← Daftar isi Kejadian (7) · bab 9/14

DIMATANGKAN MANIFESTASI KEMATANGAN (4)

Dalam berita ini kita akan melihat Kejadian 49:8-15, bagian yang paling sulit dalam pasal ini. Untuk memahami ayat-ayat ini, kita memerlukan roh yang kuat dan pikiran yang jernih.

Sebagaimana telah kita tunjukkan dalam berita di de-pan, kedua belas anak Yakub dibagi ke dalam empat kelom-pok, masing-masing terdiri dari tiga orang. Ini bukan opini saya; melainkan seluruhnya berdasarkan pengaturan Alkitab. Kelima Kitab Musa (Pentateuch) mewahyukan bahwa kedua belas anak Yakub diatur menurut tiga urutan: urutan menurut kelahiran, menurut berkat, dan menurut perke-mahan. Terlebih dulu mari kita melihat urutan menurut kelahiran. Dua belas anak Yakub dilahirkan oleh empat ibu. Yang pertama Lea, istri Yakub yang sesungguhnya. Empat anak yang pertama, Ruben, Simeon, Lewi, dan Yehuda dilahirkan oleh Lea. Ibu yang kedua seorang budak perempuan yang bernama Bilha, melahirkan anak-anak Yakub yang kelima dan yang keenam — Dan dan Naftali. Anak-anak Yakub yang ketujuh dan kedelapan — Gad dan Asyer, dilahirkan oleh budak perempuan lain yang bernama Zilpa. Anak-anak kesembilan dan kesepuluh — Isakhar dan Zebulon, dilahirkan oleh Lea. Akhirnya, yang kesebelas dan kedua belas — Yusuf dan Benyamin, dilahirkan oleh Rahel. Inilah urutan menurut kelahiran.

Urutan menurut berkat, tiga anak yang pertama: Ruben, Simeon, dan Lewi, sama dengan urutan menurut ke-lahiran. Selanjutnya ialah Yehuda, Zebulon, dan Isakhar. Jadi, dua kelompok pertama urutan menurut berkat men-cakup keenam anak yang dilahirkan oleh Lea. Pada urutan menurut kelahiran, Isakhar mendahului Zebulon; namun pada urutan menurut berkat, Zebulon mendahului Isakhar. Kelompok yang ketiga mencakup Dan, Gad, Asyer, dan Naftali. Urutan menurut kelahiran ialah, Dan, Naftali, Gad, dan Asyer, namun urutan menurut berkat ialah, Dan, Gad, Asyer, dan Naftali. Nanti kita akan melihat bahwa dalam urutan perkemahan, Gad dipindahkan dari kelompok ini ke dalam kelompok Ruben untuk menggantikan Lewi. Kelom-pok yang keempat terdiri dari anak-anak Rahel, yakni Yusuf dan Benyamin, sama seperti urutan menurut kelahiran. (Dalam urutan perkemahan, Yusuf menjadi dua suku — Efraim dan Manasye).

Dalam Kitab Bilangan kita nampak urutan menurut perkemahan. Kitab ini mewahyukan bahwa kedua belas su-ku Israel berkemah mengelilingi Kemah Pertemuan (taber-nakel). Saat itu, mereka adalah angkatan bersenjata, dan berkemah menurut kemiliteran. Pengaturan masing-masing suku di seputar tabernakel adalah dari timur ke selatan, ke barat, dan kemudian ke utara. Urutan menurut perke-mahan, Yehuda, Isakhar, dan Zebulon berada di sebelah ti-mur mengarah ke matahari terbit, Ruben, Simeon, dan Gad di sebelah selatan; Efraim, Manasye, dan Benyamin di sebe-lah barat; Dan, Asyer, dan Naftali di sebelah utara. Gad ditaruh ke dalam kelompok Ruben dan Simeon, berhubung Lewi telah ditinggikan dan dipindahkan ke dalam pelayanan di tabernakel, yaitu di pusat perkemahan. Efraim, Manasye, dan Benyamin sejajar dengan Yusuf dan Benyamin. Dari Efraim dan Manasye, Yusuf menjadi dua suku yang me-warisi bagian tanah dua kali lipat.

