← Daftar isi Keluaran (11) · bab 15/16

PENDIRIAN KEMAH SUCI (1)

Pembacaan Alkitab: Kel. 40:1-38

Sebagai kesimpulan Pelajaran-Hayat Kitab Keluaran, dalam berita ini dan berita berikutnya kita akan membahas Keluaran 40:1-38. Dalam Kitab Keluaran, kita melihat catatan tentang wahyu Allah mengenai Kemah Suci (Tabernakel) dan perabotannya dan juga catatan tentang pembuatan Kemah Suci (Tabernakel) dan perabotannya. Dalam Keluaran 40, kita melihat dua catatan. Pertama adalah perintah Allah mengenai pendirian Kemah Suci dan penempatan perabotan dan perkakas. Catatan kedua menguraikan bagaimana Musa melakukan segala sesuatu menurut perintah Allah. Kedua catatan ini, tentunya hampir-hampir sama persis. Sebenarnya dalam Kitab Keluaran ada empat catatan yang berkenaan dengan Kemah Suci dan perabotannya serta perkakasnya. Dalam berita yang lalu, kita telah tunjukkan alasan dari perbedaan dalam urutan antara catatan wahyu tentang Kemah Suci dan perabotannya dengan catatan tentang pembuatan Kemah Suci dan perabotannya. Di sini saya hendak menunjukkan bahwa dalam keempat catatan tersebut, perkara yang paling penting adalah tabut kesaksian.

PIHAK ALLAH DAN PIHAK KITA

Kita telah lihat bahwa wahyu Kemah Suci dan perabotannya diawali dengan tabut kesaksian, Allah memulai dari tabut kesaksian, lalu menuju pelataran luar. Namun menurut pengalaman kita, kita mulai dari mezbah kurban bakaran dan terus maju menuju tabut. Di sini kita melihat perbedaan antara sudut pandang Allah dengan sudut pandang kita, antara tujuan Allah dengan tujuan kita. Allah memulai dari tabut kesaksian dan kita memulai dari mezbah kurban bakaran.

Jika kita bandingkan Kitab Roma dengan Kitab Efesus, kita juga melihat perbedaan antara pihak Allah dengan pihak kita, antara tujuan Allah dengan tujuan kita. Kitab Roma dimulai dengan pihak kita, dengan keadaan manusia yang jatuh. Dalam Roma 1 ada rincian mengenai hal-hal kedosaan, dan dalam Roma 3 kita melihat mezbah. Namun, Kitab Efesus dimulai dengan pihak Allah. Bahkan dalam pasal pertama dari Kitab Efesus kita sudah melihat maksud Allah. Ini berarti dalam Efesus 1 kita melihat Kristus sebagai tabut kesaksian.

Sejauh menyinggung Kemah Suci dan perabotannya, Kitab Keluaran tidak dimulai dari pihak kita dan mengarah kepada pihak Allah. Sebaliknya, kitab itu dimulai dari pihak Allah dan mengarah kepada pihak kita. Allah ada di surga dan kita di bumi. Kita perlu menanyakan tidak hanya cara kita menjangkau Allah, tetapi juga cara Allah menjangkau kita. Bukanlah hal mudah Allah menjangkau kita. Namun, beberapa orang mungkin berkata, karena Allah berdaulat dan berkuasa, Ia dapat melakukan apa saja yang diinginkan-Nya dan dapat dengan mudah menjangkau kita. Tentu saja, Allah berdaulat dan berkuasa. Namun, harus kita ingat bahwa Allah bukan tidak memiliki hukum; bahkan Ia adalah Allah dari hukum, peraturan, dan ketetapan. Karena Allah adalah Allah yang teratur, Ia tidak dapat bertindak bertentangan dengan sifat-Nya. Ia tidak dapat melakukan sesuatu yang bertentangan dengan cara keadilan-Nya. Untuk menjangkau manusia, Allah yang kudus dan adil itu harus bertindak menurut cara yang sesuai dengan kekudusan-Nya dan berhubungan dengan keadilan-Nya. Maka, untuk turun dari surga ke bumi menjangkau kita, keadilan-Nya harus ditegakkan, dan kekudusan-Nya harus dihormati. Ini berarti Allah tidak dapat datang kepada kita secara ceroboh. Kedatangan Allah menuntut sejumlah langkah, atau tahap dari tabut di dalam tempat maha kudus kepada mezbah di pelataran luar. Tahap-tahap ini dapat dibandingkan dengan belokan yang kita lakukan ketika mengemudi. Pengemudi mobil mungkin berbelok ke kanan dulu, lalu ke kiri, namun semua belokan itu perlu ditempuhnya agar tiba di tempat tujuan. Demikian pula, dalam Kemah Suci ada sejumlah belokan.

