BERBUAT DOSA DAN PENGAKUAN DOSA
Minggu ke-6 -- Senin Doa baca: Yoh. 8:11b
"Kata Yesus: Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang."
SETELAH BEROLEH SELAMAT
TIDAK SEHARUSNYA BERDOSA LAGI
Setelah kita beroleh selamat tidak seharusnya kita berbuat dosa lagi. Injil Yohanes pasal 5 mencatat kisah Tuhan Yesus menyembuhkan seorang yang sakit selama 38 tahun di pinggir kolam Betesda. Ketika Tuhan bertemu lagi dengan dia dalam bait Allah, Tuhan berkata kepadanya, "Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk." (14) Injil Yohanes pasal 8 mencatat kisah Tuhan Yesus mengampuni seorang perempuan yang berzinah. Saat itu juga Tuhan berkata kepadanya, "Jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang." (11) Sebab itu, setelah kita beroleh selamat, Tuhan segera memberi satu perintah kepada kita: "Jangan berbuat dosa lagi!" Sebagai orang yang telah diselamatkan, kita sekali-kali tidak boleh tetap hidup di dalam dosa.
MASALAH BERBUAT DOSA SETELAH BEROLEH SELAMAT
Orang Kristen tidak seharusnya berbuat dosa, dan sama sekali tidak boleh tetap hidup di dalam dosa. Lalu, bisakah orang Kristen berbuat dosa? Bisa! Tetapi orang Kristen bisa tidak berbuat dosa, sebab di dalam orang Kristen ada kehidupan (hayat) Allah. Kehidupan ini tidak bisa berbuat dosa, dan juga tidak bisa mentolelir hal dosa sedikitpun. Kehidupan ini kudus, sebagaimana Allah adalah kudus. Kehidupan ini dalam batin kita memberi kita perasaan yang luar biasa pekanya terhadap dosa. Bila kita hidup menuruti perasaan kehidupan ini, atau bila kita hidup dalam kehidupan ini, niscaya kita bisa tidak berbuat dosa.
Tetapi orang Kristen berkemungkinan berbuat dosa, sebab kita masih berada di dalam daging. Bila kita tidak hidup menurut Roh Kudus, tidak hidup di dalam kehidupan (hayat), di mana dan kapan saja ada kemungkinan bagi kita untuk berbuat dosa. Galatia 6:1 mengatakan, "Saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan (kebetulan) melakukan suatu pelanggaran . . . " Satu Yohanes 2:1 mengatakan, "Anak-anakku, . . . jika seorang berbuat dosa . . ." Ini membuktikan, bahwa orang Kristen tetap ada kemungkinan berbuat dosa. Satu Yohanes 1:8-10 mengatakan, "Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri . . ." Ayat 10 meneruskan, "Jika kita berkata, bahwa kita tidak ada berbuat dosa, maka kita membuat Dia menjadi pendusta . . ." Karena itu, dalam pengalaman orang Kristen masih ada kemungkinan, karena malang, berbuat dosa.
Setelah seorang beroleh selamat, namun ia malang berbuat dosa lagi, apakah ia akan binasa? Tidak! Tuhan pernah berjanji, “Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tanganKu" (Yohanes 10:28). Dengan kata lain, begitu seseorang beroleh selamat, ia akan selamat sampai selama-lamanya. Ini merupakan satu perkara yang mutlak teguh dan dapat diandalkan. Dalam 1 Korintus 5:5 dikatakan, ada seorang saudara telah melakukan dosa, yakni berzinah, kata Paulus, "Orang itu harus kita serahkan . . . kepada Iblis, sehingga binasa tubuhnya, agar rohnya diselamatkan pada hari Tuhan." Di sini dikatakan, bila seseorang yang telah beroleh selamat berbuat dosa lagi, tubuhnya memang akan binasa, tetapi rohnya tetap beroleh selamat.
Jika demikian, apakah tidak mengapa setelah beroleh selamat berbuat dosa lagi? Tidak! Jika setelah beroleh selamat berbuat dosa lagi, ada dua akibat yang mengerikan:
Pertama, ia akan menderita susah pada zaman sekarang. Bila setelah beroleh selamat berbuat dosa lagi, pasti akan mengecap akibat dosa. Seperti yang dikatakan dalam 1 Korintus pasal 5, orang itu harus diserahkan kepada Iblis, sehingga tubuhnya binasa; ini merupakan suatu penderitaan yang sangat besar. Misalkan Anda melakukan suatu dosa, bila Anda bertobat dan mengaku dosa, walaupun Allah sudi mengampuni Anda, darah Tuhan pun dapat menyucikan Anda, tetapi akibat dosa itu tidak mungkin Anda hindari. Daud mengawini istri Uria. Sekalipun Allah telah menghapus dosanya, tetapi akibatnya, pedang tidak akan menyingkir dari ketuninannya sampai selama-lamanya (2 Samuel 12:9-13). Oh, saudara saudari, dosa bagaikan ular yang berbisa, jangan sekali-kali kita meremehkannya.Bila kita sekali terpagut olehnya, niscaya kita akan menderita.
