← Daftar isi Makna Baptisan (1) · bab 7/8

DARAH KRISTUS

Minggu ke-7 -- Senin Doa baca: Rm. 3:25

"Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya. Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya, karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya."

DUA MASALAH KITA:

PERBUATAN DOSA DAN TABIAT DOSA

Delapan pasal pertama surat Roma membentuk satuan tersendiri. Empat setengah pasal, dari pasal l sampai 5:11, merupakan paruhan pertama dari satuan ini; dan tiga setengah pasal lainnya, dari 5:12 sampai 8:39; adalah paruhan kedua. Kalau kita membaca kedua paruhan itu dengan cermat, kita akan melihat perbedaan pokok bahasan keduanya. Misalnya, dalam pembahasan bagian pertama, kita temukan kata "dosa-dosa" (jamak) secara mencolok. Namun dalam bagian kedua, kata "dosa-dosa" hampir tidak terlihat, sedangkan kata "dosa" (tunggal) muncul berkali-kali, dan merupakan pokok bahasan bagian tersebut. Mengapa demikian?

Ini dikarenakan bagian pertama membahas masalah perbuatan dosa (jamak) yang telah kuperbuat di hadapan Allah, yang banyak dan dapat dirinci; sedangkan bagian kedua membahas masalah tabiat dosa (tunggal) yang merupakan "dalang" (prinsip) yang bekerja di dalamku. Tak peduli berapa banyak perbuatan dosa yang kuperbuat, semuanya selalu dikarenakan satu "dalang" dosa itu. Jadi, selain aku memerlukan pengampunan atas perbuatan dosaku, aku pun memerlukan kelepasan dari kuasa dosa. Yang pertama menjamah hati nuraniku, dan yang terakhir menjamah hidupku. Meskipun aku telah menerima pengampunan atas segala dosa-dosaku, kalau tabiat dosaku belum terbereskan, aku tetap belum memiliki damai sejahtera yang abadi.

Ketika untuk pertama kalinya terang Allah menyoroti hatiku, aku berseru mohon pengampunan, sebab aku nampak bahwa aku telah melakukan banyak dosa di hadapan-Nya Tetapi setelah aku menerima pengampunan atas dosa-dosaku, lambat-laun aku menemukan satu masalah baru, yaitu tabiat dosa. Aku nampak, bukan hanya aku telah berbuat dosa-dosa di hadapan Allah, tetapi juga ada sesuatu yang tidak benar di dalamku; ternyata aku memiliki tabiat orang berdosa. Ada satu kecenderungan terhadap dosa di batinku, ada satu kuasa yang menarikku untuk berdosa. Bila kuasa itu bergerak, aku pun melakukan dosa-dosa. Meskipun setelah itu aku memohon pengampunan, dan benar-benar beroleh pengampunan, namun tidak lama kemudian, aku berdosa lagi. Demikianlah hidupku dalam lingkaran: berdosa - diampuni - dan berdosa lagi. Aku sangat bersyukur atas berkat pengampunan Allah, tetapi aku masih memerlukan sesuatu yang lebih dari itu: kelepasan! Aku memerlukan pengampunan atas segala yang telah kuperbuat, tapi aku pun memerlukan kelepasan dari apa adanya diriku.

DUA ASPEK PENYELAMATAN ALLAH: DARAH DAN SALIB

Demikianlah, dalam delapan pasal pertama surat Roma, kita nampak dua aspek keselamatan: pertama, pengampunan atas dosa-dosa kita; kedua, pelepasan kita dari dosa. Berdasarkan fakta tersebut, kita masih perlu melangkah lebih maju untuk memperhatikan perbedaan-perbedaannya.

Pada bagian pertama surat Roma 1 -- 8, kita temukan dua keterangan terhadap darah Tuhan Yesus, yaitu pada 3:25 dan 5:9. Pada bagian kedua, khususnya pada 6:6, muncullah satu konsep baru yang mengatakan bahwa kita sudah "disalibkan" bersama Kristus. Uraian pada bagian pertama berkisar pada aspek pekerjaan Tuhan Yesus yang diwakili oleh "darah" yang tercucur untuk pembenaran kita melalui "pengampunan dosa-dosa". Namun istilah itu tidak lagi dipakai pada bagian kedua, yang uraiannya berkisar pada aspek pekerjaan-Nya yang diwakili oleh "salib"; ini berarti kita harus bersatu dengan Kristus dalam kematian, penguburan dan kebangkitan-Nya. Perbedaan ini sangat berharga! Kelak akan kita lihat, darah menanggulangi segala yang kita perbuat, sedangkan salib menanggulangi apa adanya kita. Darah menghapuskan dosa-dosa kita, sedang salib menghancurkan akar kemampuan berdosa kita.

