ORANG-ORANG YANG MEMBUAT KEMAH SUCI, PERABOTANNYA, DAN PAKAIAN IMAM (1)
Pembacaan Alkitab: Kel. 31:1-11; 35:10-19; 35:30—36:2
Dalam berita ini kita akan mulai melihat orang-orang yang membuat Kemah Suci, perkakas, dan pakaian imam, seperti yang digambarkan dalam Keluaran 31:1-11; 35:10-19; 35:30—36:2. Saya menghargai bagian-bagian firman ini. Setelah mempelajarinya, saya sadar bahwa dalam Perjanjian Baru pun tidak kita dapati gambaran yang sedemikian rinci, yang menunjukkan kepada kita bagaimana caranya membangun tempat kediaman Allah. Hari ini tempat kediaman Allah ialah gereja. Pembangunan gereja merupakan perkara yang besar dan pokok yang sangat penting dalam Alkitab. Selama sejangka waktu saya sering berbicara dengan saudara-saudara yang memimpin di Anaheim mengenai pembangunan gereja. Ini adalah beban yang sangat berat dalam hati kita. Namun, kita tak dapat berkata banyak dan jelas tentang cara bagaimana membangun gereja di suatu tempat. Walaupun saya telah mempelajari Kitab Keluaran banyak kali, saya belum memiliki pengertian yang jelas dari kitab ini tentang cara membangun tempat kediaman Allah di bumi. Karena alasan ini, saya menghargai catatan dalam Kitab Keluaran itu yang membicarakan mengenai orang-orang yang membuat Kemah Suci. Ini adalah catatan yang unik dalam seluruh Alkitab yang menunjukkan kepada kita cara-cara yang rinci bagi umat Allah untuk membangun tempat kediaman-Nya di bumi pada zaman ini. Karena itu kita harus memustikakan catatan ini.
Catatan mengenai pembangunan tempat kediaman Allah dalam Kitab Keluaran terdapat dalam tiga bagian: pertama, Keluaran 31:1-11; kedua, Keluaran 35:10-19; dan ketiga, Keluaran 35:30—36:2. Dalam berita ini dan berita selanjutnya, kita akan melihat sejumlah butir dari bagian ini yang berhubungan dengan orang-orang yang membuat Kemah Suci, perkakasnya, dan pakaian imam.
AHLI BANGUNAN
Keluaran 31:2-5 berbicara mengenai ahli bangunan Kemah Suci. Paulus menggunakan istilah ahli bangunan dalam 1Korintus 3:10, “Sesuai dengan anugerah Allah, yang diberikan kepadaku, aku sebagai seorang ahli bangunan yang terampil telah meletakkan dasar . . .” Ahli bangunan ialah orang yang pemimpin dalam pembangunan Allah.
Bezaleel bin Uri bin Hur
Keluaran 31:2 mengatakan, “Lihat, telah Kutunjuk Bezaleel bin Uri bin Hur, dari suku Yehuda.” Bezaleel ialah lambang ahli bangunan dalam Perjanjian Lama. Nama Bezaleel berarti “dalam bayangan (naungan) Allah”. Ini menandakan bahwa sebagai ahli bangunan, Bezaleel berada di dalam naungan Allah. Dia adalah seorang manusia di bawah naungan Allah. Ini berhubungan dengan kata-kata Paulus tentang anugerah dalam 1Korintus 3:10, di mana dia berkata bahwa oleh anugerah Allahlah dia dibuat sebagai ahli bangunan yang terampil. Kita, baik ahli bangunan yang memimpin atau tukang bangunan yang biasa dalam pembangunan Allah, semua memerlukan anugerah (kasih karunia) Allah. Kita perlu berada di bawah naungan anugerah Allah. Jika kita tidak berada di bawah naungan anugerah Allah, banyak masalah akan datang mengganggu kita. Namun, naungan Allah akan membuat masalah-masalah jauh dari kita dan menyebabkan kita tetap dalam situasi dan kondisi yang tentram untuk melakukan pekerjaan pembangunan.