Dalam berita yang lalu, kita telah melihat kelompok yang pertama urutan menurut berkat dalam Kejadian 49, yakni Ruben, Simeon, dan Lewi. Dalam berita itu kita ter-utama nampak perubahan hak kesulungan dan perubahan sifat alamiah. Ciri-ciri yang mencolok pada kelompok pertama memperlihatkan bahwa status dan tabiat alamiah kita dapat berubah. Dalam berita ini kita akan melihat kelompok yang kedua, yang terdiri atas Yehuda, Zebulon, dan Isakhar. Ayat 8-15 sulit dimengerti. Kalau ingin me-ngerti pasal 49, kita harus memahami Alkitab secara har-fiah. Tidak hanya demikian, kita harus mengenal sejarah umat Israel, harus mempunyai pengalaman atas Kristus dan hidup gereja, juga harus tahu bagaimana mengiaskan Alkitab. Jika Anda tidak tahu bagaimana mengiaskan Alkitab dan menerangkan syair dalam Alkitab, mustahillah Anda mampu mengerti bagian Kejadian 49 ini. Dalam ayat 9, Yehuda mula-mula dikiaskan sebagai anak singa, kemu-dian sebagai singa betina; ayat 11 menyinggung pohon anggur pilihan dan menambatkan keledainya pada pohon anggur.

Mereka yang menentang pengiasan Alkitab, ketika mem-baca bagian firman ini, pasti tidak memahaminya. Ayat 13 mengatakan bahwa Zebulon akan diam di tepi pantai laut, ia akan menjadi pangkalan kapal. Ayat 14, Isakhar adalah seperti keledai yang kuat tulangnya, yang meniarap diapit bebannya, dan ayat 15, Isakhar melihat bahwa “perhentian itu baik dan negeri itu permai”. Apa arti semua ini? Ini memang sangat sulit, maka tidak banyak orang Kristen yang mengerti. Jalan satu-satunya untuk mengerti, adalah mengiaskannya.

Namun, mengiaskan Alkitab tidaklah mudah. Untuk mengerti Kejadian 49:8-15 ini, kita memerlukan beberapa hal: pengenalan terhadap Alkitab secara harfiah, pengenalan sejarah umat Israel, pengalaman terhadap Kristus dan hi-dup gereja, hikmat mengiaskan Alkitab, serta pengenalan ca-ra menerapkan lambang-lambang ini pada situasi hari ini. Setelah ada semua ini, kita baru bisa nampak makna se-benarnya dari firman pada bagian ini.

Alkitab sangat ekonomis, tidak memboroskan sepatah kata pun. Nubuat Yakub yang disertai pemberkatan dalam pasal 49 ini adalah berbentuk syair. Syair ialah bentuk tu-lisan yang paling penuh pikiran dan penuh arti. Nubuat yang diucapkan Yakub dalam pemberkatannya itu adalah mantap, serius, serta indah dan megah.

7) Tentang Yehuda

Ketika melihat ayat-ayat ini, kita harus ingat satu fakta bahwa dalam kelompok pertama yang terdiri dari Ruben, Simeon, dan Lewi, Kristus belum datang. Kita tidak menemukan Kristus pada Ruben, Simeon, atau Lewi. Apa yang kita nampak pada Lewi ialah kemutlakannya, per-taruhannya, dan kesetiaannya. Karena ciri-ciri inilah Tuhan memberinya jabatan imam. Walaupun Lewi mempunyai jabatan imam dan mengenakan Urim dan Tumim, namun padanya kita tidak menjumpai Kristus. Hanya setelah Yehuda datang, barulah Kristus muncul. Yehuda melam-bangkan Kristus. Bahkan sebetulnya dalam nubuat ini kita boleh memakai nama Kristus sebagai pengganti Yehuda. Yakub mempunyai dua belas anak, namun Kristus keluar hanya dari Yehuda. Dalam Wahyu 5:5 Ia disebut Singa suku Yehuda. Berhubung berasal dari Yehuda, maka Kristus milik Yehuda. Untuk mengerti ayat 8-12, kita harus mene-rapkan ayat-ayat ini pada Kristus dan menggantikan Yehuda dengan nama Kristus.

Dari pengalaman kita semua dapat bersaksi bahwa kita dulu adalah Ruben. Bukankah Anda Ruben yang berdosa se-belum diselamatkan? Tidakkah Anda sama seperti Ruben, bagaikan air yang membual, penuh dengan hawa nafsu? Kita juga adalah Simeon, yang alamiah dan penuh dengan tabiat alamiah. Segala sesuatu kita lakukan menuruti hawa nafsu dan tabiat kita. Tetapi puji Tuhan, kita telah diselamat-kan dan menjadi Lewi! Kini kita sudah memenuhi syarat untuk datang ke hadirat Allah, bahkan memakai Urim dan Tumim, menerima visi Allah dan wahyu Allah. Tidak hanya demikian, sebagai imam, kita membawa orang ke hadapan Allah, memeriksa dan mengetahui kehendak Allah terhadap mereka. Bukankah ini mirip pengalaman Anda? Boleh saja Anda yang terkecil di antara umat saleh, namun tiap hari Anda dapat datang ke hadapan Allah. Ketika Anda berdiri di hadirat-Nya, Anda merasa ada sesuatu yang bercahaya dan menerangi di dalam Anda. Inilah Urim dan Tumim. Sering kali Anda membawa orang-orang kepada Tuhan dan mendoa-kan mereka. Anda mungkin berkata, “Oh Tuhan, ingatlah ayahku, kakak iparku, adik iparku.” Inilah jabatan imam. Ruben atau Simeon tidak memiliki fungsi ini. Hanya Lewi yang memilikinya. Hari ini kita juga mempunyainya. Kita bukan lagi Ruben dan Simeon, melainkan Lewi hari ini.

