MUSA BESERTA DENGAN ALLAH (2)
Pembacaan Alkitab: Kel. 34
Keluaran 34:18-35 membicarakan tiga hal penting: Allah berpesan supaya umat-Nya berhari raya dan berhari Sabat bersama dengan-Nya; lima syarat menikmati Tuhan; dan Allah diinfuskan ke dalam Musa. Dalam berita ini, kita akan melihat pesan supaya berhari raya dan berhari Sabat bersama dengan Tuhan.
BERHARI RAYA DAN BERHARI SABAT
Dalam ayat 18 Tuhan berkata, “Hari raya Roti Tidak Beragi haruslah kaupelihara; tujuh hari lamanya engkau harus makan roti yang tidak beragi, seperti yang Kuperintahkan kepadamu, pada waktu yang ditetapkan dalam bulan Abib, sebab dalam bulan Abib itulah engkau keluar dari Mesir.” Kemudian dalam ayat 21-22, Ia selanjutnya menyinggung soal memelihara hari Sabat, hari raya Tujuh Minggu, dan hari raya pengumpulan hasil. Dalam ayat-ayat ini, Allah berpesan kepada umat-Nya supaya berhari raya bersama Dia, berhari Sabat bersama Dia. Kalau saya adalah Musa, saya mungkin akan berkata, “Tuhan, ketika Engkau memanggil aku ke puncak gunung, Engkau berpesan supaya aku membawa dua loh batu, Engkau berjanji akan menulis lagi sepuluh hukum di loh batu itu. Tetapi sekarang, Engkau sama sekali tidak menyinggung tentang hukum Taurat, sebaliknya Engkau berkata kepadaku supaya kami berhari raya dan berhari Sabat bersama-Mu.”
Allah bukan menghendaki umat-Nya giat memelihara sepuluh hukum. Allah menghendaki umat-Nya menikmati Dia, bersama Dia berhari raya, dan beristirahat di dalam-Nya. Hal ini sangat berbeda dengan harapan alamiah kita, kita selalu ingin berbuat sesuatu untuk Allah.
Kalau kita renungkan perumpamaan anak yang hilang dalam Lukas 15, ketika anak yang hilang kembali kepada ayahnya, ia berkata kepada ayahnya, “Jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa” (Luk. 15:19). Ini menunjukkan bahwa anak hilang yang telah kembali ingin berbuat sesuatu untuk ayahnya. Tetapi ayahnya tidak menaruh perhatian pada perkataan yang demikian. Ia segera berkata kepada hambanya, “Ambillah anak lembu yang gemuk itu, sembelihlah dan marilah kita makan dan bersukacita” (ayat 23). Sang ayah mendambakan mereka berjamu; dalam perjamuan ada kenikmatan dan perhentian.
Musa tidak tahu bahwa Allah tidak bermaksud menyuruh umat Israel memelihara hukum Taurat. Memelihara hukum Taurat adalah masalah yang kedua, adalah hasil dari berhari raya dan berhari Sabat bersama Tuhan. Kalau orang Israel dengan baik-baik berhari raya bersama Tuhan, tidak hentinya beristirahat bersama Tuhan, mereka tidak akan sulit memelihara sepuluh hukum.
