← Daftar isi Makna Baptisan (1) · bab 8/8

MEMPERSEMBAHKAN HARTA

Minggu ke-8 -- Senin Doa baca: Luk. 6:38

"Berilah dan kamu akan diberi; suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu "

BERILAH DAN KAMU AKAN DIBERI

Cara orang Kristen mengatur keuangan sama sekali berbeda dengan cara orang kafir. Cara orang kafir adalah menyimpan/menabung, tetapi cara orang Kristen adalah memberi. Dalam berita ini akan kita bebas, bagaimana seharusnya sikap dan tindakan orang Kristen agar mereka tidak mengalami kekurangan selama hidupnya di dunia ini. Allah memberi janji kepada kita, bahwa kita bisa hidup tanpa kekurangan di dunia ini. Burung-burung di udara tidak kekurangan makanan; bunga bakung juga tidak kekurangan pakaian yang indah; demikian pula, anak-anak Allah tidak akan kekurangan sandang pangan. Kalau anak-anak Allah sampai mengalami kekurangan, tentu ada sebabnya, ada penyakitnya. Setiap saudara-saudari yang mengalami kesukaran dalam masalah penghasilan, pasti dikarenakan cara mengatur keuangan mereka tidak menurut prinsip Allah. Sebab itu, setiap anak Allah harus belajar mengatur keuangan. Sekarang, mari kita lihat bagaimana kita baru bisa mendapatkan kekayaan Allah.

Kita harus mengetahui Allah memberi orang ada syaratnya. Kita harus melakukan satu perkara yang sesuai dengan syarat Allah, baru bisa mendapatkan pemberian Allah. Doa mendapatkan jawaban ada syaratnya, beroleh selamat juga ada syaratnya, yaitu percaya. Setiap perkara ada syaratnya sendiri-sendiri, kita harus melakukan yang benar, baru bisa mendapatkannya. Demikian juga, kalau kita ingin mendapatkan pemberian Allah, perlu juga memenuhi permintaan Allah. Apakah permintaan Allah? Yaitu memberi kepada orang. Tuhan berkata, "Berilah dan kamu akan diberi." (Luk.6:38). Alkitab memperlihatkan satu prinsip utama kepada kita: Bila ingin limpah, harus memberi; kalau ingin miskin, boleh terus menyimpan. Siapa yang memikirkan untuk diri sendiri, pasti menjadi orang miskin. Siapa yang belajar memberi kepada orang, pasti menjadi limpah. Firman Allah berkata demikian, pasti akan terjadi demikian juga.

CARA ORANG KRISTEN MENGATUR UANG:

PENERIMAAN DIUKUR DENGAN PENGELUARAN

"Sebab ukuran yang kamu pakai unluk mengukur, akan diukurkan kepadamu" (Luk.6:38). Bagaimana Anda memperlakukan saudara saudari Anda, Allah juga akan memperlakukan Anda dengan ukuran yang Anda pakai. Jika Anda mau memberi kepada orang keperluan hidupnya, orang pun akan memberi kepada Anda keperluan hidup Anda. Kalau Anda memberi kepada orang sesuatu yang sama sekali tidak berguna, orang pun akan memberi kepada Anda sesuatu yang sama sekali tidak berguna. Orang yang penghasilannya ada masalah, kebanyakan pengeluarannya juga tidak beres. Kalau pengeluaran seseorang tidak ada penyakitnya, penerimaannya pun tidak mudah menemui kesulitan. Firman Allah sangat jelas, "Berilah dan kamu akan diberi". Kalau Anda tidak memberi kepada orang, Tuhan pun tidak memberi kepada Anda. Banyak orang hanya beriman untuk "mohon" Allah memberinya uang, namun tak beriman untuk mengeluarkan/memberikan uang; karena itu, tidak heran, kalau ia pun tak beriman untuk "menerima" uang dari Allah. Orang Kristen mempunyai satu cara mengatur keuangan yang istimewa: Saya ingin demikian menerima uang, maka saya harus demikian mengeluarkan uang. Dengan kata lain, cara mengatur keuangan orang Kristen adalah "penerimaan diukur dengan pengeluaran". Jadi, berapa yang Anda keluarkan, berapa pula yang Anda terima. Sebab itu, semua orang yang cinta uang, semua orang yang kikir, adalah orang-orang yang tak mungkin menerima uang dari Allah, tak mungkin menerima suplai Allah.