Minggu ke-7 -- Selasa Doa baca: Ibr. 9:22

“Dan hampir segala sesuatu disucikan menurut hukum Taurat dengan darah, dan tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan.”

MASALAH DOSA-DOSA KITA

Sekarang mari kita lihat darah adi Tuhan Yesus Kristus dan nilainya bagi kita dalam menanggulangi dosa-dosa kita dan membenarkan kita di hadapan Allah. Hal ini dibentangkan bagi kita dalam ayat-ayat berikut:

"Karena semua orang telah berbuat dosa" (Roma 3:23).

"Akan tetapi Allah telah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena K»stus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa. Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah melalui Dia" (Roma 5:8-9 Tl.).

"Dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus. Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya. Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya, karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya. Maksud-Nya ialah untuk menunjukkan keadilan-Nya pada masa ini, supaya nyata, bahwa la benar dan juga membenarkan omng yang percaya kepada Yesus" (Roma 3:24-26).

Ketika dosa masuk, ia terwujud dalam tindakan ketidaktaatan kepada Allah (Roma 5:19). Ingatlah, begitu ada ketidaktaatan, kedosaan pasti segera menyusul.

Begitu dosa masuk melalui ketidaktaatan, akibat yang pertama ialah terpisahnya Allah dengan manusia; manusia dijauhkan dari hadirat Allah. Allah tidak dapat lagi bersekutu dengan manusia, karena sekarang ada rintangan, yang dalam Alkitab dikenal sebagai "dosa". Maka, pertama-tama Allah mengatakan, "Mereka semua ada di bawah kuasa dosa" (Roma 3:9). Kedua, dosa di batin manusia, yang membentuk penghalang bagi persekutuannya dengan Allah, menerbitkan perasaan bersalah di dalam dirinya -- perasaan dijauhkan dari Allah. Saat ini, manusia sendiri, dengan pertolongan hati nuraninya yang tergugah, berkata, “Aku telah berdosa" (Lukas 15:18). Pada satu pihak, dosa memberikan satu dasar bagi Iblis untuk menuduh kita di hadapan Allah. Pada pihak lain, perasaan bersalah kita juga memberi Iblis satu dasar untuk menuduh kita di hati kita. Akibatnya, ketiga, “pendakwa saudara-saudara kita" (Wahyu 12:10) kini berkata, "Kamu sudah berdosa."

Sebab itu untuk menebus kita dan membawa kita kembali kepada tujuan Allah, Tuhan Yesus harus melakukan sesuatu yang mencakup persoalan dosa, rasa bersalah, dan dakwaan Iblis terhadap kita. Dosa-dosa kita harus dibereskan dulu; hal ini sudah dirampungkan oleh darah adi Kristus. Perasaan bersalah di dalam kita juga harus dibereskan; dengan adanya penampakan terhadap nilai darah, hati nurani kita yang berperasaan bersalah dapat ditenangkan. Akhirnya, terhadap serangan musuh dan gugatannya, Tuhan pasti menanggulanginya dan menjawabnya. Alkitab memberitahu kita, bahwa darah Kristus mampu dan berhasil membereskan ketiga hal tersebut; terhadap Allah, manusia dan Iblis.