Kedua, ia akan menerima ganjaran di zaman yang akan datang. Bila orang Kristen berbuat dosa lagi dan tidak menanggulanginya pada zaman ini, pada zaman kelak tetap harus menanggulanginya. Ketika Tuhan datang untuk kedua kalinya, “Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya" (Matius 16:27). Paulus berkata, "Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat" (2 Korintus 5:10).
Catatan:
Minggu ke-6 -- Selasa Doa baca: 1 Ptr 2:24
"Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh."
BERDOSA MENYEBABKAN
PERSEKUTUAN KITA DENGAN ALLAH TERPUTUS
Kecuali kedua akibat yang mengerikan itu, masih ada satu akibat lagi yang terjadi segera pada saat itu juga, yaitu persekutuannya dengan Allah terputus. Orang Kristen dapat bersekutu dengan Allah, ini adalah hak yang paling mulia dan juga merupakan kebahagiaan yang terbesar. Namun, bila ia berbuat dosa, segera persekutuannya dengan Allah terputus. Roh Kudus di dalamnya akan berduka karenanya, kehidupan di dalamnya akan merasa tidak nyaman, sukacitanya akan lenyap, dan persekutuannya dengan Allah akan putus. Tadinya, kalau ia bertemu dengan anak-anak Allah, ia merasa sangat akrab, sekarang tidak akrab lagi, bagaikan tersekat sesuatu. Tadinya membaca Alkitab dan berdoa sangat nyaman, sekarang menjadi hambar, tidak bisa menjamah Allah. Dulu, ikut bersidang merasa mustika dan merasa rugi besar kalau absen sekali saja, tetapi kini bersidang pun terasa tawar, seolah tidak bersidang pun tidak mengapa. Bahkan kalau bertemu dengan anak-anak Allah lainnya, terasa ingin menghindar atau menjauhkan diri. Keadaan yang semula sama sekali sudah berubah.
Karena itu, jika setelah beroleh selamat berbuat dosa lagi, itu adalah perkara yang sangat serius! Maka jangan sekali-kali kita mengumbar tingkah-laku kita, dan jangan sekali-kali membiarkan dosa berkedudukan di atas diri kita.
Tetapi apa yang harus diperbuat, "Jika ada orang yang berbuat dosa”? Jika seorang Kristen karena malang atau tidak hati-hati, sehingga "kedapatan melakukan suatu pelanggaran", yakni berbuat dosa, apa yang harus ia lakukan? Bagaimanakah agar ia dapat kembali ke hadirat Allah? Bagaimanakah agar ia dapat memulihkan persekutuannya dengan Allah? Ini adalah suatu perkara yang sangat penting, yang harus kita bahas dengan baik.
TUHAN TELAH MENANGGUNG SEGALA DOSA
Pertama, kita harus tahu, bahwa ketika Tuhan Yesus terpaku di atas salib, Ia telah menanggung segala dosa kita. Apa yang telah ditanggung Tuhan di atas salib meliputi segala dosa. Dosa-dosa yang telah kita lakukan seumur hidup kita, baik yang telah lampau, yang sekarang maupun yang akan datang, semuanya telah ditanggung Tuhan di atas salib.
Tetapi, pada hari kita percaya Tuhan, ketika Allah menerangi kita, segala dosa yang terasa oleh kita itu adalah dosa-dosa yang kita perbuat sebelum percaya Tuhan. Kita hanya dapat merasakan dosa-dosa yang telah diterangi Allah, tidak mungkin merasakan dosa-dosa yang tak pernah kita lakukan. Karena itu, penanggungan dosa Tuhan berbeda dengan perasaan dosa kita. Tuhan Yesus di atas salib telah menanggung segala dosa kita, sedang kita hanya nampak dosa-dosa yang dulu telah kita lakukan.