MAKSUD ALLAH ADALAH MEMPEROLEH TABUT

Kitab Keluaran mewahyukan bahwa maksud Allah adalah memperoleh tabut. Tabut ini adalah tabut kesaksian, dan ini menyebabkan Kemah Suci menjadi Kemah Kesaksian. Yang Allah inginkan adalah tabut kesaksian yang ada di dalam Kemah Kesaksian. Namun, kita mungkin menginginkan tidak lebih dari keselamatan pribadi kita. Karena kita memperhatikan keselamatan kita, mungkin kita tidak memiliki pikiran tentang kesaksian Allah. Keselamatan kita ada di mezbah, tetapi kesaksian Allah ada di tabut. Kebanyakan orang Kristen hari ini tidak memiliki perhatian terhadap kesaksian Allah. Mereka terutama memperhatikan keselamatan mereka. Kalau Anda berbicara dengan mereka tentang perkara-perkara lain dalam firman Allah, mungkin mereka berkata, “Adakah hubungan perkara ini dengan keselamatanku? Apakah hal ini mempengaruhi soal aku masuk ke surga?” Inilah cara orang Kristen hari ini memandang suatu perkara. Orang Kristen hari ini tidak begitu memikirkan kesaksian Allah.

Tahukah Anda pokok (subyek) Kitab Wahyu, kitab terakhir dari Alkitab? Dalam menjawab pertanyaan ini, beberapa orang Kristen mungkin berkata bahwa Kitab Wahyu adalah kitab nubuat yang memberi tahu kita tentang binatang yang keluar dari laut dan binatang lain yang keluar dari bumi. Namun, bukan itu pokok Kitab Wahyu. Dalam Wahyu 1, kita melihat pokok kitab tersebut kesaksian Yesus. Kitab terakhir dari Alkitab bersangkut paut dengan kesaksian Yesus. Kembali kita harus menghargai fakta ajaib bahwa Alkitab benar-benar merupakan wahyu ilahi. Pikiran manusia tidak mampu menyusun kitab semacam ini.

Akhirnya, dalam kitab terakhir dari keenam puluh enam kitab dalam Alkitab, kita memiliki kitab yang berkenaan dengan kesaksian Yesus. Kesaksian ini adalah tabut Allah. Menurut Kitab Wahyu, tabut Allah akhirnya tersim-pul dalam Kemah Suci yang akan menjadi Yerusalem Baru. Yerusalem Baru akan menjadi penggenapan puncak dari Kemah Suci. Sasaran kekal Allah ialah memperoleh Yerusalem Baru.

Dalam membaca Kitab Keluaran, kita perlu memper-hatikan dengan cermat makna tabut kesaksian. Saya harap semua pemuda khususnya dapat melihat pentingnya tabut kesaksian dalam kitab ini. Sewaktu membaca dan mempelajari firman Allah, kita tidak sepatutnya dikendalikan oleh pikiran alamiah, agama atau kebudayaan. Kita tidak seharusnya hanya memperhatikan menerima suatu berkat dari Allah. Kita perlu tahu bahwa yang Allah inginkan adalah tabut kesaksian di dalam Kemah Kesaksian.

Dalam wahyu tentang Kemah Suci dan perabotannya, tabut disebut lebih dulu. Dalam membuat Kemah Suci dan perabotannya, dan dalam dua catatan tentang perkara ini dalam Keluaran 40, tabut kesaksian juga menduduki tempat utama. Kita telah melihat bahwa tabut kesaksian melambangkan Kristus. Perabot pertama yang ditaruh di dalam Kemah Suci adalah tabut. Jadi, tabut adalah benda utama dari Kemah Suci dan perabotannya.

DUA AWAL

Keluaran 40:2 mengatakan, “Pada hari yang pertama dari bulan yang pertama haruslah engkau mendirikan Kemah Suci, yakni Kemah Pertemuan itu.” Sungguh sangat bermakna bahwa Allah memerintahkan Musa mendirikan Kemah Suci pada hari pertama bulan pertama dari tahun kedua. Kita tahu bahwa bulan pertama dari tahun pertama adalah saat Paskah. Jadi, dari Paskah ke pendirian Kemah Suci terdapat selang waktu satu tahun.

Dalam Keluaran 12 dan 40 kita melihat bahwa umat Allah memiliki dua awal. Awal pertama dimulai dengan Paskah, ini untuk keselamatan bani Israel. Awal kedua dimulai dengan tempat kediaman Allah. Kedua awal ini adalah contoh atau tanda yang jelas. Awal pertama adalah diselamatkan, mengalami Paskah, agar penghakiman Allah melewati kita. Setiap orang Kristen sejati pasti mengalami awal ini. Namun, bagaimana dengan awal kedua, yang berkenaan dengan pembangunan tempat kediaman Allah? Adalah suatu fakta bahwa tidak banyak orang Kristen menyadari kebutuhan memiliki awal kedua ini.