Berbicara mengenai pembangunan tempat kediaman Allah, ada konflik yang nyata, suatu peperangan yang hebat antara Allah dengan musuh-Nya. Musuh ini tidak suka melihat pembangunan tempat kediaman Allah berlangsung baik. Karena itu, dia melakukan segala cara yang ia dapat untuk mengganggu, menghalangi, menggagalkan, menyerang, dan menghancurkan. Saudara-saudara yang memimpin dalam gereja mengetahui betapa sulitnya memelihara suatu gereja lokal, karena si musuh sering menimbulkan gangguan-gangguan dan penyimpangan-penyimpangan. Kita tahu perkara-perkara tertentu telah dengan sengaja dikirim oleh musuh untuk merusak pekerjaan pembangunan. Meskipun tak ada alasan yang logis bagi terjadinya masalah-masalah itu, namun masalah-masalah itu terjadi. Jelas sekali itu karena ulah si musuh. Para penatua harus menyadari bahwa untuk membangun satu gereja lokal, mereka perlu berada di bawah naungan Allah. Untuk pembangunan tempat kediaman Allah, kita semua harus dinamai Bezaleel. Kita semua harus berada di bawah naungan Allah.
Nama ayah Bezaleel ialah Uri yang berarti “terang Yehova”. Nama ini menandakan bahwa semua pembangun rumah Allah harus tidak hanya di bawah naungan Allah, tetapi juga penuh dengan terang Tuhan.Nama kakek Bezaleel ialah Hur. Hur berarti “bebas”, “mulia”, “putih”. Kita tidak hanya harus di bawah naungan Allah dan penuh terang, tetapi juga harus bebas dan mulia. Siapa saja yang membangun tempat kediaman Allah bukanlah orang rendahan. Sebaliknya, adalah orang yang mulia yang sedang melakukan pekerjaan mulia. Tak ada pekerjaan yang lebih mulia daripada membangun tempat kediaman Allah. Lagi pula orang yang membangun tempat kediaman Allah itu “putih”, mereka bersih dan murni. Bila kita jajarkan arti nama Bezaleel, Uri, dan Hur, kita bisa melihat orang-orang yang membangun tempat kediaman Allah, khususnya para penatua, seharusnya orang yang seperti apa.
Dipenuhi dengan Roh Allah
Mengenai Bezaleel, Keluaran 31:3 mengatakan, “Dan telah Kupenuhi dia dengan Roh Allah, dengan keahlian (hikmat) dan pengertian dan pengetahuan, dalam segala macam pekerjaan.” Jika kita ingin mendirikan tempat kediaman Allah, kita harus menjadi orang yang dipenuhi dengan Roh Allah. Melalui hayat alamiah, kemampuan kita, dan manusia alamiah kita, kita tak akan dapat melakukan pekerjaan ini. Tak ada sifat alamiah yang mampu membangun tempat kediaman Allah. Hanya Roh Allah yang dapat membangun tempat kediaman-Nya sendiri melalui kita. Kita hanyalah alatnya, sarananya. Kemampuan, kapasitas, kekuatan, dan kuasa yang sesungguhnya pastilah Allah sendiri yang telah menjadi Roh itu bagi kita.
Menurut ayat 3, pemenuhan dengan Roh Allah meliputi empat hal: hikmat, pengertian, pengetahuan, kecakapan. Sulit untuk menerangkan perbedaan antara hikmat, pengertian, dan pengetahuan. Kecakapan berasal dari kata Ibrani yang juga berarti keahlian. Untuk pembangunan tempat kediaman Allah, kita perlu keahlian. Untuk membuat sebuah meja kecil saja diperlukan ketrampilan. Ketrampilan ini, kecakapan ini, melibatkan pengetahuan. Namun, tidak cukup dengan hanya memiliki pengetahuan; kita juga memerlukan pengertian dan hikmat.
