← Daftar isi Keluaran (11) · bab 12/16

MUSA BESERTA DENGAN ALLAH (4)

Pembacaan Alkitab: Kel. 34

Keluaran 34 mencatat tentang Musa beserta dengan Allah, meliputi tiga pokok utama: berhari raya bersama Tuhan dan beristirahat bersama-Nya, lima syarat menikmati Tuhan, dan Allah menginfuskan diri-Nya ke dalam Musa. Dalam dua berita yang lalu, kita sudah membahas tiga hari raya dan Sabat serta kelima syarat tersebut. Dalam berita ini, setelah pendahuluan dan sekadar ulangan, kita akan membahas infusi Allah ke dalam Musa.

KUNCI MEMAHAMI KELUARAN 34

Kita telah melihat bahwa Musa memecahkan kedua loh batu yang berisi Sepuluh Perintah. Ini menunjukkan bahwa perjanjian yang Allah buat bersama bani Israel telah hancur. Perjanjian itu dibuat dalam Keluaran 20—24, dan dimeteraikan dengan percikan darah kurban penebusan. Kita boleh mengatakan pemeteraian perjanjian itu sebenarnya adalah penandatanganan perjanjian tersebut oleh Allah. Allah menandatangani perjanjian itu dengan memercikkan darah kurban tebusan ke atasnya. Isi perjanjian ini adalah Sepuluh Perintah dengan semua peraturannya. Allah ingin memiliki umat-Nya sepenuhnya dan seluruhnya terikat dalam perjanjian dengan Dia. Tetapi karena peristiwa anak lembu emas, perjanjian itu hancur. Namun, karena belas kasihan-Nya, Allah datang memulihkan perjanjian yang hancur itu. Inilah sebabnya Allah menyuruh Musa memahat dua loh batu dan naik ke puncak gunung untuk menemui Dia. Allah bermaksud memulihkan perjanjian-Nya.

Tentunya Musa mengharapkan Allah memberikan Sepuluh Perintah dan peraturan-peraturannya lagi. Mungkin ia sangat gembira menyiapkan dua loh batu untuk maksud tersebut dan membawanya ke puncak gunung. Namun, setelah Musa tiba di sana dan Allah turun kepadanya, Allah melakukan hal lain, bukan memberi Musa Sepuluh Perintah itu. Yang dikatakan Allah kepada Musa sebelum memberinya Sepuluh Perintah untuk kali kedua adalah maksud hati-Nya yang sesungguhnya. Bukanlah maksud Allah memiliki umat yang hanya mematuhi perintah dan peraturan-Nya. Maksud Allah ialah menyalurkan diri-Nya ke dalam umat pilihan-Nya, sehingga mereka sepenuhnya diinfus dengan Dia agar dapat menyatakan Dia.

Sejak awal, hukum Taurat tidaklah berkedudukan sebagai bagian maksud hati Allah yang semula. Dalam perlambangan, kedudukan hukum Taurat adalah gundik, yang dilambangkan oleh Hagar. Ini menunjukkan bahwa di pandangan Allah, dalam ekonomi-Nya, hukum Taurat tidak memiliki tempat terhormat, seperti seorang gundik yang tidak memiliki kedudukan yang sah. Alkitab mengatakan bahwa hukum Taurat adalah sesuatu yang ditambahkan. Hukum Taurat bukanlah maksud hati Allah yang semula dan karenanya tidak memiliki tempat terhormat. Dapat dikatakan, Allah terpaksa menetapkan hukum Taurat.

Allah tidak marah karena kedua loh batu itu hancur. AIlah marah bukan karena hancurnya loh batu itu, melainkan karena penyembahan berhala anak lembu emas. Ketika Allah bertemu Musa dalam Keluaran 34, Ia tidak langsung mempersoalkan Sepuluh Perintah itu.