DARAH TERUTAMA UNTUK ALLAH

Darah adalah untuk penebusan, dan yang pertama dibereskannya ialah kedudukan kita di hadapan Allah. Kita memerlukan pengampunan bagi dosa-dosa yang telah kita perbuat, agar kita tidak jatuh ke bawah penghukuman. Dosa-dosa kita diampuni bukan karena Allah mengabaikan atau acuh tak acuh terhadap apa yang telah kita lakukan, melainkan karena Ia melihat darah. Jadi, darah terutama bukan untuk kita, melainkan untuk Allah. Jika aku ingin memahami nilai darah, aku harus menerima penilaian Allah terhadapnya. Tanpa mengetahui penilaian Allah terhadap darah, aku tidak mungkin dapat mengetahui nilai darah itu bagiku. Bila penilaian Allah atas darah Kristus dinyatakan kepadaku oleh Roh Kudus-Nya, barulah aku mengalami khasiatnya dan nampak betapa berharganya darah itu bagiku. Tetapi ingatlah, darah terutama ditujukan kepada Allah. Dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, kata "darah" yang berjumlah lebih dari seratus itu, selalu dihubungkan dengan konsep penebusan. Dalam setiap pemunculannya, darah ditujukan kepada Allah.

Minggu ke-7 -- Rabu Doa baca: Ibr. 10:22

"Karena itu marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni."

Dalam Keluaran 12:13 sudah ada gambaran pencurahan darah anak domba paskah di Mesir untuk penebusan bani Israel. Ini pun sebuah lambang yang sangat baik dari penebusan dalam Perjanjian Lama. Darah anak domba dioleskan pada tiang dan ambang pintu, sedang dagingnya dimakan di dalam rumah. Allah berfirman, "Apabila Aku melihat darah itu, maka Aku akan lewat dari pada kamu." Di sini kita mempunyai satu fakta lain sebagai bukti bahwa darah bukan dipersembahkan kepada manusia, melainkan kepada Allah.

ALLAH DIPUASKAN

Kekudusan dan keadilan Allah menuntut agar manusia menerima kehidupan (hayat) yang tanpa dosa. Dalam darah ada hayat, dan darah itu harus dicurahkan bagiku dan dosa-dosaku. Allah sendiri yang menghendaki demikian. Allah sendiri menuntut agar darah dipersembahkan untuk memuaskan keadilan-Nya. Ia berkata, "Apabila Aku melihat darah itu, maka Aku akan lewat dari pada kamu." Darah Kristus sepenuhnya memuaskan Allah.

Darah sudah memuaskan Allah, karenanya harus pula memuaskan kita. Jadi, darah mempunyai nilai kedua yang ditujukan kepada manusia, yaitu mencuci bersih hati nurani kita. Ketika kita membaca kitab Ibrani, kita akan menemukan khasiat darah di pihak ini. Kita sepatutnya mengalami "hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat" (Ibrani 10:22). Ungkapan ini berarti, di antara diriku dengan Allah ada suatu sekatan, sehingga setiap kali aku ingin mendekati-Nya, selalu timbul perasaan bersalah di dalam hati nuraniku. Hati nurani yang tertuduh ini terus-menerus mengingatkan adanya sekatan di antara diriku dengan Allah. Kini melalui peranan darah adi, terjadilah sesuatu yang baru di hadapan Allah, yang menyingkirkan sekatan tadi. Fakta itu telah diberitahukan oleh Allah kepadaku melalui firman-Nya. Ketika fakta ini kuterima dengan iman, hati nuraniku segera dibersihkan dan rasa bersalahku disingkirkan, sehingga aku tidak lagi memiliki hati nurani yang merasa bersalah kepada Allah.

Kita semua tahu, betapa berharganya jika kita bisa bergaul dengan Allah tanpa perasaan hati nurani yang bersalah. Bagi kita, hati yang beriman sama pentingnya dengan hati nurani yang bebas dari segala tuduhan, karena keduanya saling berkaitan. Setiap kali hati nurani kita tidak tenteram, iman kita akan bocor, dan kita segera sadar bahwa kita tidak sanggup berhadapan dengan Allah. Sebab itu, agar hubungan kita dengan Allah terpelihara, kita harus mengenal nilai darah yang segar. Pembukuan Allah selamanya berjangka pendek; kita boleh mendekati Allah demi darah setiap hari, setiap jam, dan setiap menit. Asal kita mau bersandar kepada darah, mengambilnya sebagai dasar jalan kita menuju Allah, maka khasiat darah selamanya tidak akan hilang.