Akan tetapi, walaupun saya telah bertahun-tahun sebagai Lewi, namun saya bisa bersaksi bahwa saya hanya mempunyai sedikit pengalaman terhadap Kristus. Karena itu, di samping pengalaman Lewi, kita pun perlu penga-laman Yehuda, yaitu pengalaman terhadap Kristus. Masuk ke hadirat Tuhan, menerima terang, wahyu, dan visi itu memang baik; membawa orang ke hadapan Tuhan juga baik. Tetapi kita masih perlu Kristus sebagai Anak Singa, Singa suku Yehuda. Pernahkah Anda mengalami-Nya sebagai Singa yang perkasa? Kristus sebagai Anak Singa adalah untuk berperang, untuk mencengkeram tengkuk musuh, artinya mengalahkan musuh, menaklukkan mereka, dan beroleh kemenangan.

a) Dipuji dan Disembah Saudaranya

Ayat 8 mengatakan, “Yehuda, engkau akan dipuji oleh saudara-saudaramu, tanganmu akan menekan tengkuk musuhmu, kepadamu akan sujud anak-anak ayahmu.” Di sini dikatakan bahwa saudara-saudara Yehuda akan me-mujinya dan anak-anak ayahnya akan sujud kepadanya. Ini berarti, atas kemenangan Yehuda, saudara-saudaranya akan memuji dan bersujud kepadanya. Secara realitas, ini dituju-kan kepada Yehuda atau Kristus? Ditujukan kepada Kristus. Maka sekali lagi, kita boleh menggantikan Yehuda dengan Kristus dan mengumumkan: “Ya, Kristus, saudara-saudara-Mu akan memuji-Mu, anak-anak bapa-Mu akan sujud kepada-Mu.” b) Anak Singa Menaklukkan Musuh, Singa Jantan dan Singa Betina Ngaso dalam Kemenangan

Ayat 9 mengatakan, “Yehuda adalah seperti anak singa: setelah menerkam, engkau naik ke suatu tempat yang ting-gi, hai anakku;” dan ayat 8 mengatakan, “tanganmu akan menekan tengkuk musuhmu.” Kita perlu nampak gambar yang dibentangkan di sini. Singa tinggal di gunung. Ketika ia memburu mangsanya, ia turun dari gunung. Pada saat me-nunggu mangsanya, ia mengendap. Tetapi setelah ia men-dapatkan mangsa, ia akan membawanya ke atas gunung. Itulah sebabnya dikatakan, “Setelah menerkam, engkau naik ke suatu tempat yang tinggi,” berarti singa naik ke gunung untuk memakan mangsanya. Setelah makan, singa tidak lagi mengendap-endap, melainkan meniarap, yaitu berba-ring, menunjukkan setelah menelan mangsanya, ia puas dan berbaring mengaso.

Kita perlu menerapkan gambar ini pada Kristus. Mula-mula Kristus adalah Anak Singa yang mengendap me-nunggu mangsa-Nya. Setelah menerkam mangsa, Ia lalu membawa mangsa-Nya ke surga dan menikmatinya di sana. Ini mengingatkan kita akan Efesus 4:8 yang mengatakan, “Tatkala Ia naik ke tempat tinggi, Ia membawa tawanan-tawanan.” Tawanan-tawanan ini ialah mangsa Kristus. Se-karang, setelah menikmati mangsa yang ditawan-Nya, Ia lalu puas dan mengaso di surga. Jelasnya, inilah Kristus yang sekarang duduk di atas takhta di surga. Namun menurut puisi ayat 9, setelah memakan mangsa-Nya dengan lahap, Kristus lalu puas dan berbaring mengaso.