Mula-mula Allah memberi tahu Musa bahwa Ia akan melakukan mukjizat untuk membawa bangsa itu ke tanah permai, firman-Nya, “Sungguh, Aku mengadakan suatu perjanjian. Di depan seluruh bangsamu ini akan Kulakukan perbuatan-perbuatan yang ajaib, seperti yang belum pernah dijadikan di seluruh bumi di antara segala bangsa; seluruh bangsa, yang di tengah-tengahnya engkau diam, akan melihat perbuatan TUHAN, sebab apa yang akan Kulakukan dengan engkau, sungguh-sungguh dahsyat. Tetapi engkau, berpeganglah pada yang Kuperintahkan kepadamu pada hari ini. Lihat, Aku akan menghalau dari depanmu orang Amori, orang Kanaan, orang Het, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebus.” (ayat 10-11). Allah akan melakukan mukjizat dengan tujuan membawa bangsa itu ke tanah permai, tempat mereka menikmati Dia.

Kedua, Allah memperingati bangsa itu mengenai penyembahan berhala (ayat 12-17). Tuhan berfirman, “Sebab janganlah engkau sujud menyembah kepada allah lain, karena TUHAN, yang nama-Nya Cemburuan, adalah Allah yang cemburu” (ayat 14). Ia juga berfirman, “Janganlah kaubuat bagimu allah tuangan” (ayat 17). Allah dengan tegas memperingati bangsa itu untuk menghindari setiap macam penyembahan berhala. Kita tidak seyogianya membiarkan apa saja menggantikan Allah atau menjadi pengganti Allah. Kita harus hanya menerima Dia sebagai Allah.

Kemudian Tuhan berbicara dengan Musa tentang berhari raya bersama-Nya dan beristirahat bersama-Nya. Dalam ayat 18 Ia berfirman, “Hari raya Roti Tidak Beragi haruslah kaupelihara; tujuh hari lamanya engkau harus makan roti yang tidak beragi, seperti yang Kuperintahkan kepadamu, pada waktu yang ditetapkan dalam bulan Abib, sebab dalam bulan Abib itulah engkau keluar dari Mesir.” Dalam ayat 22 Ia melanjutkan, “Hari raya Tujuh Minggu, yakni hari raya buah bungaran dari penuaian gandum, haruslah kaurayakan, juga hari raya pengumpulan hasil pada pergantian tahun.” Dalam ayat 21 Tuhan berbicara dengan Musa tentang memelihara hari Sabat, “Enam harilah lamanya engkau bekerja, tetapi pada hari yang ketujuh haruslah engkau berhenti, dan dalam musim membajak dan musim menuai, haruslah engkau memelihara hari perhentian juga.” Kita dapat melihat bahwa Tuhan berfirman kepada Musa mengenai penyembahan berhala dan tentang hari raya dan Sabat. Namun, pada saat ini Ia tidak berbicara sepatah pun mengenai Sepuluh Perintah dan peraturan-peraturan. Sebaliknya, Ia memberi tahu Musa agar setiap laki-laki berhari raya bersama Dia tiga kali setahun dan setiap tujuh hari mereka harus mengingat Dia dengan bersabat bersama-Nya.

Dalam berita yang lalu, kita tunjukkan bahwa tiga hari raya yang disebut dalam pasal ini menerangkan perlunya kita berhari raya bersama Tuhan tiga kali sehari. Lagi pula, kita telah melihat bahwa Sabat mingguan menerangkan bahwa setiap hari, mungkin setiap lima belas atau dua puluh menit, kita harus berhenti untuk mengingat Tuhan dengan beristirahat bersama-Nya. Satu tahun adalah pergantian waktu, dan satu hari juga pergantian waktu. Setiap hari kita harus berhari raya dengan Tuhan dan beristirahat bersama-Nya. Berhari raya dan beristirahat adalah bagi kenikmatan atas Tuhan.

