← Daftar isi Makna Baptisan (1) · bab 3/8

MEMBERESKAN PENGHIDUPAN YANG LAMA

Minggu ke-3 -- Senin Doa baca: 2 Kor 5:17

"Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang."

PERLUNYA PEMBERESAN

Seorang yang beroleh selamat sudah menjadi orang yang lain, sudah menjadi manusia yang baru, dengan sendirinya harus mempunyai satu permulaan yang baru. Sebab itu penghidupan yang lampau, perilakunya yang lampau, harus ada satu pemberesan.

Dalam Perjanjian Lama, begitu orang Israel beroleh setamat, sudah berhari raya Paskah, mereka segera meninggalkan Mesir, membuang segala penghidupan Mesir, menyelesaikan perkara Mesir, mengadakan penyelesaian yang total. Sejak hari itu, penghidupan mereka baru, jalan mereka baru, perkara yang mereka lakukan juga baru. Perkara masa lalu, penghidupan masa lalu, semuanya sudah selesai. Ini adalah satu lambangan yang sangat jelas.

Hari ini kita yang telah percaya Tuhan, perlu dibaptis. Baptisan ini juga memperlihatkan kepada kita, bahwa kita perlu ada pemberesan. Kita mengetahui, baptisan adalah penguburan. Seorang yang telah dikubur, kalau masih menempuh penghidupan yang lama, masih melakukan perkara yang lampau, sungguh tidak pada tempatnya. Sebab itu setelah Anda dibaptiskan seharusnya menguburkan semua perkara lampau dan penghidupan lampau Anda ke dalam makam. Baptisan adalah menyeberangi Laut Merah. Baptisan adalah menyeberangi satu aliran, dari seberang sini menuju ke seberang sana. Air seharusnya menyelesaikan, menghabisi, dan menyudahi semua perkara lampau kita. Sebab itu setelah kita beroleh selamat, atau setelah kita dibaptis, kita seharusnya di bawah pimpinan Roh Kudus, menyelesaikan semua penghidupan lampau kita, semua perkara lampau kita. Inilah satu langkah yang perlu dimiliki oleh setiap orang yang telah beroleh selamat dan ingin mulai mengikuti Tuhan.

Setelah seorang beroleh selamat, kalau tidak ada pemberesan, penghidupan kristianinya pasti menyeret-nyeret kaki dalam lumpur, tidak bisa beres. Di satu pihak ia ingin melangkah ke depan, di satu pihak yang lain ia masih teringat perkara di Mesir. Di satu pihak ingin menjadi orang Kristen, di satu pihak yang lain masih menempuh penghidupan yang lama. Di satu pihak ingin mengikuti Tuhan, di satu pihak yang lain masih terjerat oleh perkara-perkara dosa dalam penghidupan yang lama. Orang yang demikian menjadi orang yang mirip orang Kristen, juga mirip orang dunia; seperti anak-anak Allah, juga seperti orang yang milik Iblis. Keadaan ini tidak selayaknya terjadi.

JANGAN MENELITI PERKARA YANG LAMPAU

Kita membereskan perkara yang lampau, sekali-kali jangan meneliti perkara yang lampau. Perkara kita yang lampau sudah berada di bawah darah adi Tuhan, sudah diampuni Allah, sudah lewat semua. Kita tidak seharusnya pergi ke bawah darah adi, meneliti satu per satu perkara yang telah ditudungi oleh darah adi. Seluruh Alkitab tidak ada satu tempat yang memberi tahu kita untuk meneliti kembali perkara yang sudah lampau. Seluruh pengajaran Alkitab memberi tahu kita, selanjutnya kita harus bagaimana. Segala kegagalan, kesalahan yang kita lakukan sebelum beroleh selamat, semuanya sudah diselesaikan di bawah darah adi.

Kalau sudah selesai; mengapa akan kita bereskan lagi? Ingatlah pemberesan ini bukan meneliti perkara yang lampau, melainkan membereskan hal-hal yang terletak di depan Anda. Dulu tak peduli kita sebagaimana rusak, jahat, menyalahi Allah, melakukan perkara yang najis, semuanya sudah diselesaikan di bawah darah adi. Tetapi ada hal-hal yang masih berada di sini, karena kita adalah orang yang beroleh selamat, perlu membereskan perkara-perkara ini, jangan membiarkannya terus berkembang. Inilah pemberesan perkara lampau yang kita bicarakan di sini.