Hari ini, prinsip ini bisa diterapkan pada diri kita. Kalau kita setiap hari berhari raya bersama Tuhan, sepanjang hari beristirahat di dalam Tuhan, hidup sehari-hari kita pasti lancar. Mungkin sekali ada saudara dengan sekuatnya berusaha menjadi suami yang baik, tetapi tidak berhari raya bersama Tuhan, tidak beristirahat di dalam Tuhan. Begitu juga, mungkin sekali seorang saudari berusaha menjadi istri yang baik, tetapi tidak berhari raya dan berhari Sabat. Kalau kita tidak berhari raya dan berhari Sabat bersama Tuhan, kita adalah suami atau istri yang kasihan. Kita tidak seharusnya berusaha melaksanakan pesan dalam Efesus 5, kita seharusnya dalam sehari sering berhari raya bersama Tuhan. Pagi hari kita seharusnya menikmati hari raya Roti Tak Beragi, siang hari seharusnya menikmati hari raya Pentakosta, malam hari seharusnya menikmati hari raya Pondok Daun. Orang Israel setiap tahun menikmati hari-hari raya ini, dan kita seharusnya setiap hari menikmati hari-hari raya ini. Selain itu, kita juga seharusnya dalam sehari berkali-kali beristirahat bersama Tuhan. Orang Israel dalam seminggu ada satu hari Sabat, tetapi kita seharusnya dalam sehari berkali-kali mempunyai sabatnya hari Sabat. Sesungguhnya kita harus setiap waktu berhari Sabat bersama Tuhan. Kalau kita berhari raya dan berhari Sabat di dalam Tuhan, kita benar-benar akan mengalami Efesus 5.
TIGA HARI RAYA
Menurut Perjanjian Lama, Allah menetapkan orang Israel setiap tahun harus merayakan tujuh hari raya: Hari raya Paskah, hari raya Roti Tidak Beragi, hari raya Hulu Hasil, hari raya Tujuh Minggu (hari raya Pentakosta), hari raya Peniupan Serunai, hari raya Penebusan Dosa, hari raya Pondok Daun (disebut juga hari raya Pengumpulan Hasil). Setiap permulaan tahun, setelah merayakan hari raya Paskah pada bulan Abib, harus segera berhari raya Roti Tidak Beragi. Arti kata “abib” adalah “tunas muda”. Sesungguhnya, hari raya Paskah dan hari raya Roti Tidak Beragi adalah satu hari raya. Kita boleh berkata, pada hari pertama adalah hari raya Paskah, beberapa hari selanjutnya adalah hari raya Roti Tidak Beragi. Ini menunjukkan, setelah kita menikmati hari raya Paskah, perlu segera membersihkan semua ragi, untuk merayakan hari raya Roti Tidak Beragi. Hari ini, apa artinya kita merayakan hari raya Roti Tidak Beragi? Artinya, kita menempuh hidup yang bersih, tidak berdosa, dan tidak beragi.
Hari raya Hulu Hasil membawa masuk hari raya Pentakosta. Di antara hari raya Roti Tidak Beragi dengan hari raya Pengumpulan Hasil, ada kenikmatan atas hasil tanah permai selama hari raya Hulu Hasil. Sampai akhir tahun, yaitu pada hari raya Pengumpulan Hasil, umat Allah dengan sepenuhnya menikmati hasil bumi tanah permai.
Hari raya dalam Keluaran 34 semuanya untuk kenikmatan. Pada awalnya boleh kita katakan bahwa kita menabur, menanam, kemudian mulai menikmati hasilnya. Namun, sampai akhirnya, kita mempunyai penuaian yang penuh sebagai kenikmatan kita yang sempurna. Hari raya yang lain, ditinjau dari menikmati tanah permai, tidaklah begitu penting. Yang ditekankan di sini, catatan dalam Keluaran 34 menunjukkan, Allah menghendaki umat Allah sepenuhnya menikmati tanah permai.
Selain hari raya, orang Israel perlu setiap minggu memelihara hari Sabat. Biarpun mereka bagaimana sibuk, setiap minggu harus ada satu hari berhenti bekerja, bersama-sama beristirahat dengan Tuhan.