Dalam Keluaran 34, Tuhan tidak hanya berkata kepada Musa tentang berhari raya dan beristirahat, Ia pun menyampaikan kepadanya lima hal yang menjadi syarat agar umat Allah dapat menikmati Dia. Menurut pengertian alamiah kita, kelima hal tersebut tidak ada yang berarti. Yang pertama dari syarat-syarat itu adalah perkara menebus anak sulung keledai dengan anak domba (ayat 20), dan yang terakhir adalah larangan memasak anak kambing dalam susu induknya (ayat 26). Mengapa Tuhan tidak berkata kepada Musa mengenai menghormati orang tua atau perintah tentang jangan membunuh? Mengapa Ia berbicara kepadanya tentang menebus anak sulung keledai dengan anak domba dan larangan memasak anak kambing dalam susu induknya? Sebabnya ialah jika kita tidak memenuhi kelima syarat itu, kenikmatan kita akan Tuhan bisa hilang. Kalau kita hendak mempertahankan kenikmatan kita akan Tuhan dengan berhari raya dan bersabat bersama-Nya, kita harus memperhatikan kelima hal tersebut yang kelihatannya tidak berarti.

Kalau kita mempelajari Keluaran 34 dengan pikiran kita saja, kita tak akan mampu mengerti pasal ini. Tetapi kalau kita memperhatikan pasal ini dalam terang pengalaman rohani kita, kita akan melihat bahwa kuncinya di sini adalah kenikmatan akan Tuhan. Pasal ini mewahyukan bahwa kita perlu menikmati Tuhan sepanjang hari dengan berhari raya bersama-Nya dan beristirahat bersama-Nya. Selanjutnya, bersama kenikmatan ini, dan untuk mempertahankan kenikmatan ini, kita perlu memenuhi kelima syarat.

Nampaknya dalam Keluaran 34 Musa memperhatikan penetapan hukum, tidak memperhatikan kenikmatan akan Tuhan atau infusi Tuhan ke dalamnya. Kalau kita diterangi pada saat kita membaca pasal ini, kita akan tahu bahwa kita tidak seharusnya memusatkan perhatian kita pada Sepuluh Perintah dan peraturan-peraturan, karena Allah lebih suka kita memperhatikan hari raya dan Sabat. Kita perlu sekali demi sekali memperhatikan hari raya dan Sabat bersama Tuhan. Kita perlu berpesta makan Dia dan beristirahat bersama-Nya untuk kenikmatan kita yang penuh akan Dia. Kemudian kita akan diinfus dengan-Nya. Hasilnya, kita akan dipenuhi di dalam, dan bersinar di luar.

Kalau kita tidak mempunyai kunci ini, kita akan merasa Keluaran 34 sangat sulit dimengerti. Siapa dapat menjelaskan mengapa dalam pasal ini Allah menyebut hanya tiga dari tujuh hari raya? Mengapa begitu banyak perintah dan peraturan-peraturan penting yang dikesampingkan, dan sebaliknya, disebutkan lima syarat yang berhubungan dengan menebus keledai dengan anak domba, jangan mempersembahkan darah kurban dengan roti beragi, jangan membiarkan kurban hari raya Paskah bermalam sampai pagi, bawalah buah bungaran tanah itu ke rumah Allah, dan jangan memasak anak kambing dalam susu induknya? Kalau kita memiliki kunci menikmati Tuhan, kita akan melihat bahwa kelima perkara ini bukanlah tidak berarti. Sebaliknya, mengenai kenikmatan akan Tuhan, perkaraperkara ini sangat penting.

KATA-KATA PENGULANGAN

Kita telah melihat bahwa Keluaran 34 adalah sketsa ringkas dan kesimpulan dari tiga puluh tiga pasal sebelumnya. Apa saja yang diulang di sini sangatlah penting. Kalau tidak penting, tentunya tidak diulang. Ayat 27 mengatakan, “Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: Tuliskanlah segala firman ini, sebab berdasarkan (bunyi) firman ini telah Kuadakan perjanjian dengan engkau dan dengan Israel.” Kata yang diterjemahkan “bunyi” arti harfiahnya adalah “mulut”. Sebab itu, dalam ayat 27 Tuhan memberi tahu Musa bahwa menurut “mulut firman ini” Tuhan mengadakan perjanjian dengan dia dan dengan Israel. Semua firman ini adalah isi, syarat dari perjanjian yang harus dipenuhi oleh bangsa itu. Mengapa ayat 27 mengatakan, “berdasarkan mulut firman ini”? Mungkin Tuhan mengatakan kepada Musa, “Firman ini sudah diucapkan. Kini Aku ingin mengucapkannya lagi. Aku akan menyuarakannya lagi.” Yang kita temukan dalam pasal ini adalah pengucapan, penyuaraan firman yang pernah dikatakan. Pengulangan memberikan syarat-syarat untuk memelihara perjanjian Allah oleh bani Israel.

