MELANGGAR HUKUM TAURAT
Pembacaan Alkitab: Kel. 31:18—32:8, 15-20
Saya yakin kita semua mengenal kisah pelanggaran hukum Taurat dalam Kitab Keluaran. Dalam berita ini kita akan mencoba mencari prinsip-prinsip yang tersirat dalam kisah tersebut. Dulu telah kita tunjukkan bahwa dalam mempelajari Alkitab, keperluan yang mendasar adalah menjamah roh penulis yang ternyata dalam tulisannya. Kini saya hendak menambahkan bahwa penting pula menemukan prinsip-prinsip yang tersirat dalam setiap bagian firman. Khususnya mengenai pembuatan anak lembu emas dalam Kitab Keluaran, terdapat sejumlah prinsip dasar. Pokok perhatian kita dalam berita ini adalah melihat prinsip-prinsip yang berhubungan dengan penyembahan anak lembu emas.
JALAN ANUGERAH TELAH DIPERSIAPKAN SEBELUM HUKUM TAURAT DILANGGAR
Setelah penetapan hukum dan sebelum pelanggaran hukum Taurat, Allah menyuruh Musa pergi ke gunung-Nya untuk memberikan dua loh hukum (Kel. 24:12). Kali pertama Tuhan memanggil Musa untuk pergi ke Gunung Sinai adalah dalam Keluaran 19:20. Itulah saat Tuhan memberi Musa hukum Sepuluh Perintah dengan semua aturan bawahannya. Kemudian, menurut Keluaran 24:12, Tuhan kembali menyuruh Musa ke gunung itu. Tuhan hendak memberinya loh hukum. Hukum Taurat itu telah ditetapkan, tetapi loh Sepuluh Perintah belum diberikan kepada Musa. Loh hukum itu diberikan kepada Musa dalam Keluaran 31:18, “Dan TUHAN memberikan kepada Musa, setelah Ia selesai berbicara dengan dia di Gunung Sinai, kedua loh hukum Allah, Ioh batu, yang ditulisi oleh jari Allah.”
Keluaran 24:12 dan 31:18 mengacu kepada pemberian loh hukum. Namun, di antara kedua ayat tersebut terdapat sisipan sepanjang tujuh pasal. Ini menunjukkan bahwa setelah Tuhan menyuruh Musa ke gunung dengan maksud memberi dia loh hukum, pertama-tama Dia berbicara dengannya tentang hal-hal lain. Dalam Keluaran 25 hingga 31, Tuhan mewahyukan kepada Musa rancangan Kemah Suci dan perabotannya, dan Ia berbicara dengannya mengenai hal-hal yang berhubungan dengan imamat. Kita telah melihat bahwa Kemah Suci dan imamat melambangkan Kristus. Kemah Suci dengan perabotannya melambangkan Kristus dan imamat dengan pakaian dan makanan para imam juga merupakan lambang Kristus yang rinci. Kalau kita hendak mengenal Kristus, kita perlu mempelajari Keluaran 25—31. Maksud Allah menyuruh Musa ke gunung itu adalah menberi dia loh hukum. Namun, sebelum memberi Musa loh-loh tersebut, mula-mula Allah memberi dia rancangan Kemah Suci dan perintah-perintah mengenai imamat. Setelah itu barulah Tuhan memberi Musa loh tersebut.
Fakta bahwa Allah menunjukkan Kemah Suci dengan perabotannya dan imamat kepada Musa sebelum memberikan loh hukum kepadanya, menunjukkan bahwa sementara Allah memberikan hukum Taurat, Ia tahu bahwa manusia tak dapat mematuhinya. Itu pun menunjukkan bahwa Allah telah mempersiapkan jalan anugerah agar manusia berhubungan dengan Dia dan menikmati Dia. Jalan anugerah adalah Kristus yang dilambangkan dengan Kemah Suci dan imamat. Allah menyediakan Kristus sebagai jalan anugerah bagi manusia untuk berhubungan dengan Allah dan menikmati Dia. Ketika Allah memberikan hukum Taurat, Ia tahu bahwa manusia tidak akan sanggup mematuhinya; karena itu, Ia menyediakan jalan anugerah tersebut. Kristus adalah Kemah Suci, kurban, dan semua aspek imamat kita. Tulisan Yohanes mewahyukan bahwa Kristus adalah penggenapan Kemah Suci dan kurban persembahan.