Pernahkah Anda nampak visi ini, atau mengalami Kristus yang demikian ini? Dalam pengalaman Anda, adakah Kristus sebagai Anak Singa? Adakah Ia sebagai Singa yang telah puas, dan berbaring mengaso? Bertahun-tahun yang lam-pau, semasih muda, saya terganggu oleh berbagai macam musuh. Tetapi pada suatu hari, saya nampak bahwa mu-suh-musuh itu telah menjadi mangsa Kristus saya. Tempe-ramen saya, kesulitan saya, kelemahan saya, dan semua musuh saya lainnya, semuanya adalah mangsa Kristus. Ia naik ke salib dan menawan mereka, kemudian dalam kebangkitan Ia membawa tawanan-tawanan naik ke surga untuk dinikmati. Kini, di surga Ia tidak lagi berperang. Ia berbaring mengaso, dan saya juga mengalami-Nya sebagai Singa yang mengaso. Ia mengaso, saya pun mengaso. Meng-apa saya harus dipersulit oleh perkara-perkara ini? Saya hanya perlu menikmati Kristus yang telah menang, puas, dan mengaso ini.

Saya tahu keadaan saudara saudari, terutama anak-anak muda. Dalam berita di depan, Anda telah mendengar bahwa Anda adalah Lewi. Tetapi, selama minggu ini, Anda mungkin dipersulit oleh beberapa musuh. Boleh jadi musuh masuk melalui teman sekamar, orang tua, suami, istri, atau tabiat Anda sendiri. Tetapi setelah Anda membaca be-rita ini, semoga Anda juga dapat mengatakan bahwa Anda adalah Yehuda. Segera setelah Lewi, muncullah Yehuda. Ini menyatakan Kristus datang. Hari ini Kristus kita bukan lagi Anak Singa, melainkan Singa yang mengaso. Sewaktu Rasul Yohanes menangis karena tidak ada seorang pun yang layak membuka gulungan kitab rahasia Allah itu, seorang da-ri tua-tua itu berkata, “Jangan menangis! Lihatlah, singa dari suku Yehuda, yaitu tunas Daud, telah menang, sehing-ga Ia dapat membuka gulungan kitab itu dan membuka ketujuh meterainya” (Why. 5:5). Ayat ini tidak mengatakan Kristus akan menang, melainkan telah menang. Ia telah menerkam mangsa-Nya dan menelannya. Haleluya, semua musuh telah ditelan oleh Kristus! Hari ini Kristus bukan lagi Sang berperang, melainkan Sang ngaso, yang duduk di surga. Jika Anda nampak ini, Anda akan melupakan musuh Anda, temperamen Anda, dan kesulitan yang ditimbulkan oleh orang tua serta anak-anak Anda. Anda akan berkata, “Haleluya! Tuhan, aku menyembah-Mu dan memuji-Mu! Tuhan, Engkau pernah sebagai Anak Singa yang berperang. Tetapi hari ini Engkau mengaso di surga sebagai Singa yang telah menang. Kini aku berbagian dalam semua yang telah Engkau genapkan itu.”

Perhatikan bahwa menurut Bilangan 24:9, “Ia meniarap dan merebahkan diri sebagai singa jantan, dan sebagai singa betina.” Mengapa mula-mula ayat ini mengatakan singa jan-tan dan kemudian singa betina? Anak singa untuk berperang, untuk memperoleh kemenangan dan merebahkan diri (ber-baring) pertanda bahwa singa yang berperang itu telah me-nang, telah menelan mangsanya dan kini mengaso dalam kepuasan. Di sini mula-mula terdapat anak singa dan ke-mudian singa yang berbaring. Tetapi apakah artinya singa betina? Yaitu singa yang akan melahirkan banyak anak singa. Jadi, Kristus bukan hanya sebagai Singa yang berpe-rang dan mengaso, tetapi juga Singa betina yang bereproduksi. Kristus itu Singa induk kita, dan kita semua ini anak-anak Singa-Nya. Dalam berita di depan kita telah melihat bahwa kita telah menjadi imam. Dalam berita ini kita perlu nam-pak bahwa kita juga adalah anak-anak Singa. Ketika mu-suh mengganggu Anda, Anda harus menyadari bahwa Anda adalah anak Singa. Biarkan musuh sedapatnya menentang kita. Kita bukan hanya sebagai imam, kita pun singa. Kristus adalah Singa yang bereproduksi, yang melahirkan kita sebagai anak-anak Singa.