Saya hendak menekankan fakta bahwa di sini tidak disebutkan perintah atau peraturan-peraturan. Setelah peringatan mengenai penyembahan berhala, kita memiliki perkataan Tuhan mengenai hari raya, Sabat, dan lima syarat untuk menikmati Tuhan. Di sini ada tiga hari raya untuk kenikmatan kita, Sabat untuk istirahat (perhentian) kita, dan lima syarat untuk kehidupan sehari-hari kita. Kalau kita memenuhi syarat-syarat ini, kita akan berhari raya dengan Allah dan beristirahat bersama Dia dalam kenikmatan yang penuh untuk menggenapi tujuan-Nya. Selanjutnya, menurut pasal berikutnya, akan dibangun satu Kemah Suci, satu tempat kediaman.

INFUSI ALLAH

Keluaran 34:28-29 mengatakan, “Dan Musa ada di sana bersama-sama dengan TUHAN empat puluh hari empat puluh malam lamanya, tidak makan roti dan tidak minum air, dan ia menuliskan pada loh itu segala per-kataan perjanjian, yakni Kesepuluh Firman.” Ketika Musa turun dari Gunung Sinai kedua loh hukum Allah ada di tangan Musa ketika ia turun dari gunung itu tidaklah ia tahu bahwa kulit mukanya bercahaya oleh karena ia telah berbicara dengan Tuhan.” Di sini kita melihat bahwa setelah Allah menuliskan kata-kata perjanjian pada loh batu itu, Ia mengutus Musa turun ke kaki gunung. Maksud Allah ialah agar umat-Nya menikmati Dia. Namun, maksud Musa adalah membawa perintah-perintah itu kepada umat Israel. Saya yakin, ketika Musa turun dari gunung, ia sangat senang. Ia tahu bahwa saat ini tidak ada persoalan anak lembu emas. Ayat 29 mengatakan bahwa Musa tidak tahu jika kulit mukanya bercahaya. Allah telah menginfus Musa dengan diri-Nya. Namun, Musa tidak tahu bahwa wajahnya bercahaya. Mungkin hatinya penuh dengan pemikiran mengenai Sepuluh Perintah yang tertera pada kedua loh batu itu. Ia boleh jadi tidak memperhatian soal infusi Allah.

Kita perlu infusi Allah. Namun demikian, bila kita menghampiri Alkitab, mungkin kita menganggapnya sebagai “loh” dan menerima setiap firman sebagai perintah untuk kita penuhi. Maksud kita mungkin menerima perintah-perintah, bukan untuk mengalami infusi Allah. Misalnya, dalam munajad pagi kita mungkin menerima firman hidup dari Alkitab, tetapi firman itu boleh jadi menjadi suatu perintah bagi kita. Kita mungkin tidak sadar bahwa Allah tidaklah berniat memberi kita kata-kata perintah; maksud Allah adalah menginfuskan diri-Nya ke dalam diri kita. Kadang-kadang kita pulang dari munajad pagi dengan wajah bercahaya, karena infusi Allah. Namun, karena kita lebih memperhatikan perintah daripada infusi, kita boleh jadi tidak tahu wajah kita bercahaya.