Catatan:

Minggu ke-2 – Selasa Doa baca: 1 Tes 1:9

"Sebab mereka sendiri bercerita tentang kami, bagaimana kami kamu sambut dan bagaimana kamu berbalik dari berhala-berhala kepada Allah untuk melayani Allah yang hidup dan yang benar."

TELADAN PEMBERESAN

Orang yang beroleh kasih karunia di bawah Perjanjian Baru, apa yang mereka lakukan tidak tergantung pada peraturan, melainkan tergantung pada gerakan Roh Kudus. Sebab itu dalam Alkitab tidak ada ajaran yang jelas memberi tahu, setelah orang bertobat dan beroleh selamat, harus bagaimana menyelesaikan perkara yang lampau. Tetapi dalam Perjanjian Baru ada teladan yang jelas diperlihatkan kepada kita, begitu seorang beroleh selamat, Roh Kudus bekerja di dalam orang itu, supaya ia menyelesaikan perkara yang lampau, membereskan perkara lampau yang tidak seharusnya ada. Meskipun Alkitab tidak ada pengajaran terhadap pemberesan perkara lampau, tetapi ada teladan:

1. Meninggalkan perihal berhala

1 Tesalonika 1:9, "Berbalik dari berhala-berhala kepada Allah." Ketika seseorang percaya kepada Tuhan, perihal berhala wajib dibereskan. Allah melarang orang membuat gambar bagi apa saja. Apa saja yang dibuat manusia, Anda tidak dapat mempuyai maksud mengatakan itu hidup. Begitu Anda berpikir demikian, barang itu segera menjadi berhala. Tentunya berhala tidak terhitung apa-apa, tetapi kalau Anda menganggapnya hidup, itu tidak benar. Sebab itu penyembahan atau pemujaan terhadap barang-barang tersebut merupakan hal-hal yang terlarang, bahkan kecenderungan dalam hati saja terhadap hal-hal itu terlarang pula. Larangan untuk membuat patung atau gambar adalah salah satu hukum dari kesepuluh perintah (Ulangan 5:8).

Ulangan 12:30 berkata, "Jangan engkau menanya-nanya tentang allah mereka dengan berkata: Bagaimana bangsa-bangsa ini beribadah kepada allah mereka?" Ayat ini menerangkan kepada kita, sekalipun hanya bertanya bagaimana orang kafir menyembah allah mereka, itupun tidak seharusnya. Ada orang selalu ingin tahu, atau senang menyelidiki bagaimana cara orang kafir beribadah kepada allah mereka. Namun Allah melarang kita menyelidiki hal itu. Sebab kalau Anda menyelidikinya, akhirnya Anda akan menuruti perbuatan mereka. Maka rasa ingin tahu itu harus dicegah.

2 Korintus 6:16 berkata, "Apakah hubungan bait Allah dengan berhala?" Maksud ungkapan ini sangat jelas. Orang Kristen tidak diperkenan mengunjungi kuil. Karena dalam 1 Korintus pasal 6 jelas mengatakan, bahwa tubuh kita ini bait Roh Kudus, dan mengatakan pula, bahwa berhala tidak ada hubungan dengan bait Allah, sebab itu kaum beriman tidak seharusnya mengunjungi kuil. Kata Yohanes, "Anak-anakku, jauhkanlah dirimu terhadap segala berhala." (1 Yoh 5:21). Kata "jauhkan diri" di sini berarti "jangan menghampiri".

Dalam Mazmur 16:4 tercantum, "Aku juga tidak akan menyebut-nyebut nama mereka di bibirku." Maka di atas mimbar pun kita harus menghindari menyebut nama-nama ilah lain, kecuali terpaksa harus memakainya sebagai perumpamaan. Demikian pula tentang pelbagai jenis ketakhyulan, kekuatiran tentang nasib, tanda-tanda atau ucapan pantangan terhadap ini dan itu, semuanya harus dibuang. Banyak kaum beriman yang masih memperhatikan masalah nasib, wajah dan hari depan. Semua perkara yang bersifat nujum atau ramalan juga terlarang.