Mari kita bertanya kepada diri kita sendiri, kita datang ke hadirat Allah berdasarkan darah, atau berdasarkan yang lain? Apakah yang dimaksud "berdasarkan darah"? Dengan sederhana, ini berarti aku mengakui dosa-dosaku, aku mengakui bahwa aku membutuhkan pembersihan dan penebusan, karena itu aku datang kepada Allah berdasarkan pekerjaan yang telah dirampungkan oleh Tuhan Yesus. Aku hanya berdasarkan perbuatan-Nya datang ke hadirat Allah, bukan berdasarkan pencapaianku, seperti kebaikan hati, atau kesabaranku yang luar biasa hati ini, atau karena aku telah melakukan sesuatu untuk Tuhan pagi ini. Tidak demikian. Setiap kali aku datang ke hadirat Allah, aku harus berdasarkan darah.

Catatan:

Minggu ke-7 -- Kamis Doa baca: Ibr. 10:19

"Jadi, saudara-saudara, oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus."

DARAH ADALAH DASAR KITA UNTUK MENGHAMPIRI ALLAH

Sebenarnya apakah dasar Anda untuk menghampiri Allah? Apakah Anda menghampiri Allah berdasarkan hal-hal yang tidak pasti seperti perasaan Anda yang mengira hari ini Anda dapat melakukan sesuatu bagi Allah? Atau berdasarkan sesuatu yang lebih kukuh dan aman, yaitu fakta bahwa darah telah tercucur, dan bahwa Allah memandang darah itu dan merasa puas karenanya? Tentu saja, seandainya darah itu bisa mengalami perubahan, maka darah tidak dapat dijadikan dasar untuk menghampiri Allah. Namun darah tidak pernah berubah dan tidak mungkin berubah. Sebab itu, Anda dapat dengan penuh keberanian menghampiri Allah, dan keberanian itu Anda miliki berdasarkan darah, bukan berdasarkan pencapaian pribadi Anda sendiri. Ingatlah, tidak peduli apapun yang sudah Anda capai hari ini, kemarin atau hari-hari sebelumnya, begitu Anda hendak masuk ke dalam ruang maha kudus, Anda tetap harus segera berpijak pada dasar yang aman dan satu-satunya, yaitu darah yang telah tercucur. Entah sepanjang hari Anda baik atau buruk, berdosa atau tidak, dasar Anda untuk menghampiri Allah tetap hanya satu yaitu darah Kristus. Inilah dasar bagi Anda untuk masuk ke dalam ruang maha kudus, selain itu tidak ada dasar lagi.

MELALUI DARAH YESUS

DAPAT DENGAN PENUH KEBERANIAN

MEMASUKI TEMPAT MAHAKUDUS

Seperti banyak pengalaman kekristenan kita yang lain, jalan menghampiri Allah juga memiliki dua tahap: tahap awal dan tahap lanjutan. Tahap awal diperlihatkan kepada kita dalam Efesus 2, dan tahap lanjutan dalam Ibrani 10. Pada tahap awal kita menghampiri Allah, adalah melalui darah, sehingga kita bisa berdiri bersama Tuhan; kita "sudah menjadi dekat oleh darah Kristus" (Efesus 2:13). Setelah itu, penghampiran kita kepada Allah tetap berdasarkan darah. Rasul menganjuri kita, "Jadi, saudara-saudara, oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus. Karena itu, marilah kita menghadap Allah..." (Ibrani 10:19,22). Kita memulainya bersandarkan darah, selanjutnya untuk memelihara hubungan yang baru itu, tetap melalui darah. Bukannya setelah diselamatkan oleh darah, aku lalu memelihara persekutuanku dengan Allah berdasarkan hal yang lain. Mungkin Anda berkata, "Itu sangat mudah, itu hanyalah langkah awal dari Injil." Benar, namun persoalannya justru banyak di antara kita telah meninggalkan langkah ini. Kita mengira kita sudah maju dan boleh meninggalkannya. Tetapi sebenarnya selamanya kita tidak boleh meninggalkan langkah awal dari Injil. Sebagaimana pendekatan awalku kepada Allah adalah demi darah, selanjutnya setiap kali saya datang ke hadapan-Nya, tetap harus demi darah. Sampai akhir, dasarnya tetap satu yaitu darah adi Tuhan.

Kita mungkin saja lemah, tapi selalu memandangi kelemahan kita, tidak akan membuat kita menjadi kuat. Mencoba merasakan keburukan dan menyesalinya tidak akan membuat kita lebih kudus; semua itu tidak bisa menolong kita. Karena itu, marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri Allah dengan darah. Marilah kita berdoa, "Tuhan, aku belum paham sepenuhnya nilai darah, tetapi aku tahu, darah itu telah memuaskan-Mu; ada darah itu cukuplah bagiku. Itulah sandaranku satu-satunya. Kini aku nampak, entah aku sudah maju atau sudah mencapai sesuatu atau tidak, tidaklah penting. Setiap kali aku datang kepada-Mu, dasarku selalu darah adi." Jika demikian, hati nurani kita menjadilah bersih di hadapan Allah. Tanpa darah, hati nurani tidak mungkin bersih. Darahlah yang memberi kita keberanian.

"Tiadalah lagi berasa dosa pada hatinya!" Inilah perkataan yang mengagumkan dalam Ibrani 10:2 (Tl.). Kita dibersihkan dari setiap dosa, dan bersama Paulus, kita pun dapat menggemakan perkataan Daud, "Berbahagialah manusia yang kesalahannya tidak diperhitungkan Tuhan kepadanya" (Roma 4:8).

Catatan:

Minggu ke-7 --Jumat Doa baca: Why. 12:10b-11

"Karena telah dilemparkan ke bawah pendakwa saudara-saudara kita, yang mendakwa mereka siang dan malam di hadapan Allah kita. Dan mereka mengalahkan dia oleh darah Anak Domba, dan oleh perkataan kesaksian mereka. Karena mereka tidak mengasihi nyawa mereka sampai ke dalam maut.”

MENGALAHKAN SI PENDAKWA

Dari yang telah kita bicarakan, sekarang kita sudah boleh berpaling dan berhadapan dengan musuh, karena masih ada aspek darah yang ditujukan kepada Iblis. Kegiatan Iblis yang paling licik dan paling ganas saat ini adalah menjadi pendakwa saudara-saudara (Wahyu 12:10) dan Tuhan menghadapinya dengan pelayanan-Nya yang khusus sebagai Imam Besar "melalui darah-Nya sendiri" (Ibrani 9:12).

Lalu bagaimana darah berperan menghadapi Iblis? Dengan menempatkan Allah di pihak manusia pada saat melawan Iblis. Kejatuhan telah membawa masuk sesuatu ke dalam diri manusia, sehingga Iblis memiliki satu tempat berpijak di dalam manusia. Akibatnya, Allah terpaksa mengundurkan diri. Kini manusia berada di luar taman - telah kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:23) -- karena dia telah menjauhi Allah secara batiniah. Karena perbuatan manusia itu sendiri, timbullah sesuatu di dalam dirinya. Tanpa sesuatu itu disingkirkan, Allah tidak dapat melindunginya secara moral. Syukur kepada Allah, darah telah menyingkirkan penghalang itu dan memulihkan manusia kepada Allah, dan Allah kepada manusia. Kini manusia bisa menghadapi Iblis tanpa takut, karena ia sudah berdiri pada satu kedudukan yang menguntungkan dan Allah berdiri di pihaknya.

DARAH YESUS MENYUCIKAN SETIAP DOSA KITA

Satu Yohanes 1:7 terjemahan J. N. Darby mengatakan, "Darah Yesus, Anak-Nya itu menyucikan kita dari setiap dosa". Yang dimaksud di sini bukanlah semua dosa secara umum, melainkan "setiap" macam dosa. Apa artinya? O, sungguh menakjubkan! Allah adalah terang, dan saat kita berjalan di dalam terang bersama-Nya, setiap hal akan terungkap dan terbuka di bawah terang itu, sehingga Allah dapat melihat semuanya -- dan sekarang, darah mampu membersihkan kita dari setiap dosa. O, pembersihan yang sungguh indah! Ini bukan berarti saya tidak mengenal diriku secara mendalam, atau Allah kurang mengenalku. Juga bukan berarti saya hendak menyembunyikan sesuatu, atau Allah mengabaikan sesuatu. Bukan demikian, melainkan Allah di dalam terang, saya juga di dalam terang, lalu darah adi membersihkan saya dari setiap dosa. Darah cukup untuk itu!

Beberapa orang di antara kita, karena tertekan oleh kelemahannya sendiri, mungkin sering tergoda dan mengira ada dosa-dosa tertentu yang tidak dapat diampuni. Ingatlah firman ini, "Darah Yesus Kristus, Anak-Nya itu menyucikan kita dari setiap dosa." Dosa besar, dosa kecil, dosa-dosa yang sangat kotor, dosa-dosa yang saya pikir dapat diampuni dan dosa-dosa yang nampaknya tidak dapat diampuni, ya, semua dosa; yang dilakukan secara sadar atau tidak sadar, yang teringat atau yang sudah dilupakan, tercakup dalam ungkapan "setiap dosa". Haleluya! "Darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari setiap dosa". Darah bisa berkhasiat demikian karena darah sudah memuaskan Allah.

Karena Allah, yang melihat segala dosa kita di dalam terang, dapat mengampuni dosa-dosa kita itu berdasarkan darah, atas dasar apa Iblis mendakwa kita? Mungkin Iblis mendakwa kita di hadapan Allah, tetapi "Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?" (Roma 8:31). Allah akan menunjukkan darah Putra kekasih-Nya kepada Iblis. Inilah jawaban yang paling berkekuatan, yang tidak bisa dibantah oleh Iblis. "Siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah? Allah, yang membenarkan mereka? Siapakah yang akan menghukum mereka? Kristus Yesus, yang telah mati? Bahkan lebih lagi: yang telah bangkit, yang juga duduk di sebelah kanan Allah, yang malah menyadi Pembela bagi kita?” (Roma 8:33-34).

DARAH ADI TUHAN SELAMANYA BERKHASIAT

Kita perlu mengakui bahwa darah adi mutlak cukup bagi kita. "Tetapi Kristus telah datang sebagai Imam Besar untuk hal-hal yang baik yang akan datang ... dan Ia telah masuk satu kali untuk selama-lamanya ke dalam tempat kudus ... dengan membawa darah-Nya sendiri. Dan dengan itu Ia telah mendapat kelepasan kekal" (Ibrani 9:11-12). Dia pernah sekali menjadi Penebus. Ia sudah menjadi Imam Besar dan Pembela selama hampir dua ribu tahun. Dia berdiri di hadapan Allah, "Dan Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita" (1 Yohanes 2:2). Perhatikanlah kata-kata dalam Ibrani 9:14, "Betapa lebihnya darah Kristus, ... menyucikan hati nurani kita". Ayat tersebut menegaskan kecukupan pelayanan-Nya. Bagi Allah, itu sudah cukup.

Catatan:

Minggu ke-7 -- Sabtu Doa baca: 1 Yoh 1:7

"Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa."

MENOLAK TUDUHAN IBLIS

Lalu bagaimana sikap kita menghadapi Iblis? Ini penting, karena ia menuduh kita tidak hanya di hadapan Allah, juga di dalam hati nurani kita. Sering Iblis menuduh kita, "Kamu telah berdosa, dan masih terus berdosa. Kamu lemah, dan Allah tidak sudi lagi berhubungan denganmu." Lalu, kita tergoda/tertipu untuk melihat ke dalam dan membela diri dengan mencoba menemukan dalam diri kita, perasaan kita, atau tingkah laku kita, suatu dasar untuk menyakinkan bahwa Iblislah yang salah. Atau, mungkin kita tertipu dan mengakui bahwa kita tidak dapat lagi ditolong, sehingga terseret kepada keadaan ekstrim, tertekan dan putus asa. Demikianlah tuduhan merupakan senjata Iblis yang paling hebat dan ampuh. Ia menuding dosa-dosa kita dan menggugat kita berdasarkan dosa-dosa itu di hadapan Allah. Kalau kita menerima tuduhannya, kita segera jatuh.

Mengapa kita mudah menerima tuduhan Iblis? Ini dikarenakan kita masih berharap memiliki sedikit kebenaran pada diri kita sendiri. Dasar pengharapan ini keliru. Dalam hal ini Iblis sering berhasil membuat kita melihat ke arah yang salah, sehingga ia menang, dan kita kalah. Kalau kita telah belajar tidak mempercayai daging, kita tidak akan heran bila kita berdosa, karena sifat daging adalah berdosa. Mengertikah Anda? Karena kita belum mengenal sifat kita yang sesungguhnya, dan belum melihat betapa tidak berdayanya kita, kita masih mengharapkan sesuatu pada diri kita. Akibatnya, ketika Iblis datang, dan mendakwa kita, kita jatuh.

DENGAN DARAH ADI TUHAN MENJAWAB TUDUHAN IBLIS

Allah mampu menanggulangi dosa-dosa kita; tetapi Ia tidak dapat menanggulangi orang yang takluk di bawah tuduhan Iblis; karena orang semacam itu tidak percaya kepada darah. Meskipun darah berbicara baginya, membelanya, ia malah mendengarkan Iblis. Kristus adalah Pembela kita, namun kita yang didakwa, malah memihak kepada pendakwa kita! Kita tidak mengenal bahwa diri kita tidak berharga sedikitpun, hanya patut mati. Selanjutnya akan kita lihat, bahwa kita hanya patut disalibkan. Kita belum mengenal, hanya Allah yang mampu membungkam si pendakwa, dan melalui darah adi, Dia sudah melakukan hal itu.

Keselamatan kita tergantung pada memandang Tuhan Yesus, dan melihat bahwa darah Anak Domba sudah membereskan seluruh keadaan yang timbul akibat dosa-dosa kita. Itulah dasar yang teguh bagi kita untuk berdiri. Jangan sekali-kali berusaha menjawab Iblis dengan kelakuan baik kita. Lawanlah dia selalu dengan darah. Ya, kita memang berdosa, tetapi puji Allah! Darah menyucikan kita dari setiap dosa. Allah telah melihat darah itu, dan oleh darah itu Anak-Nya telah memenuhi segala tuduhan Iblis, sehingga Iblis tidak memiliki dasar untuk menyerang lagi. Mutlak bersandarnya kita kepada darah adi, dan penolakan kita untuk pindah dari kedudukan itu, cukup untuk membungkam tuduhan Iblis, bahkan membuatnya kabur (Roma 8:33-34). Pengalaman ini berlangsung terus sampai akhir (Wahyu 12:11). O, betapa bebasnya kita, bila kita nampak lebih jelas nilai darah adi Anak Allah dalam pandangan Allah!

Catatan:

Minggu ke-7 – Minggu Doa baca:Ibr. 12:24

"Dan kepada Yesus, Pengantara perjanjian baru, dan kepada darah pemercikan, yang berbicara lebih kuat dari pada darah Habel."

DARAH YANG LEBIH INDAH

Ibrani 12:24, memberitahu kita satu perkara yaitu, "darah pemercikan" (darah Tuhan) lebih kuat daripada darah Habel. Dengan kata lain, apa yang dibicarakan oleh darah Tuhan Yesus lebih baik (indah) dari pada apa yang dibicarakan oleh darah Habel. Mengapa yang dibicarakan oleh darah Tuhan Yesus lebih indah dari pada yang dibicarakan oleh darah Habel?

Mengapa Habel terbunuh? Karena Kain iri pada Habel, lalu Kain membunuh Habel. Allah mengindahkan Habel dan korban persembahannya, tapi tidak mengindahkan Kain dan korban persembahannya. Karena itu Kain iri, benci kepada Habel. Pada suatu hari, Kain membunuh Habel di padang. Mengapa orang-orang Yahudi membawa Tuhan Yesus ke wali negeri, membawa Yesus ke pengadilan pemerintah Roma? Dari perkataan Pilatus kita bisa mengetahui, bahwa "Mereka menyerahkan Yesus karena dengki" (Matius 27:18). Orang-orang Yahudi membunuh Tuhan Yesus bukan karena ada sebab yang lain; satu-satunya sebab adalah benci kepada Tuhan Yesus. Habel dibenci oleh Kain, lalu Kain membunuhnya. Tuhan Yesus dibenci oleh orang-orang Yahudi, lalu orang-orang Yahudi membunuh-Nya.