SELUBUNG PADA WAJAH MUSA

Ayat 30 mengatakan, “Ketika Harun dan segala orang Israel melihat Musa, tampak kulit mukanya bercahaya, maka takutlah mereka mendekati dia.” Musa tidak mengetahui bahwa wajahnya bercahaya, tetapi Harun dan bani Israel mengetahuinya, dan mereka takut akan wajahnya yang bercahaya. Setelah Musa bertemu dengan mereka, ia juga menyadari bahwa kulit mukanya bercahaya. Sebab itu, “setelah Musa selesai berbicara dengan mereka, diselubunginyalah mukanya.” “Tetapi apabila Musa masuk menghadap TUHAN untuk berbicara dengan Dia, ditanggalkannyalah selubung itu sampai ia keluar, dan apabila ia ke luar dikatakannyalah kepada orang Israel apa yang diperintahkan kepadanya. Apabila orang Israel melihat muka Musa,

bahwa kulit muka Musa bercahaya, maka Musa menyelubungi mukanya kembali sampai ia masuk menghadap untuk berbicara dengan TUHAN” (ayat 34-35). Ini menunjukkan bahwa Musa memiliki wajah yang terbuka dengan Allah. Ini juga mengingatkan kita pada perkataan Paulus dalam 2Korintus 3:18 mengenai memandang Tuhan dengan muka yang tidak berselubung dan memantulkan Dia ketika kita diubah ke dalam gambar-Nya. Ini pun perkara bercahaya, karena bercahaya adalah pengekspresian gambar Allah. Hari ini kita perlu menanggalkan selubung untuk memandang dan mencerminkan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Kemudian kita akan diubah ke dalam gambar-Nya, dan itu akan menjadi cahaya kita.

Kita telah menunjukkan bahwa ketika Musa pergi menghadap Allah, ia menanggalkan selubung itu, tetapi ketika ia berbicara dengan bangsa itu, ia mengenakan selubungnya. Ini berlawanan dengan keadaan orang-orang Kristen hari ini. Saat mereka menghadap Allah, mereka mengenakan selubung, tetapi saat mereka berbicara dengan orang lain, mereka menanggalkan selubung itu. Dalam 2Korintus 3:13, Paulus menjelaskan sebab-musabab Musa mengenakan selubung pada wajahnya sewaktu ia berbicara dengan bani Israel. Paulus berkata bahwa Musa “menyelubungi mukanya, supaya mata orang-orang Israel jangan melihat hilangnya cahaya yang memudar itu.” Ketika Musa menyampaikan firman Allah kepada bani Israel, ia membiarkan wajahnya berselubung. Setelah berbicara, ia menyelubungi mukanya supaya mereka jangan melihat hilangnya cahaya pelayanannya yang sementara itu. Ia tidak ingin mereka melihat kemuliaan ministri hukum Tauratnya melenyap. Melihat melenyapnya cahaya, bagi orang-orang Israel, berarti melihat akhir dari hukum Taurat.

Pencahayaan yang kita alami hari ini bukanlah di dalam hukum Taurat, melainkan di dalam kenikmatan atas Kristus. Dalam Perjanjian Baru, kita tidak memiliki pemeliharaan hukum Taurat kita memiliki kenikmatan akan hari raya. Pengajaran Perjanjian Baru dipusatkan pada menikmati Kristus. Hukum Taurat telah diganti dengan kenikmatan atas Kristus. Sebab itu, kita tidak perlu berselubung, dan kita tidak perlu takut kemuliaan itu berakhir. Kita dapat mempertahankan wajah kita tak berselubung di hadapan Allah dan manusia.

LAMA TINGGAL BERSAMA ALLAH

Mungkin kita perlu diingatkan bahwa judul berita ini adalah “Musa beserta dengan Allah”. Hasil dari saat-saat Musa tinggal bersama Allah, wajahnya bercahaya. Kalau kita mau bercahaya dengan kemuliaan Tuhan, kita juga perlu memiliki saat-saat yang lama tinggal bersama Allah. Keluaran 34:28 mengatakan, “Dan Musa ada di sana bersama-sama dengan TUHAN empat puluh hari empat puluh malam lamanya, tidak makan roti dan tidak minum air.” Kita tak dapat menjelaskan bagaimana Musa bersama Tuhan selama empat puluh hari empat puluh malam tanpa makan atau minum. Tentunya Allahlah yang memungkinkan hal ini.

Seperti telah kita sebutkan, kalau kita mau tinggal bersama Allah, kita perlu melupakan apa saja. Ketika Tuhan menyuruh Musa ke puncak gunung untuk menemui Dia, Ia berkata kepadanya, “Tetapi janganlah ada seorang pun yang naik bersama-sama dengan engkau dan juga seorang pun tidak boleh kelihatan di seluruh gunung itu, bahkan kambing domba dan lembu sapi pun tidak boleh makan rumput di sekitar gunung itu” (ayat 3). Ini menunjukkan bahwa bila kita bertemu dengan Allah, kita harus melupakan milik kita, kebutuhan kita, dan bahkan keluarga kita. Bahkan kita tidak seharusnya memperhatikan diri kita sendiri. Seharusnya kita tinggal dalam hadirat Allah saja.

Alkitab tidak memberi tahu kita apa yang Allah dan Musa lakukan selama empat puluh hari itu. Namun, kita tahu bahwa selama masa itu Musa sepenuhnya diinfus dengan Allah dan dijenuhi dengan Dia. Seolah-olah Musa tidak melakukan apa-apa selama empat puluh hari selain menerima penyorotan dari Allah dan infusnya. Ini sungguh mulia. Sesuatu yang ajaib terjadi selama empat puluh hari itu: Allah menginfuskan diri-Nya ke dalam Musa dan menjenuhi Musa dengan diri-Nya. Kalau kita melihat arti dari hal ini, kita akan menerima banyak bantuan mengenai persekutuan kita dengan Tuhan dan kehidupan kristiani kita.

PEMBICARAAN YANG MENGINFUS KITA DENGAN ALLAH

Kalau kita membaca Keluaran 34, kita akan melihat bahwa infus Allah ke dalam Musa terjadi melalui pembicaraan-Nya. Kalau Allah tidak melakukan lebih dari mengatakan Sepuluh Perintah dan peraturan-peraturan, saya tidak percaya Musa akan menerima banyak infus. Tahukah Anda pembicaraan macam apa yang menginfus Anda? Yaitu pembicaraan Tuhan mengenai kenikmatan akan Dia, pembicaraan-Nya mengenai berhari raya dan beristirahat serta syarat-syarat untuk menikmati Dia. Pembicaraan semacam itu menginfus kita dengan Allah dan membuat kita bercahaya.

Saya dapat bersaksi bahwa saya tidak menerima banyak infusi dari duduk dalam sidang penelaahan Alkitab bertahun-tahun yang lalu. Namun, ketika saya mendengar pembicaraan Saudara Watchman Nee tentang pengalaman atas Tuhan, saya menerima infus dari Tuhan. Banyak orang di antara kita dapat bersaksi tentang pengalaman tersebut. Mulailah ada suatu cahaya di dalam kita karena Tuhan berbicara kepada kita.

Bagian akhir ayat 29 seharusnya diterjemahkan “dalam pembicaraan-Nya dengan dia”, bukan “oleh karena dia telah berbicara dengan Tuhan”. Ini menunjukkan bahwa wajah Musa bercahaya bukan karena pembicaraannya dengan Allah, melainkan dari pembicaraan Allah dengan dia. Semakin kita berbicara, semakin besar kemungkinannya kita menghambat infusi Tuhan kepada kita. Namun, semakin Ia berbicara dengan kita tentang kenikmatan atas diri-Nya, semakinlah kita diinfus. Hendaklah kita semua seperti Musa dan membiarkan Tuhan yang berbicara. Hendaklah kita membiarkan Dia berbicara dengan kita tentang hari raya, Sabat, dan syarat-syarat untuk menikmati Dia. Firman Allah mengenai kenikmatan atas diri-Nya selalu merupakan firman infusi.

Terima kasih kepada Tuhan karena Ia telah membukakan Keluaran 34 kepada kita. Puji Dia karena dalam pasal ini kita melihat berhari raya dan beristirahat, lima syarat menikmati Tuhan dan infusi Allah ke dalam kita melalui pembicaraan-Nya tentang kenikmatan atas diri-Nya.