Ada orang rumahnya ada berhala, ada orang rumahnya ada tempat untuk sembayang, ada orang rumahnya ada tempat lilin, ada orang rumahnya ada buku-buku tentang kepercayaan lain, begitu juga benda-benda untuk meramal dan menujum, semua itu berkaitan dengan berhala. Semua benda yang berada dalam lingkungan berhala, semuanya harus dibereskan di depan Allah, harus putus hubungan dengan mereka. Tidak saja tidak boleh memiliki patung atau gambar yang lain, "gambar Yesus" pun tidak seharusnya kita miliki. Apa saja yang berhubungan dengan ini, harus dibanting, jangan dijual, harus dimusnahkan, dibuang. Kalau Anda kurang kuat, boleh mencari beberapa saudara bersama berdoa dengan Anda, untuk menambah kekuatan Anda, menambah keberanian Anda, membantu Anda untuk menyelesaikan hal-hal ini. Tetapi Anda jangan membiarkan mereka membereskan bagi Anda, Anda harus turun tangan sendiri.

Minggu ke-3 -- Rabu Doa baca: Kis. 19:19

"Banyak juga di antara mereka, yang pernah melakukan sihir, mengumpulkan kitab-kitabnya lalu membakarnya di depan mata semua orang. Nilai kitab-kitab itu ditaksir lima puluh ribu uang perak."

2. Benda-benda yang Tidak Wajar Harus Dibereskan

Alkitab memperlihatkan kepada kita, teladan kedua membereskan perkara lampau adalah yang dilakukan oleh orang Efesus. Kisah Para Rasul 19:19 memberi tahu kita, kaum beriman Efesus mengeluarkan kitab-kitab yang biasanya dipakai untuk melakukan sihir dan membakarnya, untuk membersihkan benda-benda yang najis dan tak pantas. Misalnya ada orang di rumahnya ada alat untuk berjudi, ada orang yang rumahnya ada alat untuk minuman keras dan menghisap candu, serta gambar bintang film, yang merupakan barang-barang yang najis, yang bisa merusak banyak orang; begitu juga buku-buku yang najis, foto yang najis, orang yang baru percaya harus menurut pimpinan Roh Kudus, dari penghidupan mereka, dari keluarga mereka, menyingkirkan benda-benda yang najis ini.

Tidak saja demikian, pakaian-pakaian yang tidak pantas pun juga perlu dibakar. Mungkin ada yang terlalu terbuka, boleh diubah sedikit. Tetapi ada pakaian yang najis, harus dibakar. Sebenarnya model apa yang harus dibakar, orang lain tidak dapat memutuskan bagi Anda, Roh Kudus akan memberi gerakan di dalam Anda. Kita mengetahui ada orang mempunyai pakaian untuk berdansa, setelah ia beroleh selamat, Roh Kudus berbicara di dalamnya, pakaian yang dipakai untuk berdansa ini harus dibakar, meskipun harganya mahal perlu dibakar juga. Kalau Roh Kudus memberi gerakan di dalam Anda, Anda harus menurutinya.

Ada beberapa perhiasan yang terlalu mewah juga perlu dibakar. Kesemuanya ini termasuk benda-benda yang najis. Benda-benda yang tidak pantas, yang tidak tepat, yang bersifat najis, tidak saja tidak bisa dipakai sendiri, juga tidak bisa diberikan kepada orang lain untuk dipakai, lebih-lebih tidak boleh dijual kepada orang lain, semuanya harus dibakar. Prinsip Alkitab adalah membakar. Ketika Alkitab mencatat perkara ini, khusus mencatat nilai kitab-kitab itu, untuk diperlihatkan kepada kita, kaum beriman semula bukan membakar benda yang tidak bernilai, melainkan membakar benda yang bernilai. Hari itu lima puluh ribu uang perak lebih berharga dari lima ratus ribu dolar Amerika pada hari ini. Tetapi mereka membakarnya. Sebab itu membersihkan benda-benda yang najis, tidak seharusnya menghitung nilainya, tidak seharusnya menghitung kerugian yang diderita.

Seorang yang telah percaya Tuhan, seharusnya pulang ke rumah memeriksa barang-barangnya sendiri. Dalam rumah orang yang tidak percaya, dulu pasti ada barang-barang yang berhubungan dengan dosa, mungkin ada yang tidak sepadan dengan kaum saleh. Benda-benda yang berhubungan dengan dosa tidak bisa dijual, harus dimusnahkan, dibakar. Barang-barang yang terlalu mewah, yang bisa diubah boleh diubah untuk dipakai lagi, yang tidak bisa diubah boleh menjualnya.

