HUBUNGAN HARI SABAT DENGAN PEKERJAAN PEMBANGUNAN KEMAH SUCI
Pembacaan Alkitab: Kel. 31:12-17
Dalam Keluaran 31:12-17, setelah catatan yang panjang mengenai pembangunan tempat kediaman Allah, ada pengulangan perintah untuk memelihara hari Sabat. Kita semua tahu bahwa memelihara hari Sabat adalah salah satu dari Kesepuluh Perintah, perintah keempat. Kita semua perlu mencari tahu mengapa perintah khusus ini diulangi setelah catatan mengenai wahyu lengkap tentang tempat kediaman Allah. Ayat terakhir dari pasal 31, ayat 18, memberi tahu kita bahwa Tuhan memberi Musa dua loh kesaksian, loh batu, ditulis dengan jari Allah. Ayat ini mengakhiri bagian yang panjang yang berawal dari Keluaran 20. Ketika Tuhan memanggil Musa untuk naik ke atas gunung, Tuhan pertama-tama memberi Musa hukum itu. Kemudian Dia memberi Musa wahyu mengenai pembangunan tempat kediaman-Nya di bumi. Dalam bagian ini kita melihat rancangan Kemah Suci dan perkakasnya, dan suatu wahyu yang lengkap mengenai keimaman. Ada juga sebuah catatan mengenai pembangun-pembangun Kemah Suci. Setelah semua ini, Tuhan mengulangi permintaan mengenai memelihara hari Sabat. Keenam ayat mengenai memelihara hari Sabat, Keluaran 31:12-17, disisipkan antara ayat 11 dan 18 dari pasal ini. Apakah alasan untuk penyisipan ini? Alasan untuk pengulangan catatan mengenai hari Sabat setelah tugas pekerjaan membangun Kemah Suci, ialah perkara pertama yang perlu kita lihat dalam berita ini (lihat Kel. 20:8-11).
Fakta bahwa penyisipan mengenai hari Sabat ini menyusul tugas pekerjaan membangun Kemah Suci, menunjukkan bahwa Tuhan memberi tahu pembangun-pembangun ini, pekerja-pekerja ini, untuk belajar beristirahat bersama Dia. Mereka tidak seharusnya bekerja dan lupa beristirahat bersama Tuhan. Karena itu, dalam menugaskan mereka untuk melakukan pekerjaan membangun tempat kediaman-Nya, Tuhan mengingatkan mereka kembali bahwa karena mereka bekerja bagi-Nya, mereka harus belajar beristirahat bersama-Nya. Jika kita hanya tahu cara bekerja bagi Tuhan, tetapi tidak tahu cara beristirahat bersama-Nya, kita bertindak bertentangan dengan prinsip ilahi.
Telah banyak perdebatan di antara orang-orang Kristen tentang hari Sabat, terutama apakah hari Sabat harus ditetapkan pada hari ketujuh atau hari kedelapan. Orang Advent hari ketujuh mendesak untuk memelihara hari Sabat pada hari ketujuh. Sebenarnya prinsip Sabat bukanlah perkara harus memeliharanya pada hari apa. Prinsip hari Sabat ialah orang yang bekerja bersama Tuhan harus belajar bagaimana memiliki perhentian (sabat) bersama Dia.
MAKNA HARI SABAT
Ada orang mungkin berpendapat bahwa makna hari Sabat ialah hanya berhenti bekerja. Ini bukanlah makna sebenarnya dari hari Sabat dalam Alkitab. Alkitab menekankan fakta bahwa Allah beristirahat pada hari ketujuh. Kejadian 2:2 mengatakan, “Ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya itu, berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu.”