Tak peduli Anda beroleh selamat pada umur 16 tahun, atau 32 tahun, Anda pasti merasa, bahwa dosa-dosa Anda sebelum Anda diselamatkan, telah diampuni oleh Tuhan. Tetapi, tatkala Anda beroleh pengampunan, dosa-dosa yang Anda rasa telah diampuni itu tidak sebanyak dosa yang sebenarnya ditanggung oleh Tuhan. Anda hanya mengenal kasih karunia atas dasar pengalaman melakukan dosa yang individu. Namun Tuhan menanggung dosa kita berdasarkan dosa yang dikenal-Nya, yang kita lakukan itu. Kita harus mengetahui, bahwa dosa-dosa yang tidak terasa oleh kita pun tercakup dalam penebusan Tuhan Yesus.
Penjahat yang di atas salib baru percaya Tuhan menjelang ajalnya, Tuhan pun menanggung segala dosanya (Lukas 23:40-43). Dengan kata lain, Tuhan di atas salib menanggung dosa-dosa yang kita lakukan seumur hidup kita. Walaupun ketika kita beroleh selamat, dalam pengalaman kita hanya merasa beroleh pengampunan atas dosa-dosa yang telah kita perbuat di masa lampau, tetapi dalam faktanya, Tuhan telah mananggung segala dosa kita; dosa-dosa yang kita perbuat setelah kita diselamatkan juga tercakup di dalamnya. Kita harus memahami fakta ini, barulah kita dapat memahami jalan pemulihan persekutuan.
Minggu ke-6 – Rabu Doa baca: 1 Yoh. 1:9
“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan."
HARUS MENGAKU DOSA
Satu Yohanes 1:9 memberitahu kita, "Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan." Kata "kita" di sini ditujukan kepada "kaum imani", bukan orang dosa. Jika seorang imani berbuat dosa, ia harus mengaku dosa, baru dapat menerima pengampunan dosa. Setelah orang imani berbuat dosa, bukan dosa itu diabaikannya begitu saja, pun bukan disembunyikan. Amsal 28:13 mengatakan, "Siapa menyembunyikan pelanggarannya tidak akan beruntung, tetapi siapa mengakuinya dan meninggalkannya akan disayangi." Bila orang imani berbuat dosa, harus mengakuinya, jangan dosa itu diberi satu sebutan yang indah untuk memaafkan diri sendiri. Misalkan Anda berdusta. Dusta itu dosa, Anda harus mengaku, bahwa Anda sudah berbuat dosa, jangan Anda berkata, "Aku hanya kelebihan bicara (atau kekurangan) sedikit," Anda harus berkata, "Aku sudah berbuat dosa." Anda tidak boleh menjelaskan atau menutupinya dengan perkataan lain. Anda harus mengakuinya di hadapan Allah, bahwa Anda sudah melakukan dosa berdusta; Anda harus menghakimi dusta sebagai dosa.
MENGAKU DOSA BERARTI MEMIHAK KEPADA ALLAH
MENGHAKIMI DOSA SEBAGAI DOSA
Mengaku dosa berarti memihak kepada Allah, menghakimi dosa sebagai dosa. Dalam hal ini terdapat tiga aspek: Allah, aku dan dosa. Allah dan dosa ada di kedua ujung, aku ada di tengah-tengah. Apa artinya berbuat dosa? Berbuat dosa berarti aku memihak kepada dosa dan meninggalkan Allah. Begitu aku berbuat dosa, aku segera meninggalkan Allah. Kapan aku memihak kepada dosa, aku tak mungkin memihak kepada Allah. Begitu Adam berbuat dosa, ia segera menyembunyikan diri dari Allah, tidak berani memandang muka Allah (Kejadian 3:8). Kolose 1:21 juga mengatakan, "Kamu yang dahulu hidup jauh dari Allah dan yang memusuhiNya dalam hati dan pikiran seperti yang nyata dari perbuatanmu yang jahat . . ." Berbuat dosa akan menyebabkan Anda terpisah jauh dari Allah. Apa artinya mengaku dosa? Mengaku dosa berarti kembali ke pihak Allah dan mengaku, bahwa apa yang telah Anda lakukan ialah dosa; sekarang aku kembali ke pihak Allah, aku tidak memihak kepada dosa, aku berdiri di seberang dosa, aku menghakiminya sebagai dosa, itulah artinya mengaku dosa. Sebab itu, Anda harus berjalan dalam terang, memiliki perasaan yang peka terhadap dosa, membenci dosa dengan perasaan yang dalam, barulah Anda bisa mengaku dosa dengan sesungguhnya. Orang-orang yang tanpa perasaan terhadap dosa, yang menganggap pengakuan dosa sebagai hal yang biasa, maka pengakuan mereka hanya di atas bibir saja, bukan di dalam hati, itu sama sekali tidak terhitung sebagai pengakuan dosa.