Terhadap benda-benda yang tidak pantas, harus ada pemberesan. Kalau seorang yang baru percaya memeriksa semua barang-barangnya dengan tuntas, ia telah memulai satu permulaan yang sangat baik. Benda yang berbau takhyul harus dibakar. Ada beberapa benda harus diubah dulu baru boleh dipergunakan lagi, atau setelah diubah baru dijual. Ketahuilah, sejak hari pertama sudah mempelajari pelajaran ini, seumur hidup takkan terlupakan. Kita harus tahu, bahwa menjadi orang Kristen adalah satu perkara yang riil, bukan sekedar ikut kebaktian dan mendengarkan khotbah di gedung gereja saja.

MEMBAKAR SATU KERANJANG BERHALA

Saudara Lim adalah orang Taiwan, sebelum beroleh selamat terjangkit sakit paru-paru yang parah, obat-obat tidak bisa menyembuhkannya, meminta kesembuhan kepada berhala di banyak tempat, bersujud menyembah, ada kalanya pergi ke kuil meminta kesembuhan. Di rumah ia memelihara belasan berhala, siang malam terus membakar hio, bersujud menyembah, hari raya besar atau kecil harus memberi korban. Untuk ketakhyulan ini ia harus mengeluarkan banyak uang, mengundang biksu untuk mengusir bala juga perlu uang, kelenteng mengadakan derma, hari raya besar mengundang makan tamu, tidak ada pun harus meminjam supaya tidak kehilangan muka; akhirnya badannya sering sakit dan miskin, sengsara sekali! Kemudian hari ia percaya Yesus, badannya berangsur-angsur sehat. Pada suatu hari, gereja mengadakan pembersihan besar-besaran, ia memasukkan belasan berhala, tempat lilin dan lain-lain ke dalam satu keranjang, ditaruh di belakang sepeda, dibawa ke tempat sidang, setelah diremukkan lalu dibakar; sejak itu putus hubungan dengan berhala, rohnya menyala-nyala, sering melayani Tuhan.

Catatan:

Minggu ke-3 – Kamis Doa baca:Luk. 19:8

"Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat."

3. Yang Merugikan Orang Harus Mengganti Rugi

Teladan ketiga adalah kisah keselamatan Zakheus. Ini adalah memberi ganti rugi kepada orang yang dirugikan. Begitu Zakheus beroleh selamat, segera berkata kepada Tuhan, sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat. Ini adalah memberi ganti rugi material. Empat kali lipat ini bukan satu hukum, juga bukan satu prinsip. Ini mutlak tergantung pada gerakan Roh Kudus, dan tuntutan hati nurani yang di dalam. Ada yang tidak perlu dikembalikan empat kali lipat, mungkin cukup dikembalikan satu kali lipat lebih sedikit. Hari ini kita tidak perlu memberikan beban yang terlalu berat kepada hati nurani orang yang baru beroleh kasih karunia.

Kalau dahulu sebelum percaya Tuhan, Anda pernah memeras, menipu, mencuri atau memperoleh barang dengan cara tidak halal, sekarang Tuhan bekerja di dalam Anda, maka Anda wajib melakukan pemberesan dengan sebaik-baiknya atas hal tersebut. Hal itu tidak berhubungan dengan pengampunan yang Anda peroleh di hadapan Tuhan, melainkan berhubungan dengan kesaksian Anda.

Misalnya, sebelum beriman saya pernah mencuri uang seseorang sebanyak seribu dolar, kalau setelah percaya Tuhan saya tidak membereskannya dengan dia, bagaimana saya dapat memberitakan Injil kepadanya? Kalau saya memberitakan Injil, mungkin dalam hati ia selalu ingat akan seribu dolarnya yang saya curi itu. Memang benar, di hadapan Allah, Anda telah beroleh pengampunan, tetapi di hadapan orang itu, Anda kehilangan kesaksian. Anda tidak dapat berkata, karena Allah telah mengampuni Anda, maka Anda tak perlu mengembalikan uang itu kepadanya. Tidak, hal itu bersangkutan dengan kesaksian Anda.