Menurut Kitab Kejadian, bagi Allah hari Sabat ialah hari ketujuh, tetapi bagi manusia ialah hari pertama. Dalam enam hari Allah menciptakan langit, bumi, dan segala sesuatu yang diperlukan manusia untuk hidup bagi penggenapan tujuan Allah. Setelah semuanya dibuat, manusia diciptakan pada hari keenam. Ini berarti begitu manusia jadi dari tangan penciptaan Allah, hari pertamanya, yang adalah hari ketujuh Allah, baru dimulai. Jadi apa yang merupakan hari ketujuh bagi Allah, merupakan hari pertama bagi manusia. Maknanya ialah bahwa bagi Allah hari Sabat adalah peristirahatan setelah bekerja, tetapi bagi manusia ialah beristirahat dulu barulah bekerja. Allah pertama-tama bekerja selama enam hari dan kemudian Dia beristirahat pada hari ketujuh. Namun, manusia beristirahat pada hari pertama dan kemudian mulai bekerja.
Penyegaran bagi Allah
Saya gembira karena Keluaran 31:17 memberi tahu kita bahwa “pada hari yang ketujuh Ia berhenti bekerja dan menyegarkan diri-Nya” (Tl.). Ini menyatakan bahwa hari Sabat tidak hanya merupakan perhentian bagi Allah, tetapi juga suatu penyegaran bagi-Nya. Kitab Kejadian maupun Keluaran memberi tahu kita bahwa Allah berhenti bekerja pada hari yang ketujuh. Namun, dalam Keluaran 31:17 kata-kata “menyegarkan diri-Nya” ditambahkan. Ini menya-takan bahwa Tuhan pun membutuhkan penyegaran.
Beristirahat ialah satu hal, tetapi disegarkan ialah sesuatu yang lebih maju. Bagi kita, berhenti bekerja tidak membutuhkan apa-apa secara khusus. Cukup duduk atau berbaring. Namun, agar disegarkan kita perlu sesuatu untuk dimakan atau diminum. Kita sering menunjuk pada makanan dan minuman sebagai penyegar. Masalahnya di sini ialah, jika kita ingin disegarkan, kita perlu sesuatu menjadi penyegar kita. Sama halnya dengan diri Allah. Allah perlu sesuatu untuk menyegarkan-Nya. Tahukah Anda apakah penyegar Allah? Apakah yang menyegarkan Allah?
Mungkin Anda telah membaca Keluaran 31 beberapa kali tanpa terkesan oleh kenyataan bahwa Allah perlu disegarkan. Saya dapat bersaksi bahwa saya telah menerangkan Kitab Keluaran bukan hanya satu kali, tetapi hanya baru-baru ini saya melihat arti kata “menyegarkan diri” dalam Keluaran 31:17. Alkitab menyatakan bahwa setelah pekerjaan penciptaan Allah selesai, Dia berhenti bekerja dan disegarkan. Dalam hal apa Allah berhenti bekerja? Dia berhenti bekerja dari penciptaan-Nya. Sebagai ilustrasi, misalnya seorang ahli menghabiskan waktu yang panjang membuat bangku yang sangat istimewa. Ketika pekerjaannya selesai, dia bisa beristirahat di bangku yang sangat istimewa yang ia buat itu, menikmatinya dan merenungkannya. Saya sering mengalami istirahat yang demikian setelah menyelesaikan pekerjaan menulis saya. Setelah saya selesai menulis sesuatu, saya akan duduk-duduk, melihat-lihat apa yang telah saya tulis, dan menikmatinya. Saya benar-benar menikmati terang yang telah saya terima dari Tuhan melalui firman-Nya. Serupa dengan itu, saudari-saudari yang membuat pakaian, mungkin menikmati istirahat yang baik setelah mereka selesai membuat pakaian khusus. Dengan prinsip yang sama, setelah Allah menciptakan manusia, Dia beristirahat. Dia boleh jadi melihat-lihat pekerjaan tangan-Nya, di langit, di bumi, dan semua mahluk hidup, terutama manusia, dan berkata, “Sungguh amat baik!” Kemudian Allah dapat beristirahat dan disegarkan.
Dengan apa Allah disegarkan? Allah disegarkan dengan manusia. Manusia adalah kesegaran Allah. Allah mencintai manusia. Dia menciptakan manusia menurut gambar-Nya sendiri dan memberi roh kepada manusia, sehingga manusia dapat bersekutu dengan Dia. Karena itu, manusia merupakan kesegaran Allah.
Menurut Kejadian 2:18, Allah berkata, “Tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.” Kata-kata ini mempunyai makna dalam perlambangan, menyatakan bahwa tidak baik bagi Allah tinggal seorang diri. Sebelum Allah menciptakan manusia, Allah dapat disamakan sebagai seorang bujang. Beberapa orang mungkin mengkritik kita karena menggunakan kata “bujang” untuk membicarakan Allah yang kudus. Namun, saya percaya bahwa Allah bahagia mendengar kata ini digunakan dengan hormat kepada-Nya sendiri. Mungkin Allah berkata, “Anak-Ku, kata ini menyentuh hati-Ku. Aku benar-benar seorang bujang sebelum Aku menciptakan manusia.” Alkitab menyatakan bahwa dalam kekekalan yang lampau, Allah adalah seorang “bujang”. Namun, dalam kekekalan yang akan datang Dia akan mempunyai istri, Yerusalem Baru yang disebut Mempelai Anak Domba (Why. 21:9-10). Karena itu, menurut wahyu Alkitab, Yerusalem Baru ialah mempelai Anak Domba. Saya mempunyai keberanian untuk menggunakan kata “bujang” dengan hormat kepada Allah.
Ketika Allah melihat manusia yang diciptakan oleh-Nya, Dia dapat berhenti bekerja dan disegarkan. Manusia ibarat dengan minuman yang segar untuk melepaskan dahaga Allah dan memuaskan Dia. Ketika Allah mengakhiri pekerjaan-Nya dan beristirahat, Dia mempunyai manusia sebagai kawan-Nya. Bagi Allah, hari ketujuh adalah hari perhentian dan penyegaran. Namun, bagi manusia, kawan Allah, hari perhentian dan penyegaran adalah hari pertama. Hari pertama manusia adalah hari kenikmatan.
Prinsip Ilahi
Adalah prinsip ilahi bahwa Allah tidak meminta kita untuk bekerja sebelum kita memperoleh kenikmatan. Allah pertama-tama menyuplai kita dengan kenikmatan. Kemudian setelah kita dengan Dia mempunyai kenikmatan yang penuh terhadap-Nya, kita boleh bekerja bersama Dia. Jika kita tidak tahu bagaimana mempunyai kenikmatan bersama Allah dan bagaimana menikmati Allah sendiri, kita tidak akan tahu bagaimana bekerja sama dengan Dia. Kita tidak akan tahu bagaimana menjadi satu dengan Allah dalam pekerjaan ilahi-Nya. Kita benar-benar menekankan perkara bekerja sama dengan Allah, tetapi tidak bekerja untuk Allah dengan kekuatan kita sendiri. Ya, kita harus bekerja dengan Allah dan oleh Allah. Namun, menurut apa yang Alkitab wahyukan bahkan tidak cukup hanya bekerja sama dengan Allah. Kita perlu menjadi satu dengan Allah dalam pekerjaan-Nya. Ini menuntut agar kita menikmati Dia. Jika kita tidak tahu bagaimana menikmati Allah dan dipenuhi dengan Allah, kita tidak akan tahu bagaimana bekerja sama dengan Dia, bagaimana menjadi satu dengan Dia dalam pekerjaan-Nya.
Ilustrasi yang sangat baik dari prinsip ini terdapat dalam Perjanjian Baru. Ministri Perjanjian Baru para rasul dimulai dengan kenikmatan yang mereka alami pada hari Pentakosta. Murid-murid itu tidak bekerja selama enam hari dan kemudian menikmati Tuhan pada hari Pentakosta. Situasi sebenarnya ialah Tuhan telah menyuruh mereka menunggu sampai Roh datang ke atas mereka untuk memenuhi mereka. Dengan apa murid-murid-Nya dipenuhi ketika mereka dipenuhi dengan Roh? Tidak salah, mereka dipenuhi dengan kenikmatan akan Tuhan. Karena mereka dipenuhi dengan Roh, orang lain mengira mereka mabuk anggur. Sebenarnya mereka dipenuhi dengan kenikmatan anggur surgawi. Hanya setelah mereka dipenuhi dengan kenikmatan ini, mereka dapat mulai bekerja bersama Allah. Inilah cara bekerja sama dengan Allah, cara bekerja dalam kesatuan dengan Dia. Ketika Petrus berdiri bersama rasul-rasul untuk memberitakan Injil dan karena itu me-lakukan pekerjaan bagi Allah, mereka semua bersatu dengan Allah dalam pekerjaan-Nya.Hari Pentakosta adalah hari pertama dari satu minggu. Pentakosta berarti hari kelima puluh setelah satu periode dari tujuh minggu, atau empat puluh sembilan hari. Kita mengetahui dari Imamat 23 bahwa hari Pentakosta adalah lima puluh hari setelah hari raya tuaian. Ini berarti Pentakosta adalah hari pertama dari minggu kedelapan. Karena itu, mengenai hari Pentakosta, kita melihat prinsip hari pertama.
Bagi manusia, hari perhentian selalu hari pertama. Menurut Perjanjian Lama, hari perhentian manusia adalah hari pertama. Demikian pula menurut Perjanjian Baru, hari kedelapan, hari istirahat bagi manusia, juga hari pertama.
Menurut prinsip dalam Perjanjian Lama, hari perhentian manusia adalah hari setelah pekerjaan Allah selesai. Manusia tidak beristirahat setelah pekerjaannya sendiri selesai; manusia beristirahat setelah rampungnya pekerjaan Allah dan menikmatinya. Allah bekerja, manusia menikmati. Manusia menikmati apa yang telah Allah selesaikan dalam pekerjaan-Nya. Begitu manusia diciptakan, dia membutuhkan udara untuk bernafas dan air untuk minum. Allah telah menciptakan langit, atmosfer, pada hari kedua, sebab Dia tahu tanpa udara manusia takkan dapat hidup. Dia juga menyiapkan air dan makanan bagi manusia. Inilah sebabnya hari ketujuh dijadikan hari istirahat bagi Tuhan. Dia telah bekerja selama enam hari untuk membuat segala-galanya siap dinikmati manusia. Ketika manusia muncul dari tangan penciptaan Allah, hari pertamanya adalah hari ketujuh Allah. Karena itu dia mengalami kenikmatan bersama Allah, dia tinggal bersama Allah, dia berjalan bersama Allah dan akhirnya dia siap bekerja sama dengan Allah. Allah telah menempatkannya di Taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu (Kej. 2:15). Mungkin setelah menikmati istirahat bersama Allah pada hari pertamanya, Adam mengurus Taman Eden selama enam hari yang lain. Kemudian hari kedelapannya, hari pertama yang lain, dia beristirahat kembali bersama Allah. Ini adalah siklus yang akan terus berulang-ulang dengan masa beristirahat dan bekerja. Bagi Allah ialah masalah bekerja dan beristirahat, bagi manusia ialah masalah beristirahat dan bekerja.
Setelah Allah memberikan wahyu mengenai Kemah Suci dan perabotannya, dan setelah Allah memilih pembangun-pembangun dan memberikan Musa tugas sehubungan dengan itu, Dia berbicara lagi mengenai hari Sabat. Sepertinya Allah berkata, “Jangan lupakan hari Sabat-Ku. Jangan berdalih bahwa kamu tidak mengerjakan urusanmu sendiri, tetapi melakukan pekerjaan ilahi. Kamu tidak bo-leh berpikir bahwa karena kamu bekerja untuk membangun tempat kediaman-Ku, kamu boleh bekerja setiap hari terus-menerus. Tidak, bahkan dalam melakukan pekerjaan ilahi-Ku, bekerja membangun Kemah Suci, kamu masih harus melakukan sesuatu yang menandakan bahwa kamu adalah umat-Ku dan kamu membutuhkan Aku. Karena itu, kamu harus menikmati Aku dahulu. Kemudian kamu baru dapat bekerja, tidak hanya bagi Aku, tetapi juga bersama-Ku, dan dengan menjadi satu dengan Aku. Aku akan menjadi kekuatanmu untuk bekerja dan tenagamu untuk berusaha. Namun, jika kamu bekerja di dalam dirimu sendiri dan olehmu sendiri, itu akan merupakan penghinaan bagi-Ku. Kamu harus melakukan pekerjaan membangun tempat kediaman-Ku bersama-Ku, oleh-Ku, dan dalam kesatuan dengan-Ku. Aku akan sangat senang jika kamu bekerja dengan cara ini. Namun, jika kamu mencoba berbuat baik bagi-Ku dengan dirimu sendiri, mengesampingkan Aku, itu akan merupakan penghinaan bagi-Ku, karena itulah tanda umat Iblis. Kamu adalah umat-Ku, dan kamu harus melakukan sesuatu yang menandakan bahwa kamu membutuhkan Aku sebagai kenikmatanmu, kekuat-anmu, dan tenagamu. Kamu membutuhkan Aku sebagai segala-galamu sehingga kamu dapat bekerja bagi-Ku. Dengan bekerja secara ini kamu menghormati-Ku dan memuliakan-Ku. Inilah melakukan sesuatu yang menandakan bahwa kamu adalah umat-Ku.”
Tanda bahwa Kita Bersatu dengan Allah
Kita semua perlu belajar pelajaran dasar mengenai hari Sabat. Ketika saya muda, saya berdebat dengan orang-orang lain tentang hari mana, hari kedelapan atau hari ketujuh, yang harus diperingati sebagai hari Sabat. Sekarang saya ingin katakan bahwa perdebatan seperti itu sama sekali tidak berguna. Hari Sabat berarti bahwa sebelum kita bekerja bagi Allah, kita perlu menikmati Allah dan dipenuhi dengan Dia. Jika kita telah menikmati Allah dan jika kita telah dipenuhi dengan Allah, kemudian kita siap bekerja bagi Dia. Pekerjaan ini tidak boleh oleh diri kita sendiri, melainkan harus oleh Allah. Perhatikan keadaan Petrus pada hari Pentakosta. Ketika Petrus berdiri untuk memberitakan Injil, dia tidak berbicara dari dirinya sendiri. Dia memberitakan dari Allah sendiri yang telah memenuhinya. Dalam memberitakan Injil, Petrus tidak kosong. Dia memberitakan Injil dengan Allah yang memenuhinya dengan Roh. Karena itu, Petrus memiliki tanda bahwa dia adalah sekerja Allah, dan pemberitaan Injilnya merupakan kehormatan dan kemuliaan bagi Allah.
Orang-orang dunia semuanya bekerja berdasarkan diri mereka sendiri. Mereka tidak memiliki tanda pada diri mereka yang menyatakan bahwa mereka milik Allah. Mereka tidak menikmati Allah, mereka tidak beristirahat bersama Allah, dan mereka tidak bekerja sama dengan Allah. Keadaan kita sangat berbeda, sebab kita memiliki tanda. Tanda apakah yang kita bawa? Tanda itu ialah bahwa kita beristirahat bersama Allah, menikmati Allah, dan dipenuhi dengan Allah dulu, baru kemudian kita bekerja dengan Sang yang memenuhi kita. Selanjutnya, kita tidak hanya bekerja dengan Allah, tetapi juga bekerja sebagai orang yang bersatu dengan Allah.
Saya dapat bersaksi bahwa setiap kali saya berdiri untuk memberitakan firman, doa saya yang unik ialah bahwa saya ingin menjadi satu dengan Tuhan dalam perkataan saya. Saya berdoa berulang-ulang, “Tuhan, dalam pembicaraanku, aku ingin berlatih menjadi satu roh dengan-Mu, sehingga perkataanku adalah perkataan-Mu. Tuhan haruslah Engkau berbicara dalam perkataanku. Jika Engkau tidak bersatu denganku, aku tak dapat berbicara apa-apa. Aku takkan pernah berbicara dalam diriku yang kosong. Itu akan merupakan hujat kepada-Mu, dan penghinaan bagi-Mu. Tuhan, aku akan berbicara tidak hanya bersama-Mu, tetapi juga dengan menjadi satu dengan-Mu. Orang-orang yang mendengar haruslah terkesan bahwa sementara aku berbicara, Engkau bersatu denganku. Tuhan, perkataanku tidak saja mencakup praktek dari pihakku, bahwa aku menjadi satu roh dengan Engkau; juga mencakup praktek di pihak Engkau, yaitu Engkau satu roh denganku.” Jika kita berbicara demikian, itu benar-benar merupakan suatu kehormatan dan kemuliaan bagi Tuhan! Ini adalah tanda hari Sabat. Dalam perkataan saya, saya selalu mencari kesempatan untuk mengemban tanda bahwa Tuhan saya adalah Sabat saya. Dia adalah istirahat saya, kesegaran saya, tenaga saya, kekuatan saya, dan segala-gala saya untuk memberitakan firman.
Dalam Keluaran 31:12-17 kita melihat bahwa pembangun-pembangun Kemah Suci diminta untuk tidak mulai bekerja sampai mereka telah beristirahat bersama Tuhan dan telah disegarkan. Kemudian mereka dapat bekerja bagi Dia dan bersama Dia. Namun, pekerjaan ini tidak akan berlanjut terus-menerus. Sebaliknya, akan merupakan pekerjaan berupa enam hari bekerja dan satu hari beristirahat. Pada setiap giliran permulaannya adalah hari istirahat diikuti dengan enam hari bekerja. Kemudian akan ada giliran lain yang dimulai dengan istirahat dan diteruskan dengan bekerja. Kita telah menekankan bahwa bagi Allah, Sabat adalah hari ketujuh dan bagi manusia, Sabat adalah hari pertama; bahwa Allah bekerja bagi kenikmatan dan istirahat manusia; dan bahwa manusia menikmati apa yang telah Allah selesaikan dalam pekerjaan-Nya supaya bekerja bersama Allah. Manusia pada hari pertamanya menikmati apa yang Allah rampungkan dalam enam hari sebelumnya. Kemudian enam hari berikutnya manusia bekerja bersama Allah. Setelah enam hari manusia kembali menikmati apa yang telah Allah lakukan, dan kemudian dia bekerja kembali pada enam hari berikutnya. Ini terjadi seperti siklus. Siklus ini merupakan tanda bahwa kita bersatu dengan Allah.
Suatu Perjanjian Abadi
Memelihara hari Sabat juga adalah suatu persetujuan atau perjanjian. Ketika mulai memelihara hari Sabat, ini menandakan bahwa kita telah menandatangani persetujuan, suatu kontrak, yang meyakinkan Allah bahwa kita akan menjadi satu dengan Allah secara demikian. Kita akan menjadi satu dengan-Nya dengan pertama-tama menikmati Dia dan kemudian bekerja bagi Dia, bersama Dia, dan dalam kesatuan dengan Dia. Ini adalah perjanjian abadi. Tidak hanya untuk satu abad, zaman, atau generasi. Ini merupakan persetujuan kekal antara kita dengan Allah.
Perjanjian lebih kuat daripada persetujuan (agreement). Perjanjian lebih kuat daripada janji (promise), dan janji lebih kuat daripada kata-kata biasa. Allah menginginkan kita menandatangani kontrak dengan Dia yang meyakinkan Dia bahwa sejak sekarang, kita akan menikmati Dia dan dipenuhi dengan Dia sebelum kita pergi bekerja untuk Dia, dengan Dia, dan dalam kesatuan dengan Dia. Sekali kita menandatangani kontrak demikian dengan Allah dan memberi Tuhan jaminan bahwa kita bermaksud menepatinya, kita tak boleh membatalkan kontrak itu. Jika kita membatalkan persetujuan kita dengan Allah, Dia bisa membawa kita ke pengadilan surgawi dan menyalahkan kita karena tidak menepati kontrak kita. Penting untuk kita ketahui bahwa hari Sabat dalam hubungannya dengan pekerjaan membangun Kemah Suci ialah suatu tanda, suatu perjanjian kekal, suatu perjanjian yang tidak dapat berubah.
Adalah perkara yang serius, bekerja bagi Tuhan dengan diri kita sendiri tanpa berdoa kepada-Nya dan tanpa bersandar kepada-Nya. Sebenarnya, apa yang kita perlukan tidak hanya percaya kepada Tuhan, tetapi juga menerima Dia masuk dan menikmati Dia dengan jalan memakan Dia. Pada hari Pentakosta, Petrus tidak hanya percaya kepada Tuhan, dia juga dipenuhi dengan Tuhan, bahkan minum Dia. Tidakkah Anda percaya bahwa ketika Petrus berbicara, dia sedang minum Tuhan dan makan Dia? Ini berarti bahwa sementara Petrus memberitakan Yesus, di dalamnya ia sedang mengambil bagian atas Yesus. Kenyataannya, dia memberitakan apa yang telah dan sedang dia makan. Dia bersaksi tentang yang telah dia nikmati. Petrus telah menandatangani persetujuan dengan Tuhan. Ia telah membuat perjanjian dengan Dia. Kedua pihak, Tuhan dan Petrus, harus memelihara bagian mereka atas persetujuan itu. Jika Petrus sedang makan Tuhan dan Tuhan meninggalkan dia, berarti Tuhan telah melanggar kontrak. Namun, jika Dia menyuplai Petrus dengan segala yang Petrus perlukan, dan Petrus berbalik dari Tuhan, Petrus telah melanggar kontrak. Masalah yang paling penting ialah bahwa Sabat adalah tanda dan juga perjanjian, kontrak, persetujuan.
Perkara Pengudusan
Sabat juga adalah perkara pengudusan. Hari Sabat menguduskan kita, mengangkat kita, dan menandai kita. Ketika kita menikmati Tuhan dan kemudian bekerja bersama Dia, bagi Dia, dan dengan bersatu dengan Dia, secara spontan kita dikuduskan. Kita menjadi kudus, terpisah dari yang umum.
Menderita Kematian Rohani
Keluaran 31:14-15 mengatakan, “Haruslah kamu pelihara hari Sabat, sebab itulah hari kudus bagimu; siapa yang melanggar kekudusan hari Sabat itu, pastilah ia dihukum mati, sebab setiap orang yang melakukan pekerjaan pada hari itu, orang itu harus dilenyapkan dari antara bangsanya. Enam hari lamanya boleh dilakukan pekerjaan, tetapi pada hari yang ketujuh haruslah ada sabat, hari perhentian penuh, hari kudus bagi Tuhan: setiap orang yang melakukan pekerjaan pada hari Sabat, pastilah ia dihukum mati.” Ayat-ayat ini mengatakan dengan jelas bahwa jika seseorang tidak memelihara hari Sabat, tidak membawa tanda, dan tidak menghormati perjanjian supaya dikuduskan, dia akan dihukum mati. Ini melambangkan menderita kematian rohani. Prinsip itu dapat diterapkan dalam pengalaman kita hari ini. Jika saya tidak berbicara dalam kesatuan dengan Tuhan, saya akan menderita kematian dalam perkataan saya dan saya akan dibuang dari umat Allah. Dibuang dari umat Allah berarti dibuang dari persekutuan.
Dalam hidup gereja kita mungkin melakukan banyak hal tanpa lebih dulu menikmati Tuhan, tanpa melayani bersama Tuhan, dan tanpa menjadi satu dengan Tuhan. Pelayanan macam itu menghasilkan kematian rohani. Pelayanan apa pun bagi gereja yang tanpa kenikmatan akan Tuhan dan yang tanpa kesatuan dengan-Nya, membawa kematian rohani. Kapan saja kita melayani dengan cara demikian, kita membuang diri kita sendiri dari persekutuan dalam Tubuh.
SELURUH KEMAH SUCI DAN PERABOTANNYA MENUNTUN
KEPADA HARI SABAT TUHAN
Seluruh Kemah Suci dan perabotannya itu menuntun kepada hari Sabat Allah. Semua hal ini menuntun kepada kenikmatan akan apa yang telah Allah rencanakan dan perbuat. Ini berarti Kemah Suci dan semua perabotannya memimpin kita masuk ke dalam perhentian (peristirahatan). Kurban persembahan membuat kita memiliki perhentian. Jika kita tidak datang ke mezbah kurban bakaran untuk mengalami Kristus sebagai kurban, kita tidak mengalami perhentian. Sebaliknya, kita akan mengalami hukuman dan penghakiman. Serupa dengan itu, jika kita tidak datang ke meja roti sajian, kita akan lapar dan tidak mengalami kepuasan. Inilah tanda lainnya bahwa kita tidak memiliki perhentian. Jika kita tidak datang ke kaki pelita, kita tidak akan memiliki terang apa pun. Kita akan berada dalam kegelapan, dan kegelapan takkan memberi kita perhentian. Dengan prinsip yang sama, jika kita tidak datang ke hadapan tabut dan mezbah ukupan yang di balik tabir, kita juga tidak akan memiliki perhentian. Segala sesuatu yang berhubungan dengan tempat kediaman Allah memimpin kita kepada satu perkara hari Sabat dengan perhentian dan penyegaran Tuhan. Karena itu, Kemah Suci dengan perabotannya memimpin kita kepada kenikmatan akan apa yang telah Allah rencanakan dan lakukan. Haleluya, dalam hidup gereja kita berada dalam Kemah Suci, dan Kemah Suci memimpin kita kepada perhentian, kepada penikmatan akan rencana Allah dan apa yang telah Dia lakukan!
PEKERJAAN MEMBANGUN KEMAH SUCI
DIMULAI DENGAN KENIKMATAN AKAN ALLAH
Pekerjaan membangun Kemah Suci dan semua perabotannya harus dimulai dengan kenikmatan akan Allah dan berlanjut dalam beberapa tahap dengan penyegaran melalui menikmati Allah. Ini menandakan bahwa kita tidak bekerja bagi Allah dengan kekuatan sendiri, melainkan dengan kenikmatan akan Dia dan dengan menjadi satu dengan-Nya. Inilah arti hari Sabat, dan inilah alasan dari penjelasan mengenai Sabat segera menyertai penjelasan mengenai pembangunan tempat kediaman Allah di bumi. Semoga kita semua melihat perkara ini dan terkesan dengan ini. Berita ini bukan hanya suatu keterangan mengenai Alkitab. Saya percaya bahwa apa yang kita telah bahas dalam berita ini adalah ringkasan sejati dari catatan dalam Keluaran 31 mengenai Sabat.