Mengapa yang dibicarakan darah Tuhan Yesus lebih indah dari pada darah Habel? Darah Habel bersuara dari dalam tanah, mengaduh kepada Allah, meminta Allah menuntut balas menurut keadilan, menuntut dosa orang yang mengalirkan darahnya. Darah Tuhan Yesus juga bersuara, memohon agar Allah dengan kasih karunia memperlakukan manusia, mengampuni dosa-dosa manusia yang mengalirkan darah-Nya. Darah Habel memohon Allah melaksanakan keadilan. Begitu Allah melaksanakan keadilan, maka keturunan Adam yang berdosa, Kain, tidak mempunyai tempat untuk berteduh. Darah Tuhan Yesus juga menuntut Allah melaksanakan keadilan, tetapi begitu Allah melaksanakannya, Ia "mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan." Tuhan Yesus mati untuk kita, Allah telah menghukum-Nya, maka Allah tidak bisa menghukum kita lagi. Allah bertanya kepada Kain, "Di manakah adikmu?" Jawab Kain, "Aku tidak tahu! Apakah aku penjaga adikku?" Hari ini, kalau Allah bertanya kepada kita, di manakah ‘Habel’ saudaramu? Kita akan bersyukur kepada Allah, karena hari ini kita bisa menjawab, bahwa Dia telah kami bunuh, tetapi darah-Nya tidak menuntut kami. Darah Tuhan Yesus tidak mendakwa kita. Inilah kasih karunia keselamatan yang ajaib!

DARAH BERSAKSI BAGI KITA

Mengapa Alkitab mengatakan, bahwa darah bisa berbicara? Inilah yang disebut oleh surat kiriman 1 Yohanes, "kesaksian darah". Darah mempunyai dua fungsi: yang pertama di depan Allah menebus dosa kita, yang kedua di depan Allah menjamin kita. Banyak orang hanya nampak, darah Tuhan Yesus di depan Allah menebus dosa-dosa kita, tetapi tidak nampak darah Tuhan Yesus di depan Allah menjamin kita. Darah Tuhan Yesus di bumi adalah untuk penebusan dosa, di sorga adalah untuk kesaksian, menyaksikan bahwa penebusan telah dirampungkan di bumi. Di bumi, Tuhan berdarah, menjadi Juruselamat kita; di sorga Tuhan selamanya tetap adalah Juruselamat kita.

Bagaimanakah pelaksanaan hari raya Pendamaian (penebusan dosa) dalam kitab Imamat 16? Darah, di satu pihak mengalir dari mezbah ke bumi, di pihak lain di bawa oleh Imam Besar ke ruang mahakudus untuk dipercikkan ke tabut. Darah yang teralir ke bumi, setelah lewat beberapa hari akan kering, menjadi debu. Tetapi darah yang dibawa ke ruang mahakudus, selamanya akan berbicara untuk kita. Darah yang teralir ke tanah untuk penebusan dosa, darah yang di bawa ke ruang mahakudus untuk berbicara di depan Allah, bersaksi di depan Allah. Tuhan mengucurkan darah, selain untuk mengampuni dosa kita, menebus dosa kita, juga untuk diletakkan di depan Allah, berbicara untuk kita, bersaksi untuk kita. Percikan darah di sorga menyaksikan pengaliran darah (penebusan dosa di bumi).

Darah menyaksikan apa? Darah di depan Allah, berarti fakta penebusan dosa ada di hadapan Allah. Darah tanpa suara bersaksi di depan Allah menjamin damai sejahtera kita yang kekal. Kalau di bumi tidak ada pengaliran darah (penebusan dosa), dari manakah asalnya darah yang dipercikkan di depan Allah? Darah bersaksi bagi Allah, menyatakan Allah mengasihi Anda. Kalau tidak, dari mana asalnya darah ini? Bersamaan dengan itu, darah bersaksi bagi Anda, menyatakan bahwa Anda sudah beroleh selamat. Kalau tidak, untuk apa darah ini teralir? Darah, di satu pihak menyaksikan "kasih Allah", di pihak lain menyaksikan "keselamatan Anda". Selain itu, darah juga bersaksi terhadap Iblis, sehingga Iblis tidak bisa menuduh kita lagi. Puji syukur kepada Allah! Apa yang dibicarakan oleh darah Tuhan Yesus lebih indah dari pada apa yang dibicarakan oleh darah Habel. Darah ini untuk pengampunan, bukan untuk membalas dendam; untuk pendamaian bukan untuk penuduhan.