Masih ada satu hal yang perlu diperhatikan, ketika Anda mengembalikan sesuatu benda, ada yang perlu diketahui oleh pihak yang dirugikan, ada yang perlu ada hikmat, tidak perlu diketahui oleh orang yang dirugikan. Ini perlu dipertimbangkan baik-baik. Kalau diketahui oleh pihak yang dirugikan tidak membawa kebaikan kepada kedua belah pihak, Anda boleh melakukan secara diam-diam. Misalnya dulu Anda pernah mencuri barang orang, dan diketahui oleh pemiliknya, sekarang ketika Anda mengembalikan, perlu diketahui olehnya. Kalau dia tidak mengetahui, sekarang ketika Anda mengembalikannya memberi tahu kepada orang itu, akan menyangkut orang lain, dan menimbulkan kaitan perkara yang lain, begitu Anda mengembalikan barang yang Anda curi, pasti terjadi perkara, merugikan orang lain, sebab itu Anda tidak seharusnya mengembalikan dengan terang-terangan. Anda cukup mengembalikan dengan diam-diam, supaya secara material ia tidak dirugikan. Anda tidak perlu memberitahunya, supaya orang lain tidak melibatkan orang lain. Ini perlu ada hikmat.

Lagi pula, kalau orang yang Anda rugikan tidak di tempat harus bagaimana? Menurut prinsipnya perlu dikembalikan kepada orang yang paling dekat dengannya. Misalnya kalau istrinya masih ada, kembalikan kepada istrinya. Atau kalau anak-anaknya masih ada, kembalikanlah kepada anak-anaknya. Pokoknya harus dikembalikan kepada orang yang berhak menerima warisannya. Kalau tidak ada orang yang berhak menerima, menurut prinsipnya paling baik berikan kepada orang miskin.

Jadi dalam memberi ganti rugi, harus dilakukan dengan hati-hati. karena sering-sering terjadi hal-hal yang menyangkut orang lain. Ada yang akan bersangkutan dengan kantornya, ada yang berkaitan dengan hubungan pribadi, ada yang berkaitan dengan hubungan antara suami istri. Sebab itu ketika membereskannya, tidak saja memperhatikan damai sejahtera hati nurani sendiri, atau pemberesan diri kita di hadapan Tuhan, juga perlu memperhatikan orang lain. Jangan karena kita membereskan hal-hal ini, lalu menyebabkan orang lain dalam keadaan yang sulit. Saya tahu ada orang ketika membereskan hal-hal ini, akhirnya menyebabkan suami istri orang lain tidak rukun, timbul masalah rumah tangga, ini akan menambah kesalahan terhadap orang lain. Sebab itu kita harus ada hikmat, bisa membereskan dengan cara yang tepat, supaya orang yang kita rugikan menerima ganti rugi, juga tidak menimbulkan gesekan pada aspek yang mana pun. Ini akan memuliakan Tuhan, juga membuat orang lain bersama dengan kita menerima kebaikan. Ingatlah, prinsip ganti rugi adalah untuk memuliakan Tuhan, dan supaya orang lain bersama dengan kita mendapatkan kebaikan. Dalam prinsip ini kita membereskan memberi ganti rugi, baru tidak menimbulkan gesekan apa pun.

Catatan:

Minggu ke-3 – Jumat Doa baca: Ef. 4:22-24

"Yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya."

4. Mengakhiri Semua Penghidupan yang Lama

Keempat, setelah kita beroleh selamat, perlu juga membawa semua penghidupan yang lama ke hadapan Tuhan untuk diperiksa. Artinya membawa penghidupan yang lama ke hadapan Tuhan untuk diselesaikan. Mengenai hal ini, meskipun Alkitab tidak ada teladan yang tegas, tetapi berdasarkan wahyu Perjanjian Baru, dapat nampak maksud yang demikian, yaitu Allah menghendaki kita setelah beroleh selamat, membawa penghidupan yang lama ke hadapan-Nya untuk diperiksa, lalu diselesaikan. Dulu saya menjadi ayah dengan cara yang begitu, sekarang apakah saya masih mau begitu terus? Dulu saya cara membaca buku begitu, sekarang apakah saya masih akan begitu terus? Dulu saya sebagai suami atau istri dengan cara yang begitu, sekarang saya telah beroleh selamat, apakah masih akan begitu terus? Dulu saya dengan cara begitu bergaul dengan teman, sekarang saya apakah masih akan begitu terus? Dulu saya berpakaian atau memakai uang dengan cara yang begitu, sekarang apakah masih akan begitu terus? Dulu dekorasi rumah saya begitu, sekarang apakah masih akan seperti dulu lagi? Di sini meliputi segala perkara.