Bisa jadi kita memiliki pengetahuan tanpa pengertian. Sebagai contoh, para saudari mungkin memiliki sedikit pengetahuan mengenai cara mengukur bahan-bahan yang digunakan untuk membuat pakaian dan bagaimana cara memotong bahan-bahan ini. Namun, diperlukan pengertian untuk mengetahui cara menyusun bahan-bahan itu menjadi sepotong pakaian. Saya mengetahui sedikit mengenai setelan yang saya pakai, tetapi saya sama sekali tidak memiliki pengertian tentang cara pembuatannya. Saya mungkin mengetahui panjang lengan dan jenis bahan yang digunakan untuk membuat setelan saya, tetapi saya tidak mengerti bagaimana seorang penjahit membuat pakaian tersebut.
Saya gunakan ini untuk menggambarkan perbedaan antara pengetahuan dan pengertian, serta kenyataan bahwa kita mungkin memiliki pengetahuan tetapi masih kekurangan pengertian. Kita bisa juga memakai perihal mendengarkan berita-berita untuk menggambarkan perbedaan antara pengetahuan dengan pengertian. Anda mungkin mengetahui semua ayat yang digunakan dalam suatu berita. Walaupun Anda mengetahui ayat-ayat ini dan juga dapat menghafalkan banyak ayat, jika Anda jajarkan semua ayat ini, Anda mungkin tidak memiliki pengertian apa pun tentang mereka. Karena untuk mengerti mereka, Anda perlu mendengarkan ministri firman. Kemudian Anda baru memiliki pengertian seperti halnya pengetahuan.
Dalam mendengarkan berita, pertama-tama mungkin kita memiliki pengetahuan mengenai ayat-ayat dan kemu-dian pengertian mengenai arti ayat ini. Betapapun kita memiliki pengetahuan dan pengertian mengenai ayat-ayat itu, kita masih belum memiliki wahyu mengenai ayat-ayat itu. Seseorang mungkin berkata, “Aku tahu ayat-ayat ini, dan memahaminya. Tetapi sejauh yang aku ketahui, tak ada yang aku lihat di sini.” Namun, begitu pelayan firman terus-menerus membuka firman itu kepada Anda, pada akhirnya Anda mulai melihat apa yang diwahyukan dalam ayat-ayat yang diperbincangkan. Inilah hikmat. Ketika Musa bersama Tuhan di atas gunung, Allah menunjukkan desain Kemah Suci dan semua bejana dan perkakasnya. Musa mempelajari ukuran tabut, meja roti sajian, mezbah ukupan, dan mezbah tembaga. Dia juga mempelajari bahan-bahan apa yang digunakan untuk membuat barang-barang ini. Namun, seandainya Musa berkata kepada salah seorang dari bani Israel, “Inilah desain tentang ukuran, dan bahan Kemah Suci serta perkakasnya. Pergilah dan buatlah Kemah Suci dan perkakasnya.” Tidak ada seorang pun dapat melaksanakan pekerjaan ini tanpa pengetahuan, pengertian, dan hikmat.
Beberapa pelajar yang mempelajari sejarah mungkin mempunyai pengetahuan yang menyeluruh mengenai bahan-bahan yang harus mereka pelajari. Mereka mungkin menghabiskan berjam-jam mengulang bab-bab dalam buku sejarah mereka, mempelajarinya dengan sangat baik. Mereka mungkin jadi sedemikian akrab dengan banyak bahan sehingga mereka hampir dapat menghafalnya kata demi kata. Jika ujian sejarah didasarkan pada bahan dalam buku teks itu, pelajar-pelajar ini akan memperoleh angka yang tinggi sekali, sebab mereka memiliki pengetahuan. Namun, bila profesor menanyakan mereka jenis pertanyaan-pertanyaan lain yang di luar buku teks, pelajar-pelajar ini mungkin tidak tahu bagaimana cara menjawabnya. Walaupun pengetahuan mereka cukup, tetapi pengertian mereka kurang. Mereka mungkin mengetahui bahan dalam buku teks, tetapi mereka tidak mengerti cara menjajarkan semua bahan ini untuk mendapatkan pandangan tertentu. Misalnya, mereka mungkin tidak mengetahui cara mengikhtisarkan semua bahan yang berhubungan dengan pokok pelajaran tertentu. Pelajar-pelajar yang berpengetahuan dapat mengerjakan soal-soal yang meminta keterangan dengan sangat baik. Namun, mereka mungkin tak dapat mengerjakan ujian esai yang menuntut alasan dan penafsiran dengan baik. Pelajar tanpa pengertian mungkin dapat menghafal banyak bahan, tetapi mereka tak dapat lulus ujian yang menuntut alasan dan penafsiran. Ini adalah ilustrasi lain mengenai fakta bahwa pengetahuan saja tidak cukup; kita juga perlu pengertian.