Sewaktu masih muda, saya membaca beberapa buku yang membicarakan berkat kedua. Orang-orang Pentakosta berkata bahwa memiliki berkat kedua ini adalah mengalami baptisan Roh Kudus. Mereka mendorong kaum beriman menuntut berkat kedua ini. Namun, orang-orang Kristen yang menekankan hayat batini menyatakan bahwa berkat kedua adalah sesuatu yang batiniah. Mungkin mereka berkata demikian, “Anda perlu mengalami salib Kristus. Kalau Anda mengalami salib, maka dalam batin, Anda akan dipenuhi dengan hayat. Pemenuhan di dalam ini adalah berkat kedua.” Namun, pernahkah Anda mendengar seseorang berbicara tentang berkat kedua, bulan Abib kedua, pada tahun kedua? Bulan pertama dari almanak kudus disebut bulan Abib, yang berarti tunas yang hijau, melambangkan suatu permulaan yang baru dan segar dalam hayat.

Kita semua perlu memiliki dua awal, yang satu dilambangkan oleh Paskah dalam Keluaran 12, dan yang lain dilambangkan dengan pendirian Kemah Suci dalam Keluaran 40. Inilah perkara yang sangat penting. Awal kedua tidak berhubungan dengan berbahasa lidah atau pemenuhan batini hayat batiniah. Juga bukan berkat kedua yang dikatakan oleh orang-orang penganut kekudusan. Kata mereka, “Jika kita menerima kekudusan, kita telah menerima berkat kedua.” Namun, dari Kitab Keluaran kita melihat bahwa awal kedua berhubungan dengan pembangunan tempat kediaman Allah. Ketika dalam kehidupan orang Kristen kita, kita mengalami pembangunan tempat kediaman Allah secara riil, kita memiliki berkat kedua. Apakah tempat kediaman Allah hari ini? Tempat kediaman Allah ialah gereja, yang disebut rumah Allah yang hidup (1Tim. 3:15). Pembangunan rumah ini adalah awal kedua, berkat kedua yang sejati, awal yang terjadi pada hari pertama bulan pertama dari tahun kedua. Betapa senangnya saya karena memiliki jaminan bahwa saya telah mengalami awal kedua! Banyak di antara kita juga memiliki kepastian bahwa kita telah memiliki awal kedua ini. Ini benar-benar berkat! Memiliki awal kedua dengan pembangunan tempat kediaman Allah jauh lebih baik daripada berbahasa lidah, pemenuhan batiniah, atau kekudusan. Tak satu pun dari barang itu yang dapat dibandingkan dengan tempat kediaman Allah. Tak satu pun dari barang-barang itu dapat dibandingkan dengan pembangunan gereja.

Ada orang begitu mendengar hal ini, mungkin akan berkata, “Witness Lee selalu berbicara tentang gereja. Ke mana pun ia pergi, ia menekankan gereja, karena itulah barang dagangannya.” Sebenarnya, saya tidak mempromosikan “barang dagangan” saya mempromosikan barang dagangan Allah. Apa yang kita lihat pada akhir Kitab Keluaran? Kita lihat tempat kediaman Allah. Kita melihat Kemah Suci yang diduduki dan dimiliki oleh Allah, dengan mulia mengekspresikan Allah. Kita melihat hal yang sama pada akhir Alkitab. Pada pasal terakhir Kitab Wahyu, kita melihat Kemah Suci, yaitu Yerusalem Baru, diduduki dan dimiliki oleh Allah, dengan mulia mengekspresikan-Nya. Dalam Keluaran 40:34 kita diberi tahu bahwa “kemuliaan TUHAN memenuhi Kemah Suci”, dan dalam Wahyu 21 kita lihat bahwa Yerusalem Baru memiliki kemuliaan Allah (Why. 21:10-11). Pada akhir Kitab Keluaran dan pada akhir Kitab Wahyu kita melihat kemuliaan Allah memenuhi Kemah Suci, tempat kediaman Allah.

MUSA MELAKUKAN APA YANG TUHAN PERINTAHKAN

Keluaran 40:16 mengatakan, “Dan Musa melakukan semuanya itu tepat seperti yang diperintahkan TUHAN kepadanya, demikianlah dilakukannya.” Berkali-kali perkataan “seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa” diulang (ayat 19, 21, 23, 25, 27, 29, 32). Sewaktu masih muda saya membaca bagian firman ini, saya mengira hal ini terlalu berulang-ulang. Bagi saya, sudahlah cukup mengatakan di bagian akhir bahwa segala sesuatu dilakukan menurut yang diperintahkan Allah kepada Musa. Namun, perkataan “seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa” diulangi berkali-kali, ini menerangkan sesuatu yang penting.