Bila seorang imani berbuat dosa, dalam batinnya pasti ada perasaan, dan ia segera merasa tidak damai, hatinya seolah-olah tertusuk duri. Ketidakdamaian itu adalah pekerjaan Roh Kudus. Pada saat itulah ia seharusnya menaati pekerjaan Roh Kudus, yaitu mengakui dosa itu sebagai dosa.
Kaum imani adalah anak-anak terang (Efesus 5:8) dan anak-anak Allah (1 Yohanes 3:1); sekarang mereka bukan lagi pendatang, melainkan kawan sewarga Allah. Maka wajib memiliki corak hidup keluarga Allah. Jika Anda sebagai anak Allah Bapa, Anda harus mengenal dosa, dan terhadap dosa harus bersikap seperti Allah Bapa. Bagaimana penilaian Bapa terhadap dosa, penilaian Anda pun harus seperti penilaian Bapa. Mengaku dosa ialah sikap yang harus dimiliki setiap anak-anak Allah terhadap dosa di dalam keluarga Bapanya. Bagaimana Bapa menghakimi dosa sebagai dosa, demikian pula sikap anak Allah terhadap dosa. Bila seorang anak Allah berbuat dosa, ia harus menghakimi dosa sebagai dosa, sama dengan sikap Bapa kita itu.
Catatan:
Minggu ke-6 -- Kamis Doa baca: Rm 2:4b; 11:22
"Tidakkah engkau tahu, bahwa maksud kemurahan Allah ialah menuntun engkau kepada pertobatan?"
"Sebab itu perhatikanlah kemurahan Allah dan juga kekerasan-Nya, yaitu kekerasan atas orang-orang yang telah jatuh, tetapi atas kamu kemurahan-Nya, yaitu jika kamu tetap dalam kemurahan-Nya...:"
Allah Bisa Mengampuni Segala Dosa Manusia
Begitu seorang dosa percaya darah Tuhan Yesus di salib adalah untuk pengampunan dosanya, saat itu juga dia mendapatkan pengampunan. Satu orang yang sudah percaya, jika dia tidak hati-hati dan melakukan suatu dosa, asal dia mau dengan tulus hati bertobat, mengakuinya di hadapan Allah, dia juga pasti mendapatkan pengampunan dosa (1 Yohanes 1:8). Harga darah yang Tuhan Yesus alirkan sangatlah besar, bisa mengampuni segala dosa manusia, mencuci bersih segala ketidakbenaran manusia. Karena itu tidak peduli dosa itu dosa orang yang belum percaya atau orang yang sudah percaya, Tuhan sanggup membereskannya.
Allah Selamanya Mengampuni Dosa Manusia
Pernah sekali Tuhan Yesus berkata kepada Petrus, bahwa ia harus mengampuni orang tujuh puluh kali tujuh kali. Artinya, ia harus selalu mengampuni orang, selamanya mengampuni orang; asal seseorang mau berpaling, bertobat, tidak ada dosa yang tidak bisa diampuni. Kalau Tuhan bisa mengajarkan perkataan yang penuh kasih karunia ini kepada Petrus, apakah diri Tuhan sendiri tidak bisa melaksanakannya? Tentu tidak. Tuhan pasti mengampuni dosa orang yang mau bertobat dan bersedih atas dosanya, bahkan selamanya mengampuni dosanya.
Allah Mengampuni Dosa Manusia Adalah Tanpa Bekas
Banyak orang mengira, bahwa orang yang berbuat dosa itu seperti orang yang salah menulis; dan mengampuni dosa seperti menutupi tulisan yang salah itu, sehingga di sana masih tertinggal suatu bekas atau suatu jejak. Ketahuilah, pengampunan dosa bukanlah demikian. Darah Tuhan Yesus mencuci bersih dosa manusia. Apakah artinya mencuci bersih? Mencuci bersih berarti mencuci sedemikian rupa, sehingga sedikitpun tidak ada noda lagi, seperti sediakala, yaitu seperti sebelum berbuat dosa, seperti Kristus yang kudus. Yesaya 1:18 mengatakan, "Firman Tuhan – sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan meryadi putih seperti bulu domba." Lihatlah salju dan bulu domba yang putih, padanya tidak ada noda merah sedikitpun. Semua dosa manusia yang dibasuh oleh Allah, pasti tidak meninggalkan bekas atau noda apapun.
