← Daftar isi Keluaran (11) · bab 16/16

PENDIRIAN KEMAH SUCI (2)

Pembacaan Alkitab: Kel. 40

URUTAN DALAM MENDIRIKAN

KEMAH SUCI

Dalam Keluaran 40:1-16 terdapat perintah Tuhan kepada Musa mengenai pendirian Kemah Suci (Tabernakel), dan dalam ayat 17-33, terdapat pendirian Kemah Suci secara riil. Sehubungan dengan pendirian Kemah Suci, kita melihat urutan berikut: mendirikan papan-papan (ayat 18); mengembangkan layar dan meletakkan tudung kemah di atasnya (ayat 19); menempatkan tabut kesaksian di dalam tempat maha kudus (ayat 20, 21a), menggantungkan tabir penudung untuk menudungi tabut kesaksian (ayat 21b); menaruh meja di dalam tempat kudus di sebelah utara, di depan tabir, dan menyusun roti sajian di atasnya di hadapan Tuhan (ayat 22-23); menaruh kaki pelita di dalam tempat kudus, berhadapan dengan meja itu, di sebelah selatan, dan memasang lampu-lampu di hadapan Tuhan (ayat 24-25); menempatkan mezbah emas di dalam tempat kudus di depan tabir itu dan membakar di atasnya ukupan dari wangi-wangian (ayat 26-27); menggantungkan tirai pintu Kemah Suci (ayat 28); menempatkan mezbah kurban bakaran di pintu Kemah Suci dan mempersembahkan kurban bakaran dan kurban sajian di atasnya (ayat 29); menempatkan bejana pembasuhan di antara Kemah Suci dengan mezbah, mengisinya dengan air untuk mencuci tangan dan kaki imam-imam (ayat 30-32); mendirikan tiang-tiang pelataran sekeliling Kemah Suci dan mezbah itu (ayat 33a); dan menggantung tirai pintu gerbang pelataran itu (ayat 33b).

AWAN MENUTUPI KEMAH PERTEMUAN DAN KEMULIAAN TUHAN MEMENUHI KEMAH SUCI

Dalam Keluaran 40:34-38 kita memiliki catatan mengenai kemuliaan Tuhan yang memenuhi Kemah Suci. Ayat 34 mengatakan, “Lalu awan itu menutupi Kemah Pertemuan, dan kemuliaan TUHAN memenuhi Kemah Suci.” Ayat ini berbicara mengenai dua aspek; yaitu mengenai sesuatu yang terjadi di luar Kemah Pertemuan dan sesuatu yang terjadi di dalam Kemah Suci. Awan menutupi Kemah Pertemuan, dan kemuliaan TUHAN memenuhi Kemah Suci. Kemah Pertemuan dan Kemah Suci sama strukturnya. Bagi manusia adalah Kemah Pertemuan, bagi Allah adalah Kemah Suci. Kita boleh juga mengatakan bahwa secara luaran adalah Kemah Pertemuan, tetapi dilihat dari dalamnya adalah Kemah Suci.

Dalam hidup gereja hari ini ada perbedaan antara Kemah Pertemuan dengan Kemah Suci. Kita bisa mengalami hidup gereja dan berada dalam hidup gereja, tetapi kita mungkin berada di luar dan bukan di dalam. Ini berarti hidup gereja kita mungkin hanya Kemah Pertemuan, bukan Kemah Suci.

Jika kita mempelajari Kitab Keluaran dengan teliti, kita akan melihat bahwa kali pertama Kemah Pertemuan disebut adalah segera sesudah bani Israel melakuan pemujaan berhala dengan membuat anak lembu emas dan menyembahnya. Musa memindahkan kemahnya ke luar perkemahan, dan kemudian kemahnya menjadi Kemah Pertemuan.

