← Daftar isi Keluaran (11) · bab 13/16

PEMBUATAN KEMAH SUCI DENGAN PERABOTANNYA DAN PAKAIAN IMAM (1)

Pembacaan Alkitab: Kel. 35:1-10, 20-35; 36:1-7; 39:32, 42-43

Dalam berita ini kita akan mulai membahas satu bagian yang terdiri atas lima pasal, pasal 35—39. Dalam pasal-pasal ini kita melihat catatan tentang pembuatan Kemah Suci (Pertemuan) dengan perabotannya dan pakaian kudus untuk imam-imam. Karena kita telah mengulas sebagian besar rincian yang berhubungan dengan perkara ini dalam berita-berita yang lalu, kita tidak perlu lagi membahas rincian tersebut. Sebaliknya dalam berita ini dan berita berikutnya kita akan membahas beberapa perkara dasar yang terdapat dalam pasal-pasal ini.

PERKATAAN MENGENAI SABAT

Keluaran 35:1-3 mengatakan, “Lalu Musa menyuruh berkumpul segenap jemaah Israel dan berkata kepada mereka: ‘Inilah firman yang diperintahkan TUHAN untuk dilakukan. Enam hari lamanya boleh dilakukan pekerjaan, tetapi pada hari yang ketujuh haruslah ada perhentian kudus bagimu, yakni sabat, hari perhentian penuh bagi TUHAN; setiap orang yang melakukan pekerjaan pada hari itu, haruslah dihukum mati. Janganlah kamu memasang api di mana pun dalam tempat kediamanmu pada hari Sabat.” Pada awal bagian ini kita temukan perkataan mengenai Sabat. Kelihatannya ini tidak ada sangkut pautnya dengan pembuatan Kemah Suci dengan perabotannya dan pakaian untuk para imam. Mengapa bagian ini diawali dengan perkataan yang serius tentang Sabat? Menurut Keluaran 35:2, bekerja pada hari Sabat adalah kejahatan yang dapat dijatuhi hukuman mati. Kegagalan beristirahat bersama Tuhan pada hari Sabat adalah kesalahan yang besar. Menurut ayat 3, memasak pun tidak diizinkan pada hari Sabat.

Nampaknya ketiga ayat ini, Keluaran 35:1-3, tidak ada hubungannya dengan pembuatan Kemah Suci dengan perabotannya dan pakaian imam. Sebenarnya ada pertalian yang penting di sini, tetapi kita memerlukan pengalaman rohani yang cukup untuk mengerti hal ini dalam firman.

MENGULANG KELUARAN 34

Sebagai bantuan untuk memahami mengapa suatu perintah memelihara hari Sabat disebutkan pada awal Keluaran 35, mari kita ulangi beberapa hal dari berita-berita tentang Keluaran 34. Dalam berita-berita itu kita ungkapkan tiga hal pokok: berhari raya dan beristirahat bersama Tuhan, lima syarat untuk menikmati Tuhan, dan infusi Allah ke dalam Musa.

Lima Syarat untuk Menikmati Tuhan

Kita telah melihat bahwa syarat pertama dari kelima syarat itu adalah menebus keledai dengan anak domba dan yang terakhir adalah permintaan untuk tidak memasak anak kambing dalam susu induknya. Ketika saya membaca bagian ini sebagai orang Kristen muda, saya tidak mampu mengerti mengapa perkara semacam itu dimasukkan dalam Alkitab. Allah memanggil Musa ke gunung dengan tujuan memulihkan perjanjian yang rusak. Kalau Allah hendak mengulangi rincian hukum Taurat, mengapa Ia tidak mengatakan tentang menghormati orang tua atau perintah yang berkenaan dengan pembunuhan? Mengapa Ia malah berbicara tentang menebus keledai dan jangan memasak anak kambing dalam susu induknya? Bagi saya hal itu kelihatannya tidaklah penting.