Bagian selanjutnya dari ayat 9 mengatakan, “Siapakah yang berani mnembangunkannya?” Ini berarti, “Siapa yang berani menantang Dia?” Hari ini, bukan Kristus saja Singa, kita pun singa-singa.

c) Menghasilkan Raja-raja, Pemerintah-pemerintah, dan Kristus

Kejadian 49:10 mengatakan, “Tongkat kerajaan tidak akan beranjak dari Yehuda ataupun lambang pemerintahan dari antara kakinya, sampai dia datang yang berhak atasnya, maka kepadanya akan takluk bangsa-bangsa.” Mazmur 45:7, “Tongkat kerajaanmu adalah tongkat kebenaran.” Tongkat merupakan simbol kerajaan, ditujukan kepada kekuasaan kerajaan Kristus. Maka, tongkat dalam ayat 10 menunjuk-kan kerajaan Kristus, kedudukan Kristus sebagai Raja. Tongkat kerajaan tidak pernah beranjak dari Yehuda, ber-arti kerajaan takkan terpisah dari Kristus.

Puisi Ibrani lazimnya ditulis secara berpasangan, jadi “lambang pemerintahan” dalam ayat ini merupakan persamaan kata “tongkat kerajaan”. Jelas bahwa Sang pemerintah di sini ialah Kristus. Dalam bahasa Ibrani, kata “pemerintah” dalam ayat ini berarti “pemberi hukum”. Kristuslah Sang pemberi hukum, karena Dialah yang empunya pemerintahan dan tongkat kerajaan. Dialah pemerintah yang berkuasa, berlambang, dan bertongkat kerajaan.

Ayat ini mengatakan bahwa lambang pemerintahan takkan beranjak “dari antara kakinya”. Kata “dari antara kakinya” adalah istilah puisi yang ditujukan kepada anak cucu atau keturunan, yaitu ditujukan kepada keturunan Yehuda. Berarti suku Yehuda akan selalu memiliki raja-raja. Menurut 1 Tawarikh 5:2, Yehudalah yang mempunyai kedudukan raja dan penguasa-penguasa berasal dari keturunannya.

d) Silo

Kekuasaan ini akan berlanjut “sampai dia datang” (ayat 10). Kata “dia” di sini dalam bahasa aslinya adalah “Shiloh” (Silo) berarti “pembawa damai”. Banyak guru Alkitab yang baik setuju bahwa Silo ditujukan kepada Kristus yang da-tang pada kali kedua. Kristus akan datang pada kali kedua sebagai Raja Damai, Sang pembawa damai. Saat itu seluruh bumi akan penuh kedamaian.

Ayat 10 juga mengatakan, “maka kepadanya akan tak-luk bangsa-bangsa.” Pada kedatangan Kristus kali kedua, semua bangsa-bangsa akan tunduk dan takluk kepada-Nya. Yesaya 2:1-3 dan 11:10 menunjukkan bahwa pada keda-tangan Tuhan kali kedua, dari permulaan Kerajaan Seribu Tahun bangsa-bangsa akan takluk kepada Kristus. Mereka akan datang ke hadapan-Nya untuk menerima petunjuk Allah.

e) Kaya Anggur dan Susu

Ayat 11 mencatat, “Ia akan menambatkan keledainya pada pohon anggur dan anak keledainya pada pohon anggur pilihan; ia akan mencuci pakaiannya dengan anggur dan bajunya dengan darah buah anggur.” Ayat ini sangat sulit dimengerti. Dalam Alkitab, keledai melambangkan orang yang bekerja keras, terutama bekerja dalam hal pengangkutan. Bahkan Tuhan Yesus sendiri menunggang keledai masuk ke kota Yerusalem (Mat. 21:5,7). Keledai lazimnya digunakan dalam bepergian dan pengangkutan, namun dalam ayat 11, keledai ini tidak bekerja; ia ditambatkan pada pohon anggur. Ini berarti sesudah selesai bekerja dan tujuan telah tercapai, perhentian dimulai. Jangan mengira bahwa kata “tambat” di sini berarti negatif. Tidak, malahan sangat positif. Semua keledai yang digunakan untuk perjalanan jauh tentu akan menikmati tambatan pada pohon anggur. Setiap kali se-orang penunggang menambatkan keledainya pada sesuatu, bahkan pada pancang, keledai itu akan merasa senang. Me-nurut gaya puisi dalam ayat 11, menambatkan keledai me-lukiskan perhentian. Menurut ayat ini, keledai telah berhenti bekerja, ia ditambatkan bukan pada pancang, melainkan pada pohon anggur yang subur dan berbuah lebat. Jika kita meneliti gambar ini, kita akan nampak bahwa itu mengi-baratkan pekerjaan telah berlalu dan panen telah tiba. Kita tahu bahwa ayat ini menunjukkan panen karena di sini menyinggung anggur (arak), hasil dari pohon anggur. Ini me-nandakan kekayaan panen. Kemudian ayat 11b mengatakan, “ia akan mencuci pakaiannya dengan anggur dan bajunya dengan darah buah anggur.” Ini menandakan anggurnya sa-ngat berlimpah. Begitu limpah persediaan anggurnya sehingga orang tidak saja meminumnya, juga mencuci pakaian me-reka dengannya. Wahyu 6:6 menyinggung tentang kelaparan, “janganlah merusak minyak dan anggur itu.” Peringatan ini menunjukkan kekurangan anggur pada masa kelaparan. Namun, dalam Kejadian 49:11 terdapat anggur yang ber-limpah-limpah. Kata “darah buah anggur” mengacu kepada sari air anggur. Pernahkah Anda nampak negeri yang be-gitu kaya sehingga penduduknya mencuci pakaian mereka dengan sari buah anggur? Bahkan Amerika Serikat yang demikian kaya, juga tidak sekaya itu. Bukan kepalang gambar yang terlihat dalam ayat 11! Gambaran ini menun-jukkan bahwa pekerjaan telah berlalu dan mulailah mengaso dalam menikmati kelimpahan, bahkan untuk keledai. Seka-rang ini bukan masanya menabur benih, melainkan ma-sanya menuai. Ayat 11 merupakan lukisan puisi mengenai Kerajaan Seribu Tahun, yaitu zaman seribu tahun yang akan datang. Pada zaman itu, jerih lelah akan berhenti, tidak ada lagi jerih lelah, yang ada ialah perhentian. Jika Anda masih berjerih lelah, hendaklah segera menambatkan keledai Anda, jangan melepaskannya. Menurut Imamat 23, pada hari raya Pondok Daun, orang tidak boleh bekerja. Dilarang bekerja, karena segala sesuatu telah genap, yang tertinggal hanyalah menikmati hasil tuaian yang kaya raya. Hari raya Pondok Daun melambangkan Kerajaan Seribu Tahun. Selama Kerajaan Seribu Tahun tidak ada jerih le-lah, karena semua jerih lelah telah digenapkan pada zaman sebelumnya. Keledai, yang bekerja, akan ditambatkan. Tidak lagi bekerja, kecuali menikmati hasil tuaian yang limpah. Di sana terdapat begitu banyak anggur (arak) sehingga kita dapat mencuci pakaian kita di dalamnya.

Ayat 12 mengatakan, “Matanya akan merah karena ang-gur dan giginya akan putih karena susu.” Anggur dalam Alkitab melambangkan sukacita keselamatan hayat Allah. Perbuatan ajaib pertama yang dilakukan Tuhan Yesus ialah mengubah air menjadi anggur (Yoh. 2:1-11). Anggur ini bu-kan hanya berkaitan dengan penebusan, tetapi juga dengan keselamatan hayat dan sukacita dalam hayat. Ketika kita memiliki keselamatan hayat, keselamatan ini akan menjadi anggur yang terus-menerus membuat kita bersukacita. Di samping anggur kita juga mempunyai susu. Sumber anggur itu kebun anggur, sumber susu itu kandang domba yang di-katakan dalam ayat 14 (Tl.). Susu mengacu kepada gizi hayat yang memuaskan kita.

Orang yang menjelang mati kelaparan, sekitar mata-nya menjadi kelabu kehijau-hijauan. Namun dalam ayat ini, mata tidak kelabu kehijau-hijauan, melainkan “merah ka-rena anggur”. Tidak hanya demikian, giginya “putih karena susu”. Kalsium yang terkandung dalam susu menghasilkan gigi yang sehat, yang berwarna putih. Gambaran tentang mata dan gigi ini menunjukkan bahwa setelah keledai di-tambatkan dan jerih lelah berlalu, hasil panen yang kaya limpah itu akan lebih dari cukup. Begitu berlebihan sampai orang dapat mencuci pakaiannya dengan anggur. Dan akhir-nya mata mereka merah karena anggur, dan gigi mereka akan kukuh dan putih.

Perhentian dan kenikmatan semacam ini tergantung pada Kristus sebagai Singa yang berperang, beristirahat, dan berproduksi. Singa seperti inilah yang melahirkan kita, anak-anak singa. Karena pekerjaan telah rampung, kita ti-dak perlu bekerja lagi. Sebaliknya, kita hanya mengaso dan menikmati hasil tanah permai yang kaya dan limpah. Hari ini kita sedang menikmati anggur dan susu. Setiap kali orang memandang kita, merahlah mata kita dan putihlah gigi kita. Inilah gambaran hidup gereja hari ini dan Kerajaan Seribu Tahun pada masa yang akan datang.

Bahkan dalam hidup gereja hari ini, semua keledai ha-ruslah ditambatkan. Sering kali saudara saudari membawa keledai yang bekerja berat ke dalam sidang. Ini menunjuk-kan bahwa mereka masih tetap berjerih lelah, masih me-nempuh perjalanan yang jauh, belum mencapai sasaran me-reka, belum mencapai tujuan mereka. Tetapi semua keledai ini haruslah ditambatkan, karena kita telah masuk ke da-lam perhentian, telah tiba di tempat tujuan kita, maka tidak seharusnya masih ada jerih-payah atau penempuhan per-jalanan. Kita telah mencapai tujuan kita, tempat di mana kita dapat menikmati persediaan anggur dan susu yang ber-kelimpahan. Apakah Anda masih memerlukan seekor keledai yang berjerih lelah? Beberapa saudara yang lebih tua selalu membawa keledainya bersama mereka. Seolah-olah mereka masih berada di tengah perjalanan, masih sedang berjerih lelah. Setelah mendengar salah satu berita saya, mereka bahkan ingin bekerja lebih banyak dan bepergian lebih jauh. Sedangkan ayat 11 mengatakan bahwa kita harus menambatkan keledai kita pada pohon anggur pilihan. Ini berarti kita harus menghentikan jerih lelah dan bepergian kita. Dalam hidup gereja hari ini, kita berada di tempat tu-juan kita. Tidak ada jerih lelah di sini, kecuali mengaso dan menikmati. Saya ingin sekali melihat semua keledai ditambatkan. Jangan berjerih lelah, pulanglah dan cucilah pakaian Anda dengan anggur. Kemudian hadirilah sidang de-ngan mata yang merah dan gigi yang putih. Penuh dengan susu, penuh sukacita dan gizi.

8) Tentang Zebulon dan Isakhar

a) Zebulon di Tepi Pantai Laut

Setelah Yehuda, Zebulon datang. Ayat 13 mengatakan, “Zebulon akan diam di tepi pantai laut, ia akan menjadi pangkalan kapal, dan batasnya akan bersisi dengan Sidon.” Ayat ini mengungkapkan Zebulon sebagai pangkalan kapal. Sistem pengangkutan di sini telah beralih dari keledai kepa-da kapal. Puisi dalam ayat ini tak dapat kita pahami tan-pa petunjuk Perjanjian Baru. Penggenapan ayat ini adalah pada Matius 4:15 yang mengatakan, “Tanah Zebulon dan ta-nah Naftali, jalan ke laut, daerah seberang Sungai Yordan, Galilea, wilayah bangsa-bangsa lain.” Kristus memulai mi-nistri-Nya dari Zebulon yang di Galilea, dan orang-orang Galilea yang mewartakan kabar gembira tentang Kristus ke seluruh bumi. Murid-murid Galilea merupakan pang-kalan kapal. Mereka mewartakan kabar gembira Kristus sebagai Singa yang berperang, mengaso, dan berproduksi ke setiap penjuru dunia yang diwakili oleh Sidon.

b) Zebulon Bersukacita dalam Perjalanan

Ulangan 33:18 mengatakan, “Bersukacitalah, hai Zebulon, atas perjalanan-perjalananmu.” Menurut ayat ini, Zebulon harus pergi. Dan Zebulon telah betul-betul pergi. Semua orang Galilea pergi dengan kabar kesukaan atas kemenangan Kristus, membawakan kabar Kristus yang menang, penuh perhentian, dan produktif. Orang-orang Galilea ini pergi dengan membawa kemenangan Kristus, kepuasan Kristus, dan produktivitas Kristus. Inilah kabar gembira, Injil.

Zebulon pergi, Isakhar tinggal dalam kemah-kemah (Ul. 33:18). Demikianlah Zebulon bersukacita bepergian, sedangkan Isakhar bersukacita di dalam kemah-kemah. Yang satu harus pergi, dan yang satu harus tinggal.