Allah Tidak Bisa Tidak Mengampuni Dosa Manusia
Allah mengutus Tuhan Yesus datang ke bumi, bagi dosa manusia mengalirkan darah di kayu salib, untuk membereskan dosa manusia. Ini mutlak dikarenakan hati Allah yang penuh kasih. Tuhan Yesus telah mengalirkan darah adiNya, Allah sendiri bersaksi bagiNya: orang yang percaya, dosanya diampuni; orang yang mengaku dosa, dosanya dibasuh bersih. Asal percaya (jika Anda adalah seorang dosa), asal mengaku (jika Anda seorang imani), Allah tidak bisa tidak mengampuni dosa Anda. Kalau tidak, Allah tidak bisa dipercaya, Allah bukanlah Allah yang adil. Tetapi dengan sangat khidmat kami akan berkata, "Bagaimana mungkin Allah yang Mahakudus tidak bisa dipercaya dan tidak adil?" Karena itu, bagaimanapun pengampunan dosa ini sudah merupakan satu perkara yang ada jaminannya. Kita harus bersukacita karena Allah, dosa tidak lagi bisa menjadi tuan di atas diri kita, kita bisa terlepas dari dosa, bisa mendapat pengampunan dosa.
Kasih Karunia Pengampunan Allah Akan Membimbing Orang Bertobat
Setiap kebenaran Allah beraspek dua. Yang kita katakan di atas, khusus menekankan pada aspek kasih karunia, hal ini sangat asal seseorang terpelihara di dalam kasih karunia Allah, ia boleh dengan penuh kelegaan tidak lagi kuatir terhadap persoalan "pengampunan dosa." Tetapi jika orang menganggap karunia Allah itu boleh dengan seenaknya diboroskan, boleh "tetap hidup dalam dosa, agar kasih karunia Allah lebih ternyata," orang yang demikian harus memperhatikan kalimat selanjutnya, karena kalimat ini sangat serius. Allah berkata, "Sebab itu perhatikanlah kemurahan Allah dan juga kekerasan-Nya, yaitu kekerasan atas orang-orang yang telah jatuh, tetapi atas kamu kemurahan-Nya, yaitu jika kamu tetap dalam kemurahan-Nya; . . . " (Roma 11:22).
Ada orang berkata, "Aku setiap hari berbuat dosa dengan bersembunyi di bawah darah adi Tuhan." Ada juga yang berkata, "Pada pagi hari aku berbuat dosa, pada malam hari aku datang ke hadapan Allah untuk mengaku dosa. Begitu aku mengaku dosa, dosaku diampuni. Esok harinya kembali berbuat dosa, malamnya kembali mengaku dosa, kembali mendapatkan pengampunan dosa." Hai orang yang bodoh! Ketahuilah, kasih karunia Allah adalah untuk membimbing Anda bertobat, bukan untuk mendorong Anda berbuat dosa. Jika Anda bermotivasi bahwa darah adi bisa Anda boroskan dengan sembarangan sesuai dengan kemauan Anda, darah adi selamanya tidak mungkin membasuh dosa yang Anda "akui secara demikian."
Catatan:
Minggu ke-6 - Jumat Doa baca: Mzm. 51:19
"Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah."
Syarat Orang Kristen Mendapat Pengampunan Dosa
Satu Yohanes 1:7: "Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa." Ayat Alkitab ini menampakkan kepada kita satu syarat dan dua hasil. Jika telah ada satu syarat ini, pasti akan mendapatkan dua hasil. Syarat apakah yang tercantum di sini? Yaitu “jika kita hidup dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang." Artinya, kita -- orang Kristus -- kalau berjalan di dalam terang, memiliki perbuatan terang, yaitu hidup dalam terang Allah, pasti mendapatkan dua hasil yang di bawah ini: Pertama adalah "Kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain," inilah persekutuan di antara saudara saudari di dalam Tuhan. Hasil yang kedua, yaitu "Darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita daripada segala dosa." Artinya telah memiliki syarat "hidup di dalam terang", maka pembasuhan dosa kita oleh darah adi akan berkhasiat.
