← Daftar isi Keluaran (11) · bab 14/16

PEMBUATAN KEMAH SUCI DENGAN PERABOTANNYA DAN PAKAIAN IMAM (2)

Pembacaan Alkitab: Kel. 35:1-10, 20-35; 36:1-7

Dalam Keluaran 35—39 kita temukan catatan tentang pembuatan Kemah Suci dengan perabotannya dan pakaian untuk para imam.

PERSEMBAHAN BAHAN-BAHAN

Dalam Keluaran 35:4-9, 20-29, dan 36:3-7 kita lihat persembahan bahan-bahan. Keluaran 35:4-5 mengatakan, “Berkatalah Musa kepada segenap jemaah Israel: ‘Inilah firman yang diperintahkan TUHAN, bunyinya: Ambillah bagi TUHAN persembahan khusus dari barang kepunyaanmu; setiap orang yang terdorong hatinya harus membawanya sebagai persembahan khusus kepada TUHAN.” Lalu berbagai bahan disebutkan: emas, perak, tembaga, kain biru, kain ungu, kain kirmizi, lenan halus, bulu kambing, kulit domba jantan yang diwarnai merah, kulit lumba-lumba, kayu penaga, minyak untuk penerangan, rempah-rempah untuk minyak urapan, dan untuk ukupan dari wangi-wangian, permata krisopras, dan permata tatahan untuk baju efod dan untuk tutup dada.

Dalam hal mempersembahkan bahan-bahan ini, orang-orang yang pernah menyembah berhala kini menjadi setia kepada Allah. Dulu mereka memakai emas mereka untuk membuat berhala. Tetapi kini mereka setia dan mempersembahkan segala sesuatu kepada Allah untuk pembangunan Kemah Suci, tempat kediaman-Nya. Pemikiran ini terkandung dalam catatan dalam Keluaran 35 tentang persembahan bahan-bahan. Namun hal ini agak dangkal. Dalam berita ini akan ditekankan makna rohani dari persembahan bahan-bahan itu.

Bahan-bahan yang dipersembahkan bagi pembangunan Kemah Suci melambangkan Kristus yang kita alami dalam berbagai aspek. Walaupun bahan-bahan itu diperoleh orang-orang Israel ketika mereka di Mesir, tetapi semua bahan ini tidak disebut sebagai persembahan unjukan, persembahan timangan, dan persembahan sukarela (Kel. 35:5, 21-22, 24, 29; 36:3). Beberapa terjemahan tidak menunjukkan bahwa persembahan-persembahan tersebut adalah persembahan unjukan, persembahan timangan, dan persembahan sukarela. Sebaliknya, beberapa versi hanya mengatakan bahwa persembahan-persembahan ini adalah pemberian atau sumbangan. Persembahan unjukan melambangkan Kristus yang terangkat; persembahan timangan melambangkan Kristus yang bangkit; dan persembahan sukarela melambangkan Kristus yang kita persembahkan kepada Allah dengan sukarela. Allah tidak memaksa kita untuk mengalami Kristus. Entah kita mengalami Kristus atau tidak, agar bisa mempersembahkan-Nya kepada Allah, ini adalah perkara kesukarelaan kita.

Menurut penafsiran rohani, semua persembahan di sini merupakan lambang Kristus yang kita alami. Adakalanya kita mengalami Kristus sebagai realitas Allah. Inilah emas. Pada saat yang lain, kita mengalami Kristus sebagai Penebus kita atau sebagai penebusan kita. Inilah perak. Pada saat yang lain lagi, mungkin kita mengalami Kristus sebagai Yang dihakimi oleh Allah bagi kita, sebagai Kristus yang menggantikan tempat kita dalam penghakiman bagi kita. Inilah tembaga. Semua ini adalah aspek-aspek Kristus yang kita alami.

Bagi pembangunan gereja, tempat kediaman Allah, kita semua mengalami Kristus. Kalau kita tidak mengalami Kristus, kita tidak akan memiliki apa-apa untuk dipersembahkan kepada Allah sebagai persembahan unjukan, persembahan timangan, atau persembahan sukarela bagi pembangunan tempat kediaman-Nya. Misalnya, beberapa orang Israel bertangan hampa, tidak memiliki sesuatu untuk dipersembahkan kepada Tuhan bagi pembangunan Kemah Suci. Mungkin mereka berkata, “Musa telah mengatakan kepada kami soal persembahan bagi pembangunan Kemah Suci. Tetapi kami sangat miskin dan tidak punya apa-apa untuk dipersembahkan.” Betapa malunya! Namun, inilah keadaan banyak orang beriman hari ini. Bila kita singgung soal pengalaman atas Kristus, mereka tidak memiliki persembahan untuk dipersembahkan. Menyinggung pembangunan gereja, tangan mereka kosong.

Kita semua perlu memiliki kelimpahan pengalaman atas Kristus. Sekurang-kurangnya kita perlu memiliki bros atau anting-anting (Kel. 35:22), Seharusnya kita memiliki Kristus sebagai bros kecil yang dapat kita persembahkan bagi pembangunan gereja. Mungkin Anda heran dan bertanya apa artinya ini dalam pengalaman riil kita. Misalnya, seorang saudari memakai bros kecil. Kalau dalam memakai bros itu ia mengalami Kristus, akhirnya pengalaman ini, dalam arti rohaninya, akan menjadi pengalaman atas Kristus sebagai bros emas. Demikian pula, seorang saudara mungkin mengalami Kristus dalam hal kecil seperti memakai jepit dasi. Kalau saudara itu mengalami Kristus dalam membeli dan memakai jepit dasi, hal itu akan menjadi salah satu aspek Kristus yang dia alami. Kemudian dalam pandangan Allah, ia akan memiliki Kristus sebagai jepit dasi rohani. Yang penting di sini ialah, kita tidak seharusnya memiliki barang-barang berdasarkan diri sendiri, tetapi berdasarkan Kristus dan bersama Kristus. Kalau kita mengalami Kristus dalam suatu hal, kita akan memiliki Kristus dalam aspek khusus untuk dipersembahkan kepada Allah bagi pembangunan gereja, tempat kediaman-Nya.

Adalah mungkin mengalami Kristus bahkan dalam hal membeli dasi dan penjepit dasi, maka dalam pengalaman rohani, saya akan memiliki Kristus sebagai penjepit dasi emas saya. Saudara yang sudah menikah dapat mengalami Kristus ketika ia tergoda untuk berbantahan dengan istrinya. Ketika ia hendak berbantahan dengan istrinya, ia harusnya berkata, “Tuhan, aku mau berbantahan dengan istriku. Aku tidak ingin berbantahan tanpa-Mu. Kalau Engkau tidak menjadi caraku berbantahan dengan istriku, aku tidak mau berbantahan dengannya.” Kalau seorang saudara mengalami Kristus sedemikian, ia akan memperoleh Kristus, bahkan dalam keadaan hendak berbantahan dengan istrinya. Inilah suatu contoh mengenai betapa riilnya pengalaman atas Kristus itu. Namun, di tengah-tengah orang Kristen hari ini, ada kekurangan pengajaran subyektif tentang pengalaman riil atas Kristus dalam kehidupan sehari-hari kita.

Kita perlu mengalami Kristus dalam setiap aspek kehidupan kita sehari-hari, misalnya, dalam mengenakan pakaian, dalam cara potong rambut, dan dalam sikap kita. Dalam segala hal, besar atau kecil, kita perlu mengalami Kristus. Dalam memakai sepatu, dalam bercukur, dan bahkan dalam bersikap, kita seyogianya memiliki Kristus. Seorang saudari tidak seharusnya menampilkan “wajah cemberut” kepada suaminya berdasarkan dirinya sendiri. Sebaliknya, ia seharusnya mengatakan, “Tuhan, aku hendak menampilkan wajah cemberut kepada suamiku. Maukah Engkau melakukannya bersamaku? Kalau Engkau tidak bersatu denganku dalam hal ini, aku tidak akan melakukannya.” Sebelum menampilkan wajah cemberut kepada suaminya, saudari itu seharusnya tinggal di dalam Tuhan dulu, dan berdoa kepada-Nya mengenai hal tersebut. Kalau ia berdoa seperti itu, ia tidak akan menunjukkan wajah cemberut kepada suaminya. Sebaliknya, boleh jadi ia menampilkan wajah yang gembira dan bulat. Saya memakai hal ini sebagai contoh untuk menunjukkan bahwa kita perlu menerapkan kebenaran mengalami Kristus sebagai bahan-bahan yang dipersembahkan kepada Allah bagi pembangunan tempat kediaman-Nya secara riil. Kalau kita melakukan kebenaran ini; kita akan memiliki sesuatu dari Kristus untuk dipersembahkan kepada Allah bagi pembangunan gereja, tempat kediaman-Nya di bumi hari ini.

MEMPERSIAPKAN PARA PEKERJA

Telah kita tunjukkan bahwa banyak orang Kristen tidak punya apa-apa dari Kristus untuk dipersembahkan. Namun, sekalipun kita memiliki Kristus dalam banyak aspek sebagai bahan-bahan, itu belum berupa bangunan. Untuk memiliki bangunan, kita tidak hanya memerlukan bahan-bahan, tetapi juga tenaga ahli. Sebab itu, hal berikut yang akan dibahas dalam pasal-pasal ini ialah penyediaan pekerja, penyediaan orang-orang berkarunia untuk berfungsi (Kel. 35:10, 30-35; 36:1-2; 38:22-23).

Menurut Keluaran 35, dua pekerja terkemuka adalah Bezaleel dan Aholiab (ayat 30, 34). Bezaleel berasal dari suku Yehuda, suku raja, dan Aholiab berasal dari suku Dan, suku yang rendah. Ini menunjukkan bahwa Allah tidak memperhatikan soal keadaan manusia, tinggi atau rendah. Bagi pekerjaan pembangunan tempat kediaman-Nya, Ia dapat membangkitkan satu orang dari suku raja, dan satu lagi dari suku yang rendah.

Hati yang Terangkat

Keluaran 35:21 mengatakan, “Sesudah itu datanglah setiap orang yang tergerak (terangkat) hatinya, setiap orang yang terdorong jiwanya.” Secara harfiah, kata yang diterjemahkan “tergerak” di sini berarti “terangkat”. Saya lebih suka memakai kata “terangkat” dalam ayat ini. Kita perlu memiliki hati yang selalu menggerakkan atau mengangkat kita. Kita perlu hati yang mengarah ke atas, bukan mengarah ke bawah. Sering kali saya diberi tahu bahwa seorang saudara atau saudari patah semangat, kecewa, putus asa. Bila kita putus asa, kita lepas dari pekerjaan pembangunan Allah. Kita perlu memiliki hati yang terangkat senantiasa, bahkan hati yang mengangkat kita ke atas. Setiap orang di antara kita perlu hati yang terangkat sedemikian. Kalau kita tidak memiliki hati semacam ini, lalu siapa yang sanggup membantu kita?

Dipenuhi dengan Roh Allah

Mengenai Bezaleel, ayat 31 mengatakan, “Dan telah memenuhinya dengan Roh Allah, dengan keahlian, pengertian dan pengetahuan, dalam segala macam pekerjaan.” Ini menunjukkan bahwa sekalipun kita adalah Bezaleel atau Aholiab, kita masih memerlukan Roh Allah. Untuk pembangunan Kemah Suci, tempat kediaman Allah yang material, diperlukan Roh Allah, apalagi gereja hari ini. Allah memenuhi orang-orang yang hatinya terangkat, yang dipenuhi dengan Roh. Melalui memenuhi mereka dengan Roh, Allah memberi mereka hikmat, pengertian, pengetahuan, dan kecakapan. Inilah gambar tentang yang kita perlukan hari ini. Untuk pembangunan gereja, kita memerlukan saudara saudari yang hatinya terangkat dan dipenuhi Roh Allah sehingga memiliki hikmat dan pengetahuan. Untuk menjadi penatua, sekerja, atau orang yang berbagian dalam pembangunan gereja, kita perlu hikmat, pengertian, pengetahuan, dan kecakapan.

Setelah kita memiliki pengalaman atas Kristus sebagai bahan-bahan untuk dipersembahkan kepada Allah bagi pembangunan Allah, kita masih perlu melaksanakan pekerjaan pembangunan. Untuk ini, diperlukan banyak pekerja. Semua pekerja tersebut harus memiliki hati yang terangkat sehingga Allah dapat masuk ke dalam mereka untuk memenuhi mereka dengan Roh. Menurut catatan di sini, mula-mula kita harus memiliki hati yang mengangkat kita. Kemudian Allah akan masuk ke dalam kita, memenuhi kita dengan Roh sebagai hikmat, pengertian, pengetahuan, kecakapan, dan ketrampilan kita.

URUTAN PEMBUATAN KEMAH SUCI

Kini kita sampai pada pembuatan Kemah Suci dan perabotannya (Kel. 36:8—38:20). Urutan pembuatan Kemah Suci dan perabotannya berbeda dengan urutan wahyu. Menurut urutan wahyu, mula-mula kita mempunyai tabut, lalu Kemah Suci, meja roti sajian, kaki pelita, mezbah tembaga, dan pakaian kudus para imam. Wahyu ini sesuai dengan keinginan-Nya. Yang Allah inginkan mula-mula adalah tabut kesaksian. Segala sesuatu yang diwahyukan mengenai Kemah Suci dan perabotannya sesuai dengan keinginan hati Allah. Namun, urutan pembuatan Kemah Suci dan perabotannya sesuai dengan kebutuhan praktis. Karena itu, hal pertama yang dibuat adalah Kemah Suci, kemudian perabotan dibuat sebagai isi Kemah Suci.

Mari kita lihat sepintas urutan pembuatan Kemah Suci dan perabotannya. Mula-mula layar dan tudung (atap) Kemah Suci yang dibuat (Kel. 36:8-19), lalu papan-papan (Kel. 36:20-34). Jadi dua barang yang dibuat lebih dulu adalah atap dan dinding. Berikutnya, kita lihat tabir dalam dan layar pintu Kemah Suci (Kel. 36:35-38). Sampai di sini Kemah Suci itu sendiri sudah lengkap. Kemudian kita lihat isi Kemah Suci: tabut kesaksian (Kel. 37:1-9), meja roti sajian (Kel. 37:10-16), kaki pelita emas (Kel. 37:17-24), dan mezbah ukupan (Kel. 37:25-28). Bila kita memiliki tabut, meja, dan kaki pelita, kita bersyarat berada di mezbah ukupan untuk melakukan syafaat bersama Kristus. Setelah mezbah ukupan, kita lihat minyak urapan kudus dan ukupan yang murni (Kel. 37:29), mezbah kurban bakaran (Kel. 38:1-7) dan bejana pembasuhan tembaga (Kel. 38:8). Terakhir kita lihat pelataran luar Kemah Suci (Kel. 38:9-20).

MENGHITUNG BAHAN-BAHAN YANG DIPERSEMBAHKAN

Dalam Keluaran 38:21-31 kita temukan penghitungan bahan-bahan yang dipersembahkan. Fakta bahwa bahan-bahan itu dihitung menunjukkan bahwa segala sesuatu dilakukan secara teratur. Dengan ini Musa dan para pemuka mengetahui dengan pasti berapa banyak emas, perak, dan tembaga yang dipersembahkan. Musa menyuruh imam-imam menghitung barang yang dipersembahkan. Mula-mula, menurut Keluaran 38:21, bahan-bahan itu dihitung oleh para imam untuk pelayanan orang Lewi. Ini melambangkan semua persembahan harus diperiksa oleh pemuka bagi pelayanan gereja lebih dulu. Untuk pelayanan ini, kita perlu menghitung dan mencatat dengan tepat. Kemudian dihitunglah emas, 29 talenta, 730 syikal. Emas itu untuk dekorasi ruang dalam Kemah Suci dan perabotan di dalam Kemah Suci (Kel. 38:24). Misalnya, tabut dan meja disalut dengan emas dan kaki pelita seluruhnya terbuat dari emas.

Dalam Keluaran 38:25-28 kita memiliki penghitungan perak, 100 talenta dan 1775 syikal, dibayarkan untuk tebusan orang-orang yang berusia 20 tahun ke atas, untuk alas-alas tempat kudus dan tiang-tiang Kemah Suci. Akhirnya, dalam Keluaran 38:29-31, kita lihat penghitungan tembaga, 70 talenta dan 2400 syikal untuk alas pintu Kemah Suci, mezbah tembaga, alas pelataran Kemah Suci dan pintunya, dan pasak Kemah Suci dan pelatarannya. Di sini tidak disebutkan tembaga dipakai untuk membuat bejana pembasuhan karena tembaga itu berasal dari cermin para wanita yang mengasihi Tuhan.

MEMBUAT PAKAIAN UNTUK PARA IMAM

Dalam Keluaran 39:1-31 kita memiliki catatan tentang pembuatan pakaian untuk para imam. Dalam Keluaran 39:2-7 kita melihat pembuatan efod, benda utama pakaian kudus. Selanjutnya kita memiliki tutup dada (Kel. 39:8-21) dan jubah efod (ayat 22-26). Efod seperti rompi, bukan seperti jubah. Jubah panjang efod dipakai dibalik efod. Setelah pembuatan jubah luar, kita memiliki pembuatan pakaian dalam, yang dipakai di balik jubah. Kemudian kita memiliki serban untuk imam besar, serban untuk imam, serta daster dan ikat pinggang untuk imam besar dan para imam. Terakhir, kita memiliki pembuatan patam dari jamang yang kudus untuk dipakai oleh imam besar (ayat 30-31), patam yang bertuliskan kata-kata “Kudus bagi Tuhan”.

Pada akhir Keluaran 39, pekerjaan itu selesai, dan segalanya diserahkan kepada Musa untuk diperiksa. Musa senang dan memberkati segala yang telah dibuat. Ini menunjukkan bahwa setelah segalanya selesai, berkat pun turun. Saya harap hal ini akan menjadi keadaan pembangunan gereja di antara kita. Saya harap satu hari nanti kita akan mempersembahkan sesuatu kepada Tuhan, Musa hari ini, dan Dia akan senang serta menganugerahkan berkat-Nya kepada kita.