umat-Nya, orang-orang Mesir akan mengejek Dia. Tuhan perlu menjaga nama-Nya dan tidak membiarkan diri-Nya diejek oleh orang-orang Mesir.
Setelah mengatakan hal itu, Musa menganjuri Tuhan menyesal, dan kemudian ia mengingatkan Tuhan akan perjanjian-Nya dengan Abraham, Ishak, dan Israel. Musa memiliki dasar doa yang kuat, ia berdiri di atas firman setia Allah, janji Allah yang tidak berubah yang diberikan-Nya kepada nenek moyang Musa sebagai suatu perjanjian. Musa seakan-akan berkata, “Tuhan kalau Engkau memusnahkan umat ini, Engkau melanggar firman-Mu, Engkau melanggar perjanjian yang Kauadakan dengan nenek moyang kami. Engkau tidak hanya memberikan dasar kepada orang Mesir untuk mengejek-Mu, tindakan-Mu pun akan bertentangan dengan diri-Mu sediri. Engkau adalah Allah yang setia, dan Engkau tidak dapat menarik firman-Mu.”
Ayat 14 menerangkan bahwa permohonan Musa ada hasilnya, “Dan menyesallah TUHAN karena malapetaka yang dirancangkan-Nya atas umat-Nya.” Kita tentunya tidak pernah membayangkan Allah menyesal. Namun, Musa benar-benar pemohon yang ahli. Ia mampu meyakinkan Allah bahwa Ia seharusnya menyesal. Maka, Allah mengubah maksud-Nya dan memutuskan tidak memusnahkan umat itu. Penampilan wajah Tuhan berubah dari yang marah kepada yang menyenangkan.
Kalau kita menjadi Musa, kita akan berbuat lain. Begitu kita mendengar perkataan kemarahan yang diucapkan Tuhan, mungkin kita lari ke kaki gunung untuk menanggulangi umat yang menyembah berhala. Namun, sebelum Musa turun, ia melunakkan hati Tuhan. Ia membentangkan perkara itu di pengadilan surgawi. Setelah itu, barulah ia turun menanggulangi berhala dan para penyembah berhala itu.
MUSA MENANGGULANGI BERHALA
Dalam ayat 20 kita lihat cara Musa menanggulangi berhala anak lembu emas, “Sesudah itu diambilnyalah anak lembu yang dibuat mereka itu, dibakarnya dengan api dan digilingnya sampai halus, kemudian ditaburkannya ke atas air dan disuruhnya diminum oleh orang Israel.” Harun berkata bahwa anak lembu itu keluar dari api (ayat 24). Harun telah memakai api untuk membentuk anak lembu emas itu. Namun, Musa memakai api untuk menghancurkan anak lembu emas itu. Setelah membakar anak lembu emas itu dengan api, Musa menggilingnya sampai halus. Lalu ditaburkannya ke atas air dan memaksa orang Israel meminumnya. Apa artinya ini? Ini menunjukkan bahwa pada akhirnya orang-orang yang menyembah berhala harus meminum berhala yang mereka sembah. Ini dapat dibandingkan dengan pepatah, kita menuai apa yang kita tabur atau kita menikmati hasil perbuatan kita.
Jelas air dengan bubuk emas yang ditaburkan ke atasnya tidak enak rasanya. Air teh memang nyaman, tetapi air emas tidak. Selamanya tidaklah menyenangkan penyembah berhala bila ia disuruh minum berhala yang disembahnya. Kita dapat mempersaksikannya dari pengalaman kita. Apa saja yang kita sembah sebagai berhala, akhirnya menjadi air yang harus kita minum. Dahulu, kita semua memilih berhala, dan akhirnya kita meminum berhala itu. Peminuman berhala itu bukanlah suatu kenikmatan, melainkan hukuman. Ini adalah suatu prinsip. Berhala yang kita sembah akan selalu menjadi air yang harus kita minum. Tidak ada keterangan bahwa Allah menyuruh Musa membakar anak lembu emas itu, menggilingnya hingga halus, menaburkannya di air dan memaksa umat yang menyembah berhala itu meminumnya. Namun, Musa melakukan hal itu menurut hati Allah, dan Allah senang dengan yang dilakukan Musa.
MUSA MENANGGULANGI PARA PENYEMBAH BERHALA
Dalam Keluaran 32:21-24, Musa menanggulangi pembuat berhala, Harun. Lalu dalam ayat 25-29, ia menanggulangi para penyembah berhala. Melihat bahwa bangsa itu seperti kuda lepas dari kandang, “Maka berdirilah Musa di pintu gerbang perkemahan itu serta berkata: ‘Siapa yang memihak kepada TUHAN datanglah kepadaku!’ Lalu berkumpullah kepadanya seluruh bani Lewi” (ayat 25-26). Di sini Musa menyerukan panggilan kepada para pemenang. Penyembahan anak lembu emas menyebabkan perpecahan. Panggilan Musa tidak menyebabkan perpecahan, melainkan pemurnian.
Ketika orang-orang Lewi berkumpul dekat Musa, berkatalah ia kepada mereka, “Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Baiklah kamu masing-masing mengikatkan pedangnya pada pinggangnya dan berjalanlah kian kemari melalui perkemahan itu dari pintu gerbang ke pintu gerbang, dan biarlah masing-masing membunuh saudaranya dan temannya dan tetangganya” (ayat 27). Ayat 28 menyatakan, “Bani Lewi melakukan seperti yang dikatakan Musa dan pada hari itu tewaslah kira-kira tiga ribu orang dari bangsa itu.” Akibatnya, bani Lewi dipisahkan dari saudara-saudara mereka, menggantikan bangsa Israel menjadi imamat Allah (ayat 29; Ul. 33:8-10). Ulangan 33:9 menyinggung mengenai hal ini, “Yang berkata tentang ayahnya dan tentang ibunya: aku tidak mengindahkan mereka; ia yang tidak mau kenal saudara-saudaranya dan acuh tak acuh terhadap anak-anak-nya. Sebab orang-orang Lewi itu berpegang pada firman-Mu dan menjaga perjanjian-Mu.” Dengan kata lain, bani Lewi menyangkal hubungan mereka yang paling erat sekalipun dengan para penyembah anak lembu emas.
Sanak yang dekat tersebut melambangkan diri kita. Di dalam kita, kita memiliki banyak “sanak” yang adalah para penyembah anak lembu emas, dan kita harus “membunuh” sanak tersebut. Kalau tidak, kita akan terhitung di antara orang-orang yang kehilangan imamat.
Menurut Keluaran 19, Allah menghendaki seluruh bangsa Israel menjadi bangsa imamat, kerajaan imam. Maksudnya, dalam pandangan Allah, setiap orang di antara mereka adalah imam. Namun, karena penyembahan anak lembu emas, sebagian besar bani Israel kehilangan imamat. Kemudian imamat itu diberikan kepada satu suku, suku Lewi, karena orang Lewi rela membunuh para penyembah anak lembu emas. Pembunuhan para penyembah berhala memisahkan orang Lewi dari saudara-saudara mereka dan melayakkan mereka memegang imamat Allah. Sejak saat itu dan selanjutnya hanya satu suku, bukan seluruh bangsa, melanjutkan menjadi imam Allah.