Allah hanya mau menyuplai keperluan semacam orang, yaitu orang yang mau memberi. Istilah yang Tuhan gunakan di sini sangat ajaib, yaitu "Suatu takaran yang baik". Ketika Allah memberi kepada manusia, Ia sama sekali tidak kikir, melainkan sangat lapang dada. Cawan Allah selamanya melimpah-ruah, Ia tak pernah pelit dan picik. Firman-Nya mengatakan, kalau Ia memberi kepada kita, pasti dengan suatu takaran yang baik, yang dipadatkan dan digoncang. Kebanyakan penjual beras tidak mau menggoncangkan takarannya, setelah ditakar sebentar, lalu cepat-cepat dituang. Tetapi Tuhan berkata, "Takaran-Nya dipadatkan dan digoncang, bahkan sampai tumpah keluar." Hanya saja selanjutnya Ia berkata, "Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu." Kalau Anda memberi kepada orang dengan kikir, maka ketika Allah menggerakkan orang untuk memberi kepada Anda, Ia pun menghitungnya dengan ketat bagi Anda.

Catatan:

Minggu ke-8 -- Selasa Doa baca: Ams. 11:24

"Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan."

MENGELUARKAN UANG UNTUK DITANAMKAN/DITABURKAN

Bacalah 2 Korintus 9:6 -- "Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga." Ini juga prinsip pengaturan keuangan yang tercantum dalam Alkitab. Orang Kristen memberi kepada orang lain berarti menabur/menanam, bukan membuang. Bukan orang yang "membuang" sedikit, akan menuai sedikit, dan orang yang "membuang" banyak, akan menuai banyak. Firman Allah: orang yang "menabur" sedikit, akan menuai sedikit juga, orang yang "menabur" banyak, akan menuai banyak juga. Jadi Anda mengeluarkannya untuk ditabur. Apakah Anda mengharap uang Anda bertumbuh? Jika "Ya", Anda harus menaburnya. Bila Anda dapat mengeluarkannya, ia pasti bertumbuh; jika tidak, ia takkan bertumbuh. Masakan kita demikian bodohnya, sehingga kita ingin menuai sesuatu yang tidak kita tanam. Banyak doa Anda yang meminta suplai telah ditolak oleh Allah. Karena Anda mau menuai di tempat yang tidak Anda taburi, dan mau memungut dari tempat yang tidak Anda tanami. Hal ini mustahil. Kita harus ingat kita dapat menggunakan uang kita sebagai benih. Kalau ada saudara saudari dalam kesusahan, dan Anda memenuhi kebutuhan mereka, Allah akan mempertumbuhkan uang itu, bahkan Anda akan menuai sebanyak 30, 60 atau 100 kali lipat. Semoga Anda mau menabur uang Anda sebanyak-banyaknya! Jika demikian, ketika kita ada keperluan, kita akan dapat menuai apa yang kita tanam. Anda tak mungkin menuai apa yang tidak Anda tanam.

Amsal 11:24 berkata, "Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan." Banyak orang tidak menyebar harta, malah tidak ada yang tersisa, tetapi banyak orang yang telah menyebar harta, malah bertambah kaya. Inilah yang diwahyukan firman Allah kepada kita tentang prinsip orang Kristen mengatur keuangan.

Perjanjian Lama dalam 1 Raja-raja pasal 18 mencatat satu perkara yang sangat ajaib, yaitu kisah Elia di atas gunung Karmel memohon Allah menurunkan hujan. Pada masa itu terjadi kekeringan yang dahsyat, sampai-sampai raja sendiri pergi mencari air; begitu pula para menterinya. Ini terbukti betapa sedikitnya air pada saat itu. Ketika Elia akan memperbaiki mezbah dan akan mempersembahkan korban bagi Allah, ia menyuruh orang mengambil air untuk dituangkan ke atas mezbah dan korban. Pada waktu itu, air sangatlah berharga! Sebab raja pun pergi mencari air. Tetapi Elia berkata, harus menuangkan air satu pikul, dua pikul, tiga pikul, terus dituang hingga air mengalir di sekitar mezbah bagaikan aliran sungai. Air dari langit belum turun, tetapi air ini harus dituang terlebih dulu, bukankah sayang sekali? Jika hujan tak jadi turun, dan air itu sudah terlanjur dituang, bukankah itu sangat sayang? Namun, Elia tetap menyuruh mereka mengambil air dan menuangkannya. Ia sendiri kemudian berlutut dan berdoa, mohon Allah menurunkan api membakar korban di atas mezbah. Allah mengabulkan doanya, dan menurunkan hujan lebat. Saya beritahu Anda, jika Anda menginginkan langit menurunkan hujan lebat, Anda harus terlebih dulu menuangkan air kalian. Kalau Anda tidak mau menuangkan air Anda, maka hujan dari langit takkan diturunkan.