Hasil yang pertama - persekutuan - merupakan hal yang kelihatan, bisa dialami di bumi, dan terlihat di hadapan manusia. Hasil yang kedua --pencucian darah adi-- merupakan hal yang tidak kelihatan, adalah satu fakta di sorga, dan di hadapan Allah. Sebagaimana yang kelihatan di bumi adalah satu fakta, yang tidak kelihatan (yang di sorga) juga adalah satu fakta. Karena itu, jika Anda sebagai seorang imani yang berdosa, yang di bumi ini tidak bisa dengan wajar bersekutu dengan saudara saudari lainnya, begitu melihat saudara saudari dalam Tuhan segera menyembunyikan diri, tidak ingin menemui mereka; dengan sangat serius saya berkata kepada Anda, "Anda adalah orang dosa yang hidup di dalam kegelapan. Begitu Anda kehilangan persekutuan dengan kaum saleh lainnya, maka khasiat penyucian darah adi Tuhan, di hadapan Allah di sorga, tidak akan menimpa diri Anda." Ini bukan berarti bahwa darah adi telah kehilangan kekuatan pembasuhannya, melainkan karena keadaan Anda --tidak hidup di dalam terang,-- tidak memenuhi syarat pembasuhan dosa oleh darah adi. Syarat pembasuhan dosa adalah "hidup di dalam terang," Karena itu, hanya ada pengakuan di mulut, tetapi tidak ada tindakan "hidup di dalam terang," dengan satu hati yang bersedih dan bertobat (Mazmur 51:19), dosa ini pasti tidak mendapatkan pembasuhan.
Seorang imani yang berbuat dosa dan ingin mendapatkan pengampunan dosa, sedikitnya ia memerlukan tiga syarat di bawah ini: (1) Hati -- Hati yang duka dan bertobat (Mazmur 51:19; dikatakan hati yang patah dan remuk). (2) Mulut -- Mulut yang mengaku dosa (1 Yohanes 1:9). (3) Perbuatan - Hidup di dalam terang (1 Yohanes 1:7). Karena itu, jika ada orang yang merasa bahwa dirinya bisa bersembunyi di bawah darah adi Tuhan dan setiap hari berbuat dosa, atau dengan kata lain pada pagi hari berbuat dosa, malamnya mengaku dosa, lalu bisa mendapatkan pengampunan dosa, saya dengan serius dan tegas berkata kepada mereka, "Tidak ada perkara demikian." Allah tidak bisa dipermainkan. Begitu Anda hidup di dalam kegelapan, saat itu juga darah adi tidak bisa membasuh bersih Anda. Dalam keadaan yang begitu, darah adi tidak bisa menjadi kota perlindungan Anda, tidak bisa menjadi benteng perlindungan Anda. Jika Anda ingin mendapatkan pembasuhan darah adi, terlebih dahulu Anda harus hidup di dalam terang, tidak lagi sembarangan berbuat dosa.
ORANG YANG SUNGGUH-SUNGGUH MENGAKU DOSA
PASTI MENGHASILKAN SUATU PENYESALAN
Pengakuan dosa yang sejati, pasti bersandarkan maksud Allah sehingga bersedih, dan kesedihan ini akan menimbulkan suatu penyesalan/pertobatan yang tadinya tidak ada. Penyesalan ini memiliki tujuh pernyataan: (1) Kesungguhan yang besar, (2) Pembelaan diri, (3) Kejengkelan (membenci diri), (4) Ketakutan, (5) Kerinduan, (6) Kegiatan (kegairahan), (7) Penghukuman (2 Korintus 7:11). Orang yang memiliki tujuh keadaan di atas, adalah orang yang benar-benar mengaku dosa. Kalau tidak, pengakuannya hanyalah merupakan pengakuan di mulut, bukan pengakuan dosa di hati; hanya ada pengakuan dosa di mulut, tetapi hatinya tidak membenci dosa itu. Sekali lagi saya katakan, "Darah adi tidak akan berkhasiat terhadap orang semacam ini."
Ada orang berbuat dosa, namun tetap membiarkan dosa itu membelenggu dia, karena dia merasa tahu cara untuk mendapatkan pengampunan dosa; atau dengan kata lain, dia tahu jalan untuk mendapatkan pengampunan dosa. Dia tahu apa yang dikatakan dalam 1 Yohanes 1:9, Dia mengira Tuhan Yesus telah mengalirkan darah adi baginya, dan darah adi ini bisa menyuci bersih dosanya. Bersamaan dengan itu Allah pun adalah Allah yang setia dan adil, jika orang mau mengaku dosanya, maka Allah pasti mengampuni semua dosanya, juga menyucikan semua kejahatannya. Lalu, karena dia merasa sudah memiliki jaminan perlindungan ini, maka dia boleh sedikit kendor, boleh sembarangan; dia merasa ada cara untuk mendapatkan pengampunan. Demikianlah dia lalu berbuat dosa.