Pemberesan ini meskipun bukan ketentuan peraturan, tetapi karena kita sudah beroleh selamat, sudah menjadi manusia baru, penghidupan kita dan perilaku kita harus ada satu permulaan baru. Kita seharusnya dengan sendirinya kembali ke hadapan Tuhan, memeriksa semua orang, aktivitas, dan barang-barang dalam penghidupan kita, apakah masih seperti hari-hari kita belum beroleh selamat.

Kalau kita mau dengan demikian datang ke hadapan Tuhan, kita akan nampak, banyak perkara harus dibereskan. Bukan tidak menjadi suami, tetapi tidak bisa menjadi suami seperti dulu lagi. Bukan tidak menjadi orang tua, tetapi tidak bisa menjadi orang tua seperti dulu lagi. Bukan tidak membaca buku, tetapi tidak bisa membaca buku seperti dulu lagi. Bukan tidak menata rumah, tetapi tidak bisa menata rumah seperti dulu lagi. Inilah mengakhiri semua penghidupan lama yang lampau.

Dalam hal ini bukan juga meneliti perkara yang lampau. Ini sepenuhnya adalah membereskan perkara yang lampau. Bukan bertanya dulu ada kesalahan apa, melainkan bertanya selanjutnya saya menjadi anak-anak Allah apakah bisa menurut cara yang lama. Ada orang beroleh selamat dengan sangat kuat, begitu beroleh selamat langsung memeriksa seisi rumahnya. Tidak saja pakaiannya berubah, dekorasi rumahnya juga berubah. Ini bukan karena pengajaran, tetapi adalah pekerjaan Roh Kudus. Sepenuhnya adalah manusia baru menempuh penghidupan yang baru, menyelesaikan segala perkara dalam penghidupannya yang lampau. Inilah membereskan perkara yang lampau.

Hal-hal yang berkaitan dengan berhala, benda-benda yang najis, serta seluruh penghidupan yang lama, keempat perkara ini, semuanya harus di bawah ke hadapan Allah untuk diselesaikan. Barangsiapa setelah beroleh selamat tidak membiarkan Roh Kudus baik-baik bekerja di atas perkara-perkara ini, ia tidak bisa dengan baik-baik menempuh jalan yang di depannya. Meskipun ini bukan pengajaran, bukan hukum Taurat, bukan peraturan, tetapi kalau seorang baik-baik hidup di dalam Roh Kudus, membiarkan Roh Kudus bekerja, pasti timbul pemberesan-pemberesan ini.

Catatan:

Minggu ke-3 -- Sabtu Doa baca: 2 Yoh. 2:27

"Sebab itu di dalam diri kamu tetap ada pengurapan yang telah kamu terima daripada-Nya. Karena itu tidak perlu kamu diajar oleh orang lain. Tetapi sebagaimana pengurapan-Nya mengajar kamu tentang segala sesuatu -- dan pengajaran-Nya itu benar, tidak dusta — dan sebagaimana Ia dahulu telah mengajar kamu, demikianlah hendaknya kamu tetap tinggal di dalam Dia."

5. Bukan Ditentukan oleh Pengajaran

Tetapi Gerakan Roh Kudus

Melakukan pemberesan-pemberesan ini, bukan menurut ketentuan pengajaran, tetapi sepenuhnya menurut gerakan Roh Kudus. Kita adalah orang-orang yang telah beroleh selamat, pasti memiliki gerakan Roh Kudus, kewajiban kita adalah membiarkan Roh Kudus bergerak dengan lancar. Bukan berarti peraturan pertama harus membereskan apa, peraturan kedua harus membereskan apa, dan peraturan ketiga harus membereskan apa, tidak ada ketentuan-ketentuan ini. Tetapi karena kita telah beroleh selamat, Roh Kudus di dalam kita dalam hal-hal ini pasti memberi kita gerakan. Saat ini kewajiban kita harus membiarkan Roh Kudus bergerak dengan lancar. Kita jangan mempedulikan harga yang akan dikeluarkan, jangan mempedulikan kedudukan, jangan mempedulikan nama, jangan mempedulikan gengsi, jangan mempedulikan kerugian material. Kalau mempedulikan hal-hal ini, pasti memadamkan gerakan Roh, kita hanya bisa menjadi orang yang beroleh selamat dengan sembarangan, tidak bisa menjadi seorang yang Kristen yang tetap, yang baik-baik mengikuti Tuhan.

Roh Allah bekerja di dalam kita, dan hayat Tuhan di dalam kita mempunyai kekuatan yang besar. Kalau Anda mau membiarkan Roh Kudus bekerja, tidak mempedulikan kedudukan, nama, gengsi, untung rugi, Roh Kudus pasti akan memimpin Anda bersandar kekuatan hayat yang di dalam, melakukan pemberesan-pemberesan ini. Roh Kudus tidak saja di dalam hayat batiniah Anda melakukan pekerjaan pembaruan, Roh Kudus juga di penghidupan lahiriah Anda melakukan pekerjaan pembaruan, menempuh satu penghidupan yang baru, melewati satu jalan yang baru. Roh Kudus akan memperbarui Anda seluruhnya dari dalam sampai ke luar.

Di sini tidak ada peraturan dari suatu pengajaran apa pun, kita hanya bisa mengharapkan orang berada di dalam Roh Kudus, memberi kebebasan bagi Roh Kudus. Kalau demikian, Roh Kudus pasti melakukan pekerjaan pembaruan ini. Dia tidak saja memperbarui pikiran, pandangan, emosi, dan tekad yang di dalam Anda, juga akan memperbarui semua penghidupan lahiriah Anda. Pemberesan ini, penyelesaian ini, bukan peraturan dalam gereja. Gereja tidak ada peraturan ini, juga tidak ada tuntutan ini. Tetapi hayat yang kita peroleh adalah hayat yang suci, Roh Kudus yang di dalam kita juga Roh Kudus yang bekerja, Dia di dalam kita, pasti akan melalui hayat yang kudus itu, menuntut kita menyingkirkan benda-benda yang najis itu, memutuskan penghidupan pada masa yang lampau. Kewajiban kita harus mengikuti pimpinan Roh Kudus, biar Roh Kudus bisa bergerak dengan lancar.

Satu Kesaksian – Memecahkan Kaca

Dalam satu gedung kebaktian ada satu lembar kaca besar yang bernilai 40 dolar Amerika, dipecahkan oleh bola satu anak kecil ketika ia bermain di dekatnya. Pendeta gedung kebaktian itu tidak menuntutnya, hanya kelihatan ada seorang anak kecil melihat-lihat di depan pintu gedung kebaktian lalu pergi. Kemudian ibu anak kecil ini meninggal dunia, banyak kaum beriman menghadiri pemakaman ibunya, sebab itu anak kecil sangat terharu, menerima Yesus menjadi Juruselamatnya. Lalu ia ada niat untuk membereskan perkara memecahkan kaca, begitu ada sisa uang, lalu dikirimkan kepada pendeta gedung kebaktian itu. Pertama-tama mengirim satu sen, kemudian adakalanya agak banyak, ada kalanya agak sedikit. Adakalanya ia menulis surat berkata, belakangan hari ini aku perlu mendapat pelajaran tambahan, beberapa bulan ini tidak bisa memberi ganti rugi yang banyak, paling besar memberi ganti rugi dua sen. Kemudian hari menulis surat lagi dan berkata, sekarang saya mempunyai agak banyak uang, bisa memberi ganti rugi satu dolar. Demikian terus mengirim uang, sampai melebihi harga kaca itu. Pendeta gedung kebaktian itu mengumpulkan anggota jemaat merundingkan harus bagaimana menyelesaikan perkara ini? Rapat menentukan untuk memuat iklan meminta orang itu berhenti membayar ganti rugi. Sejak iklan itu dimuat, ia tidak mengirim uang lagi. Sepuluh tahun kemudian, gedung kebaktian ini mengadakan serah terima jabatan pendeta lama dengan pendeta baru, pendeta baru ini adalah anak kecil yang memecahkan kaca gedung kebaktian ini. Ia berdiri mengisahkan cerita ini, semua kaum saleh tergerak. Inilah satu contoh membereskan perkara lampau yang baik, juga satu hasil memberi ganti rugi yang baik, tidak saja menjadi anak Allah, juga menjadi pekerja Allah.

Catatan:

Minggu ke-4 – Minggu Doa baca: Kis. 24:16

"Sebab itu aku senantiasa berusaha untuk hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah dan manusia."

6. Harus Mempedulikan Hati Nurani

Dalam pemberesan-pemberesan ini, harus paling perlu diperhatikan adalah perasaan hati nurani. Setiap urusan harus dibereskan sampai tingkat yang bagaimana, sampai taraf yang bagaimana, Anda tidak bisa bertanya kepada orang lain, harus bertanya kepada hati nurani Anda sendiri. Semuanya harus dibereskan sampai hati nurani Anda merasa damai sejahtera. Orang lain tidak bisa berkata apa-apa terhadap Anda, hanya hati nurani yang patut Anda ikuti.

Seorang yang telah beroleh selamat, jika ingin mengikuti Tuhan, yang perlu diperhatikan pertama adalah supaya hati nuraninya murni. Tidak ada seorang yang hati nuraninya tidak murni bisa menjadi orang Kristen yang baik. Tidak ada seorang yang hati nuraninya tidak murni bisa mempunyai pertumbuhan hayat yang sejati. Juga tidak ada seorang yang hati nuraninya tidak murni, bisa mempunyai iman, dan diterangi di hadapan Allah. Sebab itu kita harus mempedulikan kemurnian hati nurani, memperhatikan kedamaian hati nurani.

Di samping itu perlu mewaspadai, jangan sampai hati nurani terlalu peka. Kalau hati nurani terlalu peka, akan menjadi lemah, dan mudah tertipu oleh Iblis. Sebab itu harus sering dengan pengetahuan umum mengimbangi perasaan hati nurani. Misalnya memberi ganti rugi material, Iblis sering mempermainkan kita. Adakalanya hati nurani merasakan memberi ganti rugi satu setengah kali. Tetapi setelah Anda memberi ganti rugi satu setengah kali, Iblis berkata pula, harus memberi ganti rugi dua kali baru cukup. Lalu Anda memberi ganti rugi dua kali lipat. Tetapi baru saja Anda pulang, Iblis berkata pula, tiga kali lipat baru cukup. Lalu Anda memberi tiga kali lipat, baru pulang merasa harus memberi ganti rugi empat kali lipat baru cukup. Ada orang yang demikian. Ini disebabkan hati nurani terlalu peka, sehingga menjadi lemah, dan mendatangkan serangan Iblis. Kalau ada keadaan yang demikian, perlu diimbangi dengan pengetahuan umum. Kalau pengetahuan umum berkata, sekarang saya memberi ganti rugi satu setengah kali sudah cukup, jangan membiarkan hati nurani yang terlalu peka berbicara. Harus dengan pengetahuan umum mengimbangi perasaan hati nurani yang terlalu peka.

Tentunya juga jangan karena takut mengeluarkan harga, lalu membunuh perasaan hati nurani. Jangan karena pemberesan ini akan menderita kerugian yang besar, lalu menguranginya. ini tidak baik. Ini akan meninggalkan satu kesan yang selalu merasakan berhutang, kelak tidak bisa dengan baik menempuh perjalanan Tuhan.

Sebab itu keseimbangan perasaan hari nurani sangat penting. Di satu pihak jangan membunuh perasaan hati nurani, di pihak lain jangan terlalu banyak mendorong perasaan hati nurani. Kalau hati nurani kurang peka, orang itu tidak bisa kuat; tetapi kalau hati nurani terlalu peka, orang itu akan lemah, dan ia tidak bisa perkasa di hadapan Tuhan. Kita harus yang pantas. Tidak membunuh perasaan hati nurani yang peka, juga tidak mendorong perasan hati nurani yang terlalu peka, sehingga hati nurani menjadi lemah. KIta harus mempedulikan hati nurani, supaya hati nurani menjadi murni, kuat, barulah kita bisa dengan baik-baik hidup di depan Tuhan.

Tentunya dalam pelaksanaan tidak begitu mudah, dalam pelaksanaan ada banyak tehnik yang harus kita perhatikan. Sebab itu kita tidak cukup setelah bertobat, bergairah, lalu dengan semangat melakukan pemberesan. Kita perlu dalam jangan panjang berjalan di depan Tuhan. Perkara pemberesan ini harus dilakukan dengan sangat hati-hati, sangat imbang, sangat pantas, tidak kurang juga tidak keterlaluan, supaya kita bisa terlepas dari segala keadaan yang tidak tepat, dan berdiri di atas kedudukan yang tepat. Demikian kita dapat dengan leluasa maju dan bertumbuh di dalam hayat, kesaksian, dan pengetahuan rohani. Inilah satu langkah yang harus dimiliki oleh setiap orang yang sudah beroleh selamat.

Catatan: