PRINSIP BERHALA ANAK LEMBU EMAS
Pembacaan Alkitab: Kel. 32:7-14, 19-29
Dalam berita yang lalu telah kita tunjukkan bahwa pada saat kita membaca Keluaran 32, kita perlu menemukan prinsip-prinsip yang tersirat dalam catatan itu sebelum kita lanjutkan pembahasan kita mengenai perkara penanggulangan berhala dan para penyembah berhala. Kita perlu memperhatikan prinsip berhala anak lembu emas.
Walaupun di Kitab Kejadian ada penyembah-penyembah berhala, penyembahan berhala dalam Keluaran 32 bersifat unik. Sekurang-kurangnya dua juta orang telah diselamatkan lepas dari tangan Firaun dan dibawa keluar dari negeri yang kejam. Mereka menyeberangi Laut Merah dan melintasi padang gurun. Orang-orang itu telah menyaksikan banyak mukjizat besar yang dilakukan Allah bagi mereka. Bahkan pada saat mereka membuat berhala dan menyembahnya, mereka masih mengumpulkan manna yang turun dari surga. Mereka berada dalam keadaan di bawah rawatan mukjizat Allah. Namun, mereka membuat berhala dan menyembahnya sebagai Allah yang telah membawa mereka keluar dari Mesir, dan memimpin mereka ke Gunung Sinai.
Musa telah naik gunung sekali dan turun kembali. Semua orang mengetahui hal itu. Musa pasti telah memberi tahu mereka hal-hal mengenai penetapan hukum Taurat Allah. Saya yakin, sekurang-kurangnya Musa telah berbicara mengenai Sepuluh Perintah kepada umat itu. Lalu Musa dipanggil kembali naik gunung dan tinggal di sana selama empat puluh hari. Menurut konteksnya, berhala itu, anak lembu emas, tidak dibuat pada bagian awal dari keempat puluh hari itu. Seperti telah kita sebutkan, anak lembu emas mungkin dibuat pada saat menjelang akhir dari keempat puluh hari tersebut.
DUA PEMANDANGAN
Dalam Keluaran 32 kita melihat dua pemandangan: satu di atas gunung dan satu di kaki gunung. Pemandangan di atas gunung sangat indah. Di atas gunung dibentangkan rancangan Kemah Suci dan perabotannya kepada Musa. Mungkin sementara Allah sedang menulis hukum di loh batu dengan jari-Nya, Harun dan para pembantunya membuat anak lembu emas di kaki gunung. Pada pemandangan di puncak gunung, terjadi penulisan hukum. Namun, pada pemandangan di kaki gunung, terjadi pembuatan berhala. Perbandingan di sini sangat bermakna.
Keadaan umat Allah hari ini dapat dibandingkan dengan keadaan bani Israel di Gunung Sinai. Tuhan Yesus telah naik ke surga, tempat-Nya hari ini. Di surga Tuhan mewahyukan rancangan tempat kediaman Allah di bumi. Dalam Perjanjian Lama, Musa berada di atas gunung. Namun, menurut Perjanjian Baru, Tuhan Yesus kini ada di surga. Kalau Anda membaca Kitab Ibrani dengan teliti, Anda akan melihat bahwa pengalaman Musa di Gunung Sinai adalah suatu lambang. Apa yang diwahyukan kepada Musa mengenai Kemah Suci adalah lambang wahyu saat ini mengenai tempat kediaman Allah. Demikian pula mengenai perkara imamat. Imamat yang diwahyukan kepada Musa adalah lambang imamat Perjanjian Baru yang diwahyukan melalui Tuhan Yesus di surga.
Sementara Musa masih tinggal di atas gunung, umat Allah mulai menyembah berhala anak lembu emas. Pada prinsipnya, keadaan itu serupa dengan keadaan di antara orang Kristen hari ini. Apa yang terjadi di bumi di antara orang Kristen sementara Tuhan Yesus masih tinggal di surga? Anak-anak lembu emas sedang dibuat dan disembah oleh umat Allah. Keadaan pada saat Keluaran 32 dan keadaan di antara umat Allah hari ini sangat serupa. Nyatanya, keadaan hari ini hampir-hampir merupakan kembaran dari apa yang terjadi dalam Perjanjian Lama.
Musa menerima wahyu mengenai Kemah Suci untuk tempat kediaman Allah dan imamat untuk pelayanan terhadap Allah. Demikian pula, setelah Tuhan Yesus naik ke surga, Ia memberikan wahyu tentang tempat kediaman Allah dan imamat Allah. Dalam menulis berbagai kitab Perjanjian Baru, rasul-rasul seperti Paulus, Petrus, dan Yohanes bekerja bersama Kristus yang di surga untuk mewahyukan rancangan Allah. Bila kita membaca Surat-surat Kiriman dalam Perjanjian Baru, kita dapat melihat pola dan rancangan tempat kediaman Allah dan imamat-Nya. Dalam Surat-surat Kiriman Paulus, Petrus, dan Yohanes kita dapat melihat pola Kemah Suci, tabut, kaki pelita, meja roti sajian, mezbah ukupan, mezbah tembaga, bejana pembasuhan dan semua perabotan yang berhubungan dengan tempat kediaman Allah. Di samping itu, dalam seluruh Surat Kiriman tersebut, kita juga dapat melihat imamat. Wahyu ini telah diberikan di surga. Namun, di kaki gunung “orang-orang Kristen” membuat anak lembu emas.
CAMPURAN DALAM PENYEMBAHAN
Penting untuk kita lihat bahwa penyembahan anak lembu emas dalam Keluaran 32 merupakan suatu campuran. Yang disembah adalah berhala, tetapi dalam penyembahan itu seakan-akan umat Allah menyembah Allah. Ini adalah praktek umum di antara banyak orang Kristen hari ini. Orang Kristen boleh jadi menyembah dengan cara yang cocok untuk menyembah Allah, tetapi sebenarnya sasaran penyembahan mereka mungkin bukan Allah. Kalau kita memiliki pandangan surgawi yang jelas, kita akan melihat bahwa kebanyakan penyembahan di antara orang Kristen hari ini adalah campuran. Sesuatu yang dianggap Allah disembah seakan-akan itu adalah diri Allah sendiri.
Setelah Harun membuat anak lembu emas, bangsa itu berkata, “Hai Israel, inilah Allahmu, yang telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir” (Kel. 32:4). Bangsa itu menyembah anak lembu emas, seolah-olah itu Allah yang telah membawa mereka keluar dari Mesir. Bukankah itu suatu campuran? Di samping itu, Keluaran 32:5 dan 6 mengatakan, “Ketika Harun melihat itu, didirikannyalah mezbah di depan anak lembu itu. Berserulah Harun, katanya: ‘Besok hari raya bagi TUHAN!’ Dan keesokan harinya pagi-pagi maka mereka mempersembahkan kurban bakaran dan kurban keselamatan.” Di sini kita melihat bahwa sebuah mezbah didirikan di depan berhala, dan bangsa itu mempersembahkan kurban bakaran dan membawa kurban keselamatan. Ini menunjukkan bahwa mereka menyembah berhala menurut cara mereka menyembah Allah. Ini jelas suatu campuran. Dengan kata lain, penyembahan itu tidak benar. Kita dapat membandingkan penyembahan di antara orang Kristen saat ini dengan penyembahan bani Israel di Gunung Sinai. Penyembahan anak lembu emas oleh bani Israel adalah gambaran penyembahan yang tidak murni di antara orang Kristen saat ini.
Penyembahan anak lembu emas berbeda dari penyembahan berhala oleh orang kafir. Anak lembu emas disembah oleh umat tebusan dalam nama Tuhan, Penebus mereka. Sesudah anak lembu emas dibuat, bangsa itu menyatakan bahwa itulah Tuhan yang telah membawa mereka keluar dari tanah Mesir. Ini menunjukkan bahwa mereka menyembah berhala dalam nama Yehova Allah mereka. Di samping itu mereka menyembah berhala itu dengan cara yang seperti cara menyembah Allah, yaitu dengan cara yang ditetapkan Allah. Mereka mempersembahkan kepada berhala itu kurban yang seharusnya dipersembahkan kepada Allah. Ini merupakan campuran yang memalukan.
Orang-orang dapat dengan mudah mencela penyembahan berhala oleh orang kafir. Namun, dalam perkataan hari ini, tidaklah mudah mencela penyembahan tak murni yang kita lihat dalam Keluaran 32, suatu penyembahan yang penuh campuran. Yakinkah Anda bahwa yang dinamakan pelayanan penyembahan di Katedral dan gedung-gedung kebaktian saat ini adalah penyembahan yang murni terhadap Allah? Benarkah Allah yang disembah? Kalau bukan Allah yang disembah, lalu siapakah sasaran penyembahan itu? Kalau penyembahan itu bukan penyembahan Allah yang murni, pastilah penyembahan itu ditujukan terhadap yang bukan Allah. Lagu-lagu suci mungkin dinyanyikan bagi Allah, dan doa-doa dipersembahkan kepada Allah, namun sebenarnya penyembahan itu ditujukan kepada seseorang atau sesuatu yang bukan Allah.
TIDAK MEMAKAI KARUNIA ALLAH UNTUK TUJUAN ALLAH
Mari kita teruskan melihat prinsip penyembahan semacam ini. Prinsip berhala anak lembu emas adalah bahwa harta benda (karunia yang dari Allah, yang berupa barang materi dan karunia rohani) tidak digunakan dengan tepat untuk tujuan Allah. Kita perlu berhati-hati mengenai barang materi dan karunia rohani yang kita terima dari Allah, karena mungkin kita tidak memakai karunia tersebut dengan tepat, untuk tujuan Allah. Misalnya, Anda mampu mengajar Alkitab, dan Anda memakai kemampuan ini untuk menguatkan suatu pekerjaan. Kemampuan Anda mengajarkan Alkitab tersebut adalah karunia dari Allah. Namun, apakah Anda memakai karunia itu dengan tepat untuk tujuan Allah, atau apakah Anda memakainya untuk membangun sesuatu yang bukan tujuan Allah? Kalau Anda melakukan yang belakangan, Anda membuat anak lembu emas. Ini bukanlah pernyataan yang keterlaluan. Saya yakin, pada suatu hari dalam zaman ini atau zaman yang akan datang, kita semua akan menyadari bahwa pada prinsipnya, hal itu adalah membuat anak lembu emas dan dihakimi oleh Allah. Banyak anak lembu emas telah dibuat oleh Harun-Harun hari ini.
Mereka yang berkarunia memberitakan Injil mungkin pula memakai kemampuan itu untuk membuat anak lembu emas. Seorang saudara mungkin menjadi penginjil. Allah telah benar-benar memberikan karunia memberitakan Injil. Namun, saudara itu perlu bertanya kepada dirinya sendiri, apakah tujuannya dalam memakai karunia tersebut. Apakah tujuannya murni? Tidak bercela? Pertanyaan-pertanyaan tersebut meminta perhatian yang serius.
Kita perlu memeriksa diri dan bertanya, apakah yang kita lakukan dan apa tujuan kita melakukan hal itu. Bagi pekerja Kristen yang berkarunia, tidak ada cobaan yang lebih besar daripada pekerjaan itu sendiri. Pekerjaan yang kita lakukan itu adalah cobaan terbesar. Kalau Anda mempelajari sejarah gereja dan biografi pengkhotbah dan pemberita Injil lain, Anda akan melihat bahwa banyak yang telah membuat berhala. Beberapa orang bahkan menghias diri mereka menjadi berhala; yaitu, mereka sendiri menjadi berhala, anak lembu emas. Ini sesuai dengan prinsip berhala anak lembu emas, prinsip tidak memakai karunia pemberian Allah dengan tepat untuk tujuan Allah.
BERHALA YANG DIBUAT OLEH UMAT TEBUSAN ALLAH
Berhala anak lembu emas berbeda dengan berhala orang kafir. Tidak mudah menggambarkan berhala anak lembu emas. Kita tidak seharusnya menyebutnya sebagai berhala orang Kristen. Mungkin boleh kita katakan bahwa anak lembu emas dalam Keluaran 30 adalah buatan umat tebusan Allah. Orang-orang kafir tidak membuat berhala anak lembu emas dan menyembahnya. Hanya umat tebusan Allah, yang ditebus dengan darah anak domba Paskah, yang dibawa keluar dari Mesir, dan yang menikmati mukjizat Allah, bahkan sewaktu mereka membuat berhala itu, adalah orang-orang yang membuat anak lembu emas itu. Bani Israel jelas bukan orang kafir. Bahkan sewaktu mereka sedang membuat anak lembu emas, mereka makan manna yang secara ajaib turun dari langit. Di samping itu, mereka tahu nama Yehova dan tahu bagaimana menyembah Allah dengan kurban persembahan. Namun, sekalipun mereka bukan orang kafir, di tengah-tengah mereka ada berhala. Jangan mengira di antara orang Kristen hari ini tidak ada berhala. Orang-orang Kristen tidak memiliki berhala orang kafir, berhala orang yang menyembah ilah lain, tetapi mereka mungkin memiliki berhala buatan orang Kristen. Banyak berhala telah dibuat oleh orang Kristen, khususnya oleh para pemuka Kristen, para penginjil, dan para guru Alkitab.
PERPECAHAN, PENYEMBAHAN BERHALA,
DAN PERSUNDALAN
Kalau Anda tahu prinsip-prinsip dalam Perjanjian Baru, Anda akan sadar bahwa ada tiga hal yang saling berkaitan: perpecahan, penyembahan berhala, dan persundalan. Perpecahan sejalan dengan penyembahan berhala dan penyembahan berhala sejalan dengan persundalan, baik yang rohani maupun yang jasmani. Sebenarnya perpecahan adalah persundalan rohani. Begitu ada anak lembu emas di antara bani Israel, segera timbul perpecahan. Seandainya lebih dari satu berhala yang dibuat oleh umat tebusan Allah dalam Keluaran 32, di sana tentu segera timbul perpecahan lain. Kalau ada sepuluh berhala, pasti terjadi sepuluh perpecahan.
Perpecahan di antara orang Kristen berhubungan dengan berhala-berhala yang dibuat dalam nama Tuhan. Misalnya, ada sekolompok orang Kristen berkumpul bersama untuk menyembah Tuhan. Namun, sesudah sejangka waktu beberapa saudara yang tidak senang dengan kelompok itu memutuskan untuk memulai sidang lain di tempat yang sama. Itu adalah perpecahan yang melibatkan penyembahan berhala. Dalam 1Korintus 1, Paulus mengajukan pertanyaan: Apakah Kristus terbagi-bagi? (1Kor. 1:13). Seprinsip dengan itu kita dapat menanyakan, “Apakah Allah kita terbagi-bagi?” Karena kita semua menyembah Allah yang sama, adakah alasan untuk berpecah belah? Perpecahan dapat menunjukkan atau sekurangnya-kurangnya menyiratkan bahwa ada orang yang menyembah sesuatu yang bukan Allah. Kita mungkin menyembah sesuatu atau seseorang dalam nama TUHAN, tetapi hal itu bukanlah Tuhan sendiri. Di samping itu, kita mungkin menyembah sesuatu yang bukan Allah dengan kurban persembahan yang seharusnya dipersembahkan kepada Allah dan dalam cara yang kita pakai untuk menyembah Allah.
Kita telah melihat bahwa perpecahan berhubungan dengan penyembahan berhala. Bila seseorang menyembah berhala, selanjutnya sangat mungkin ia akan bersundal. Persundalan berarti kekacauan. Kalau hubungan seseorang dengan Allah telah kacau, bagaimana ia dapat menghindari kekacauan dalam hubungannya dengan manusia? Dalam surat kepada Tiatira di Wahyu 2, kita melihat penyembahan berhala dan persundalan. Penyembahan berhala dan persundalan, “dua saudari jahat”, selalu berjalan bersama. Kalau yang satu ada, yang lain pasti ada juga.
Sumber utama perpecahan dan persundalan adalah penyembahan berhala. Harun membuat anak lembu emas, dan itu menyebabkan perpecahan. Perpecahan di antara bani Israel disebabkan oleh penyembahan anak lembu emas. Pada prinsipnya, pembuatan anak lembu emas adalah perkara menyalahgunakan karunia Allah. Bani Israel memakai emas yang Allah berikan kepada mereka secara mukjizat untuk membuat anak lembu emas. Karena Allah secara mukjizat menaklukkan orang Mesir, mereka memberikan emas kepada bani Israel. Maksud Allah adalah emas yang diberikan kepada orang Israel akan dipakai untuk membangun Kemah Suci-Nya. Namun, sebelum Kemah Suci itu dibangun, orang-orang menyalahgunakan emas itu dengan memakainya untuk mempercantik diri. Kemudian emas yang dipakai untuk mempercantik diri mereka dijadikan anak lembu emas. Di sini kita melihat prinsip bahwa penyembahan berhala melibatkan menyalahgunakan apa yang Allah berikan kepada kita dan tidak memakai karunia-Nya untuk tujuan-Nya.
BERHALA BERHUBUNGAN DENGAN HIBURAN DAN KESENANGAN
Orang-orang juga menyalahgunakan apa yang Allah berikan kepada mereka dan memakainya untuk hiburan dan kesenangan mereka. Penyembahan anak lembu emas adalah semacam hiburan dan kesenangan. Bani Israel menghibur mereka dengan berhala ini. Keluaran 32:6 mengatakan, “‘. . . duduklah bangsa itu untuk makan dan minum; kemudian bangunlah mereka dan bersukaria.’” Ketika Musa dan Yosua turun dari gunung, mereka mendengar “bunyi orang bernyanyi berbalas-balasan” (ayat 18-19). Inilah gambaran hiburan dan kesenangan. Kita harus diingatkan dengan ini untuk tidak bersidang dengan tujuan hiburan dan kesenangan kita. Memang kita memiliki kenikmatan atas Tuhan, tetapi ini bukanlah sejenis kesenangan.
Saya hendak meminta Anda memperhatikan keadaan di antara orang Kristen hari ini mengenai keinginan untuk kesenangan. Tidak mudah menemukan apa yang dinamakan sidang gereja tanpa hiburan. Berbagai bentuk hiburan dipakai untuk menarik orang banyak. Kalau tidak ada hiburan di satu tempat, orang-orang tidak akan mau pergi ke sana. Mereka ingin pergi ke tempat mereka mendapatkan hiburan. Banyak orang hari ini menyembah semacam anak lembu emas untuk hiburan mereka.
Kita perlu hati-hati untuk tidak menyalahgunakan karunia materi dan karunia rohani Allah. Tak satu pun barang materi yang Allah berikan kepada kita boleh dipakai untuk hiburan dan kesenangan kita. Kalau kita memakai benda materi secara demikian, kita akan memiliki anak lembu emas. Demikian pula, karunia rohani, seperti karunia pengajaran dan pemberitaan, tidak seharusnya disalahgunakan atau dirampas untuk hiburan dan kesenangan kita. Ada bahaya bahwa mereka yang telah menerima karunia rohani dapat menyalahgunakan karunia ini untuk membangun sesuatu untuk tujuan mereka, hiburan mereka, dan kesenangan mereka. Ini berarti membuat anak lembu emas.
Kalau kita benar-benar melihat prinsip ini, kita akan menyadari betapa kasihannya, bahkan betapa tragisnya keadaan di kalangan orang Kristen hari ini. Di mana-mana banyak anak lembu emas. Orang-orang menyanyi kepada anak lembu emas, memuji dia, dan bersukacita di depan dia. Di hadapan anak lembu emas orang-orang makan, minum, berolah raga, bahkan menari-nari. Mungkin mereka mengatakan hal itu sebagai memuji Allah, bernyanyi bagi Allah, dan bersukacita di hadapan Allah. Namun, kita harus menanyakan siapa yang sedang disembah Allah Yehova atau allah anak lembu emas?
Untuk keadaan ini dan persekutuan saya mengenai hal ini, saya telah tekun berdoa kepada Tuhan. Saya harus menunjukkan prinsip ini kepada umat Tuhan. Namun, saya tidak ingin menjadi ekstrem. Saya tidak yakin bahwa dalam berita ini saya sudah terlalu jauh membahas perkara ini. Saya harus bersaksi bahwa di dalam lubuk roh saya, saya memiliki pandangan mengenai Keluaran 32 seperti yang diterapkan hari ini. Saya juga dapat bersaksi bahwa bertahun-tahun lamanya saya berhati-hati agar tidak membangun sesuatu untuk tujuan saya sendiri atau untuk kesenangan saya, atau hiburan saya. Di pandangan Allah, apa saja yang kita bangun untuk tujuan kita atau hiburan kita adalah anak lembu emas. Anak lembu emas semacam ini akan selalu menyebabkan perpecahan. Sekali demi sekali, anak-anak lembu emas dibuat dan akibat penyembahan anak-anak lembu emas ini adalah perpecahan. Ada kemungkinan yang nyata bahwa keadaan ini akan berulang di tengahtengah orang Kristen hari ini.
Kita semua perlu melihat perbedaan antara penyembahan murni terhadap Tuhan dan penyembahan campuran. Penyembahan campuran adalah penyembahan anak lembu emas dalam nama Tuhan. Dalam penyembahan macam ini, orang-orang menyembah anak lembu dengan cara yang dipakai untuk menyembah Tuhan. Kita telah melihat bahwa ini berbeda dengan penyembahan kafir, karena penyembahan yang campuran adalah penyembahan berhala dalam nama Tuhan dan menurut cara untuk menyembah Tuhan.
MUKJIZAT-MUKJIZAT BUATAN MANUSIA
Keluaran 32:21 mengatakan, “Lalu berkatalah Musa kepada Harun: ‘Apakah yang dilakukan bangsa ini kepadamu sehingga engkau mendatangkan dosa yang sebesar itu kepada mereka?’” Harun mencoba membela diri dengan mengatakan, “Mereka berkata kepadaku: Buatlah untuk kami allah, yang akan berjalan di depan kami sebab Musa ini, orang yang telah memimpin kami keluar dari tanah Mesir kami tidak tahu apa yang telah terjadi dengan dia. Lalu aku berkata kepada mereka: Siapa yang empunya emas haruslah menanggalkannya. Mereka memberikannya kepadaku dan aku melemparkannya ke dalam api, dan keluarlah anak lembu ini” (ayat 23-24). Dalam Kitab Kejadian, Yakub menyuruh keluarganya menanggalkan anting-anting mereka dan menguburnya di bawah pohon besar sehingga mereka menjadi murni untuk pergi ke Betel, membangun mezbah bagi Allah yang sejati (Kej. 35:2-4). Harun juga menyuruh orang-orang menanggalkan anting-anting mereka, tetapi ia melakukannya dengan tujuan yang sangat berbeda. Harun memberi tahu Musa bahwa ia melemparkan emas itu ke dalam api dan keluarlah anak lembu emas. Mungkin Harun hendak mengatakan bahwa lewat mukjizat seperti itulah anak lembu itu keluar. Mungkin Harun mengatakan, “Aku lempar emas itu ke dalam api, dan anak lembu itu keluar secara ajaib. Tidakkah itu dari Allah? Bagaimana aku dapat membuat sesuatu semacam itu? Ini adalah suatu mukjizat.” “Mukjizat” ini dilakukan oleh tangan Harun, bukan tangan Allah.
Hari ini orang-orang Kristen sudah biasa melakukan mukjizat buatan manusia. Misalnya, beberapa pengkhotbah mungkin menyatakan banyak kasus kesembuhan dalam perkumpulan mereka. Namun, kesembuhan itu mungkin bukan dari tangan Allah, melainkan dari tangan pengkhotbah-pengkhotbah itu sendiri. Beberapa tahun yang lalu, saya menghadiri perkumpulan semacam itu dan mengamati banyak kasus kesembuhan buatan manusia. Beberapa di antaranya memang sembuh sementara. Sejangka waktu kemudian, penyakit mereka kambuh lagi. Namun, mereka yang memimpin perkumpulan itu mungkin bangga karena kesembuhan itu asli. Sebenarnya yang mereka miliki dalam perkumpulan mereka adalah anak lembu emas. Pernyataan mungkin dikeluarkan bahwa hal-hal itu dilakukan oleh Allah, padahal hal-hal itu dikerjakan dengan usaha, promosi, dan iklan manusia. Saya tidak percaya bahwa orang banyak yang berkumpul di sekeliling pengkhotbah tertentu hari ini adalah hasil mukjizat yang Allah lakukan. Tidak, anak lembu emas tidak keluar dari api secara ajaib, melainkan dibuat oleh tangan manusia.
Kalau kita tahu jelas prinsip berhala anak lembu emas, kita akan hati-hati untuk tidak “melempar emas ke dalam api” dan tidak membentuk emas dengan alat-alat ukir kita. Kita akan hati-hati jangan sampai memakai kemampuan kita membuat anak lembu emas. Inilah alasannya saya sering bersekutu dengan saudara-saudara inti dan sekerja agar mereka tidak berlebihan. Kalau sesuatu benar-benar dari Tuhan, Ia akan merampungkannya. Tidak perlu kita berbuat banyak. Kalau kita berusaha berbuat banyak berdasarkan diri kita, mungkin kita bertujuan membuat anak lembu emas. Kita semua perlu hati-hati, karena bahkan dalam gereja-gereja lokal pun kita mungkin saja membuat anak lembu emas. Kita semua perlu melihat prinsip berhala anak lembu emas dan terperingati oleh prinsip ini.