Seperti yang telah kami tunjukkan, hanya pengetahuan dan pengertian saja tidaklah cukup. Kita juga perlu hikmat. Misalnya, seorang pengajar sejarah meminta para pelajar menuliskan bagaimana cara mereka menangani suatu perkara jika mereka adalah menteri luar negeri dari suatu negara. Untuk menjawab pertanyaan demikian, pengertian saja juga tidak cukup; masih perlu hikmat. Mungkin melalui ilustrasi ini Anda dapat membayangkan perbedaan antara pengetahuan, pengertian, dan hikmat. Mulai Keluaran 25, kita dapati gambaran Kemah Suci dan semua perabot dan perkakasnya. Pertama kita memiliki pengetahuan mengenai desain, ukuran, dan bahan-bahan yang berhubungan dengan perkara ini. Namun, jika tidak memiliki pengertian, kita tak dapat mengumpulkan pengetahuan kita menjadi satu untuk membuat kesimpulan. Mengerti ialah kemampuan untuk membuat kesimpulan berdasarkan pengetahuan. Meskipun kita memiliki pengetahuan dan pengertian, kita masih memerlukan hikmat untuk membangun Kemah Suci. Diperlukan hikmat untuk mengenal bagian mana yang harus terlebih dulu dibuat. Jika orang yang membuat Kemah Suci tidak memiliki hikmat, mereka akan menyia-nyiakan banyak waktu sebelum mereka menemukan cara yang benar.
Sebenarnya, cara untuk membuat sesuatu sama dengan hikmat yang diperlukan untuk membuatnya. Tuhan Yesus pernah berkata bahwa Ia adalah jalan (Yoh. 14:6), dan Paulus berkata bahwa Kristus ialah hikmat kita (1Kor. 1:30). Dengan menjajarkan ayat-ayat ini, kita melihat bahwa hikmat dan jalan adalah satu. Sebagai contoh, ada beberapa jalan untuk mengendarai mobil dari satu kota ke kota yang lain. Namun, jika pengemudinya berhikmat, dia pasti mempunyai hikmat untuk mengambil jalan yang terbaik. Semua pengemudi yang baik mempunyai hikmat. Orang yang bodoh mungkin mengetahui bagaimana cara mengendarai mobil, tetapi tidak memiliki hikmat sehubungan dengan jalan yang harus ia tempuh untuk pergi dari satu tempat ke tempat yang lain. Ketika dia sampai pada persimpangan, terutama pertemuan tiga jalan raya, dia mungkin bingung dan tidak tahu jalan mana yang harus ditempuh. Walaupun dia memiliki pengetahuan, itu tidak cukup. Pengemudi mobil memerlukan pengertian dan juga hikmat. Inilah ilustrasi yang lain yang menunjukkan perbedaan antara pengetahuan, pengertian, dan hikmat.
Dari pengalaman dan pengamatan saya dalam hidup gereja, saya menyadari bahwa para penatua dalam gereja mungkin kurang pengetahuan. Ketika beberapa orang mendengar ini, mereka heran bagaimana mungkin para penatua dalam pemulihan Tuhan bisa kekurangan pengetahuan. Pengetahuan ialah ladang yang luas. Siapa yang dapat menyatakan mengetahui segala sesuatu yang berhubungan dengan pembangunan gereja? Tidak mungkin semua orang memiliki pengetahuan yang demikian lengkap. Sebagai contoh Keluaran 31:4 dan 5 mengatakan, “Untuk membuat berbagai rancangan supaya dikerjakan dari emas, perak dan tembaga; untuk mengasah batu permata supaya ditatah; untuk mengukir kayu dan untuk bekerja dalam segala macam pekerjaan.” Mengertikah kalian makna dikerjakan dari emas, perak, dan tembaga? Tahukah kalian bagaimana cara mengasah batu permata untuk ditatah? Bagaimana cara mengukir kayu? Tahukah kalian apa yang dimaksud dalam Keluaran 35:35 untuk mengerjakan kain biru, ungu, kirmizi, dan lenan halus? Makna dari semua ini banyak sangkut pautnya dengan pembangunan gereja pada hari ini. Para penatua, apakah kalian benar-benar mengetahui apa artinya pengudusan? Tahukah kalian apakah “kayu” yang digunakan dalam pembangunan gereja Allah hari ini? Kalian mungkin mengetahui bahwa kayu melambangkan keinsanian, tetapi tahukah kalian cara “mengukir” keinsanian? Banyak penatua yang belum pernah memikirkan hal-hal ini. Karena itu, mereka tidak memiliki pengetahuan tentang hal-hal tersebut.
Namun, kebanyakan penatua memiliki sejumlah pengetahuan, tetapi mungkin tidak memiliki pengertian. Andaikata seorang saudara dan saudari dalam gereja mengalami kesulitan dalam kehidupan pernikahan mereka. Mereka bertengkar satu sama lain. Apakah kalian sebagai penatua benar-benar mengerti persoalan mereka? Kalian mungkin tahu banyak tentang mereka, tetapi apakah kalian benar-benar mengerti persoalannya? Kalian mungkin hanya tahu bagaimana mereka berlaku di luarnya. Kalian mungkin tidak mengerti alasan-alasan dari keadaan itu dan penyebab yang di dalamnya. Kalian mungkin tidak memiliki pengertian apa pun mengenai pengaruh latar belakang mereka. Ini menandakan bahwa kalian mungkin hanya mengetahui apa yang terjadi di antara mereka, tetapi tidak benar-benar mengerti persoalan mereka.
Mungkin beberapa penatua dapat mengerti persoalan pasangan ini. Namun, mereka masih kekurangan hikmat. Mereka tidak memiliki hikmat untuk membantu pasangan ini bertumbuh dalam hayat dan memperoleh lebih banyak Kristus. Untuk membangun gereja, para penatua perlu pengetahuan, pengertian, dan hikmat. Jika semua penatua dalam semua gereja memiliki pengetahuan, pengertian, dan hikmat, tidak lama lagi kondisi semua gereja menjadi mulia. Setiap gereja dengan kaya mencicipi Yerusalem Baru. Dalam berita ini saya tidak mengikuti definisi kamus mengenai pengetahuan, pengertian, dan hikmat. Kesadaran saya mengenai perbedaan antara pengetahuan, pengertian, dan hikmat ini berhubungan dengan pembangunan gereja dan berasal dari pengalaman dan penelitian selama bertahun-tahun.
Kita dapat menggunakan kehidupan keluarga sebagai ilustrasi lebih lanjut mengenai perbedaan antara pengetahuan, pengertian, dan hikmat. Memelihara anak adalah beban yang besar, tanggung jawab yang serius. Orang tua, khususnya sang ibu, pertama-tama membutuhkan pengetahuan mengenai situasi dan kondisi anak-anak mereka. Kemudian orang tua perlu mengerti motivasi, keinginan, watak, sifat, dan lingkungan anak mereka. Sang ayah dan sang ibu perlu memperhatikan semua faktor, termasuk pengaruh latar belakang keluarga dan sanak saudara yang akan mempengaruhi pertumbuhan anak-anak. Mereka perlu menengadah kepada Tuhan dan berdoa kepada-Nya memohon hikmat. Mereka berdoa, “Tuhan, kami tahu hal-hal berhubungan dengan anak-anak kami. Kami juga mengerti watak, sifat, dan lingkungan mereka. Tuhan, berilah kami hikmat untuk mengetahui cara merawat dan membesarkan mereka.” Untuk membesarkan anak kita secara memadai, kita perlu pengetahuan, pengertian, dan hikmat. Prinsipnya sama dengan membangun gereja. Jika kita mau dipakai Tuhan untuk membangun gereja, kita perlu pengetahuan, pengertian, dan hikmat.
Tidak ada tulisan-tulisan manusia yang dapat dibandingkan dengan Alkitab. Alkitab adalah sebuah buku yang penuh dengan hikmat ilahi. Menurut Alkitab, pekerjaan yang paling mulia ialah membangun tempat kediaman Allah dengan semua perabotan yang melukiskan Kristus dan pengalaman kekristenan kita. Untuk melaksanakan pekerjaan pembangunan gereja yang mulia ini, tempat kediaman Allah di bumi hari ini, kita perlu dipenuhi dengan “Roh Allah, dengan keahlian (hikmat) dan pengertian dan pengetahuan, dalam segala macam pekerjaan” (Kel. 31:3). Setelah kita memiliki pengetahuan yang memadai, pengertian, hikmat, dan kecakapan, baru kita dapat melakukan pekerjaan membangun tempat kediaman Allah yang mulia ini.
Berita ini tidak hanya untuk para penatua, melainkan untuk semua orang beriman segala usia, termasuk saudari-saudari muda. Kita bukanlah organisasi, dan kita tidak mempunyai kalangan awam maupun paderi. Kita semua adalah umat Allah. Karena itu kita semua bisa serupa Bezaleel, Oholiab, dan orang-orang yang berhikmat, yang kepada mereka Allah telah memberikan hikmat (keahlian, ayat 6). Kita semua bisa jadi orang-orang yang berhikmat dan memiliki bagian dalam membangun bangunan yang paling mulia di alam semesta tempat kediaman Allah.
Berita ini bukanlah khotbah atau pengajaran Alkitab yang biasa. Beban saya ialah dari ayat-ayat ini menunjukkan kepada kalian hati Tuhan dan apa yang Dia ingin kita lakukan. Tuhan mendambakan sebuah tempat kediaman di bumi, dan Dia ingin umat-Nya membangunnya untuk Dia dengan jalan dipenuhi oleh Roh dalam pengetahuan, pengertian, hikmat, dan kecakapan. Saya dapat bersaksi bahwa saya berharap Tuhan berbuat banyak melalui orang-orang beriman dalam pemulihan Tuhan, terutama melalui orang-orang muda. Saudari-saudari muda, kalian jangan berkata, “Oh, perkara membangun gereja tidak ada sangkut pautnya dengan kami. Kami adalah saudari-saudari muda, masih di sekolah lanjutan. Ini adalah pekerjaan para penatua atau orang-orang beriman yang lebih tua.” Janganlah memandang persoalan itu secara demikian, kita semua perlu menyadari bahwa pekerjaan membangun gereja yang mulia ini ialah untuk kita semua.
Kita semua perlu memustikakan perkataan Tuhan tentang pembangunan tempat kediaman-Nya, gereja. Saya harap kalian tidak menganggap ringan berita ini. Semoga kita semua melihat isi hati Allah tentang pembangunan tempat kediaman-Nya. Semoga kita juga melihat kebutuhan kita untuk dipenuhi dengan Roh Allah dalam pengetahuan, pengertian, hikmat, dan kecakapan sehingga kita dapat melakukan pekerjaan pembangunan yang mulia ini.