Dengan nalar manusia kita tak dapat mengerti mengapa kelima syarat tersebut dicantumkan, atau apa artinya itu. Namun, syarat-syarat ini sangat penting sehubungan dengan penikmatan hari raya oleh umat Allah. Kalau bani Israel tidak memenuhi syarat ini, mereka akan kehilangan kenikmatan atas hari raya. Syarat-syarat ini juga sangat bermakna bagi kita hari ini dalam penafsiran rohaninya menurut pengalaman.

Menebus keledai dengan anak domba menunjukkan bahwa sebagai orang-orang yang jatuh, yang najis, kita ditebus oleh Kristus. Inginkah Anda menikmati hari raya dan beristirahat bersama Tuhan? Kalau ya, Anda perlu ingat bahwa menurut manusia lama Anda, manusia alamiah Anda, daging Anda, dan berdasarkan fakta bahwa Anda adalah keturunan Adam, Anda adalah “keledai”. Tak peduli siapa Anda, di pandangan Allah, manusia alamiah Anda adalah keledai. Kalau Anda ingin menikmati Kristus sebagai hari raya Anda dan perhentian Anda, Anda harus menyadari hal ini. Kita telah melihat bahwa dalam Yohanes 3:14, Tuhan Yesus menunjukkan kepada Nikodemus bahwa ia adalah ular. Dalam Keluaran 34, kita melihat bahwa menurut hayat alamiah semua orang yang ingin menikmati Kristus adalah keledai-keledai yang perlu ditebus. Imamat 11 mengatakan bahwa keledai adalah binatang yang najis. Tambahan pula, keledai adalah binatang pengangkut beban. Dalam manusia alamiah kita dan menurut hayat alamiah kita, kita dapat dibandingkan dengan binatang yang memikul beban berat. Kita najis dan menanggung beban berat. Bagi keledai, cara terbaik untuk melepaskan diri dari bebannya adalah mati. Demikian pula kita, binatang beban yang najis, menikmati Kristus dan beristirahat bersama-Nya berarti kita digantikan oleh Kristus.

Syarat kedua yang disebut dalam Keluaran 34 adalah jangan mencampur ragi dengan darah penebusan. Ayat 25 berkata, “Janganlah darah kurban sembelihan yang kepada-Ku kaupersembahkan beserta sesuatu yang beragi.” Segera setelah manusia alamiah kita diganti dengan Kristus, kita harus membersihkan semua ragi. Inginkah Anda menikmati darah Kristus? Kalau memang begitu, jangan campurkan darah penebusan dengan ragi kehidupan Anda yang penuh dosa.

Mula-mula, manusia alamiah kita perlu digantikan dengan Kristus. Dalam perkataan Paulus, “Aku telah disalibkan dengan Kristus, namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal. 2:19b-20). Ini berarti “keledai” telah disalib dan Kristus yang menggantikan kita, kini hidup di dalam kita. Kini, kita harus maju untuk membersihkan semua ragi. Kita perlu darah penebusan, tetapi kita tak dapat mempersembahkan darah itu bersama kehidupan kita yang penuh dosa. Hal semacam itu dilarang keras.

Keluaran 34:25b mengatakan, “Janganlah ada dari kurban sembelihan pada hari raya Paskah bermalam sampai pagi.” Di sini kita melihat syarat ketiga untuk menikmati Kristus. Setelah kita digantikan oleh Kristus dan telah membersihkan semua ragi, kita perlu menghabiskan bagian Kristus untuk hari ini. Ini berarti kita harus menikmati Kristus sampai puncaknya hari ini, tidak menyisakan apa-apa dari bagian hari ini untuk kelak. Namun, banyak orang Kristen tidak berselera menikmati Kristus sepenuhnya pada hari ini. Mereka dapat diibaratkan anak-anak nakal yang tidak menghabiskan makanan mereka pada waktu makan. Kaum beriman ini memiliki bagian Kristus, tetapi mereka tidak menikmatinya. Syarat yang melarang kurban hari raya Paskah disisakan sampai pagi, berarti kita perlu menghabiskan bagian Kristus yang akan kita nikmati hari ini. Kita tidak selayaknya menunda menikmati Kristus sampai besok atau sampai zaman yang akan datang. Sebaliknya, kita harus menikmati bagian Kristus yang telah diberikan kepada kita hari ini.