Setelah menunjukkan Kemah Suci dan imamat kepada Musa, Allah memberinya dua loh hukum. Allah dapat melakukan hal ini dalam damai, sekalipun Ia tahu bahwa hukum itu akan dilanggar. Allah tidak cemas karena hal itu, karena sebelum hukum Taurat itu dilanggar, Allah telah menyediakan jalan anugerah sehingga manusia dapat berhubungan dengan Allah dan menikmati Dia. Sebab itu, bukanlah maksud Allah mempercayakan hukum Taurat itu, kepercayaan-Nya ada di dalam Kristus sebagai jalan anugerah yang tersedia. Bahkan walaupun Allah memberikan hukum Taurat, Ia tidak mempercayai hukum itu. Kepercayaan Allah dulu, dan sampai sekarang, mutlak di dalam Kristus-Nya sebagai Kemah Suci dan imamat.
Saya yakin Musa gembira menerima loh hukum itu dan menaruh keyakinannya kepada loh hukum itu. Pada saat turun dari gunung, mungkin ia berkata kepada dirinya, “Oh, aku telah memiliki dua loh batu! Pada kedua loh batu itu ada kata-kata yang ditulis oleh tangan Allah.” Tentunya Musa memustikakan loh tersebut yang berisi hukum yang diukir oleh Allah sendiri pada batu.
Musa ada di gunung bersama Allah selama empat puluh hari. Dalam Alkitab empat puluh adalah angka ujian dan cobaan. Misalnya, Tuhan Yesus berpuasa di padang gurun selama empat puluh hari. Saya sangsi apakah anak lembu emas dibuat lebih awal daripada hari ketiga puluh enam Musa di gunung. Mungkin patung itu dibuat selama dua atau tiga hari terakhir, ketika rakyat tidak tahan lagi menunggu Musa kembali. Beberapa dari mereka mungkin berkata, “Orang yang kita hormati, dan yang membawa kita ke luar dari Mesir dan memimpin kita ke tempat ini, telah pergi lebih dari lima minggu. Ia pergi ke gunung, dan kita tidak tahu apa yang telah terjadi pada dirinya. Kita tak dapat menunggu lebih lama lagi.” Boleh jadi pada saat Allah memberi loh itu kepada Musa, sang perantara, rakyat di kaki gunung itu mulai membuat anak lembu emas.
PELANGGARAN HUKUM TAURAT MELALUI PENYEMBAHAN BERHALA
Kini kita sampai pada pelanggaran hukum Taurat (Kel. 32:1-20). Mengapa kita, manusia, tidak dapat mematuhi hukum, dan justru melanggarnya? Jawaban pertanyaan ini meliputi satu prinsip yang penting yaitu, kita melanggar hukum Taurat karena kita memiliki berhala. Setiap orang memiliki berhalanya sendiri. Tidak perlu kita terang-terangan berusaha melanggar hukum Taurat Allah. Asal kita memiliki satu berhala, tiga perintah pertama dari hukum itu sudah kita langgar. Ketiga perintah pertama berhubungan dengan tidak boleh memiliki Allah lain, tidak membuat gambar, dan tidak menyebut nama Tuhan dengan sia-sia. Perintah-perintah tersebut semuanya berhubungan dengan Allah. Perintah keempat mengenai Sabat, dan keenam perintah selanjutnya meliputi hubungan kita dengan orang lain. Ketiga perintah pertama dilanggar oleh setiap orang yang memiliki berhala.
Kita tidak dapat mematuhi hukum Taurat karena kita memiliki berhala. Kalau kita memiliki Allah dan tidak mengizinkan berhala-berhala menggantikan Dia, Allah yang kita nikmati akan menjadi kemampuan kita untuk mematuhi perintah-perintah-Nya. Hasilnya, kita akan mematuhi hukum Allah.
Prinsip ini terlihat dalam tulisan Yohanes. Dalam Injil Yohanes maupun dalam Surat 1Yohanes kita dinasihati untuk mematuhi perintah. Kita sanggup mematuhi nasihat itu karena menurut Perjanjian Baru, kita memiliki Tuhan di dalam kita sebagai kenikmatan kita. Kristus yang berhuni di batin kita yang menjadi kenikmatan kita memang merupakan tenaga untuk mematuhi hukum Taurat, namun kenikmatan atas Kristus itu sendiri merupakan kepatuhan kita terhadap hukum Taurat. Artinya, Kristus yang berhuni di batin kita yang menjadi kenikmatan kita sebenarnya merupakan kepatuhan kita terhadap perintahperintah itu. Tidak perlu kita mencoba mematuhi perintahperintah itu. Kenikmatan kita atas Kristus yang berhuni di batin akan dengan sendirinya menjadi kepatuhan kita terhadap perintah-perintah itu.
Mengapa manusia tidak sanggup mematuhi hukum Taurat? Manusia tidak dapat mematuhi hukum Taurat karena mereka memiliki berhala yang menggantikan Allah. Namun, seperti telah kita tunjukkan, kalau kita memiliki Allah dan tidak mengizinkan berhala-berhala menggantikan Dia, Allah yang kita miliki dan nikmati itu akan menjadi kekuatan untuk mematuhi hukum Taurat. Nyatanya Allah sendiri sebagai kenikmatan kita adalah kepatuhan sejati terhadap hukum Taurat. Kalau kita memiliki Allah di dalam kita sebagai kenikmatan kita, kita tidak akan memiliki allah lain, kita tidak akan membuat gambar dan kita tidak akan menyebut nama Allah dengan sia-sia. Kita akan beristirahat bersama Allah dan menghormati orang tua kita. Selanjutnya kita tidak akan membunuh, berzina, mencuri, berbohong, dan menjadi saksi dusta. Dan kita tidak akan tamak, iri hati. Kita akan mematuhi semua perintah hukum itu dan kepatuhan terhadap hukum itu sebenarnya akan menjadi pengalaman atas Allah yang berhuni di batin kita sebagai kenikmatan kita. Inilah prinsip pertama yang kita lihat sehubungan dengan pelanggaran hukum Taurat dalam Keluaran 31.
Dalam Perjanjian Baru kita melihat bahwa orang-orang Farisi, orang-orang Saduki, dan ahli Taurat adalah para pelanggar hukum Taurat. Mereka melanggar hukum Taurat karena mereka penuh dengan berhala. Namun, murid-murid Tuhan Yesus dapat mematuhi perintah-perintah itu, karena Tuhan telah menjadi kenikmatan mereka. Akhirnya murid-murid itu, termasuk Petrus, Yohanes, dan Yakobus, dipenuhi dengan Tuhan Yesus, dan Ia menjadi kenikmatan mereka. Hasilnya, mereka dengan sendirinya menjadi orang-orang yang mematuhi perintah-perintah itu. Sebelum bani Israel menerima hukum Taurat, mereka telah melanggarnya. Mereka melanggarnya dengan memiliki berhala. Mereka tidak berniat melanggar hukum Taurat itu. Mereka melanggar hukum itu hanya karena fakta mereka memiliki berhala. Sebab itu, prinsip pertama di sini adalah bahwa hukum Taurat Allah dilanggar bilamana orang memiliki berhala.
MEMPERCANTIK DIRI MENGARAH
KEPADA PENYEMBAHAN BERHALA
Prinsip lain yang tersirat dalam bagian Kitab Keluaran ini berhubungan dengan apakah berhala, atau apakah prinsip suatu berhala. Kita melihat prinsip ini dalam Keluaran 32:1-4a, “Ketika bangsa itu melihat bahwa Musa mengundur-undurkan turun dari gunung itu, maka berkumpullah mereka mengerumuni Harun dan berkata kepadanya: ‘Mari buatlah untuk kami allah, yang akan berjalan di depan kami sebab Musa ini, orang yang telah memimpin kami keluar dari tanah Mesir kami tidak tahu apa yang telah terjadi dengan dia.’ Lalu berkatalah Harun kepada mereka: ‘Tanggalkanlah anting-anting emas yang ada pada telinga istrimu, anakmu laki-laki dan perempuan, dan bawalah semuanya kepadaku.’ Lalu seluruh bangsa itu menanggalkan anting-anting emas yang ada pada telinga mereka dan membawanya kepada Harun. Diterimanyalah itu dari tangan mereka, dibentuknya dengan pahat, dan dibuatnyalah dari padanya anak lembu tuangan.”
Di sini kita melihat macam bahan yang dipakai untuk membuat berhala. Suatu berhala, tentu saja pasti terbuat dari suatu bahan. Bahan yang dipakai untuk membuat anak lembu emas dalam Keluaran 30 adalah emas dari anting-anting milik para istri, anak laki-laki dan anak perempuan bani Israel. Boleh jadi satu-satunya golongan yang tidak memakai anting-anting adalah laki-laki tua. Laki-laki tua merupakan suatu kekecualian karena mereka tidak mempedulikan kecantikan. Saya dapat bersaksi bahwa sebagai laki-laki tua, saya tidak tertarik untuk mempercantik diri. Namun, adalah umum bagi muda-mudi dan juga perempuan tua untuk mempercantik diri. Sebab itu, dalam Keluaran 32 anting-anting emas diambil dari telinga para istri, anak laki-laki dan perempuan dan dipakai untuk membuat berhala, anak lembu emas. Orang-orang memakai anting-anting untuk mempercantik diri mereka. Kebudayaan masa kini mementingkan mempercantik diri. Pria dan wanita menghabiskan banyak uang untuk barang-barang yang dipakai untuk mempercantik diri mereka.
Mempercantik diri mengarah kepada penyembahan berhala. Inilah sebabnya Tuhan dalam Keluaran 33:5-6 mengeluarkan suatu perintah kepada bani Israel sehubungan dengan perhiasan, “Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: Katakanlah kepada orang Israel: Kamu ini bangsa yang tegar tengkuk. Jika Aku berjalan di tengah-tengahmu sesaat pun, tentulah Aku akan membinasakan kamu. Oleh sebab itu, tanggalkanlah perhiasanmu, maka Aku akan melihat, apa yang akan Kulakukan kepadamu. Demikianlah orang Israel tidak memakai perhiasan-perhiasan lagi sejak dari gunung Horeb.” Tuhan mengeluarkan perintah mengenai perhiasan ini, karena seperti yang dijelaskan oleh catatan Keluaran 32, mempercantik diri mengarah kepada penyembahan berhala.
Sebelum bani Israel membuat berhala anak lembu emas, sudah ada berhala-berhala di antara mereka dalam bentuk lain, yakni dalam bentuk mempercantik diri. Para istri, anak laki-laki dan perempuan bani Israel mengenakan anting-anting emas pada telinga mereka dengan maksud mempercantik diri. Di sini kita melihat prinsip yang menyatakan bahwa mempercantik diri adalah bentuk pendahuluan suatu berhala. Sebelum emas dibentuk menjadi anak lembu, emas itu sudah ada dalam bentuk yang berbau berhala dari mempercantik diri. Di pandangan Allah, mempercantik diri adalah berhala. Inilah sebabnya Tuhan memerintahkan umat-Nya dalam Keluaran 33:5-6 untuk tidak memiliki perhiasan apa pun. Perhiasan-perhiasan itu adalah berhala dalam bentuk awal. Sebelum umat itu memiliki berhala anak lembu emas, mereka sudah memiliki bentuk awal berhala yang tergantung di telinga mereka.
Kini kita tentunya mampu melihat prinsip suatu berhala. Prinsip berhala adalah mempercantik diri. Sebab itu, berhala adalah wujud puncak mempercantik diri seseorang.
Di Amerika Serikat tidak banyak kuil berhala yang berisi gambar-gambar atau berhala-berhala. Namun, pada rakyat Amerika Serikat ada berhala jenis lain berhala mempercantik diri. Mempercantik diri begitu populer, umum, dan kuat di antara orang-orang di Amerika Serikat. Ini berarti bagi kebanyakan orang Amerika Serikat, mempercantik diri adalah satu bentuk penyembahan berhala. Rakyat di negara yang belum maju tidak mempercantik diri walaupun mereka mungkin memiliki kuil-kuil berhala dari kayu atau batu. Mereka yang hidup dalam kebudayaan modern dan ilmiah, sebaliknya, tidak memiliki berhala macam itu. Namun, mereka memiliki berhala mempercantik diri. Berhala kecantikan dapat ditemukan hampir di setiap tempat di rumah, di kantor, dan di sekolah.
Tahukah Anda apa yang disembah oleh banyak orang Amerika Serikat? Mereka menyembah berhala mempercantik diri. Misalnya, sebelum seorang pemudi pergi bekerja, boleh jadi ia menghabiskan banyak waktu untuk mempercantik dirinya. Bahkan mungkin dia menghabiskan uang lebih banyak untuk hal-hal kecantikan daripada untuk makanan. Penekanan saya di sini ialah menunjukkan fakta bahwa mempercantik diri mengarah kepada penyembahan berhala. Mula-mula bani Israel memakai anting-anting emas untuk mempercantik diri, kemudian anting-anting emas tersebut dibentuk menjadi anak lembu emas oleh Harun.
SATAN (IBLIS) MERAMPAS PEMBERIAN ALLAH
Prinsip lain yang berhubungan dengan penyembahan berhala merupakan perampasan Iblis atas apa yang telah Allah berikan kepada kita dengan maksud membuatnya siasia. Dalam Keluaran 32 bani Israel menyia-nyiakan banyak emas yang telah Allah berikan kepada mereka. Sebelum bani Israel meninggalkan Mesir, Allah membuat orang-orang Mesir memberikan emas dan benda-benda berharga lainnya kepada bani Israel. Emas tersebut dipakai untuk membangun Kemah Suci. Kemah Suci membutuhkan sejumlah besar emas untuk menyalut papan-papan tegak. Allah menaklukkan orang-orang Mesir, dan mereka memberikan emas kepada umat Israel. Namun, sebelum emas ini dipakai untuk membangun tempat kediaman Allah, Iblis datang merampas emas itu dan memakainya untuk membuat berhala. Sebenarnya, sebelum anak lembu itu dibuat, Iblis telah merampas emas itu hingga emas itu dipakai untuk membuat anting-anting. Kalau bani Israel mengasihi Tuhan sampai puncaknya, mereka tidak mungkin memakainya untuk dibuat anting-anting. Sebaliknya mereka akan menyimpannya untuk dipakai Tuhan.
Dalam Keluaran 35, umat Israel diperintahkan mempersembahkan emas dan bahan-bahan lain untuk pembangunan Kemah Allah. Bahan pertama yang dipersembahkan untuk tempat kediaman Allah adalah emas. Namun, dalam Keluaran 32, sejumlah besar emas dipakai untuk membuat anak lembu. Tidak diragukan, anak lembu emas bukanlah benda yang kecil, melainkan cukup besar. Sejumlah besar emas tersia-sia untuk membuat anak lembu emas.
Allah memberi kita banyak benda bukan untuk mempercantik diri, melainkan untuk penyembahan kita kepada Allah dan untuk memuliakan Dia. Namun, sebelum kita memakai benda-benda ini untuk menyembah dan memuliakan Allah, musuh telah datang merampas apa yang Allah berikan kepada kita dan menyia-nyiakannya. Inilah prinsip kedua penyembahan berhala, hal ini sangat bersalah kepada Allah.
PENYEMBAHAN TERHADAP KENIKMATAN
Prinsip lain tersirat dalam fakta bahwa umat Israel tidak membuat gambar Musa, gambar kuda, atau gambar binatang yang lain. Mereka membuat anak lembu emas. Anak lembu bukanlah untuk bekerja, melainkan untuk dinikmati, khususnya untuk dimakan. Baik dalam Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru, anak lembu dipakai untuk menjamu tamu. Dalam Kejadian 18, Abraham mengolah anak lembu tambun untuk tamu-tamunya, dan pada perumpamaan dalam Lukas 15, sang ayah menyuruh menyembelih anak lembu tambun ketika anak yang hilang itu kembali. Sebab itu, anak lembu melambangkan kenikmatan. Orang-orang yang mempercantik diri mereka dalam Keluaran 32 menyukai kenikmatan. Kenikmatan adalah berhala mereka. Begitu pula hari ini banyak orang menyembah anak lembu, yaitu kenikmatan mereka.
Penafsiran makna anak lembu ini dipertegas oleh Keluaran 32:6, “Dan keesokan harinya pagi-pagi maka mereka mempersembahkan kurban bakaran dan kurban keselamatan, sesudah itu duduklah bangsa itu untuk makan dan minum; kemudian bangunlah mereka dan bersukaria.” Setelah anak lembu itu dibuat, bangsa itu makan, minum, dan bersukaria, C.A. Coates mengatakan mereka berolahraga. Pada akhir pekan banyak orang di negara ini hanya mempedulikan makan, minum, dan berolahraga. Menurut ayat 18, Musa mendengar suara nyanyian dan menurut ayat 19, ia “melihat anak lembu dan melihat orang menari-nari.” Selain makan, minum, dan berolahraga, orang-orang itu menyanyi dan menari. Semuanya terjadi di depan anak lembu emas. Gambar di sini menunjukkan bahwa anak lembu itu melambangkan kenikmatan dan bani Israel menyembah apa yang mereka nikmati.
PURA-PURA MENYEMBAH ALLAH YANG SEJATI
Namun, ada prinsip lainnya, yakni bahwa penyembahan berhala adalah kepura-puraan. Setiap penyembahan berhala pura-pura menyembah Allah yang sejati. Ayat 4 mengatakan, “Kemudian berkatalah mereka: Hai Israel, inilah Allahmu, yang telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir.” Ayat 5 mengatakan bahwa ketika Harun melihat hal itu, “Didirikannyalah mezbah di depan anak lembu itu. Berserulah Harun, katanya: “Besok hari raya bagi TUHAN!” Dan keesokan harinya pagi-pagi maka mereka mempersembahkan kurban bakaran dan kurban keselamatan” (ayat 6). Kurban dan cara penyembahannya benar, namun sasaran penyembahannya salah. Bani Israel telah mengubah sasaran penyembahan mereka dari Allah yang sejati kepada berhala. “Mereka membuat anak lembu di Horeb, dan sujud menyembah kepada patung tuangan; mereka menukar Kemuliaan mereka dengan bangunan sapi jantan yang makan rumput” (Mzm. 106:19-20). TUHAN Allah adalah kemuliaan mereka, tetapi mereka menukar kemuliaan mereka dengan sapi jantan yang makan rumput. Ini sangat mirip dengan yang digambarkan dalam Roma 1:23, “Mereka menggantikan kemuliaan Allah yang tidak fana dengan gambaran yang mirip dengan manusia yang fana, burung-burung, binatang-binatang yang berkaki empat atau binatang-binatang melata.” Namun demikian, setiap penyembah berhala mengaku bahwa berhala yang disembahnya adalah Allah yang sejati.
CAMPURAN DALAM PENYEMBAHAN
Prinsip lain yang berhubungan dengan berhala adalah ada campuran dalam penyembahan. Prinsip ini dapat diterapkan pada kekristenan hari ini. Banyak orang Kristen menyembah anak lembu, namun mereka mengira bahwa mereka menyembah Tuhan Yesus atau Allah yang sejati. Sebenarnya apa yang mereka sembah adalah kenikmatan mereka. Banyak penyembahan orang Kristen saat ini merupakan perkara duduk makan dan minum serta berolahraga, menyanyi, dan menari mengelilingi semacam kenikmatan, mengelilingi anak lembu emas. Beberapa guru Brethren (Kaum Saudara) menunjukkan hal ini dengan sangat jelas. Mereka mengatakan penyembahan anak lembu emas di kaki Gunung Sinai adalah campuran, karena anak lembu disembah seperti Allah dengan kurban dan cara penyembahan yang benar. Kurban dan cara penyembahannya benar, tetapi sasaran penyembahannya salah. Inilah yang kita maksudkan dengan campuran.
Kita tidak seharusnya hanya memperhatikan cara orang lain menyembah. Kita perlu mempertanyakan penyembahan kita sendiri. Murnikah penyembahan kita atau adakah campuran di dalamnya? Campuran dalam penyembahan berhubungan dengan kenikmatan yang berasal dari mempercantik diri.
Seperti telah kita lihat, penyembahan berhala melibatkan lima prinsip: mempercantik diri, perampasan Iblis atas pemberian Allah dan membuatnya sia-sia, penyembahan hal-hal yang kita nikmati, pura-pura menyembah Allah yang sejati, dan campuran dalam penyembahan.
BERHALA-BERHALA YANG DIBUAT
OLEH ORANG BERKARUNIA
Harun bukanlah Bileam; ia adalah imam besar yang sejati, sepenanggungan dengan Musa. Ia adalah orang yang memegang pimpinan di antara umat Allah. Namun, orang semacam ini pun dapat membuat berhala. Jangan mengira Harun bisa melakukan hal itu dan kita tidak bisa. Setiap pemimpin dalam gereja bisa melakukan hal tersebut. Itulah sebabnya saya selalu takut dan gentar, kalau-kalau saya membuat berhala. Kita semua perlu hati-hati mengenai hal ini, khususnya mereka yang berkemampuan, berkarunia, dan berbakat.
Keluaran 32:4 mengatakan, Harun mengambil emas dan “dibentuknya dengan pahat, dan dibuatnyalah dari padanya anak lembu tuangan.” Tidaklah mudah mengambil setumpuk emas dan membentuknya menjadi anak lembu. Harun memakai alat pengukir untuk merampungkannya. Kita telah melihat bahwa prinsip dasar berhala adalah mempercantik diri. Kalau suatu berhala tidak dipercantik, siapa yang mau menyembahnya? Penekanannya di sini ialah diperlukan ketrampilan untuk membentuk emas menjadi anak lembu. Namun, setiap pembuat berhala, seperti Harun, berkemampuan, berkekuatan, berkarunia, dan berbakat. Siapa yang tahu jumlah pembuat berhala yang cakap di antara orang Kristen hari ini? Para tukang tersebut berpengetahuan, berbudaya, cakap, dan berkemampuan. Sementara orang lain tidak mampu membuat berhala karena tidak cakap, orang-orang tersebut mampu membentuk emas menjadi berhala. Mereka tahu bagaimana membuat berhala yang indah. Kadang-kadang saya bertanya kepada diri sendiri, “Apa yang kaulakukan di sini? Apakah engkau sedang membuat berhala? Apakah engkau mempercantik pekerjaanmu untuk disembah orang lain?” Saya takut kalau-kalau saya membuat semacam berhala.
Penting untuk diketahui bahwa anak lembu emas dibuat oleh Harun, imam besar Allah. Bahkan, dia membuat anak lembu itu dengan nama TUHAN, dan memimpin umat Israel menyembah berhala itu dengan cara mempersembahkan kurban kepada Allah dan menyembah Allah. Ketika Musa turun, dan menanyai Harun tentang apa yang telah dilakukannya, Harun berdusta. Harun mengatakan, ia mengambil emas itu dan melemparkannya ke dalam api, lalu keluarlah anak lembu emas. Seakan-akan Harun berkata kepada Musa, “Jangan salahkan aku, Musa. Aku hanya melemparkan emas itu ke dalam api lalu keluarlah anak lembu emas.” Berhala itu tentu saja dibuat oleh Harun. Dialah contoh seorang pembuat berhala.
Saya harap mata kita terbuka untuk melihat keadaan yang penuh berhala di antara banyak orang Kristen saat ini. Menurut Anda, tak adakah pemimpin di kalangan Kristen yang menjadi pembuat berhala? Saya harap tak satu pun dari pemimpin Kristen saat ini merupakan pembuat berhala. Kalau keadaannya demikian, saya sungguh-sungguh bersyukur kepada Allah dan menyembah Dia karena hal ini. Saya akan memuji Tuhan karena tidak ada pekerja Kristen yang menjadi pembuat berhala. Namun, Tuhan tahu bahwa hari ini banyak Harun, banyak pemimpin Kristen yang cakap telah membuat berhala. Harun-Harun ini bukanlah nabi palsu atau nabi orang kafir seperti Bileam. Mereka adalah imam-imam sejati yang ditunjuk Allah. Namun, mereka membuat berhala dalam nama Allah yang mereka layani, dan mereka mengajar orang lain menyembah berhala-berhala itu dengan kurban yang seharusnya dipersembahkan kepada Allah, dan dengan cara menyembah Allah. Ini merupakan campuran, dan sangat licik.
Kalau Anda terpaksa berdebat dengan salah satu Harun hari ini mengenai hal ini, mungkin ia akan berkata, “Kami tidak menyembah berhala. Kami menyembah Tuhan, kami berpesta dengan Dia, dan kami mempersembahkan kurban bakaran dan kurban keselamatan kepada-Nya. Bagaimana Anda dapat mengatakan kami menyembah berhala?” Ya, segalanya mungkin serupa, sepertinya Allahlah yang sebenarnya disembah. Namun, sesungguhnya Allah bukanlah sasaran penyembahan. Sebaliknya, ada anak lembu emas sebagai pengganti Allah yang sejati. Semula anak lembu itu adalah emas untuk mempercantik diri, tetapi kini, emas itu telah berubah bentuk dan telah dibuat menjadi anak lembu.
Karena di antara bani Israel ada berhala, mereka melanggar hukum Taurat tanpa sadar dan secara tak sengaja. Harun mungkin telah mengatakan bahwa mereka tidak bermaksud melanggar hukum. Walaupun tak satu pun dari mereka bermaksud begitu, hukum Taurat tetap sudah dilanggar. Ketika Musa melihat keadaan yang berbau berhala di tengah bangsa itu, menyalalah amarah dalam batinnya. Karena tak dapat mengendalikan diri, “Dilemparkannyalah kedua loh itu dari tangannya dan dipecahkannya pada kaki gunung itu” (ayat 19). Musa adalah penengah yang Allah pakai dalam pemberian hukum Taurat. Sewaktu ia melemparkan loh itu dari tangannya dan memecahkannya, seluruh hukum Taurat itu hancur, binasa. Dalam sebuah berita yang akan datang akan kita lihat bagaimana Musa menanggulangi para penyembah berhala itu.
Satu hal penting dalam berita ini ialah bahwa Allah tidak memberikan hukum Taurat kepada bani Israel dengan harapan mereka akan mampu mematuhinya. Maksud Allah dalam memberikan hukum Taurat adalah agar umat-Nya sadar bahwa mereka tidak mampu mematuhi hukum Taurat itu. Mereka tidak dapat berbuat apa-apa selain melanggar hukum Taurat. Dengan menyembah anak lembu emas, mereka telah melanggar hukum Taurat Allah.