SETIAP HARI BERHARI RAYA DAN BERISTIRAHAT
Ayat-ayat dalam Keluaran 34 menyinggung berhari raya dan beristirahat. Ini adalah dua hal yang perlu kita nikmati pada hari ini, kita perlu setiap hari berhari raya, perlu istirahat. Kita tidak mungkin seharian berhari raya, tetapi kita boleh sehari berhari raya tiga kali: pagi, siang, dan malam menikmati hari raya. Selain itu, kita perlu dalam sehari berkali-kali beristirahat bersama Tuhan. Dalam sehari kita sedikitnya berhari raya bersama Tuhan tiga kali, dan berkali-kali beristirahat bersama Tuhan. Kita perlu sering istirahat sebentar untuk memperingati Tuhan, dan beristirahat bersama-Nya. Kalau setiap dua puluh menit kita istirahat sebentar, beristirahat bersama Tuhan, dipotong waktu tidur selama delapan jam, dalam sehari kita sedikitnya bisa empat puluh delapan kali beristirahat bersama Tuhan. Betapa baiknya setiap dua puluh menit mempunyai hari Sabat!
Arti hari Sabat adalah hari itu waktunya memperingati Tuhan, waktunya kita memperingati Tuhan Sang Pencipta. Kalau kita tidak meluangkan waktu untuk berhari Sabat, artinya kita telah melupakan Tuhan. Namun, ketika kita mempunyai hari Sabat, kita memperingatinya. Setiap 15 atau 20 menit memperingati Tuhan sebentar, sungguh-sungguh bukan keterlaluan. Marilah kita dalam hidup sehari-hari kita terus-menerus memperingati Tuhan, dan beristirahat di dalam-Nya.
HARI RAYA ROTI TIDAK BERAGI
Kita telah menunjukkan, Keluaran 34:18 tidak menyinggung hari raya Paskah, sebaliknya menyinggung hari raya Roti Tidak Beragi. Karena yang diperhatikan di sini bukanlah karunia keselamatan, melainkan persekutuan kita dengan Allah. Kita sudah beroleh selamat, tetapi bagaimana keadaan persekutuan kita dengan Tuhan? Kalau kita damba memelihara persekutuan kita dengan Allah, kita perlu membersihkan semua ragi dari kehidupan kita. Inilah berhari raya Roti Tidak Beragi.
HARI RAYA TUJUH MINGGU
Hari raya kedua yang disebut dalam Keluaran 34 adalah hari raya Tujuh Minggu, yang berada di tengah-tengah hari raya Roti Tidak Beragi dengan hari raya Pengumpulan Hasil. Hari raya Tujuh Minggu atau hari raya Pentakosta adalah hasil yang sempurna dari hayat kebangkitan. Kita mengetahui, tujuh minggu setelah hari raya Hulu Hasil, harus merayakan hari raya Tujuh Minggu. Inilah sebabnya saya berkata bahwa hari raya Pentakosta adalah hasil yang sempurna dari hari raya Hulu Hasil. Jadi hari raya Hulu Hasil menghasilkan hari raya Pentakosta. Baik perlambangan dalam Perjanjian Lama, maupun penggenapan perlambangan itu di dalam Perjanjian Baru, semuanya demikian. Buah bungaran melambangkan Kristus yang bangkit. Kristus adalah yang pertama bangkit dari antara orang mati, menjadi buah bungaran kebangkitan (1Kor. 15:20). Ini dilambangkan oleh perihal mempersembahkan hasil pertama dari penuaian pada hari raya sesudah Sabat, yaitu pada hari kebangkitan (Mat. 28:1), yang tercatat dalam Imamat 23:10-11.
Dari hari kebangkitan Kristus sampai hari raya Pentakosta, persis 50 hari. Setelah Tuhan Yesus bangkit, Ia beserta dengan murid-murid selama 40 hari, kemudian meninggalkan mereka naik ke surga. Selanjutnya murid-murid berdoa sepuluh hari. Sampai hari raya Pentakosta (yaitu lima puluh), lima puluh hari setelah Kristus bangkit, Roh Kudus dicurahkan. Roh Kudus dicurahkan adalah hasil yang sempurna dari kebangkitan Kristus. Kristus yang bangkit pada hari kebangkitan adalah buah bungaran, seikat jelai. Kemudian Kristus yang bangkit ini pada hari raya Pentakosta menyatakan hasil yang sempurna. Ini berarti, Kristus yang bangkit menjadi Roh itu, dicurahkan ke atas diri kaum beriman, menjadi kenikmatan mereka yang sempurna.