c) Isakhar seperti Keledai

yang Kuat Meniarap di Antara Kandang Domba

Kejadian 49:14 mengatakan, “Isakhar adalah seperti ke-ledai yang kuat tulangnya, yang meniarap di antara kan-dang domba” (Tl.). Dalam menjelaskan Alkitab, hal ini ber-hubungan dengan keledai dan anak keledai dalam ayat 11. Anak keledai di sana ditambatkan pada hasil panen yang kaya limpah, sehingga keledai yang kuat meniarap dan me-ngaso di sini. Isakhar tidak bekerja, melainkan meniarap, yaitu merebahkan diri dan mengaso di tengah-tengah kan-dang domba. Apakah Anda Isakhar hari ini? Berjerih pa-yahkah atau bertiarapkah Anda? Ada orang mengira bahwa saya selalu bekerja. Tetapi mereka itu salah. Mereka tidak tahu bahwa saya bekerja berarti saya bertiarap. Ada sebu-ah nyanyian yang mengatakan bahwa kita mengaso ketika kita bekerja. Tanpa bekerja saya tidak mengaso. Semakin saya bekerja, semakin saya mengaso. Ketika saya bekerja, saya bertiarap. Pemulihan Tuhan tidak memerlukan ke-ledai yang bekerja keras. Memang kita perlu keledai yang kuat, namun mereka harus bertiarap, tidak bekerja. Menu-rut gambar yang dilukiskan dalam ayat ini, Isakhar berti-arap di antara kandang domba. Meskipun keledai yang kuat tidak melakukan apa-apa, akan tetapi domba menghasilkan susu. Saya dapat bersaksi bahwa saya adalah keledai kuat yang bertiarap serta mengamat-amati domba menghasilkan susu. Saya mengaso tatkala Anda menghasilkan susu.

d) Isakhar Menikmati Perhentian di Negeri

yang Kaya dan Menjadi Budak Rodi

Ayat 15 mengatakan “Ketika dilihatnya bahwa perhen-tian itu baik dan negeri itu permai, maka disendengkan-nyalah bahunya untuk memikul, lalu menjadi budak rodi.” Isakhar telah nampak bahwa perhentian itu baik dan ne-geri itu permai. Isakhar, keledai yang kuat itu mengaso dan menikmati negeri yang permai dan kaya, yaitu Kristus. Pa-da saat itulah ia menyendengkan bahunya untuk memikul, lalu menjadi budak rodi. Ini berarti ia melayani agar dapat memiliki sesuatu yang dapat dipersembahkan kepada Tuhan. Sebagai pengganti “budak rodi”, King James Version mema-kai “upeti”, yaitu persembahan sebagai tanda penghormatan. Tanpa pengalaman, kita tidak akan mampu memahami hal ini. Menurut pengalaman orang Kristen, orang-orang Kristen yang tepat tidaklah bekerja seperti keledai yang kerja be-rat; sebaliknya, mereka malahan mengaso seperti keledai yang kuat. Sambil mengaso sambil menikmati kekayaan Kristus. Melalui menikmati kekayaan ini, mereka lalu rela menyendengkan bahu untuk memikul suatu beban dan me-layani guna mempersembahkan upeti kepada raja. Dalam hidup gereja yang normal, kita tidak perlu bekerja seperti keledai lazimnya, melainkan mengaso sambil berbaring serta menikmati pekerjaan Kristus yang telah rampung dan kekayaan-Nya. Karena kenikmatan ini, kita kemudian rela menyendengkan bahu seraya memikul beban berat, mela-yani untuk memperoleh upeti yang dipersembahkan kepada Tuhan kita, Raja kita. Kegenapan sempurna dari hal ini memang di dalam Kerajaan Seribu Tahun, namun kita da-pat mencicipinya lebih dulu dalam hidup gereja hari ini.

Dalam hidup gereja kita mengalami Kristus sebagai Singa yang berperang, istirahat, dan berproduksi. Oleh ka-rena pekerjaan-Nya yang menang, maka terdapatlah produk-si yang kaya dan panen yang kaya. Karena itu, kita tidak perlu berjerih payah. Namun di sini ada pemberitaan Injil Kristus; Zebulon adalah pangkalan kapal, menyiarkan Injil Singa suku Yehuda. Kita pun memiliki pengalaman Isakhar. Kita bukan bekerja, melainkan mengaso sambil menikmati kekayaan Kristus. Begitu kita menikmati Kristus, kita lalu rela menyendengkan bahu kita seraya memikul beban be-rat, dan mengerjakan amanat raja kita, agar mempersem-bahkan upeti kita kepada Raja kita. Jadi, hidup gereja hari ini merupakan miniatur Kerajaan Seribu Tahun yang akan datang. Jika Anda mendoakan dan mencerna semua butir dalam berita ini, Anda akan nampak bahwa dalam firman bagian ini terdapat gambar tentang Kerajaan Seribu Tahun yang akan datang. Gambar ini menyatakan bahwa seka-rang ini juga kita dapat mengambil bagian dalam miniatur Kerajaan Seribu Tahun. Melalui memperhatikan gambar ini, kita tahu di mana kita harus berada hari ini.