Hari ini ada berjuta-juta orang Kristen. Apakah semua orang Kristen itu imam-imam Allah? Tidak, sebagian besar dari mereka adalah penyembah-penyembah anak lembu emas; mereka adalah rekanan dalam praktek penyembahan yang tidak murni. Maksud Allah adalah agar setiap orang yang percaya kepada Kristus, setiap anak Allah, menjadi imam. Wahyu 1:6 dan 5:10 menunjukkan hal ini. Penebusan Kristus memiliki satu sasaran, yaitu membuat semua orang yang percaya menjadi imam-imam Allah. Namun, abad demi abad penyembahan yang tidak murni, penyembahan anak lembu emas, telah membuat sejumlah besar orang Kristen tidak layak melayani Allah sebagai imam-imam. Penyembahan yang tidak murni telah menyebabkan kebanyakan orang beriman kehilangan imamat mereka. Namun, kita bersyukur kepada Tuhan bahwa dalam Perjanjian Lama ada satu suku yang memelihara imamat, sehingga ada satu kelompok kecil orang hari ini yang setia kepada Tuhan untuk membunuh penyembahan yang tidak murni dan dengan demikian mempertahankan imamat.
Saya dapat bersaksi bahwa kita telah setia kepada Tuhan selama lebih dari setengah abad. Kita telah menderita aniaya, penentangan, hinaan, dan hujatan karena kita tidak ingin kehilangan imamat kita. Karena kita memiliki imamat, Urim dan Tumim ada pada kita. Inilah sebabnya kita menerima terang dari Alkitab. Setiap kali kita membuka firman Allah, kita diterangi. Inilah pengalaman atas Urim dan Tumim, yakni suatu berkat besar bagi mereka yang memelihara imamat Allah. Ulangan 33:8 dan 9 mengatakan, “Tentang Lewi ia berkata: “Biarlah Tumim dan Urim-Mu menjadi kepunyaan orang yang Kaukasihi, yang telah Kaucoba di Masa, dengan siapa Engkau berbantah dekat mata air Meriba; yang berkata tentang ayahnya dan tentang ibunya: aku tidak mengindahkan mereka; ia yang tidak mau kenal saudara-saudaranya dan acuh tak acuh terhadap anak-anaknya. Sebab orang-orang Lewi itu berpegang pada firman-Mu dan menjaga perjanjian-Mu.” Karena orang-orang Lewi setia kepada Allah, dan membunuh orang-orang yang menyembah anak lembu emas, mereka menerima hak untuk memiliki imamat dengan Urim dan Tumim. Imamat Allah tergantung pada Urim dan Tumim. Kemudian, ketika orang-orang Lewi menjadi tidak setia, mereka juga kehilangan Urim dan Tumim. Ketika mereka kehilangan Urim dan Tumim, mereka kehilangan imamat Allah.
Yang penting di sini adalah kita perlu murni, dan perlu membunuh penyembahan yang tidak murni, penyembahan anak lembu emas. Bagi diri kita dan bagi Allah, kita perlu membunuh penyembahan yang tidak murni di antara orang-orang Kristen hari ini. Kemudian kita akan bersyarat menjadi imam-imam Allah. Tidak seharusnya kita membaca Keluaran 32 hanya sebagai cerita atau sebagian dari sejarah Israel. Kita perlu melihat prinsip-prinsip ini dalam pasal tersebut. Semua prinsip ini dapat diterapkan pada keadaan kita hari ini. Kita perlu menjauhi perihal mempercantik diri dan kita perlu membunuh penyembahan anak lembu emas dan bagian dari kita yang ambil bagian dalam penyembahan semacam itu. Kemudian kita akan menjaga diri atas dasar imamat Allah. Kalau kita berbuat demikian, Allah akan tetap memiliki sekelompok kecil orang beriman bagi penggenapan tujuan-Nya. Semoga kita semua melihat prinsip-prinsip ini sehingga kita tahu jalan yang harus kita tempuh. Jalan kita bukanlah jalan perpecahan, melainkan jalan pemurnian. Pemulihan Tuhan adalah pemurnian, bukan perpecahan. Pemulihan tergantung pada sekelompok orang Lewi yang setia kepada Allah dan yang tidak kehilangan syarat untuk menjadi imam-imam Allah. Syukur kepada Tuhan karena kita memiliki imamat Allah dan karena Ia memberikan kita Urim dan Tumim.