Ini berarti telah terkena tipu muslihat Iblis. Orang yang demikian, dalam perjalanan rohani, merupakan batu sandungan, sangat berbahaya. Karena itu kalau hari ini ada orang yang hanya mengenal cara mendapatkan pengampunan dosa dalam 1 Yohanes 1:9 -- Mengaku dosa, -- namun tidak mengetahui syarat yang juga tercantum dalam pasal yang sama, ayat 7, "hidup di dalam terang," semoga saat ini juga Anda takut dan gentar, tidak berbuat dosa lagi sehingga berdosa kepada Allah. Ijinkan saya berkata lagi, bahwa kasih karunia Allah adalah untuk memimpin Anda bertobat, bukannya mendorong Anda berbuat dosa.
Catatan:
Minggu ke-6 -- Sabtu Doa baca: 1 Yoh 2:1
"Anak-anakku, hal-hal ini kutuliskan kepada kamu, supaya kamu jangan berbuat dosa, namun jika seorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa, yaitu Yesus Kristus, yang adil."
Jika kita mengaku dosa kita, maka "Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan." Bila kita telah berbuat dosa, kita mengetahui dosa kita sendiri, kita pun mengakui bahwa kita mempunyai dosa ini, maka Allah akan mengampuni dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan kita. Sebab "Allah adalah setia", Ia tidak dapat tidak setia, tidak dapat tidak menggenapkan firman dan janji-Nya; dan lagi "Ia adalah adil", maka Ia tidak dapat tidak memenuhi dan menghitung pekerjaan dan penebusan PutraNya di atas salib. Ia telah berjanji, tidak dapat tidak mengampuni. Ia adalah setia dan adil, maka Ia tidak dapat tidak mengampuni dosa kita, tidak dapat tidak menyucikan kita dari segala kejahatan kita.
Kita wajib memperhatikan dua ungkapan "segala" dalam l Yohanes pasal 1. "Segala dosa" dan "segala kejahatan" kita telah diampuni dan telah disucikan. Itu pekerjaan Tuhan. Jika Tuhan berkata "segala", pastilah "segala"; jangan sekali-kali mengubah kata-kata tersebut. Tuhan berkata: segala dosa, pasti segala dosa. Maka kita tidak hanya percaya, bahwa segala dosa yang kita lakukan sebelum percaya Tuhan, ataupun dosa-dosa yang kita lakukan di masa lampau, telah diampuni, bahkan segala dosa kita telah diampuni oleh-Nya.
ADA SEORANG PENGANTARA PADA BAPA
1 Yohanes 2:1 mengatakan, "Anak-anakku, hal-hal ini kutuliskan kepada kamu, supaya kamu jangan berbuat dosa . . ." Yang dimaksud "hal-hal ini" ditujukan pada dosa kita yang telah beroleh pengampunan dan penyucian oleh janji dan pekerjaan Allah. Hal-hal ini ditulis Yohanes kepada kita, supaya kita jangan berbuat dosa, supaya kita karena melihat Tuhan telah mengampuni dosa kita yang sebanyak itu, maka kita tidak berbuat dosa lagi. Bukan karena kita telah beroleh pengampunan maka kita memberanikan diri untuk berbuat dosa lagi, melainkan tidak berbuat dosa lagi.
Kalimat berikutnya mengatakan, "Namun jika seorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa, yaitu Yesus Kristus, yang adil." Pada Bapa, inilah perkara dalam keluarga, inilah perkara yang terjadi setelah kita diselamatkan. Kita telah beroleh selamat, kita adalah salah satu di antara sekian banyak anak-anak Allah. Pada Bapa, kita mempunyai satu pengantara, yaitu Yesus Kristus, yang adil. "Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita." Karena Tuhan Yesus mati, dan karena Tuhan Yesus menjadi pendamaian kita, Ia patut menjadi Pengantara kita kepada Bapa. Kata-kata ini ditujukan kepada orang Kristen.
Pendamaian yang dikatakan di sini sepadan dengan abu lembu betina merah yang dikatakan dalam kitab Bilangan 19. Bilangan 19 melambangkan, bahwa Ia dapat mengampuni dosa-dosa kita yang akan datang berdasarkan karya yang telah dirampungkan-Nya di salib. Tidak perlu salib yang baru, cukup dengan pekerjaan di salib yang sekali itu. Melalui pekerjaan penebusan kekal dari salib itu, maka dosa-dosa kita dapat diampuni. Korban itu bukan korban yang biasa, melainkan korban yang berlaku seterusnya. Berhubung itu abu, maka ia dapat dimanfaatkan terus-menerus. Tuhan Yesus menjadi Pengantara kita justru berdasarkan darah-Nya Tuhan Yesus di salib telah merampungkan pekerjaan penebusan; kita hari ini bersandar pada karya yang telah dirampungkan-Nya, laksana memercikkan air abu itu di atas tubuh kita, sehingga kita dapat ditahirkan.
Catatan:
Minggu ke-7 – Minggu Doa baca:1 Yoh. 1:7; Ams. 28:13
"Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita daripada segala dosa."
"Siapa menyembunyikan pelanggarannya tidak akan beruntung, tetapi siapa mengakuinya dan meninggalkannya akan disayangi."
SETELAH BERBUAT DOSA HARUS SEGERA MENGAKU DOSA
Jika Anda malang berbuat dosa, jangan sekali-kali putus asa, dan jangan berbaring terus di dalam dosa. Bila Anda berbuat dosa, yang pertama harus Anda lakukan di hadapan Allah, ialah mengaku dosa Anda sendiri. Kalau Allah mengatakan itu dosa, Anda pun harus mengatakan itu dosa; kalau Allah mengatakan itu tidak seharusnya, Anda pun harus mengatakan itu tidak seharusnya. Begitu Anda mohon kepada Allah untuk mengampuni dosa Anda, Anda akan nampak, Allah dapat mengampuni dosa Anda, dan dengan demikian persekutuan Anda dengan Allah akan terpulihkan.
Setiap saudara saudari seharusnya tidak berbuat dosa di hadapan Allah. Tetapi andaikata seorang karena malang berbuat dosa, ia harus bangkit segera ke hadirat Allah menanggulangi dosanya, dan segera membereskan masalah dosa yang dilakukan pada kali itu. Jangan sekali-kali menunda-nunda, lebih cepat lebih baik, harus segera mengaku dosa kepada Allah. "Ya Allah, aku sudah berdosa!" Mengaku dosa adalah penghakiman terhadap diri sendiri. Jika kita mengaku dosa kita, Allah adalah setia dan adil, Ia akan mengampuni dosa kita, dan menyucikan kita dan segala kejahatan.
MELALUI MENGAKU DOSA
MEMULIHKAN PERSEKUTUAN DENGAN ALLAH
Jika seorang anak Allah setelah berbuat dosa tidak mau mengaku, dan jika ia terus berada di dalam dosanya, maka ia akan kehilangan persekutuan di hadapan Allah; komunikasinya dengan Allah akan terputus. Hati nuraninya akan bocor, dan ia tidak dapat berdiri tegak di hadapan Allah. Mungkin ia masih bisa bersekutu dengan Allah, tapi
ia akan merasa persekutuannya tidak lancar dan mesra; ia akan menderita sengsara. Ibarat seorang bocah melakukan hal yang tidak baik di luar, setelah pulang ke rumah, asalkan ayahnya tidak mau bicara dengannya, ia akan merasa tidak enak di dalam rumah, sebab ia tidak dapat bersekutu mesra dengan ayahnya, ia menyadari bahwa dalam batinnya ada sekatan. Itulah penderitaan akibat kehilangan persekutuan.
Jalan pemulihannya hanya satu, yaitu datang ke hadirat Allah dan mengaku dosa-dosa kita, serta percaya, bahwa Tuhan Yesus Kristus telah menjadi Pengantara kita yang telah menanggung segala dosa kita. Kita harus di hadapan Allah mengakui segala kegagalan dan ketidakbaikan kita dengan rendah hati, mengharap kepada Tuhan supaya lain kali dapat menempuh jalan tanpa bersikap congkak, tanpa ceroboh, dan belajar mengenal bahwa diri sendiri tidak lebih baik daripada orang lain. Di mana saja, kita berkemungkinan jatuh, maka harus mohon Allah membelaskasihani kita, agar kita dapat maju ke depan selangkah demi selangkah. Kapankala kita mengaku dosa, niscaya persekutuan kita di hadapan Allah segera terpulih, sukacita dan damai sejahtera yang dulu hilang akan kita peroleh kembali.
Terakhir, kita tetap harus mengatakan, bahwa orang Kristen tidak seharusnya berbuat dosa. Berbuat dosa adalah satu hal yang menyusahkan dan merugikan kita.
Semoga Allah membelaskasihani dan memelihara kita, agar kita berada dalam persekutuan dengan Allah tanpa berkeputusan dan dapat maju terus ke depan!
Catatan: