← Daftar isi Keluaran (11) · bab 2/16

ORANG-ORANG YANG MEMBUAT KEMAH SUCI, PERABOTANNYA, DAN PAKAIAN IMAM (2)

Pembacaan Alkitab: Kel. 31:1-11; 35:10-19; 35:30—36:2

Dalam berita sebelumnya kita mulai melihat orang-orang yang membuat Kemah Suci, perabotannya, dan pakaian imam. Kita melihat bahwa dalam Kitab Keluaran, ahli bangunannya ialah Bezaleel, yang dipenuhi dengan Roh Allah, dengan hikmat, pengertian, dan pengetahuan, dan dalam segala macam kecakapan. Kita menekankan fakta bahwa pembangunan tempat kediaman Allah, gereja, adalah pekerjaan mulia yang harus dilakukan oleh semua orang beriman. Karena pekerjaan ini tak dapat dilakukan dengan hayat alamiah atau kemampuan alamiah, kita perlu dipenuhi dengan Roh Allah dalam pengetahuan, pengertian, hikmat, dan kecakapan. Dalam berita ini kita akan melanjutkan ke hal yang lebih rinci berhubungan dengan orang-orang yang membuat Kemah Suci, perabotannya, dan pakaian imam.

Merencanakan Pekerjaan-pekerjaan yang Baik

Ayat 4 dan 5 mengatakan, “Untuk membuat berbagai rancangan supaya dikerjakan dari emas, perak dan tembaga; untuk mengasah batu permata supaya ditatah; untuk mengukir kayu dan untuk bekerja dalam segala macam pekerjaan.” Dalam melakukan pekerjaan membangun, kita tidak menggunakan tanah liat atau batu bata. Kita menggunakan emas, perak, dan tembaga. Kita telah melihat bahwa emas melambangkan sifat Allah, sifat ilahi; perak melambangkan penebusan Kristus; dan tembaga melambangkan penghakiman Allah yang adil. Jika kita mau membangun gereja, semua orang beriman harus tahu cara menggunakan sifat ilahi sebagai emas, penebusan Kristus sebagai perak, dan penghakiman Allah yang adil sebagai tembaga. Kebanyakan orang Kristen hari ini tidak mempunyai jalan untuk membangun tempat kediaman Allah, sebab mereka tidak mengetahui emas, perak, dan tembaga dan mereka tidak tahu cara menggunakan barang-barang ini. Namun, karena rahmat Tuhan, bahkan orang-orang muda di dalam pemulihan Tuhan dapat mengetahui bagaimana cara menggunakan emas yang ilahi bagi pembangunan gereja di lokal mereka. Mereka juga dapat mengetahui cara menggunakan perak dan tembaga dengan cara yang praktis bagi pembangunan gereja. Bahkan saudari-saudari muda harus menggunakan barang-barang ini untuk membangun tempat kediaman Allah.

Ayat 5 membicarakan mengenai “mengasah batu permata supaya ditatah.” Di sini menatah sama dengan membangun. Pengasahan batu permata adalah untuk pem-bangunan. Mengasah batu permata supaya ditatah berarti membantu orang-orang beriman untuk diubah menjadi batu-batu dan untuk disesuaikan agar cocok menjadi bangunan Allah. Kita semua perlu mengetahui bagaimana cara mengasah batu permata supaya ditatah.

Banyak pekerja Kristen tidak mengetahui bagaimana cara mengasah batu-batu untuk bangunan Allah. Namun, saya juga perhatikan bahwa bahkan dalam gereja-gereja lokal, beberapa penatua tidak mengetahui cara mengasah batu permata untuk tujuan ini. Saya tidak yakin bahwa semua penatua dalam gereja-gereja lokal di negera ini tahu cara mengasah batu permata supaya ditatah. Jika semua penatua mampu melakukan pekerjaan ini, saya akan sangat girang di dalam Tuhan. Namun, hati saya sangat berat, karena saya perhatikan bahwa penatua tidak tahu cara mengasah batu-batu permata untuk pekerjaan pembangunan.

Perkataan mengenai pengasahan batu-batu permata untuk pembangunan ini sangat menerangi orang, menyingkapkan orang; ini adalah perkataan peringatan bagi kita semua. Bahkan saudari-saudari muda harus mengetahui bagaimana cara mengasah batu permata supaya ditatah. Pada saat saudari-saudari muda saling bersekutu, mereka harus mengetahui cara menolong orang lain untuk diubah dan agar cocok bagi bangunan Allah. Saudari tertentu mungkin pernah mengalami sejumlah pengubahan. Namun, mungkin dia belum cocok bagi bangunan. Jadi perlu pengasahan. Penatahan batu-batu permata yang memadai pada tembok selalu menuntut pengasahan. Tanpa pengasahan, batu-batu permata takkan cocok bagi bangunan.

Kita semua perlu diingatkan bahwa kita tidak mengasah tanah liat yang dikeringkan atau batu bata, kita mengasah batu-batu permata yang berharga, bahan-bahan yang telah mengalami pengubahan bagi pembangunan tempat kediaman Allah. Saya percaya bahwa kebanyakan orang-orang beriman dapat mengerti kata-kata saya.

“Mengukir kayu” dalam ayat 5 melambangkan penanggulangan atas keinsanian kita. Kita tidak akan menjadi malaikat atau pun roh. Allah merancang kita menjadi manusia dengan keinsanian yang tepat, yang dilambangkan oleh kayu. Untuk pembangunan gereja, para penatua, orang-orang yang melayani, dan semua saudara saudari, termasuk yang muda, harus mengetahui bagaimana cara mengukir keinsanian. Ini adalah kata kiasan untuk menyatakan pikiran mengenai pekerjaan keinsanian orang-orang beriman demi pembangunan Allah. Kita semua perlu belajar bersekutu, baik dalam sidang maupun dalam kontak rohani dengan orang-orang kudus, untuk mengasah batu-batu permata supaya ditatah, dan untuk mengukir kayu. Pengasahan batu permata dan pengukiran kayu itu adalah bagi pembangunan gereja.

Saudara-saudara dan saudari-saudari dalam gereja-gereja tidak sepatutnya menempatkan beban pembangunan hanya ke atas pundak para penatua. Sama sekali tidak adil meletakkan seluruh beban ke atas mereka. Para penatua bukan tukang sulap. Mereka tidak dapat diharapkan untuk melakukan semua pekerjaan pembangunan. Namun, hampir semua orang beriman berharap agar para penatua melakukan ini. Ini adalah mimpi. Beberapa orang bahkan mengusulkan agar jumlah penatua dalam lokal mereka digandakan. Siapa pun yang membuat usul ini adalah orang yang meletakkan terlalu banyak beban ke atas para penatua. Jika Anda mengusulkan agar kita menambah jumlah penatua, saya akan menjawab bahwa Anda perlu menanggung bagian Anda atas beban itu sebagai salah seorang pembangun. Jangan berharap para penatua melakukan semua pekerjaan pembangunan. Penyebab gereja di lokal Anda tidak terbangun ialah karena banyak orang beriman yang tidak menunaikan bagian mereka dalam pekerjaan membangun. Jangan salahkan para penatua. Yakinlah bahwa saya mutlak berpihak pada para penatua. Jika Anda tergoda untuk mengatakan bahwa para penatua belum melakukan tanggung jawab mereka sepenuhnya, Anda harus pertama-tama menyalahkan diri Anda sendiri karena tidak melakukan tanggung jawab Anda. Saya akan memaksa Anda untuk melupakan apa yang harus dilakukan para penatua, dan memperhatikan bagian Anda dalam pekerjaan membangun.

Selama bertahun-tahun saya telah membiasakan mendorong orang-orang beriman untuk bertanggung jawab melakukan apa yang harus dilakukan dalam hidup gereja. Sebagai contoh, jika seorang saudari datang kepada saya menuntut agar kamar mandi wanita perlu dibersihkan, saya akan menjawab, silakan Anda membersihkannya sendiri. Akhirnya tersebarlah kata-kata: “Jangan mengajukan tuntutan apa pun kepada saya, sebab saya akan menyuruh orang yang menuntut itu untuk mengurus urusan itu sendiri.” Masalahnya di sini ialah kita semua mempunyai bagian dalam pekerjaan membangun gereja.

Bekerja dalam Segala Macam Pekerjaan

Untuk membangun tempat kediaman Allah, selain menggunakan emas, perak, dan tembaga, mengasah batu permata, dan mengukir kayu, masih perlu bekerja dalam segala macam pekerjaan, seperti memintal, menenun, menyulam, dan bekerja di bidang kulit hewan, dan lain sebagainya. Ini adalah pekerjaan-pekerjaan yang menghasilkan karakter insan yang lebih baik dengan keinsanian Kristus yang dipertinggi, yang diperlukan untuk pembangunan gereja sebagai tempat kediaman Allah.

SEKERJA AHLI BANGUNAN

Ayat 6 berbicara tentang sekerja ahli bangunan Bezaleel, “Juga Aku telah menetapkan di sampingnya Aholiab bin Ahisamakh, dari suku Dan.” Nama “Aholiab” berarti “kemah atau tabernakel bapaku”. Ini melambangkan bahwa keseluruhan pribadi seseorang mengawasi Kemah Suci (tabernakel) Allah. “Ahisamakh”, nama ayah Aholiab, berarti “saudara kekuatan atau dukungan”. Sekerja ahli bangunan ini adalah seseorang untuk Kemah Suci Allah dengan kekuatan dan dukungan. Namun, sekerja ahli bangunan berasal dari suku Dan, suku yang terendah. Ahli bangunan pertama, Bezaleel, adalah dari suku Yehuda. Yehuda ialah suku raja-raja, suku Tuhan Yesus. Namun, ahli bangunan kedua, Aholiab, datang dari suku terendah, suku Dan. Ini menyatakan bahwa pekerjaan membangun harus mencakup yang berstatus tinggi dan berstatus rendah. Tak peduli apakah Anda tinggi atau rendah, selama Anda adalah salah seorang anak Allah, Anda harus terlibat dalam pekerjaan membangun.

Kita melihat prinsip yang sama dalam pembangunan Bait Suci pada pemerintahan Salomo (2Taw. 2:11-14). Ahli bangunannya ialah Raja Salomo, yang berasal dari suku Yehuda, dan sekerja ahli bangunan sekali lagi dari suku Dan. Namun, statusnya bahkan lebih rendah dari Aholiab, karena dia adalah anak seorang perempuan dari bani Dan dan ayahnya seorang Tirus. Betapa ajaibnya Alkitab! Pada pembangunan Kemah Suci dan Bait Suci ahli bangunannya adalah dari suku Yehuda, suku raja-raja, dan sekerja ahli bangunannya ialah dari suku Dan, suku yang rendah. Tak ada kebetulan di sini. Pengaturan ini sesuai dengan kedaulatan Allah.

Keluaran 35:34 menunjukkan bahwa tugas utama Aholiab ialah mengajar. Tidak diragukan lagi, Aholiab adalah seorang yang bijak. Namun, dia pasti telah menerima sebagian besar pengetahuan, pengertian, dan hikmatnya dari Bezaleel. Setelah menerima semua ini dari ahli bangunan, kemudian dia pergi mengajar yang lain. Di sini kita melihat koordinasi yang indah dan menyenangkan.

Keluaran 35:34 mengatakan bahwa Bezaleel dan Aholiab melakukan pekerjaan mengajar. Namun, saya percaya bahwa sebagian besar pengajaran dilakukan oleh Aholiab. Ini menyatakan bahwa dalam pembangunan gereja diperlukan pengajaran yang cukup. Kita perlu beberapa orang menjadi Aholiab hari ini untuk mengajar orang-orang kudus mengenai bangunan Allah menurut pengetahuan, pengertian, hikmat, dan kecakapan yang diterima dari ahli bangunan.

Keluaran 35:35 mengatakan bahwa Bezaleel dan Aholiab dipenuhi dengan keahlian untuk membuat segala macam pekerjaan seorang tukang, pekerjaan seorang ahli, pekerjaan seorang yang membuat tenunan yang berwarna-warna dari kain biru, kain ungu, kain kirmizi dan lenan halus. Apakah beda antara seorang tukang, seorang ahli, dan seorang pekerja? Saya yakin bahwa seorang tukang atau seorang ahli mempunyai talenta khusus, sedangkan seorang pekerja melakukan pekerjaan-pekerjaan kecil dengan trampil. Penyulam-penyulam, yang mungkin adalah pekerja wanita, mengerjakan kain biru, melambangkan kesurgawian; kain ungu, melambangkan kerajaan atau jabatan raja Kristus; kain kirmizi, melambangkan penebusan Kristus; dan kain lenan halus, melambangkan keinsanian Kristus.

Keluaran 35:35 juga berbicara tentang penenun, pekerja dari segala macam pekerjaan, dan orang-orang yang merancang. Dari semua ini kita dapat melihat bahwa pembangunan tempat kediaman Allah ialah suatu pekerjaan yang halus dan cermat. Kenyataan bahwa banyak perkataan yang digunakan untuk menggambarkan pekerja-pekerja artinya hendak menunjukkan bahwa pekerjaan membangun gereja itu lembut, halus, dan rinci.

PEMBANGUN-PEMBANGUN

Berhikmat

Keluaran 31:6b mengatakan, “Dalam hati setiap orang ahli (berhikmat) telah Kuberikan keahlian (hikmat). Haruslah mereka membuat segala apa yang telah Kuperintahkan kepadamu.” Juga, Keluaran 36:2 berbicara tentang “Setiap orang yang ahli (berhikmat), yang dalam hatinya telah ditanam TUHAN keahlian (hikmat).” Ayat-ayat ini menyatakan bahwa semua pembangun Kemah Suci adalah orang-orang yang ahli. Mereka semua menerima hikmat dan pengertian dari Allah. Di sini tidak disebut tentang pengetahuan. Umumnya orang memiliki pengetahuan, sekurang-kurangnya pengetahuan umum. Namun, apa yang diperlukan untuk pekerjaan membangun itu ialah hikmat dan pengertian, tidak hanya pengetahuan. Jika kita memiliki hikmat dan pengertian, kita menjadi orang yang berhikmat.

Tergerak Hatinya

Menurut Keluaran 36:2, pembangun-pembangun itu ialah orang-orang yang tergerak hatinya untuk datang melakukan pekerjaan membangun. Inilah yang dimaksud memiliki hati yang berkobar-kobar bagi pembangunan Allah. Hati yang berkobar-kobar ini menggerakkan kita untuk turut serta dalam membangun gereja. Kita semua perlu hati yang demikian. Hati yang seperti ini adalah motor batiniah yang memotivasi kita untuk melakukan pekerjaan membangun tempat kediaman Allah.

BARANG-BARANG YANG DIBANGUN

Dalam Keluaran 31:7-11 ada daftar barang-barang yang dibangun. Ayat 7-9 mengatakan, “Kemah pertemuan, tabut untuk hukum, tutup pendamaian yang terletak di atasnya, dan segala perabotan kemah itu, yakni meja dengan perkakasnya, kandil dari emas murni dengan segala perkakasnya, mezbah pembakaran ukupan, mezbah kurban bakaran dengan segala perkakasnya, bejana pembasuhan dengan alasnya.” Kita telah membahas rincian mengenai semua hal ini. Anda mungkin ingin menghubungkan berita-berita yang lalu mengenai hal ini. Di sini cukup diterangkan bahwa tabut kesaksian ialah Kristus sebagai kesaksian Allah, bahwa meja menyatakan Kristus sebagai suplai hayat dalam Kemah Suci bagi imam-imam yang melayani, bahwa kaki pelita emas menyatakan Kristus adalah terang hayat di dalam tempat kediaman Allah, dan bahwa mezbah pembakaran ukupan menyatakan Kristus adalah perantara yang harus kita hubungi untuk mempersembahkan kepada Allah ukupan dari doa yang digarami. Lebih lanjut, mengalami mezbah kurban bakaran dan segala perkakasnya berarti mengalami Kristus sebagai semua kurban yang dipersembahkan kepada Allah bagi kita di atas salib.

Ayat 10 mengatakan, “Pakaian jabatan, baik pakaian kudus kepunyaan imam Harun, maupun pakaian anak-anaknya, untuk memegang jabatan imam.” Ayat ini menunjukkan bahwa pekerja-pekerja juga membuat pakaian imam untuk Harun dan anak-anaknya. Pakaian imam ini melambangkan pakaian imam Kristus dan semua orang beriman. Untuk pembangunan gereja kita perlu pakaian imam Kristus dan pakaian semua orang yang melayani. Ini seharusnya menyadarkan kita, sekali lagi, betapa banyak keperluan kita akan pengetahuan, pengertian, dan hikmat untuk pekerjaan membangun gereja.

Ayat 11 menyimpulkan, “Minyak urapan dan ukupan dari wangi-wangian untuk tempat kudus; tepat seperti yang telah Kuperintahkan kepadamu haruslah mereka membuat semuanya.” Minyak urapan yang melambangkan Roh pemberi-hayat yang almuhit, merupakan hal yang sangat penting. Sejak saya tinggal di Amerika Serikat, saya telah menyampaikan banyak berita mengenai minyak urapan. Namun, karena pengajaran yang tidak tepat yang telah dilakukan orang-orang tertentu, kebenaran mengenai minyak urapan, Roh itu, telah menjadi pokok perdebatan. Pertentangan mengenai perkara ini masih berlangsung, dan saya yakin hal ini akan berlanjut untuk sejangka waktu. Namun, kebenaran adalah kebenaran, dan Tuhan akan memperoleh kemenangan. Untuk sementara, mungkin saja kebenaran dapat diselubungi, tetapi akhirnya, selubung akan disingkapkan, dan kebenaran akan ternyatakan.

Saya dapat bersaksi bahwa semakin saya berbicara mengenai Roh yang almuhit, semakin saya dikuatkan bahwa apa yang kita ajarkan mengenai Roh sesuai dengan wahyu ilahi dalam firman Allah yang murni. Karena itu, saya akan terus memberitakan kebenaran mengenai Roh yang almuhit di hadapan umat Tuhan. Biarkan orang-orang yang bermaksud mengkritik pengajaran kita memperhatikan semua perkara dalam terang firman. Yakinlah bahwa semua tulisan kita mengenai Roh dikerjakan dengan hati-hati dan dengan pertimbangan menurut firman Allah yang murni.

Kita telah melihat bahwa untuk melakukan pekerjaan membangun tempat kediaman Allah, kita perlu dipenuhi dengan Roh Allah, dengan pengetahuan, pengertian, hikmat, dan kecakapan. Kita juga perlu belajar mengerjakan emas, perak, dan tembaga, mengasah batu permata supaya ditatah, dan mengukir kayu. Pekerjaan membangun melibatkan orang-orang baik yang berstatus tinggi maupun berstatus rendah. Apa yang kita perlukan sekarang ialah menjadi berhikmat, menerima hikmat dan pengertian dari Allah, dan digerakkan oleh hati kita untuk melakukan pekerjaan mulia membangun gereja, tempat kediaman Allah di bumi hari ini.