Syarat keempat untuk berhari raya bersama Kristus dan menikmati Dia, terdapat dalam Keluaran 34:26a, “Yang terbaik dari buah bungaran hasil tanahmu haruslah kau bawa ke dalam rumah TUHAN, Allahmu.” Pada saat kita menikmati bagian Kristus hari ini, kita perlu membawa buah bungaran, bagian yang terbaik, ke dalam sidang untuk dipersembahkan kepada Allah bagi kepuasan-Nya. Kita perlu membawa pengalaman yang terbaik atas Kristus ke rumah Allah, ke dalam sidang-sidang gereja dan mempersembahkan bagian itu kepada Allah.

Keluaran 34:26b menyatakan syarat kelima kepada kita, “Janganlah engkau masak anak kambing dalam susu induknya.” Induk adalah untuk menghasilkan hayat, dan susu adalah untuk perawatan hayat. Kita tidak sepatutnya menghasilkan yang muda-muda, lalu berbalik dan membunuh mereka. Setelah menghasilkan mereka, kita perlu merawat mereka. Artinya, ketika kita menikmati Kristus, kita tidak sepatutnya menyebabkan sesuatu yang mati masuk ke dalam kawanan, lingkungan perawatan hayat.

Baru-baru ini, dalam suatu sidang, beberapa orang menyatakan, “Makan Yesus adalah jalannya!” Selagi mereka menyatakan hal itu, saya berkata kepada diri sendiri, “Anda mengatakan makan Yesus adalah jalannya. Tetapi sudahkah Anda memakan-Nya?” Ya, makan Yesus adalah jalannya. Namun, kita perlu memperhatikan berapa banyak Tuhan telah kita makan. Bagi beberapa orang di antara kita, proklamasi bahwa makan Yesus adalah jalannya mungkin tidak lebih dari slogan. Kalau kita mau menikmati Kristus, kita perlu memenuhi kelima syarat itu. Kita perlu digantikan oleh Kristus, kita perlu membersihkan semua ragi, kita perlu menghabiskan bagian Kristus kita hari ini, kita perlu membawa pengalaman yang terbaik atas Kristus ke dalam sidang gereja dan mempersembahkannya kepada Allah, dan kita perlu menjauhkan kematian dari lingkungan perawatan hayat.

Tiga Hari Raya

Dalam Keluaran 34 disebutkan tiga hari raya: hari raya Roti Tidak Beragi, hari raya Tujuh Minggu, dan hari raya Pengumpulan Hasil. Walaupun menurut Imamat 23 ada tujuh hari raya tahunan yang dirayakan oleh bani Israel, yang disebutkan di sini hanya tiga. Hari raya tahunan yang pertama adalah hari raya Paskah, dan kedua adalah hari raya Roti Tidak Beragi. Dalam pasal yang berhubungan dengan pemulihan perjanjian yang dirusak, Allah tidak menyebutkan semua hari raya, dan hari raya pertama yang disebut bukanlah hari Paskah. Menurut catatan tujuh hari raya tahunan, hari raya yang paling penting adalah Paskah, yang untuk keselamatan. Namun, dalam catatan pemulihan perjanjian yang dirusak ini, tidak disebutkan Paskah. Sebaliknya, hari raya pertama yang disebutkan adalah hari raya Roti Tidak Beragi. Kita tahu bahwa hari raya Roti Tidak Beragi sebenarnya lanjutan dari Paskah. Paskah hanya sehari, tetapi hari raya Roti Tidak Beragi berlangsung enam hari lagi. Namun, ketujuh hari itu disebut hari raya Roti Tidak Beragi. Jadi, hari raya Roti Tidak Beragi mencakup Paskah. Mengapa Keluaran 34 menyebutkan hari raya Roti Tidak Beragi, tetapi tidak menyebutkan hari raya Paskah? Alasannya ialah catatan di sini tidak berhubungan dengan keselamatan, melainkan berhubungan dengan kenikmatan atas Kristus setelah keselamatan. Kenikmatan ini dimulai dengan hari raya Roti Tidak Beragi. Inginkah Anda menikmati Kristus setelah Anda diselamatkan? Kalau ya, Anda perlu membuang semua ragi. Anda tidak dapat menempuh hidup penuh dosa dan serentak menikmati Kristus. Kalau kita ingin menikmati Kristus dan beristirahat bersama Dia dan Allah, hal pertama yang harus kita lakukan adalah membersihkan masa lalu kita. Kita harus membuang semua ragi. Kita perlu memiliki kehidupan yang tidak beragi, sehingga kita dapat menikmati Kristus.