Di sinilah letak kesukaran kebanyakan orang. Mereka menggenggam erat apa yang mereka miliki, namun mengharapkan Allah mengabulkan doa mereka. Allah ingin mencurahkan air ke atas bumi, agar bumi tidak mengalami kekeringan, tetapi manusia harus terlebih dulu menuangkan air. Barangsiapa ingin melihat air turun dari langit, ia harus berbuat seperti Elia, yaitu bisa melepaskan air yang ada padanya, yaitu menyerahkan segala sesuatu kepada Allah.

MEMBERI BERDASARKAN IMAN

Pada waktu lumbung Anda kehabisan gandum, dan botol Anda kehabisan minyak, Anda harus ingat, bahwa dari yang tersisa segenggam pada Anda itu harus terlebih dulu dibuatkan sebuah roti untuk Elia, yakni harus terlebih dulu memberi makan kepada hamba Allah. Dari beberapa tetes minyak dan segenggam tepung gandum itu harus terlebih dulu dibuatkan roti untuk nabi; alhasil, segenggam gandum dan beberapa tetes minyak itu akan cukup Anda pakai selama tiga setengah tahun. Siapakah yang pernah mendengar bahwa sebotol minyak cukup dimakan selama tiga setengah tahun? Saya beritahu Anda, jika Anda dengan sedikit minyak dan sedikit gandum yang Anda miliki itu, terlebih dulu membuatkan roti untuk nabi, Anda memang sudah tak punya apa-apa, tetapi Anda akan nampak bahwa sebotol minyak itu akan cukup memelihara Anda selama tiga setengah tahun. Sebenarnya untuk Anda makan sekali saja tidak cukup, tetapi begitu Anda memberikannya, Anda malah akan terpelihara. Inilah cara orang Kristen mengatur keuangan.

Catatan:

Minggu ke-8 -- Rabu Doa baca: 1 Tim 6:17

"Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati "

HARUS MELEPASKAN UANG KITA

Seluruh Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama memberi pengajaran yang sama. Kemiskinan bukanlah jalan yang ditempuh orang Kristen. Allah tidak menghendaki kita menjadi miskin, Allah pun tidak menghendaki kita susah. Kalau di antara kita ada orang yang miskin dan susah, itu disebabkan ia menggenggam uangnya terlalu erat. Semakin Anda menyayangi dan memustikakan diri sendiri, Anda akan semakin kelaparan. Semakin Anda mementingkan uang, Anda akan semakin miskin. Saya tak dapat bersaksi bagi hal yang lain, tetapi untuk hal ini, saya dapat. Orang yang semakin erat menggenggam uang dan yang semakin menyayangi uang, ia akan menjadi semakin miskin. Itu sudah pasti. Selama 20 tahun ini, saya telah menyaksikan banyak fakta yang demikian. Saya harap, kita semua mau melepaskan uang kita, agar uang itu berjalan di atas bumi, agar uang itu bekerja, dan agar Allah dapat mengabulkan doa-doa serta melakukan mujizat-mujizat. Tatkala kita menghadapi keperluan, Allah bisa memenuhinya.

Bukan Anda saja yang ada dalam tangan Allah, Iblis pun berada dalam tangan Allah. Lembu dan kambing di seluruh gunung adalah kepunyaan Allah. Hanya orang yang bodoh yang mengira bahwa uang itu merupakan hasil usahanya sendiri. Sebab itu, orang yang baru beriman harus nampak, bahwa persembahan adalah perkara yang harus kita lakukan. Anda harus mengeluarkan uang yang Anda peroleh, dan berikan kepada saudara saudari yang dalam kekurangan. Janganlah menjadi orang bodoh yang selalu menerima, selalu menimbun uang bagi diri sendiri dan menyimpan uang itu. Jalan orang Kristen tergantung pada memberi. Anda harus selalu memberi, jika demikian Anda akan nampak betapa uang itu menjadi "hidup" di dalam gereja. Ketika Anda ada keperluan, burung-burung di udara bisa membantu Anda; ketika Anda ada keperluan, Allah pasti melakukan mujizat.

Anda harus meletakkan diri Anda ke dalam firman Allah, jika tidak, Allah tak berdaya menggenapkan firman-Nya atas Anda. Anda harus terlebih dulu menyerahkan diri kepada Allah, kemudian senantiasa memberikan uang keluar, agar Allah dapat menyuplai Anda.

JANGAN BERHARAP PADA SESUATU YANG TAK TENTU

SEPERTI KEKAYAAN

Sejak manusia karena jatuh terjadi urusan dengan Allah, meninggalkan posisi yang memungkinkan mendapatkan Allah sebagai segala sesuatu, harta telah menjadi soal peka dalam kehidupan manusia yang telah jatuh. Dalam kejatuhannya, manusia terjerumus ke dalam kegelapan, sehingga hanya mengetahui kekayaan materi dan tidak mengenal Allah, hanya percaya kepada harta dan tidak percaya kepada Allah, bahkan melayani harta benda, memandangnya sebagai Allah, dan menggantikan kedudukan Allah. Musuh Allah, yakni Iblis, memperhebat kejatuhan manusia ini, ia masuk dan menipu manusia untuk menyembah berhala, seperti dewa kekayaan, untuk meminta kekayaan dan untung. Di belakang berhala-berhala itu, dia merampas penyembahan manusia, dan pelayanannya yang seharusnya kepada Allah. Karena alasan itulah Tuhan Yesus memberi tahu kita, bahwa orang "tidak dapat melayani Allah dan Mamon" (Mat. 6:24). Dalam bahasa aslinya, pelayanan yang disebut Tuhan di sini mengacu pada pelayanan seorang budak. Ini menunjukkan Iblis memakai harta kekayaan menggoda manusia untuk menyembahnya, juga dengan kekayaan materi memperbudak manusia, seperti pada orang-orang kafir. Namun, kita telah menerima rahmat Allah dan keselamatan dari Tuhan, yang membebaskan kita dari kuasa Iblis dan memalingkan kita kepada Allah (Kis.26:18). Setelah kita menerima keselamatan dari Allah, kita dihadapkan pada sesuatu dalam kehidupan nyata, yaitu apa yang harus kita perbuat terhadap harta benda yang dulu dipakai Iblis untuk menipu kita dan seluruh dunia. Bagaimana sikap dan minat kita terhadap harta benda? Bagaimana kita mengatasi masalah harta benda? Haruskah sama seperti waktu kita belum beroleh selamat? Atau, haruskah ada perubahan sesuai dengan keselamatan yang telah membebaskan kita dari kuasa Iblis dan memalingkan kita kepada Allah? Dalam Alkitab ada ketetapan yang jelas mengenai hal ini.

1 Tim.6:17 mengatakan, "Jangan berharap pada sesuatu yang tidak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah, yang dalam kekayaan-Nya memberikan kita segala sesuatu untuk dinikmati." Firman ini dengan jelas mengupas tipu daya Iblis, menunjukkan kepada kita, bahwa semua benda materi dan kenikmatan dalam hidup kita seolah-olah berasal dari kekayaan yang tidak tentu, tetapi sebenarnya hal-hal itu berasal dari Allah. Semua itu berasal dari pemberian Allah yang kaya. Jadi, tidak seharusnya kita menggantungkan harapan kita pada harta benda yang tidak tentu, melainkan kepada Allah, yang memberi kita segala sesuatu untuk dinikmati.

Catatan:

Minggu ke-8 – Kamis Doa baca: Mat. 6:19-20

"Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkan bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya."

MEMPERSEMBAHKAN KEPADA TUHAN

APA YANG DIDAPAT DARI TUHAN

3 Yoh. 2 mengatakan, "Saudaraku yang kekasih, aku berdoa, semoga engkau baik-baik dan sehat-sehat saja dalam segala sesuatu." Baik-baik dan sehat-sehat di sini mengacu pada kelimpahan materi, menunjukkan bahwa kenikmatan materi bagi mereka yang beroleh selamat dan menjadi milik Allah, datang dari Allah, semuanya Allah yang mengerjakan supaya kita dalam hal materi berkecukupan. Kita harus giat kerja, Alkitab juga menuntut kita belajar mengerjakan pekerjan yang baik bagi keperluan kita (Tit.3:14,8). Tetapi, tanpa berkat Allah semua jerih payah kita sedikit hasilnya. Sebab itu, dalam perkara menerima suplai harta benda, berbeda dengan orang dunia yang hanya percaya pada kekuatannya sendiri, kita harus belajar menaruh harapan kita kepada Allah.

Alkitab memandang persembahan harta benda sebagai menabur. Allah "yang menyediakan benih bagi penabur." (2 Kor.9:10). Ini menunjukkan harta benda yang dipersembahkan kaum saleh kepada Allah sebenarnya berasal dari Allah dan diberikan oleh Allah, kita hanya mempersembahkan kepada Allah apa yang diberikan-Nya kepada kita.

KUMPULKANLAH BAGI DIRI SENDIRI HARTA DI SORGA

Tuhan berpesan, "Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi,...tetapi kumpulkan bagimu harta yang di sorga." (Mat.6:19-20). Mengumpulkan harta adalah menyimpan yang berlebih dari perolehan seseorang, setelah keperluan hidupnya terpenuhi. Di sini Tuhan berpesan untuk tidak menyimpan kelebihan harta itu di bumi, melainkan menyimpannya di sorga, yakni memakainya demi kepentingan Bapa sorgawi, membantu mereka yang kekurangan, berteman dengan mereka (Luk.16:9), memajukan Injil (Flp.1:5), dan lain-lain. Rasul Paulus juga berpesan kepada kita, "Orang-orang kaya di dunia ini, ... jangan berharap pada sesuatu yang tidak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah, yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati Peringatkanlah agar mereka itu berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi, dan dengan demikian mengumpulkan suatu harta sebagai dasar yang baik bagi dirinya di waktu yang akan datang, untuk mencapai hidup yang sebenarnya." (1 Tim.6:17-19). Orang kaya mengacu pada mereka yang mempunyai kelebihan dari memenuhi keperluan hidup mereka. Berbuat baik dan kaya dalam kebajikan mengacu pada membagikan kelebihan seseorang kepada yang memerlukan, dan memperhatikan keperluan pekerjaan Tuhan. Dalam perbuatan baik dan kebajikan ini kaya, berarti suka memberi dan membagi. Demikian pada hari ini menetapkan, memiliki, dan menikmati hidup yang sebenarnya, yaitu hayat kekal Allah, dan dengan demikian mengumpulkan harta di sorga, sebagai dasar yang baik di waktu yang akan datang.

ALLAH PASTI DENGAN LIMPAH MENYUPLAI ORANG

YANG MEMBERI

Filipi 4:19 merupakan sebuah ayat yang sangat istimewa. Kalau orang-orang Korintus adalah orang-orang yang sayang memberikan uang, maka orang-orang Filipi adalah orang-orang yang senang mengeluarkan uang. Paulus sekali demi sekali menerima kiriman orang-orang Filipi. Paulus berkata kepada orang-orang Filipi, "Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus." Apakah Anda merasakan keistimewaan ayat ini? Ayat itu mengatakan dengan khusus, "Allahku akan memenuhi segala keperluanmu." Allah yang menerima uang, Allah yang menerima kiriman itu, akan memenuhi segala keperluan orang yang memberi.

Perkara ini sangatlah jelas. Kalian selalu mengingat keperluanku, maka Allahku pun akan memenuhi keperluan kalian. Tak mungkin Allah menyuplai orang yang tidak mau menyuplai orang lain. Hari ini banyak orang yang memegang Filipi 4:19, tetapi mereka sama sekali tidak nampak ayat tersebut. Allah bukan memberi kepada orang yang meminta, melainkan kepada orang yang "memberi". Hanya orang yang memberi yang dapat memegang Filipi 4:19; orang yang tidak memberi tak dapat memegang ayat ini. Anda harus memberi, kemudian barulah Anda dapat berkata, "Ya Allah, hari ini Engkau akan menyuplai segala keperluanku menurut kekayaan dalam Kristus." Hanya kepada orang Filipi-lah Allah dapat memberikan segala keperluan mereka. Hanya kepada orang yang berada di atas prinsip memberi, barulah Allah dapat menyuplaikan segala keperluannya.

Catatan:

Minggu ke-8 -- Jumat Doa baca: Kis. 20:35

"Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima."

LEBIH BAHAGIA MEMBERI DARIPADA MENERIMA

Dalam Alkitab terhadap mempersembahkan harta tidak saja ada ada pesan yang jelas, juga ada janji yang jelas. Lukas 6:38 mengatakan, "Berilah, dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu." Ini adalah janji yang diucapkan Tuhan sendiri. Jika kita rela membagi harta benda kita kepada yang memerlukan demi Allah, Ia pasti mencurahkan ke ribaan kita suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar. Ia tidak akan memberikan ke genggaman kita yang begitu sedikit dan terbatas. Janji yang sungguh menguntungkan!

Paulus juga berpesan kepada gereja, harus ingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: "Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima." (Kis.20:35). Manusia yang telah tertipu Iblis, dalam harta benda hanya mau menerima tanpa memberi. Sikap ini adalah siasat Iblis, yang menyebabkan manusia kehilangan berkat Allah. Cara terbaik untuk diberkati Allah dalam hal materi adalah memberi, bukan menerima, sama seperti yang dilakukan Tuhan sendiri kepada kita. Tuhan berjanji, lebih berbahagia memberi daripada menerima. Laksaan kaum beriman sepanjang zaman yang percaya firman Tuhan dan melaksanakannya, menegaskan ketepatan janji ini dari pengalaman mereka.

"Orang yang menabur sedikit akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga" (2 Kor. 9:6). Inilah hukum alam yang Tuhan tetapkan di dunia makhluk yang berhayat. Hukum ini mengandung janji-Nya. Mempersembahkan harta seperti menabur. Menabur akan menghasilkan tuaian. Yang menabur sedikit, menuai sedikit, yang menabur banyak, menuai banyak. Dalam pandangan manusia, mempersembahkan harta adalah mendermakan harta. Namun, dalam pandangan Allah, mempersembahkan harta seperti menabur, yang akan menghasilkan tuaian. Yang mempersembahkan sedikit akan menuai sedikit, dan yang mempersembahkan banyak akan menuai banyak. Kita wajib percaya janji Allah dalam hukum ini.

Cara orang Kristen mengatur keuangan bukanlah menggenggamnya dalam tangan. Semakin Anda menggenggamnya, uang itu akan semakin mati; semakin Anda menggenggamnya, uang itu akan semakin lenyap, ibarat air menguap. Tetapi, semakin Anda memberi, Ia akan semakin banyak. Kalau anak-anak Allah semua mau belajar memberi, niscaya Allah akan menyatakan mujizat-Nya di mana-mana. Bagaimanapun bila anak-anak Allah menggenggam uang dalam tangan mereka, mereka akan menjadi orang miskin. Barangsiapa selalu memegang uang di tangan, tidak mau memberi, ia takkan dipercayai Allah. Semakin Anda memberi, Allah pun semakin memberi kepada Anda.

TUHAN PASTI MEMBUKAKAN TINGKAP-TINGKAP LANGIT

BAGI KITA

"Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman Tuhan semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan." (Mal. 3:10). Persembahan persepuluhan adalah jumlah persembahan yang ditetapkan Allah bagi bangsa Israel atas panen mereka dalam Perjanjian Lama. Firman ini dengan sangat tegas menunjukkan janji Allah yang kaya tak terbatas. Meskipun janji itu ditujukan bagi orang Israel dalam Perjanjian Lama, pada dasarnya juga berlaku bagi kaum beriman Perjanjian Baru. Jika kita mempersembahkan kepada Allah semua yang seharusnya diberikan kepada-Nya, agar gereja tersuplai dengan limpah, Allah akan membukakan tingkap-tingkap langit bagi kita dan mencurahkan berkat bagi kita, sampai tidak tertampung. Inilah janji Tuhan semesta Allah. Kita boleh mempersembahkan kepada Dia menurut janji-Nya untuk menguji-Nya.

Minggu Ke-8 – Sabtu Doa baca: 2 Kor 9:7

"Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita "

KEGUNAAN MEMPERSEMBAHKAN HARTA

Kegunaan mempersembahkan harta sebagai berikut:

1.

Bagi keperluan gereja -- Dalam Perjanjian Lama, Allah ingin setiap umat-Nya, orang Israel, mempersembahkan kepada-Nya uang tebusan bagi nyawanya. Persembahan itu dipakai untuk tempat kediaman Allah, yakni kemah pertemuan dan bait (Kel. 30:11-16). Gereja hari ini adalah kemah Allah yang sejati (tempat kediaman – Ef.2:22) dan bait yang sejati (1 Kor.3:16-17). Kita, kaum saleh Perjanjian Baru, juga wajib mempersembahkan kepada Allah untuk memenuhi berbagai keperluan gereja di tempat kita berada.

2.

Bagi kemajuan Injil -- "Karena persekutuanmu dalam berita Injil dari hari pertama sampai sekarang ini" (Flp.1:5). Kata persekutuan dalam ayat ini mengacu kepada peran serta dan kenikmatan. Dari hari pertama mereka beroleh selamat, sampai saat Paulus menulis surat itu kepada mereka, kaum beriman Filipi terus-menerus menunjang keperluan Paulus dengan harta benda dalam pemberitaan Injilnya bagi kemajuan Injil. Hal ini memberi tahu kita, begitu kita beroleh selamat, kita harus mempersembahkan kepada Allah kelebihan harta benda yang Ia berikan kepada kita, untuk kemajuan Injil-Nya.

3.

Menyuplai hamba-hamba Allah -- "Orang-orang Filipi ... kamu telah satu dua kali mengirimkan bantuan kepadaku (rasul Paulus)" (Flp.4:15-16). Mereka yang melayani Tuhan sepenuh waktu tidak sempat mencari nafkah. Maka, kaum beriman perlu menyuplai mereka dengan harta benda yang mereka persembahkan kepada Tuhan.

4.

Membantu kaum saleh yang kekurangan -- "Bantulah dalam kekurangan orang-orang kudus" (Rm. 12:13). Kita harus membantu kaum saleh yang kekurangan dengan harta benda. Kita juga perlu ingat orang-orang miskin (terlebih pada orang miskin di antara kaum beriman) (Gal. 2:10), menyuplai mereka dengan harta benda yang kita peroleh dari Allah.

TERLEBIH DULU MEMPERSEMBAHKAN DIRI

KEMUDIAN MENURUT APA YANG DIPEROLEH

MEMPERSEMBAHKAN HARTA

Jumlah persembahan harta dalam Perjanjian Baru tidak ada ketetapan yang jelas, melainkan "sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing dan mengirimnya ..." "Hendaklah kamu masing-masing, sesuai dengan apa yang kemu peroleh menyisihkan sesuatu ... " (Kis. 11:29; 1 Kor. 16:2). Kita telah nampak menurut 3 Yohanes ayat 2, Allah memberkati kita supaya kita limpah. Kita harus menetapkan jumlah persembahan kita kepada Allah berdasarkan berkat-Nya kepada kita. Setiap orang harus menetapkan sendiri berdasarkan yang ia miliki, bukan berdasarkan yang tidak ia miliki (2 Kor. 8:12). Dalam persembahan harta, kita menuai sedikit jika menabur sedikit, kita menuai banyak jika menabur banyak. Setiap orang harus menetapkan dalam hatinya berapa banyak persembahannya tanpa merasa kesulitan atau paksaan, karena Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.

Persembahan harta yang paling diperkenan Allah adalah terlebih dulu mempersembahkan diri kepada Tuhan, kemudian kepada rasul-rasul yang memperhatikan kita, dan meminta ada bagian dalam kasih karunia dan persekutuan yang demikian. Sama seperti gereja-gereja di Makedonia, memberikan harta benda mereka kepada kaum saleh yang kekurangan di Yudea, di samping memohon kepada rasul, untuk mengizinkan mereka ada bagian dalam kasih karunia dan persekutuan pemberian ini, di samping itu menurut kehendak Allah, terlebih dulu mempersembahkan diri kepada Tuhan, juga memberikan diri mereka kepada rasul-rasul (2 Kor. 8:4-5).

Catatan:

Minggu ke-9 – Minggu Doa baca: Mat. 6:3-4

“Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”

MEMPERSEMBAHKAN HARTA

HARUS DILAKUKAN SECARA TERSEMBUNYI

Kita mempersembahkan harta kepada Allah, baik untuk kepentingan apa saja, jangan dilakukan di depan orang, sengaja diperlihatkan kepada orang, untuk mendapatkan kemuliaan dari orang, mendapatkan pahala dari orang, kalau demikian tidak bisa mendapatkan pahala dari Bapa yang di sorga. Sebab itu janganlah diketahui tangan kiri kita, apa yang diperbuat tangan kanan kita. Kita harus mempersembahkan secara diam-diam, agar Bapa sorgawi yang melihat apa yang kita lakukan, akan membalas kita, memberi kita pahala seperti yang dijanjikan-Nya, yang telah kita lihat di atas.

MENGIKAT SAHABAT DENGAN MEMPERGUNAKAN

MAMON YANG TIDAK JUJUR

Mempersembahkan harta ada empat macam maka seperti berikut:

1.

Perseku'tuan dengan penerima -- "Mengambil bagian dalam pelayanan kepada orang-orang kudus" (2 Kor 8:4). Menyuplai kaum saleh dengan harta benda adalah persekutuan yang mendatangkan kasih karunia kepada pemberi dan penerima.

2.

Kebenaran terhadap manusia di hadapan Allah - "Ia memberikan kepada orang miskin, kebenaran-Nya tetap untuk selama-lamanya" (2 Kor.9:9). Memberikan harta kepada orang miskin adalah kebenaran terhadap manusia di hadapan Allah. Allah memelihara orang miskin dan ingin umat-Nya juga memperhatikan mereka (Ul.15:7-8), "Siapa yang menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi TUHAN” (Ams.19:17). Inilah hukum yang ditetapkan Allah yang mengatur hubungan antara manusia. Jadi, jika berbuat menurut hukum Allah, kebenaran kita terhadap manusia di hadapan Allah akan kekal. Dalam undang-undang Kerajaan, Tuhan Yesus juga menganggap sedekah kita sebagai kebenaran (Mat. 6:1-4). Jika kita yang hidup dalam Kerajaan Sorga Tuhan tidak berderma dan tidak memberikan harta benda kita untuk kepentingan Allah, kita melanggar hukum tertinggi Kerajaan itu. Memberikan harta pemberian Allah kepada orang miskin bukan hanya kebaikan (Ibr.13:16), juga kebenaran. Kita mungkin saja berbuat tidak baik, tetapi wajib melakukan kebenaran, sebab ini adalah tugas kita. Jika kita tidak melakukannya, kita tidak benar terhadap manusia di hadapan Allah.

3.

Persembahan yang diperkenan Allah -- "Dan janganlah kamu lupa berbuat baik dan memberi bantuan, sebab korban-korban demikianlah yang berkenan kepada Allah." (Ibr.13:16). "Menerima semua yang perlu dari padamu ... suatu persembahan yang harum, suatu korban yang disukai dan yang berkenan kepada Allah" (Flp 4:18). Di sini berbuat baik mengacu pada membagikan harta benda kepada orang lain, yang merupakan persembahan yang diperkenan Allah. Persembahan harta kita kepada hamba-hamba Allah juga merupakan korban yang diperkenan Allah dan menyukakan Allah.

4.

Bau-bauan harum yang diperkenan Allah – "Menerima semua yang perlu dari padamu ... suatu persembahan yang harum, suatu korban yang disukai dan yang berkenan kepada Allah." (Flp. 4:18). Di sini bau-bau yang harum mengacu pada bau harum korban bakaran (Kej. 8:20-21; Im 1:9). Persembahan yang kita berikan kepada hamba-hamba Allah bukan hanya korban bagi Allah, juga bau-bauan harum korban bakaran yang menyukakan Allah.

Keempat macam makna mempersembahkan harta yang diuraikan di atas, seharusnya memperlihatkan kepada kita, pentingnya dan nilainya persembahan harta. Asalnya di pandangan Allah adalah "Mamon yang tidak jujur" (Luk.16:9), kekayaan yang menipu (Mat. 13:22), "kekayaan yang tidak tentu" (1 Tim. 6:17, harta yang "tidak dapat menolong" (Luk.16:9), melewati kita, orang-orang kepunyaan Allah, dipersembahkan kepada Allah, untuk dipakai Allah, telah menjadi "persekutuan" kita dengan kaum saleh, "kebenaran" kita terhadap manusia di hadapan Allah, juga menjadi "korban" yang diperkenan Allah, dan menjadi "bau-bauan harum" yang menyukakan Allah. Harta yang menipu, merusak, dan membinasakan manusia, sebenarnya dapat menjadi berkat yang tak terduga bagi kita di hadapan Allah! Semuanya ini merupakan hasil dari persembahan harta kita.

Catatan:

Penyegaran Pagi

MAKANAN ROHANI

SEHARI-HARI

Buku

1 2 3 4

(Untuk Kalangan Sendiri)

PRAKATA

Buku ini khusus disusun bagi penuntutan rohani kaum imani baru dan bagi terbangunnya penghidupan orang Kristen yang normal, sesuai untuk penuntutan dan latihan kaum saleh. Kiranya setiap orang imani bisa melalui menempuh penghidupan yang menang, menjadi pemenang jaman ini.

Isi buku ini meliputi: kebenaran, hayat, kehidupan, karakter, Injil, pelayanan, gereja dan lainnya. Dikutip dari berbagai judul buku terbitan Perpustakaan Injil.

Buku ini akan diterbitkan dalam beberapa volume, tiap volume terdiri dari 8 minggu.

Kiranya Tuhan memberkati firmanNya, dan juga memberkati setiap orang yang mau menuntut masuk ke dalam firman Tuhan.

Redaksi

Pelajaran

-----------------oooo-----------------

SEGAR TIAP FAJAR

MENYERU NAMA TUHAN

BERDOA

DOA-BACA FIRMAN TUHAN

MEMBACA ALKITAB

BERTOBAT DAN MENGAKU DOSA

HIDUP DALAM ROH

BERSIDANG

-----------------oooo-----------------