Dalam hidup gereja kita mungkin hanya berkumpul di sekitar Kemah Pertemuan belaka. Kita mungkin tidak berada di dalam Kemah Suci. Dalam Keluaran 40, Kemah Pertemuan ditudungi oleh awan, tetapi Kemah Suci dipenuhi dengan kemuliaan. Maka yang hanya berkumpul sekeliling Kemah Pertemuan mungkin memiliki awan. Namun, kita perlu menikmati tidak hanya awan di atas Kemah Pertemuan, lebih-lebih perlu menikmati kemuliaan di dalam Kemah Suci.

Demi belas kasihan Tuhan saya dapat bersaksi bahwa selama tahun-tahun yang awal, saya berada di bawah awan, tetapi hari ini saya berada di dalam Kemah Suci yang dipenuhi dengan kemuliaan. Kenikmatan saya tidak lagi dari awan semata, tetapi juga dari kemuliaan. Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda hanya menikmati awan di atas Kemah Pertemuan, atau juga menikmati kemuliaan di dalam Kemah Suci? Sebagian orang beriman yang sangat berbahagia dan membubung dalam hidup gereja mungkin berada di bawah awan, tidak dalam kemuliaan. Orang-orang beriman yang demikian perlu lebih banyak mengalami hidup gereja, supaya dapat memasuki Kemah Suci dan melihat kemuliaan yang di dalamnya.

Kemah Pertemuan dan Kemah Suci

Istilah “Kemah Suci” dalam Alkitab, menunjuk pada sesuatu yang dalam dan rahasia mengenai Allah dan kesaksiannya. Frasa “Kemah Pertemuan” adalah positif; namun maknanya tidak sedalam makna Kemah Suci. Kemah Suci ada hubungannya dengan kesaksian Allah, tetapi Kemah Pertemuan terutama berhubungan dengan kepentingan Allah dan pergerakan-Nya di bumi. Anda mungkin berharap untuk mengingat perbedaan ini, ketika Anda membaca Perjanjian Lama. Ingatlah bahwa kata “Kemah Suci” menunjuk pada sesuatu yang langsung berhubungan dengan kesaksian Allah, dan istilah “Kemah Pertemuan” menunjuk pada sesuatu yang lebih luaran, lahiriah, berhubungan dengan kepentingan dan pergerakan Allah.

Sebagai gambaran dari perbedaan ini, mari kita perhatikan Imamat 1. Menurut Imamat 1:1, Tuhan berbicara kepada Musa dari dalam Kemah Pertemuan. Dalam ayat ini kita tidak diberi tahu bahwa Tuhan berbicara dari dalam Kemah Suci. Bila kita membaca ayat ini, kita mungkin berpikir, sungguh ajaib bahwa Allah berbicara dari dalam Kemah Pertemuan. Ya, Allah berbicara dari dalam Kemah Pertemuan memang indah. Namun tidak seindah bila Ia berbicara di dalam Kemah Suci.

Hubungan Antara Awan dengan Kemuliaan

Penting bagi kita untuk mengerti hubungan antara awan dengan kemuliaan. Kita bisa berkata bahwa awan adalah bagian luar, “kulit” dari kemuliaan Allah. Yang kita maksudkan dengan kulit adalah suatu penutup luaran. Jika mengartikan kata “kulit” dengan cara ini, kita bisa berkata bahwa jeruk memiliki kulit sebagai penutupnya, dan kita bisa berkata bahwa tubuh manusia mempunyai kulit sebagai penutupnya. Kulit menutupi tubuh, dan tubuh meliputi seluruh diri kita. Namun, kulit yang menutupi tubuh manusia bukanlah apa adanya kita yang sebenarnya, apa adanya kita adalah roh. Mereka yang berada di luar Kemah Suci dapat melihat kulitnya. Siapa saja yang memasuki Kemah Suci akan melihat bukan hanya kulit, tetapi juga melihat cahaya kemuliaan dari Kemah Suci.

Orang-orang muda mungkin menikmati hidup gereja dan menyaksikan betapa indahnya hidup gereja itu. Namun, mungkin mereka hanya menikmati “kulit” gereja. Namun, tidak berarti mereka harus tidak lagi menikmati hal itu. Sebaliknya, mereka harus maju terus menikmati kemuliaan yang di dalam dari Kemah Suci. Orang-orang muda, jangan kecewa dengan kata-kata saya, dan jangan membuang kulit itu, sebab Anda belum mempunyai banyak kemuliaan yang di dalam.

Saya percaya bahwa banyak dari kita yang dapat menyaksikan bahwa ketika kita berada di Elden Hall di Los Angeles, kita berada di atas “atap” hidup gereja menikmati awan. Mungkin beberapa orang akan berkata bahwa hidup gereja di Anaheim tidak sesemarak di Elden. Saya setuju. Namun, kita harus mengakui bahwa apa yang kita nikmati hari ini adalah sesuatu yang lebih dalam dan lebih rohani daripada yang kita nikmati di Elden Hall. Mungkin kita tidak lagi berada di atas atap menikmati awan, tetapi kita harus belajar untuk bersyafaat di mezbah ukupan. Siapa saja yang bersyafaat di mezbah pembakaran ukupan, tidak lagi di dalam awan yang menudungi Kemah Pertemuan. Sebaliknya, ia diliputi oleh kemuliaan yang ada di dalam hidup gereja. Saya harap semakin banyak dari kita akan melihat hal ini dan mengalaminya.

Beberapa orang beriman yang lebih tua mungkin merasa terganggu atau kecewa. Mereka mungkin berkata kepada diri mereka sendiri, “Mengapa kita tidak sesegar dulu? Mengapa hidup gereja tidak begitu berkobar?” Memang baik untuk berkobar dan juga baik untuk bisa mengobarkan yang lain. Namun, hanyalah orang-orang muda yang dikobarkan dan berkobar, karena mereka menikmati awan di luar Kemah Pertemuan. Akan tetapi, sulit bagi orang-orang yang lebih tua, yang mengalami kemuliaan di dalam Kemah Suci, untuk berkobar secara luaran. Saya dapat bersaksi bahwa sebagai orang tua, saya mungkin tidak berkobar di luaran, tetapi saya mengetahui indahnya bersyafaat di mezbah pembakaran ukupan. Betapa dambanya saya menikmati roti di meja dan berlama-lama di mezbah pembakaran ukupan!

Mereka yang berada di pelataran luar mungkin berkumpul di sekeliling mezbah kurban bakaran dan melihat awan menudungi Kemah Pertemuan. Namun, jika mereka ingin melihat kemuliaan, mereka perlu masuk ke dalam Kemah Suci. Kemuliaan tidak ada di atas atap, ia ada di dalam Kemah Suci. Ketika kita masuk ke dalam Kemah Suci, kita akan melihat kemuliaan di sana.

BERGERAK BERSAMA TEMPAT KEDIAMAN ALLAH

Menurut Keluaran 40:36-38, awan kemuliaan TUHAN menjadi pemimpin bani Israel. Ketika awan terangkat dari Kemah Suci, umat itu berangkat: “Apabila awan itu naik dari atas Kemah Suci, berangkatlah orang Israel dari setiap tempat mereka berkemah.” Tetapi jika awan tidak naik, mereka akan tinggal di mana mereka berada: “Tetapi jika awan itu tidak naik, maka mereka pun tidak berangkat sampai hari awan itu naik.” Ayat 38 memberi tahu kita, “Awan TUHAN itu ada di atas Kemah Suci pada siang hari, dan pada malam hari ada api di dalamnya, di depan mata seluruh umat Israel pada setiap tempat mereka berkemah.”

Orang Kristen hari ini sering berbicara tentang kehendak, pimpinan, dan bimbingan Tuhan. Namun, menurut perlambangan dalam Keluaran 40, selain tempat kediaman Allah, tidak ada pedoman atau pimpinan. Tempat kediaman Allah adalah pimpinan yang unik. Ketika awan bergerak, seluruh bani Israel turut bergerak. Namun, jika awan tidak bergerak, mereka diam. Ini berarti bani Israel mengikuti Kemah Suci bersama awan. Perjalanan kekristenan kita haruslah perjalanan yang mengikuti pergerakan Allah bersama tempat kediaman-Nya. Ini jelas digambarkan dengan gambaran dalam Keluaran 40.

Dalam Kitab Bilangan kita melihat bahwa segala sesuatu yang Allah lakukan berhubungan dengan tempat kediaman-Nya. Ini berlaku juga bahkan dalam perkara berperang melawan musuh-Nya: Allah bersama dengan tempat kediaman-Nya berperang melawan musuh-Nya. Tempat kediaman-Nya, Kemah Suci, adalah senjata terbaik. Apa pun yang umat Allah lakukan dan ke mana pun mereka pergi adalah menurut situasi yang sesuai dengan tempat kediaman Allah. Hari ini kita perlu menerapkan prinsip ini dalam hidup gereja. Ketika tempat kediaman Allah diam, kita diam bersamanya. Namun, jika ia bergerak, kita bergerak bersamanya. Selanjutnya, ketika tempat kediaman Allah berjuang, kita juga berjuang.

Pimpinan dan pedoman yang sejati tidaklah menurut perasaan, pendapat, penglihatan, atau pandangan kita. Namun, banyak orang percaya mencari pengetahuan mengenai kehendak Allah atau apa yang mereka sebut pimpinan Allah hanya menurut pandangan, penglihatan, perasaan, atau konsepsi mereka. Pernahkah Anda mendengar seseorang berbicara mengenai pimpinan Tuhan dan kehendak Tuhan menurut gereja? Jarang sekali perkataan demikian hari ini. Inilah tanda selanjutnya bahwa situasi di antara umat Allah jauh dari normal. Inilah alasan dibutuhkannya pemulihan Tuhan.

Pemulihan Tuhan, yang berdasarkan wahyu sepenuhnya dari firman kudus, berbeda dari cara agama yang tradisional. Rumah hidup dari Allah yang hidup ialah pemimpin kita sehubungan dengan apakah kita harus tinggal atau bergerak, apakah waktunya untuk berperang atau bekerja. Kita akan terlibat dalam segala kegiatan bukan berdasarkan pendapat atau pandangan kita dan bahkan bukan menurut Alkitab dalam huruf-huruf yang mati, tetapi menurut tempat kediaman Allah dengan kemuliaan-Nya. Ketika kita memiliki hubungan yang wajar dengan tempat kediaman Allah, kita menikmati perhentian, kemenangan, dan berkat. Bila kita bersatu dengan tempat kediaman Allah, yang dipenuhi dengan kemuliaan-Nya, kita memiliki segala sesuatu yang kita butuhkan. Kita memiliki pimpinan dan bimbingan Tuhan, kita memiliki berkat-Nya dan kemenangan-Nya. Selanjutnya, kita memiliki kebenaran dan kekudusan. Kita bersyukur kepada Tuhan untuk gambaran yang jelas ini dalam Keluaran 40:36-38.

PERBANDINGAN ANTARA KITAB KEJADIAN DENGAN KITAB KELUARAN

Sebuah Peti Mati dan Sebuah Kemah Suci

Sebagai kata kesimpulan untuk pelajaran-hayat ini, saya ingin membandingkan Kitab Kejadian dengan Kitab Keluaran. Kitab Kejadian dimulai dengan penciptaan oleh Allah (Kej. 1:1) dan berakhir dengan peti mati di Mesir yang berisi mayat (Kej. 50:26). Kitab Keluaran dimulai dengan perbudakan di Mesir (Kel. 1:11) dan berakhir dengan Kemah Suci yang diliputi dan dipenuhi dengan kemuliaan Allah (Kel. 40:34-38). Kitab Kejadian tidak mempunyai akhir yang mulia. Pada akhir buku ini kita melihat manusia mati, ditaruh di dalam peti di dalam dunia (Mesir), manusia yang diciptakan oleh Allah dalam gambar-Nya untuk ekspresi-Nya dan berkuasa untuk-Nya. Ayat terakhir Kitab Kejadian berkata, “Kemudian matilah Yusuf . . . dan ditaruh dalam peti mati di Mesir.” Dalam ayat ini kita melihat kematian yang merupakan akibat dosa, dan juga melihat dunia. Inilah kesimpulan Kitab Kejadian.Betapa berbedanya dengan kesimpulan Kitab Keluaran! Pada akhir Kitab Keluaran kita tidak memiliki peti mati yang berisi mayat, kita memiliki Kemah Suci berisi kemuliaan Allah.

Pada awal Kitab Keluaran kita melihat lanjutan dari kesimpulan Kitab Kejadian. Kita melihat bahwa Kitab Kejadian berakhir dengan manusia yang mati di dalam peti di Mesir. Kitab Keluaran dimulai dengan gambaran umat Allah yang melayani sebagai budak di Mesir. Bila kita pertimbangkan situasi pada akhir Kitab Kejadian dan awal Kitab Keluaran, kita melihat bahwa di satu pihak kita mati; di pihak lain, kita adalah budak Iblis, yang dilambangkan dengan Firaun. Kita semua direbut oleh Iblis dan diperbudak olehnya. Namun, Kristus sebagai Paskah kita telah membebaskan kita, melepaskan kita dari perbudakan ini. Penebusan Kristus telah membawa kita keluar dari perbudakan Iblis di Mesir ke dalam tanah kebebasan (padang gurun). Di padang gurun, pergerakan Allah selanjutnya membawa kita kepada Kemah Suci yang mulia. Di sini tidak ada kematian, tidak ada dosa, tidak ada dunia. Sebaliknya kita memiliki Allah bersama hadirat dan kemuliaan-Nya. Kita tidak lagi mati dan di dalam dunia, tetapi sekarang kita adalah bagian dari Kemah Suci yang hidup dan bergerak bagi penggenapan tujuan Allah di bumi.

Israel yang Individual dan Israel yang Korporat

Ada juga perbandingan kedua yang penting antara Kitab Kejadian dengan Kitab Keluaran. Dalam Kitab Kejadian, Israel yang individual diciptakan untuk mengekspresikan Allah dan melaksanakan kuasa-Nya bagi-Nya. Dalam Kitab Keluaran, Israel yang korporat diciptakan untuk mengekspresikan Allah. Ini lebih mulia daripada yang terdapat dalam Kitab Kejadian. Israel yang individual dalam Kitab Kejadian mengemban gambar Allah dan mengekspresikan Dia, dan ia mewakili Allah serta melaksanakan kuasa-Nya di bumi. Menjelang Israel yang individual ini matang, dia benar-benar lebih berkuasa daripada Firaun. Bahkan Firaun berada di bawah pemberkatannya. Israel korporat yang dihasilkan dalam Kitab Keluaran juga mengemban gambar Allah dan melaksanakan kuasa-Nya. Kita harus mengakui bahwa Israel korporat dalam Kitab Keluaran lebih mulia daripada Israel individual dalam Kitab Kejadian.

Visi yang Mengubah

Penting sekali kita semua melihat visi ini. Visi yang demikian, wahyu yang demikian, akan memperbarui konsepsi kita, mengubah kehidupan kita sehari-hari, bahkan mengubah diri kita. Visi ini sangat berbeda dari pengajaran yang diberikan oleh pandangan manusia. Apa yang kita butuhkan ialah wahyu dari pandangan Allah. Saya percaya jika Anda membawa kata kesimpulan ini ke hadapan Tuhan dalam doa dan merenungkannya di hadapan-Nya, Anda akan benar-benar memiliki pandangan yang jelas mengenai kedua kitab ini.

Sketsa Kitab Kejadian dan Kitab Keluaran

Saya percaya ada baiknya memberikan sketsa singkat dari Kitab Kejadian dan Kitab Keluaran. Dalam Kejadian 1, manusia diciptakan oleh Allah, dan dalam Kejadian 3, manusia jatuh. Kemudian, setelah Babel, kita dipanggil bersama Abraham dan menjadi penyeberang sungai, orang Ibrani. Meskipun kita dipanggil bersama Abraham, kita mati dan juga diperbudak untuk melayani kehendak Satan (Iblis) di dunia. Kemudian pada suatu hari kita diselamatkan. Panggilan bersama Abraham adalah dalam Kitab Kejadian, tetapi penyelamatan melalui Kristus sebagai domba Paskah adalah dalam Kitab Keluaran.

Setelah ditebus oleh Domba Paskah, kita berjalan melalui padang gurun dan mengalami Kristus sebagai manna surgawi dan menikmati Dia sebagai air hidup yang keluar dari batu yang terbelah. Akhirnya kita dibawa ke Gunung Sinai, dan di sanalah kita mengalami hidup gereja yang dilambangkan dengan kehidupan bani Israel di sekitar Kemah Pertemuan. Meskipun tidak semua di antara kita memasuki Kemah Suci, kita semua berkumpul di sekitar Kemah Pertemuan dan kita dapat melihat awan di atas Kemah Pertemuan. Di sini tidak ada dosa, tidak ada kematian, dan tidak ada dunia. Di sini, di Kemah Pertemuan, kita memiliki Allah dalam hadirat dan kemuliaan-Nya. Di sini kita menjadi kediaman-Nya, dan Dia menjadi kediaman kita. Ini adalah tempat tinggal bersama. Pada Kemah Pertemuan, yang kita miliki bukan hanya suatu ekspresi individual, kita memiliki suatu umat sebagai ekspresi korporat Allah. Sasaran tujuan Allah ialah memperoleh ekspresi yang demikian melalui umat tebusan-Nya. Ekspresi ini ialah sasaran penebusan Allah, juga sasaran ekonomi kekal Allah. Apa yang Allah rindukan ialah memiliki ekspresi yang korporat dari diri-Nya sendiri melalui umat panggilan dan umat tebusan-Nya.

Pemulihan Tuhan dan Kehendak Allah

Kita perlu terkesan sedalam-dalamnya bahwa pemulihan Tuhan ialah perkara yang besar. Di sini, dalam pemulihan, kita tidak hanya untuk kerohanian, kekudusan, kemenangan, atau berkat. Sebaliknya, kita di sini adalah untuk kehendak kekal Allah. Kitab Kejadian dan Kitab Keluaran berakhir dengan Kemah Suci Allah, tempat kediaman-Nya, dipenuhi dengan kemuliaan. Dalam cara yang sama, keseluruhan Alkitab akan berakhir dengan Yerusalem Baru sebagai Kemah kekal, Kemah Suci yang dipenuhi dengan kemuliaan. Dalam hidup gereja sebagai tempat kediaman Allah, kita memiliki pimpinan dan bimbingan dari Allah kita. Dia bersatu dengan kita, dan kita bersatu dengan Dia, betapa indahnya! Sekarang kita dalam posisi yang tepat untuk mendengar suara Tuhan, perkataan-Nya, seperti yang tercatat dalam Kitab Imamat.

Kita bersyukur kepada Tuhan untuk apa yang telah kita ketahui dalam Kitab Kejadian dan Kitab Keluaran. Saya yakin bahwa siapa saja yang telah bersama kita bertahun-tahun tidak akan tetap begitu saja. Kekekalan akan menyatakan apa yang Tuhan telah lakukan di dalam kita dan di antara kita bagi penggenapan kehendak kekal-Nya. Puji Tuhan untuk kesimpulan mulia dari Kitab Keluaran.

?

PELAJARAN HAYAT

KISAH PARA RASUL

BERITA

01 02 03 04 05 06 07 08

09 10 11

12 13 14 15 16 17 18 19 20

21 22 23 24 25 26 27