Walaupun catatan dalam Keluaran 40 tidak begitu panjang, namun cukup rinci. Mula-mula kita diberi tahu bahwa “Musa mendirikan Kemah Suci itu, dipasangnyalah alas-alasnya, ditaruhnya papan-papannya, dipasangnya kayu-kayu lintangnya dan didirikannya tiang-tiangnya” (ayat 18). Kemudian kita diberi tahu bahwa Musa “mengembangkan” atap kemah yang menudungi Kemah Suci dan diletakkannyalah tudung kemah di atasnya” (ayat 19). Tirai-tirai ditaruh di atas papan-papan untuk membentuk langit-langit, dan lapisan penudung ditaruh di atas tirai-tirai untuk membentuk atap. Jadi, di dalam, tirai membentuk langit-langit, dan di luar, tudung-tudung membentuk atap.

Ayat 20 dan 21 mengatakan tentang tabut, “Diambilnyalah loh hukum Allah dan ditaruhnya ke dalam tabut, dikenakannyalah kayu pengusung pada tabut itu dan diletakkannya tutup pendamaian di atas tabut itu. Dibawanyalah tabut itu ke dalam Kemah Suci, digantungkannyalah tabir penudung dan dipasangnya sebagai penudung di depan tabut hukum Allah seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa.” Ayat 20 mengatakan tentang tutup tabut sebagai tutup pendamaian. Versi King James memakai ungkapan “kursi rahmat”. Menurut Perjanjian Baru, tutup pendamaian adalah takhta anugerah (Ibr. 4:16), tempat Allah bertemu dengan umat-Nya. Sesudah tabut ditaruh di dalam Kemah Suci, tabir yang menudungi tabut kesaksian dibentangkan.

PERLUNYA REALITAS

Menurut ayat 22, Musa menaruh meja dalam Kemah Pertemuan, di sebelah utara Kemah Suci, di luar tabir. Kemudian ia menaruh di atas meja itu beberapa ketul roti secara rapi. Roti untuk dimakan, untuk perawatan. Di seberang meja, di sebelah selatan Kemah Suci, Musa menaruh kaki pelita, dan dinyalakannya lampunya di hadapan Tuhan. Selanjutnya, Musa menaruh mezbah ukupan dari emas di depan tabir. Kemudian, seperti yang diperintahkan Tuhan kepadanya, dibakarnya di atas mezbah itu ukupan rempah-rempah yang harum. Pada mezbah ukupan, para imam dapat berdoa dan bersyafaat bagi umat Allah.

Dalam Keluaran 40, roti disebutkan bersama-sama meja; penyalaan lampu bersama-sama dengan kaki pelita; dan pembakaran ukupan dengan mezbah ukupan emas. Ini menunjukkan bahwa kita tidak sepatutnya memiliki meja tanpa roti, memiliki kaki pelita tanpa terang, atau mezbah ukupan tanpa ukupan. Begitu meja ditaruh dalam tempat kudus, roti pun disusun di atasnya. Demikian pula, begitu kaki pelita ditaruh di seberang meja, lampu-lampunya dinyalakan. Tambahan pula, begitu mezbah emas ditaruh di depan tabir, ukupan pun dibakar di atasnya. Setiap orang yang masuk ke tempat kudus dapat melihat roti dan terang serta mencium ukupan itu. Ini menunjukkan, dalam pemulihan Tuhan, kita tidak sepatutnya memiliki hal-hal luaran tanpa realitas dari hal-hal tersebut. Misalnya, kita tidak sepatutnya dibaptis tanpa realitas kematian dan kebangkitan Tuhan, atau mengadakan Pemecahan Roti tanpa realitas Tubuh Kristus. Kalau kita tidak memiliki realitas, kita hanyalah kepompong kosong.

MENYELESAIKAN PEKERJAAN ITU

Keluaran 40:28 mengatakan, “Digantungkannyalah tirai pintu Kemah Suci.” Begitu tirai digantungkan, seluruh Kemah Suci selesai didirikan. Jadi, ayat 30 melanjutkan mengisahkan bejana pembasuhan dan mezbah kurban bakaran, dan ayat 33 mengisahkan pembuatan pelataran di sekeliling Kemah Suci dan mezbah itu serta penggantungan tirai pintu pelataran. Lalu ayat 33 ditutup dengan perkataan, “Demikianlah diselesaikan Musa pekerjaan itu.” Pada saat ini, selesailah semua pekerjaan berkenaan dengan pendirian Kemah Suci dan pelataran luar. Dalam berita berikut, berita terakhir dalam Pelajaran-Hayat Kitab Keluaran kita akan melihat bahwa awan menudungi Kemah Pertemuan itu dan kemuliaan Tuhan memenuhi Kemah Suci.