Ketika saya merenungkan hari raya dalam Perjanjian Lama, serta penggenapannya dalam Perjanjian Baru, saya sekali lagi yakin Alkitab adalah firman Allah. Alkitab bukanlah buku klasik yang ditulis berdasarkan otak manusia. Tidak, Alkitab benar-benar adalah wahyu ilahi. Agustinus pernah berkata, “Perjanjian Baru tersembunyi di dalam Perjanjian Lama, dan Perjanjian Lama terwujud dalam Perjanjian Baru.” Pemahaman ini tepat sekali. Berkaitan dengan perlambangan hari raya dalam Perjanjian Lama dan penggenapannya dalam Perjanjian Baru, kita melihat Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru cocok sekali.
SETIAP HARI MENIKMATI TIGA HARI RAYA
Kita perlu dari kehidupan sehari-hari membersihkan semua ragi, semua perkara dosa, supaya kita bisa menikmati Kristus. Ini berarti, kalau kita mempunyai hari raya Roti Tidak Beragi, akan ada hari raya Pentakosta untuk menikmati Kristus. Kita telah melihat bahwa kita perlu setiap hari menerima Kristus menjadi kurban penghapus dosa dan kurban penebusan salah. Kalau kita setiap pagi dengan cara ini menerapkan Kristus, kita bisa dalam kehidupan sehari-hari membersihkan ragi. Ini akan membawa kita mempunyai hari raya Pentakosta setiap hari, membawa kita setiap hari menikmati Kristus. Sampai pada malam hari, kita mempunyai waktu mengumpulkan hasil, waktu menuai. Arti mengumpulkan hasil adalah menyimpan hasil yang berlimpah, untuk memiliki kenikmatan yang kaya. Mengalami hari raya pengumpulan hasil, berarti bersama Allah tinggal di dalam kenikmatan yang sempurna terhadap Kristus. Betapa baiknya kalau setiap malam kita mempunyai hari raya Pengumpulan Hasil! Mengakhiri satu hari dengan hari raya Pengumpulan Hasil adalah menikmati Tuhan dengan sepenuhnya ketika kita tinggal bersama Allah. Ini barulah hari raya Pondok Daun yang sejati.
Namun, banyak orang beriman pada pagi hari tidak memiliki hari raya Roti Tidak Beragi, pada siang hari juga tidak ada hari raya Pentakosta. Akhirnya, pada malam hari juga tidak ada hari raya Pengumpulan Hasil, tidak ada hari raya Pondok Daun. Keadaan kita sering demikian. Namun, hari ini kita melihat, kita perlu setiap hari berhari raya bersama Tuhan, beristirahat bersama Tuhan. Kita seharusnya setiap hari menikmati Kristus menjadi hari raya Roti Tidak Beragi, hari raya Tujuh Minggu, hari raya Pengumpulan Hasil, kita juga seharusnya mempunyai banyak hari Sabat untuk memperingati Tuhan, dan beristirahat di dalam-Nya.
BERPERANG MELAWAN MUSUH MELALUI MENIKMATI KRISTUS
Sekarang marilah kita meneruskan melihat Keluaran 34:23-24, “Tiga kali setahun segala orangmu yang laki-laki harus menghadap ke hadirat Tuhanmu TUHAN, Allah Israel, sebab Aku akan menghalau bangsa-bangsa dari depanmu dan meluaskan daerahmu; dan tiada seorang pun yang akan mengingini negerimu, apabila engkau pergi untuk menghadap ke hadirat TUHAN, Allahmu, tiga kali setahun.” Kata “sebab” dalam permulaan ayat 24, menyatakan bahwa dalam ayat-ayat ini ada satu perkara yang penting. Perkataan ini menunjukkan alasan perlunya kita menikmati Tuhan sebagai hari raya Roti Tidak Beragi, hari raya Tujuh Minggu, hari raya Pengumpulan Hasil. Menurut ayat 23 dan 24, semua orang laki-laki tiga kali setahun harus datang ke hadapan Tuhan, karena Tuhan akan mengusir orang kafir dan meluaskan daerah orang Israel. Orang kafir terus menduduki tanah itu, tetapi Tuhan berjanji akan mengusir mereka, Tidak saja demikian, Tuhan juga berjanji akan meluaskan daerah orang Israel. Ini melambangkan meluaskan kapasitas kita untuk menikmati Kristus.