Keluaran 34:22 mengatakan, “Hari raya Tujuh Minggu, yakni hari raya buah bungaran dari penuaian gandum, haruslah kaurayakan, juga hari raya pengumpulan hasil pada pergantian tahun.” Hari raya Tujuh Minggu adalah hari raya Pentakosta, yang berarti lima puluh hari. Pentakosta adalah hasil limpah dari tuaian buah sulung. Mengenai kenikmatan akan Kristus, mula-mula kita perlu membuang semua ragi dengan membersihkan hidup kita yang penuh dosa. Kemudian kita bisa masuk ke dalam kenikmatan yang limpah akan Kristus sebagai buah sulung. Satu Korintus 15 mewahyukan bahwa Kristus adalah buah sulung dalam kebangkitan. Pentakosta datang lima puluh hari setelah kebangkitan Kristus. Setelah Kristus bangkit, Ia tinggal bersama murid-murid-Nya selama empat puluh hari. Kemudian Ia naik ke surga tingkat ketiga, dan murid-murid berdoa selama sepuluh hari. Menyusul sepuluh hari itu, tibalah Pentakosta, dan Kristus dicurahkan ke atas murid-murid dalam bentuk Roh itu. Roh ini adalah hasil limpah dari Kristus yang bangkit.

Sewaktu saya merenungkan hari-hari raya dalam Perjanjian Lama, dan bagaimana hari-hari raya itu dipadukan dengan Perjanjian Baru dan pengalaman rohani kita, saya kembali diyakinkan bahwa Alkitab benar-benar diilhamkan oleh Allah.

Setelah kita diselamatkan dan membersihkan masa lampau, membuang ragi, kita masuk ke dalam kenikmatan atas kelimpahan Kristus dalam kebangkitan. Inilah Pentakosta kita. Pentakosta kita bukanlah perkara berbahasa roh. Bagi kita, Pentakosta adalah masuk ke dalam hasil penuh Kristus yang bangkit. Pentakosta adalah hasil menikmati Kristus sebagai buah bungar. Hari raya Pentakosta dinikmati oleh orang-orang yang telah diselamatkan dan yang kini menempuh kehidupan yang bersih, kehidupan yang tanpa cela.

Hari raya terakhir dalam Keluaran 34 adalah hari raya Pengumpulan Hasil, yang juga merupakan hari raya Pondok Daun. Hari raya Pondok Daun adalah saat tuaian dikumpulkan. Hari raya ini melambangkan kenikmatan yang limpah, penuh, dan sempurna atas semua apa adanya Kristus. Kita mulai menikmati Kristus dari hari raya Roti Tidak Beragi, dilanjutkan dengan menikmati kelimpahan Kristus yang bangkit, dan akhirnya kita sampai kepada kenikmatan sempurna atas Kristus sebagai hari raya Pondok Daun.

Berhari Raya dan Beristirahat

Dalam Keluaran 34, hari raya disebutkan dalam ayat 18 dan 22 dan Sabat disebutkan dalam ayat 21, “Enam harilah lamanya engkau bekerja, tetapi pada hari yang ketujuh haruslah engkau berhenti, dan dalam musim membajak dan musim menuai haruslah engkau memelihara hari perhentian juga.” Fakta bahwa perkataan tentang Sabat disisipkan di antara perkataan tentang hari-hari raya menunjukkan bahwa sementara kita menikmati Kristus, serentak kita beristirahat bersama Dia. Dalam hari raya kita, dalam kenikmatan kita atas Kristus, harus ada Sabat. Jadi, berhari raya dan beristirahat dibaurkan jadi satu.

Bagi bani Israel, hari-hari raya itu diperingati setiap tahun dan hari Sabat diperingati setiap minggu. Namun, yang diperlihatkan dalam Keluaran 34 memberikan pengalaman harian kita atas Kristus. Setiap hari kita seharusnya memperingati tiga hari raya. Pada pagi hari kita sepatutnya memperingati hari raya Roti Tidak Beragi. Ketika kita menerima Kristus sebagai kurban penghapus dosa dan kurban penebus salah kita, kita membersihkan ragi. Inilah hari raya Roti Tidak Beragi kita. Lalu selama siang hari, kita harus menikmati Kristus dengan limpah. Kalau kita memiliki kenikmatan semacam ini atas Kristus selama siang hari, maka pada akhir hari itu kita akan menikmati Kristus sampai tingkat paling penuh. Selanjutnya, berkali-kali dalam hari itu, mungkin setiap lima belas atau dua puluh menit, kita berhenti sejenak untuk beristirahat dengan Kristus. Saya sadar bahwa karena kita belum biasa melakukan hal ini, mula-mula kita mungkin tidak merasa mudah melakukannya. Namun, cobalah mengingat Tuhan selama siang hari dan beristirahatlah bersama-Nya. Kita telah melihat bahwa Sabat melambangkan beristirahat bersama Tuhan dengan mengingat Dia. Janganlah kita melupakan Tuhan selama siang hari, tetapi ingatlah akan Dia dan beristirahatlah di dalam Dia.

BERISTIRAHAT SEBELUM KITA BEKERJA

Dalam terang sebelumnya, mari kita perhatikan Keluaran 35:1-3. Ketika Allah hendak menyuruh umat-Nya membuat Kemah Suci dengan perabotannya dan pakaian imam, hal pertama yang diperintahkan-Nya kepada mereka adalah memelihara Sabat. Ini berarti, sebelum mereka bekerja membangun Kemah Suci, mereka harus beristirahat. Ini berpadanan dengan catatan dalam Kejadian 2:2-3, “Ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya itu, berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu. Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu.” Kita telah melihat bahwa setelah manusia muncul dari tangan penciptaan Allah, hal pertama yang dilakukannya adalah beristirahat. Hari pertama manusia adalah hari ketujuh Tuhan Pencipta. Hal pertama yang dilakukan manusia setelah ia diciptakan Allah ialah beristirahat bersama Allah. Ini menunjukkan, sebelum kita dapat melakukan sesuatu bagi Allah, mula-mula kita harus beristirahat bersama-Nya. Kalau Anda ingin bekerja bagi Allah, Anda harus menerima anugerah, menikmati anugerah, dan beristirahat bersama Allah. Kemudian barulah Anda boleh melakukan sesuatu bagi Allah. Kita tidak seharusnya bekerja bagi Allah dulu, lalu menikmati anugerah dan beristirahat. Cara itu menurut hukum Taurat. Menurut anugerah, mula-mula kita menikmati anugerah, lalu bekerja. Kita beristirahat bersama Tuhan dulu, lalu bekerja bagi-Nya.

Prinsip ini harus diterapkan dalam kehidupan seharihari kita. Sering kali saya berdoa sebelum melakukan sesuatu. Misalnya, saya berjalan-jalan setiap hari. Sebelum mulai berjalan-jalan, saya berdoa, “Tuhan, terima kasih atas damai sejahtera yang kini sedang kunikmati. Engkau tahu bahwa aku hendak keluar jalan-jalan. Tuhan, mohon berkat-Mu.” Kalau saya tidak berdoa seperti itu, saya mungkin tidak memiliki damai ketika berjalan-jalan, karena dalam hal itu saya tidak beristirahat bersama Tuhan sebelum melakukan pekerjaan kecil, berjalan-jalan.

Kita dapat menerapkan prinsip ini pada banyak perkara. Andaikata Anda perlu menulis surat kepada orang tua Anda. Sebelum menulis surat itu, gunakanlah satu menit untuk beristirahat bersama Tuhan. Anda boleh berkata, “Tuhan, terima kasih karena aku dapat bersama-Mu. Tuhan, aku perlu menulis surat kepada orang tuaku. Tuhan, besertalah denganku pada saat aku menulis surat ini. Aku senang beristirahat bersama-Mu dan kemudian menulis surat bersama-Mu. Tuhan, aku mohon Engkau menulis surat ini bersamaku.” Inilah contoh prinsip beristirahat bersama Tuhan sebelum kita bekerja bersama-Nya dan bagi Dia.

Beristirahat bersama Tuhan sedemikian, mungkin bahkan mempengaruhi cara kita berpakaian pada pagi hari. Kalau Anda beristirahat bersama-Nya sebelum Anda berpakaian, saya yakin Anda akan berpakaian menurut gambar Tuhan. Misalnya, seorang saudara baru saja membeli pakaian yang duniawi. Kalau dia beristirahat bersama Tuhan sebelum mengenakan pakaian itu, ia mungkin menyadari bahwa tidak sepatutnya ia mengenakan pakaian itu.

Saya dapat bersaksi bahwa mengenai beristirahat bersama Tuhan, saya tahu apa yang saya katakan. Dari pengalaman saya tahu apa artinya beristirahat bersama Tuhan sebelum melakukan sesuatu.

MAKNA SABAT

Tahukah Anda makna sesungguhnya dari Sabat? Menurut Keluaran 20 dan Ulangan l2, makna Sabat adalah mengingat Tuhan sebagai Pencipta dan Penebus kita. Bila kita mengingat Yang menciptakan dan menebus kita, kita memelihara Sabat. Kalau kita sibuk siang dan malam, kita akan melupakan Tuhan dan mengesampingkan-Nya. Namun, ada satu prinsip, ketetapan rohani, bahwa sebelum melakukan sesuatu kita perlu mengingat Tuhan dan beristirahat bersama-Nya. Marilah kita beristirahat bersama-Nya dengan mengingat-Nya sebagai Pencipta dan Penebus kita, juga sebagai Penyelamat kita, Tuhan, Tuan, dan hayat kita. Betapa ajaibnya kalau kita melakukan hal ini secara teratur!

Pemahaman firman tentang Sabat dalam Keluaran 35:1-3 ini berasal tidak hanya dari pengalaman saya, tetapi juga dari urutan catatan dalam Keluaran 34 dan 35. Ketika Musa berada di gunung bersama Tuhan, Tuhan berbicara dengan dia tentang tiga hari raya yang harus diperingati setiap tahun dan Sabat yang harus diperingati setiap minggu. Kemudian Musa turun, memberi tahu bangsa itu untuk membuat Kemah Suci dengan perabotannya dan membuat pakaian untuk para imam. Namun, Musa tidak melupakan yang Tuhan katakan kepadanya. Maka, ketika menyuruh bani Israel membuat Kemah Suci bagi Allah, ia menyuruh mereka beristirahat dulu bersama Dia dan mengingat Dia sebagai Pencipta dan Penebus. Saya yakin, inilah sebabnya catatan tentang pembuatan Kemah Suci dengan perabotannya dan pakaian untuk para imam dimulai dengan perkataan tentang Sabat.