Mungkin ada orang Israel berkata kepada dirinya sendiri, “Kalau kita menggunakan tujuh hari untuk berhari raya Roti Tidak Beragi, maka tidak ada seorang laki-laki pun yang berjaga-jaga; lalu andaikata orang-orang Filistin pada hari raya ini menyerang kita, bagaimana kita menangkis serangan mereka?” Di sini Tuhan mengatakan, “Kalau kamu setahun tiga kali pergi bersama Aku berhari raya, kamu akan selamat. Berhari raya membuat musuh yang tamak meninggalkan tempatmu.”
Prinsip ini sangat berarti. Tuhan menyinggung mengusir orang kafir, meluaskan batas tanah, menyatakan kalau kita tidak memperhatikan menikmati Tuhan, musuh akan menyerang kita. Sebagai contoh, kalau kita tidak setiap hari menikmati Tuhan, amarah kita akan menyerang dan mengalahkan kita. Selanjutnya, banyak hal lain bisa masuk menguasai kita. Namun, kalau kita memperhatikan menikmati Tuhan, kenikmatan ini akan membuat musuh-musuh menjauhi kita.
Saya mengajak Anda memperhatikan istilah “mengingini” dalam ayat 24. Banyak perkara negatif mengingini kita, berharap menguasai kita. Namun, karena kita kurang pengenalan, ketika kita tidak menikmati Tuhan, kita masih saja berharap musuh menjauhi kita. Dari pengalaman kita mengetahui, kalau kita tidak menikmati Tuhan, banyak “kuman” akan menyerang kita. Kita bisa mengambil tubuh jasmani kita sebagai perumpamaan. Kalau Anda mau mempunyai badan yang sehat, Anda perlu dengan baik-baik makan makanan yang bergizi. Kalau Anda telah memakan makanan yang sehat, banyak “kutu busuk” akan terbunuh, banyak kuman juga akan menjauhi Anda. Perkara ini membuktikan satu fakta: cara yang paling baik berperang melawan musuh adalah menikmati Tuhan.
Saya bisa membuktikan bahwa menikmati Tuhan adalah peperangan melawan musuh. Kita berperang berdasarkan berhari raya. Setiap hari saya berperang melawan kuman melalui makan makanan yang sehat. Saya tidak bisa menghitung, setiap hari makan makanan yang sehat telah mengalahkan berapa banyak kuman. Seprinsip dengan ini, kita perlu setiap hari berhari raya dengan Tuhan, setiap hari menikmati Tuhan. Kalau kita memperhatikan menikmati Tuhan, musuh akan menjauhi kita. Sungguh ajaib sekali!
Ketika kita mengeluarkan waktu menikmati Tuhan, tidak seharusnya takut akan serangan musuh. Berdasarkan janji Tuhan dalam 34:23-24, kita dapat selamat. Kalau kita memperhatikan berhari raya bersama dengan Tuhan, Dia dapat membereskan musuh yang tamak. Sebenarnya, kenikmatan kita terhadap Tuhan bisa membuat musuh lari.
Tuhan telah berjanji akan mengusir orang kafir, memperluas daerah tanah permai, dan membuat musuh yang tamak menjauhi tanah permai. Ini berarti, Ia akan memusnahkan semua perkara yang menduduki kita dan yang merampas kita. Ia akan memperluas batas Kristus, dan menjaga kenikmatan kita terhadap Kristus.